
PART 45 - BAIKAN
"Cinta kepada Allah adalah puncaknya cinta. Lembahnya adalah cinta kepada sesama."
-Nabi Muhammad SAW-
_________________________________________
Dua minggu kemudian
Kesibukan terjadi di mana-mana, rumah mewah kediaman keluarga Okhtara ini pun telah disulap bak istana nan indah. Dua pasang singgasana utama disandingkan di aula tengah yang sengaja dikosongkan.
Dekorasi simpel tapi elegan telah dikerjakan sesuai keinginan Zoeya dan Latiffa. 'Duo saudara' inilah yang paling bersemangat mempersiapkan segalanya. Hari peresmian pernikahan Shanum dan Riqhad serta pernikahan Thoriq dan Syafiqa.
Dua minggu yang lalu, Syafiqa diboyong Thoriq ke Jakarta kemudian mereka melaksanakan akad nikah ulang di KUA dan mengurus surat-surat yang diperlukan.
Zoeya pun juga sudah menyatakan penyesalannya karena berlaku tidak baik pada Shanum dan mengusirnya. Ditemani Aufar, Zoeya menemui Shanum di rumah Thoriq dan sangat tak disangka Riqhad pun juga ada di sana.
Flashback On
Sepuluh hari sebelumnya
Di depan pintu rumah Thoriq
"Kok Bang Riqhad yang bukain pintunya? Inikan rumah Bang Thoriq." Ucap Zoeya kaget.
Zoeya dan Aufar memutuskan menemui Shanum ke rumah Thoriq setelah menyampaikan penyesalannya pada Mama Hasna. Mama Hasna sangat bahagia karena Zoeya akan mengajak Shanum kembali ke rumah mereka.
Riqhad dengan ekspresi kesal memandangi kedua tamu tak diundang ini. Bukan tanpa alasan moodnya buruk, sebab Shanum masih tidak mau berdekatan dengannya bahkan kini ia sering memarahinya jika ia mendekati Shanum.
"Emang kenapa kalau Abang yang buka?" Tanya Riqhad ketus.
Zoeya menghela nafas pasrah dan tak ingin memperpanjang masalah ini.
"Bang, jangan marah lagi ya sama Oya. Oya bener-bener minta maaf udah ngusir Shanum." Ucap Zoeya seraya memeluk Riqhad dengan rasa bersalah.
"Jangan minta maaf sama Abang. Langsung aja ke Shanum, meski Abang yakin dia udah maafin Oya dari awal." Balas Riqhad dengan intonasi melembut untuk menimpali perkataan adiknya.
"Udah denger penjelasan dari Mama atau Bang Thoriq?" Tambah Riqhad lagi setelah beberapa saat berlalu.
"Iya Bang, udah. Oya jadi pengen balas kejahatan Om itu deh, kok bisa jahatin keluarga kita." Zoeya pun melepaskan pelukannya pada Riqhad.
"Kita ngga boleh balas api dengan api. Itu membuat kita sama saja dengan 'dia'. Sebenarnya Abang lebih marah dari kalian mendengar kenyataannya, tapi Abang berusaha sabar dan membalasnya dengan cara yang lain. Mudah-mudahan dia sadar." Terang Riqhad dengan lembut.
Meninggalkan percakapan kedua saudara sedarah ini, menyisakan seorang lainnya yang merasa tak dianggap ada.
"Ehem... Bang, kita nggak disuruh masuk dulu gitu?" Ucap Aufar yang sedari tadi hanya menjadi pajangan di belakang Zoeya.
Riqhad pun tersenyum kikuk dan mempersilakan keduanya masuk.
"Eh, ada apa kumpul-kumpul di rumah Abang. Perasaan ngga diundang deh."
Thoriq muncul bersama seorang wanita bercadar. Tanpa bertanya mereka tahu siapa wanita itu. Mata mereka pun menatap intens Thoriq dan Syafiqa. Syafiqa merasa canggung ditatap seperti itu.
"Ngapain lihat gitu amat?" Ucap Thoriq memahami kecanggungan istrinya.
