A

A
DELAPAN


__ADS_3

PART 8 – TEPIAN RINDU SANG IBU


Jangan merasa kesepian di atas jalan kebenaran karena sedikitnya orang yang berada di sana.


~Ali bin Abi Thalib~


_________________________________________


Suasana hening menghiasi sisi rumah mewah ini, tak seperti biasanya dimana terjadi saling sapa antar penghuni sebab beberapa dari mereka sedang tidak ada di tempat. Putra sulung memilih tinggal di apartementnya, satu-satunya anak gadis di rumah ini pun belum juga kembali dari study tour, sedangkan putra keduanya memang tak lagi tinggal di rumah ini sudah sekian lama.


Tampaklah sepercik kesedihan di wajah wanita paruh baya itu ketika membayangkan sosok putra keduanya. Ia membolak balikkan album foto keluarga yang berada dipangkuannya, mengenang masa lalu dan masa kecil anak-anaknya yang begitu indah.


Sementara itu, Shanum yang sudah selesai membantu pekerjaan Bi Ipah untuk mencuci piring, kini menghampiri Ummi Hasnah di ruang keluarga. Meski masih merasa canggung dan malu, Shanum memberanikan diri mendekati sofa. Tanpa sengaja dia ikut bersedih tatkala menyaksikan setetes air mata menepi di pelupuk mata wanita paruh baya sana.


Merasa tak seharusnya berada di sini karena telah mengusik Ummi Hasna, gadis cantik ini pun sedikit memundurkan langkahnya berniat ingin berbalik meninggalkan sisi ruangan. Seketika suara keibuan yang sedikit serak itu menghentikan aksinya.


"Nak, kemarilah!"


Shanum yang hampir memutar keseluruh tubuhnya dengan perlahan kembali berbalik menghadap Ummi Hasna, wanita itu tersenyum serta memintanya mendekat. Dengan wajah bersalah gadis berkerudung ini pun mendekatkan diri ke tempat di mana Ummi Hasna masih memandangi lembaran-lembaran kenangan di pangkuannya.


Shanum ikut memindai lembaran yang dipandangi wanita paruh baya itu, tanpa suara Ummi Hasnah mensejajarkan tubuhnya sehingga merapat dengan Shanum, ia juga menggeserkan album itu sedikit ke arah gadis di sampingnya sehingga Shanum juga dapat melihat apa yang dilihatnya.


"Ummi sedang merindukan semua anggota keluarga, sehingga tanpa sadar meneteskan air mata menyaksikan kejadian demi kejadian di album ini." Ucap Ummi Hasna menjelaskan apa yang telah disaksikan Shanum.


Ia masih diam tanpa menimpali ucapan Ummi Hasna, namun matanya juga ikut menyaksikan apa yang ditunjuk wanita paruh baya ini. Di sana terdapat gambar tiga anak kecil yang terlihat saling menyayangi. Dua diantaranya laki-laki dan yang paling mungil adalah perempuan satu-satunya, mereka tengah bermain di ayunan.


Di lembaran berikutnya terdapat gambar dua anak laki-laki tadi yang kali ini sama-sama mencium gadis kecil yang cantik di tengah mereka.


"Ini anak-anak Ummi, yang memakai baju warna hijau adalah Thoriq, di tengahnya adalah Zoeya dengan pakaian kodok kesayangannya dan yang di sebelahnya lagi adalah Riqhad yang sangat menyukai warna gelap." Ungkapnya tersenyum seperti tengah menyaksikan ketiga anaknya yang masih kecil.


Berlanjut ke lembaran-lembaran berikutnya, Ummi Hasna dengan senang hati menceritakan kejadian yang terekam dibalik gambar-gambar itu, Shanum pun tersenyum ketika menyaksikan betapa semangatnya Ummi Hasna berbagi cerita dengannya, tak ada lagi wajah sedih seperti tadi.


Sampailah di album yang satunya lagi, gambar ketika sang anak sudah menginjak remaja. Di sana hanya sedikit gambar ketiga anaknya dalam potret yang sama tidak seperti di album sebelumnya, namun yang membuat Shanum mengernyitkan mata adalah sosok yang sedang mengenakan medali di leher dengan seragam basket ditubuhnya.


Seperti pernah bertemu, tapi siapa? Apakah aku mengenal keluarga ini di masa lalu? Batinnya.


"Ummi rindu Riqhad." Lirih Ummi Hasna dengan jari tangannya mengusap gambar remaja laki-laki itu.


