A

A
EXTRA PART DUA


__ADS_3

Rasa takut (segan) terhadap manusia jangan sampai menghalangi kamu untuk menyatakan apa yang sebenarnya jika memang benar kamu melihatnya, menyaksikan atau mendengarnya.


(HR. Ahmad)


_________________________________________


Weekend. Setelah selesai ngegym bersama Nabil dan yang lainnya, Aufar memilih berada di kafe untuk melanjutkan tugas maket yang baru satu minggu digarapnya itu.


Akhir-akhir ini ia memang jarang menghabiskan waktu di kafe miliknya yang telah berkembang ini karena ia lebih sering melibatkan diri di perusahaan Gilan. Itung-itung belajar, toh setelah ini ia akan berkecimpung di dunia yang sama dengan sepupunya.


Melanjutkan kuliah di jurusan yang tidak ia inginkan bukan berarti ia telah kembali tinggal di rumahnya, buktinya sampai sekarang ia masih berada di kediaman Om dan Tantenya atau orang tua dari Gilan. Apalagi sejak Gilan telah berkeluarga dan tidak lagi tinggal di sana. Hingga rumah Om dan tantenya menjadi sepi. Mereka pun menahan Aufar untuk tinggal di sana lebih lama lagi.


Apakah Aufar tidak merindukan orang tua dan rumahnya sendiri? Ah, rindu jangan ditanya dan sedih jangan ditukas sebab apapun bentuknya tak mampu ia jelaskan dengan kalimat yang singkat.


Papanya memang telah membuktikan kesalahpahaman yang tak dipercayainya, tapi itu bukan lagi alasan untuk Aufar menjauh dari rumah. Karena cukup sering dipaksa untuk mengerjakan apa yang dikehendaki Papanya, hal itu membuat Aufar tak betah saja. Sudah baik Aufar masih mau kembali mengikuti permintaan untuk kuliah dijurusan yang bukan kemauannya. Jadi, biarkan Aufar memberontak sedikit lagi toh ia masih tetap menjaga nama baik Papanya itu. Papa yang pernah membuat Aufar merasa hambar untuk berada di pelukannya, kecewa dimasa lalu memang sudah hilang tapi ia masih gengsi mengatakan 'maaf' ataupun ungkapan lainnya.


Untung saja ada Gilan dan keluarganya yang mau mendukung apa yang Aufar kerjakan selama ini hingga ia tak harus kembali kepelukan orang tuanya lebih cepat. Alasan lebih jauh lagi, karena Aufar terlanjur nyaman dengan kesehariannya ini.


Ya, pada akhirnya nanti tetap saja Aufar akan menyelesaikan studi di jurusan ini hingga ikut ambil andil di perusahaan Papanya kelak namun selama proses menuju itu semua, ia ingin bebas dari aturan dan tidak dikekang dalam menjalankan semua hal yang ia suka.


Saat kesal melihat kepingan bahan maket menyebalkan di mejanya, Aufar memilih memainkan ponselnya. Memeriksa akun media sosial yang lebih tepatnya menstalker akun Zoeya.


Ia teringat dengan pujian dari Zoeya untuknya beberapa hari yang lalu saat di kantin kampus. Hanya satu yang belum terealisasikan oleh Aufar, yaitu memiliki Zoeya.


"Kalau sama-sama suka dan berada dalam posisi hati yang sama, mengapa dia harus menciptakan jarak hingga menjauhiku? Bukanlah keluarganya juga telah memberiku lampu hijau untuk mendekatinya selama ia merasa nyaman? Lantas apa penyebabnya?" Batin Aufar menerka.


"Apa karena Ardan gagal nikah hingga Zoeya berpikir masih punya kesempatan untuk bersamanya? Tapi, nggak mungkin. Zoeya tak seperti itu, ia pantang memungut kembali apa yang pernah ia relakan." Pikir Aufar.