"Abang kapan ke sini?" Tanya Zoeya gagap.
"Seharusnya Abang yang tanya kalian kapan ke sini? Kalau Abang mah bebas mau keluar masuk rumah ini. Toh ini rumah kami, ia kan Syafiq?" Ucap Thoriq dengan wajah cerah ke arah Syafiqa.
Syafiqa hanya tersenyum, terlihat dari matanya yang menyipit.
"Ish Abang mah. Mentang-mentang udah punya istri." Ucap Oya gemas.
"Iya dong. Susah tahu nemuin dia, Abang aja hampir gila." Jawab Thoriq dengan jujur.
Syafiqa pun mencubit pinggang suaminya itu. Kelakuannya masih saja sama seperti dulu.
"Ciee.. ciee.. Abang Thoriq udah ngga jomblo." Zoeya tertawa melihat keakraban mereka.
Thoriq pun membawa Syafiqa mendekat ke arah adik-adiknya. Mereka berkumpul di ruang tamu yang didominasi oleh warna biru langit campur silver. Warna kesukaan Syafiqa ketika mereka masih pacaran dulu.
"Oke, setelah ini nggak ada lagi yang bisa hina Abang karena jomblo. Karena Abang udah lama sold out tahu."
Semuanya pun tertawa mendengar penuturan Thoriq tak terkecuali Syafiqa yang masih setia berada di samping suaminya.
"Kak, Oya seneng loh tahu kalau kakak istrinya Abang Oya. Diluar masalah sebelumnya, Oya mohon jangan pergi lagi karena Abangnya Oya sangat mencintai kakak." Ucap Zoeya pada kakak iparnya.
Meski tak seakrab dia dan Shanum, Zoeya mencoba membiasakan diri dengan kakak iparnya yang satu ini.
Syafiqa pun terharu dan berhamburan memeluk adik iparnya. "Terimakasih Zoeya dan maaf atas apa yang terjadi sebelumnya. Aku beruntung memiliki dia sebagai imam terbaikku, aku pun takkan sanggup lagi berjauhan dengannya. Karena rindu itu menyakitkan." Balas Syafiqa.
__ADS_1
Keduanya pun larut dalam keharuan, meninggalkan ketiga pria yang hanya menatap mereka dengan pandangan lembut.
Kemudian, Riqhad teringat dengan istrinya yang masih berada di kamar. Setelah kembali diusir tadi, sebab meski telah berganti farfum, Shanum kembali berulah dengan mengatakan suka kesal jika melihat wajah Riqhad. Beginikah cara Shanum dan Qhanum junior menghukumnya.
"Oya, kamu temuin aja Shanum langsung ke kamarnya. Biar leluasa ngomong berdua." Ucap Riqhad akhirnya.
Zoeya pun mengangguk paham dan bergegas menuju kamar Shanum di lantai dua. Sampai di sana, ia melihat Shanum yang sedang serius memilih-milih pakaian mana yang akan ia gunakan. Terlihat dari beberapa jenis gamis yang tergeletak di atas kasurnya.
Entah mengapa, Shanum merasa banyak terjadi perubahan pada dirinya. Ia sering ribet sendiri bahkan untuk mengurus hal remeh, ia juga selalu ingin tampil cantik, rapi, wangi dan kadang selalu ingin Riqhad memandang ke arahnya tetapi anehnya ia enggan berdekatan dengan Riqhad karena akan membuatnya kesal dan ingin memarahi suaminya itu.
Tokk.. tokk..
Zoeya mengetuk pintu kamar Shanum yang memang setengah terbuka.
Shanum mengalihkan pandangannya dari cermin di depannya. Ia kaget melihat seseorang yang sangat ia rindukan berada di depan pintu kamarnya, Zoeya.
Meski Mama Hasna sering mengunjunginya ke sini dan menyampaikan kabar dan aktivitas Zoeya, Shanum merasa tidak puas dan ingin sekali seakrab dulu dengan adik ipar sekaligus sahabatnya itu.