Shanum pun berinisiatif memeluk wanita di sebelahnya, seketika tangis Ummi meledak dan ia meracau tak jelas.


"Riqhad salah. Dia salah paham dengan Papanya, Ummi ingin menjelaskan kesalahpahaman ini sebelum terlambat." Racaunya lagi.


"Ummi yang sabar, Shanum percaya anak Ummi pasti akan mengerti. Meskipun Shanum hanya orang baru di kehidupan Ummi, Ummi boleh kok membagi kesedihan dengan Shanum. Ummi adalah orang baik setelah Omma yang dikirimkan Allah untuk Shanum. Shanum merasa dipeluk oleh Ibu sendiri ketika Ummi memeluk Shanum. Shanum sayang Ummi." Ucap Shanum yang ikut larut dalam pelukan mereka.


"Terima kasih, Nak. Ummi juga menyayangi Shanum." Balas Ummi Hasna seraya merenggangkan pelukan mereka.

__ADS_1


Setelah menghapus jejak kesedihan di wajahnya, wanita paruh baya itu mengelus kerudung Shanum dan tersenyum lembut memandanginya, "Ummi berjanji akan membawamu menuju kebahagiaanmu Nak, Ummi harus menghapus kenangan buruk yang kalian alami dan membebaskan kesalahpahaman ini sebelum terlambat." Batinnya.


Beberapa saat kemudian, setelah menutup album foto dipangkuannya, Bi Ipah tergopoh-gopoh menghampiri mereka.


"Nya, Bibi hampir lupa. Tadi Mas Thoriq menitipkan ini untuk diserahkan dengan Neng Shanum, Mas Thoriq sangat terburu-buru sehingga tidak sempat mampir." Terang Bi Ipah menyerahkan sebuah map.


"Ah, akhirnya selesai juga!" Ucap Ummi Hasna setelah membuka dan melihat isi map itu.


Ia menyerahkan kembali amplop itu kepada Shanum.


"Thoriq sudah selesai mengurus dokumen perkuliahanmu. Kamu bisa mulai kuliah besok." Kata Ummi Hasna senang.


Shanum terkejut dan segera membuka map di tangannya. Dan benar saja, dokumen yang diperlukan sudah lengkap di sana. Shanum tak tahu harus bersikap apa, ia sebenarnya senang dan bersyukur dapat melanjutkan kuliah lagi dan di sisi lain ia merasa tak enak hati karena menyusahkan keluarga ini.


Bagaimana nanti aku harus membalas semua kebaikan keluarga ini? Batinnya.


"Ummi ... tap-"


Ummi Hasna memotong ucapan Shanum.


"Ummi tidak menerima penolakan dan Bi Syafiah akan sedih melihat cucu kesayangannya ini putus kuliah." Tukas Ummi Hasna yang tak bisa dipatahkan lagi.


Shanum bersyukur telah berkali-kali dipertemukan dengan sosok baik, yang kali ini adalah wanita di depannya. Shanum berjanji akan membalas kebaikan wanita ini dikemudian hari. Jika tidak, dia tak akan memaafkan dirinya sendiri bila terjadi.


"Nanti sore Zoeya juga akan kembali, Ummi akan memperkenalkan kalian dan semoga saja kalian dapat berteman baik." Kata Ummi Hasna.


"Iya Ummi."


***


Shanum melewati sorenya dengan mengajari anak-anak membaca Al-Qur’an di Madrasah tidak jauh dari rumah yang ia tempati.


Kemarin, ketika mengikuti Bi Ipah berbelanja di pasar, Shanum diperkenalkan dengan pemilik Madrasah Seni Baca Al-Qur'an. Bi Ipah memang sudah akrab dengan pemilik Madrasah itu, namanya Harisa. Wanita cantik berkerudung lebar dengan cadar yang setia dikenakkannya.


Wanita bercadar itu menawari Shanum untuk ikut membantunya mengajar di Madrasah yang dia kelola. Shanum dengan senang hati menerima tawaran itu, karena dia memang ingin melewati hari-harinya dengan hal yag bermanfaat. Lebih dari seratus orang anak yang mereka didik sedangkan guru yang mengajarinya hanya ada empat orang sebelumnya, kini bertambah menjadi lima mulai hari ini.


Kebetulan, hari ini adalah jadwal Harisa yang mengajar sehingga dia bisa menjelaskan kepada Shanum mengenai rutinitas mereka. Selain mengajar mengaji, Harisa juga bekerja butik pakaian muslim.


