
Setelah keduanya mendapatkan kesepakatan atas perjanjian yang mereka buat, Arisa bisa kembali dengan tenang ke dalam kostnya. Bayu membelikan mie dan beberapa camilan untuk Arisa sebelum akhirnya ia menyusul Arisa ke tempatnya.
"Kau yakin mau makan mie saja? Kalau mau, aku bisa belikan makanan enak." Mendengar tawaran Bayu, Arisa menggeleng seraya tersenyum menanggapi.
"Tidak kak. Tabunganku sedikit lagi, dan aku tak tahu bagaimana cara membalas budi kakak nantinya."
"Jangan di pikirkan Aris. Aku tak keberatan jika kau ingin aku melakukan sesuatu untukmu." Meski Bayu berkata demikian, namun Arisa tetap tak ingin merepotkan orang lain.
Ketika malam semakin larut, Bayu berpamitan pada Arisa untuk pulang dan ia berjanji akan menemui Arisa jika dirinya luang. Arisa merasa hatinya sedikit lega jika sudah menemukan makanan untuk makan malamnya. Meski tak berselera, namun ia harus memaksakan dirinya untuk mengisi perut, kalau tidak, mana mungkin ia akan kuat bekerja jika tubuhnya sakit-sakitan.
Singkat cerita, Arisa akhirnya bekerja dan menghidupi dirinya sendiri tanpa ada yang mengetahui. Ia sedikit merubah penampilannya dan wajahnya memakai make up untuk mengecoh bila mana ada bawahan ayahnya yang mencarinya. Dan setiap malam, Arisa selalu di temani oleh Bayu meski hanya sampai jam 9 malam. Namun hal itu cukup membuat Arisa tidak merasa kesepian. Sudah lebih dari satu minggu Arisa hidup sendiri tanpa memberi kabar siapapun termasuk Tio dan Rama, ia menatap langit-langit kamar dengan dalam, lalu merasakan perutnya yang berbunyi menandakan ia harus segera mengisinya.
"Aku sudah terbiasa." Ucapnya dengan anda pelan. Arisa beranjak, lalu meraih mie cup dan menyeduhnya dengan hati yang hampa. Ia merasa hidupnya benar-benar kosong, seperti anak yang sudan kehilangan semua anggota keluarganya. Setelah mie dirasa matang, Arisa menatapnya sebelum ia melahapnya. "Aku sudah terbiasa." Ucapnya lagi lalu melahap mie di tangannya. "Aku sudah terbiasa." Kalimat itu terus di ucapkannya berulang-ulang. Tanpa sadar, air matanya berderai begitu saja. Ia sangat kesepian sekarang. Namun ia juga harus menguatkan dirinya sendiri agar tak terlarut dalam kesedihannya. Rumah yang ia rindukan nyatanya tak begitu membahagiakan. Ia memang rindu suasana kamarnya, namun ia sangat membenci orang-orangnya. Ia rindu kakaknya, namun ia benci orang tuanya. Setelah merasa puas menangis, Arisa terlelap dengan mata yang sudah sembab.
Esoknya, Arisa kembali bekerja setelah ia menenangkan pikiran dan meredakan kesedihannya. Di sisi lain, Tio absen bekerja membuat Yugito menjadi murka dan mengamuk di rumah. Vas bunga yang ada di sampingnya, ia lemparkan ke sembarang arah sehingga pecahannya berserakan dimana-mana. Karena sudah di rasa tak ada hasil, Yugito benar-benar sudah tak ingin mencari Arisa lagi. Ia tahu jika putri bungsunya memang merajuk dan tak ingin pulang.
__ADS_1
Sampai waktu bergulir dan malam purnama sudah hampir tiba, Arisa merasa ingin bertemu dengan Rama. Selama ini ia menahan diri agar tak menghubungi Rama, namun rasa bersalahnya mengalahkan egonya dan ia pun menghidupkan ponsel yang selama ini ia biarkan tergeletak di atas lemari kecil yang ia beli setelah menginap 3 hari di sana.
