
PART 46 - ALHAMDULILLAH GO PUBLIC
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 21)
_________________________________________
"Assalamu'alaikum. Boleh kami bertamu?"
"Wa'alaikumsalam, boleh banget. Silakan masuk!"
Riqhad pun menuntun beberapa orang itu menuju ruang tamu di rumahnya. Ruangan bergaya minimalis dengan nuansa sejuk karena dipenuhi beragam tumbuhan hidup di dalamnya.
"Apa kabar Mas Riqhad? Maaf udah jadi tamu dadakan hari ini." Ucap salah satu dari mereka.
"Alhamdulillah baik, Ustadz. Ustadz apa kabar? Udah lama nggak ketemu sejak yang terakhir itu. Dan Maaf atas ucapan saya waktu itu ya."
Seseorang yang dipanggil Ustadz oleh Riqhad itu pun mengangguk seraya menjawab, "alhamdulillah, baik juga. Saya maklumi Mas, cemburu itu hal biasa malah dianjurkan."
"Iya Tadz, saya sering banget cemburu ngga jelas sama Shanum. Ngomong-ngomong, kok Pak Ustadz tahu alamat rumah saya ini?" Ucap Riqhad yang dihadiahi ledekan dari dua orang tamu lainnya.
"Kebetulan saya memberi tausiyah di masjid sekitar sini ditemani istri. Ketika di jalan tadi, kami lihat Mas Riqhad sedang menuju ke rumah ini. Yah, karena udah lama nggak ketemu kita ke sini aja. Ngga kapa-apa kan Mas?"
"Nggak apa-apa dong Tadz, kita juga senang dikunjungi Pak Ustadz begini." Balas Riqhad.
"Dan kalian berdua, dalam rangka apa ikut-ikutan jadi tamu?" Riqhad memindahkan pandangannya pada dua orang di depannya.
"Kok Abang ngomong gitu sih sama tamu kita?" Shanum datang dengan membawa beberapa cemilan dan minuman segar.
"Assalamu'alaikum Ustadz Dzaki dan Teh Kintan, Mas Azhar dan Sarah juga. Maaf atas ucapan Bang Riqhad yang kadang nggak enak didengar." Sapa Shanum pada tamu-tamunya setelah menaruh minuman dan beberapa makanan ringan di atas meja tamu.
"Wa'alaikumussalam." Jawab mereka serentak.
"Kamu gemukan dik Shanum, udah isi ya?" Tanya wanita di samping Ustadz Dzaki.
"Iya teh Kintan, Alhamdulillah. Udah ada isinya, gara-gara Bang Riqhad tuh." Ucap Shanum dengan polos.
Mereka pun tertawa mendengar jawaban itu, sedangkan Riqhad hanya menggelengkan kepalanya karena jawab ajaib Shanum.
Kemudian, Shanum teringat masakannya yang sepertinya sudah mulai dingin di meja makan. Dengan riang ia pun mengajak keempat tamunya menyantap hasil eksperimennya.
Meskipun beberapa kali menolak karena tak ingin merepotkan Shanum dan Riqhad dengan menyuguhkan mereka hidangan. Akhirnya keempat tamu ini pun menerima tawaran Shanum karena kata Riqhad, Shanum telah memasak banyak makanan.
Setelah membaca do'a masing-masing dan mulai menyantap menu makanan ini. Tanpa diduga, Riqhad menghela nafas lega sambil mengusap dadanya. "Alhamdulillah, terimakasih ya Allah... Engkau kirimkan keempat orang ini untuk menyelamatkan hamba dari permintaan Shanum yang hendak ke rumah Mama." Batinnya.
Setelah menyelesaikan makan mereka, Shanum, Sarah dan Kintan membereskan meja makan sedangkan ketiga pria itu memilih berada di halaman belakang sambil ngopi.
Riqhad menceritakan mengenai acara walimahnya besok dan menyerahkan sepotong undangan untuk Ustadz Dzaki dan keluarga. Sedangkan Azhar dan Sarah memang dari awal telah mengetahui rencana keluarga Riqhad yang ingin memberikan kejutan untuk Shanum.
