
PART 24 - KECEWA BOLEH MERANA JANGAN
Tatalah hati dan gantungkan lah selalu harapan kepada-Nya.
Jadikanlah manusia hanya sebagai sebab. Yakinlah Allah tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya yang bertawakkal dan berhusnudzon kepadaNya.
-Anonim-
_________________________________________
Sudah beberapa hari Shanum berkutat dengan tugas istimewa yang diberikan oleh Dosennya, proses pembuatan Maket ternyata sangat rumit namun tidak membuat ia mengeluh untuk mengerjakannya. Terlebih lagi jika membayangkan orang yang memberikan tugas ini, malah membuat semangat gadis manis ini berkobar-kobar. Teringat kata demi kata yang Bapak Dosen itu lontarkan, meskipun menyakitkan untuk di dengar namun mampu memupuk ambisi Shanum -ambisi boleh asal jangan ambisius- untuk selalu optimis dalam menyelesaikan tugas yang layak ia sebut sebagai sebuah tantangan.
Raut wajah meremehkan, senyum sinis dan tatapan menantang dari pria tegas itu mengiringi gadis berkerudung hitam ini dalam membuat pondasi dalam maket yang akan diselesaikannya. Ia memilih untuk membuat maket bangunan sederhana bergaya klasik dan sumber inspirasi utamanya adalah taman di rumah yang ia tempati ini.
Meskipun sering kesal dengan seseorang yang telah mendesainnya, tetapi tak dapat Shanum pungkiri ia begitu terpesona bahkan dari pandangan pertama sejak ia memasuki rumah Umi Hasna yang juga merupakan rumah dari si pemberi tantangan ini, Pak Riqhad.
Tangan mungil Shanum begitu telaten mengukur dan menoreh pensilnya guna menyelesaikan Maketnya. Ia telah mendapatkan gambaran apa yang akan ia buat sehingga tidak membuatnya bingung lagi.
Ia teringat kata-kata Pak Riqhad sebelumnya ketika si Dosen itu mengambil kopernya. “Saya akan memantau kamu dalam menyelesaikan tugas dari saya, dalam tiga hari dari sekarang saya minta kamu telah mendapat gambaran atas apa yang akan kamu buat. Kemudian saya akan melihat kemajuan dari proyek individumu. Jika terdapat kesulitan kamu bisa tanya saya ya.”
“Bisa tanya saya ya.” Otak Shanum kembali mengulang kalimat terakhir dari Dosennya, entah mengapa kalimat tersebut terdengar begitu lembut di telinganya. Belum pernah Dosennya itu berkata selembut itu.
“Bagaimana aku bisa leluasa bertanya pada Pak Riqhad? Jika di kampus saja kekasihnya begitu posesif padanya. Dan mana mungkin aku bertemu di luar dengan dia, apalagi memintanya ke sini.” Pikir Shanum.
Ia teringat dengan tatapan dan ucapan kekasih Riqhad yang tak lain juga dosen di universitasnya. Tanpa tahu permasalahan malah menuduh yang tidak-tidak pada Shanum, siapa juga yang mau mengganggu dan merebut pria galak itu. Menatap wajah pria itu saja Shanum merasa jantungan.
'Astaghfirullah.' Lirih Shanum sambil memukul kecil kepalanya bagian kiri. Bisa-bisanya Pak Riqhad berkelana di pikirannya sedari tadi. Walaupun dampaknya ia semakin bersemangat menjalani tantangan namun tak sepantasnya ia berzina pikiran begini apalagi secara tidak langsung ia juga memikirkan kejelekan dari kekasih Riqhad yang tak lain calon menantunya Ummi.
'Calon menantunya Ummi.' Tanpa ia duga dengan membayangkan hal tersebut menimbulkan gerakan nyeri di bagian dada dalamnya yang entah apa artinya itu.
Drrrt... drrt...
