
PART 37 - GULING KESAYANGAN
-Bertemu sosok menyebalkan dan kemudian menjadi mahasiswi dimata kuliahnya. Takdir tak berhenti di situ, ketika Pak Dosenku menjadi tamu dihatiku -
(Shanum)
_________________________________________
Beberapa hari telah berlalu, kini Shanum sedang menyiapkan bahan presentasinya. Wajahnya terlihat sedikit murung dan sedih, sebab kedua sahabatnya masih saja menghindarinya. Shanum belum berani untuk menceritakan pernikahannya dengan Riqhad pada mereka, memang ini salah Shanum tapi Shanum sangat bingung ingin memulai dari mana.
Meskipun kedua sahabatnya itu menghindarinya, Shanum tetap bersikap tebal muka seolah tak terjadi apa-apa dan seperti biasa saja. Shanum tetap menyapa mereka meski tak ditanggapi.
Beberapa hari ini Shanum juga mendapat bagian untuk mengambil tugas dari Riqhad. Ya, Suaminya yang menjadikannya sebagai Asisten itu menghadiahi Shanum tanggung jawab untuk menggantikannya. Karena Riqhad sedang mengurusi urusan kantor yang sekarang ditinggalkan oleh CEOnya.
Thoriq pergi ke kota asal Syafiqa yaitu Bogor, dia ingin menemui Ibuk Tanti dan menjelaskan semua kebenarannya. Hal itu hanya diketahui oleh Shanum dan Riqhad saja. Sesuai dengan kesepakatan keduanya, Riqhad dan Shanum berusaha menyatukan hubungan syakral Thoriq dan Syafiq hingga Thoriq memantapkan dirinya untuk pergi ke sana, di Panti Asuhan Al Haris karena Syafiqa katanya kembali lagi ke sana setelah kemarin berada sebentar di Jakarta.
Riqhad semalam tidak kembali ke rumah karena lembur di kantor. Ia meminta maaf pada Shanum karena tidak bisa mengusilinya. Shanum menjadi kesal mendengar perkataan suaminya ketika mereka ber-videocall semalam.
Meski tak berada di ruangan yang sama, melalui audio-visual dari handphone masing-masing, Riqhad masih saja menebar kata-kata yang berindikasi membuat Shanum merasakan rindu akan kehadirannya.
Jam menunjukkan pukul 07.30 WIB. Shanum sudah siap untuk berangkat ke kampus, hari ini adalah hari terakhir ia menggantikan Riqhad untuk memberi kuliah jika pria itu belum menyelesaikan pekerjaan di kantor. Semalam Riqhad telah megiriminya email tentang materi kuliah untuk kelas sebelah. Katanya Riqhad akan kembali pagi ini namun batang hidungnya belum tampak juga.
Shanum menghela nafas, nampaknya ia harus kembali memberanikan diri menjalankan amanat dari Dosennya itu untuk memberi kuliah di ruangan seniornya. Memikirkan itu membuat Shanum gemetaran ditambah lagi masalah sahabatnya yang mendiaminya. Shanum memantapkan diri untuk jujur kepada mereka, jika tidak nanti mungkin besok saja setelah meminta izin pada Riqhad tentunya.
Shanum merapikan kerudungnya, kemudian ia menyampirkan ranselnya sambil memeluk map berisi bahan presentasi. Mungkin Pak Udin sudah menunggunya di bawah.
Di Ruang Keluarga
Mama Hasna baru saja menutup telepon rumah mereka, kiranya diseberang sana putrinyalah yang menelepon. Zoeya memang tidak tidur di rumah tadi malam karena ia tengah mengerjakan desainnya yang kedua sehingga ia memilih fokus di luar sana. Ia menelepon sebab meminta mamanya menyampaikan pada Shanum untuk membawakan pakaian dan kerudungnya, Zoeya tak sempat pulang pagi ini.
Beberapa saat kemudian, bel rumah berbunyi. Bi Ipah tergopoh-gopoh membukakan pintu hingga muncul sosok pria yang terlihat begitu kusam dengan wajah lelah.
"Assalamu'alaikum, Ma." Sapa Riqhad menghampiri Mamanya.
