
PART 42 - BERJAUHAN
Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
"Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan tidak memberi karena Allah. Maka ia sesungguhnya telah memperoleh kesempurnaan iman."
_________________________________________
Surat Kedua
_________________________________________
Assalamu'alaikum Wr.Wb, Shanumku.
Alhamdulillah, jika sekarang kau sedang membacakan surat kedua Oma berarti permintaan di surat pertama telah kau penuhi. Oma ucapkan selamat dan semoga kau selalu bahagia, cucuku. Siapapun yang sekarang menjadi suamimu, Oma harap kau selalu berbakti kepadanya sebab surgamu ada padanya.
Shanum, Oma ingin memaparkan sedikit hak Oma yang mulai dari sekarang akan menjadi milikmu. Bersama surat ini Oma serahkan beberapa map yang berisi keterangan mendetail mengenai peninggalan Oma yang bisa kau gunakan untuk kehidupanmu dan membantu suamimu.
Sebagian lagi bisa kau serahkan pada Panti Asuhan Al Haris karena Oma adalah donatur tetap di sana. Oma harap selanjutnya kamu akan meneruskannya demi Oma.
Nak, untuk lebih jelasnya kamu bisa tanyakan pada Hasna dan Kuasa Hukum Oma yang bernama Dianggara. Kamu bisa menghubunginya melalui info kontak dilembar setelah ini.
Kamu tak usah heran mengenai semua ini karena sebagiannya adalah peninggalan suami Oma dan sebagiannya lagi adalah hasil dari keringat Oma sendiri, Oma sebelumnya berprofesi sebagai pengacara disalah satu firma hukum sehingga di kejadian masa lalu Oma bisa membantu menyelesaikan masalah yang melibatkanmu.
Sayang, Oma harap kamu berkenan menerima semua pemberian Oma ini sebab hanya kamu lah yang berhak.
Gunakan seperlunya dan sebagian lagi belanjakan di jalan Allah untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan. Kamu dapat memberitahukan surat ini pada suamimu dengan perlahan dan semoga dia mengerti dan tak tersinggung atas pemberian Oma.
Oma menyayangimu, teruslah perbaiki diri dan mengejar surga bersama suamimu. Oma sangat berterima kasih pada Hasna yang telah memilih imam terbaik untukmu meskipun yang Oma harap awalnya adalah salah satu anaknya yang tak lain adalah putra keduanya, Arri.
Kamu masih ingatkan dengan nama itu? Meski kau hanya tahu nama panggilannya saja, tapi nama itu selalu kau sebutkan ketika membagi cerita pada Oma, nama lelaki pertama yang membuatmu merasakan suka hingga kau pernah sematkan namanya dalam do'amu. Dia adalah putra dari Hasna. Tak apa jika bukan dia, mungkin bukan jodohmu.
Di surat kedua ini Oma juga akan menjelaskan sedikit mengenai kesalahpahaman yang melibatkanmu dengan suami Hasna. Ketika Ayahmu menemui Oma dan menceritakan semuanya, Oma jadi tahu pokok permasalahannya. Pria yang menjebak kalian namanya Hardean dan dia adalah saudara seayah dari ibumu.
Hardean sebenarnya memiliki gangguan mental dan emosi sejak ditinggal mendiang istrinya dan ia menuduh suami Hasnalah yang melakukannya sehingga berambisi untuk menghancurkan keluarga itu.
Hasna belum tahu mengenai ini sebab suaminya tak ingin hal ini menjadi beban pikirannya. Oma menuliskannya hanya untuk membuatmu mengerti bahwa perusahaan yang dikelola oleh Hardean tersebut juga di dalamnya ada hak ibumu yang ia gelapkan. Oma tahu kamu tak ingin mengusutnya tapi Oma hanya ingin kamu tahu kebenarannya saja.
Terakhir, kamu harus memberitahukan masa lalumu pada suamimu, Nak. Agar kelak tak terjadi kesalahpahaman lainnya, kamu harus terbuka pada suamimu. Mengerti! Ia harus bisa menerimamu, termasuk di dalamnya masa lalumu juga.