Ponsel Shanum yang berada di samping lampu tidurnya berdering pertanda ada sesuatu yang masuk. Ia pun mengabaikan sebentar karena tangannya masih serius mengurusi maketnya.
Setelah selesai, ia pun meninggalkan meja belajarnya yang cukup luas untuk menampung maket yang ia buat itu kemudian menghampiri benda tipis yang berdering sebelumnya.
Mata bening Shanum pun membulat sempurna memperhatikan deretan huruf yang berjajar rapi di pesan masuk. Shanum hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya. “Dasar galak!” Gumam Shanum kemudian mengetik balasan.
Beberapa saat kemudian, balasan dari Shanum kembali mendapat tanggapan dari si pengirim pesan. Dan kali ini tidak ada senyum di wajah mulus gadis itu. Ia menutup matanya seraya mengelus dada, dari mana si pengirim pesan ini mendapatkan sifat galak dan otoriter seperti ini? Sedangkan Ibunya sangatlah lembut begitu juga dengan kedua saudaranya. Mengapa hanya ‘dia’ saja yang berbeda.
Kemudian ia pun mengerjap sebelum mengetik balasan yang sopan. Pesan itu pun menjadi penutup karena kalimat balasan darinya memang tidak menuntut untuk dibalas.
Setelah layar ponselnya menggelap sempurna, ia pun melangkah ke luar dari kamar dan hendak menghampiri Zoeya. Sudah beberapa hari ini Zoeya sering mengurung diri di dalam sana, bahkan untuk makan pun ia lupa begitu juga dengan nasib perkuliahannya.
Ia seakan kehilangan semangat hidup. Ia yang selalu ceria dan menebar tawa kini terlihat rapuh dan menyedihkan, matanya membengkak dan wajahnya tak terurus. Untung saja Mamanya tidak di rumah, sudah beberapa hari juga wanita paruh baya itu pamit ke Bandung untuk urusan pribadi yang tidak ingin ia beritahu pada Zoeya dan apalagi pada Shanum.
Shanum dan Zoeya hanya berpesan agar wanita itu hati-hati dijalan dan menjaga kesehatannya sebelum ia berangkat.
Shanum yang sudah tahu alasan kesedihan Zoeya itu tidak patah arang memberikan semangat serta nasihat agar meninggalkan kesedihan. ‘Laa tahzan, Innallaha ma’ana. Janganlah bersedih, Allah bersamamu.’ Kata Shanum menenangkan.
__ADS_1
Setelah beberapa kali mengetuk namun tidak ada tanggapan dari dalam, gadis ini pun meminta izin untuk langsung masuk. ‘Aku masuk ya, Oya!’ Setelah menutup pintu di belakangnya, ia pun menatap sendu sosok Zoeya yang duduk menghadap keluar jendela, memandang ke arah megah gelapnya langit yang kebetulan malam ini terlihat sederhana karena hanya ada beberapa bintang yang berpijar indah namun tidak menutupi cahayanya.
Pandangan Zoeya lurus namun kosong, tak ada seri di wajahnya. Shanum menghela nafas dan kembali mendekat ke arah gadis sebayanya itu, pakaian yang ia gunakan ke kampus tadi pun terlihat masih melekat di badannya tanpa diganti meskipun sudah selarut ini.
“Apa Oya enggak pantas buat jatuh cinta ya, Shan?” Ucap Zoeya yang belum mengalihkan pandangannya namun telah mengetahui keberadaan Shanum di belakangnya. Sedangkan Shanum masih menunggu kelanjutan dari apa yang ingin gadis ini sampaikan.
“Kenapa perjuangan Oya selama ini tidak dapat menjangkaunya. Oya selalu optimis bahwa suatu hari nanti Oya mampu meraihnya dan mendekapnya, tapi apakah Oya sebegitu tak pantasnya mendapatkan rasa yang sama. Mengapa hanya Oya?” Tambahnya lagi dengan suara yang mulai bergetar.