"Alhamdulillah Mas Riqhad, lebih cepat lebih baik. Maaf sebelumnya, bukan maksudnya ingin mencampuri urusan pribadi Mas ya. Apakah Mas Riqhad tidak melibatkan keluarga Shanum dalam hal ini?" Tanya Ustadz Dzaki dengan hati-hati.
Riqhad menyambut baik pertanyaan tersebut. "Shanum adalah yatim piatu dan tidak memiliki saudara, dia anak tunggal Tadz. Tapi, dia memiliki paman yang seayah dengan ibunya. Sedangkan antara keluarga kami dengan paman Shanum tersebut sedang ada masalah hingga tidak bisa melibatkan mereka."
"Oh begitu, semoga masalahnya cepat terselesaikan ya... Mas Riqhad pernah mengunjungi makamnya orang tua Shanum?" Tanya Ustadz Dzaki lagi.
Riqhad terdiam.
"Belum Tadz, Shanum nggak pernah menyampaikan keinginannya ke sana. Meskipun saya sangat ingin mengunjungi makam mertua saya, tapi saya takut menawari terlebih dahulu, takut Shanum sedih."
"Mas, dia adalah istrimu dan kamu harus berinisiatif terlebih dahulu. Ia tak menyampaikannya bukan berarti dia tak ingin, terkadang wanita ingin dimengerti tanpa mengatakannya langsung. Kita sebagai pria lah yang dituntut untuk selalu memahami. Saran saya, ziarahlah ke makan orang tua Shanum, ia pasti merindukan mereka." Terang Ustadz Dzaki tanpa menggurui Riqhad.
Pak Ustadz dan istri pun pamit, meninggalkan Shanum, Riqhad dan pasangan suami istri lainnya. Riqhad menjadi lebih pendiam sambil memikirkan ucapan Ustadz Dzaki tadi.
Ia tahu bahwa Shanum adalah wanita yang kuat, tegar, sabar dan sangat pandai menyembunyikan perasaannya. Berada ditengah keluarga Riqhad yang sangat menyayanginya Riqhad pikir itu sudah cukup, tapi pasti pernah terbersit kesedihan dan kerinduan pada orang tuanya.
"Kalian nggak pulang?" Tanya Riqhad akhirnya pada Azhar yang masih asyik menghabiskan cemilan.
"Kok ngusir?" Jawab Azhar dengan tak terima.
"Terserah dong, kan hak pemilik rumah." Ucap Riqhad dengan sombongnya.
"Bang Riqhad kenapa sih, kesal terus kalau sama Mas Azhar?" Ucap Shanum sambil berlalu lagi ke belakang setelah mengisi setoples cemilan yang kosong.
"Jangan bilang loe masih marah sama kita yang udah ngerjain loe?" Tuduh Azhar.
Riqhad hanya diam tanpa memandangi Azhar. "Ya ampun Riqh, loe kayak anak kecil deh. Masa gitu aja dimasukin ke hati?"
"Jangan-jangan, loe juga pernah cemburu sama Ustadz Dzaki?" Tuduh Azhar lagi.
"Iya Yang. Kata Shanum, Bang Riqhad pernah bentak Ustadz Dzaki sambil marah dan nuduh Shanum selingkuh sama Ustadz Dzaki." Jawab Sarah yang muncul duluan dari belakang.
Sarah telah mendengar ceritanya dari Shanum. Itu terdengar sangat lucu dan romantis, ternyata Abang sepupunya begitu mencintai Shanum.
"Ck..ck..ck. Ternyata Riqhad yang gue kenal bisa cemburu juga ya? Pas loe pacaran sama Fhariza aja loe nggak pernah cemburu sedikit pun, tahu cemburu itu apa aja enggak. Alhamdulillah, loe tahu arti cemburu disaat yang tepat." Ucap Azhar sambil tersenyum bangga.
"Jangan ungkit-ungkit cerita lama lah." Kesal Riqhad.
"Iya deh iya. Tapi, Shanum pernah cemburu nggak sih sama loe?" Tanya Azhar penasaran.
Riqhad terdiam, patut dipertanyakan ini. Masa hanya Riqhad yang merasakan cemburu dan Shanum tak pernah menunjukkannya.
