A

A
DUA PULUH SEMBILAN


__ADS_3

PART 29 - SEDIKIT TERSINGKAP


“Apa saja kebaikan yang datang kepadamu, maka sesungguhnya itu adalah dari Allah. Dan apa saja bencana yang datang kepadamu, maka itu berasal dari perbuatanmu sendiri. Kami telah mengutusmu untuk menjadi rasul bagi umat manusia dan cukuplah Allah sebagai saksi”.


-QS. An Nisa:79-


_________________________________________


Keesokan harinya


Berbagai macam kesibukan terjadi di rumah mewah yang terletak di daerah Bandung ini. Lantai bawah telah disulap dengan berbagai dekorasi indah yang didominasi warna putih dan biru muda.


Banyak orang berlalu lalang dengan urusan masing-masing, sedangkan di lantai atas seorang yang akan melangsungkan akad nikah telah selesai dirias oleh penata rias yang mereka undang sejak pagi.


Acaranya memang setelah sholat Dzuhur, namun Winda dan beberapa asistennya tidak hanya mengurusi mempelai wanita saja tetapi juga seluruh anggota keluarga akan dirias dengan tangan cantik mereka.


Di sebelah kamar pengantin, Mama Hasna dan Kak Latifa sedang menasehati dua gadis seumuran yang belum juga bersiap-siap padahal dua gaun khusus telah disiapkan untuk mereka.


Zoeya menatap ngeri pakaian itu sedangkan Shanum merasa tidak pantas menggunakan pakaian yang sama dengan anggota keluarga ini. Ia merasa orang asing di sini dan mengapa pakaian untuknya harus disiapkan segala. Ia masih memiliki beberapa pakaian yang dirasa pantas untuk dikenakkan di acara ini.


"Oya ngga mau Ma, feminim banget. Banyak payet-payetnya, mana model kayak gini lagi. Ogah!" Teriak Zoeya yang menolak mentah-mentah.


"Jangan merengek gitu. Masa udah besar harus mama juga yang pakein. Malu dong sebagai calon desainer. Cepat, bentar lagi giliran kalian berdua lagi." Ucap Mama Hasna yang sudah terlihat cantik dengan sedikit riasan.


Ia pun membantu Zoeya mengenakkan gaun tersebut meskipun dengan sedikit paksaan, sedangkan gadis yang dipakaikan gaun oleh Mamanya hanya memasang badan dan cemberut.


Tak berapa jauh dari mereka, Latiffa telah selesai membantu Shanum mengancing resleting gaun syar'inya. Shanum agaknya tidak seribet Zoeya dan ia bisa menurut meski awalnya juga sama memberontak dengan alasan yang berbeda.


"Nah, cantik sekali! Bajunya pas banget sama kamu. Ternyata ukuran badan kamu sama dengan Zoeya." Kata Latiffa memutari tubuh Shanum yang telah berbalut gaun syari berwarna biru langit.


"Shanum ngga pede, Mbak." Ucap Shanum sambil memandangi dirinya di cermin besar yang ada di kamar.


"Udah biasa aja. Kita ini keluarga, kamu harus terbiasa. Sekarang tinggal dirias. Oh iya, kamu mau model kerudung yang gimana?" Ibu Fatan meyakini Shanum sambil memandangi gadis tersebut.


"Terserah Mbak, yang simpel aja dan menutupi dada." Ucapnya yang dibalas anggukan dari Latiffa.


Beberapa saat kemudian, Ibu dari Latiffa yang sedang menggendong Fatan pun membawa Winda masuk dan mulai merias Zoeya terlebih dahulu.


Melihat anak Latiffa tersebut membuat tangan Shanum gatal ingin menggendongnya. Fatan yang melihat kedua tangan Shanum menggantung langsung menyambutnya.


Nampaknya durasi untuk merias Zoeya tidak akan cepat sebab gadis itu susah sekali diatur. Hingga Fatan yang berada digendongan Shanum merasa bosan dan merengek ingin dibawa keluar.


"Ih, anak Ibu kok gitu. Nanti baju dan kerudung Tantenya jadi kusut. Sini sama Ibu." Tawar Latiffa yang melihat anaknya menarik-narik kerudung dan gaun Shanum.


