
. Arisa meronta-ronta ingin keluar dari mobil dan ia berhasil meraih tangan Rama yang sama-sama berjuang untuk menyelamatkannya. Namun orang-orang itu memisahkan mereka dan salah satunya mendorong Rama hingga tersungkur.
"Rama!" Pekik Arisa melihat pacarnya terbatuk di atas tanah, dan matanya mendadak membulat melihat Rama terbatuk darah namun ia sendiri tak bisa membantunya karena mobil itu sudah membawanya pergi.
"Gibran! Tolong...." teriak Arisa ketika ia melihat Gibran yang baru keluar dari gerbang. "Tolong Rama." Pinta Arisa kemudian dengan memohon. Setelah itu, Arisa di tarik ke dalam mobil dan kacanya di tutupi sepenuhnya. Dan saat itu juga Arisa menangis dengan keras di dalam mobil. Ia tak bisa membayangkan bagaimana Rama setelah di tinggalkan olehnya. Dan beberapa detik kemudian, pandangannya menjadi kabur, ia merasakan ada yang menusuk di lengannya sebelum benar-benar terlelap.
"Aish non Aris sangat sulit di tangani." Keluh salah seorang dari mereka.
"Apa tidak masalah membuatnya pingsan?"
"Mungkin tidak. Ini perintah tuan juga kalau non Aris sulit di atasi."
"Tuan besar sangat keras ya. Kasihan non Aris."
"Mau bagaimana lagi."
. Di tempatnya, Rama masih terbatuk dengan darah yang terus keluar dari mulutnya. Naufal segera meraih Rama, namun ia tak tahu harus melakukan apa.
"Rama... kau kenapa? Darahnya terus keluar." Rengek Naufal sudah berpikiran negatif tentang keselamatan Rama.
"Bawa ke mobilku cepat!" Titah Gibran tanpa berpikir panjang lebar. Naufal yang merasa curiga pun akhirnya menurut saja demi keselamatan Rama. Ia yang tak percaya pada Gibran pun memutuskan untuk ikut mengantarkan Rama ke rumah sakit setelah ia membersihkan darah di bibir Rama.
"Cih. Apa yang aku lakukan? Kenapa aku mau menolong anak ini. Jelas-jelas dia sudah membuatku marah." Batin Gibran yang fokus ke depan dan seakan ia tak mempedulikan Rama yang sudah tak sadarkan diri.
__ADS_1
Sampai di rumah sakit, Naufal memanggil petugas untuk membawa Rama menuju ruangan pemeriksaan.
"Rama!" Pekik Dimas yang kebetulan baru kembali dari tempat ia istirahat dan makan siang. Dimas tak mempedulikan snelli nya yang masih berada di ruangannya. Dimas hanya memikirkan bagaimana Rama harus di tangani sesegera mungkin.
"Kau teman Rama? Terima kasih sudah membawa adik saya ke sini ya. Setelah ini, kamu boleh pulang." Ucap Dimas pada Naufal dan Gibran yang ikut mengantarkan Rama ke sebuah ruangan yang asing bagi mereka.
"Tapi dok..."
"Sisanya akan saya urus. Rama itu adik saya. Apa kalian tidak percaya jika saya akan berusaha menanganinya semaksimal mungkin?" Mendengar apa yang di katakan Dimas, Naufal hanya bisa diam membisu.
"Baiklah dok. Terima kasih." Ucap Gibran mewakili Naufal. Setelah itu Dimas meninggalkan mereka dan mulai memeriksa Rama di dalam ruangan. Keringatnya bercucuran saat ia memasangkan beberapa alat di beberapa bagian tubuh Rama.
"Bertahanlah! Kakak mohon. Jika kau pergi, kakak akan mengubur cita-cita kakak sebagai dokter." Batin Dimas terus mencoba untuk menyelamatkan nyawa adiknya.
. Di sisi lain, Arisa mulai mengerjapkan matanya perlahan, ia meraih kepalanya yang terasa berputar akibat obat bius yang di suntikkan oleh orang yang menculiknya. Saat ia sadar sepenuhnya, ia bangkit dan langsung meraih pintu. Beberapa kali ia mencoba membuka, namun pintu terkunci dari luar.