"Dari kediaman loe gini, gue simpulin bahwa Shanum sama sekali ngga pernah cemburuin loe. Gue turut prihatin, jangan-jangan Shanum ngga terlalu cinta sama loe. Nggak sebesar cinta loe ke dia."
Azhar memasang wajah menyebalkan dan menyebabkan Riqhad menjadi muak melihatnya. "Ngeledekin gue mulu nih orang." Batin Riqhad kesal.
"Gue ngga peduli dia mau cemburu ke gue atau enggak. Yang penting, gue tahu gue cinta sama dia dan dia satu-satunya. Ngga ada yang lain." Jawab Riqhad dengan menepis prasangka akibat tebakan Azhar.
"Iya deh iya. Pak Riqhad si 'pria setia.' Gue salut sama loe, loe udah berubah Bro." Ucap Azhar dengan pasrah karena gagal mengusili Riqhad dan membuat Riqhad kesal.
"Lagi bahas apa ini? Kok kayaknya seru?" Ucap Shanum. Ia pun duduk di samping suaminya.
"Lagi bahas masalah cemburu." Jawab Sarah dengan cekikikan.
"Aku juga mau ikut dengar dong." Pinta Shanum.
"Lain kali aja ya, Shan. Hari udah sore banget ini. Kami mau pulang, nanti-nanti kita kumpul lagi." Ucap Azhar.
Malam harinya
__ADS_1
"Shan, Abang boleh nanya ngga?" Riqhad membenarkan posisinya. Ia merentangkan lengannya serta menaruh lembut kepala Shanum di sana.
"Nanya apa Bang?" Ucap Shanum setelah mendapatkan posisi ternyaman.
"Shanum cinta nggak sama Abang?" Lirih Riqhad yang terdengar begitu dekat ditelinga Shanum.
"Kok nanya gitu, Bang? Abang meragukan Shanum?" Shanum langsung menoleh ke arah Riqhad. Kaget dengan pertanyaan tiba-tiba dari suaminya.
"Nggak, sayang. Abang cuma mau denger dari mulut kamu langsung." Riqhad memindahkan beberapa helai rambut Shanum yang mengenai wajah tembemnya.
"Abang nih, ada-ada aja. Kayak anak sekolahan yang cemas sama perasaan pacarnya." Shanum tertawa lepas mendengar ucapan spontan dari Riqhad.
"Iya, Abang mau pastiin lagi, pacar halal Abang cinta nggak sama Abang. Ayo ngomong!" Riqhad mendengus seraya menyentil hidung mungil istrinya.
"Bismillahirrahmanirrahim... Arrhiqad Okhtara, pria yang pernah jadi dosennya Shanum. Sejak Abang melafalkan Cinta untuk SHANUM, mulai saat itulah rasa cinta Shanum telah bermekaran hanya untuk Abang." Aku Shanum dengan menatap dalam mata menenangkan milik Riqhad.
"Abang, Shanum senang ketika mengetahui bahwa lelaki pertama yang Shanum sukai adalah Abang. Arri, Lelaki pertama dan Terakhir dihati Shanum." Tambahnya lagi dengan malu-malu.
Riqhad **** senyum dan langsung mendekap Shanum erat dengan memberikan banyak kecupan di pucuk kepalanya. "Terimakasih telah hadir dihidupku, terimakasih telah menjadi belahan jiwaku, terimakasih telah menyayangi dan mencintaiku."
"Shanum ataupun Elsha. Abang terlebih dahulu mencintaimu, semoga cinta kita dapat membawa kita ke jannah-Nya." Riqhad pun menyatukan kening mereka.
"Aamiin." Shanum mengamini ucapan suaminya.
Beberapa saat kemudian Riqhad kembali bertanya, "Shan, apakah kamu merindukan orangtuamu?" Riqhad teringat ucapan Ustadz Dzaki padanya tadi.
Terlihat ekspresi Shanum yang mulai berubah. Tercetak raut sendu di pahatan wajahnya.
"Jangan sedih sayang. Abang pun ingin menemui mereka. Jadi, bolehkah Abang ikut mengunjungi makam ibu dan ayah mertuanya Abang?"