Riqhad pun menyalami Mamanya seraya memeluk wanita yang melahirkannya ini. Mama Hasna tersenyum dengan apa yang dilakukan Riqhad, beberapa hari belakangan ini putranya tak pernah lupa mengucap salam dan menyalaminya jika hendak pergi atau baru kembali. Riqhad melakukan itu sejak menyaksikan Shanum yang selalu melakukan hal tersebut seperti ritual rutin. Apa salahnya Riqhad mengikuti.
"Wa'alaikumsalam. Baru pulang, Nak? Capek banget kayaknya." Balas Mama Hasna, ia pun mengelus punggung kekar putra keduanya ini. Mama Hasna bersyukur Riqhad tak jadi pindah ke apartmentnya hingga sekarang masih berada di rumah ini. Apa jadinya kalau Riqhad dan istrinya pindah? Rumah ini akan menjadi sepi karena penghuninya hilang pergi.
Riqhad mengangguk, menjauhkan diri dari Mamanya. Lalu netranya mengitari ruangan seperti sedang mencari sesuatu yang sangat ingin ia lihat.
"Ma, guling Riqhad mana?" Tanyanya polos.
Mama Hasna bingung dengan pertanyaan putranya. Baru kembali dari kantor, kenapa yang dicari malah guling? Apakah sebegitu lelahnya hingga melupakan keberadaan Shanum, istrinya.
"Apa? Guling? Mama nggak tahu. Nagapin nyari guling jam segini?" Jawab Mama Hasna bingung.
"Ma, masa nggak lihat guling Riqhad sih?" Ulang Riqhad dengan tak sabaran. Ia mengacuhkan pertanyaan dan rasa heran dari Mamanya.
"Mama serius, Mama nggak sempet acak-acak barang kalian. Mana Mama tahu kamu kehilangan guling. Emang guling yang gimana sih, sampai kamu ribet banget nyari gini?" Mama Hasna kembali mengerutkan alisnya.
"Itu loh Ma, guling kesayangan Riqhad." Katanya lagi dengan nada sedikit pasrah.
"Nggak tahu Mama. Emang ada ya guling yang Abang sayang? Sejak kapan Abang maniak sama guling?"
Tiba-tiba iris gelap Riqhad menemukan apa yang ia cari tengah berjalan ke arahnya. Riqhad **** senyum, matanya kembali cerah dan dengan tak sabaran ia pun bergerak ke arah sesuatu yang ia cari sedari tadi.
"Ini nih ma, guling kesayangan Riqhad." Jawab Riqhad saat telah menemukan apa yang ia cari.
Ia memeluk erat Shanum yang terlihat sedikit terkejut melihat kehadirannya. Riqhad menenggelamkan wajahnya di sela kerudung istrinya. Menghirup dalam wangi yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman, karena merasa ada yang kurang. Ya ini, seseorang yang ia sebut sebagai guling kesayangan.
Mama Hasna tertawa dengan wajah bahagia melihat interaksi anak dan menantunya yang begitu mesra.
"Ada-ada aja kamu. Istri sendiri dibilang guling." Timpal Mama Hasna seraya meninggalkan keduanya karena ingin ke kamar Zoeya mengambil sesuatu yang diminta putrinya melalui telepon barusan.
Mama Hasna juga tidak ingin mengganggu acara kangen-kangenan antara Shanum dan Riqhad. Baru satu hari satu malam tidak bertemu, sikap anaknya sudah seperti orang kehilangan bertahun-tahun saja.
"Ya gimana lagi Ma. Buat sekarang tugasnya cuma bisa jadi guling doang." Gumam Riqhad saat Mamanya sudah sedikit jauh dari posisi mereka.
***
"Abang, nggak capek anterin Shanum? Padahal baru pulang dari cari nafkah di kantor." Tanya Shanum pada sosok di sampingnya.
Ketika siap untuk berangkat ke kampus, saat melewati ruang keluarga untuk berpamitan pada Mama Mertuanya. Shanum dikejutkan dengan penampakan Riqhad, suaminya itu menatap ke arahnya dengan pandangan yang Shanum tidak tahu artinya. Yang lebih mengagetkan lagi, pria di sampingnya ini langsung memeluknya erat di hadapan Mama Hasna.
__ADS_1
Shanum menatap wajah lelah dan kusam milik Riqhad, ia membiarkan saja saat Riqhad merengkuhnya karena Shanum akui ia juga merindukan suaminya. Satu hari tidak bertemu membuat Shanum merasa ada separuh yang hilang darinya, merasa ada yang kurang di harinya.
