A

A
EMPAT PULUH SEMBILAN (END)


__ADS_3

PART 49 - PUTRI KAMI (END)


Memiliki sebuah tempat untuk pergi, itu adalah rumah. Memiliki seseorang yang dicintai, itu adalah keluarga. Memiliki keduanya, itu adalah sebuah anugerah.


Keluarga adalah tempat di mana kehidupan dimulai dan cinta yang tidak pernah berakhir.


_________________________________________


Empat Belas Minggu Kemudian


Sosok wanita bercadar sedang serius memandangi para pekerja yang hampir menyelesaikan proyek pembangunan yang beberapa bulan ini dikerjakan. Meski dengan bobot badannya yang meningkat drastis, itu tak sama sekali membuat semangatnya kendor dalam memantau penyelesaian pembangunan sebuah sekolah yang diidam-idamkan oleh Omanya sewaktu beliau masih ada.


Dari mulai memilih lokasi hingga memantau proyek ini, biasanya ia selalu didampingi oleh suaminya yang juga menjadi perancang untuk bangunan sekolah yang didirikan khusus untuk anak yang kurang mampu dan putus sekolah. Tapi tidak dengan hari ini. Bahkan ke sini pun ia diantar oleh Zoeya yang dari sebulan yang lalu diperbolehkan memiliki mobil sendiri. Setelah mengantanya, Adik Iparnya itu pun meninggalkannya untuk keperluan kampus.


Meski tak didampingi suaminya, jangan berpikir bahwa Mantan Dosennya itu melupakannya dalam kesibukan tersendiri, bahkan dalam waktu beberapa jam pria halalnya itu pasti akan berkabar meski hanya untuk menanyai aktivitas dan keadaan istrinya. Waktu persalinan yang dapat dibilang hanya menghitung jari, membuatnya mengkhawatirkan keadaan istrinya ini.


Kata dokter kandungannya, diperkirakan Shanum akan melahirkan sekitar lima atau enam hari lagi, oleh sebab itu Riqhad mempercepat keberangkatannya untuk memantau kantor cabang di Surabaya agar saat persalinan istrinya, ia bisa mendampingi Shanum.


Drrt... drrtt...


Ponsel Shanum bergetar.


"Assalamu'alaikum, sayang. Masih di lokasi?" 14:00


Tanya Riqhad dalam pesan whatsappnya. Ini adalah pertanyaan yang sama untuk ketiga kalinya dihari ini.


"Wa'alaikumsalam, Bang. Masih, bentar lagi pulang kok nunggu Kak Fhariza yang mau jemput Shanum." 14:08 Balasnya.


Sejak mengetahui bahwa ia dan Fhariza adalah saudara sepupuan, Shanum sangat senang hingga ia mengajak Fhariza untuk ikut andil dalam menyelesaikan dan mengelola sekolah yang diimpikan oleh Omanya Shanum ini. 


Hubungan Shanum dengan Omnya yang tak lain adalah Papa Fhariza pun semakin membaik, Omnya sampai mengenalkan Shanum pada karyawan di perusahaannya dan mengatakan bahwa Shanum juga merupakan cucu pemilik perusahaan.


Tapi sayang, perusahaan Omnya terancam kurang beroperasi lagi sebab para investor banyak yang membatalkan kerjasamanya beberapa saat yang lalu, saat Omnya itu berusaha menghancurkan perusahaan Riqhad hingga kebenaran terungkap dan malah berbalik merugikan Om Hardean. Om Hardean malu untuk meminta bantuan pada keluarga Okhtara sebab perbuatannya pada keluarga itu. Riqhad pun sama, meski telah memaafkan Om Hardean tapi tak membuatnya berbelas kasih untuk membantu memperkokoh dan memancing investor untuk kembali bekerjasama dengan perusahaan Om Hardean hingga Shanum pun melakukan suatu hal yang sangat menyentuh hati Omnya.


