
PART 6 – MAKAN MALAM
"Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusannya sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan jahat dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya terhadap kehormatan dirinya."
-Khalifah Ali bin Abi Talib-
________________________________________
Di dapur tengah terjadi pergulatan antara Bi Ipah dengan bahan masakannya. Bi Ipah sedang menyiapkan menu makan malam besar-besaran sesuai permintaan dari Nyonya besar, malam ini keluarga mereka akan berkumpul kecuali Zoeya yang berangkat ke Singapura.
Shanum yang sudah menyelesaikan sholat maghrib mendatangi dapur dan tersenyum menyaksikan keseriusan wanita paruh baya itu dalam mengolah bahan masakan. Shanum berinisiatif ingin membantu Bi Ipah yang terlihat kualahan menghandel semuanya.
Di rumah keluarga Okhtara ini memang memiliki 3 orang pembantu wanita termasuk Bi Ipah, namun 2 orang lainnya sedang tidak berada di sini karena memiliki halangan masing-masing. Bi Ratna sedang kembali ke kampungnya karena menghadiri acara pernikahan tetangganya yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri sedangkan Bi Cici sedang mengambil cuti lahiran. Di antara mereka bertiga, Bi Cicilah yang paling muda.
"Assalamu'alaikum Ibuk." Sapa Shanum.
"Wa'alaikumussalam Nyonya. Jangan panggil Ibuk ya, panggil Bibi saja." Jawab Bi Ipah pada gadis berkerudung lebar itu.
Shanum sekarang menggunakan pakaian syar'i yang sudah disiapkan oleh pemilik rumah, gamis berwarna navi dengan kerudung berwarna moca, sangat cocok dikulit putihnya.
"Aku bukan Nyonya di rumah ini. Jadi, panggil 'Shanum' saja ya Buk! Tapi biarkan Shanum tetap memanggil 'Ibuk'" Ucap Shanum ramah seraya memposisikan dirinya di depan penggorengan.
"Kalau begitu, Bibi panggilnya 'Neng' saja. Dan Neng tidak usah membantu pekerjaan Bibi, silahkan duduk saja menunggu makan malamnya siap!" Cegah Bi Ipah melihat Shanum mengambil alih spatula.
"Tidak Buk, biarkan Shanum membantu. Shanum suka memasak kok. Ketika bersama Oma, Shanum selalu menyiapkan makan kami." Terang Shanum seraya membatu Bi Ipah.
'Teduh sekali melihat gadis ini, jadi jatuh cinta dengan sikapnya.' Batin Bi Ipah seraya tersenyum menyaksikan ketulusan Shanum.
Apa yang dilakukan Shanum itu disaksikan Ummi Hasna yang baru saja memasuki ruang makan mereka. Dia tersenyum menyaksikan ketelatenan Shanum dalam membantu Bi Ipah.
"Wah, masakannya harum sekali! Terlihat enak." Ucap Ummi Hasna tepat di belakang Shanum.
"Iya Mi, Bi Ipah memang jago masak." Jawab Shanum melirik Bi Ipah yang baru saja memasuki ruang makan.
"Enggak kok Nya, ini semua juga dibantu oleh Neng Shanum. Neng Shanum ternyata jago masak ya Nyah?" Timpal Bi Ipah.
"Oh ya? beruntung sekali pria yang akan menjadi suamimu kelak Nak." Puji Ummi Hasna.
Shanum hanya tersenyum malu mendengar pujian itu, dia tidak ingin menjadi ria dan kemudian membuatnya sombong jika dipuji.
Dari Mahmud bin Labid Radhiyallahu 'Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ
"Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau shalallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Ar Riya'." (HR. Ahmad dari shahabat Mahmud bin Labid no. 27742)
"Syukron Mi, Buk atas pujiannya. Alhamdulillah jika Shanum bisa begitu." Ungkap Shanum sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ya sudah, kita tunggu Thoriq datang ya. Sebentar lagi yang lainnya akan sampai. Semoga Riqhad juga." Ucap Ummi Hasna.
Beberapa saat kemudian, Thoriq keluar dari ruang kerjanya yang berada di lantai bawah. Dia mengenakkan pakaian santai dengan celana pendek. Shanum yang menyaksikan itu kembali mengalihkan pandangannya.
"Bang, ganti celana sana! Ingat, sekarang ada gadis yang tinggal di sini, bantulah dia menjaga pandangannya." Tegur Ummi Hasna pada putranya.
"Dan, keluarga kita yang lain juga akan dating. Masa Abang pakaiannya begini sih." Tambah Ummi Hasna lagi.
Dengan cengiran seperti biasanya, Thoriq menuju kamarnya untuk mengindahkan ucapan Mamanya barusan. 'Iya ya, sekarang kan di rumah ini ada Shanum. Kok aku bisa lupa?' batin Thoriq seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
***
Ding ... dong ... (Bunyi Bel)
"Nah, mereka sudah sampai. Tolong bukakan pintu ya Bi!" Pinta Nyonya rumah.