Shanum berkaca-kaca dan langsung melepas sehelai pakaian gamis dari genggamannya dan mendekati Zoeya. Ia pun mempersilakan Zoeya memasuki kamarnya, tanpa diduga Zoeya melangkah cepat dan merengkuh tubuh Shanum yang kini terasa sedikit gemukan.
"Shanum, maafin Oya ya. Oya udah jahat banget! Oya nyesel... Mau ya, balik ke rumah lagi... Rumah sepi tahu ngga ada kamu. Sejak kamu pergi, Abang Riqhad juga nggak pernah ke sana lagi." Zoeya menyampaikan isi hatinya.
"Oya, Shanum udah maafin Oya sebelum Oya minta maaf. Shanum juga nggak marah, seharusnya Shanum yang minta maaf duluan ke Oya, mestinya Shanum memberitahukan masa lalu Shanum ini ke Oya dan keluarga sedari awal." Balas Shanum sendu.
"Shanum minta maaf ya Oya, jangan jauhi Shanum lagi. Shanum terlanjur menyayangi keluarga Oya." Tambahnya lagi.
Mereka pun berpelukan erat sembari menumpahkan perasaan masing-masing.
Sementara itu, di ruang tamu sana Riqhad, Aufar, Thoriq dan Syafiqa tengah serius memandangi videocall dari Mama Hasna dan Latiffa.
"Jadi gitu, acaranya digabungin aja Bang. Setelah menampilkan tayangan akad nikah ulang dari Bang Thoriq, dilanjutin dengan video akad nikah Bang Riqhad sama Shanum. Gimana?" Tawar Latiffa setelah berbicara panjang lebar.
Mama Hasna pun mengangguk di samping Latiffa menyetujui usulan itu. Kemudian, genggaman Thoriq ditangan lembut Syafiqa kian mengerat. Hati mereka bergemuruh syukur sebab mereka kembali dipersatukan dengan perasaan yang masih utuh, meskipun masih tersisa sedikit rasa bersalah pada keluarga Armadan.
Armadan dan Ibunya memang telah mengatakan ikhlas melepaskan Syafiqa kembali kepada pria halalnya, namun hubungannya dengan Thoriq tidak lagi seakrab dulu. Itulah yang masih mengganjal diantara mereka.
Aufar hanya diam tak berkutik, ia merasa menjadi seseorang yang sangat tidak diperlukan disini. Namun, demi Zoeya dia bersikap tebal muka meski tak dianggap sama sekali. Nasib bujangan.
"Tapi Ma, apakah Shanum nggak kaget kalau kita tidak membicarakannya terlebih dahulu?" Tanya Riqhad.
Mama Hasna saling berpandangan dengan Latifa berusaha menjelaskan pada Riqhad.
"Ini kejutan untuk Shanum Bang. Abang mau kalau ditunda-tunda lagi perut Shanum akan semakin membesar. Pandangan orang-orang terhadapnya akan buruk, lebih baik memperjelas keberadaannya disamping Abang lebih cepat. Abang juga nggak usah lagi diam-diam buat nyembunyiin dia dari banyak orang, Abang bebas tuh kemana-mana berdua." Bujuk Mama Hasna.
Ia sampai lupa bahwa sekarang ada beberapa pasang mata yang tercengang melihat sifatnya yang lembek begini.
Aufar berusaha menahan cekikikannya yang hendak keluar. Betapa lucunya Mantan Dosennya ini, tidak terlihat galak sama sekali.
"Itu makanya, kita cepetin aja acaranya Qhad. Pas banget acara kita diadakan setelah ujian semesternya berakhir. Masalah Shanum nggak suka deket-deket sama kamu itu ya sebisa kamu aja buat dia nyaman." Thoriq berusaha menenangkan Riqhad.
'Pret, Bang Thoriq sok-sokan nasehatin. Ngerasa diposisi aku aja belum. Coba aja nanti! Pasti ngeluh juga." Batin Riqhad.
Beberapa saat kemudian, Semua pun setuju untuk menyembunyikan acara walimah gabungan ini dari Shanum. Dan semoga tidak ada halangan yang akan merintang di acara mereka. Aamiin.
Flasback Off*
"Bang, undangannya udah selesai disebar semua?" Tanya Zoeya pada Riqhad.