Om Hardean berasa tertusuk jantungnya melihat ketulusan keponakannya itu, anak dari saudara seayahnya. Meski ia membenci keberadaan ibunda Shanum, hingga tanpa diduga ia melibatkan Shanum dalam urusan balas dendamnya sampai hal terakhir ia berniat menghancurkan pernikahan keponakannya itu, tapi Shanum masih mau menganggapnya keluarga dan memaafkan kesalahannya. Shanum datang membawa udara di perusahaannya, Shanum menyerahkan sebagian tabungan yang jumlahnya tak bisa Hardean sebutkan. Shanum merelakan pemberian Oma Syafiah, sosok wanita yang dibenci Hardean dulu, wanita yang membuat kasih sayang ayahnya padanya berkurang. Shanum menyokong kebangkitan di perusahaannya dengan bantuan yang sangat disyukuri Hardean. Saat ia menolak bantuan Shanum, perkataan Shanum membuatnya tersadar bahwa di dunia ini masih ada orang yang baik meski selalu dijahati.


"Om, Shanum hanya sebarang kara. Setelah mengetahui Om adalah pamannya Shanum, Shanum bahagia bahwa memandangi Om membuat Shanum seakan melihat wajah Ibu Shanum sendiri. Untuk itu, Shanum mohon anggaplah Shanum sebagai putri Om sendiri hingga keberadaan Shanum memiliki arti. Shanum menyayangi dan menghormati Om seperti Shanum menghormati orang tua Shanum sendiri."


Setelah mengucap itu, Shanum memberikan bantuan hingga perusahaannya dapat kembali beraktivitas meski tak seperti sebelumnya. Hardean pun menerima bantuan Shanum hingga menetapkan Shanum menjadi salah satu pemegang saham di perusahannya, perusahaan dari kakeknya Shanum meski Shanum telah menyerahkan semuanya pada Hardean. Hardean berjanji akan menjaga Shanum dan melindunginya seperti putrinya sendiri, sebab melihat Shanum ia teringat dengan kejahatannya dulu. Ia selalu menyakiti Ibu Shanum hingga saudarinya itu harus menjauh bersama ibunya.


Karena asyik melamun, Shanum tak menghiraukan pesan Riqhad yang bermunculan di ponselnya. Mungkin, karena tak sabaran Riqhad pun meneleponnya.


"Sayang, kok pesan Abang ngga dibales?" Tanya Riqhad tanpa mengucap salam terlebih dahulu.


Shanum menghela nafas seraya menjawab.


"Ya, Bang. Shanum lagi serius ngeliat progress sekolah yang hampir jadi ini."


Terdengar suara lega di seberang sana. "Kamu ngga perlu ke situ tiap hari, kan bisa mantau dari rumah aja. Nggak capek apa bawa perut besar kemana-mana?" Tanya Riqhad khawatir.


"Abang, Shanum senang aja lihat langsung. Dan juga, Shanum ngga pernah lelah buat ajak dedek jalan-jalan tiap hari, kan kata Dokter Shanum harus banyak gerak biar lancar persalinannya nanti." Terang Shanum lembut.


"Iya deh, wanita hebatku. Abang aja kaget, kamu bisa melewati perkuliahanmu tanpa pernah cuti dengan keadaanmu itu. Tapi, ingat pesan Abang, kalau udah lahiran kamu harus cuti! Nggak ada bantahan!" Titah Riqhad di seberang sana.


Shanum memang tak pernah cuti semenjak kehamilannya, karena ia tak pernah ngidam macam-macam ataupun memiliki masalah lain, tidak seperti di awal-awal kehamilannya. Sesuai yang selalu suaminya wanti-wanti, ia harus rela cuti 1 semester setelah melahirkan. Shanum pun menurut saja demi kebaikan bersama.


"Siap, Abang!" Jawabnya.


Kemudian, matanya menangkap kedatangan seseorang yang ia tunggu, Fhariza dan Ratu baru sampai dan memarkirkan mobilnya.


