A

A
EMPAT PULUH TIGA


__ADS_3

PART 43 - MENUJU PENYELESAIAN (?)


Allah SWT. berfirman:


“Pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang cinta mencintai karena Aku, saling kunjung mengunjungi karena Aku dan saling memberi karena Aku.”


(Hadits Qudsi)


________________________________________


"Assalamu'alaikum...."


Sebuah salam menghentikan langkah Shanum dan teman-temannya. Shanum memandang kaget sosok di depan mereka, dia kah yang akan menjadi pengganti Pak Riqhad?


"Wa'alaikumsalam."Jawab mereka serentak.


Naina dan Devia menatap kagum sosok tampan di depan. Pria jangkung beriris coklat terang, tatanan rambut yang rapi, sedikit berjambang dan tentunya berkulit bersih. Sosok idaman sekali. Mungkinkah Pak Dosen Tampan akan digantikan oleh pria yang tak kalah tampan seperti orang di depan ini?


"Ngga apa-apa lah kehilangan Pak Riqhad. Toh sekarang datang lagi yang tak kalah sama, mudah-mudahan masih sendiri dan bisa disambet." Batin keduanya.


"Shanum, apa kabar?" Tanya pria tersebut dengan ramah. Menyapa Shanum yang masih memasang wajah kagetnya.


Naina, Devia dan Nabil memandang penasaran Shanum. Bagaimana bisa pria ini mengenali Shanum? Sedangkan Aufar hanya bungkam, ia memutar matanya malas sembari meninggalkan teman-temannya itu tanpa permisi. Ia lebih memilih berpatroli ke gedung design untuk cuci mata sejenak.


"Alhamdulillah baik, Mr. Mr apa kabar?" Jawab Shanum setelah menormalkan mimik wajahnya.


"Alhamdulillah, baik juga. Udah lama ya kita enggak ketemu, udah hampir dua bulan deh kayaknya." Timpal pria itu lagi sambil berpikir.


Shanum mengangguk membenarkan. "Oh, iya Mr. Ada keperluan apa ya di sini? Kapan kembali dari Singapore?" Tanya Shanum.


"Udah tiga hari. Kebetulan Ana pindah ke sini mulai hari ini. Untuk ke depannya, mohon kerjasamanya ya." Ucap pria yang dipanggil Mr. Oleh Shanum. Teman-temannya hanya menyimak sambil memandangi wajah khas Timur Tengah milik pria yang mungkin saja akan menjadi dosen baru mereka.


"Bisa tunjukkan ruang Pak Wira?" Pintanya lagi dengan sopan.


Mendengar permintaan itu sontak membuat Naina dan Devia bersemangat ria. "Boleh, boleh banget. Mari kita tunjukin, Mr!" Kata mereka serentak mengikuti panggilan dari Shanum untuk pria ini.


Kemudian, Naina dan Devia pun mulai melangkah ke arah ruangan Pak Wira. Shanum hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Sedangkan Nabil malah melongo melihat hal tersebut.


Dasar, mahasiswi zaman kini, lihat yang ganteng dikit aja sahabat kece ditinggalin. Mentang-mentang mirip pangeran Arab, pangeran Inggris kayak gue diacuhin. Batin Nabil sambil mendengus tak suka. Ia pun lebih memilih menyusul Aufar ke gedung design, palingan si Aufar mau ngecengin adik ipar Shanum.


***


"Pa, tolong hentikan semua ini Pa!" Fhariza menyentak lamunan Papanya.


Setelah dia dan Gilan menemui Riqhad di tempat perjanjian mereka, Riqhad menjelaskan semuanya kepada mereka. Fhariza merasa sedih mendengar apa yang dialami Riqhad dan keluarganya itu. Berkali-kali ia meminta maaf pada Riqhad atas apa yang dilakukan oleh Papanya.


Fhariza juga mengatakan kepada Riqhad mengenai depresi sang Papa hingga Riqhad ikut prihatin dan tidak ingin mengusut masalah pencemaran nama baik atas Papanya. Hingga akhirnya mereka sepakat dengan usul Fhariza untuk menyadarkan Pak Hardean dengan cara baik-baik.