Bi Ipah pun membukakan pintu dan di luar sudah ramai dengan anggota keluarga lainnya. Ada yang menggendong bayi, ada yang menggandeng pasangannya dan ada juga yang datang sendirian. Mereka pun memasuki rumah mewah ini seraya mengucap salam.
"Wah, ramainya!" Sambut Ummi Hasna seraya menyapa dan menyalami keluarganya itu.
"Anakmu sudah besar ya Tiff, lucu sekali!" Sapa Ummi Hasna pada cucu saudaranya itu.
"Hehe ... Iya Oma, Fatan udah gede. Maaf ya Tan anggota yang lain tidak bisa hadir." Ucap wanita yang menggendong bayi mungil itu meniru suara anak kecil.
"Mbak, perempuan di belakangmu itu? apakah dia gadis yang kamu ceritakan? Cucu Bi Syofi?" Tanya wanita yang terlihat mirip dengan Ummi Hasna. Ya, dia merupakan adik kandung dari Ummi Hasna dan juga nenek dari si mungil Fatan.
"Kemari Nak! Ummi Kenalkan dengan mereka semua!" Ucap Ummi Hasna kepada Shanum yang berada beberapa jarak di belakangnya.
"Dia manggilmu Ummi?" Ucap sinis dari wanita paruh baya lainnya yang merupakan saudara dari suaminya Ummi Hasna, Bibinya Thoriq, Riqhad dan Zoeya.
"Iya Mbak, aku senang dipanggil begitu." Ummi Hasna yang sangat tahu dengan tabiat kakak suaminya. Dari semua keluarga suaminya, hanya kakak suaminya inilah yang sering tampak bersikap tidak bersahabat.
Setelah itu, Shanum pun menyalami keluarga Okhtara selain para lelaki yang bukan mahromnya.
"Namamu Shamun kan? Wah, namamu cantik seperti dirimu. Kenalkan aku Latiffa, panggil Mbak Tiffa aja." Ucap Tiffa, sepupu Thoriq yang merupakan Ibu dari Fatan.
"Iya mbak Tiffa, terima kasih dan salam kenal." Balas Shanum sambil berpelukan dengan Ibu Fatan. Setelah itu, Shanum menyapa dan mencium bayi Fatan. Bayi Fatan yang biasanya pilih-pilih dalam memilih gendongan, tiba-tiba saja merentangkan tangan mungilnya seolah meminta digendong pada Shanum.
Mereka yang menyaksikan itu, menatap Shanum heran karena baru pertama kali bertemu, Fatan sudah nyaman berada di pelukan Shanum. Tiffa tersenyum menatap Shanum menggendong anaknya.
"Wah, kamu terlihat cocok menggendong bayi. Umur kamu berapa sih, Shan?" Kali ini wanita lainnya yang menggandeng sosok tampan di sampingnya itu bertanya pada Shanum.
Wanita itu bernama Sarah dan pria disampingnya adalah tunangannya, Faris. Sebentar lagi mereka akan menikah. Sarah merupakan sepupu Thoriq dan Riqhad dari Ayahnya.
"Benarkah? Umurku 19 tahun Mbak." Jawab Shanum yang masih menggendong Fatan seraya menciumnya.
"Masih muda ternyata. Jadiin menantu saja Tan!" Ucap Tiffa pada pemilik rumah.
__ADS_1
"Maunya sih gitu." Balas Ummi Hasna seraya tersenyum memandang Shanum yang sedang asyik dengan bayi mungil itu.
Beberapa saat kemudian sosok gadis berusia 5 tahun yang semula hanya diam di belakang Omanya dan menyaksikan sepupu kecilnya tertawa senang di gendongan wanita cantik itu kini menghampiri mereka.
"Tante, tante pacarnya Om Ikat ya?" Tanyanya polos.
Shanum yang mendengar suara polos itu hanya tersenyum tak mengerti. Anak berusia sekitar 5 tahun ini merupakan cucu dari wanita paruh baya tadi yang dipanggil 'Mbak' oleh Ummi Hasna, cucu kakak dari suaminya, Mbak Dewi. Sedangkan pria dewasa yang seusia Riqhad yang sedari tadi menggandeng bocah 5 tahun ini adalah Ayahnya, Gilan. Seorang single daddy.
"Bukan sayang, tante ini bukan pacarnya Om Ikat tapi calonnya Om Orik!" Suara besar itu menjawab pertanyaan polos dari keponaannya.
Thoriq datang menghampiri mereka semua setelah berganti pakaian. Dia tampak tampan dengan kemeja kotak dan celana panjangnya.
"Sudah-sudah . Jangan asal bicara kamu Bang." Sanggah Mamanya.