Hingga Shanum terusik dengan kalimat yang digumamkan Riqhad saat Mama Hasna meninggalkan mereka di ruang keluarga. Kalimat yang terdengar simple dan biasa saja namun menghantarkan perasaan bersalah di hati Shanum.
'Buat sekarang, tugasnya cuma bisa jadi guling doang.'
Shanum sedih karena belum memberikan hak suaminya atas dirinya. Shanum bahkan belum menampakkan wujud sehelai rambutnya pada Riqhad karena suaminya ini tidak mempermasalahkannya. Shanum menghela nafas dan meraba dadanya yang sedikit nyeri membayangkan bahwa dia belum menjadi istri sholehah untuk Riqhad.
"Enggak kok, yang capek itu nahan rindu ke kamu. Abang kan udah bilang, mandinya cepat jadi Abang pastikan kamu tidak terlambat." Jawab Riqhad dengan sesekali memperhatikan Shanum.
Shanum **** senyum seraya mengangguk, "makasih, Bang. Shanum sayang sama Abang." Ucapnya tiba-tiba.
Ciiit
Tiba-tiba Riqhad menghentikan laju kendaraan yang ia kemudikan. Matanya menatap dalam Shanum dan berusaha mencerna pengakuan dari istrinya itu.
"K-kamu n-ngomong apa tadi?" Tanyanya sedikit gagap.
Shanum tersenyum kecil, menggenggam tangan kanan suaminya lalu menciumnya lembut. Riqhad merasakan sesuatu yang basah menghampiri tangannya digenggam Shanum. Ia mengangkat pelan tangannya, membawa wajah istrinya menghadap ke arahnya. Tanpa diduga Shanum meneteskan air mata.
Riqhad menyeka air mata itu menggunakan tangan kanannya yang masih berada di pipi Shanum. Mengelus lembut pipi istrinya yang dilelehi air mata itu.
"Shanum sayang sama Abang. Maafkan Shanum, karena sampai sekarang belum bisa berbakti dan menjadi istri yang sholehah."
"Shanum, kenapa ngomong gitu? Menurut Abang, kamu sudah sangat-sangat berbakti selama pernikahan kita yang baru beberapa minggu ini. Kamu adalah istri sholehah yang sangat Abang sayangi." Jawab Riqhad lembut.
"Abang, maksud Shanum... sampai sekarang Shanum cuma bisa jadi guling abang doang. Maafin Shanum yang kurang peka ini." Terang Shanum dengan lirih.
"Shanum, mahasiswiku dan istriku. Maaf Abang selalu ada untukmu. Sekarang, Abang mau dengar kamu ungkapkan serangkai kata untuk menggambarkan pertemuan kita." Pinta Riqhad sembari menghibur Shanum.
Shanum pun menjawab, "bertemu dengan sosok menyebalkan, kemudian menjadi mahasiswi dimata kuliahnya. Takdir tak berhenti disitu, ketika Pak Dosenku menjadi tamu di hatiku."
Setelah mengatakan itu, Shanum mengalihkan pandangannya sambil menahan senyum.
Riqhad **** senyumnya, "terimakasih kata-katanya indah banget, meski ada kata-kata 'menyebalkan' tapi nggak apa-apa karena itu memang judul pertemuan pertama kita. Walaupun sekarang Abang cuma tamu di hati kamu, yang penting Abang udah bisa masuk ke sana dan Abang pastikan bahwa Abang adalah tamu yang akan menetap di hati kamu serta hanya satu-satunya di sana."
Shanum berusaha menahan senyum yang hendak muncul di wajahnya. Ia menatap mata suaminya dan mencoba membaca mata Riqhad, di sana tak ia temui keraguan. Shanum merasa bahagia mendengar ucapan suaminya ini.
"Kamu merasa bersalah ya, gara-gara kalimat Abang tadi?" Tanya Riqhad lagi.
"Abang bisa aja ngomongnya.”
“Oh ya... Bang, meski terlambat, Shanum ingin menyerahkan diri Shanum sepenuhnya pada Abang. Apa Abang ridho dan bersedia menerima Shanum seutuhnya?"
