
Arya terkejut setengah mati mendengar kabar anaknya memukuli orang sampai korbannya masuk rumah sakit dan sekarat, ia buru-buru menemui anaknya dan berharap bisa diselesaikan secara baik-baik.
Setelah bertemu dengan Bayu, Arya terlihat begitu marah. Sebenarnya ia ingin sekali memukul atau memberi pelajaran pada Bayu saat itu juga. Tapi ia ingat, kini mereka tengah berada di rumah sakit yang dimana peraturannya tak boleh ada keributan. Yang membuat Arya lebih terkejut ialah kondisi Rama yang sangat memprihatinkan. Memang sangat terlihat di pipinya ada luka lebam.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan, Bayu?" Tanya Arya yang masih mematung menatap Rama tanpa ada niat untuk menoleh pada Bayu. Namun Bayu hanya memilih diam. Jika ia bicara membela diri pun, Ayahnya tetap akan memarahinya.
Ketika Arya tengah berbincang dengan Dimas, Bayu yang menunduk di samping ranjang Rama pun merasa terkejut saat ia melihat pergerakan Rama. Sontak Bayu memanggil Dimas yang segera meninggalkan Arya di tempatnya.
"Bang..."
"Li.. jangan bergerak dulu." Tegur Dimas yang menahan pergerakan Rama agar tak terbangun dari posisi tidurnya.
"Aris Bang. Aris.." lirih Rama yang hanya bisa di dengar oleh Dimas saja.
"Jangan pikirkan apapun lagi. Sekarang, kamu istirahat dulu. Kakak akan berusaha buat kamu sembuh."
Sebelum berucap, Rama menyunggingkan senyum yang begitu hangat. "Jangan memaksakan Bang. Aku sudah mau pergi."
Mendengar apa yang dikatakan Rama, Dimas semakin menunduk menggenggam tangan adiknya.
"Aku minta, jangan ada yang memberitahu Aris. Dan juga, Aku ingin bertemu dengannya sebentar saja."
"Jangan Li. Kamu masih lemah. Tak akan ada yang menjamin kamu akan bertahan tanpa alat-alat ini." Mendengar teguran Dimas tersebut, Rama kembali tersenyum lalu mencoba beranjak meski ia merasakan sakit yang teramat hebat di bagian dadanya.
"Kamu mau kemana Li?" Tanya Dimas yang mulai kesal melihat Rama yang memaksakan diri.
"Rama. Jangan bergerak. Atau kau akan--"
"Kak Bayu. Boleh bicara sebentar? Berdua saja. Tuan! Bukannya saya tidak sopan. Tapi, saya meminta izin ingin berbicara empat mata dengan kak Bayu." Ucap Rama mengalihkan pandangannya pada Arya. Meski berat, namun Arya hanya bisa menyetujui dan mengizinkan apa yang di inginkan Rama. Dimas dan Arya berlalu keluar dari ruangan dan meninggalkan Rama dan Bayu saja.
"Kak Bayu. Sebelumnya, saya ingin tahu kenapa kakak memukul saya?" Tanya Rama tanpa basa-basi.
"Aku sangat menyesal Ram. Aku terbawa emosi karena aku kesal melihat Aris--"
__ADS_1
"Jadi benar. Kak Bayu menyukai Aris." Rama begitu cepat menyela kalimat Bayu yang belum selesai. Terlihat jelas di balik senyuman Rama itu menyimpan sebuah rasa cemburu yang begitu besar.
"Maafkan aku Rama. Aku memang menyukai pacarmu sejak aku pertama kali bertemu dengannya. Bukannya aku ingin merebutnya darimu. Tapi aku memang menyukainya. Aku mengaguminya, meski aku tahu aku tak akan bisa menggantikan posisimu."
"Tak lama lagi, kakak akan ada di posisiku." Setelah mengatakan kalimat itu, Rama terlihat menarik kembali senyumnya sehingga Bayu semakin merasa bersalah.
"Jangan bicara begitu Ram. Itu semakin menunjukkan bahwa aku yang membuatmu begini. Meski kebenarannya memang aku penyebab penyakitmu kembali, tapi aku tak tahu apa-apa. Aku pikir kau tak mengidap kanker. Aku tak melihat rambutmu yang rontok, dan aku juga tak melihat kau seperti orang yang sakit."