Riqhad mengangguk, "udah. Banyak yang kaget tau nggak dapat double undangan dari acara yang sama. Apalagi teman Abang sesama dosen, mereka sampe ngetawain Abang." Terang Riqhad membayangkan kejadian di kampusnya tadi.
Meski yang bertugas membagikan undangan walimahnya sudah ditetapkan. Tapi, undangan untuk rekannya sesama dosen di kampus sebelumnya, Riqhad memilih mengantarnya sendiri sekaligus bersilaturrahmi.
Tanpa diduga ia malah diledeki oleh rekan prianya, mereka tidak menyangka Riqhad menikahi mahasiswinya yang selalu ia usili. Tapi sayang, banyak dari rekan wanitanya yang menatapnya sedih entah dengan alasan apa. Mungkin saja mereka merasa kecewa sebab tidak dipungkiri Riqhad menjadi dosen idola di kampusnya.
"Terus, Abang udah pastiin Shanum nggak tahu apa-apa buat acara besok?" Tanya Zoeya lagi.
Shanum memang tidak dilibatkan sama sekali sejak penetapan hari H acara ini. Meski tak lagi berada di rumah Thoriq, Shanum tetap tidak mengetahui kesibukan keluarga mereka. Shanum telah Riqhad pindahkan ke rumahnya sendiri yang ia tinggali sejak membujang.
Riqhad mengangguk, sambil memandangi orang-orang yang berlalu lalang mempersiapkan acara besok. Ia tak dapat menolak ketika Zoeya dan Latiffa mematenkan diri untuk mengatur kesuksesan acara besok, meski Riqhad tidak menyukai konsep acara yang begitu ribet dan dekorasi yang berlebihan ini. Apalagi ketika rencana awal, Mamanya ingin menyewa gedung sebagai lokasi acaranya.
"Iya. Kamu tenang aja, dia nggak tau kok. Udah Abang amanin di rumah." Jawab Riqhad mantap.
Sejak menempati rumahnya dan kemarin ujian semester Shanum selesai, Riqhad tak pernah meninggalkan Shanum sendirian di sana, bahkan ia meminta cuti di kantornya.
Kecuali hari ini untuk mengantar undangan, ia akan selalu menemani Shanum dan memenuhi segala jenis ngidam Shanum yang mulai normal. Tentunya tak lagi mengatainya bau dan tak lagi menjauhinya, bahkan kini menjadi sebaliknya.
Shanum menjadi lebih manja, cengeng dan ingin selalu berada di dekatnya. Inilah ngidam yang seharusnya dialami Shanum, ngidam yang sangat disukai Riqhad. Sebab, Shanum tak akan bisa tertidur jika tidak berbantalkan lengan Riqhad dan berselimutkan pelukan dari suaminya. Meski tangan Riqhad paginya akan kebas dan sedikit mati rasa, demi sang istri ia ikhlas dan ridho.
Drrt... drrt...
Sesuai dugaan Riqhad, Shanum pasti kembali berulah. Ia akan mencari Riqhad jika menginginkan sesuatu, membuat Riqhad susah untuk berjauhan dengannya meski berada di rumah mereka sendiri.
__ADS_1
Setelah mengkode Zoeya, Riqhad pun menerima panggilan dari istrinya sembari meninggalkan kesibukan di rumah Mamanya.
Di rumah Riqhad dan Shanum
Shanum dengan terampil menata beragam jenis makanan buatannya di meja makan. Sudah hampir dua jam lebih ia habiskan berkutat di dapur yang luas ini. Dapur bergaya khas Eropa yang di desain khusus dari tangan suaminya.
Sudah hampir tiga hari semenjak mereka pindah ke rumah ini, Shanum menjadi kecanduan untuk bereksperimen dengan beragam bahan masakan untuk membuat menu yang ia pelajari dari buku yang diberi oleh suaminya dan ada beberapa resep ia pelajari dari menonton youtube.
