
PART 10 – MENJADI AKRAB
Diantara akhlak seorang muslim ialah baik saat berbicara, penuh perhatian saat diajak berbicara, ceria kala berjumpa dan memenuhi janji dikala berjanji
{HR Dailami}
_________________________________________
Tok ... tok ... tok ....
“Ma, Oya boleh masuk nggak?” Teriak Oya di depan pintu kamar Mamanya.
“Masuk saja Nak!” Jawab wanita paruh baya yang baru saja selesai melaksanakan sholat isya.
Gadis bercelana pendek itu merasakan getaran di dadanya ketika menyaksikan sajadah yang masih tergelar di lantai kamar ini. Meski Mamanya sering menasihatinya untuk melaksanakan sholat lima waktu, tetapi dia jarang sekali melaksanakannya. Ada-ada saja alasan yang tepat untuk menghindari kewajiban seorang muslim itu. Dia merasa bersalah namun tidak terlalu larut memikirkannya sebab sang Mama menyentak lamunannya, “hei, kenapa melamun di situ? Ayo masuk!” Titah sang Mama.
Zoeya pun memasuki kamar Mamanya seraya membantu melipat sajadah yang masih tergelar cantik, tanpa sadar ia mengusapkan wajahnya di sajadah biru yang ia pegang entah dengan maksud apa.
Ia memeluk sajadah yang sudah terlipat itu di dadanya, kemudian sang Mama kembali bersuara, “Oya sudah sholat isya belum?”
Tak ada tanggapan dari putri kesayangannya. Mama Hasna sudah mendapatkan jawaban dari kebisuan anak gadisnya, “kapan terakhir kali Oya sholat? Di sana Oya nggak sholat ya?” Tanyanya lagi.
Oya meletakkan sajadah itu di sofa samping ranjang sang mama, kemudian dia menghampiri Mamanya dan ikut duduk di atas ranjang. Dia kembali bermanjaan dengan Mamanya, menaruh kepala di paha wanita yang telah melahirkannya itu dan menengadah menatap netra lembut wanita paruh baya ini.
“Maafin Oya ya Ma, selama di sana Oya nggak sempet sholat ... habisnya jadwal padat banget, malamnya Oya capek terus ketiduran deh.” Itulah jawaban yang selalu terlontar dari mulut manisnya Zoeya.
Mama Hasna mengelus rambut putrinya dan tersenyum lembut, “Oya masih ingat nggak rukun islam ada berapa?”
“Pas waktu SMA dulu, kayaknya ada lima deh Ma. Nggak tau kalo sekarang udah nambah lagi.” Jawab Zoeya asal.
Mama Hasna yang mendengar jawaban ringan dari putrinya itu menatap sedih, merasa tak becus dalam mendidik anak-anaknya karena hampir dari mereka bertiga sekarang susah sekali dinasehati untuk beribadah.
“Ya Allah, hamba sudah lalai dalam mendidik ketiga titipanmu ini. Bantulah hamba ya Allah.” Pinta wanita paruh baya ini dalam hati.
“Mama minta mulai besok Oya harus memperdalam pengetahuan Oya tentang Islam. Oya agamanya apa sih?” ucap Mama Hasna lembut.
Memang begitulah cara wanita ini dalam mendidik ketiga putra-putrinya, tak pernah sekalipun ia berkata kasar dan membentak anak-anaknya. Apalagi setelah ayah mereka kembali kesisi-Nya.
“Islam dong Ma." Tegas sang anak.
__ADS_1
"Ma, Oya kok merasa selalu gelisah ya. Waktu ngeliat Mama baru selesai sholat tadi, Oya merasa tertusuk aja gitu, ngilu Ma jantung Oya. Mama terlihat segar sekali sehabis sholat.” Ungkap Zoeya mengutarakan perasaannya.
Sang Mama tersenyum dan meluruskan posisi putrinya agar dapat sejajar berpandangan dengannya, “Oya gelisah karena jauh dari Allah, Oya sudah sering melupakan Allah dan sekarang Allah merindukan Oya. Jadi, Oya harus membenah diri agar tidak melupakan-Nya. Dimulailah dengan memperbaiki sholat dulu ya Nak.” Terang Mama Hasna.