Hanya ini yang Oma sampaikan,
akhir kata Oma harap kau dapat berjuang menghadapi peliknya kehidupan dengan tetap berpegang teguh pada keimanan dan ketaqwaan hingga mengejar surga tak menjadi hal berat untukmu dan imammu. Sampaikan salam Oma padanya, yang telah menjaga dan mencintai cucu kesayangan Oma.
Wassalamu'alaikum. Wr. Wb.
Tertanda
Oma.
_________________________________________
***
Di sisi lain
Setelah melaksanakan sholat maghrib, Riqhad berencana ingin mengungsi ke rumahnya sendiri. Rumah yang belum sempat ia tinggali bersama istri. Tak adanya Shanum di sini membuatnya merasa sangat kesepian dan terluka sekaligus. Ia tak ingin merindu dalam setiap detiknya akan keberadaan istrinya itu.
Ia telah bertekat ingin mencari kebenaran akan kejadian ini, hingga ia memutuskan menyelidiki satu nama yang sangat ia curigai. Jadi, untuk sementara ia harus bersikap normal sebagaimana sebelumnya dan tentunya ia harus tahan berjauhan dengan Shanum sampai masalah ini beres.
Sejak melepaskan pelukannya pada Shanum sebelum istrinya itu pergi, Riqhad sama sekali tidak meninggalkan kamarnya. Ia menatap tiap jengkal ruangan ini yang membuat perasaannya campur aduk. Sesak rasanya berada di sini tapi hanya seorang diri.
Moment-moment bersama Shanum berdatangan di ingatannya. Mulai dari tingkah kaku, canggung dan kepolosan Shanum. Moment ketika ia berusaha mendekatkan diri pada Shanum, menggoda dan mengusili istrinya itu hingga moment-moment manis lainnya yang tak tergantikan.
Setelah memindahkan pakaiannya ke dalam koper, Riqhad kembali membuka bagian lemari sebelah kiri yang biasanya dipenuhi beragam jenis pakaian syar'i milik istrinya namun sekarang tak bersisa meski sehelai pun.
Riqhad memandang datar keadaan lemari berukuran jumbo di kamar penuh kenangan bersama sang istri tercinta ini. Lalu, ia membuka lagi bagian lain yang biasanya dipenuhi banyak kerudung lebar dengan beragam warna yang kini pun telah kosong. Ia menghela nafas, dadanya bertambah nyeri.
Ya Allah, meski baru sebentar berjauhan dengannya bisa membuatku serapuh ini. Ampuni aku yang telah menaruhnya begitu dalam dihatiku dan tanpa sadar menempatkannya sebelum-Mu. Kuatkan aku menikmati sakitnya jarak ini. Lirih batinnya.
Sebelum menutup rapat lemari mereka, iris gelap Riqhad menemukan sesuatu berwarna putih di lemari bagian milik istrinya itu. Benda tipis berupa surat yang ditulis tangan oleh Shanum. Riqhad mengambilnya, membuka pelan hingga mulai membaca kata demi kata sambil selonjoran di atas ranjangnya.
_________________________________________
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Teruntuk Abang, imamnya Shanum.
Semoga ketika Abang membuka surat ini, Abang telah selesai berwudu' dan meredakan amarah Abang.
Jujur Bang, sakit sekali melihat Abang yang enggan memandangi Shanum. Shanum merasa Abang tak lagi menginginkan Shanum dan Shanum merasa Abang tak lagi menyangi Shanum.
Shanum sangat bahagia disayangi oleh Abang. Shanum kehilangan banyak kasih sayang ketika bayi hingga tumbuh dewasa. Dengan kehadiran Abang mampu membuat Shanum merasakan sesuatu yang hilang itu.
Meskipun tak tergantikan... Abang bisa memberikan kasih sayang sebagaimana sosok ibu yang menyayangi dan mengasihi Shanum. Abang memberikan kenyaman dan perlindungan seperti sosok Ayah yang melindungi dan memanjakan Shanum. Abang bisa menjadi sahabat yang selalu mengerti Shanum dan mendengar keluh kesah Shanum, tempat berbagi suka duka bersama. Tanpa diduga Abang telah benar-benar menetap di hati Shanum, bukan sekadar tamu lagi.