"Ngga apa-apa, Mbak. Kita keluar bentar."


"Jangan jauh-jauh ya, bentar lagi Zoeya selesai dirias." Pesan Latiffa. Shanum pun tersenyum dan mengangguk patuh.


Ceklek


Belum sempat tangan Shanum menyentuh knop pintu, sosok pria tinggi nan gagah telah muncul dihadapannya. Tangan si pria terlebih dahulu membuka pintu kamar yang ditempatinya.


Riqhad menatap gadis di depannya dengan wajah yang sulit diartikan entah kaget atau terkagum. Meskipun wajah Shanum belum sama sekali dirias, Shanum tetap terlihat bersinar. Bibirnya mengkilap dengan warna dasarnya yang memang merah muda.


Kerudung yang digunakan Shanum pun tidak dililit berlebihan seperti anggota keluarganya yang lain, Shanum cantik dan anggun dengan kesederhanaannya. Entah mengapa gadis di depannya ini sering sekali menggetarkan jiwanya meski hanya dengan menatapnya sebentar.


"Ada apa, Bang?" Mama Hasna mengalihkan perhatiannya dari Zoeya kepada putra keduanya itu.


"Ehem... Ma, dipanggilin Tante Dewi tuh di bawah!" Ucap Riqhad dengan cepat sebab ia tahu beberapa wanita di dalam kamar sana memandanginya dengan pandangan yang membuatnya risih.


Mama Hasna segara mengindahkan apa yang disampaikan putranya tersebut.

__ADS_1


Baby Fatan yang masih meronta di gendongan Shanum terlihat meraih tubuh Omnya, oleh sebab itu tubuh Shanum secara refleks bergerak maju hingga mendekati Riqhad.


Fatan meraih lengan jas Riqhad dan menariknya, dengan kaku Riqhad menyambut anak sepupunya tersebut. Ketika Shanum hendak melepas diri dari sosok mungil itu, tangan Fatan malah menarik-narik kerudungnya dan tanpa diduga tubuh Shanum hilang keseimbangan dan terantuk di lengan Riqhad.


"Eh, Anak Ibu kok nakal. Kerudung Tante jadi kusut tuh, Tante juga hampir jatoh, untung ada lengan Om yang besar." Ucap Latiffa mendekati ketiganya.


Ia hendak mengambil alih putranya yang entah mengapa sedari tadi memiliki banyak tingkah. Shanum berusaha melepaskan genggaman Fatan dari kerudungnya. Namun sangat sulit, Fatan menariknya lagi hingga kepala Shanum kali ini menyentuh lengan Riqhad.


Riqhad berusaha membantu melepaskan genggaman Fatan dari kerudung Shanum dengan lembut dan tidak menyakiti keponakannya.  Dalam hati Riqhad merafalkan kalimat istighfar karena ia tidak sengaja menyentuh tangan Shanum. Ia sangat tahu bahwa Shanum selalu menjaga dirinya dari lelaki yang bukan mahromnya.


Pandangan keduanya pun bertemu dan semburat merah mulai bermunculan di pipi berisi Shanum. Shanum menurunkan tangannya, ketika pria di dekatnya itu dapat membuat Fatan melepaskan genggaman di kerudungnya.


"Anak bujang nakal ya. Mau jahatin Tante." Goda Riqhad sambil mencolek hidung Fatan. Bayi tersebut yang tidak mengerti ucapan Omnya hanya tertawa akibat geli yang ditimbulkan oleh tangan Riqhad di hidungnya.


"Udah-udah, sana kamu keluar!" Usir Latiffa setelah mengambil alih Fatan dari Riqhad.


Pria itu pun mendengus dan mencium Fatan sekilas kemudian melirik Shanum yang sekarang akan mulai dirias. Ia penasaran akan secantik apa jika gadis itu dirias, sedangkan tanpa diapa-apa pun sudah begitu cantik.


"Jangan lihat-lihat ke dalam nanti kamu terpesona. Sana pergi." Usir Latiffa yang kali ini menutup pintu dengan paksa.


***


Di sisi lain


Di saat keluarganya telah merapat ke Bandung, Gilan malah bergerak gelisah di sisi ranjang rumah sakit.