Deg
Setelah mengucap itu, jantung Shanum seolah ingin terlepas di dalam sana tapi ada sedikit kelegaan ketika dia mengatakan keyakinannya. Riqhad sangat kaget, ia tidak percaya kalimat itu akhirnya muncul dari bibir manis milik istrinya. Dalam hati ia bersyukur, ini adalah buah kesabarannya selama ini. Sering mengode Shanum tapi selalu gagal dan sekarang hanya gara-gara 'guling', Shanum akhirnya peka juga.
Riqhad mengangguk mantap dan perlahan memajukan tubuhnya hingga berhasil meraih bibir istrinya. Mereka pun tenggelam dalam rasa nyaman dan hembusan nafas cinta antar keduanya. Menyalurkan perasaan bahagia di dada masing-masing.
Pagi ini, di dalam mobil saat perjalanan menuju kampus, Riqhad dan Shanum mengungkapkan perasaan mereka tanpa menggunakan kata 'cinta' tapi lebih berarti dari kata itu sendiri.
Akhirnya, Shanum dan Riqhad mengungkapkan dan menyalurkan perasaan yang mereka sebut dengan rasa sayang dan kenyamanan.
Sampai di kampus, Shanum meminta berhenti sedikit jauh dari gerbang seperti biasa. Tautan mereka terlepas, Riqhad dengan pakaian santainya mengelus kerudung istrinya kemudian mencium dahinya lembut. Shanum menyalimi suaminya dan melempar senyum sebelum mengucap salam hingga keluar dari mobil.
Riqhad memutar mobilnya untuk kembali ke rumah dengan wajah bahagia, senyuman tercetak di wajah tampannya dan dadanya berdetak sangat kencang. Ia tak sabar menanti waktu nanti.
Kemudian ia pun memacu mobilnya, ia akan istirahat sebentar dan kembali ke kampus siang nanti, kasihan istrinya harus menggantikan tugasnya beberapa hari terakhir ini.
***
Setelah memberikan tugas berdasarkan email dari Riqhad, Shanum berjalan menghampiri sahabatnya di kelas mereka. Namun, belum mencapai pintu Shanum telah dihadiahi pelukan. Devia dan Naina memeluknya.
"Shan... Maafin kita udah jauhin kamu."
"Iya Shan, kami rindu sama kebersamaan kita."
"Kalian, maafin Shanum?" Tanya Shanum dengan haru.
Mereka mengangguk. Shanum tersenyum dan membalas pelukan mereka.
"Iya, kita juga mau ngucapin selamat ke kamu." Ucap Naina ketika telah merenggangkan pelukan mereka.
__ADS_1
"Untuk apa? Shanum ada salah ya sama kalian?" Tanya Shanum heran.
"Dasar unik!" Teriak Naina kembali memeluk Shanum.
"Kita udah tau, kalau kamu udah nikah. Jadi, kita mau ngucapin selamat ke kamu." Terang Devia dengan berbisik.
Deg
Shanum kaget, dari mana kedua sahabatnya ini tahu. Bahkan Shanum belum menjelaskannya, planning Shanum sore nanti kalau tidak besok untuk menjelaskan pada sahabatnya.
"Nggak usah bingung dan menerka. Kita taunya dari sumber terpercaya. Kamu jahat, nggak kasih tahu kami tentang semuanya." Naina mulai aksi ngambeknya.
"Maksud kalian? Siapa?" Sungguh, Shanum sangat penasaran dari mana kedua sahabatnya ini tahu.
Naina dan Devia serentak menghadap ke arah samping. Di sana telah berdiri sosok gagah dengan pakaian rapinya. Riqhad melepas silangan di depan dadanya seraya melangkah menghampiri mahasiswi-mahasiswinya.
Shanum menatap heran dan sedikit cemas. "Abang yang ngasih tahu, karena Abang lihat beberapa hari terakhir ini kamu sedikit murung." Terang Riqhad tanpa diminta.
Pria ini telah berdiri tepat di depan mereka.
Naina dan Devia saling menyenggoli Shanum, merasa geli mendengar dosen galak mereka menyebut dirinya sendiri sebagai 'Abang'. Untung lorong di kelas mereka sepi.
"Dan untuk kalian berdua! Jangan jauhi sahabat kalian lagi, kasihan dia jadi murung gitu. Asal kalian tahu, semua itu berdampak pada perasaan saya juga. Sebab, baiknya perasaan saya tergantung sama keceriaan dia." Ucap Riqhad pada kedua sahabat Shanum.
