
PART 7 - MENGALAH
"Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak."
–Khalifah Ali bin Abi Thalib-
_______________________________________
Pagi-pagi sekali Shanum sudah rapi dengan pakaian yang diberi oleh Ummi Hasna, dia sudah mengemasi beberapa pakaian yang ada di lemari. Tidak banyak hanya 5 helai gamis dan beberapa kerudung.
Ia sudah memantapkan tekadnya untuk mencari kos-kosan. Untung saja gadis ini masih memiliki tabungan dari sisa beasiswanya semester lalu. Berbekalkan tabungan itu, Shanum akan mencari kos-kosan murah dan akan berusaha menemukan pekerjaan untuk mencukupi semua keperluannya. Ia sudah ikhlas saja jika kopernya itu tidak ditemukan, meski di sana terdapat barang berharga miliknya.
Gadis cantik ini meninggalkan koper silver yang entah milik siapa itu di kamar yang hanya sebentar saja ditempatinya. Dia mulai menuruni tangga untuk berpamitan pada sang pemilik rumah dan menyampaikan maksud hatinya.
Sampai di lantai bawah, Shanum yang menenteng koper mini itu dikagetkan dengan beberapa koper besar dan tas jinjing yang tergeletak begitu saja di lantai. Berkecamuk banyak pertanyaan dan keheranan di pikiran gadis mungil ini mengenai apa yang dilihatnya.
Kemudian, Shanum mengarahkan netranya pada sosok pria yang baru saja muncul dari arah pintu depan. Thoriq pun ikut membelalak matanya menyaksikan Shanum yang menenteng koper kecil. ‘Kemanakah gadis mungil ini pergi dengan kopernya?’ Batin Thoriq.
“Shanum mau kemana bawa–bawa koper?” Tanya Ummi Hasna yang muncul dari arah dapur.
“Maaf sebelumnya Mi. Shanum izin cari kos-kosan saja ya? Alhamdulillah Shanum masih punya tabungan sisa dari beasiswa semester lalu.” Ucap Shanum lembut tanpa bermaksud menyinggung perasaan wanita baik ini.
“Loh, kok semuanya mau pergi sih? Semalam Abang izin tinggal di apartemennya, sekarang Shanum juga mau pergi? Kalian punya masalah apa sebenarnya?” Tanya Ummi Hasna yang merasa bingung dengan dua anak ini.
Aneh saja, karena setelah keluarganya yang lain pamit pulang kemarin malam, putra sulungnya meminta izin untuk tinggal di apartement, katanya agar lebih dekat dengan kantor. Dan sekarang, gadis manis yang sudah dianggap anak olehnya ini juga ingin meninggalkan rumah yang bahkan baru sehari ditempatinya.
Shanum yang mendengar kata Ummi Hasna itu juga bingung, mengapa keputusannya untuk mengalah meninggalkan rumah ini juga dilakukan oleh pria dewasa di depannya. Apakah kebetulan atau bagaimana?
***
“Dengarkan penjelasanku dulu Riz, aku juga tidak menyangka akan kembali lebih cepat dari jadwal.” suara berat itu menggema di kamar yang di tempatinya.
Riqhad sekarang sedang berbincang dengan kekasihnya yang sudah mau menerima panggilan masuk darinya. Sedari tadi dia meminta maaf tetapi Fhariza masih keras kepala untuk tidak menerima maafnya.
“Hahaha. Kasihan sekali Bang Riqhad, jangan dimaafin ya Kak!” Bunyi suara cempreng di seberang sana.
Riqhad tahu itu adalah suara adiknya. Memang mereka melaksanakan study tour ke Singapura selama tiga hari, Fhariza dipercaya untuk mendampingi mahasiswa Fashion Design dan salah satu mahasiswanya itu adalah Zoeya.
__ADS_1
Zoeya sangat senang dengan hubungan mereka berdua dan bahkan adiknya itu yang membantu Riqhad jika Fhariza marah dan bertengkar dengannya.