Shanum tahu kemana arah perkataan Zoeya ini. Ia pun memeluk Zoeya dari belakang berusaha meredamkan suara bergetar dari gadis yang tengah bersedih ini.
Gadis itu pun mulai terisak dan kini memutar wajahnya ke arah Shanum dan ia pun memegang kedua pundak sahabatnya itu. “Jawab Shan. Apa Oya nggak pantas buat Bang Ardan?”
“Bukan begitu. Oya nggak boleh terus berlarut dalam kesedihan ini. Kamu harus menata hati agar selalu ikhlas dan sabar menerima takdir yang diberikan oleh Dzat Yang Maha Pencipta. Kita nggak boleh terlalu berharap kepada manusia, karena kita bisa kecewa. Maka dari itu berharaplah kepada-Nya karena Dia lah sebaik-baiknya tempat berharap.” Ucap Shanum dengan lembut.
Zoeya pun menangis dan pegangannya dibahu Shanum kian mengetat. “Oya udah banyak berkorban agar dapat menghantarkan rasa yang sama pada Bang Ardan, Oya pernah denger pembicaraannya dengan Bang Thoriq bahwa ia menyukai wanita yang tidak feminim dan bisa menjaga diri sehingga Oya berpenampilan seperti ini, kemudian dia juga menyukai wanita ceria dan itu ada di diri Oya. Oya juga menjauhi semua lelaki yang mendekati Oya karena berharap Bang Ardan akan melihat ke arah Oya. Tapi apa? Semuanya percuma Shan! Percuma! Oya tidak mampu mencapainya.” Kata Zoeya yang mulai tertunduk.
“Sudah lah Oya, jangan hanya karena makhluk-Nya kamu meninggalkan-Nya. Kamu udah sholat isya belum?” Ucap Shanum yang dibalas gelengan sendu dari gadis sebayanya itu.
Shanum seakan kehilangan kata-kata untuk memberi pengertian dan membujuk Zoeya karena sudah beberapa hari ini Shanum menghiburnya namun itu tidak bisa menghilangkan kekecewaan Zoeya.
Zoeya sangat terpukul dengan keputusan Armadan, sahabat Abangnya yang telah mengkhitbah seorang wanita dan sebentar lagi akan menjadikan wanita itu istrinya. Wanita bercadar yang pernah Zoeya lihat di depan pagar rumahnya bersama Shanum ketika awal kedatangan Shanum di kehidupannya. Wanita yang sangat bertolak belakang dengan Zoeya dan membuat gadis ini merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan wanita itu.
Beberapa hari yang lalu ia mendapat pesan dari Thoriq bahwa Armadan akan mengkhitbah seseorang yang telah berta’aruf dengannya. Zoeya pun syok mendapat pesan tersebut dan tanpa pikir panjang langsung meninggalkan teman-temannya di kantin ketika itu.
Ia pun menemui Abangnya dan merengek ingin ikut menghadiri prosesi khitbah yang menyakitkan buatnya. Dengan syarat tidak akan membuat masalah dan mengacaukan acara Armadan, Thoriq pun membawa Zoeya malam itu. Dan lihatlah, setelah pulang dari acara tersebut Zoeya seakan lupa caranya tersenyum dan bahkan makan pun ia tak larat saking mendalami kesedihannya.
“Oya capek Shan gini terus, Oya ingin berubah. Tapi Oya nggak bisa mengenyahkan Bang Ardan di hati dan di pikiran Oya. Karena selama ini Bang Ardan adalah salah satu alasan Oya untuk bahagia tapi apa Shan. Oya kecewa. Apa selera Bang Ardan kini berubah? Oya mau kok kayak wanita itu pakai pakaian tertutup dan bercadar. Kalo itu akan membuat Bang Ardan bisa melirik Oya.” Ucap Zoeya lagi dengan berlinang air mata.
