A

A
DUA PULUH


__ADS_3

PART 20 – MALAM MALANG


Bencilah aku kalau itu bisa membuatmu semakin kuat dan tidak akan ditindas lagi, bencilah aku jika itu membuatmu bisa menampilkan apa adanya dirimu. Bencilah aku ketika kamu bisa menjaga dirimu sendiri. Jangan mau bertahan dengan semua kepalsuan ini.


~Aufar~


_________________________________________


Tok ... tok ... tok ....


Seorang gadis bercelana hotspan serta kaos ketat ditutupi kemeja legan pendek di luarnya itu tengah berdiri di depan kamar Shanum. Ia terlihat siap untuk pergi karena telah menggunakan sneaker kesayangannya juga ransel levis, tak ada satu helai pun rambut pirangnya yang terjulur di leher jenjangnya yang terbuka itu. Ia memilih menggulung kesemua rambut indahnya tanpa tersisa sedikit pun.


Tak lama kemudian, pintu yang di ketuknya telah dibuka dari dalam, pertanda si penghuni telah membukanya tentu saja.


Ceklek


Shanum muncul dengan daster bermotif bunga-bunga halus yang biasanya ia gunakan ketika hendak tidur. Dia membetulkan posisi kerudung instannya seraya memandangi siapa gerangan yang mengetuk pintu kamarnya. Yang ia tahu, Ummi Hasna sedang keluar untuk menjenguk temannya yang sakit.


"Shan, kamu udah makan belum?" Tanya sosok di depan Shanum ini.


"Udah tadi, bareng Bi Ipah. Kamu sih pulangnya lama, jadi kami tinggal duluan deh. Maaf ya.” Jawab Shanum diiringi senyum khasnya.


Zoeya hanya mengangguk dan memperhatikan pakaian yang digunakan Shanum.


"Shan, gak kepanasan apa pake kerudung sama baju lebar terus? Kamu kan nggak sedang di luar. Jadi, nggak ada yang lihat juga. Kenapa nggak di buka aja sih kerudungnya?" Tanya Zoeya yang tidak pernah melihat Shanum menanggalkan kerudungnya walaupun di rumah hanya ada mereka.


"Kan kita sesama perempuan itu kan mahram." Batin Oya.


"Aku lebih nyaman pake kerudung Oya, lebih terjaga aja rasanya. Adem." Balas Shanum seraya mempersilakan Zoeya untuk masuk ke kamarnya.


"Kamu mau kemana malam-malam gini udah rapi?" Tanya Shanum meperhatikan Zoeya yang sudah menyandang tas ranselnya.


"Inilah pertanyaan yang Oya tunggu-tunggu dari tadi. Kita makan di luar yuk Shan? Makanan di bawah udah abis. Kata Bi Ipah udah di kasih untuk Pak Udin dan keluarganya karena Bi Ipah kira aku ikut Mama. Terus, Bi Ipah mau masak lagi, aku nggak tega ganggu waktu istirahatnya." Terang Zoeya dengan wajah seriusnya yang malahan terlihat lucu bila diperhatikan sedekat ini.


"Sekarang? Inikan udah malem Ya, sudah jam 10 loh. Kalau Mamamu tahu pasti dia melarangnya." Jawab Shanum dengan wajah tak enaknya.


Zoeya pun cemberut dan memajukan kedua bibirnya seraya kembali berkata, "ayolah Shan, kamu nggak kasihan sama perut imut aku. Kamu jangan pikirin aku, pikirin aja nih timur tengahnya aku. Nggak diisi lagi dari siang tadi." Pinta Zoeya.


Shanum pun membelalakkan kedua belah matanya mendengar penjelasan dari Zoeya. "Lah, kamu kan pulangnya kelamaan. Kamu dari mana aja sih? Kok nggak makan?" Tanya Shanum prihatin.


"Tadi, aku bantu temanku buat bikin tugasnya. Kasihan mereka, makanya mereka minta bantu ke aku. Eh, pas pulangnya udah maghrib aja. Kemudian, aku naik taksi deh pulang dari perpus." Terang Zoeya.


"Teman kamu ke mana waktu kamu ngerjain tugas di kampus?" Tanya Shanum kembali.


"Katanya mereka ada acara yang nggak bisa di tinggalin, ya terpaksa aku sendiri deh bikinnya. Karena besok harus dikumpul, aku jadi lupa waktu buat makan." Jelas Zoeya yang membuat Shanum memandang serius ke aras gadis tomboy ini.


Pikiran Shanum pun kembali ketika tidak sengaja mendengar obrolan teman-teman Zoeya di gedung fakultas mereka tadi. "Apa benar yang aku dengar kalau temannya Oya cuma memanfaatkannya saja selama ini?" Batin Shanum.


