A

A
TIGA PULUH


__ADS_3

PART 30 - SEMUA DATANG DARI-NYA


Sungguh seorang mukmin amat menakjubkan, segala urusannya amat baik baginya dan hal itu tidak terdapat kecuali hanya pada orang mukmin saja. Jika mendapat kesenangan, maka ia bersyukur, tentunya hal itu amat baik bagi dirinya. Jika mendapat kemalangan, maka ia bersabar, tentunya hal itu amat baik baginya.


(H.R. Muslim)


_________________________________________


Bandung


Setelah ijab qabul, pengantin wanita yang masih berada di kamarnya diminta untuk turun ke lantai bawah tempat berlangsungnya prosesi akad nikah. Si pengantin wanita tak menampakkan wajah bahagia tapi juga tak telihat guratan kesedihan, hanya ada aura kelegaan darinya.


Shanum dan Zoeya mendampingi Sarah, menuntunnya untuk menghampiri lelaki yang kini bergelar sebagai suaminya. Zoeya berada di sisi kanan Sarah dengan gaun berwarna biru langit kombinasi brokat, ia mengabaikan rasa risih demi kelancaran acara sepupunya ini. Zoeya dipaksa oleh Mamanya menggunakan kerudung dan pilihannya jatuh pada pashmina warna krem. Ia pun terlihat cantik dengan tatanan make up dari Winda and the team.


Di sebelah kiri Sarah ada Shanum dengan make up natural namun terlihat begitu cocok di wajahnya. Ia sebenarnya risih karena jarang menggunakan barang-barang tersebut, bahkan dapat dikatakan tidak pernah. Sebab, dikesehariannya Shanum hanya menggunakan bedak tabur. Sedangkam lipstik berwarna merekah tak pernah ia cicipi, ia hanya menggunakan pelembab bibir saja. Ketika dirias tadi, ia mengatakan ingin yang narural saja dan tidak banyak menggunakan polesan berwarna, seperti blush on dan kawan-kawannya. Ia tak ingin terlihat terlalu berlebihan dalam berpenampilan, sebab yang ada pada wanita adalah aurat dan sumber fitnah.


Rasulullah SAW bersabda: ”Hai sekalian manusia, laranglah istri-istrimu (termasuk anak-anak remaja perempuan yang mereka miliki) mengenakan dandanan seraya berjalan angkuh di dalam masjid. Sesungguhnya Bani Israil tidak akan dilaknati sehingga kaum perempuan mereka dandanan menyolok (berlebihan) dan berjalan di dalam masjid." (Diriwayatkan Ibnu Majah)


“Wanita itu aurat, apabila ia keluar (dari rumahnya) setan senantiasa mengintainya” (HR Tirmidzi, dinilai shahih oleh al-Albani)


Shanum juga menolak ketika Winda ingin memakaikannya bulu mata palsu dengan * bengeknya. Ketika Ummi Hasna mulai rewel akibat penolakan Shanum, Latiffa memberi saran agar Shanum menggunakan maskara saja sebab bulu mata Shanum sudah terlihat panjang, lentik dan cantik. Alisnya pun tak perlu dicukur dan dirapikan lagi sebab sudah begitu pas memesona.


Perlahan ketiganya turun, terlihat Mama Hasna dan keluarganya yang lain tersenyum kepada mereka. Sebagian ada juga yang terkejut melihat penampilan Zoeya yang biasanya tomboy, sebagian ada lagi terheran dan penasaran dengan sosok cantik lainnya di samping mempelai, yaitu Shanum.


Begitupun dengan seorang pria yang berada diantara khalayak ramai ini, berada di samping mempelai pria membuatnya leluasa memandangi sosok yang semakin mendekat ke arah mereka. Dari ketiga perempuan tersebut, matanya hanya tertuju kepada satu orang saja. Seperti terpenjara, iris gelapnya seakan tak ingin berpindah memandangi yang lain.