"Tunggu Oya, sesuai permintaan keluargamu padaku. Aku harus lulus kuliah terlebih dahulu agar bisa melangkah lebih maju untuk bersamamu. Aku janji secepatnya akan mengikat janji denganmu hingga berjanji tak akan mengingkari janji. Untuk sekarang, aku tak punya hak dan keberanian lebih jauh lagi, apalagi memaksa mendekatimu. Karena disukai oleh keluargamu saja aku sangat bersyukur." Lirihnya.


Aufar menghela nafas, kadang juga bingung melihat tingkah Zoeya yang memang terlihat aneh akhir-akhir ini. Tak seperti sebelumnya. Selain tidak mau berdekatan dengan Aufar dan didekati Aufar, Ia juga lebih sering memosting kutipan-kutipan hadist ataupun potongan ayat Al-Qur'an di media sosialnya. Lihatlah, Zoeya saja menghapus semua foto-foto saat gadis itu belum mengenakkan kerudung dan tak memposting gambar-gambar cantiknya lagi.


Oya berubah, semakin tertutup saja. Pikir Aufar sambil memandangi benda pipih ditangannya.


Semakin Aufar memikirkannya semakin ia dibawa ke arus hidup beberapa tahun yang lalu saat mereka terlihat mengenakkan setelan putih abu-abu kebanggan. Awal kali pertama Aufar berjumpa sosok Zoeya dengan kesan yang sangat tidak baik dan bahkan membuat Zoeya begitu membencinya.


Hingga tanpa diduga, Aufar telah jatuh terlalu jauh pada pesona Zoeya si gadis bullyan.


Flashback 'Author POV' - On


Zoeya menyeret kedua kaki jenjangnya yang dibalut rok putih abu-abu selutut dan bersembunyi di gudang yang terpisah dengan bangunan sekolah. Ia berlari menghindari kejaran kakak kelasnya yang selalu mengusilinya.


Sekolah memang telah sepi sedari setengah jam yang lalu, sebab jam pulang sekolah telah terlewati. Namun, Zoeya tidak bisa mencapai gerbang sekolah dengan damai karena ia dihadang oleh Priska dan kawan-kawannya.


Zoeya terengah-engah sambil menghapus peluh yang memenuhi wajah dan lehernya. Katanya sekolah adalah tempat teraman dan bebas dari perpeloncoan seperti zaman dulu. Tapi apa? Yang ia dapatkan tak begitu, ia dihadapkan dengan suasana sekolah yang mengerikan.


Baru saja ia bahagia karena telah berganti status dari anak SMP menjadi SMA dan dari menggunakan seragam putih biru hingga putih abu-abu. Baru saja ia senang menginjakkan kakinya di sekolah baru, bahkan Masa Orientasi Sekolah pun baru beberapa minggu yang lalu dilaksanakan tapi naasnya ia telah ditargetkan oleh kakak kelasnya bernama Priska dan teman-temannya yang lain sebagai objek keusilan mereka yang kadang melewati batas. Bullying, Zoeya benci kata itu.


Setelah menutup pintu gudang, Zoeya berjongkok di salah satu sudut gudang yang pengap dengan senyap. Baru saja ia ingin menghela nafas lega sebab Priska tak bisa menemuinya tapi sayup-sayup ia mendengar beberapa langkah kaki yang semakin mendekat ke pintu gudang.


Hingga pintu yang beberapa saat lalu Zoeya tutup dengan tangannya sendiri itu dibuka dari luar dan menimbulkan suara keras yang memekakkan telinga.


Brukk...


Dua orang muncul dari balik pintu dan salah satu dari mereka mendorong yang lainnya hingga tergeletak di lantai gudang yang kotor ini.


"Cupu, gue ngga mau tahu pokoknya loe harus bersihin ini gudang sebersih-bersihnya. Karena besok gue mau jadiin gudang ini sebagai basecamp gue dan teman-teman gue! Paham loe!" Suara mengancam itu mengenai indera pendengar Zoeya. Ia ketakutan dan semakin merapatkan diri ke tembok, takut keberadaannya diketahui oleh laki-laki yang berteriak sana.