Fhariza sebenarnya tak ingin membuka aib tentang depresi dan emosi tak stabil dari Papanya ini. Telah lama ia menyimpan dan terus mengikuti keinginan Papanya meski ia tahu itu semua adalah bentuk kejahatan, tapi semenjak Papanya berniat mencelakai Gilan, Fhariza menjadi sadar bahwa apa yang ia lakukan selama ini adalah salah. Seharusnya ia keukeh untuk menyadarkan Papanya dan membantu Papanya berubah. Meski sekarang sangat terlambat, Fhariza akan berusaha hingga kelak Papanya tidak akan menyesal.


"Untuk apa kamu ke sini! Belum puas kamu membangkang pada Papa!" Hardean menatap kesal putrinya.


Ia sangat malu sebab kalah dari cinta sang anak dengan pria bernama Gilan itu. Beberapa kali gagal mencelakai penghalang dari rencananya dan membuat Fhariza membangkang, hingga akhirnya dengan berani Gilan beserta kedua orang tua menemuinya untuk meminta Fhariza menjadi istri Gilan.


Awalnya ia menolak keras rencana tersebut namun entah mengapa setelah melihat dan mengetahui kebenaran tentang Ratu yang tak lain adalah cucunya. Ia sedikit luluh hingga menyetujui pernikahan mereka dan tanpa disangka ia bersedia menjadi wali nikah dari putri tunggalnya. Sebab, kebahagiaan Fhariza adalah kebahagiaannya juga.


"Pa, Riqhad dan keluarganya salah apa ke Papa? Mama meninggal karena sakit Pa." Terang Fhariza lagi. Fakta ini telah lama terkuak namun Papanya seolah tutup mata dan hanya percaya pada dirinya sendiri.


"Kamu jangan ngelunjak! Setelah Papa menyetujui pernikahanmu dengan Gilan dan mengakui anakmu sebagai cucu Papa. Bukan berarti dendam Papa tak ada lagi. Keluarga mereka harus hancur ditangan Papa." Pak Hardean makin kesal mendengar penjelasan Fhariza.


"Tapi Pa, bukankah kata Papa Shanum adalah sepupuku? Papa dan Mamanya adalah saudara seayah? Tidakkah Papa kasihan padanya? Pada keponakan Papa sendiri." Terang Fhariza setelah mengetahui fakta ini, papanya pernah menyinggung masalah saudara sepupunya dan baru akhir-akhir ini ia tahu bahwa sepupunya itu adalah Shanum.


"Karena dia sekarang telah menjadi anggota keluarga Okhtara berarti dia adalah musuh Papa juga. Kebetulan yang hebat sekali bahwa gadis kecil di masa lalu itu adalah dia sehingga menghancurkan Riqhad adalah hal mudah. Papa yakin sebentar lagi mereka akan bercerai." Pak Hardean tersenyum sinis.


Fhariza menghela nafas lelah hingga mengelus dadanya. Berbicada pada Papanya harus dengan banyak kesabaran.


"Pa, kali ini Fhariza tegaskan. Meskipun papa adalah ayahnya Fhariza, bukan berarti Fhariza akan diam saja melihat tindakan Papa ini. Ini kejahatan Pa, apalagi memisahkan suami-istri. Merusak rumah tangga seorang muslim disebut dengan “takhbib”. Hal ini merupakan dosa yang sangat besar, selain ada ancaman khusus, ia juga telah membantu Iblis untuk mensukseskan programnya menyesatkan manusia."


"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


”Barang siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya maka dia bukan bagian dari kami.” ( HR. Ahmad, shahih)

__ADS_1


Dalam kitab Mausu’ah Fiqhiyyah dijelaskan bahwa merusak di sini adalah mengompor-ngimpori untuk minta cerai atau menyebabkannya (mengompor-ngompori secara tidak langsung).


“Maksud merusak istri orang lain yaitu mengompor-ngompori untuk meminta cerai atau menyebabkannya, maka ia telah melalukan dosa yang sangat besar.” (Mausu’ah Fiqhiyyah 5/291)


"Kamu! Sana pergi ke rumah pria sialan itu. Lama-lama kamu terkontaminasi dengan kesombongan suamimu! Udah berani ceramahin Papa begini! Udahlah, nggak usah lagi ganggu rencana Papa." Bentak Hardean.


Enak saja Fhariza menceramahinya begini, apalagi sekarang ia tengah kesal sebab rencana untuk mengacaukan perusahaan Riqhad telah gagal. Orang-orangnya telah ketahuan melakukan penyelewengan hingga berhasil dipecat. Riqhad pun pasti telah mengetahui tindak-tanduknya, apalagi sekarang putrinya terlihat berpihak pada mantan kekasihnya itu.