Ketika pulang dari kantor, ia mendapat telepon dari Ratu yang telah sampai di kediaman Sarah dan putrinya itu menginginkan cake strawberry di toko yang biasa mereka beli hingga kejadiaan naas menimpanya.


Saat ia berjalan menuju mobilnya yang terparkir berseberangan dengaan toko cake, sebuah mobil tanpa plat nomor melaju cepat hendak menabraknya namun alhamdulillah tidak begitu fatal.


Ia hanya terserempet dibagian punggung dan lengan kanannya, cake ditangan pun hancur dan badannya remuk meski tak begitu parah. Untung saja ada orang baik yang mau membantu membawanya ke rumah sakit ini.


“Bagaiman keadaannya, Mas?” Ucap suara yang baru muncul dari balik pintu. Seorang pria yang lebih muda darinya muncul diikuti dua perempuan yang tadi telah membantunya.


“Udah mendingan, tapi yang di lengan masih ngilu.” Jawab Gilan.


“Alhamdulillah. Mau kita hubungin keluarga, Mas? Buat ngasih tahu kalo Mas lagi tertimpa musibah.” Ucap si perempuan yang berada di samping Nabil. Ya, yang telah membawa Gilan ke Rumah Sakit adalah sahabat dari Shanum dan Aufar yaitu Nabil, Devia dan Naina.


Mereka yang tadi sedang mengikuti acara sosial di samping toko kue Barokah terkejut ketika melihat seseorang mengerang kesakitan akibat terserempet mobil yang anehnya tampak sengaja melaju cepat. Akhirnya Nabil mengemudikan mobil Gilan dan membawanya ke sini.


“Nggak usah, udah mendingan ini. Lagian keluarga saya lagi ngga di sini semua.” Jawab Gilan.


“Ya sudah, Mas istirahat aja dulu. Kita pamit pulang buat ganti baju, insya Allah nanti kita balik lagi ke sini.” Ucap Naina sambil tersenyum ramah.


“Iya, terimakasih ya. Untung ada kalian, saya jadi merepotkan. Karena saya merasa udah baikan, saya nggak apa-apa kok ditinggal sendiri. Nanti saya kabari orang saya buat urus semuanya.” Timpal Gilan.


“Ya sudah Mas, jangan banyak  bergerak dulu ya. Kita-kita pamit. Assalamu’alaikum.” Ucap Devia dan diikuti yang lainnya.


"Wa'alaikumsalam."


Beberapa saat kemudian, perawat mengganti perban yang membalut lengan Gilan. Ia meminta agar bisa meninggalkan rumah sakit hari ini, namun karena kondisinya masih lemah perawat tersebut mengatakan agar menunggu hingga esok hari dan beginilah sekarang, Gilan dengan terpaksa harus berdiam diri di ruangan yang serba putih ini.


Ia tidak akan memberitahukan kejadian ini kepada keluarganya karena ia tak ingin merepotkan, apalagi acara akad nikah Sarah dilaksanakan hari ini dengan beragam masalah mengiringi dan Walimatul ‘Urs nya dilaksanakan besok. Ia merasa bersalah tidak bisa hadir di acara penting sepupunya.


“Semoga besok aku dibolehlan pulang, kasihan putriku.” Batinnya.


Ceklek (Pintu terbuka lagi)


Gilan telah membaringkan tubuhnya membelakangi pintu ruangannya di rawat, mendengar suara pintu dibuka ia bergerak pelan untuk menyandarkan tubuhnya. Ia kira tiga orang yang menyelamatkannya tadi telah datang kembali, tidak sopan jika ia mengabaikan mereka.


Setelah berhasil menyandar, ia mendengar derap langkah mendekatinya. Namun, hanya terdengar sepasang langkah saja. Ia pun menoleh dan menemukan wajah  seseorang yang tidak ingin ditemuinya lagi.

__ADS_1


Wanita itu kian mendekat ke arahnya. Setelah menghentikan langkah wanita itu menatap Gilan sayu. Sedangkan Gilan hanya melihatnya sekilas kemudian membuang wajah agar tidak tertipu dengan ekspresi si wanita.