Maafkan Shanum yang telah mengecewakan Abang. Shanum salah karena tidak memberitahukan Abang mengenai masa lalu Shanum ini, Shanum takut Abang akan meninggalkan Shanum.
__ADS_1
Tapi, itu semua tak menjamin...
Shanum terlambat. Abang, terlanjur kecewa. Shanum tidak menyangka bahwa Bapak-bapak dalam foto itu adalah Papanya Abang, Papa Mertuanya Shanum.
Sungguh, meski Abang takkan percaya tapi Shanum tegaskan bahwa Shanum tidak bersalah. Shanum dan Papa Abang dijebak waktu itu hingga berakhir seperti pada foto tersebut.
Setelahnya, berdasarkan kesepakatan dari Ayah Shanum dan Papanya Abang, pernikahan jebakan itu langsung diakhiri hingga Shanum tak pernah berbaur dengan Papanya Abang.
Abang, meski kita tidak boleh berharap pada manusia karena akan berakhir mengecewakan. Namun, kali ini Shanum ingin egois karena berharap bahwa Abang masih bersedia menyayangi dan menerima Shanum meski dengan adanya kenyataan pahit ini.
Shanum sangat berharap Abang meminta Shanum mengikis jarak kita ini. Melangkah pergi hingga berjauhan dengan Abang, membuat Shanum tak lagi utuh sebab separuh kebahagiaan Shanum ada pada Abang.
Shanum harap Abang masih bersedia mendengar penjelasan Shanum. Jika terlanjur kecewa dan enggan lagi, Shanum mohon tetap sayangi buah hati kita sebab dia tak salah.
Terakhir, Shanum ingin mengucapkan banyak terima kasih atas limpahan kebahagiaan yang Abang berikan pada Shanum.
Shanum mengerti bahwa Shanum hanyalah benalu yang menumpang hidup hingga menjadi penyebab keretakan keluarga Abang. Tapi, Shanum jamin apa yang dikatakan Zoeya tak benar. Shanum hanya untuk Abang dan Abang tahu pasti itu, Abanglah yang mengambil semua hal pertama dari diri Shanum.
Shanum cinta Abang! Semenjak Abang melafalkan cinta untuk Shanum di depan penghulu dan disaksikan para saksi.
Eh, sebenarnya bukan sejak itu tapi jauh sebelumnya Abang telah hadir di hati Shanum. Gantungan ungu yang pernah abang hina di koper Shanum itu adalah buktinya. Gantungan yang diberikan oleh anak laki-laki yang membuat Shanum merasakan perasaan suka untuk pertama kalinya. Laki-laki itu adalah Abang.
Shanum baru tahu dari album foto yang pernah Mama Hasna tunjukan pada Shanum. Di dalamnya Shanum temui sosok Abang yang ketika mengenakkan kostum basket.
Arri, kita pernah bertemu jauh sebelum ini. Sejak itu hingga sekarang hanya ada Arriqhad Okhtara di hati Shanum, pria halalku.
Akhir kata, Shanum pamit Bang. Rhidoi langkah Shanum ya, jaga diri baik-baik dan jika Abang rindu maka sematkan nama Shanum di do'a Abang sebab Shanum akan selalu merindui Abang. Semoga Aaminku dan Aaminmu serentak memunajat Pada-Nya.
Shanum Cinta Abang! Kami Cinta Abang!
Wassalamu'alaikum Warrahmarullahi Wabarakaruh.
Tertanda
Elshanum Shaquena.
_________________________________________
Mata Riqhad memanas seiring melipat kembali selembar surat ditangannya itu. Ia sangat bahagia mengetahui istrinya mencintainya bahkan jauh sebelum ini. Arri, iya Riqhad baru ingat nama itu adalah panggilan dari sosok kecil di masa lalunya. Elsha.
Riqhad hampir melupakan banyak kenangan di masa kecilnya seiring kebencian pada sang Papa. Tapi, ia tak menyangka kenangan mengenai gadis mungil bernama Elsa juga ikut terkikis.
