A

A
DUA PULUH DELAPAN


__ADS_3

PART 28 - KIAN DEKAT


Orang yang berpikiran jernih tidak akan pernah melihat dan sedikitpun menoleh ke belakang. Pasalnya, angin akan selalu berhembus ke depan, air akan senantiasa mengalir ke depan, setiap kafilah akan berjalan ke depan, dan segala sesuatu bergerak maju ke depan. Maka itu, janganlah pernah melawan sunah kehidupan!


[DR. Abdullah Aidh al-Qarni]


_________________________________________


"Kenapa liatin saya gitu?"


Shanum hanya menggelengkan kepalanya dan dengan cepat pula mengalihkan pandangannya dari sosok di sampingnya.


Setelah menunaikan sholat maghrib berjama'ah, kedua anak manusia ini juga mengikuti tahlilan karena ada jama'ah yang mempunyai hajat. Shanum tidak menyangka sosok yang diceritakan oleh Zoeya yang beberapa tahun belakangan ini sering melalaikan kewajibannya dalam beribadah kepada Allah dapat mengimami jama'ah sholat maghrib dengan gagah.


Suaranya pun begitu merdu dan tanpa cacat di telinga Shanum yang berdiri diantara shaf wanita. Lantunannya mengingatkan Shanum kepada syeikh muda yang begitu dikaguminya, apakah Riqhad dapat menirukan berbagai macam suara syeikh dan dari mana dia belajarnya? Perasaan pas awal ketemu, arti akhi aja dia ngga tahu. Pikir Shanum.


"Kamu pasti heran kenapa saya yang ngimamin sholat tadi kan?" Tanya Riqhad menyentak lamunan Shanum.


Keduanya kini berdiri di depan masjid, menunggu mobil yang mereka gunakan sedang dipakai Aufar untuk menemani Zoeya membeli sesuatu. Ketika hendak mengambil wudhu tadi, perut Zoeya terasa nyilu dan ia tahu apa penyebabnya sehingga memberitahukan perihal ini kepada Shanum kemudian Shanum memintanya kembali ke mobil. Dan di mobil ada Aufar yang belum beranjak. Jadilah, Aufar yang direpotkan oleh rengekan Zoeya untuk menemaninya membeli pembalut. Terasa malu memang tapi Oya' masa bodoh saja lah.'


Shanum mengangguk cepat menunggu jawaban dari rasa penasarannya, beberapa jama'ah menyapa mereka ketika melewati gerbang dan mereka pun menyambut ramah.


Tinn... tin....


"Mas sama Mbak belum pulang? Mau barengan nggak?" Tanya pria sepantaran Riqhad dari balik kemudinya.


"Nggak Mas, terima kasih kita lagi nunggu orang jeputan kok." Jawab Riqhad dengan ketus.


Entah mengapa sejak tadi, pria dibalik mobil itu terus saja memandangi Shanum dan hal itu membuatnya risih.


"Ya sudah, mm... Mas bisa ke sini bentar? Ada yang mau saya omongin." Pinta pria itu yang belum juga melajukan kendaraannya.


Dengan kesal karena mata pria tersebut masih saja melirik ke arah Shanum meskipun gadis itu sibuk sendiri dengan ponselnya, Riqhad dengan ogah-ogahan menyambangi pria tersebut.


"Mas mau nanya, itu Adeknya masih sekolah atau udah kuliah ya?" Tanya si pria.


Riqhad mendengus dan menjawab, "masih kuliah. Kenapa Mas?"


"Gini, saya sejak tadi sudah tertarik dengan Adiknya Mas. Kalau Mas tidak keberatan boleh nggak saya-"


Riqhad dengan semena-mena memotong ucapan si pria.


"Tidak! Dia bukan adik saya."


Si pria menjadi kikuk sendiri dan ia melihat guratan kecemburuan di wajah Riqhad. Sepertinya ia telah melakukan hal yang memalukan, mungkin mereka pasutri-pasangan suami istri- pikirnya.


