
. Raisa terhenyak dengan bentakan ayahnya yang baru pertama kali ia rasakan pada dirinya. Biasanya ia hanya melihat Yugito marah membentak Arisa ataupun Tio saja. Namun sekarang, ia merasakannya sendiri betapa mengerikannya Yugito saat marah.
"Kau bilang Aris ada di rumah Seno, tapi nyatanya tak ada jejak apapun yang menunjukkan keberadaan Aris di sana."
"Tapi Rais melihatnya sendiri Ayah. Aris ada di sana dengan kak Tio."
"Lalu kenapa kau tak menyuruhnya pulang?" Raisa terhenyak seketika mendapati pertanyaan ayahnya yang memang masuk akal jika di pikirkan ulang.
"Rais... Rais..."
"Sudahlah. Kau memang sama saja dengan mereka."
"Mas! Apa maksudmu? Kenapa memarahi Rais?" Tegur Rahma dari ambang pintu.
"Ini. Anak kesayanganmu mempermainkan ku. Dia bilang Aris ada di rumah Seno, tapi saat aku datang ke sana, tak ada tanda keberadaan Aris di sana. Apa maunya anak ini. Kau terlalu memanjakannya, dia jadi seenaknya."
"Mas. Kamu ini kenapa? Aris yang hilang tapi Rais yang kau marahi."
"Kau selalu membela Rais. Kapan dia dewasanya kalau terus kau lindungi. Dia sudah besar, sudah sepatutnya memikirkan semuanya sendiri. Dia bilang melihat Aris, tapi dia tidak membawa Aris pulang."
"Cukup Mas. Mau sampai bagaimana kau menyalahkan Rais. Aris pergi itu karena kesalahannya sendiri. Dia yang tak menghargai kita, dan dia yang tak dewasa. Kalau dia dewasa, dia tak akan pergi tanpa pamit seperti ini."
"Terserah! Terserah apa kau bilang. Aku sudah muak melihat kalian yang terus-terusan menyalahkan Aris. Apa di hatimu tak ada perasaan sedikit saja untuk sekedar mengkhawatirkan Aris? Apa kau tak pernah berpikir bahwa Aris pergi mungkin karena kita yang kurang memperhatikannya? Pikiranku sudah sampai ke sana. Aku selalu berpikir apakah Aris bahagia di rumah ini atau tidak." Mendengar kemarahan Yugito yang meledak-ledak, Rahma hanya bisa terdiam seraya merangkul Raisa agar putrinya itu tak merasa panik.
__ADS_1
. Malamnya, Arisa membuka pintu setelah mendengar beberapa kali ketukan di pintu. Ia terlihat bersemangat saat pesanan pizza yang ia inginkan sudah datang. Dengan berbinar ia mengambilnya dan membawa ke ruang tengah dimana di sana masih ada Seno. Ketiganya melahap pizza dengan hati yang senang tanpa ada beban sedikitpun. Tio tersenyum haru melihat Arisa yang jelas-jelas tengah menikmati kesenangannya malam ini.
"Besok kau sekolah kan? Kakak dapat kabar selama seminggu ini kau tak masuk sekolah sama sekali." Arisa hanya tertawa kecil dan memperlihatkan wajah konyolnya menanggapi pertanyaan Tio.
. Esoknya, Tio mengantar Arisa ke sekolahnya sebelum ia berangkat ke kantor. Rama terlihat mematung dan seakan tak percaya melihat Arisa yang datang menghampirinya. Arisa tersenyum lalu meraih tangan Rama yang masih terdiam menatap dalam padanya. Tanpa di duga, Rama tiba-tiba memeluk Arisa dengan erat.
"Dari mana saja kau? Kenapa baru sekarang muncul di depanku? Kau baik-baik saja kan? Kau tak sakit kan? Dimana kau tinggal? Kenapa ponselmu mati? Kenapa tak memberi kabar padaku?" Kini giliran Arisa yang terdiam mendapati pertanyaan Rama yang beruntun.
"Maaf. Aku tak bisa menjawab semua pertanyaanmu." Lirih Arisa sehingga Rama melepaskan pelukannya.
"Tak apa... yang penting kau baik-baik saja sekarang." Tutur Rama semakin mengembangkan senyumnya lalu menepuk pipi Arisa dengan gemas.