Menurut Devia dan Naina ketika kemarin mereka berkunjung ke rumah ini, mereka menilai apa yang dikerjakan Shanum ini adalah bentuk lain dari ngidam. Kata orang, jika seorang wanita hamil suka berhias, ingin selalu tampil cantik dan senang memasak itu tandanya anak yang ia kandung berjenis kelamin perempuan. Apakah benar?
Shanum tak mempermasalahkan jenis kelamin calon anaknya, asalkan lahir dengan selamat dan sehat adalah yang utama. Aamiin.
Ketika masih menyiapkan menu terakhirnya, Shanum dikagetkan dengan pelukan erat dari belakang tubuhnya. Sepasang lengan kekar melingkari dirinya, menyelipkan wajahnya disela leher Shanum yang tidak ditutupi kerudung.
Ketika berada di rumah dan hanya berdua, Shanum memang tidak mengenakkan kerudung bahkan pakaian yang ia gunakan di hadapan suaminya juga terkadang sedikit terbuka.
"Harum sekali, Humairahnya Abang." Ucap Riqhad lembut di balik bahu Shanum.
Ia terus saja memberi kecupan pada istrinya ini. Untung saja apa yang ia ucapkan ketika berada di rumah Thoriq tidak benar-benar terjadi. Ternyata, ngidam Shanum yang tak ingin berdekatan dengannya hanya berlaku sementara. Tak dapat ia bayangkan jika sampai hari ini Shanum masih kesal berada didekatnya, jika iya maka takkan ada hari-hari romantis bersama.
"Iya dong, Bang. Ini semua masakan Shanum." Timpal Shanum dengan segera mematikan kompor di depannya.
Padahal yang dipuji Riqhad bukanlah masakannya, melainkan Shanum sendiri. Tak ingin membuat Shanum merajuk, Riqhad pun membenarkan saja perkataan Shanum.
"Iya. Masakan kamu harum, pasti enak. Tapi, kenapa masaknya banyak banget? Emang kita punya tamu, sayang?" Tanya Riqhad heran melihat puluhan piring berjejeran di atas meja makan dengan menu berbeda.
Shanum tersenyum, merenggangkan pelukan Riqhad hingga membalikkan badannya ke arah suaminya. "Enggak ada tamu kok, Bang." Jawabnya lembut.
Riqhad melihat dahi istrinya dipenuhi keringat hingga dengan lembut ia menyekanya. Tak dipungkiri, wajah Shanum pun memerah karena suka akan perlakuan ini.
Setelah meyeka keringat di dahi istrinya, tangan Riqhad berpindah menangkup wajah Shanum yang terlihat ada perubahan yaitu lebih berisi dari sebelumnya. Setelah mengelusnya sejenak, dengan hati-hati ia pun melepas kunciran asal-asalan di rambut indah milik istrinya hingga tergerai bebas. MasyaAllah, Cantik.
"Terus, kalau nggak ada tamu. Semua makanan itu untuk siapa?" Tanya Riqhad dengan masih mengelus rambut Shanum. Mata Shanum pun sedikit terpejam akibat usapan lembut di kepalanya.
"Itu semua Shanum masakin sendiri khusus buat Abang seorang." Jawab Shanum sambil menggandeng lengan Riqhad dan mengusapkan wajahnya di sana. Hal yang sering ia lakukan.
Mata Riqhad terbelalak mendengar penuturan itu, inilah yang ia takutkan. Ingin menolak apa yang diinginkan istrinya namun sayangnya ia tak mampu karena Shanum akan merajuk dan kembali beraksi menjauhinya. Seperti ketika ia ingin menempatkan seseorang yang akan membantu pekerjaan rumah disini dan hal itu ditolak langsung oleh Shanum yang hanya ingin mengerjakan pekerjaan rumah tangga mereka dengan tangannya sendiri.
"Kebanyakan sayang. Abang ngga mampu ngabisin semuanya." Ucap Riqhad lembut.
Mendengar itu, Shanum pun merenggut dan melepaskan rangkulannya dari lengan Riqhad. Masakan yang belum ia pindahkan ke meja makan itu pun hendak ia masukkan kedalam kantong plastik.
"Eeeits. Itu mau diapain, Shan?" Cegah Riqhad.