"E-ee anu Mas, maaf-maaf saya ngga tau dia istrinya Mas." Ucapnya dengan sangat menyesal.


"Hm, lain kali jangan sembarangan tanya orang begitu, mana tau kamu sedang meminta istri orang pada suaminya kan ngga lucu." Kata Riqhad dengan wajah datar padahal ada sisi lain yang membuatnya ingin tertawa puas entah mengapa.


"Iya Mas, maaf sudah lancang. Kalau gitu saya permisi, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."

__ADS_1


Jarak mereka yang sedikit jauh dari Shanum membuat gadis ini tidak dapat mendengar isi pembicaraan mereka namun setelah mobil tersebut melaju ia melihat Pak Riqhad tersenyum puas entah apa alasannya.


"Mari mas." Sapa Pria paruh baya yang juga menjadi salah satu jama'ah tadi.


"Mari Pak."


"Siapa tadi Pak?" Tanya Shanum ketika Riqhad telah berada di sampingnya. Mereka duduk di bangku yang tersedia di samping gerbang masjid.


"Ngga tahu, orang iseng tanya jalan." Jawab Riqhad acuh. Shanum hanya memutar matanya malas melihat sikap dosennya ini.


"Terus, lanjutin cerita tadi. Kenapa bisa Bapak yang jadi imam sholatnya?" Tanya Shanum kembali.


"Saya sudah malas ceritanya." Balas Riqhad singkat dan memeriksa ponselnya.


Terdengar decakan dari gadis di sampingnya membuat Riqhad tersenyum tipis dan kembali bersuara, "tadi Kyai yang diundang untuk menjadi imam sholat maghribnya terjebak macet sedangkan waktu sholat udah tiba dan diantara yang hadir nggak ada yang mau jadi imam. Terus ada Bapak-bapak yang langsung menunjuk saya untuk menggantikannya, saya berusaha menolak dan merasa tidak pantas untuk menjadi imam. Sholat saya aja lebih sering bolong. Karena shafnya udah penuh ya saya maju aja." Terang Riqhad dengan pandangan lurus ke depan.


Shanum masih menunggu kelanjutan dari mulut dosennya tersebut.


"Di masjid ini seminggu sekali ada kajian setelah sholat maghrib, jadi pas kita selesai sholat Pak kyainya dateng dan sholat isya diimami oleh beliau." Sambungnya lagi.


Shanum terus saja menatap pria di sampingnya, ia merasa takjub dengan pria ini. Entah mengapa di bawah temaramnya lampu jalan dan bisingan para pengguna jalan raya, rambut Riqhad yang terlihat sedikit basah itu membuat Shanum terpaku dengan sosoknya. Andaikan dia tidak galak dan sering menindasnya Shanum pastikan Riqhad akan menjadi orang yang Shanum kagumi.


"Ehem... kamu nggak takut terpesona natap saya gitu?" Goda Riqhad.


"Jangan-jangan kamu udah terpesona sejak saya mengimamin sholat tadi ya?" Tambahnya lagi.


Suara yang ketika melantunkan ayat-ayat-Nya tadi membuat Shanum terpukau kini terdengar sebaliknya. Menjengkelkan.


Tiin... tiiin...


Keduanya pun menoleh serentak pada sumber suara sehingga pandangan keduanya pun terputus. Shanum lah yang lebih dulu meninggalkan bangku tersebut, dengan langkah cepat ia mengipas-ngipas pipinya yang sedikit memanas dan kembali duduk di bangku penumpang.


Penghuni mobil itu pun telah bertukar posisi dari keadaan sebelumnya. Di mana sekarang, Zoeya tengah tertidur di bangku depan tepatnya di samping Aufar yang menyetir.


Sedangkan Shanum yang terlanjur duduk di bangku belakang menjadi tegang ketika Riqhad mendudukkan bokongnya bersebelahan dengannya.


"Kok lama?" Tanya Riqhad pada pria di depan.