"Juju..... tolong buka pintu...." teriak Arisa dari atas meski ia tak mendapati Juna di manapun.
"Siapapun, tolong buka pintu. Aris harus pergi sekarang." Dan, situasi masih sama. Ia tak mendapati siapapun datang menampakkan dirinya. Saat ia tengah sibuk mencari-cari keberadaan orang-orang di rumahnya, ia tiba-tiba terdiam saat merasakan ada sebuah cairan di hidungnya. Ketika ia memastikan, ia terkejut sendiri mengapa ia tiba-tiba mimisan. Dan Arisa segera membasuh darah yang keluar lebih banyak dari biasanya.
Setelah ia keluar dari kamar mandi, ia merasakan ada sesuatu yang menusuk di ulu hatinya. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak meringis saat itu juga. Arisa ambruk karena rasa sakitnya terasa semakin menjadi.
"Akhhh... sakit tolong." Rintihnya kemudian ambruk dan tergeletak di lantai. Ia mencoba kembali bangkit dengan meraih apa saja yang ada di dekatnya. Lalu 'prang' vas bunga kesayangannya jatuh karena alasnya tertarik. Hampir saja pecahan kaca itu mengenai wajahnya.
__ADS_1
Arisa terus berguling-guling di lantai merasakan sakit yang teramat sakit. Baru pertama kali ia merasakan bagian tubuhnya sesakit ini. Beberapa kali Arisa bangkit dan berusaha meraih gagang pintu. Namun, tubuhnya sudah lemas karena kesakitannya, sehingga ia terlelap di lantai tanpa bisa membuka pintu.
Yugito yang baru kembali dari kantor, ia secepatnya memastikan keberadaan Arisa di kamarnya setelah ia mendengar laporan bahwa Arisa berhasil di amankan. Matanya membulat tepat saat ia membuka pintu, ia mendapati putri bungsunya sudah tergeletak di lantai seraya meraih bagian perutnya.
"Aris. Bangun nak.... Aris." Yugito mencoba untuk membangunkan Arisa dengan terus mengguncangkan tubuhnya. Meski ia berusaha semakin kuat, namun Arisa tak kunjung tersadar. Yugito segera membawa Arisa ke dokter untuk memastikan tak ada apapun yang harus di khawatirkan. Karena terlalu takut terjadi apa-apa, ia memilih untuk membawa Arisa ke rumah sakit. Yugito mondar-mandir tak jelas selama dokter memeriksa kondisi Arisa yabg memprihatinkan. Tak lama, terlihat Rahma datang menyusulnya dengan wajahnya yang panik.
"Bagaimana Mas? Aris baik-baik saja kan?"
"Dokter masih di dalam." Jawab Yugito. Dan tepat saat itu juga, dokter keluar dengan wajah yang sulit di artikan.
"Maaf. Apa pasien punya gejala kanker sebelumnya?" Tanya dokter membuat Yugito dan Rahma saling pandang.
"Tidak dok." Jawab keduanya serempak.
"Tapi, setelah melakukan pemeriksaan, saya menemukan ada sel kanker aktif dan sudah menyebar."
"Maksudnya dok?" Tanya Rahma dengan tak percaya.
"Putri anda terkena gejala kanker."
"Tidak mungkin dok. Dokter pasti salah putri saya tidak mungkin ounya kanker. Sejak kecil dia tidak punya sel kanker yang aktif. Kalau kakak kembarnya memang pernah kanker dok." Protes Rahma yang benar-benar tak mempercayai apa yang di katakan dokter tersebut.
"Mas. Aris tak mungkin kanker kan? Mas. Aris itu tubuhnya kuat kan?" Rahma beralih mendesak suaminya dan berharap bahwa berita ini tidaklah benar.
__ADS_1
"Dok. Bisa jalani pemeriksaan ulang? Atau test darah untuk memastikan itu kanker atau bukan." Pinta Yugito.
-bersambung