Dengan jutek Shanum pun menjawab, "dikasih kucing aja, Bang. Abangkan nggak mau makan makanan buatan Shanum."
Mendengar itu, Riqhad langsung memeluk Shanum erat dan mengecup dahinya. Sikap Shanum memang sulit ditebak akhir-akhir ini, takutnya ia tiba-tiba akan menangis meski karena hal sepele.
Shanum memberontak dalam pelukan Riqhad namun Riqhad masih menahannya dengan lembut. "Bukan maksud Abang nggak mau makan makanan buatan istri Abang ini. Abang seneng banget malah karena Shanum udah masakin Abang makanan yang enak banget, siapa sih yang ngga seneng waktu pulang ke rumah disuguhkan pemandangan indah di dapur. Udah capek-capek ngolah bahan sebanyak ini sendirian tanpa bantuan."
"Tapi, Shan. Kamu ngga kasihan apa lihat Abang ngabisin makanan enak ini sendirian, sebagian kita kasih tetangga aja ya?" Tawar Riqhad.
Disunnahkan untuk menasehati orang yang dicintai dengan nasihat yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat. Disunnahkan untuk saling memberi hadiah diantara tetangga karena hal ini dapat menumbuhkan rasa cinta kasih dan menambah kecintaan.
Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Wahai Abu Dzarr, jika engkau memasak masakan berkuah, maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetanggamu.” (HR Muslim)
Dan juga dalam riwayat Muslim, dari Abu Dzar, dia berkata:
“Sesungguhnya kekasihku berpesan kepadaku: ‘Jika engkau memasak masakan berkuah, perbanyaklah kuahnya, kemudian lihatlah anggota keluarga dari tetanggamu, maka berikanlah kepada mereka dengan baik.’"
Shanum sedikit luluh dan berhenti memberontak, ia menatap wajah suaminya yang semakin ia pandangi semakin tampan saja. "Oh gitu, Bang. Yaudah kita bagiin ke tetangga dan juga kita anterin ke rumah Mama ya Bang." Tawar Shanum dengan mata berbinar.
Mendengar kata 'rumah mama' Riqhad jadi tercekat. Sebab betapa susahnya usaha dia menahan Shanum dalam beberapa hari ini agar tidak menyentuh rumah Mamanya. Sebab di sana sudah dilakukan persiapan untuk acara besok dan persiapan itu hampir selesai. Kan tidak lucu jika kejutan untuk Shanum gagal dalam satu hari menuju hari H nya.
"Kok diam, Bang? Shanum rindu tahu ke rumah Mama. Masa, tiap hari Mama yang ke sini. Kan ngga sopan, seharusnya Shanum yang mengunjungi Mama. Kalau bisa kita nginap di situ aja. Shanum juga udah libur semester." Pintanya.
Tiba-tiba saja Riqhad menjadi keringatan. Tak tahu alibi apa yang akan ia berikan pada istrinya ini. Shanum masih menunggu tanggapan dari Riqhad. Namun, belum selesai otak Riqhad memproses dan menemukan sebuah alasan cerdas untuk mengelabuhi Shanum. Bell di rumah mereka pun berbunyi.
Ding dong...
Perhatian suami istri ini pun berpindah ke arah pintu. Sebelum Shanum kembali menawari keinginannya ke rumah Mama, Riqhad pun berinisiatif membukakan pintu karena memang hanya ada mereka berdua di rumah ini.
"Abang bukain pintu. Kamu ke kamar aja dulu, ganti pakaian dan kenakkan kerudung. Mana tahu ada tamu yang ingin bertemu denganmu, Abang nggak mau ya, kecantikan istri Abang ini ada yang liat meski dikit." Ucap Riqhad seraya meninggalkan Shanum setelah mencuri kecupan di pipi kanannya.
Ceklek
"Assalamu'alaikum, boleh kami bertamu?"
Riqhad pun tesenyum simpul melihat siapa yang datang, mereka bisa dijadikan penangkal keinginan Shanum yang ingin ke rumah Mamanya.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam, boleh banget. Silakan masuk!"