“Zoo, katakan pada Dosen cantik di sana bahwa di sini seorang pria ingin minta maaf, ya! Jangan marah-marah lagi dan ditunggu kepulangannya.” Bujuk Riqhad dengan lembut.
Terdengar tawa dari kedua perempuan di seberang telepon, Riqhad tersenyum mendengarnya dan menjadi semakin rindu dengan kekasihnya. Setelah kekasihnya pulang, dia berencana ingin melamarnya dan memberitahukan hubungan mereka kepada Mamanya.
Memang, hubungan mereka tidak diketahui oleh Sang Mama, hanya kedua saudaranya saja dan beberapa orang lagi yang tahu.
Riqhad ingin menunggu hal yang pasti dan kemudian memberitahukan hal itu kepada mamanya, dia yakin Mamanya sangat senang karena selama ini dia dan Thoriq selalu saja ditanyai ‘kapan menikah dan memberikan cucu.' Pertanyaan horror.
“Abang! Jangan panggil aku ‘Zoo’ aku bukan kebun binatang tahu. Panggil aku Oya!” Pinta sang adik diseberang sana.
“Oke, oke, Oya yang manis. Sampaikan salam Abang dengan pemilik ponsel ini ya?” Ucap Riqhad lagi yang kali ini dibalas dengan deheman dari sang pemilik ponsel.
“Oke, sekarang kita punya jadwal yang lebih penting dari pria di Indonesia sana. Ayo Oya kita temui yang lainnya!” Ajak Fhariza pada Zoeya dan mengacuhkan suara yang memohon maaf darinya.
Bayangkan saja sudah beberapa hari tidak bertemu sebab Riqhad melakukan perjalanan bisnis yang bahkan tidak memberitahunya lebih dulu ke Singapura dan sekarang pertemuan mereka di Singapura pun gagal total sebab Riqhad kembali lebih cepat.
Fhariza dimata Riqhad adalah segalanya yang dia punya. Riqhad tak mampu mencintai yang lain, selain kekasihnya itu. Penyelamat serta seseorang yang telah menemaninya, membawanya keluar dari kubangan ketidakberdayaan di masa lalu. Bagaimana bisa pria tampan ini berpaling? Tak mungkin bisa.
Setelah panggilan itu ditutup sepihak oleh kekasihnya, kini Riqhad dikagetkan dengan kedatangan seseorang di kamarnya. Sosok Abangnya muncul tanpa permisi.
“Abang cuma ingin menanyakan kenapa kamu tidak pulang kemarin? Bukankah Mama sudah memberitahumu bahwa kita kedatangan anggota keluarga baru?” Tanya Thoriq yang mulai mengacak-acak kamar adiknya.
“Jangan berantakin! Duduk saja di sofa sana!” Kata Riqhad. Dia jengah melihat Abangnya yang jika datang menemuinya pasti ada-ada saja yang akan dia ganggu.
“Jawab dulu pertanyaan Abang!” Bentak Thoriq.
“Sulit untuk kembali Bang, aku masih teringat kejadian beberapa tahun yang lalu disaat Papa menghianati Mama. Aku semakin membenci orang yang telah meninggal itu Bang. Kembali hanya akan membuat kenangan itu kembali hadir.” Lirih Riqhad.
Thoriq menghela napas.
“Masih saja tentang masa lalu. Masa lalu yang bahkan belum tentu kebenarannya. Mama sedih kemarin, karena dua anaknya tidak hadir.” Kata Thoriq mendekati adiknya.
“Abang tidak bisa berlama-lama disini, kerjaan di kantor masih banyak dan Abang juga tahu kalau kamu ingin ke kampus pagi ini. Jadi, Abang cuma memberitahukan bahwa cucu kenalan Mama yang dititipkan itu ternyata bukan anak-anak.” Tambahnya lagi.
“Terus?” Timpal Riqhad cuek.
__ADS_1
“Dia sudah dewasa dan umurnya 19 tahun. Cantik, baik, sholehah dan manis.” Terang Thoriq dengan wajah cerah mengungkapkan kesan pertamanya akan diri Shanum.
