7 Purnama

7 Purnama
Bab 27


__ADS_3

. Yugito baru pertama kali setelah sekian lama ia tak lagi bercanda ria dengan putri bungsunya. Ia benar-benar menikmati kebersamaan dengan Arisa hari ini, dan ia merasa tak mau hari ini cepat berakhir.


"Kau bawa mobil?" Tanya Yugito pada Arisa.


"Bawa. Di parkiran depan parkirnya." Jawab Arisa dengan bersikap polos dan terdengar suaranya yang manja sehingga Yugito merasa tengah bersama Arisa yang dulu.


"Malam ini mau ke pameran tidak?"


"Dengan ayah?"


"Iya. Mau?"


"Dengan Rais?"


"Rais kan di rumah."


"Emmmm baiklah."


"Tapi ayah ada pekerjaan dulu sampai sore. Kamu bisa kan tunggu ayah?" Arisa sejenak berfikir dan tak langsung menjawab pertanyaan ayahnya.


"Emm baiklah. Aris akan tunggu." Jawabnya kemudian.


"Nanti kau ganti pakaian. Asisten ayah sedang membawakannya untukmu."


"Baik ayah."


"Ayah tinggal lagi tak apa kan?" Arisa menggeleng seraya tersenyum menjawab pertanyaan Yugito. Dengan begitu, Yugito bisa pergi dengan tenang jika Arida sudah bisa ia awasi.


. Singkatnya, sore hari, Arisa masih menunggu ayahnya di ruangan yang sama. Ia menatap senja yang terlihat dari jendela ruangan. Tatapannya begitu dalam dan semakin lekat, seakan ia tak ingin memalingkan pandangannya dari senja.


"Senja ya? Dia cantik, menenangkan, tapi hanya sesaat. Tidak seperti Rama. Dia tampan, baik, menenangkan, dan menemaniku sampai kapanpun." Ucapnya bergumam sendiri.


"Sedang bicara dengan siapa?" Tegur Yugito yang baru memasuki ruangan dan mendapati putrinya tengah berbicara.


"Tidak ayah."

__ADS_1


"Itu tadi kau berbicara."


"Hanya mengagumi senja saja ayah."


"Hemmm kau suka senja?"


"Tidak."


"Terus? Kenapa kau mengaguminya?"


"Karena dia indah."


"Lalu? Kenapa kau tak menyukainya?"


"Karena dia pergi di saat kita tengah mengaguminya." Jawaban Arisa tersebut tak bisa di bantah oleh Yugito. Memang benar, senja itu indah tapi saat kita tengah mengaguminya, maka dia akan hilang di telan kegelapan.


"Aris harap. Ayah tak seperti senja." Lirihnya samar terdengar oleh Yugito.


"Kenapa? Kau bicara sesuatu?" Tanya Yugito mencoba memastikan apa yang ia dengar itu tidak salah.


"Ayo pulang. Pasti pamerannya sudah ramai." Dengan antusias Arisa mengangguk lalu mengambil tasnya yang ia letakkan di sofa, kemudian ia menggandeng tangan ayahnya keluar dari ruangan. Beberapa karyawan yang melihat ayah dan anak yang jarang di publish itu pun merasa ikut terbawa suasana.


"Apa itu Raisa? Aku dengar, anak kembar yang dekat dengan bos besar itu bernama Raisa."


"Aih memangnya yang satunya tidak dekat?"


"Entah. Kata rumor yang aku dengar, memang yang dekat dengan bos besar itu Raisa. Dan aku tak tahu nama yang satunya. Kata orang-orang namanya hampir sama."


"Sut. Jangan keras-keras. Bisa gawat kalau terdengar orang."


Kira-kira begitu percakapan beberapa karyawan yang tak sengaja melihat Yugito dan putrinya lewat dengan jarak yang jauh dari mereka.


. Secepatnya Yugito meminta mang Ujang untuk bergegas menuju tempat yang di maksud. Arisa terlihat berbinar saat ia menatap keramaian di depannya. Sangat jarang ia datang ke tengah keramaian seperti ini kalau bukan ke mall. Matanya semakin berbinar saat ia turun dan langsung menggandeng tangan ayahnya.


"Ayo!" Yugito mengajak putrinya memasuki keramaian bersama dan di ikuti mang Ujang dari belakang.