“Kak, aku mau bicara.” Ucap Wanita itu.


“Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan." Gilan bersuara.


"Tapi aku perlu mengetahui sesuatu darimu, Kak." Pinta si wanita itu.


"Aku sudah minta maaf telah menghancurkan hidupmu. Aku pun sudah menutup rapat mulutku dan juga tidak sekalipun mengganggu kehidupanmu lagi setelah kau memintanya.” Balas Gilan datar tanpa menatap Fhariza.


“Tapi, aku ingin mendengarkan penjelasan darimu Kak. Tolong katakan yang sebenarnya, apakah Ratu itu anak yang aku lahirkan dulu?” Kata Fhariza mulai terisak. Mendengar isakan tersebut mau tidak mau membuat hati Gilan nyeri tanpa sebab.


“Aku tahu pertemuan kita waktu itu adalah sebuah kesalahan dan kejadian itu adalah hal yang terlarang tapi itu di luar kuasaku Kak. Aku memaksamu melakukan hal tersebut, karena waktu itu aku sedang prustasi dan dijebak oleh sahabatku. Bertemu denganmu yang juga sedang kacau hingga berakhir dengan kejadian memalukan. Aku tidak mengenalmu dan begitupun sebaliknya, namun aku sungguh tidak berniat untuk membunuh apa yang tumbuh di dalam tubuhku.” Terang Fhariza panjang lebar dengan nada meyakinkan namun tersirat rasa penyesalan dibaliknya.


“Lalu kenapa kau berusaha menggugurkannya! Ketika aku telah menemukanmu dan berniat bertanggungjawab atas kesalahnku... tidak... kesalahan kita. Dengan entengnya kamu mengancamku dan memintaku melupakan semuanya, dosaku dan dosa kita. Apa-apaan itu!” Gilan mengeluarkan emosinya dengan nada memojokkan Fhariza.


“Kak, memang waktu itu aku memintamu melupakan semuanya karena aku tidak ingin kau merasa bersalah dan hanya iba denganku. Tapi aku tidak mengancamu... itu... itu semua ulah Papaku. Termasuk yang menyebabkanmu berada di ruangan ini hari ini. Maafkan Papaku Kak.” Lirihnya.


Raut wajah Gilan mengeras, dadanya bergemuruh. Setelah mendengar apa yang dikatakan wanita ini, ia merasa kehidupan putrinya akan terancam kedepannya. Tidak hanya putrinya, buktinya ia pun juga mulai diincar seperti sekarang.


Memang dia menyembunyikan Ratu dari Fhariza, Ibu biologis Ratu. Karena ia tahu Fhariza beberapa kali gagal menggugurkan kandungannya dan berakhir harus menyembunyikan kehamilannya hingga hari ia melahirkan.


Gilan mengatur semuanya, menyewa dokter beserta rumah bersalin tersebut agar menyelamatkan bayinya dan mengatakan kepada Fhariza bahwa bayinya meninggal ketika prosesi persalinan. Hingga Fhariza meyakini bahwa bayinya memang tidak terselamatkan dan ia terbebas dari bayangan Gilan.


“Jadi, kau juga ingin mengatakan bahwa Ayahmu lah yang menggagalkan usahaku untuk bertanggungjawab padamu dulu?” Tanya Gilan dingin dan Fhariza hanya mengangguk lemah dengan air mata memenuhi sisi wajahnya.


Meskipun tidak ada cinta, Gilan hanya tidak ingin menambah dosa dengan tidak bertanggungjawab dan untuk itulah ia mengerahkan orang suruhannya mencari tahu semua tentang wanita yang bersamanya di Hotel Azet kala itu. Wanita muda yang terlihat kacau dan memaksanya melakukan sesuatu yang dilaknat oleh Allah SWT. Namun, tidak ia pungkiri ia juga sedang kacau kala itu hingga tak memikirkan akibat dan dosanya.


“Maafkan Papaku kak, aku tak bisa menolak perintahnya dan hanya bisa terus menuruti keinginannya. Aku tahu Papaku bukanlah orang baik, namun sebagai anak aku hanya ingin membahagiakannya dengan mengikuti kemauannya. Ia sangat murka ketika tahu akau hamil, bahkan ia tidak mengakuiku anak lagi jika aku tidak menggugurkannya. Hingga aku sempat menjadi anak durhaka menjelang hari persalinan itu. Setelah mengetahui bayiku meninggal ia kembali mengakuiku.” Fhariza menunduk dalam.