"Tapi jauh Bang, semuanya di Singapura dan Shanum udah lama nggak ke sana." Jawab Shanum dengan suara yang melemah.
"Nggak apa-apa, kita akan ke sana bersama. Abang ingin tahu bagaimanakah tempat bidadari Abang ini menjalani masa remajanya."
"Benarkah? Shanum mau banget ke sana, Bang. Terimakasih, suamiku. Shanum sayang Abang." Shanum pun balas memeluk Riqhad dengan erat dan menyembunyikan wajahnya di dada suaminya. Nyaman.
Keesokan harinya
Setelah sholat subuh, Riqhad menelepon keluarganya dan katanya Zoeya telah mengirimkan seseorang yang akan merias Shanum. Pakaian yang akan digunakan Shanum juga akan diantarkan ke sini.
"Abang, bell bunyi. Siapa yang bertamu pagi-pagi gini ya? Bisa tolong bukain! Shanum lagi ngga pakai kerudung ini." Ucap Shanum yang sedang menemani Riqhad menonton televisi di ruang keluarga.
Sepulang dari jogging mengelilingi kompleks, mereka memilih menghabiskan pagi minggu di depan televisi saja sebelum membersihkan diri.
"Siap, sayang." Riqhad bergegas menuju pintu.
Ceklek
"Silakan masuk Mbak!" Ucap Riqhad menyambut siapa yang datang.
"Siapa Bang?" Tanya Shanum saat Riqhad kembali ke ruang keluarga.
"Itu, ada Mbak Delia dan satunya lagi Ayu. Mereka akan merias kamu. Hari ini kamu ikut Abang ya ke acara penting." Riqhad menyebutkan siapa yang datang seraya menjelaskan alasan mereka ada di sini. Delia dan Ayu sekarang masih berada di ruang tamu.
"Kok dadakan? Kenapa nggak bilang dari kemarin, kan Shanum nggak tahu mau pakai gaun apa, Bang?" Ucap Shanum dengan memelas.
"Beneran Bang, Shanum harus ikut? Nggak apa-apa emang? Nanti kita digosipi gimana?" Ucap Shanum cemas.
"Nggak boleh nolak dan mikir kejauhan. Sekarang, kamu mandi! Setelah itu mereka akan membantumu bersiap karena acaranya jam 10. Sana cepat! Mau Abang yang mandiin kamu?"
"Ish Abang suka goda-goda. Oke, Shanum mandi dan Abang jangan ngintip!" Shanum pun berlalu menuju kamar.
Beberapa saat kemudian
"Beneran Mbak, Shanum harus pakai gaun ini? Kok kayak baju pengantin sih?" Tanya Shanum.
Heran melihat gaun yang disiapkan oleh Riqhad, apakah ini benar untuknya? Nggak salah?
"Iya Mbak Shanum, nggak apa-apa kok. Modelnya emang kayak baju pengantin tapi ini memang khusus buat Mbak kok."
Setelah sedikit berdebat, mereka pun membantu Shanum bersiap.
"Sudah siap, cantik banget Mbak! Sekarang yang terakhir, kita ganti kerudung."
"Tunggu-tunggu. Shanum nggak mau pakai kerudung yang banyak lilitan dan penitinya. Tetap yang sesuai syari'at." Tolak Shanum.
"Iya Mbak, tenang saja. Gaun ini satu set dengan kerudungnya dan temanya memang syar'i sesuai banget dengan Mbak Shanum." Shanum mengangguk senang.
Ceklek
"Udah siap?" Tanya Riqhad dibalik pintu.
Deg
Menyaksikan gambaran Shanum di depannya, ia kembali terpesona untuk kesekian kalinya. Shanum tak berhias pun telah begitu indah apalagi begini. Masha Allah, cantiknya ciptaanmu ya Allah. Terimakasih telah menjadikan dia jodohku. Batinnya.
"Udah Mas, Mbaknya cantik banget!" Jawab Ayu kagum.
"Ehem, ok. Terimakasih ya atas bantuannya, sangat memuaskan." Ucap Riqhad.
"Sama-sama Mas, kalau begitu kami pamit. Semoga sukses!" Riqhad pun mengantar mereka turun.