Karena rencananya gagal, Hardean pun melancarkan rencana berikutnya yaitu menghancurkan hubungan Riqhad dan istrinya. Ketika mengetahui 'Elsha kecil' atau Shanum itu adalah istrinya Riqhad, Hardean seakan mendapatkan kartu ASnya hingga mengirimkan foto yang telah lama ia simpan itu ke rumah keluarga Okhtara.


Andaikan sedari awal ia tahu, pasti hal inilah yang akan ia lakukan terlebih dahulu. Hardean mengetahui mengenai hubungan yang disenyembunyikan Riqhad dan Shanum ini dari postingan karyawan Okhtara Group di Surabaya dan laporan dari orangnya di sana. Mereka memposting foto atasan mereka dengan istrinya yang terlihat begitu bahagia. Riqhad telah mempublikasikan pernikahannya di sana.


Ternyata, rencana ia berhasil hingga sekarang ia tahu bahwa Shanum telah diusir dari rumah mertuanya itu dan dibenci oleh adik iparnya sendiri. Meski Shanum merupakan anak dari saudara perempuan seayahnya, Hardean tidak merasa kasihan sedikit pun sebab ia juga membenci ibunya Shanum yang telah merebut kasih sayang ayahnya. Hardean tahu mengenai Shanum semenjak masalah ia melakukan usaha pembunuhan pada Ayahnya Riqhad dulu hingga menjebaknya.


Kemudian, dari sanalah ia dipertemukan kembali dengan seorang pengacara tua yang sok hebat yang tak lain adalah ibu tirinya yang telah lama menghilangkan diri. Syafiah, Oma kandung dari Shanum sendiri. Hal ini membuat ia semakin mudah melakukan tindakan ini tanpa belas kasihan.


"Pa, insyaf lah Pa. Papa udah tua, cucu Papa pun udah besar sekarang. Hilangkan kebencian Papa, belajarlah mempercayai orang. Papa sudah menerima semua bukti bahwa Ayah Riqhad tidak bersalah atas meninggalnya Mama dan tidak juga ada sangkut pautnya dengan penghianatan sahabat Papa itu. Sudah saatnya Papa berubah demi Papa dan demi Fhariza juga. Katanya kebahagiaan Fhariza adalah prioritas Papa, jadi Fhariza mohon Pa, berhentilah sekarang, lebih baik Papa habiskan masa tua Papa dengan banyak beramal serta menghabiskan waktu bersama cucu Papa." Ucap Fhariza tulus. Ia mulai terisak hingga tak sanggup lagi berkata lebih.


Pak Hardean bungkam, dadanya sakit mendengar ucapan putrinya apalagi melihat kesedihan di wajah cantiknya itu. Ada sisi lain dari diri Hardean yang tersentuh. Bisakah ia dimaafkan akan semua kelakuan buruknya ini?


"Maaf mengganggu waktumu, Pa. Fhariza sayang Papa, Ratu pun ingin disayangi oleh Papa. Ayo Pa! Kita bahagia, tanpa menghancurkan kebahagiaan orang lain. Fhariza pamit. Assalamu'alaikum."


Setelah mengatakan itu, Fhariza pun pergi meninggalkan kantor Papanya dengan masih terisak. Ia sangat menyayangkan apa yang Papanya lakukan. Semoga Papanya mau mendengarkan ucapannya kali ini.


Hardean menekan nyeri di dadanya dan terduduk di kursi kebesarannya yang sangat ia banggakan ini. Apakah sebenarnya yang ia cari dari semua ini? Batinnya mulai meragukan tindakannya.


***


Di kantor, Riqhad sedang mencermati hasil dari penyelidikan orang kepercayaannya. Roni memang tak pernah mengecewakannya semenjak menjadi orang kepercayaannya. Dalam dua hari ia berhasil mengumpulkan data yang dibutuhkan Riqhad sedetail ini.


"Jadi, Pak Hardean juga merupakan saingan bisnis Papa sebelumnya?" Batin Riqhad.