"Kalau aku memperlihatkan sakitku, Aris akan bersedih kak. Aku tak mau menambah kesedihannya."
"Lalu, sekarang kau mau apa? Apa Aris tak tahu kondisimu?" Menanggapi pertanyaan Bayu tersebut, Rama hanya terdiam lalu menggeleng.
"Jangan beritahu Aris. Siapapun jangan memberitahunya sampai aku yang sendiri yang bicara."
"Baiklah. Tapi aku sarankan, sebaiknya kau beritahu Aris secepatnya. Kalau tidak, mungkin dia akan sangat bersedih jika kau tak memberitahunya sama sekali."
"Aku akan memberitahunya, jika waktunya sudah tepat. Tapi, jika aku pergi sebelum aku bisa memberitahu Aris, apa kakak akan menuruti keinginan ku yang satu ini?"
"Tidak kak. Ini mudah. Kakak hanya harus berjanji satu hal saja padaku."
"Janji?"
"Iya kak. Aku ingin kakak berjanji kalau kakak akan menjaga Aris setelah kepergianku."
"Tidak Rama. Aku tak bisa melakukan itu."
"Aku yakin kakak bisa. Kakak mencintainya kan? Aku juga yakin, cinta kakak pada Aris sama besarnya seperti aku padanya."
"Tapi Rama... kalau hanya mengawasi, mungkin aku bersedia. Tapi kalau berjanji, maaf aku tak bisa."
"Kak..."
"Tidak Rama. Permintaanmu terlalu berat untukku. Jika mencarikan hati untukmu, akan aku usahakan. Tapi jika harus menjagakan Aris karena permintaanmu, maaf aku benar-benar tak bisa."
__ADS_1
"Kalau begitu, jaga Aris sepenuh hati kakak. Jangan terikat dengan permintaanku. Karena, sepeninggalku, Aris akan merasa sendirian." Meski Rama berkata dengan lirih, namun setiap kata yang di ucapkannya itu malah membuat Bayu merasa geram.
"Lalu kenapa kau tak mau bertahan?" Di bentaknya Rama dengan tiba-tiba, sehingga Rama terhenyak dan kembali merasakan sakit di ulu hatinya yang teramat sakit. Melihat Rama yang terpingkal-pingkal, Bayu mendadak panik dan ia segera memanggil Dimas untuk memeriksa kondisi Rama.
"Bisakah kalian keluar, dan tolong panggilkan perawat di ruangan ujung lorong ini." Ucap Dimas dengan suara yang gemetar. Terlihat pula tangannya yang tak bisa di kendalikan, sehingga benda yang di pegang oleh Dimas pun ikut gemetar.
"Pastikan kau mendapatkan hati untuk Rama. Ayah tak akan ikut campur, kau harus bisa mengurus masalahmu sendiri." Tegas Arya setelah Bayu memanggil seorang perawat.
"Tapi Ayah... Bayu tak punya uang untuk membayar biaya rumah sakitnya."
"Sudah Ayah atur. Sisanya kau lakukan sendiri."
"Ayah..."
"Kau sudah dewasa, Bayu. Kau harus bertanggung jawab sendiri."
"Aku mengerti Ayah. Tapi aku harus mencari organ hati kemana?"
"Kau sudah punya akses di beberapa kota, kan? Harusnya kau tak perlu bertanya." Mendengar nasehat Ayahnya tersebut, Bayu hanya menghela nafas dalam sesaat lalu menunduk menyesali kesalahannya.
Sementara itu, Arisa pulang dan langsung menghadap Yugito di ruang kerjanya. Ketika selangkah saja memasuki ruangan, Arisa sudah merasa tubuhnya gemetaran. Apa lagi saat melihat wajah Yugito yang begitu menakutkan.
"Kalau sudah tak mau kuliah, kau harus mau ayah nikahkan."
"Ayah! Aris tak mau menikah. Aris masih mau kuliah."
"Terus kenapa kau bolos? Kalau Rama membawa pengaruh buruk, sebaiknya akhiri saja hubunganmu dengannya."
"Kenapa ayah menyalahkan Rama?"
"Karena dia penyebabnya." Dengan penuh penegasan, Yugito tak ingin ada bantahan dari putri bungsunya itu.
Bersambung
__ADS_1