“Kak, jelaskan padaku tentang Ratu. Aku tak menyalahkanmu telah menyembunyikannya dariku tapi aku butuh kepastian. Bukankah waktu itu bayinya meninggal ketika persalinan?” Tanya Fhariza yang kini menatap wajah Gilan dengan lemah.


Dengan terpaksa Gilan pun menceritakan semuanya, hingga ia harus menyembunyikan Ratu dan berbohong mengenai keberadaan Ratu. Ia mengatakan kepada orang-orang bahwa istrinya meninggal ketika melahirkan. Hanya keluarganya lah yang tahu mengenai kebenarannya. Gilan pun telah melupakan Fhariza setelah mengetahui bahwa Fhariza tak menginginkan Ratu sejak di kandungan dan menolaknya untuk bertanggungjawab serta ia juga tahu jika Fhariza menjalin hubungan dengan sepupunya, Riqhad.


Ia pernah beberapa kali memergoki kebersamaan mereka, hingga Gilan mengubur jauh-jauh keinginan tersembunyinya.


Setelah mengetahui semuanya, Fhariza kembali menangis dan kini tubuhnya melorot ke lantai.


“Hikks... Kak kamu tega!" Fhariza meraung. Gilan pun tersentuh dan merasa bersalah.


"Bangunlah, aku minta maaf untuk segalanya. Aku minta maaf telah memisahkan dan menyembunyikan Ratu darimu." Lirih Gilan.


"Kak bagaimana aku harus menjalani hidupku sekarang... hikks...." Lirih Fhariza dengan tubuh yang bergetar.


Gilan menggenggam tangan bergetar Fhariza dan melafalkan beribu maaf serta rasa sesalnya. Ia tak ingin melihat Fhariza kacau begini, ini mengingatkan Gilan dengan kejadian beberapa tahun yang lalu.


"Hikks... hikks... Kak, aku akan menceritakan semuanya padamu dan kamu boleh tidak mempercayaiku.  Aku menyesal dan setelah bertemu Ratu aku merasakan rasa bersalah yang sebesar-besarnya, seakan aku tak mampu hidup lagi jika sesuatu terjadi pada anak yang kukandung namun tak pernah aku tatap wajahnya sama sekali.” Pinta Fhariza hingga dengan khusu’ Gilan mendengarkan semuanya.


***


"Apa kalian bilang? Kalian gagal?" Seorang pria paruh baya murka pada orang suruhannya sebab telah gagal menjalankan perintah.


"Maaf tuan, dia sempat menghindar dan hanya sedikit cidera." Jawab orang suruhan tersebut.


"Brengsek! Kalau dia membocorkan siapa sebenarnya Fhariza bisa-bisa rencanaku selama ini gagal total. Si anak tak tahu diri itu sangat menyusahkan, mengapa ia harus terjebak dengan keponaan Farhan! Sial!" Teriak Hardean.


"Sekarang, kalian cari tahu di mana pria itu sekarang dan semua tentangnya. Jangan sampai Fhariza bertemu dengannya. Aku tahu apa isi hati putriku itu, ia pasti memiliki rasa pada pria itu karena selama ini aku lihat dia tidak begitu mencintai Riqhad. Aku hanya ingin dia mengikuti rencanaku!" Perintahnya dan meminta orang suruhannya kembali mencelakai Gilan.


Setelah orang suruhannya pamit, Hardean menggenggam lembaran potret yang ia ambil di balik laci ruangannya. Ia menatap wajah dalam potret itu dan berkata, "waktu bahagia kalian tak lama lagi, terima kehancuran keluarga kalian seperti kehancuran yang aku terima selama ini." Ucapnya dan meremas foto tersebut, foto seorang pria dan wanita beserta anak-anak mereka yang terlihat sangat bahagia.


Ia tertawa sinis dan meninggalkan ruangannya bermaksud mencari putrinya yang seharian ini tak terlihat.

__ADS_1


__ADS_2