"Kamu cantik buat Abang semakin tertarik." Puji Riqhad saat setelah kembali ke kamar mereka lagi.
"Makasih Abang atas pujiannya, jadi kita mau kemana kok Shanum didandanin berlebihan. Kita bukan menghadiri kontes pakaian pengantin kan, Bang?" Ucap Shanum sambil memandangi dirinya di cermin. Shanum menyukai Make-up natural di wajahnya.
Riqhad terkekeh mendengar itu.
"Nanti kamu akan tahu. Sekarang ayo kita berangkat!" Ajak Riqhad dengan menggenggam tangan Shanum.
Beberapa saat telah membelah jalanan, saat hampir mencapai kompleks rumah Mamanya, Riqhad menghentikan mobilnya.
Riqhad mengeluarkan selembar kain yang Shanum ketahui adalah cadar. Ia mengikat lembut kain itu di wajah istrinya. "Kecantikanmu hanya untukku, Humairahku." Bisik Riqhad setelah mengikat cadar berwarna senada dengan gaun Shanum.
Dengan tak banyak bicara lagi Shanum tersipu seraya mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca mengikuti perkataan Riqhad.
"Ini suprise, sayang. Abang minta izin buat nutupin mata kamu ya? Bentar aja kok." Bisik Riqhad setelahnya.
Kemudian, Riqhad memasuki pekarangan rumah keluarganya yang telah dipenuhi berbagai karangan bunga dengan ucapan selamat, puluhan mobil pun telah berjajaran di sini. Acaranya memang dimulai jam 10, dan sekarang saja mereka telah telat sekitar lima belas menit.
__ADS_1
Riqhad menuntun Shanum turun dari mobil. Lalu beberapa orang datang dan membantu memarkirkan mobil Riqhad dan seorang lainnya membantu mengangkat gaun Shanum yang sedikit menyapu lantai.
"Abang, ngapain Shanum diginiin?" Ucap Shanum bingung dengan masih dituntun berjalan dengan kedua matanya yang telah ditutupi kain hitam oleh Riqhad.
"Tahan ya, sayang. Bentar lagi kita nyampe." Bisik Riqhad.
Setelah berjalan dan beberapa kali menaiki sesuatu yang seperti tangga. Riqhad mendudukan Shanum dengan lembut, namun penutup matanya juga belum dilepas.
Beberapa saat kemudian, Shanum merasa Riqhad tidak ada lagi di sampingnya. Kemanakah sumaminya ini? Kenapa meninggalkan Shanum dengan beragam dugaan dipikirannya?
Tak berselang lama, penutup mata Shanum pun dilepas oleh seseorang. Shanum agak kesusahan membuka matanya, setelah beberapa kali berkedip sambil menetralkan cahaya yang masuk ke irisnya. Shanum dikagetkan dengan penampakan di sekelilingnya. Ramai sekali.
Hal pertama yang ia lihat adalah sosok suaminya yang telah berganti pakaian. Sekarang setelan tuxedo senada dengan gaunnya telah terpasang rapi ditubuh Riqhad. Riqhad tersenyum di depan Shanum dan kemudian mengambil posisi di atas panggung.
"Assalamu'alaikum Adik Ipar. Selamat datang diacara kita bersama." Sapa Thoriq dan Syafiqa yang berada tak jauh dari Shanum. Syafiqa pun mengangguk dan tersenyum ke arah Shanum yang hari ini menggunakan cadar.
Setelah menjawab salam tersebut, Shanum masih terdiam sambil mencerna apa yang sebenarnya terjadi di sini. Tanpa sadar ia mengelus cadar yang diberikan suaminya dengan hati yang bergemuruh tak karuan.
"Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh..."
"Selamat pagi semuanya. Terimakasih telah menyempatkan hadir diacara kami. Sebelumnya, saya ucapkan terimakasih untuk istri saya yang telah bersedia menjadikan saya tamu yang menetap di hatinya, terimakasih telah menyambut tangan saya hingga jalan beriringan dan bersedia berdiri disamping saya sebagai bidadari saya. Terimakasih telah menjadi makmum saya, hadir hingga hantarkan kebahagiaan dan cahaya untuk saya. Bersamanya syurga terasa begitu dekat dengan saya, semoga kami selalu dilimpahkan kebahagiaan kedepannya terlebih lagi kini telah hadir buah cinta kami di rahimnya."