Setelah selesai mengajar anak didiknya mengaji, Shanum dan Harisa berjalan bersama menuju rumahnya masing-masing.


"Maa Syaa Allah, Shanum kagum sekali dengan Kak Risa." Ucap Shanum setelah mendengar cerita Harisa mengenai kesehariannya.


Dimulai dengan mengelola butik pakaian muslim, mengajar mengaji juga sedang menjalani study S2-nya. Tak hanya itu, Harisa juga tengah menjalani proses ta'aruf dengan seseorang yang baru dikenalnya. Itulah yang telah didengar Shanum.


"Alhamdulillah Dek. Kakak juga berterima kasih karena kamu mau ikut membantu mengajar mengaji, susah loh nyariin anak muda yang mau menyisihkan waktunya untuk hal baik ini." Ucap Harisa.

__ADS_1


"Alhamdulillah Kak, Shanum juga senang bisa bertemu dengan orang seperti kakak. Dan jauh dalam lubuk hati Shanum, Shanum juga ingin bercadar seperti Kakak." Shanum mengutarakan pikirannya, entah mengapa dia tidak susah dan nyaman saja berbicara buka-bukaan dengan Harisa meskipun mereka baru saja berkenalan.


Dari Abu Hurairah ra berkata,


"Bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Allah berfirman (kepada Malaikat): 'Apabila hamba-Ku berniat melakukan keburukan maka janganlah kamu mencatatnya, namun jika dia mengerjakan keburukan tersebut, maka tulislah sebagai satu keburukan. Dan apabila dia berkeinginan untuk kebaikan namun belum melakukannya maka tulislah ia sebagai satu kebaikan. Dan jika dia melakukan kebaikan tersebut, maka tulislah ia sebagai sepuluh kebaikan'" (HR. Muslim, hadits no 183)


"Alhamdulillah, kamu sudah memiliki niat baik itu. In syaa Allah akan segera diwujudkan ya Dek." Tambah Harisa.


"Aamiin. Iya Kak, doakan saja. Oh ya, Kakak tinggalnya di kompleks ini juga?" Tanya Shanum.


"Iya, di rumah paling pojok sana? Kalau kamu?"


"Shanum tinggal di rumah ini Kak." Jawab Shanum ketika mereka berhenti tepat di depan pagar rumah Ummi Hasna.


Seketika Harisa menegang entah mengapa, terpancar kegelisahan yang terlihat di kedua matanya. Shanum menawari Harisa untuk mampir ke dalam namun ditolak halus oleh wanita bercadar itu.


Ia ingin pamit untuk melanjutkan langkah menuju tujuannya yang hanya berbeda kompleks saja dengan tempat tinggal Shanum.


Tiiin... Tiiiin....


Belum sempat menjauh, bunyi klakson dari mobil yang hendak memasuki rumah ini pun menghentikan langkah wanita bercadar itu.


Kedua gadis berhijab lebar itu menggeser sedikit tubuhnya, gerbang terbuka namun sang pemilik mobil belum juga melajukan kendaraannya. Hening.


Beberapa saat kemudian, Thoriq muncul dari pintu kemudi menghampiri Shanum dan Harisa.


"Dari mana Dek, sore-sore begini?" Tanyanya.


"Dari MSBA Al-Ikhsan. Mas." Jawab Shanum sekenanya.


"Tempat anak mengaji di sekitar Masjid Al-Huda itu maksudmu?" Thoriq memastikan.


"Iya, Shanum juga mengajar di situ bantu Kak Risa." Ucap Shanum memperkenalkan wanita bercadar di sebelahnya.


Thoriq pun mengarahkan pandangannya pada wanita yang disebut namanya oleh Shanum barusan. Iris gelap Thoriq menatap intens sosok di samping Shanum, dimulai dari ujung kaki hingga ujung kepala yang tertutup rapat, hanya matanya saja yang terlihat.


Pria ini selalu saja begitu, seperti pertama kali melihat Shanum, dia juga menilai seperti hal barusan. Tetapi kali ini sedikit lebih lama entah mengapa.


"Hai, saya Thoriq. Kamu temannya Shanum ya? Salam kenal." Sapa Thoriq menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Dia sudah mengerti mengenai tidak bolehnya bersentuhan dengan yang bukan mahrom, seperti awal perkenalannya dengan Shanum.


"Saya Harisa, salam kenal." Ucap wanita bercadar itu dan melakukan hal yang sama dengan Thoriq, yaitu menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Nama yang cantik, sepert-"


"ABAAAAANG!!!"

__ADS_1


__ADS_2