Kemudian Dosennya itu memutar tubuhnya hendak pergi,
"Shanum, setelah selesai mata kuliah kedua temui Abang di ruangan Abang! Bawa semua tugas yang sudah dikumpulkan. Kamu ngga usah ke kantin, kita makan siangnya bareng aja." Titah Riqhad tanpa menoleh ke belakang lagi.
"Shan, kamu apain dosen galak kita? Kok dari Bapak singa bisa jadi Anak kucing gini?" Tanya Devia takjub.
Shanum menggeleng dan masih terperangah menatap punggung suaminya yang kian menjauh.
***
Ruang Dosen
"Dik, loe tahu ngga kemana Fhariza selama ini? Kok udah lama nggak ngajar?" Tanya Riqhad pada Dicky, rekan sesama Dosennya.
Dicky menghentikan aktivitasnya dan menghadap Riqhad. "Nggak tahu gue. Kan loe pacarnya, napa nanya gue?"
Riqhad heran, beberapa minggu ini ia tak menemui Fhariza di kampus. Riqhad ingin menyelesaikan masalah mereka dengan cepat sebab ia tak sabar ingin mengenalkan Shanum sebagai istri tersayangnya. Tapi, Fhariza seakan hilang tertelan bumi. Beberapa kali ia mencoba menghubungi nomor Fhariza tapi tidak aktif-aktif. Kemanakah wanita itu?
"Gue juga nggak tahu dia kemana." Jawab Riqhad datar.
"Dia nggak ke kampus di hari loe izin waktu itu. Sampai sekarang nggak pernah dateng dia, kami kira kalian lagi liburan berdua soalnya kompakan nggak dateng." Dicky menimpali.
Riqhad pun menggeleng dan pamit pada Dicky. Ke mana ia harus mencari Fhariza untuk menyelesaikan hubungan mereka?
Dilain sisi
Seorang wanita tengah terbaring di ranjang rumah sakit. Pelipisnya terbalut kain kasa dan lengan kanannya juga sama. Di lutut dan betisnya ada beberapa goresan yang sudah mulai mengering. Ia mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu.
Ceklek
Pintu terbuka, pria paruh baya muncul dibaliknya. Beberapa bodyguardnya menunggu di luar pintu.
Hardean menatap iba putrinya yang terbaring lemas. Ia ingin mencelakai Gilan, namun tanpa diduga Fhariza ada di tempat kejadian dan menggantikan Gilan hingga tertabrak oleh mobil yang dikemudikan orang suruhannya.
Mengapa kebodohan Fhariza kian menjadi sejak kedatangan Gilan ini? Apa yang dijanjikan Gilan hingga Fhariza sudah berani membantahnya?
Hal lain yang Hardean tahu adalah Gilan memiliki seorang putri kecil, menurut mata-matanya istri Gilan meninggal ketika melahirkan putrinya itu. Tapi, mengapa rasanya ada sedikit kejanggalan dari hasil pengamatan orang suruhannya?
Apa gara-gara putri Gilan itulah yang membuat Fhariza berani membantahnya seperti ini? Lalu mengapa Fhariza peduli? Bukankah hasil perbuatan Fhariza dan Gilan telah meninggal sebelum ia dilahirkan?
Deg
Satu kesimpulan muncul dibenak Hardean. "Jangan-jangan, bayi itu tidak mati?"
Hardean pun mengepalkan tangannya. Ia geram dengan praduganya ini, jika ini benar terjadi ia pastikan bukan hanya keluarga Okhtara yang hancur tapi Gilan dan putri kecilnya itu juga akan ambil bagian.
Hardean menyeringai, mengelus wajah putrinya yang tengah tertidur dengan tubuh yang terluka kemudian ia meninggalkan ruangan rawat Fhariza untuk memikirkan tindakannya ke depan.
"Fhariza, putriku. Jika kamu tak bisa membantuku untuk mewujudkan rencanaku selama ini, aku takkan memaksa lagi. Karena nampaknya harus aku sendiri yang turun tangan." Gumamnya.
__ADS_1
"Hal pertama yang ingin aku ganggu adalah Okhtara Group! Sudah lama aku menunggu kehancuran perusahaan sialan itu. Kita lihat saja nanti, Riqhad si anak bodoh itu tidak akan mampu mengatasinya." Tambahnya lagi.