Zoeya yang mendengarkan itu menatap Mamanya lembut seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Iya Ma, Oya akan coba. Tapi Ma, kalau sedang bersama teman-teman pasti sulit Ma, soalnya mereka nggak penah sholat tuh.” Jawaban miris terlontar dari mulut Zoeya.
Mama Hasna membimbing Zoeya keluar dari kamarnya, kemudian berpindah ke arah kamar Shanum yang berada di lantai atas ini, bersebelahan dengan kamar putrinya. Zoeya hanya diam mengikuti langkah sang Mama.
Sesampainya di pintu kamar Shanum, terdengar alunan merdu seperti orang bersyair dan bahkan lebih merdu dari itu, “suara merdu orang mengaji.” Batin Oya.
Kebetulan pintu kamar Shanum tidak tertutup sehingga seisi kamar itu dapat terlihat dari luar. Pasangan ibu dan anak melirik ke dalam dan terlihat sosok indah yang masih mengenakkan mukena putihnya, duduk menghadap kiblat serta melantunkan ayat suci Al-Qur’an, ayat yang indah dilengkapi dengan suara yang indah pula.
Zoeya kagum dan merasa iri dengan sosok di dalam sana, ia menjadi terpacu ingin bisa seperti Shanum.
“Suaranya indah banget Ma, tentram sekali mendengarnya.” Komentar Zoeya tanpa mengalihkan pandangannya dari Shanum.
“Shadaqallahul adzim.”
Shanum menutup Al-Qur’an setelah menciumnya, kemudian dia melepas mukena putih yang ia pakai. Meski di dalam kamarnya ia hanya sendiri, Shanum tidak juga melepaskan kerudung. Terlihat sekarang di dalam mukenanya tadi dia juga mengenakan kerudung instan tanpa pet.
Shanum yang sudah menyimpan perlengkapan sholatnya itu terperanjat menyaksikan pemilik rumah yang berdiri di depan kamarnya. Ummi Hasna tersenyum dan menyeret Zoeya memasuki kamar Shanum.
“Alhamdulillah, tapi Shanum juga baru belajar kok Ummi.” Jawabnya.
Shanum melirik gadis seumurannya yang berada di belakang Ummi Hasna. Tanpa diminta Zoeya pun melangkah maju menghadap Shanum.
“OMG! Suara kamu keren banget Shan, damai banget waktu dengernya!” Teriak Oya melengking.
Sampai-sampai Shanum menutup telinganya dan Ummi Hasna pun melakukan hal yang sama. Zoeya tersenyum kikuk seraya mendaratkan tubuhnya di kasur Shanum tanpa permisi. Kemudian aksi Zoeya diikuti dua perempuan berjilbab lainnya.
“Malam ini, kita tidur bareng ya. Aku mau dengar kamu ngaji lagi.” Pinta Zoeya.
Shanum tersanjung namun tetap merasa canggung. Bagaimana pun juga mereka baru saja bertemu dan kini gadis seumurannya ini meminta hal yang tak bisa Shanum tolak dengan alasan apapun.
Ummi Hasna tersenyum dengan puas, “semoga saja, dengan adanya Shanum di sini Oya bisa berubah dan menjadi lebih baik lagi.” Batinnya.
Wanita paruh baya itu melangkahkan kakinya meninggalkan dua gadis muda yang kini terlihat asyik berbincang entah masalah apa. Ia menutup pintu warna gold itu dengan wajah yang cerah.
***
__ADS_1
“Ma, Oya mau nanya nih. Apa Bang Riqhad tahu kalau Shanum tinggal di rumah kita?” Tanya Zoeya ketika berada di ruang makan untuk sarapan.
Di sampingnya ada Shanum yang menyimak perbincangan ibu dan anak itu. Shanum sudah siap untuk berangkat ke kampus barunya, kebetulan pagi ini Zoeya juga memiliki kelas dan semalam mereka sudah berjanji untuk berangkat bersama.