"Zoeya tadi nangis-nangis dan minta makan. Ya kita makan dulu lah, dari pada aku malu dikira ngapa-ngapain adekmu, Bang." Timpal Aufar dengan nada yang informal sekali.


Riqhad hanya menatap tajam pada pria tersebut, lalu memperhatikan adiknya yang terlihat nyenyak. Riqhad tahu jika sedang datang bulan Adiknya akan sering nangis dan marah-marah tidak jelas. Jika ia membangunkan Zoeya maka tak menjamin ketenangan di mobil ini. Kemudian ia menghela nafas dan menatap gadis di sampingnya yang terlihat salah tingkah. Lucu sih.


"Abang mau ganti posisi?" Tawar Aufar yang belum menjalankan mobilnya.


Entah apa yang dipikiran Riqhad mendengar tawaran Aufar, setelah beberapa saat berpikir ia pun berkata,


"Enggak. Kamu nyetir aja."


***


Setelah melewati perjalanan kurang lebih 3 jam, mobil yang dikendarai Aufar telah sampai di gerbang sebuah rumah yang menjadi tujuan mereka. Pintu gerbang dibuka, mobil itu pun masuk perlahan.


Beberapa mobil telah terparkir rapi di garasi, Aufar mematikan mesin mobil dan memperhatikan para penumpang yang tidak tahu diri. Dia dibiarkan mengemudi sendiri dengan kebisuan, sedangkan ketiganya dengan seenak jidatnya memejamkan mata masing-masing dengan khusu' seolah tak mau diganggu.

__ADS_1


"Berasa jadi supir beneran nih gue." Batinnya.


Matanya melirik gadis di samping, ketika hendak memindahkan beberapa helai rambut Zoeya yang menutupi wajah lelapanya, secara refleks tangan gadis itu menangkisnya.


"Mau apa loe! Jangan kurang ajar ya." Ucap Zoeya dengan mata nyalang seolah tak seperti orang yang baru saja terbangun dari tidur. Ajaib.


Aufar salah tingkah dan menepuk-nepuk pundaknya seakan mengacuhkan Zoeya, "aduh! Pegel banget gue." Timpal Aufar kemudian keluar dari mobil.


Zoeya melongo dan mengerjap beberapa kali. Kemudian ia tersadar bahwa mobil tidak lagi berayun pertanda mereka telah sampai ke tujuan.


Ketika hendak mengikuti Aufar keluar dari mobil, tanpa sengaja mata Zoeya memperhatikan kaca kecil di depannya yang memperlihatkan dua sosok yang dikenalnya. Zoeya tersenyum simpul dan mengeluarkan handphone dari jaketnya. Dan setelah puas memandangi ponselnya dan menscrollnya berkali-kali barulah gadis itu membangunkan keduanya.


***


SAH!!


SAH!!


"SAH"


Alhamdulillah


Derai tangis meyeruak dari balik mata bening gadis kecil itu, ia bingung dengan apa yang telah terjadi. Yang ia tahu, ia hanya menyelamatkan sosok yang hampir mati terbunuh dan membawanya serta merawat luka yang masih baru dari tubuh orang itu.


Setelahnya, ia merasakan seseorang memukul pundaknya dan ketika ia tersadar tak ada sehelai benang pun ditubuhnya kecuali dua benda yang menutupi dua hal berbeda. Ia menangis akibat kebingungan yang terjadi, kemudian ia melihat orang yang ia bantu ada di sampingnya tengah menatapnya dengan wajah yang sama bingungnya.


Beberapa saat kemudian pintu di depan mereka terbuka dan beberapa pria tertawa memperhatikan keadaannya. Dia bingung dan tidak tahu siapa mereka, yang ia tahu di balik mereka ada sosok pria yang ia sayangi. Ayahnya melihatnya iba dengan deraian air mata, ia menangis sesegukan ketika Ayahnya menghampirinya dan memeluknya berusaha meredam tangisnya.