'Ternyata bukan kak Priska dan kawan-kawannya. Oya pikir mereka.' Batin Zoeya.


Zoeya mencuri intip dibalik kursi yang salah satu kakinya patah. Kursi yang menjadi tempat berlindungnya.


Ternyata bukan hanya dia saja yang menjadi objek bullyan di sekolah ini. Laki-laki berkacamata di sana juga. Dan ternyata Priska bukanlah satu-satunya siswa yang sok berkuasa dengan hobby menindas tanpa alasan yang jelas, laki-laki di sana juga. Tapi sayang, Zoeya tak bisa mengetahui rupa orang yang iseng membully itu. Setengah wajahnya tertutup badan lemari kusam yang berada di samping pintu yang masih terbuka.


Tak mendapat tanggapan dari objek bullyannya, laki-laki yang berdiri itupun melempari laki-laki berkacamata itu dengan kain lap dan sapu. Tangkai sapu itu mengenai wajah si objek bullyan hingga kacamata yang ia pakai jadi sedikit miring.


Setelah puas, pembully yang tidak diketahui rupanya oleh Zoeya itupun berlalu ke arah pintu begitu saja. Saat pintu tertutup dari luar, suara sautan tawa pun menggema. Memang, para pembully pasti memiliki komplotan dibelakangnya. Dan juga, bersamaan itu terdengar suara perempuan yang memanggil-manggil nama yang terdengar asing oleh Zoeya tapi Zoeya sangat mengenal suara perempuan itu.


Dia adalah Priska, orang pertama yang tak ingin Zoeya jumpai dan orang pertama yang ingin Zoeya hindari. Si kakak kelas berwajah cantik namun bisa berubah menjadi iblis jahat jika berhadapan dengan Zoeya. Keluguan dan kelembutan Zoeya yang berpadukan dengan kecantikannya membuat Priska dan teman-temannya bersemangat mengusili Zoeya sebab Zoeya tak bisa melawan bahkan membela diri. Lebih dari cupu, lugu, lemah dan sok lembut. Pikir mereka.


Zoeya masih betah berada dibalik kursi lumpuh ini saat suara bising di luaran sana telah mengudara pergi. Ia beralih mengamati laki-laki berkacamata yang belum beranjak juga dari lantai berdebu itu. Hingga beberapa saat berselang, terdengar suara lemparan suatu benda ke arah tembok gudang bagian depan.


Disertai geraman, sapu bertangkai besi ditangan pria berkacamata itupun bengkok tak elok. Kain lap ditanggannya pun tak elak menjadi objek kekesalannya.


"Gue benci loe, Aufar! Gue benci loe!"


"Gue bakal bales perlakuan loe ini! Pasti! Meski dalam bentuk lain, balasan dari gue pasti loe terima!" Teriak pria berkacamata dengan netra yang memerah marah.


Ia membetulkan letak kacamatanya seraya merapikan pakaiannya yang dipenuhi debu dibagian belakang.

__ADS_1


"Gue nggak tahan lagi sekolah di sini!"


"Gue dihina, dicaci dan direndahkan oleh mereka. Apa salahnya menjadi anak wanita simpanan? Semua itu diluar keinginan gue, tapi gue nggak mau benci Mama. Menurut orang Mama memang buruk tapi bagi gue Mama tetap seorang bidadari tak bersayap." Timpalnya dengan suara melemah.


Tanpa mengindahkan perintah dari sosok bernama Aufar, ia pun bergegas meninggalkan gudang dengan rasa sakit di dadanya.


"Oh, jadi nama cowok yang tadi itu Aufar?" Gumam Zoeya sambil melirik punggung laki-laki itu yang menjauh.