Tio tercengang, ia yang semula tengah berbaring di tempat tidurnya, ia segera bangkit dan meraih mantel dan kunci mobil. Tanpa mengatakan apapun kepada orang rumah, Tio melajukan mobil dengan kecepatan penuh.
Arisa mulai memejamkan matanya setelah ia lelah menunggu panggilannya yang tak kunjung ada jawaban. Ia hanya berpikir bahwa Rama sudah tidur dan beristirahat. Mungkin besok pun ia akan di hubungi oleh Rama jika Rama sudah melihat riwayat panggilan tak terjawab darinya.
Sebenarnya yang terjadi, Rama tengah menjalani pengobatan yang membuat dirinya belum sadarkan diri selama berhari-hari. Akibat terlalu kelelahan dan kondisi semakin memburuk, Rama dinyatakan sudah mencapai batasnya. Kemungkinan umurnya hanya tersisa beberapa waktu saja. Diah tak henti-hentinya berdoa, dan Gilang begitu sendu ketika mendapati panggilan dari Arisa untuk kakaknya. Ia tak kuasa jika harus menjawab dan mengatakan bahwa Rama tidak ada di rumah di jam yang sudah malam.
"Maaf ya mbak. Gilang di larang memberitahu mbak tentang Abang." Lirihnya kemudian meletakkan kembali ponsel Rama.
"Kakak.... to-tolong!" Pekik Arisa menjerit di pojok ruangan.
"Aris buka pintunya! Ini kakak di luar!" Tio tak kalah berteriak meminta Arisa untuk membukakan pintu untuknya. Dan sesegera mungkin Arisa beranjak memastikan bahwa yang di luar kamar kost nya adalah Tio. Melihat pintu terbuka dan menampilkan adik kesayangannya, Tio mendadak lemas namun ia harus tetap berdiri di hadapan Arisa. Ia pikir Arisa akan kembali masuk lalu mengunci pintunya, namun ternyata Arisa malah memeluk Tio dengan erat seakan tak ingin Tio pergi.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa tak pulang?" Mendengar pertanyaan-pertanyaan tersebut, Arisa hanya membenamkan wajahnya di pelukan Tio. Ia engga menjawab dan memberitahu Tio alasannya pergi dari rumah. Tio sendiri sudah tahu meski Arisa tak menjelaskan apapun.
__ADS_1
"Ayah dan mama sangat berharap kau pulang." Ucap Tio selanjutnya. Namun Arisa hanya menggeleng karena tak percaya dengan apa yang di ucapkan kakaknya.
"Mama tak pernah mau Aris ada di rumah. Mama tak menginginkan kehadiran Aris. Aris hanya jadi beban di keluarga. Kalau memang Mama ingin Aris pulang, harunya Mama juga ada di sini. Bukan hanya kakak saja." Ucap Arisa mengelak dan menepis kenyataan bahwa ibunya sangat mengkhawatirkannya.
"Mama sakit. Sekarang di rawat di rumah sakit. Darahnya tinggi lagi. Mama berharap kamu pulang."
"Lalu kenapa tidak Mama atau Ayah yang ke sini? Kenapa hanya kakak? Sudah jelas kan kalau Mama dan Ayah tidak peduli pada Aris."
"Kenapa kau berpikir begitu? Kakak ke sini sendirian karena kakak tidak memberitahu Ayah tentang keberadaan mu. Karena kakak takut nantinya Ayah akan membawamu dengan paksa seperti waktu itu."
"Bukankah Ayah juga punya informasi tempat ini? Ponselku aktif, dan buktinya kakak langsung ke sini."
"Argghhh apapun alasannya, kakak mohon kamu pulang ya! Kasihan Mama."
"Tapi kakak tidak kasihan padaku. Harusnya kakak juga memikirkan perasaanku." Mendengar keputusasaan adiknya, Tio hanya bisa terdiam tanpa ingin membantah dan menyela.
__ADS_1
Bersambung