Ia kira gadis itu akan dirias habis-habisan seperti anggota keluarganya yang lain. Namun, tak sedikitpun ia kecewa memandangi wajah teduh yang dibaluti khimar warna abu muda tersebut. Wajah Ayu tanpa riasan berlebihan membuatnya tak berkutik lagi. Senyum gadis tersebut dapat menentramkan namun juga mendatangkan getaran lain dihatinya.


Ia masih saja mengabsen wajah si gadis, hingga irisnya dengan lancang berhenti di bibir mungil berwarna merah muda. Getaran dihati Riqhad tak menentu ketika orang yang dipandanginya telah berada satu meter dengannya.


Gadis itu membantu mempelai wanita mengatur posisi duduknya di samping mempelai pria. Kemudian ketika hendak bergeser ke arah samping, pandangan si gadis bertubrukan dengan iris gelapnya.


Degg....


Riqhad tersadar akan kelakuan tak beretikanya, bagaimana bisa ia mengagumi wajah biasa saja milik mahasiswinya itu. Bahkan si mempelai wanita yang menjadi Ratu paling cantik hari ini saja bisa Riqhad abaikan. Oh Tuhan, mengapa sosok Shanum bisa menarikku hingga selalu melihat ke arahnya. Aku tidak bisa begini terus, bisa-bisa aku jadi gila jika terus melafalkan pujianku akan apa yang ada pada dirinya. Batin Riqhad.


Berbeda dengan Riqhad, Shanum malah merasa aneh dipandangi oleh pria tersebut. Bukannya kepedean tapi memang Shanum menyadari ketika ia mulai menuruni anak tangga hingga menuju ke singgasana Sarah dan Suaminya ini, tatapan Pak Dosennya seakan menghujamnya.


Mengapa Pak Dosen itu memandanginya begitu, ataukah ia mengejek Shanum yang tak bisa berhias dan hanya tampil biasa saja. Oh ayo lah, mengapa juga Shanum harus peduli dengan penilaian orang lain terhadapnya.


Riqhad masih menelisik ekspresi Shanum yang berada beberapa jarak darinya hingga suara Omnya menyadarkannya untuk fokus dan mengamini doa yang diucapkan oleh Pak penghulu. Riqhad setengah malu akan pikirannya hingga ia mengikuti gerakan yang lainnya, menengadahkan tangan berdo'a untuk pasangan baru hari ini.


Setelah acara akad nikah dilaksanakan, kini banyak kolega mereka yang meninggalkan lokasi syakral tersebut namun banyak juga yang masih betah bertegur sapa dan membahas berbagai hal termasuk untuk acara walimahnya besok.


Di salah satu sudut ruangan, Shanum masih bingung dengan apa yang disaksikannya tadi, ia tak menyangka sosok yang menghalalkan Sarah bukanlah pria yang ditemuinya  di rumah Ummi Hasna.


Memang Allah adalah sebaik-baiknya perencana, bisa saja orang yang kita benci menjadi orang yang paling kita cinta dan bisa pula orang yang kita cinta menjadi seseorang yang begitu memusuhi kita. Kita takkan tahu hati seseorang, namun bagi Shanum apa yang dialami Sarah ini memang yang terbaik.


Shanum teringat firman Allah Ta’ala,


و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ


“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)


Shanum hanya tegak berdiri mengabsen satu per satu orang yang berada di kediaman Sarah, ia juga mengagumi dekorasi dari WO yang dipilih oleh keluarga Sarah.


“Assalamu’alaikum, Ukhty.” Ucap seseorang yang menyadarkan lamunan Shanum.


Shanum terkejut melihat mempelai pria menghampirinya, tak disangka orang yang menjadi sumber lamunan kebingungannya terlihat berada di depannya. Kok dia bisa disini? pengantin wanitanya kemana? Shanum membatin.


Ia lihat Sarah sedang berbicara serius dengan beberapa perempuan seusianya dan mungkin itu sahabatnya.