"Tante cantik ya Dad? Jadiin Mami buat Atu aja gimana?" Ungkapnya dengan begitu polos yang dihadiahi ketercengangan semua orang. Sedangkan sang Daddy pun tak tahu harus bersikap apa, dia pun menggendong putri kecilnya seraya berkata maaf kepada Shanum yang baru saja menyerahkan Fatan pada Ibunya. Fatan telah terlelap dipangkuannya.
"Baiklah semuanya, nanti kita sambung lagi obrolannya dan sekarang waktunya makan. Makanannya sudah hampir dingin itu. Ayo!" Ucap Ummi Hasna menyajak semua keluarganya termasuk Shanum menuju ruang makan.
Setelah semuanya menempati kursinya masing-masing di ruang makan, semua merasa ada yang kurang.
"Bang Riqhad mana, Tan? Nggak pulang lagi ya?" Tanya Sarah yang tidak melihat tanda-tanda kedatangan sepupunya itu. Mereka semua tahu bahwa Riqhad memang sangat jarang mengunjungi rumah ini.
Ummi Hasna pun menghela nafas berat karena mendapatkan pertanyaan seperti itu, jujur saja dia sangat merindukan anaknya. Mengurangi suasana tegang di ruang ini, Ummi Hasna pun bersikap seperti biasanya.
"Mungkin dia punya urusan lain, jadi kita makan saja duluan. Ayo, Shanum juga ikut bantuin masak loh." Kata Ummi Hasna.
Ummi Hasna duduk di sebelah kanan Shanum dan di sebelah kiri Shanum adalah si kecil Ratu. Ratu sepertinya jatuh cinta dengan sosok di sebelahnya itu, sedari tadi dia terus saja memandangi Shanum. Tanpa diduga pria dewasa lainnya juga diam-diam memperhatikan Shanum.
Setelah menyelesaikan makan malam mereka dan berikutnya dihabiskan dengan kumpul-kumpul biasa. Shanum meninggalkan ruang keluarga itu lebih dulu untuk menunaikan kewajibannya yaitu Sholat Isya yang sudah tertunda.
Latiffa dan suaminya sudah pulang lebih dulu, begitu pun dengan Sarah beserta tunangannya yang ingin kencan di luar. Kini hanya tinggal Ummi Hasna, Ibu Dewi, Gilan, Si kecil Ratu dan juga Thoriq. Suami Ibu Dewi sedang melakukan perjalanan bisnis sejak kemarin sehingga tidak hadir.
Thoriq dan Gilan sedang asyik berbincang di tepi kolam renang, mereka membahas tentang masalah kantor. Memang mereka sama-sama merupakan CEO di kantornya masing-masing. Sedangkan Ratu tengah asyik sendiri dengan kue jelly yang diberi oleh Shanum. Hanya Mama Hasna dan Ibu Dewi saja yang masih berada di ruang keluarga.
"Aku sarankan kau mencari tempat lain untuk anak itu! Tidak baik dia tinggal di rumah ini sedangkan di sini juga ada laki-laki yang masih lajang. Takutnya akan menimbul fitnah dan tidak bagus dilihat keluarga, belum lagi sampai kolega kita yang lainnya!" Kata Ibu Dewi.
"Memang Riqhad tidak lagi tinggal di sini, tetapi masih ada Thoriq. Bagaimana kalau terjadi hal yang tidak-tidak antara mereka? Kamu tidak khawatir akan hal itu?" Tambah Ibu Dewi lagi.
Memang benar apa yang disampaikan oleh Iparnya itu, tetapi Mama Hasna percaya hal yang ditakutkan itu tidak akan terjadi karena dia sangat tahu bagaimana anaknya.
"Iya Mbak, saya tahu. Tetapi saya mendapat wasiat dari Bi Syofi agar menjaga cucunya sampai dia menikah dan menyerahkan semua yang dimilikinya pada Shanum. Jadi sampai saat itu tiba, Shanum akan berada dibawah perlindungan saya." Terang Ummi Hasna.
"Aku hanya menasihatimu karena aku tidak ingin terjadi hal yang tidak-tidak dikeluarga kita. Cukup Gilan saja yang menanggung hal semacam itu, tidak untuk yang kedua kalinya." Tambah Bu Dewi tegas.
Perbincangan mereka berhenti karena melihat Thoriq dan Gilan memasuki ruang keluarga. Gilan menggendong putri kecilnya yang sudah terlelap, mereka pun ikut pamit meninggalkan rumah ini.
Tanpa di duga, perbincangan Ummi Hasna dan Bu Dewi itu didengar oleh Shanum yang baru saja berniat ingin memberikan mereka minuman hangat.
__ADS_1
Shanum mendengar semua kekhawatiran dua wanita paruh baya itu, memang bener apa yang disampaikan Bu Dewi. Sedari awal Shanum sudah memikirkan hal ini. 'Haruskah aku mencari tempat tinggal lain?' Batinnya.