Ia kembali mencermati monitor yang di dalamnya terdapat file riwayat hidup dari Papanya Fhariza. Setelah mendengar penjelasan Fhariza, Riqhad menjadi tahu pokok permasalahannya. Papa Fhariza hanya ingin mencari pembenaran tentang dugaan sepihaknya itu. Meski ia sangat marah terhadap pria tua itu, namun Riqhad memilih menyelesaikan semuanya dengan kepala dingin dan dengan cara kekeluargaan. Hingga ia menerima permintaan maaf dari Fhariza dan menyetujui usulan Fhariza untuk menyadarkan pria itu.


Riqhad lega, permasalahan kantor pun telah terselesaikan. Saat meeting kemarin, Riqhad berhasil menjatuhkan wibawa seorang Hardean dengan bukti-bukti penyelewengan hingga Riqhad menghentikan kerjasama mereka. Hardean marah hingga meninggalkan meeting terlebih dahulu, ditambah lagi banyak perusahaan yang membatalkan kerjasama dengan Hardean sebab tindakannya ini.


Flashback On*


"Riqhad, putra Farhan sang Direktur Utama Okhtara Group. Saya akui kamu hebat! Meminjamkan tampuk kepemimpinan pada kakakmu hingga di saat yang tepat kau ambil kembali. Meski kau sudah tahu tindakan saya ini, itu tak mengubah kenyataan bahwa kau menikahi mantan istri Papamu sendiri! Ini aib. Siap-siaplah menerima malu untuk kedua kalinya, apalagi istrimu telah diusir oleh Adikmu sendiri. Dalam hal ini saya berhasil."


"Om, saya menghormati Om sebagai orang yang lebih tua dari saya, orang yang berpengalaman dalam bidang kerjasama kita dan orang yang telah banyak membantu saya. Tapi, apakah Om senang telah melakukan semua ini? Tidak Om! Meski bukan sekarang, Om akan menyesal nantinya. Apa yang Om kejar dan apa yang Om genggam akan terlepas jika kehendak dari-Nya."


"Zoeya akan paham seiring berjalannya waktu, tapi cinta saya dan kepercayaan saya pada istri saya tetap sama. Meski sekarang berjarak, kalau memang dia takdir saya maka akan kembali lagi."


"Kamu! Meski kamu dan ibumu menerima istrimu tapi belum tentu keluargamu yang lain juga. Mereka akan merasa malu jika mengetahui hal ini."


"Kita lihat saja nanti Om! Obsesi Om yang menang ataukah cinta saya!"


"Dan juga saya akan memaafkan semua kesalahan Om serta melupakan apa yang Om lakukan pada keluarga saya. Tapi, Om harus meminta maaf secara resmi pada kami dan juga membuat klarifikasi mengenai Papa saya."


"Tidak akan! Jangan mimpi kamu! Sebentar lagi keluargamu akan hancur untuk apa saya harus melakukan itu kalau apa yang saya inginkan segera terwujud."


"Om, sekali lagi saya tanyakan. Apa yang Om cari sebenarnya? Apakah Om puas melakukan ini? Sampai batas mana pencarian Om ini?"


Hardean terdiam kaku dan enggan menjawab.


"Saya permisi! Semoga Om mau berubah, kalau masih sama juga maka jangan salahkan saya kalau saya akan menuntut Om atas kejahatan Om terhadap Papa saya dulu."


Flashback Off*


Riqhad sekarang hanya menunggu Pak Hardean minta maaf secara langsung sesuai permintaannya kemarin dan membuat klarifikasi atas kesalahpahaman yang telah berlarut ini. Ia takut desas-desus mengenai Papanya kembali berseliwengan di perusahaan seperti beberapa tahun lalu.


Riqhad menghela nafas prustasi sembari memandangi foto yang ia pajang di atas meja kerjanya. Foto pernikahannya bersama Shanum. Ia menatap lirih sosok digambar itu, rindu.


"Sebentar lagi. Rindu ini akan bermuara padamu." Gumamnya.


Drrrt... drrrt....


Ponsel Riqhad berdering, ia langsung menggeser icon hijau sebab siapa yang menelepon tersebut adalah orang yang ia tunggu-tunggu sedari tadi.


.........

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam."


...........


"Bagaimana, Ron?"


...........


"Apa tanggapannya?"


............


"Apa dia curiga?"


..................


"Siapa?"


...............


"Apa?"


..............


"Oke-oke, saya ke sana sekarang!"


Tut.