__ADS_1


Kembali Shanum menjawab salam dari suami Sarah, “Wa’alaikumussalam.”


“Apakah Ukhty masih ingat dengan Ana?” Tanya pria itu.


Shanum menoleh menghadap sumber suara dan mencermati pria di depannya sebentar. Ia seakan mengenal pria ini tapi di mana?


Melihat kebingungan Shanum membuat Azhar kikuk dan tersenyum kecil. “Afwan Akhi, Ana lupa. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” Tanya Shanum hati-hati.


Namun sebelum Azhar menjawab, Riqhad yang entah muncul dari mana mendahului suara Azhar. “Masa kamu lupa dengan dosen kamu sendiri. Jangan-jangan setelah ini kamu juga akan melupakan saya ya?”


Keduanya pun menoleh serempak ke arah Riqhad.


Riqhad nampak tampan dengan setelan jasnya, rambutnya pun begitu rapi serta berdiri gagah dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana dasarnya.


Shanum mengerjap dan menjawab, “maaf Pak, maksud Pak Riqhad apa ya? Shanum kurang paham, Shanum benar-benar ngga ingat sama Akhi ini.”


Riqhad seakan dejavu mendengar panggilan yang Shanum dan Azhar lontarkan. Kilasan balik saat di Changi Airport menghampirinya. Ia **** senyum membayangkan pertemuan pertamanya dengan gadis  ini. Pertemuan berjudul menyebalkan, mungkin.


Kemudian, Riqhad mendekati keduanya dan merangkul Azhar.


Mereka terlihat begitu akrab dimata Shanum. “Ana pernah menjadi asisten Mr. Edward, Ukhty masih ingat kan dengan kampus Ukhty sebelumnya?” Terang Azhar dengan hati-hati.


Shanum mematung dan mencari memori mengenai pria ini hingga ia menyadari bahwa Mr. Azhar pernah mengampu salah satu mata kuliah di kelasnya. Shanum pun menunduk malu dan berkata, “Astagfirullah, Ana ingat. Mr. Azhar yang waktu itu membantu Ana mendaftarkan beasiswa dan mengajar Ana di kelas. Afwan... Ana lupa.”


Azhar pun tersenyum simpul sedangkan Riqhad hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Heran dengan gadis di depannya yang sering lupa, tapi terlihat lucu ketika ia merasa bersalah dan malu-malu.


“Alhamdulillah masih ingat ternyata. Ngga nyangka kita ketemu di sini, Ana kira kita ngga bertemu lagi setelah Ukhty pindah ke Indonesia. Ana pernah cerita ke Riqhad tentang mahasiswi cerdas yang berhasil mendapat nilai terbaik dalam praktek pembuatan Maket dengan waktu tercepat sehingga ketika Ana menyebutkan nama Ukhty, pria ini malah terkejut, Ana bertanya-tanya mengapa ternyata sekarang mahasiswi itu berada di bawah bimbingannya.” Terang Azhar sambil menyikuti sahabatnya itu.


Riqhad hanya merengut ketika Azhar menyikut lengannya. Kenapa dirinya disangkutpautkan dalam obrolan sapaan antara Mantan Dosen-Mahasiswi.


Riqhad dan Azhar memang bersahabat sejak menempuh jenjang S2 mereka dengan jurusan yang sama. Azhar adalah keturuan Timur Tengah yang sangat religius.


Riqhad yang mendengar kalimat terakhir Shanum menjadi penasaran.


“Kesan terakhir yang bagaimana, kok Azhar ngga pernah cerita.” Batinnya.


Riqhad pun memperhatikan wajah sahabatnya dan menemukan guratan kekecewaan di sana. Riqhad bertambah bingung. Namun, belum sempat ia mengintrogasi ucapan dari Shanum. Shanum telah diseret Zoeya menjauh. Gadis itu malah tidak memperhatikan Abangnya dan Azhar yang sedang berada di dekat Shanum.