Riqhad ketika SMP sangat menggemari olahraga basket hingga menjadi kapten di tim sekolahnya. Kemudian ketika melakukan latih tanding dan latihan gabungan, saat itulah ia bertemu sosok kecil nan cantik yang saat itu ikut bersama ayahnya. Iya, namanya Elsha dan dia adalah putri dari coach di latihan gabungan tersebut.
Hingga ketika hari terakhir di sana, coach memintanya menjaga Elsha kecil karena sedang ada urusan. Hingga ia menghabiskan hari terakhir bersama Elsha, puncaknya ketika ia sangat menyukai iris cantik milik gadis mungil itu yang menatapnya sedih hingga memintanya memberikan kenang-kenangan sebab Riqhad yang dipanggil Arri oleh Elsha itu mengatakan akan pergi dan mungkin takkan bertemu dengan Elsha lagi.
Hingga ketika tanpa sengaja melihat ada penjual aksesoris di sekitar mereka dan ketika itulah pilihan Riqhad jatuh pada gantungan yang dipilihnya secara acak. Ia tak menyangka gantungan ungu yang ia hina itu merupakan pemberian darinya sendiri.
Riqhad pun menyimpan surat Shanum dalam kopernya dan perlahan mulai menyeret barang tersebut hingga menuruni anak tangga. Tekatnya sudah bulat ingin meninggalkan rumah ini lagi dengan alasan berbeda dari sebelumnya.
"Beginikah caramu menyelesaikan masalah? Pergi? lagi?"
Deg
Langkah Riqhad seketika berhenti akibat ucapan dari Thoriq. Thoriq mendekatinya yang masih berada di anak tangga bagian tengah.
***
"Are you okay, Boss?" Tanya Thoriq ketika berhasil mencegat Riqhad meski sebentar.
"I'm not okay now, but I will be okay soon." Jawab Riqhad dengan tak bersemangat.
"Jadi, kamu curiga sama Papanya Fhariza? Pak Hardean, rekan bisnis kita?" Tanya Thoriq memastikan.
Setelah mencegat kepergian Riqhad, Thoriq langsung menyeretnya ke halaman belakang. Awalnya Riqhad enggan bersuara, hingga tiba-tiba pertanyaan pancingan Thoriq dibalas Riqhad dengan luapan emosi tak terkendali hingga sampailah di pembahasan ini.
Riqhad mengangguk membenarkan pertanyaan Thoriq itu.
"Iya, dugaanku kuat Bang. Sepertinya masalah kantor kita pun melibatkan dia."
"Abang ingat, ketika dulu aku mendesakmu mengambil alih posisiku yang diberikan Papa? Selain aku rasa sebagai putra pertama kamu lah yang pantas memimpin. Aku juga kurang suka ketika Papa Fhariza menawariku membalaskan kebencianku pada mendiang Papa dengan menggunakan perusahaan kita. Dari situ akalku bisa mengendalikan kebodohanku. Aku tak menyangka bahwa dia berbuat baik padaku dan menjadikan Fhariza sebagai satu-satunya wanita yang selalu bersamaku ternyata memiliki maksud lain. Hal ini Fhariza sendiri lah yang mengaku." Terang Riqhad.
"Jadi, bagaimana tindakanmu ke depannya?"
"Entahlah. Pertama aku akan cari hubungan Pak Hardean dengan kedua orang tua kita, setelah mengetahuinya baru aku akan menyimpulkan tindakan selanjutnya. Gilan dan Fhariza pun telah aku hubungi. Besok aku akan menemui mereka."
"Istrimu bagaimana?"
"Untuk sementara biarkan kami berjarak. Aku telah meminta orang kepercayaanku memantaunya dan menjaganya dari jauh."
"Roni?"
Riqhad mengangguk membenarkan.
"Kau tahu di mana istrimu sekarang?"
Riqhad menggeleng, lalu memandang senang Abangnya. "Bukankah aku akan tahu darimu, Bang?"
__ADS_1
Thoriq pun tersenyum. Adiknya begitu cerdas membacanya.
"Okay. All you wish brother. Bi Cici ikut dengannya jadi tak usah terlalu khawatir."
Riqhad mengangguk datar, ia lega mendengarnya. Namun seketika ia kembali menatap sendu Abangnya.