Riqhad menutup ponselnya seraya mengambil kasar jas yang ia letakkan di kursi kerja. Setelah menghubungi Omnya untuk izin keluar dan meminta Omnya menghandel pekerjaannya, Riqhad dengan tergesa pun meninggalkan kantor untuk menuju tempat yang diberitahukan oleh Roni.


Wajahnya memancarkan aura gelap hingga rahangnya pun mengeras, ia menggertakkan gigi seakan membenci apa yang disampaikan oleh Roni.


"Qhad, mau kemana kamu? Nanti kita masih ada meeting lagi loh!" Thoriq menghentikan langkah Riqhad yang terlihat tergesa.


"Ada urusan penting di luar. Abang aja yang gantiin aku!" Jawab Riqhad sambil berlalu.


Thoriq hanya menghela nafas pasrah dan kembali melangkah menuju ruangannya.


Disisi lain tepatnya di cafe sekitar kampus, Shanum sedang terduduk lemas sembari mengelus perutnya. Ia dan kedua sahabatnya ditraktir makan oleh dosen baru mereka yang tak lain adalah sahabat dari Riqhad sendiri, Azhar atau suaminya Sarah.


Setelah berbagi cerita, Naina dan Devia terpaksa menelan pil pahit akibat mengetahui fakta bahwa dosen berparas Timur Tengah ini telah beristri.


"Masih mual, Shan?" Tanya Naina khawatir.


Sebelumnya Shanum biasa-biasa saja, namun setelah mencium aroma kentang goreng yang dipesan oleh Devia ia menjadi mual hingga memuntahkan cairan bening. Kedua sahabatnya dibuat kelimpungan, hendak membawa Shanum pergi namun orang yang mentraktir mereka belum juga muncul semenjak izin keluar menuju mobilnya.


"Ngga sih. Tapi rada lemas aja, bawaan yang di dalam mungkin." Lirih Shanum dengan wajah murung.


Devia dan Naina tahu bahwa Shanum merindukan suaminya. Ia sering melamun dan kadang memandangi info kontak Riqhad di ponselnya tanpa berniat menghubungi. Shanum segan karena mungkin Riqhad sekarang membencinya, mencegah Shanum pergi pun tidak apalagi untuk menghubunginya dan memintanya kembali.


"Maaf lama. Ada sedikit urusan di luar." Yang ditunggu pun datang. Wajah Azhar terlihat lebih cerah dari sebelumnya, apalagi waktu aura ketika mendengar masalah Shanum dan Riqhad yang disampaikan oleh mulut ember Naina dan Devia.


"Ngga apa-apa, Pak. Tapi, siapa pria yang berbincang dengan Bapak di luar tadi. Maaf saya intip dikit." Ucap Devia dengan malu-malu.


Azhar meminta mereka memanggilnya seperti memanggil Riqhad dengan sebutan 'Pak' daripada Mr yang seolah kebaratan, ini Indonesia dan bukan Singapora.


Azhar tersenyum kecil memandangi wajah pucat Shanum kemudian ia menatap Naina dan Devia satu per satu. "Oh, dia itu kenalan saya. Katanya dia mau kenalan sama kalian berdua, tapi dia ngga bisa masuk sebab lagi nungguin seseorang. Jadi, ayo keluar sebentar buat kenalan!"


Naina dan Devia kaget mendengarnya hingga saling pandang, heran. Kemudian, mereka melihat ke arah Shanum seolah tak tega meninggalkan sahabatnya meski hanya sebentar.


"Shanum lanjutin makannya dulu ya. Pelan pelan aja, Ana pinjam mereka sebentar ada yang ngajak kenalan di luar." Pinta Azhar. Shanum tersenyum kecil sembari mengangguk.


"Iya, ngga apa-apa. Shanum udah baikan kok." Jawab Shanum.


" Sana! Mana tau diantara kalian ada yang nggak jomblo lagi setelah ini." Tambah Shanum tertuju untuk sahabatnya.


Kemudian, Naina dan Devia pun mengikuti Azhar menuju pintu cafe. Shanum menunduk dan kembali mencoba menelan makanannya meski masih sedikit mual. Kentang goreng yang menjadi sumber mual-mualnya telah disingkirkan tapi rasa mulasnya masih terasa.


"Di mana pria itu?"


Deg

__ADS_1


Sebuah suara menghentikan kunyahan Shanum. Tubuhnya bergetar namun tak berani melihat ke sumber suara.


__ADS_2