Zoeya ikut terenyuh menjadi saksi dari pengakuan orang yang tak dikenalinya itu, berarti masih ada yang memiliki masalah lebih berat dari apa yang ia tanggung. Tak hanya keluarganya saja yang diuji, banyak keluarga-keluarga orang di luar sana yang juga mendapat ujian dari Tuhan meski dalam bentuk berbeda.


Zoeya bersyukur bahwa keluarganya masih baik-baik saja hingga sekarang meski tanpa ada lagi sosok Papa dihidupnya. Meski salah satu Abangnya tak lagi tinggal satu atap dengannya. Zoeya patut bersyukur menjadi putri dari Keluarga Okhtara.


Zoeya menghela nafas, seakan lupa dengan niat awal ia berada di ruang kumuh ini. Menghindari kakak kelas, telah berhasil ia lalui untuk hari ini. Entah bagaimana besoknya.


Mendengar nama baru yang disebutkan laki-laki berkacamata itu, Zoeya menjadi semakin penasaran dengan rupa si Aufar itu. Hari ini Zoeya mengetahui bahwa ada satu lagi sosok trouble marker di sekolahnya bernama Aufar dan ada satu siswa yang bernasib sama dengannya. Objek bullyan. Miris.


Drtt... drrt...


Zoeya menghela nafas lega saat ponselnya berdering. Layar benda pipih ditangannya sudah menunjukkan pukul 15:45 WIB. Terlalu sore untuk masih berada di sekolah menurutnya, pantasan saja Abangnya menghubungi pasti mau jemput, pikirnya.


"Hallo, Bang." Sapanya.


"Kamu di mana?"


"Masih di sekolah. Ini mau pulang, Abang jemput kan ya?"


"Aduh, Abang masih di kantor nih. Bentar lagi mau ikut meeting bareng Om. Tapi, kamu dijemput Ardan aja. Dia udah jalan dari tadi, tungguin aja!"


Zeoya tak bisa menyembunyikan senyum sabit di bibirnya. Ia senang karena Abangnya meminta orang yang ia sukai untuk menjemputnya.


"Oke, Bang. Nggak apa-apa. Oya tunggu ya!" Jawab Zoeya dengan semangatnya.


Tut.


Thoriq menutup panggilan teleponnya dan meninggalkan Zoeya yang hatinya tengah berbunga. Ardan akan menjemputnya, bagaimana jika mereka tidak langsung pulang saja? Nonton bioskop atau jalan-jalan sore kedengarannya asyik. Pikirnya.


Zoeya memang tidak berusaha menyembunyikan ketertarikannya pada sahabat Abangnya sendiri, Ardan sapa akrab pria itu. Zoeya mengenalnya sejak Abangnya dan Ardan masih duduk di bangku SMA. Thoriq sering membawa Ardan main ke rumah mereka hingga Zoeya yang sedang mengalami masa puber itu pun terjerat virus merah muda. Melihat rupa tampan Ardan, sifat dan sikap yang ia miliki serta caranya menanggapi Zoeya tak elak Zoeya menjadi berharap lebih pada pria seusia Abangnya itu.


Meski tidak pernah ditanggapi lebih, Zoeya akan berusaha menarik perhatian Ardan bagaimanapun caranya. Toh, ia masih muda dan cantik. Lambat laun Ardan pasti akan meliriknya. Pasti! Yakinnya.


Zoeya berdiri dan meregangkan tubuhnya yang terasa sedikit sakit karena berjongkok tadi. Kemudian ia bergegas menuju pintu. Saat tangan kanannya terangkat hendak membukakan pintu, pintu di depannya ini pun lebih dulu dibuka dari luar.


Deg


Sosok itu juga tak kalah memandanginya kaget, hingga mata keduanya pun sama-sama terpenjara dalam lautan tatapan pertama. Memandang lamat-lamat seolah dapat mengetahui segala sesuatu yang ingin mereka ketahui dari balik iris masing-masing.