"Shanum hamil, Bang! Istriku sedang mengandung anakku sekarang. Bagaimana bisa aku tahan berjauhan dengannya begini."
Deg
Thoriq melebarkan pupil matanya seolah tak percaya mendengar pengakuan Riqhad ini. "Apa? Hamil? Gadis itu?"
Riqhad meninju perut Abangnya. Sangat tak terima mendengar nada perkataan Abangnya tersebut yang terdengar meremeh.
"Aduh, sorry Riqh. Abang kaget. Kok bisa?"
"Ya bisa lah Bang. Aku suaminya, membuat dia hamil kan wajar." Riqhad mendengus.
"Kau! Pria kecil dan gadis kecil berhasil membuat anak kecil? MasyaAllah! Dunia kecil sekali ternyata." Teriak Thoriq dengan tak tahu malunya.
"Apa-apaan wajah Abang itu. Dia bukan gadis lagi, ingat itu. Akulah yang menghilangkan kegadisannya." Jawab Riqhad kesal.
Thoriq meringis mendengarnya. Bisa-bisanya Riqhad berkata begitu dihadapannya. Entah mengapa Thoriq lah yang malu sendiri mendengarnya.
"Berapa usia kandungannya?" Tanya Thoriq yang kali ini dengan serius. Ia ikut senang mendengar kabar ini, sebentar lagi ia akan menjadi seorang paman.
"Lima mingguan." Jawab Riqhad lesu.
Thoriq mengangguk. Ternyata Shanum dan Riqhad tak terlalu sulit mengakrabkan diri.
"Kalian harus segera melaksanakan resepsi dan mengenalkan Shanum sebagai istrimu pada orang-orang. Jika tidak istrimu akan dinilai buruk di masyarakat sebab pernikahan kalian masih dirahasiakan." Ucap Thoriq serius.
Riqhad mengangguk membenarkan. "Ya begitulah Bang. Semua planning kami gagal gara-gara masalah ini. Mungkin aku harus lebih cepat menyelesaikannya sebelum perut Shanum terlihat membesar." Jawab Riqhad lesu
"By the way, thanks Bang udah jelasin semua kesalahpahaman itu. Riqhad jadi sangat bersalah pada Papa dan Shanum." Tambah Riqhad lagi.
"Iya, Abang juga minta maaf udah nyembunyiin ini dari kalian. Ahamdulillah kamu percaya istrimu itu tidak seperti yang dituduhkan Zoeya, Papa pun sama." Jawab Thoriq sambil menepuk pelan lengan Riqhad.
Riqhad tersenyum kecil seraya mengangguk.
"Tak ingin memberitahukan Mama dan Zoeya mengenai kehadiran anggota baru keluarga kita?" Tambah Thoriq lagi.
Riqhad menunduk, "iya Bang, segera."
"Ketika kembali dari KLA, kami ingin langsung memberitahukan kabar baik ini. Tapi, saat tiba di rumah... Zoeya terlebih dahulu mengacaunya. Zoeya memaki Shanum tepat di hadapanku. Ingin sekali merengkuh dan melindunginya tapi aku terlanjur kecewa dan kaget melihat gambar papa bersamanya. Itu menghantam hatiku Bang."
Thoriq ikut sedih mendengarnya. Ia paham mengapa Zoeya bisa hilang kontrol seperti itu.
"Baiklah, jika itu keputusanmu. Abang akan ikuti rencanamu. Abang bantu sebisa Abang dan semoga masalah ini cepat terselesaikan agar kau tak kesepian lebih lama lagi tanpa mereka. Wanitamu dan calon keponakanku." Ucap Thoriq menambah semangat bagi Riqhad. Riqhad tersenyum dan merengkuh Abangnya seraya bersyukur.
Tanpa diduga perbincangan kedua pria itu di dengar oleh Zoeya dan Mama Hasna.
Zoeya baru saja turun dan hendak mengambil air mineral di kulkas sebab kepalanya mendadak pusing akibat terlalu banyak menangis. Ia mendengar perbincangan kedua Abangnya di halaman belakang. Awalnya ia kaget melihat koper sang Abang yang berada di depan pintu dan ia lebih kaget mengetahui kabar keponakan yang ia minta telah hadir di rahim kakak iparnya, tanpa disangka Zoeya kembali menangis. Ia semakin merasa bersalah.