Maka cukuplah Allah sebagai tempat curahatan hati kita:
قَالَ إِنَّمَآ أَشۡكُواْ بَثِّى وَحُزۡنِىٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ
“Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.”(QS. Yusuf : 86)
وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ۬ فَلَا ڪَاشِفَ لَهُ ۥۤ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يَمۡسَسۡكَ بِخَيۡرٍ۬ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬
“Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, Maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, Maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (QS. Al-An’aam : 17)
Zoeya pun menghapus air matanya meskipun tidak mampu menghilangkan bengkak di kedua matanya. Genggaman di bahu Shanum pun terlepas dan ia mulai melangkah memasuki kamar mandi setelah memaksakan tersenyum pada Shanum.
Shanum pun menghela nafas lega kemudian membantu Zoeya merapikan kamarnya yang sekarang terlihat seperti kapal pecah.
***
Shanum memotret maketnya yang belum jadi dari berbagai sisi dan kemudian ia menggulung sket yang telah ia buat dan memasukkannya ke dalam ransel. Setelah mengunci pintu kamar, ia pun menghampiri Bi Ipah di meja makan, di sana telah duduk Zoeya dengan tampilan yang segar dan rapi tidak seperti beberapa hari yang lalu.
Zoeya yang tengah asyik mengotak-atik poselnya kini tersenyum ke arah Shanum, wajahnya terlihat lebih berseri meskipun masih terlihat membengkak dibagian matanya.
Setelah menyelesaikan sarapan, mereka berdua pun menuju mobil yang telah disiapkan untuk mengantar mereka. Di dalam mobil Zoeya menyerahkan beberapa lembar kertas ke arah Shanum. “Oya, ini apa?” Tanya Shanum heran.
__ADS_1
Zoeya pun tersenyum serta meminta Shanum untuk melihatnya sendiri. Shanum yang penasaran itu pun perlahan memperhatikan beberapa lembar di pangkuannya. Sesaat kemudian, “MasyaAllah. Oya, ini cantik sekali. Kamu yang ngedesain ya?” Kata Shanum yang masih betah memandangi kertas tersebut.
“Yaiya lah Shan. Masa Bang Riqhad yang ngedesain apalagi Bang Thoriq. Gimana menurut kamu? Bagus nggak?” Tanya Zoeya meminta pendapat.
“Bagus banget. Pinter banget kamu bikin gambarnya.” Ucap Shanum yang telah mengembalikan kertas itu pada Zoeya.
“Makasih Shan. Kamu bisa aja, kamu loh orang pertama yang ngeliat hasil karya aku. Dan aku dapat inspirasi juga dari kamu.” Kata Zoeya.
“Dari aku? Kok bisa?” Tanya Shanum heran.
“Ya, aku ngeliat dari semua pakaian yang kamu pakai selama ini yang gitu-gitu aja jadi aku bikin kayak gini deh. Dengan beberapa inovasi aneh dariku.” Ucap Zoeya dengan semangatnya. Bahkan tak terlihat lagi sisa kesedihannya kemarin.
“Beberapa bulan lagi kami ada ujian kompetensi buat merancang dua mode pakaian dan yang terpilih akan ditampilkan pada acara tahunan Kampus. Jadi aku rencananya mau buat yang kayak gini.” Terang Zoeya sambil menggerakkan kertas ditangannya.
“Semoga sukses ya.” Ucap Shanum memberi semangat.
“Terima kasih Shan. Kamu juga semangat ya ngerjain tugas dari Bang Riqhad itu.” Ucap Zoeya yang memang sudah tahu bahwa Shanum dibebankan tugas dari Abangnya.
Ia juga heran mengapa Abangnya hanya membebankan Shanum untuk tugas tersebut bahkan Zoeya sering mendengar pembicaraan mahasiswa abangnya yang membicarakan soal mahasiswi yang sering dikerjain dan ditindas oleh Abangnya yang terkenal killer itu.