Zoeya mengangkat gaun yang menurutnya sangat ribet ini hingga ia berjalan sedikit berantakan. Ketika Aufar yang sedang berbincang serius dengan koleganya memperhatikan dua gadis tersebut, ia mengernyit melihat Zoeya mengangkat gaunnya dan menampakkan sneakers putih di bawah sana, bukannya high heels.


Aufar tersenyum kecil, sehingga koleganya itu bingung dan menepuk bahunya karena Aufar tidak fokus dengan apa yang mereka bicarakan.


Sedangkan Riqhad dan Azhar masih di tempat. Memperhatikan tingkah pongah Zoeya yang tidak sopan bahkan tidak menyapanya. Apalagi dengan tergesa ia menyeret Shanum tanpa permisi.


“Itu adik loe kan Riqh?” Tanya Azhar dan dibalas anggukan singkat Riqhad. Ketika dengan sahabatnya Riqhad dan Azhar terbiasa menggunakan panggilan elo-gue agar tidak kaku.


“Anak itu entah kapan berubahnya, nggak ada feminimnya lagi. Kadang gue heran kenapa dia bisa begitu.” Ucap Riqhad sambil menyesap minuman yang telah di sediakan di meja.


Sedangkan Azhar hanya menggenggam gelas minumannya.


“Sabar aja, Shanum juga gitu kok dulu. Gue aja sampai pangling melihat perubahannya.”


Riqhad yang mendengar itu pun menatap serius Azhar, sahabatnya ini terdengar sangat mengenal mahasiswinya bahkan sebelum gadis itu berhijrah seperti sekarang.


“Loe kayaknya sangat mengenal Shanum!” Tuduh Riqhad.


Azhar pun mengangguk membenarkan tuduhan Riqhad seraya berkata, “ya begitulah, bahkan sebelumnya gue pernah menyatakan niat gue untuk meminangnya. Tapi Allah berkata lain, hingga di sinilah gue sekarang.”


Deg


Riqhad terkejut mendengar pengakuan Azhar, mungkin saja kalimat terakhir yang Shanum ucapkan tadi adalah mengenai pernyataan Azhar ini.

__ADS_1


Ketika ingin menanyakan kembali, Azhar dipanggil oleh Sarah karena mereka akan melangsungkan sesi pengambilan gambar sehingga pamit meninggalkan Riqhad dengan rasa keterkejutan dan keingintahuannya.


“Apa maksudnya ini? Jangan bilang si Azhar yang udah jadi suami Sarah masih berharap sama Shanum.” Riqhad membatin.


Drrt... drrt.... (ponsel Riqhad bergetar)


Nama Zoeya lah yang muncul, Riqhad tak langsung menjawab. Namun ia menggeledah pandangan ke sudut ruangan dan tidak menemukan Adiknya itu, kemana mereka dan mengapa menghilang begitu cepat.


Setelah menggeser icon berwarna hijau, Riqhad menempatkan ponsel tersebut ditelinganya. Suara isakan menghampiri indera pendengar Riqhad. “Hallo, Oya... kamu kenapa nangis? Di mana kamu sekarang?” Tanya Riqhad dengan cemas.


Terdengar suara lirih Shanum menenangkan Zoeya, kemudian Riqhad meminta Zoeya menyerahkan ponsel kepada Shanum dan begitu mendengar salam dari Shanum Riqhad kembali memberondonginya dengan pertanyaan.


“Zoeya kenapa, Shan? Kalian di mana sekarang? Kenapa Zoeya nangis? Kamu juga kenapa nangis?” Tanyanya.


Riqhad menepi dan menghindari keramaian, bahkan banyak yang ingin menyapa namun ditolak Riqhad dengan ramah serta mengatakan ia sedang tak bisa diganggu.