Lain dengan Zoeya lain pula Mama Hasna yang memang dari awal mendatangi kamar Riqhad karena tahu sang putra sama sekali belum meninggalkan kamarnya sejak kepergian Shanum tadi. Ketika mengetahui kamar pasangan tersebut sudah sangat kosong ia dengan tergesa pun menuruni tangga hingga menuju halaman belakang. Hingga akhirnya ia sungguh bahagia mendengar bahwa Shanum hamil.
"Alhamdulillah. Bentar lagi aku jadi nenek!" Gumamamnya. Ketika hendak menghampiri kedua putranya. Tanpa diduga Zoeya langsung memeluknya sambil terisak.
Ia pun memilih membawa Zoeya ke kamarnya terlebih dahulu untuk menenangkan putrinya ini.
***
Dua hari kemudian, Shanum tetap mengikuti perkuliahan seperti biasanya. Namun, banyak yang berbeda darinya hari ini apalagi suasana hatinya. Berjauhan dengan Riqhad membuatnya merasa kembali ditinggalkan untuk ke sekian kalinya, tapi kali ini ia tak sendiri seperti sebelumnya, ada nyawa lain yang selalu ia bawa kemanapun.
Ia sangat bersyukur bahwa Mama Mertuanya masih sangat memikirkannya dengan menempatkan Bi Cici di sampingnya. Shanum dan Bi Cici diantar oleh Thoriq ke sebuah rumah yang katanya adalah milik Thoriq yang dibangun untuknya dan Syafiqa kelak. Mumpung Thoriq dan Syafiqa belum resmi kembali bersama maka untuk sementara Thoriq meminta Shanum menempatinya.
"Shan... dengar-dengar kita punya dosen baru bakal pengganti Pak Riqhad ya? Kok bisa sih? Inikan penghujung semester." Ucap Naina di sela langkah mereka.
Shanum dan teman-temannya baru saja selesai menyerahkan laporan kelompok Kuliah Lapangan Arsitektur mereka. Setelah Riqhad menyatakan cuti sebagai dosen di kampus mereka, mereka ikut sedih sebab Riqhad dikenal sebagai dosen yang tegas, berwibawa dan akhir-akhir ini menjadi sedikit lebih asyik. Meskipun juga terkenal galak, tapi mahasiswanya merasa bahwa akibat dari kegalakan seorang dosen dapat membentuk pribadi mahasiswa yang lebih mandiri, disiplin dan rajin.
Shanum kembali merasa sedih mendengar sahabatnya mengungkit nama dosennya itu. Riqhad, nama yang membuat Shanum rindu.
"Iya, gue juga denger tadi di ruang Dekan. Katanya Dosen ini bakal ganti Pak Riqhad dan ambil alih semua jabatan Pak Riqhad." Timpal Nabil tak ketinggalan.
"Gitu ya, berarti dia jadi dosen Pembimbing Akademik kamu sama Bang Aufar juga kan Shan?" Tanya Devia.
Shanum hanya menggangguk lirih. "Iya kali." Jawabnya datar dengan tak semangatnya.
"Ngomong-ngomong, keponaan Om. Apa kabar Shan?" Tanya Nabil lagi.
Devia dan Naina yang mengetahui masalah Shanum dan Riqhad menjadi bungkam sendiri mendengar pertanyaan Nabil itu. Ia mengeratkan rangkulan di lengan Shanum berusaha menenangkan perasaan sahabatnya.
"Alhamdulillah, masih ada di dalam." Jawab Shanum berusaha tersenyum.
Nabil terkekah dan mengangguk suka dengan jawaban Shanum.
"Terus, Bang Riqhad masih lebay kayak kemarin-kemarin ngga sih Shan sama kamu?" Kali ini Aufar ikut ambil andil dalam percakapan mereka.
__ADS_1
Belum sempat Shanum menjawab, seseorang telah muncul di hadapan mereka. Langkah mereka terhenti,
"Assalamu'alaikum...."