"Wah... kau Arisa? Sudah muncul lagi ke permukaan?" Sindir Gibran yang kebetulan lewat di dekat mereka.
"Yaa... memang bukan urusanku. Hanya saja aku heran, kau itu terlalu dramatis sampai-sampai kabur dari rumah. Apa masalahmu Arisa? Kau itu anak orang kaya. Apa lagi yang kau mau?"
"Ku bilang bukan urusanmu!" Tegas Arisa membuat Gibran terbelalak. Ia baru pertema kali melihat Arisa yang marah begini. Namun setelahnya, Gibran tertawa dengan puas menanggapi kemarahan Arisa yang meluap di depannya.
"Kau marah? Wahhhh sejak kapan kau bisa marah? Hahaha Arisa Fandhiya Putri akhirnya memperlihatkan taringnya juga. Untung saja aku tak jadi jatuh cinta padamu. Kau punya tempramen buruk." Arisa hanya bisa menunduk mendengar semua makian Gibran tentangnya.
"Mau sampai kapan kau mengoceh?" Geram Rama menghentikan tawa Gibran seketika.
"Kau berani padaku?"
__ADS_1
"Dengan alasan apa aku harus takut padamu? Hanya anak orang kaya? Hmph percuma kau membanggakan harta orang tuamu tapi kau tak bisa menjaga harga diri mereka."
"Siapa kau, berani menceramahiku?"
"Bukan siapa-siapa. Aku hanya pacar Arisa, gadis yang kau ejek. Terima kasih sudah mengatakan kau tak lagi jatuh cinta padanya. Dengan begitu, aku tak perlu mencemaskanmu akan merebut pacarku." Gibran yang mendengar celotehan Rama pun hilang kesabaran, ia menggeram lalu melancarkan pukulan di wajah Rama. Namun pukulan itu tidak benar-benar mendarat di wajahnya, Rama yang menghindar pun hanya mengenai ujung dagunya saja. Meski demikian, tetap saja pukulan itu sangatlah keras. Rama merasakan linu di ujung dagunya sehingga keseimbangannya mulai hilang. Ketika Gibran hendak melancarkan pukulan kedua, sesegera mungkin Reski menahan tangan Gibran yang kini sudah berjarak beberapa cm dengan wajah Rama.
"Kau tak jera?" Tegur Reski dengan melirik tajam Gibran dan mengintimidasi. Gibran terdiam mendengar suara berat Reski dan ia merasa suara Reski begitu menekan.
"Kau ikut campur lagi?" Geram Gibran membalas lirikan Reski.
"Lalu kenapa kau mengusik hidup temanku?"
"Siapa yang mengusik siapa?"
"Benarkah? Kau yang selaku mengusik orang."
"Lepaskan tangan kotormu dariku sialan!" Teriak Gibran menghempaskan tangan Reski darinya sampai terlepas. Setelah itu, Gibran berlalu dari hadapan mereka. Juna yang mengawasi dari jauh, semula ia berniat membantu Arisa, namun niatnya urung melihat Reski ikut andil membantu Arisa yang bagi dirinya tengah dalam bahaya.
Beberapa saat kemudian, suara bel masuk pun berbunyi dan seluruh siswa pun memasuki kelas mereka masing-masing. Menjelang siang, kelas 12 yang saat ini sudah memasuki masa-masa penghujung, hari ini melakukan sesi foto shoot dan video sebagai perpisahan mereka. Sudah menjadi hal yang wajar jika Arisa selalu berdekatan dengan Rama di manapun dan kapanpun. Semasa pemotretan, Rama tak sedikitpun melepaskan genggaman tangannya dari sang kekasih. Bahkan ia sempat memandang Arisa begitu dalam di salah satu jepretan kamera.
"Apa hal semacam ini akan ada dalam ingatanku nantinya?" Batin Rama yang terlintas rasa keinginan hidup lebih lama saat menatap wajah Arisa hari ini.
. Sepulang sekolah, Arisa dan Rama sama-sama berjalan ke seberang jalan. Mereka berniat untuk memberhentikan kendaraan umum apapun itu. Ketika keduanya tengah asyik bercanda, tiba-tiba sebuah mobil terhenti di depan mereka dan memaksa Arisa untuk ikut masuk.
__ADS_1
-bersambung.