Hadirin yang hadir menatap Riqhad takjup dan terharu akan kata-katanya. Sebagian lagi ada yang masih bingung dengan ucapan Riqhad.
"Shanum, maaf telah mengagetkanmu dengan acara hari ini. Ini semua dipersiapkan memang tanpa sepengetahuanmu, namun ini kami persembahkan untukmu. Selamat datang diacara peresmian pernikahan kita. Semoga kamu menyukainya dan bersedia menambah volume cintamu untukku, wahai humairahku."
Hadirin pun menyoraki Riqhad, terlebih lagi banyak yang baper mendengar kata-katanya itu. Contohnya saja para kumpulan jomblo yang hadir seperti Aufar, Nabil, Naina, Devia dan Adiknya sendiri, Zoeya.
"Kemudian, Mama... terimakasih telah melahirkanku dan menyayangiku hingga menjadi perantara untuk menyatukan Shanum denganku. Aku menyayangimu. Terimakasih juga untuk Abang, Adik, saudaraku, keluarga semua dan sahabatku yang telah mengisi hidupku. Untuk Abang dan Kak Syafiqa, selamat atas pernikahan kalian. Semoga selalu bahagia."
Mama Hasna menatap putranya dengan bangga hingga tersenyum haru. "Terimakasih ya Allah, atas limpahan RahmatMu pada keluargaku." Batinnya.
Setelah mengungkapkan isi hatinya dengan panjang lebar, Riqhad menghampiri Mamanya dan menuntun wanita paruh baya itu untuk duduk di tengah-tengah singgasana pengantin mereka, ia pun mencium tangan dan pipi Mamanya dengan hormat.
Kemudian, Riqhad berjalan dan berpindah posisi di samping Shanum. Ia menggenggam tangan Shanum dan mengecupnya lembut. Shanum terharu sampai-sampai ia meneteskan air mata.
"Terimakasih Abang telah menjadi imam terbaik. Shanum sangat bersyukur." Lirihnya sambil mencium tangan Riqhad dengan khidmat.
Riqhad mengangkat wajah Shanum dan menyeka air mata bahagianya. Mereka pun tersenyum sambil berpandangan dalam sebelum instruksi dari panggung mengalihkan perhatian keduanya.
"Test... test...!" Ucap pembawa acara.
"Assalamu'alaikum... Selamat pagi menjelang siang semuanya. Terimakasih telah hadir di acara ini. Sebelumnya izinkan saya menyapa kedua pasangan yang sedang berbahagia di sana! Di singgasana sebelah kanan adalah Atthoriq Okhtara dan istrinya, Syafiqa Haris Ashani. Di singgasana yang satunya lagi adalah Arrhiqad Okhtara dan istrinya, Elshanum Shaquena. Di tengah-tengah mereka adalah Ibunda Ratu kita, Ibu Hasna. Hehe. Mari kita ucapkan selamat untuk mereka semua dan mendoakan agar pernikahan mereka bahagia dunia dan akhirat."
"Baiklah, sebelum melanjutkan acara kita hari ini. Mari kita saksikan tayangan ulang akad nikah dari kedua pasangan hari ini. Selamat menyaksikan!"
Layar monitor pun serentak menayangkan acara syakral dari kedua pasangan tersebut. Para tamu yang hadir terlihat serius menyaksikannya dengan beragam ekspresi. Ada yang kaget, penasaran, terharu, baper, iri, senang dan ada juga yang kurang suka. Itu adalah hal biasa mengingat siapa Riqhad dan Thoriq.
Setelah rangkaian acara dilewati, dan hidangan pun telah banyak yang lenyap. Kini para tamu undangan bergantian mengucapkan selamat pada mempelai. Banyak yang kaget melihat perubahan Shanum yang hari ini menggunakan cadar, tak terkecuali sahabat serta keluarga lainnya. Mereka pun mendoakan agar Shanum istiqomah.
"Masha Allah, Shanum pake cadar! Semoga istiqomah ya!"