"Kalau kamu merasa ada yang aneh dengan tubuhmu atau merasa jadwal bersalinnya tak sesuai perkiraan dokter, kamu harus cepat hubungi Abang. Abang akan langsung pulang!" Ucap Riqhad lagi dari seberang sana.


"Iya, Shanum paham. Udah dulu ya, kak Fhariza udah datang tuh. Shanum mau pulang dan kata Kak Riza mau ajak Shanum lihat perlengkapan bayi." Jawab Shanum kemudian.


"Ya sudah. Hati-hati, jaga diri dan selalu hubungi Abang."


"Iya Bang. Abang juga ngga usah terlalu khawatir di sana, bekerjalah seperti biasa, jangan lupa makan teratur, sholat, jaga mata dan hati. Oke."


Riqhad terkekeh mendengarnya, "oke sayang. Pasti! Mata Abang hanya selalu memandangimu dan hati Abang juga hanya untukmu." Timpal Riqhad sambil terkekeh.


"Ugh, Abang. Gombal terus, kan jadi kangen. Hehe." Jawab Shanum manja.


"Jangan bilang kangen dong. Nanti Abang bisa langsung pulang sekarang juga loh." Jawab Riqhad gemas.


"Is, ngomong sama abang nggka ada habis-habisnya. Ya udah Shanum pamit ya Hubby. Assalamu'alaikum." Ucap Shanum.


"Hehe, oke Humairahnya Abang. Wa'alaikumsalam." Tutup Riqhad.


Tut


Shanum pun menyimpan ponselnya ke dalam tas jinjingnya dan menyambut pelukan Ratu pada tubuhnya.


"Ante endut. Ayok temenin Atu makan escyim. (Tante gendut, ayo temenin Ratu makan ice cream)" Ucap Ratu dengan nada manja.


"Jangan peluk Tante kenceng-kenceng sayang. Nanti dedek di dalam perut sakit." Ucap Fhariza lembut.


Shanum tersenyum melihat Ratu yang langsung mengikuti perkataan Mommynya. Mereka pun meninggalkan lokasi untuk menuju rumah mertuanya Shanum, jika Riqhad tak di sampingnya maka Shanum sudah pasti akan berada di sana.


Fhariza memang menjemput Shanum sebab akan mengajak sepupunya itu memilih perlengkapan bayi. Shanum tak memikirkan masalah itu dan ini karena ia tak ingin berlebihan di awal, apa lagi Shanum belum lahiran. Tapi, berbeda dengan Fhariza yang entah mengapa sangat antusias. Katanya ia ingin sekali menghabiskan waktu untuk memilih perlengkapan bayi yang lucu karena ia tak pernah melalukan hal tersebut. Ratu tumbuh tanpa sepengetahuannya.


Terdengar sedih tapi Ibu Dosen ini hanya memendam perasaannya tersebut. Ia yakin akan ada masanya dia memilih perlengkapan bayi untuk anaknya sendiri kelak, semoga adiknya Ratu akan segera hadir.


Di rumah Mertua Shanum


Setelah Fhariza dan Ratu pamit, Shanum terlihat sibuk menata barang-barang yang mereka beli tadi. Ia tak menyangka memilih perlengkapan untuk calon anaknya akan seasyik ini. Dia dan Riqhad memang tak ingin mengetahui jenis kelamin anaknya. Mereka ingin itu menjadi rahasia sehingga akan menjadi kejutan nantinya. Untuk itulah perlengkapan yang dipilih pun netral, bisa digunakan untuk anak perempuan atau laki-laki.

__ADS_1


Tok... tok...


Mama Hasna memasuki kamar Shanum yang kini berada di lantai bawah. Sesuai kesepakatan, setelah persalinan nanti maka Shanum dan Riqhad akan berada di rumah ini. Hingga kamar Utama yang biasanya di tempati oleh Mama Hasna ini pun menjadi kamar mereka dan Mama Hasna menempati kamar lainnya yang juga berada di lantai bawah.


"Istirahatlah dulu sayang. Kasihan badanmu, sejak pagi tadi selalu bergerak ke sana kemari." Ucap Mama Hasna mengambil alih apa yang Shanum kerjakan.