Tanpa berkutik dan berkata sepatah kata pun, laki-laki itu memindah dan memutuskan pandangannya dari mata cantik Zoeya hingga menelusuri isi ruangan di belakang tubuh Zoeya.


"Minggir." Ucap Zoeya saat menyadari kedekatan mereka. Risih.


Laki-laki di depannya masih tak mau beranjak, malah ia semakin melangkah maju yang mau tidak mau membuat Zoeya memundurkan tubuhnya memasuki kembali ruangan di belakangnya lebih dalam lagi.


"Eh, minggir dong." Ucap Zoeya lagi saat ia dihadang dan tak diberi luang untuk pergi.


"Loe siapa?" Tanya laki-laki itu pada Zoeya sambil menatap Zoeya yang tak menanggapinya bahkan bergerak tak karuan berusaha melewati tubuhnya.


Sambil menelusuri sudut gudang, ia kembali mengulangi ucapannya, "Cewek! Jawab gue, loe siapa? Di mana Isrof?" Tanyanya keras.


"Aku nggak ada waktu buat kenalan, Kak. Aku mau pulang, udah sore ini. Minggir dong, Kak." Jawab Zoeya yang menggunakan panggilan Kakak pada orang di depannya agar ia mau mendengar perkataannya.


Tapi sayang, ia tak mengindahkan raut memohon Zoeya, bahkan ia semakin mengeratkan cengkramannya di salah satu lengan Zoeya.


"Oke, loe nggak mau sebutin nama loe! Ngga penting juga, sih! Tapi, gue mau nanya serius... ngapain loe di gudang, hah? Dan dimana Isrof?" Bentaknya.


Zoeya yang memiliki sifat aslinya cengeng dan mudah mengiba itupun berkaca-kaca karena dibentak. Dengan kedua mata yang mulai mengembun, ia pun menunduk. Mulai terisak.


"Nggak usah akting nangis deh! Ngapain loe nyembuniin anak simpanan itu hah!" Kembali ia membentak. Kesal melihat perempuan yang lemah di depannya ini.


Zoeya masih menunduk dan diam saja ketika tubuhnya diguncang oleh laki-laki di depannya ini.


"Lepasin tangan kamu!" Ucap pria yang baru muncul dari pintu gudang. Mendengar suara yang ia kenal itu membuat Zoeya bernafas lega dan mengangkat wajahnya yang memerah.


"Huh, siapa bilang aku akting nangis, ini nangis beneran tahu!" Ingin sekali Zoeya berteriak mengatakan itu pada laki-laki di depannya tapi ia urungkan saja. Mendapat perlindungan dari Ardan, membuat Zoeya berani melotot menghadap laki-laki yang mencengkeram lengannya.


Hilang fokus, cengkraman dilengan Zoeya itupun perlahan melemah. Zoeya tak menghilangkan kesempatan lagi, dengan cepat ia pun berpindah ke sisi Ardan.


"Bang Ardan, yuk kita pulang. Oya capek." Ajak Zoeya dengan menarik-narik kemeja Ardan sambil menghapus jejak ketakutannya. Namun, pria bernama Ardan ini tak sedikitpun beranjak. Ia balas menatap laki-laki yang lancang mencegat Zoeya di gudang belakang sekolah ini.


"Kamu siapa? Berani membuat dia menangis begini? Punya hak apa kamu hah?" Tanya Ardan sambil menarik kemeja sekolah orang di depannya.

__ADS_1


Zoeya berusaha melerai keduanya namun laki-laki berseragam SMA itu juga ikut terpancing emosi hingga balas mencengkram balik kemeja Ardan. Tinggi badan yang sama membuat keduanya mudah untuk saling menumpahkan emosi lewat tatapan mata.


"Aufar, kok lama banget sih loe! Anak-anak udah siap semua tuh!" Suara lainnya muncul hingga dengan perlahan dua laki-laki yang masih bersitegang itupun melepaskan cengkraman masing-masing. Sama-sama menurunkan ego tentunya.