Zoeya juga sempat tanya-tanya kepada mereka. Setelah mengetahui bahwa mahasiswi itu adalah Shanum entah mengapa Zoeya sedikit tenang dan senang, seakan itu adalah bentuk perhatian Abangnya kepada Shanum. Anehkan.
“Iya. Kita sama-sama semangat ya untuk meraih masa depan.” Balas Shanum dengan gaya optimisnya bahkan mengepalkan tangannya seakan berkobar semangat empat lima. Dan terlihat begitu menggemaskan sehingga memancing tawa Zoeya.
Zoeya pun menghentikan tawanya kemudian tersenyum dan menggenggam tangan Shanum yang dibalut handshock jempol.
“Terima kasih juga telah menemani Oya, berada di samping Oya ketika Mama tidak di sini dan kedua Abang yang sibuk urusan sendiri-sendiri. Terima kasih tidak bosan-bosannya menasehati dan menghibur Oya ketika Oya kecewa pada sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang Oya inginkan. Oya akan mencoba menata hati dan memperbaiki diri supaya Allah mengirimkan pangeran terbaik dihidup Oya. Oya tidak mau lagi bertindak bodoh dengan menyiksa diri gara-gara pria tua itu.” Ucap Zoeya yang kembali tertawa bahagia setelah melontarkan kata-kata terakhirnya ‘pria tua’.
Terdengar lucu ia menyebut pria yang ia kagumi selama ini dengan istilah itu. Shanum juga ikut tertawa senang melihat perubahan Zoeya hari ini. Zoeya memang lebih cocok ceria seperti ini dibandingkan semalam dan kemarin-kemarin. Batin Shanum
“Makasih kembali Oya, Shanum menasehati Oya bukan berarti Shanum udah benar ya. Itu juga sebagai sentilan untuk diri Shanum juga.” Kata gadis berkerudung ini.
Shanum pun memandang ke depan dan tanpa sengaja matanya bertemu dengan mata Pak Udin di spion depan. Pak Udin yang hanya tahu anak majikannya itu beberapa hari belakangan terlihat murung kini mengarahkan jempolnya ke arah Shanum dan Shanum pun mengangguk tersenyum.
"Nak Shanum memang pembawa cahaya di kehidupan keluarga ini. Semoga saja dia dapat terus bahagia dan mendapatkan banyak cinta. Jangan hanya bisa membahagiakan orang lain." Batin pria paruh baya itu.
Aksi mereka berdua untungnya tidak diketahui Zoeya karena mata gadis itu tengah serius memandangi jendela mobil di sampingnya dengan tersenyum aneh.
Hanphone Shanum bergetar dan kini di aplikasi WhatsApp-nya terdapat satu pesan yang belum ia baca.
Pak Dosen Singa
Setelah kelas pertama selesai temui saya di ruangan. Bawa apa yang perlu di bawa. Jangan telat! ✔✔
Baik, Pak.
‘Pak Dosen Singa’ itulah nama yang diberikan Shanum untuk Riqhad di ponselnya. Bukannya meringankan bebannya dengan bertukar dua belas digit angka milik ponsel mereka masing-masing. Namun ini namanya jalan untuk memudahkan Riqhad menyiksanya kapan saja.
Menyesal rasanya karena memberikan nomor ponselnya pada Riqhad ketika membahas mengenai tugas maketnya beberapa hari yang lalu. Hanya gara-gara kalimat lembut Riqhad yang mengatakan 'Kalau ada yang sulit kamu bisa tanya saya.' Ya itu tanya-tanya via ponsel.
__ADS_1
Bukannya Shanum yang bertanya masalah kesulitan dari tugasnya. Malah si dosen itu yang meributkannya dengan pertanyaan mengenai tugas yang diberikannya dan ditambah pula ia sering menyuruh-nyuruh Shanum melalui ponsel.
Beberapa saat kemudian mobil yang membawa mereka pun telah mencapai gedung kampus.