Shanum pun tersenyum mendengar perhatian dari Mama mertuanya. Ia sangat bersyukur memiliki mertua seperti Mama Hasna, sebab dari novel-novel yang pernah ia baca Mama Mertua kebanyakan digambarkan dengan sosok menakutkan. Alhamdulillah ia memiliki mertua yang sangat baik hati dan menyayanginya, keluarga yang lain pun sama.


"Terimakasih, Ma." Ucap Shanum melihat Mama mertuanya yang melanjutkan menata barang-barang tersebut.


"Iya, sayang. Mama ngga sabar menanti kehadiran cucu pertama. Aduh, pasti lucu." Ucap Mama Hasna mendamba.


"Iya, Ma. Shanum pun sama, doakan persalinan nanti lancar. Sebentar lagi Shanum akan merasakan bagaimana rasanya berada di posisi Ibu saat berjuang melahirkan Shanum." Ucap Shanum dengan lirih.


Mama Hasna langsung memeluk menantu kesayangannya itu, "doa Mama selalu menyertaimu, Nak. Apapun yang ingin kamu keluh kesahkan, sampaikanlah ke mama. Mama sangat menyayangimu, kamu bukan cuma menantu Mama tapi sudah seperti anak kandung Mama sendiri. Nggak usah sungkan ya, sayang."


Shanum terharu dan tanpa sengaja meneteskan air mata dipelukan mertuanya, "terimakasih Mama. Terimakasih, atas segalanya. Shanum sayang Mama, Shanum sangat bersyukur berada ditengah keluarga ini. Shanum bahagia disayangi oleh kalian, Shanum merasa memiliki keluarga yang utuh."


Mama Hasna pun mengelus punggung menantunya, "iya sayang. Mama juga sangat menyayangimu bahkan sebelum kamu menjadi menantu Mama. Terimakasih ya, telah menerima putra Mama yang memiliki banyak kekurangan itu. Meski kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dari Riqhad, terimakasih telah menjadi menantu Mama." Ucap Mama Hasna.


Zoeya yang berada di tembok dengan niat awal ingin berbagi cerita pada Shanum juga ikut terharu mendengar pembicaraan di dalam sana.


"Ya Allah, Oya ikut bahagia melihat Shanum bahagia. Oya yang dilimpahi kebahagiaan sejak kecil tak pernah merasakan kehilangan sosok ibu, tak seperti Shanum. Semoga Shanum dan Abang selalu bahagia." Batin Oya.


Sesaat kemudian, Zoeya yang hendak meninggalkan tempatnya berdiri mendengar ringisan Shanum di dalam sana.


"Ma... kok, perut Shanum terasa kencang dan keram ya?" Ucap Shanum di sela ringisannya. Mama Hasna membantunya berbaring dan mengelus lembut perut menantunya.


"Tenang sayang, luruskan kakimu." Ucapnya mencoba menenangkan kegelisahan Shanum.


"Argg... keram Ma, punggung Shanum juga rasanya nyeri Ma.. Shanum ngga lahiran hari ini kan ya?" Shanum meracau.


Zoeya pun langsung menghampiri Shanum dan mengelap keringat di dahi istri Abangnya itu. "Kamu mau lahiran ya Shan?" Tanyanya dengan cemas.


Shanum menggeleng pertanda tidak tahu, tangannya mencengkram sprei dengan erat sambil menahan rasa kram di perutnya.


Hingga Mama Hasna berteriak memanggil Asisten di rumah tangganya, "Cici.. siapkan perlengkapan Shanum! Ipah, panggil Pak Udin dan suruh dia mengeluarkan mobi! Kita bawa Shanum ke rumah sakit sekarang, kayaknya mau melahirkan ini." Mereka pun bergegas menjalankan titah Mama Hasna.