Zoeya bergegas menyeret Ardan pergi, tapi dari sudut matanya ia masih sempat melirik pria bernama Aufar. "Jadi, dia yang ngebully cowok tadi? Aufar? Semoga Oya nggak lagi berurusan dengan dia." Batin Zoeya.


Aufar melihat kepergian keduanya dengan pandangan berbeda dari sebelumnya, ia tersenyum samar saat mengetahui cewek itu juga memandanginya dari sudut mata beningnya. Imut.


Setelah menjelaskan dengan singkat kronologis kejadiannya pada temannya itu, Aufar pun mulai melangkah meninggalkan gudang untuk menemui teman-temannya yang telah menunggunya di parkiran sana.


Namun sampai di langah ketiga sepatunya menginjak sesuatu yang kecil namun sedikit keras. Ia menunduk dan perlahan mengambil benda yang diinjaknya. Sebuah name tag, ternyata.


"Zoeya Maisya Okhtara." Gumamnya.


Flashback 'Author POV' - Off


Aufar melempar tubuhnya di kursi kerjanya, bosan mengerjakan maket seorang diri. Ya mau bagaimana lagi, meski terpaksa Aufar tetap harus semangat untuk memperoleh gelar Sarjana Arsitektur (S.Ars) setidaknya hanya ini yang bisa ia persembahkan untuk Papa dan Mamanya.


Ah, Aufar rindu mereka. Sudah seminggu ia tak mendengar kabar dari keduanya, biasanya Mamanya lah yang sering menghubunginya melalui Gilan ataupun langsung.


"Mas Bos, ada yang mencari di luar." Ucap salah satu karyawan Aufar.


Aufar menatapnya kesal karena masuk tanpa permisi ke ruangan pribadinya.


"Sudah saya ketuk pintunya, tapi Mas Bos ngga denger." Jawabnya lagi seolah paham arti tatapan dari Bosnya.


"Siapa?" Tukas Aufar seraya membereskan meja kerjanya yang dipenuhi bahan maket.


"Orangnga cantik, Mas Bos." Jawab karyawan Aufar sambil tersenyum menggoda.


Mendengar jawaban itu membuat Aufar menegakkan tubuhnya seraya tersenyum.


"Berkerudung?" Tukasnya lagi dengan tak sabaran.


Karyawannya mengenyit, hingga menggeleng, "tidak."


Aufar pun mendengus sebab perkiraannya meleset, ia pikir Zoeyalah yang mencarinya. "Mana mungkin Zoeya ngehampirin loe, Far. Loe kejar dia aja, dia lari." Batin Aufar menyadarkan.


"Terus?" Dengan tak semangat, Aufar memilih memainkan ponselnya sebentar. Memperhatikan deretan chat yang tak dibalas singkat oleh Zoeya. Ada sih beberapa yang dibalas panjang, tapi itu menyangkut dengan Shanum ataupun Khalilla. Ketika Aufar mengajaknya bertemu dan menghabiskan waktu bersama, Zoeya malah menutup mata hingga mengabaikannya.


"Pakaiannya sexy, bohay banget Mas Bos. Bisa banget Mas Bos cari cewek. Katanya dia pacarnya Mas Bos." Tanpa sengaja, ponsel ditangan Aufar pun terhempas di meja. Kaget pastinya.


"Apa? Berani banget ngaku-ngaku!" Aufar marah tapi tak mengurangi rasa penasarannya. Siapakah gerangan yang mencarinya dan mengaku-ngaku sebagai pacarnya. Toh, sejak mengenal Zoeya Aufar tak pernah berhubungan dengan perempuan lain lebih dari berteman biasa.


Aufar pun turun ke lantai bawah yang diikuti oleh bawahannya. Kafe cabang milik Aufar ini memiliki dua lantai yang digunakan untuk pengunjung dan satu lantai sebagai kantornya yang berbagi dengan satu ruang privat atau VVIP yang biasa digunakan oleh banyak orang untuk acara besar.