Baru semalam Shanum bisa tertawa lepas ketika mendengar gurauan dari Zoeya, Shanum pun menjadi tau usut punya usut mengapa Zoeya bisa berpenampilan setomboy ini, dari obrolan mereka semalam kini mereka merasa kian akrab. Zoeya orang yang ramah, supel, humoris, lembut dan penyayang. Terlihat dari sikap yang ditunjukkannya.
Memang semalam mereka tidur dengan jam yang sangat larut. Selain mendengar Shanum mengaji, Zoeya juga berbagi cerita dengan Shanum. Mereka juga berdiskusi masalah lain. Zoeya lah yang banyak bertanya mengenai kerudung, gamis, cadar, sholat dan hal muslimah lainnya, dengan senang hati Shanum menimpalinya sejauh yang ia tahu. Zoeya juga menyinggung Harisa, perempuan bercadar yang dikatakan teroris olehnya.
“Mama sudah menjelaskan semuanya kepada kedua Abangmu dan Mama kira Riqhad juga mengerti. Tetapi waktu Mama memintanya datang untuk makan malam dan kumpul keluarga sekaligus mengenalkan Shanum, Abangmu itu tidak dating.” Suara keibuan itu membuyar lamunan Shanum.
Ternyata ibu dan anak itu sedang membahas anak kedua dari Ummi Hasna, sosok yang sama sekali belum Shanum jumpai dan katanya lagi Riqhad adalah salah satu dosen muda di kampus yang akan Shanum masuki ini, bahkan dosen dari jurusan yang Shanum tekuni.
Gadis berkerudung ungu itu menjadi penasaran dengan calon dosen barunya yang merupakan salahsatu Abang dari Zoeya, anak dari pemilik rumah ini. Seperti apakah rupanya, baik ataukah tidak, killer ataukah tidak sebagai dosen? Itulah sebagian kecil pertanyaan yang berputar di kepala Shanum.
“Mama jangan sedih ya, mungkin belum saatnya Bang Riqhad luluh dan move on ... hehee.” Canda Zoeya.
“Iya Oya sayang.” Balas Mamanya.
“Ma, kenapa Bang Thoriq pindah ke apartement?” Tanya Zoeya kembali.
“Itu keputusannya Nak, dia ingin lebih dekat dengan kantornya.” Jawab sang Mama yang dipahami oleh sang anak.
Beberapa saat kemudian, Ummi Hasna telah menyelesaikan ritual sarapannya. Selanjutnya diikuti oleh kedua gadis cantik di depannya.
“Kalau begitu kita pamit dulu ya Ma, takut telat akunya. Lagian mau nemenin Shanum ke akademik dulu.” Ucap Oya yang sudah menyelesaikan sarapannya.
Shanum pun sama, dia membereskan piring kotor untuk di bawa ke belakang. Tetapi dicegah oleh Ummi Hasna, “tidak usah Nak, biar Bi Ipah saja. Nanti kalian terlambat lagi.”
Dengan tak enak hati Shanum mengikuti perintah Ummi Hasna. Zoeya mencium wajah Mamanya sebagai ritual seperti biasanya ketika ia akan meninggalkan rumah, kemudian diikuti Shanum dengan menyalami wanita paruh baya itu.
“Oya jalan dulu Ma!”
“Kami berangkat dulu Mi, Assalamu’alaikum.” Pamit Shanum.
Kemudian Zoeya pun mengulangi ucapan yang sama dengan riang,
“Hehe, lupa salam. Assalamu’alaikum Ma, kita berangkat dulu ya!”
Manusia itu mengikut agama kawannya. Maka hendaklah diperhatikan siapa yang hendak dijadikan sebagai kawan.” (HR Tirmidzi)
__ADS_1
Ummi Hasna menatap kedua mahasiswi itu dengan senyuman di wajahnya, baru sebentar Shanum berada di sini sudah terlihat perubahan dari putri bandelnya itu yang bahkan tidak pernah mengucapkan salam ketika hendak pergi.