Dan kini, sampailah giliran Fhariza dan Gilan. Setelah Gilan dan Fhariza mengucapkan do'a untuk mereka dan sesi foto bersama juga telah mereka lewati. Ratu tak mau tinggal diam dengan meloncat-loncat untuk bersalaman dengan Om dan tantenya.
Setelah dari Thoriq dan Syafiqa, putri Gilan itu pun melebarkan senyumnya saat sampai di depan Riqhad dan Shanum.
"Selamat Om Ikat dan Ante Canum. Atu ceneng deh liat nte cantik dan Om anteng!" Ucap khasnya, ia masih belum biasa melafalkan huruf 'R'.
"Iya sayang. Makasih ya." Jawab Riqhad dan Shanum sambil bergantian menciumi Ratu.
"Kata Mommy, bental lagi Atu punya dedek. Teyus, dedeknya mana?" Ucap polos Ratu lagi.
"Dedeknya di sini, saying." Riqhad mengarahkan tangan mungil Ratu ke arah perut Shanum.
"Oh, gitu. Cepat kelual ya dek!" Ucap Ratu sebelum turut dan memberi ruang untuk tamu lainnya.
Di samping itu, tepatnya di hadapan Thoriq dan Syafiqa.
"Selamat, Bro!"
"Maaf Dan, gue..." Ucap Thoriq dipotong langsung oleh tepukan Armadan di bahunya.
"Kenapa minta maaf, biasa aja kali. Bukan jodoh gue itu namanya! Gue bersyukur Allah membuka kenyataan lebih cepat, kalo enggak... kita ngga tahu akan gimana nantinya." Balas Armadan degan nada tenang.
"Ibu, maafkan Risa ya!" Ucap Syafiqa dengan perasaan bersalah pada Ibunya Armadan.
"Nggak, Nak. Ibu yang minta maaf udah nahan kamu dan tidak mau mendengar penjelasanmu, ibu doakan semoga kalian bahagia." Jawab Ibu Armadan seraya memeluk Syafiqa dengan haru.
"Thoriq, jaga istrimu baik-baik ya! Jangan sampai hilang lagi!" Pesan ibu Armadan pada Thoriq.
"Iya, Bu pasti. Makasih ya udah dating." Jawab Thoriq dengan yakin.
"Kalian juga do'ain semoga si Armadan akan cepat menyusul. Biar ke undangan ngga bareng Ibunya." Goda Ibu Armadan pada anaknya sendiri.
"Siap Bu! Ntar kita bantuin nyari." Timpal Thoriq sambil menyikut sahabatnya itu.
Beberapa waktu berselang, para tamu pun sudah banyak yang telah meninggalkan acara. Namun, seseorang muncul dan membuat keluarga Okhtara menahan nafas karena tegang.
"Pak Hardean!" Ucap Thoriq.
"Om!" Lirih Riqhad dan yang lainnya.
Terlebih lagi Shanum, ia memucat karena bertemu dengan seseorang yang sangat ia takuti.
"Mau apa Anda ke sini?" Bentak Zoeya tiba-tiba.
"Saya tidak ada urusan dengan kamu, Anak kecil!" Ucap Hardean pada Zoeya yang menghalangi langkahnya.
"Zoeya, jangan ribut!" Cegah Aufar melihat Zoeya yang memerah karena marah. Aufar dan teman-temannya pun mengajak Zoeya menjauh.
"Pa, udah Pa. Jangan buat onar di sini!" Cegah Fhariza dengan cemas.
"Papa ingin menyelesaikan urusan Papa dengan mereka. Kamu tenang aja! Papa tidak akan membuat kamu malu."
Gilan pun menjauhkan istrinya dari mertuanya itu. Ia juga bingung mengapa bisa mertuanya hadir di sini. Riqhad memang memintanya memberikan undangan untuk Hardean tapi jawabannya waktu itu adalah 'tidak sudi hadir'.
Hardean mendekati Riqhad dan Shanum. Shanum menggenggam erat tangan Riqhad dan bersembunyi dibalik lengan suaminya.
"Saya minta maaf. Tolong maafkan kesalahan dan kejahatan saya terhadap kalian."
__ADS_1