Mama Hasna membantu Shanum bersandar di kepala ranjang dengan Zoeya yang terus mengelus punggung Shanum yang terasa pegal dan nyeri, berusaha menenangkan. "Hubungi Abang-Abangmu, Oya!" Ucap Mama Hasna yang langsung diangguki oleh putrinya itu.


Setelah perlengkapan Shanum selesai disiapkan oleh Bi Cici, Zoeya dan Bi Cici pun membantu memapah Shanum menuju mobil.


Di Rumah Sakit


Beberapa saat kemudian.


"Bagaimana keadaan anak saya Dok?" Tanya Mama Hasna saat dokter selesai menangani menantunya.


"Tenang Bu. Yang dialami Dek Shanum sekarang ini namanya kontraksi Braxton Hick yaitu kontraksi yang terjadi secara acak, tidak menimbulkan rasa sakit berlebihan dan berlangsung sebentar saja. Kontraksi ini terjadi bila Shanum merasakan otot di rahim mengencang dari waktu ke waktu. Sebenarnya bisa tidak langsung menuju rumah sakit, sebab di beberapa hari atau minggu sebelum persalinan, kontraksi Braxton Hicks menjadi ritmis, saling berdekatan dan bahkan terasa sakit, mungkin membuat kita berpikir sedang menjalani persalinan. Tapi tidak seperti persalinan sebenarnya, kontraksi ini disebut juga kontraksi palsu, yang tidak menjadi lebih konsisten, lebih kuat, dan lebih berdekatan jaraknya." Terang Dokter yang didengar serius oleh Mama Hasna dan yang lainnya.


"Jadi, belum waktu bersalin ya Dok?" Zoeya memastikan lagi.


Dokter paruh baya ini pun tersenyum dan kembali menjawab, "Belum. Setelah saya cek, kemungkinan Shanum masih beberapa hari lagi. Sebab, Tahap awal persalinan aktif dimulai ketika serviks terbuka sekitar 3 hingga 4 cm. Tahap ini lengkap setelah serviks sepenuhnya terbuka dan bayi siap didorong keluar. Selama tahap akhir, kontraksi menjadi sangat intens."


Semua pun menghela nafas, di ujung lorong. Terlihat seorang pria yang berjalan tergopoh-gopoh tanpa melihat kiri kanan. Zoeya yang terlebih dahulu menyadari itu hanya menatap Abangnya dengan cekikikan.


"Di mana Shanum Ma?" Tanyanya dengan raut wajah amat cemas.


"Di dalam. Belum waktunya, Bang. Beberapa hari lagi, perkiran dokter." Jawab Mama Hasna dengan rasa bersalah karena telah membuat putranya sekhawatir ini hingga meninggalkan pekerjaannya di Surabaya.


Riqhad pun menghela nafas dan mengangguk paham hingga meminta izin pada Dokter untuk menemui istrinya di dalam ruangan.


Riqhad menghampiri Shanum yang terlihat memejamkan mata dengan tenang, kemudian ia mengelus kerudung istrinya seraya mengecup dahinya dengan sayang. Hal tersebut tak ayal membuat Shanum yang ternyata tidak sedang tidur itu pun bangun. Ia memandang tak percaya sosok yang berdiri di sampingnya itu.


"Abang, kapan ke sini?" Tanyanya.


Riqhad tersenyum dan terus memandangi wajah istrinya dengan sayang. "Barusan Abang nyampe. Abang kaget banget pas Oya nelpon dan bilang kamu mau lahiran."


Shanum memandangi suaminya dengan wajah sedih. "Maaf membuat Abang khawatir gini. Padahal Shanum cuma kontraksi awal aja, dan Abang harus meninggalkan tugas Abang di sana." Keluhnya sambik meremas seprei.


"Sayang, kok ngomong gitu. Bukan salah kamu lah, Abang jadi bersalah meninggalkan kamu di saat-saat kamu mendekati hari persalinan. Untuk itu, Abang akan selalu di samping kamu sampai kamu lahiran." Jawab Riqhad keduanya pun tersenyum.