Sampai di meja nomor 02, Aufar disuguhkan dengan penampakan wanita cantik yang membelakanginya. Rambut panjangnya berwarna pirang dan menggunakan pakaian yang begitu terbuka. Siapa? Ia menerka.


Setelah berdehem bermaksud menunjukkan keberadaannya, wanita itu pun sontak memutar tubuhnya. Senyumnya mengembang ke arah Aufar dan tanpa permisi ia menggandeng lengan Aufar dengan sedikit posesif.


"Sayang, akhirnya kita ketemu juga." Ucapnya dengan suara manja.


Deg


Aufar bingung dan tak bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi disini, dihari ini. Sayang? Siapa yang jadi sayang disini? Pikirnya.


Belum selesai kebingungannya, ia dibuat pusing melihat sosok berkerudung maroon yang baru saja melewati pintu utama kafe. Zoeya datang menggandeng wanita yang sangat Aufar rindukan dan wanita yang tidak ia dengar suaranya seminggu ini, Mamanya.


Zoeya berdiri datar menyambut pemandangan di depannya, melihat Aufar yang juga memandanginya dengan pandangan memohon entah apa maksudnya.


Aufar melepas rangkulan wanita tak dikenalnya ini. Memandang Zoeya dalam, berusaha mengelak apa yang berusaha Zoeya pikirkan mengenainya. Semoga saja Zoeya tak berpikir macam-macam.


"Aufar, Mama rindu." Wanita di samping Zoeya tak ingin menunggu lagi. Ia pun mendekat ke arah Aufar hingga merentangkan kedua tangannya.


Aufar yang tak ingin berada di samping wanita yang tidak dikenalinya ini tentu saja memilih menyambut pelukan rindu dari Mamanya tanpa mengubris serta menimpali aura tidak terima dari wanita aneh yang memanggilnya 'sayang'.


"Sayang, kamu ngapain di kafe sini? Kan kafe aku di seberang sana." Ucap sosok pria asing yang baru muncul dengan tergesa-gesa.


Aufar, Zoeya dan Mamanya Aufar memandangi dua orang asing tersebut dengan heran. Karyawan dan pelanggan pun tak kalah sama, drama apa ini? Pikir mereka.


Wanita yang memanggil Aufar 'sayang' tadi terlihat bingung dan setelah menerima penjelasan dari pria yang baru muncul, ia menyadari bahwa ia salah alamat. Pacarnya ternyata pemilik kafe di seberang kafenya Aufar. Ya, beginilah jika kenalan dan pacarannya lewat media sosial, gambar profilnya bukan wajah aslinya. Bingung ketika bertemu langsung hingga bisa salah mengenali.


Wanita itu meminta maaf dan pamit bersama kekasihnya meninggalkan kafe Aufar dengan wajah memerah menahan malu.


Sedangkan Aufar menghela nafas lega sembari mengelus dada, hampir saja ia akan terlibat masalah jika Zoeya berpikir yang tidak-tidak mengenainya.


Aufar pun tersenyum lembut ke arah Zoeya, dengan menggandeng Mamanya Aufar mempersilakan keduanya menuju ruangan pribadinya di lantai paling atas.


Meski Zoeya menolak keras, berkat Mama Aufar, Zoeya pun terpaksa mengikuti mereka. Padahal, niat awalnya hanya untuk mengantar Mama Aufar ke sini. Ia bertemu Mama Aufar saat mobil yang dikendarai wanita itu mogok di jalan hingga Zoeya menawari untuk mengantarnya. Tak Zoeya sangka bahwa putra dari wanita yang dibawanya adalah Aufar. Sosok yang akhir-akhir ini berusaha Zoeya hindari sebab Zoeya ingin berusaha berubah menjadi lebih baik, tidak seperti dulu yang heboh jika mengekspresikan perasaannya. Zoeya juga tak ingin terlibat perasaan liar sebelum waktunya.

__ADS_1


__ADS_2