"Kamu sabar ya Nak, ini ujian. Kamu dijebak! Ayah akan berusaha menyelamatkanmu." Bisik Ayahnya.


Kemudian mereka pun meyeret pria seumuran Ayahnya yang tadi berada di satu ranjang dengannya. Setelah memakai pakaian yang telah disiapkan untuknya, gadis kecil itupun mengikuti langkah Ayahnya yang menuntunnya keluar. Hingga ketika ijab qhabul selesai diucapkan, wajah bingung dan sedihnya berubah menjadi datar. Pikirannya kosong, apa sebenarnya ini semua.


Beberapa pria seram tadi menyampaikan maksud dan tujuan mereka, kemudian muncul satu pria lainnya yang wajahnya tak kalah sangar. Ia tertawa puas setelah menyaksikan keinginannya berjalan lancar, meskipun rencana awalnya gagal namun itu tergantikan dengan rencana licik dadakannya ini.


"Ini balasan untuk kamu yang telah melawanku dan memperoleh semua yang aku inginkan. Kamu menghancurkan ambisiku. Maka nikmatilah kehancuranmu." Ucap pria tersebut kepada pria yang terluka lalu pergi meninggalkan ruangan sempit ini.


"Ayah... Ayah... apa ini semua. Apa yang terjadi barusan... hiks...." Teriak gadis itu dengan tangisan pilunya.


Sang Ayah menenangkan putrinya dan  mulai berfikiran jernih, ia mendengar penjelasan dari pria yang masih terluka tersebut hingga ia mengetahui semua kebenaran dan kenyataan yang terjadi. Ia bernafas lega karena pernikahan jebakan ini terjadi dengan unsur paksaan dibawah tekanan.  Maka langsung saja mereka membatalkan pernikahan dengan talak.


Namun, setelah dua pria dewasa tersebut berkompromi dan mengatur rencana untuk membalas orang yang menjebak mereka. Pria yang terluka itu meminta bantuan dari ayah si putri untuk menggagalkan rencana jahat dari saingan bisnisnya yang telah gagal melaksanakan rencana pembunuhan terhadapnya sehingga menjebaknya menikahi seorang anak yang seumuran dengan putrinya di rumah. Kemudian Sang Ayah itu pun menerima usulan tersebut dan setelah menjelaskan rencananya maka pria tersebut meminta ayah dari gadis belia itu untuk menemui seorang wanita yang bisa membantu mereka, Syafiah atau dikenal sebagai Sofie.


"Shan... Shan... bangun.... kita udah nyempe nih." Usapan lembut meyadarkan gadis berkerudung yang terlelap dan tenggelam dalam ingatan masa lalu seseorang yang sangat menyedihkan.


Peluh membasahi kerudungnya, bersyukur Zoeya membangunkannya dari ingatan buruk tersebut. Mimpi yang telah lama tidak menghampiri tidurnya kini kembali lagi, wajah cemas Shanum membuat Zoeya bingung dan gadis tersebut menyerahkan tisu pada Shanum untuk menghapus keringatnya.


"Eh, kok nangis?" Tanya Zoeya yang melihat air mata meluncur dari sudut mata Shanum. Ia bingung dengan apa yang terjadi pada sahabatnya ini, bukankah tadi ia tertidur nyaman dan tidak terlihat guratan sedih di sana. Shanum kembali menerima tisu dari Zoeya dan mengapus air matanya.


"Hanya potongan ingatan yang tidak mengenakkan." Jawab Shanum setelah mengeringkan wajanya dari air mata dan keringat.


Zoeya hanya diam memperhatikan Shanum merapikan pakaiannya. Kemudian, mereka pun turun dari mobil. Sementara itu, di teras terlihat dua pria sedang menunggu mereka dengan banyak barang bawaan di tangannya masing-masing.


"Woy, gitar Oya kok nggak dibawa masuk!" Teriak Zoeya.

__ADS_1


__ADS_2