Setelah mendengarkan penjelasan dari Dokter, Shanum pun kembali diboyong pulang ke rumah karena belum waktunya persalinan dan perutnya juga telah membaik. Dokter memberikan beberapa wejangan dan arahan apa-apa saja yang bisa dilakukan di saat menjelang waktunya.


Namun, tanpa diduga ketika berada di pertengahan jalan menuju rumah. Shanum kembali berulah, perutnya terasa kencang dan kram kembali bahkan kali ini terasa lebih sakit dari yang sebelumnya. Karena menurut dokter belum waktunya Shanum melahirkan dan mungkin saja ini adalah kontraksi palsu seperti sebelumnya, maka mereka tetap membawa Shanum pulang dan berusaha menenangkan Shanum seraya membuatnya rileks seperti saran dokter.


Namun, sampai di rumah, kontraksi ini terjadi lebih intens dan selang waktunya pun lebih lama dari sebelumnya. Mereka pun kalang kabut tak tahu harus bagaimana.


"Qhad, kayaknya Shanum mau lahiran deh." Ucap Syafiqa yang kasihan melihat Shanum menahan sakit. Mereka baru saja sampai karena baru selesai mengikuti kajian sehabis isya tadi.


"Tapi... tadi kata d-" Ucap Riqhad pun terpotong oleh perkataan Thoriq.


"Dokter bukan Allah, mana tahu pasti. Ia hanya memprediksi saja. Sekarang lebih baik kita panggil dokter ke sini aja, nggak mungkin bolak balik ke rumah sakit." Saran Thoriq.


Riqhad pun mengangguk setuju.


Ketegangan memenuhi rumah Mama Hasna. Kamar utama tertutup rapat dan di dalamnya Shanum tengah berjuang melahirkan buah hatinya. Di dampingi suami dan mertuanya ia melewati beberapa jam menuju persalinan.


Riqhad dengan telaten menggenggam tangan istrinya sambil menyeka keringat di wajah Shanum dan sekali-kali mengecup sayang wajah istrinya itu. Mama Hasna pun dengan sabar menemani Shanum menjalani pembukaan demi pembukaan.


Empat jam terlewati dan di luar sana Zoeya, Thoriq, Syafiqa bahkan beberapa keluarga mereka juga hadir menunggu kelahiran cucu pertama Mama Hasna.


"Lama banget sih, Oya jadi bosan nunggunya." Gumam Zoeya yang kini memilih duduk di lantai karena bosan duduk di atas sofa katanya. Aneh.


Aufar yang juga hadir di sini untuk mengantar Fhariza dan Ratu karena Gilan sedang keluar daerah dengan urusan bisnisnya. Ia terkekeh melihat tingkah Zoeya. "Kamu nggak tahu aja gimana perjuangan buat ngeluarin anak. Ntar kamu juga ngerasain kok." Jawab Fhariza.

__ADS_1


"Iya deh iya. Zoeya jadi penasaran gimana rasanya." Tambah Zoeya lagi yang sekarang malah bersandar di sofa yang diduduki oleh Aufar.


"Emang udah siap apa?" Tanya Aufar.


Deg


Jantung Zoeya terhenti mendengar suara Aufar. Ia meringis dengan ucapannya tadi, kesannya Zoeya sudah siap nikah saja.


"Kenapa ngga jawab?" Tanya Aufar lagi.


Belum sempat Zoeya jawab, tangisan seorang bayi pun bergema dari dalam sana. Zoeya langsung berdiri dengan mata berkaca-kaca. Suara tangisan tersebut memenuhi rongga dadanya. Ia akan dipanggil tante oleh keponakan kandungnya sendiri, betapa bahagianya.


"Alhamdulillah." Ucap mereka mendengar tangisan kecil itu.


Di Kamar Shanum dan Riqhad


Sementara dokter membersihkan bayi mungil mereka, Riqhad menciumi keseluruhan wajah Shanum sambil menggumamkan syukur, "terimakasih, sayang. Telah berjuang untuk putri kita, Abang mencintaimu selalu."