“Hikks... hikks.... Pak, kita sekarang ada di Rumah Sakit Setya Insani. Ummi... hikks... Ummi Hasna tiba-tiba pingsan dan secara diam-diam dibawa ke sini agar tidak mengganggu acara di sana.”


Deggg...


Jantung Riqhad seakan berhenti. Tanpa berpikir panjang ia meninggalkan acara Sarah yang sebenarnya telah selesai dan meminta agar Shanum jangan panik serta menunggunya di sana.


“Siapa saja yang ada di sana?” Tanya Riqhad setelah memasuki mobilnya.


“Di sini ada Mas Thoriq, Zoeya, Ibuk Dewi dan Kak Latiffa. Pak Udin juga mau nyusul ke sini.. hikks....”


“Ya sudah kamu tenang dulu, jangan nangis. Nggak akan terjadi apa-apa sama Mama, jangan panik. Saya akan langsung ke sana. Tolong jaga Zoeya ya!” Ucap Riqhad dan langsung memutuskan panggilan secara sepihak.


“Arghhh... Mama! Mama sakit apa sih? Kenapa Riqhad ngga tahu apa-apa.” Teriaknya dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


***


Jakarta


Keesokan harinya, Gilan dibantu Fhariza dan sekretarisnya mengurus kepulangannya. Fhariza pagi-pagi sekali datang menyambangi Gilan secara diam-diam tanpa sepengetahuan Papanya. Ia merasa bersalah karena Papanyalah Gilan sampai celaka begini.


Setelah mengganti pakaian dan melepaskan perban di lengannya, Gilan hendak menelepon Mamanya karena sejak kemarin ia menonaktifkan ponselnya. Namun belum sempat ia mendial Nomor tersebut, Nomor mamanya terlebih dahulu muncul dilayar.


“Iya Ma...”


“Kamu di mana? Kenapa belum juga sampai. Ratu sejak kemarin nyari-nyari kamu, kamu ngga kasihan dengan anakmu itu?”


“Iya Ma, maaf Gilan kemarin kedatangan klien dari luar negeri dan terpaksa menemaninya. Jadi Gilan terhambat untuk berangkat ke sana. Tolong sampaikan ke Ratu kalau Gilan sebentar lagi akan menyusul ke sana.” Ucap Gilan yang terpaksa berbohong.


Fhariza hanya memperhatikannya sekilas dan ketika mendengar pria itu menyebutkan nama Ratu hati Fhariza menjadi nyeri dan menghangat sekaligus.


“Kamu mementingkan pekerjaan dibandingkan anak! Sudah Mama bilang kamu harus cari pendamping sehingga anakmu tidak kesepian. Kamu mau melajang terus hingga Ratu tumbuh dewasa nanti hah!” Teriak wanita paruh baya itu dibalik ponsel.


“Iya Ma, Gilan pasti akan mencarikan Mommy buat Ratu. Mama ngga usah khawatir dan meributkan terus.” Ucap Gilan kesal.


Entah mengapa Fhariza terlihat sedih ketika Gilan menyebutkan akan mencarikan Mommy buat Ratu, ia tidak rela anaknya memanggil wanita lain dengan panggilan yang seharusnya miliknya.


“Ya sudah, kamu cepat ke sini!” Ucap Mamanya.


Setelah menjawab salam, Gilan memasukkan ponselnya dalam saku celana.


“Aku bantu?” Tanya Fhariza hati-hati sambil mendekati Gilan. Namun Gilan menolak dan mengatakan dia tidak perlu bantuan, Fhariza hanya mengangguk dan mengikuti Gilan beserta sekretarisnya dari belakang.


Sampai di parkiran mereka berpisah, Gilan memperhatikan punggung lemah Fhariza yang semakin menjauh darinya. Ia terus memandangi wanita tersebut dengan pandangan yang sulit diartikan hingga sosok tersebut tak terlihat lagi.


“Langsung ke Bandung ya Gas!” Perintah Gilan pada Bagas, sekretarisnya.

__ADS_1


__ADS_2