__ADS_1


"Apa ayah baik-baik saja pakai jas? Ayah belum ganti baju."


"Tak apa. Kalau ayah ganti baju dulu, nanti kau lama menunggu lagi. Kan kau sudah menunggu ayah di kantor seharian, kasihan kalau kau menunggu lagi."


"Tak apa ayah. Dari pada pakaian ayah kotor."


"Kau memang perhatian!" Yugito tersenyum memberi pujian pada Arisa seraya mengelus kepala putrinya itu.


Setelahnya, mereka berkeliling dan menghabiskan separuh malam di pameran itu. Hingga tepat sebelum mereka pulang, Yugito melihat sebuah aksesoris rambut di salah satu pedagang. Ia meraihnya lalu mencocokkan di rambut Arisa.


"Cantik!" Ucapnya seraya tersenyum.


"Tapi Aris tidak suka yang seperti itu ayah. Lebih bagus yang ini." Protesnya lalu meraih aksesoris lainnya yang ia suka.


"Kau mau itu?" Dan dengan antusias, Arisa mengangguk mengiyakan.


"Ya sudah! Kau boleh membelinya." Arisa semakin antusias mendengar ungkapan Yugito tersebut.


Setelah barang sudah berada di tangan Arisa, ia tak lupa mengucapkan terima kasih pada ayahnya. Krmudian mereka bergegas meninggalkan pameran tersebut. Dan ternyata, sebelum benar-benar pergi, Yugito memberikan aksesoris yang ia ambil pada mang Ujang tanpa sepengetahuan Arisa.


Ketika sudah berada di dalam mobil, Arisa memeluk Yugito dengan erat. Ia tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih karena Yugito bersedia menemaninya berjalan-jalan dan bahkan membelikannya beberapa barang. Hingga akhirnya tiba di rumah, Juna menyambut Arisa seraya memberikan kunci mobilnya. Ia kemudian berlari menuju kamar Tio yang sudah tertutup rapat, namun ternyata tidak di kunci. Arisa mengendap berniat untuk mengejutkan Tio yang tengah berbaring di ranjangnya, dan rupanya sudsh memejamkan mata. Ia tahu kakaknya ini sudah terlelap, namun rasa bahagianya mengalahkan rasa kepeduliannya pada Tio.


"Dor!!" Teriaknya sehingga Tio terbangun dengan paksa. Arisa tertawa merasa puas karena sudah menjahili Tio yang kini tengah menenangkan nafasnya yang memburu.


Tio perlahan melirik sinis pada gadis kecil berpakaian feminim dan memakai jepitan rambut yang menambah kesan manis pada wajahnya. Gadis itu masih terlihat puas namun malah membuatnya semakin muak.


"Tertawa saja sepuasmu.!" Teriak Tio jelas membentak Arisa yang berhenti tertawa dengan tiba-tiba. "Apa kau sangat suka melihatku menderita? Kapan kau dewasa hah? Apa kau tak bisa membuatku tenang sebentar saja? Kau selalu saja mengusik ketenanganku. Kalau boleh aku meminta, sebaiknya aku tak punya adik sepertimu. Kau pembawa masalah. Pembawa sial!" Suara Tio masih tinggi memekik telinga Arisa yang mendadak gemetar hebat mendengar pengakuan kakaknya yang di luar dugaan. Ia mundur beberapa langkah hendak meraih tembok untuk sekedar menahan tubuhnya agar tidak ambruk di sana. Namun, ia malah menyenggol gelas dengan tangannya sehingga pecahan kaca itu berserakan. Tio seketika terbelalak saat mendapati perban di tangan adiknya. Ia pikir gadis di depannya ini adalah Raisa yang beberapa saat lalu mengganggu pekerjaannya.


"Aris." Lirih Tio melangkah semakin dekat pada Arisa, dan ia hendak meraih tangan atau apapun yang bisa ia raih untuk meminta maaf. Arisa mulai berkaca-kaca kemudian ia berlari meninggalkan kamar Tio dan orang tuanya yang baru saja menghampiri mereka.


Yugito terheran mengapa Arisa berlari dan Tio terlihat mengejarnya dengan susah payah. Arisa kemudian mengurung diri di kamar dengan mengunci pintu dan tubuhnya terus gemetaran.


"Kakak ternyata membenciku juga?"


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2