Shanum meneteskan air mata bahagianya, "terimakasih juga Abang. Udah hadir dihidup Shanum hingga kita bisa menghadirkan sosok baru di hati kita. Shanum mencintai Abang selalu." Balas Shanum sambil mencium tangan suaminya.


Mama Hasna memandangi keduanya dengan luapan bahagia tak terkira, setelah mengambil alih cucu mungilnya dari tangan dokter. Ia pun mendekatkan cucunya pada Shanum.


"Cantik, Nak. Percampuran dari kalian, mata dan hidungnya mirip Shanum sedangkan bibir dan dagunya sama kayak Abang." Ucap Mama Hasna sambil tersenyum lembut.


"Shanum, sekarang udah jadi ibu dan abang udah jadi ayah. Tanggungjawab kalian lebih besar sekarang, apalagi ini adalah anak perempuan. Didiklah dia menjadi sosok sholehah dan selalu memegang akidah beragama." Ucap Mama Hasna sambil mengayun lembut cucunya dalam pelukannya.


"Islam datang mengangkat kedudukan para perempuan. Islam memerangi adat jahiliyah yang merendahkan anak-anak perempuan. Anak-anak perempuan, merekalah yang kelak akan menjadi ibu atau bibi atau saudari perempuan. Dan sangatlah jelas bagaimana perhatian Islam dan pemuliaan Islam kepada seorang ibu, seorang bibi, dan seorang saudara perempuan." Tambahnya lagi dengan memandangi anak dan menantunya, kemudian melanjutkan lagi.


"Sebagaimana telah lalu (dalam QS Asy-Syuuroo : 49-50) bahwasanya Allah menyatakan bahwa anak-anak perempuan adalah pemberian (anugerah) dari Allah."


Dalam riwayat yang lain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;


“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan surga bagi sang ibu atau Allah telah membebaskannya dari api neraka” (HR Muslim no 2630)


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :


“Barangsiapa yang memiliki tiga anak perempuan lalu ia bersabar atas mereka, dan memberi makan mereka, memberi minum, serta memberi pakaian kepada mereka dari kecukupannya, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka pada hari kiamat” (HR Ibnu Maajah no 3669 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 294)


Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi bersabda


“Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku” (Anas bin Malik berkata : Nabi menggabungkan jari-jari jemari beliau) (HR Muslim no 2631)


Dalam riwayat yang lain :


“Aku dan dia di surga seperti dua jari ini” (dan beliau mengisyaratkan dengan dua jari jemari beliau) (HR At-Thirmidzi no : 1914 dan dishahihkan oleh Al-Albani)


Dari Jabir radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


“Barangsiapa yang memiliki tiga anak perempuan, ia mengayomi mereka, mencukupi mereka, dan menyayangi mereka maka tentu telah wajib baginya surga”. Maka ada salah seorang dari kaum berkata, “Kalau dua anak perempuan Ya Rasulullah?”. Nabi berkata, “Dua anak perempuan juga”


Dalam riwayat lain ada tambahan, “Sampai-sampai kami menyangka kalau ada orang yang berkata, “Kalau satu anak perempuan?”, maka tentu Nabi akan berkata, “Satu anak perempuan juga”. (Dihasankan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 1027)


"Sungguh agama Islam adalah agama yang memuliakan anak-anak perempuan, bahkan memuliakan orang-orang yang memuliakan mereka dengan ganjaran yang besar di akhirat kelak." Mama Hasna pun mencium pipi menantunya sambil mengucap rasa syukur dan terimakasih. Kemudian ia meminta Riqhad untuk mengadzani dan mengiqomadkan cucunya yang sudah dibersihkan dan tidak lagi menangis. Suara merdu Riqhad dan pemandangan saat ia mengadzani putrinya begitu sejuk dimata Shanum.


"Ya Allah, terimakasih atas segalanya. Terimakasih telah memberi sosok imam terbaik dan mempercayakan titipan-Mu pada kami." Batinnya.