“Kalau begitu Abang nikahin saja dia, bereskan!” Jawab Riqhad, menimpali pujian Abangnya pada sosok yang belum pernah ditemuinya itu.
“Hei, dengar dulu! Ternyata dia kuliah semester 3 jurusan Arsitektur. Mama memintanya melanjutkan kuliah di kampus kamu. Abang sudah mengurus semua surat-suratnya dan lusa dia bisa mulai kuliah!” Tegas sang Abang.
“Jadi, inti dari semua penjelasan Abang sedari tadi itu apa?” Tanya Riqhad jengah dengan basa-basi Abangnya.
“Abang ingin kamu menjaganya di kampus dan membantunya juga.” Pinta Thoriq.
“Dia bukan anak kecil yang harus dijaga dan disuapi. Dia anak kuliahan yang sudah bisa sendiri dan bahkan dia juga tidak harus tinggal serumah dengan kalian!” Ucap Riqhad bersungut-sungut.
“Terserah apa pendapatmu, yang jelas dia kuliah sama dengan jurusanmu mengajar. Jadi Abang pastikan kalian akan bertemu. Sesuai kata Abang tadi, perhatikan dan jagalah dia di kampus ... oh ... satu lagi, ngomong-ngomong Abang pindah ke apartemen sebelah.”
“Kenapa pindah?” Kali ini Riqhad lebih tertarik untuk mendengar sesuatu dari Abangnya itu.
“Panjang ceritanya. Karena kita sama-sama sibuk jadi lain waktu saja Abang kasih tahu alasannya. Kebetulan tempat tinggal kita berdekatan, jadi mampirlah sekali-kali.” Terang Thoriq.
"Hmm ...." Riqhad memutar matanya malas.
Riqhad telah bersiap untuk menuju tempat di mana dia biasanya beraktivitas dan menebar ilmu.
“Abang masih lama lagi? Katanya cuma sebentar." Tanya Riqhad yang siap meninggalkan ruang pribadinya ini.
“Eh Iya ... karena diusir, Abang pamit dulu ya!” Pamit Thoriq tanpa tersinggung sedikit pun.
“Ngomong-ngomong nama calon mahasiswimu itu adalah ‘SHANUM.’ Tolong diperhatikan ya!” tambah Thoriq seraya meninggalkan kamar adiknya.
‘Shanum? Masa bodohlah dengan orang itu. Semoga saja tidak bertemu, menyusahkan saja!’ Batin Riqhad.
Riqhad sudah siap dengan pakaiannya seperti biasa, sederhana namun tetap tampak gagah ditubuh atletisnya. Apapun yang dia pakai tidak akan mengubah semua yang ada pada dirinya. Riqhad berdiri di depan mobilnya, termenung memikirkan sang Mama yang merindukannya dan dia pun sama. Lebih dari Mamanya dia merindu. Tetapi, untuk menginjakkan kaki kembali ke rumah itu Riqhad tak sanggup.
Sosok dewasa yang dia banggakan ketika itu sudah menghianati Mamanya dan menumbuhkan kebencian mendalam di hatinya. Takkan ada kata maaf untuk pria itu meskipun dia telah tiada, menyisakan serpihan luka.
"Maafkan Riqhad Ma, Riqhad janji akan menemui mama setelah ini. Dan mencoba melupakan rasa benci pada pria yang mama cintai itu. Riqhad rindu Mama, sulit sekali hidup tanpamu disisi, Ma." Batinnya.
Tersadar dari lamunan pilunya, Riqhad mengunci pintu rumah yang ia beli dari uang sendiri, selain berprofesi sebagai dosen, pria ini juga ikut menjalankan bisnis keluarga dan bahkan sekarang dia sudah mampu membuka beberapa bisnis baru.
__ADS_1
Sesekali dia juga sering diminta Abangnya untuk membantu urusan kantor. Riqhad tinggal di rumah ini hanya sendiri dan semoga saja setelah ini akan ada sosok yang menemani hidupnya.
Setelah mengunci pintu, Riqhad mengemudi mobilnya menuju kampus tempatnya mengajar.