Setelah mengadzani, Riqhad menciumi pipi mungil pacar barunya itu. Ia masih belum berani menggendong sosok kecil itu, takut salah gendong hingga membuat tulang putrinya patah. Hingga ia hanya menciumi pipi kecil itu dalam gendongan Mamanya.


"Siapa namanya Mas, udah punya calon nama?" Tanya Dokter yang sudah membersihkan tangannya. Alhamdulillah pasiennya melahirkan dengan normal dan lancar.


Riqhad berpikir sejenak hingga pintu ruangan terbuka dan memunculkan beberapa kepala. Mereka tersenyum sumbringan karena ketahuan mengintip.


"Lama amat, bukanya. Kan kami juga mau lihat dedek baru." Kesal Zoeya seraya menghampiri keponakan barunya dalam gendongan Mamanya.


Riqhad dan Shanum hanya tersenyum, mereka sangat bersyukur hari ini. Pandangan keduanya pun bertemu dan dari tatapan mata itu pun terpancar kebahagiaan tiada tara dengan luapan cinta yang semakin melimpah.


"Namanya Khalilla. Khalilla Arresha Okhtara." Jawan Riqhad yang dibalas anggukan Shanum.


Zoeya melebarkan pupil matanya, "kan, Oya minta namanya Qhanum, Bang. Gabungan nama Abang sama Shanum." Ucap Zoeya tak terima.


Yang lainnya hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Zoeya. "Nggak jadi, Oya. Qhanum adalah sebutan untuk Khalilla waktu didalam rahim Umminya." Jawab Riqhad sambil memandangi wajah istrinya.


Shanum tersenyum malu-malu mendengar suaminya menyebutnya 'Ummi'. Memang ia yang meminta jika anak mereka lahir maka panggilannya adalah Ummi dan Abi.


"Dalam nama Khalilla juga ada gabungan nama kami kok. Arresha. Arriqhad dan Elshanum." Tambah Riqhad meyakinkan.


"Ih, kok gitu? Qhanum lebih keren Abang!" Ucap Zoeya dengan sedikit keras hingga kembali membuat Khalilla mengeluarkan suara tangisnya.


Seketika Oya mematung memandangi keponakannya itu.


Haha


Yang lainnya tertawa melihat hal tersebut. "Kayaknya si tante cerewet punya saingan baru nih." Ucap Thoriq yang diangguki Aufar dengan dalam.


Zoeya cengengesan dan membantu Mamanya menenangkan ponaannya itu. "Cup... cup... keponakannya Bunda jangan nangis ya. Iya deh iya, namanya Khalilla aja. Nggak jadi Qhanum." Ucap Zoeya yang ajaibnya bisa membuat Khalilla terdiam seketika.


Mama Hasna tersenyum melihatnya. "Kalo mau dipanggil Bunda sama keponakannya. Bunda Oya harus ngerubah panggilan buat Umminya Khalilla. Jangan panggil tanpa embel-embel lagi ya. Shanum jatuhnya kayak kakaknya Oya. Jadi panggillah dia seperti panggilan hormat Oya ke Bang Riqhad. Oke!" Nasehat Mama Hasna pada putrinya.


Zoeya pun tersenyum kikuk dan menunduk malu. Ia memang sangat ingin dipanggil Bunda oleh anak kecil, Ratu yang sudah beberapa kali ia ajari untuk memanggilnya bunda malah tidak bisa-bisa.


"Siap Mama!"


"Selamat ya Bang Riqhad sama Kak Shanum. Sekarang udah jadi Ummi dan Abi." Ucap Zoeya memeluk Abang dan kakak iparnya.


Shanum dan Riqhad pun menganguk. "Terimakasih Bundanya Khalilla. Mohon bantuan ya buat jagain Khalilla kedepannya."

__ADS_1


Setelah melihat anggota keluarga baru dan mengucap selamat pada pasangan Ummi dan Abi baru itu, mereka pun memberi ruang untuk Shanum memberi asi pertama untuk putrinya.


__ADS_2