"Astaghfirulloh." Gumam Shanum yang bisa di dengar oleh Oya.


"Kenapa, Shan?" Tanya Zoeya heran.


"Nggak kok. Nggak ada apa-apa, kalau begitu aku masakin kamu aja gimana?" Shanum menawari Zoeya namun dibalas gelengan cepat oleh gadis tersebut.


"Nggak usah, aku maunya makan di luar. Kata teman aku, ada cafe yang baru buka beberapa minggu yang lalu. Kata mereka makanan di sana enak-enak dan tempatnya bagus juga. Kita ke sana aja yuk! Mumpung Mama nggak ada, kalo ada Mama pasti ribet tuh keluarnya." Pinta Zoeya kembali.


Kruuuk...


"Hehe, perut aku bunyi." Ucap Oya sambil cengengesan dengan binar merah muda di kedua pipinya. Mereka pun menertawaan bunyi tersebut.

__ADS_1


"Ayo lah, Shan. Bentar aja kok, setelah itu kita langsung pulang deh. Tempatnya juga nggak jauh amat, aku udah pesan taxi. Jadi kamu siap-siap dulu ya! Aku tunggu di luar. GPL oke!" Titah Zoeya tanpa menunggu tanggapan dari gadis berkerudung itu, Zoeya pun meninggalkan kamar Shanum.


Shanum menghela nafas dan segera membuka lemari dua pintu di kamarnya ini dan bersiap-siap mengikuti keinginan Zoeya, meskipun dia agak cemas karena keluar malam dan hanya berdua saja tanpa seizin Ummi Hasna.


Setelah mengganti dasternya dengan gamis polos. Shanum pun menutup pintu kamarnya dan tanpa sengaja matanya bertemu dengan koper yang masih berada di tempat semula. Seharusnya malam ini, dosen yang membawa kopenya itu sudah menukarkan koper mereka kembali. Namun, karena pria itu memiliki kesibukan, untuk itu ia menunda mengembalikannya hingga besok. Itulah yang disampaikan Pak Riqhad di ruangannya tadi. Ketika dia meminta Shanum menemuinya.


Gadis berkerudung ini pun mendengus pelan ketika membayangkan sikap Dosennya yang sudah semena-mena terhadapnya di kelas.


Meninggalkan pikirannya sejenak, Shanum pun menhampiri Zoeya yang telah berada di ruang depan.


"Kamu yakin, nggak mau ganti baju lagi? Beneran mau pake baju itu?" Tanya Shanum memperhatikan pakaian Zoeya yang terbuka, bahkan menggunakan blouse berkerah rendah.


"Iya Shan, aku udah biasa gini kok. Aku juga sering keluar malam buat nonggrong sama teman-teman aku dan kami biasa-biasa aja keluar pake pakaian gini. Udahlah nggak usah cemas gitu, nggak ada yang gangguin kita kok, kamu tenang aja." Balas Zoeya santai.


Shanum masih saja mencemaskan sesuatu, entah apa itu. Memang sudah sering ia mengingatkan Zoeya tentang berpakaian, namun untuk yang satu itu Zoeya masih susah dinasehati.


Katanya ia hanya akan menggunakan apa yang dianggapnya nyaman dan lagian urusan style pakaian adalah keahliannya, jadi dia tak ingin di nasehati. Ujarnya kala itu. "Aku kan mulai memperbaiki diri dari sholat dulu, untuk pakaian aku nunggu hidayah dulu deh." Zoeya berargumen ketika dinasehati.


Tiin... tin....


Taksi yang dipesan mereka pun sampai. "Kita baca do'a berpergian dulu Oya." Shanum mengingati dan disambut anggukan oleh si tomboy ini.


بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَإِلاَّبِ للَّهِ


Bismillaahi tawakkaltu 'alallaahi laa haula wa laa quwwata illaa billaah


Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada Allah, tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah.


***


"Benerkan kata aku, makanan di sana enak-enak dan tempatnya juga bagus. Khas anak muda banget. Iya nggak Shan?" Celoteh Zoeya dengan senang karena timur tengahnya telah terisi serta perasaannya yang bahagia karena bisa menikmati angin malam.


Zoeya memilih untuk berjalan kaki beberapa waktu sebelum memesan taxi. Dia ingin melihat bintang bersama Shanum, katanya.


Mendengar suara berisik-berisik di samping mereka, membuat Shanum mengapit lengan Zoeya erat. Zoeya yang sibuk berceloteh senang hanya tersenyum melihat aksi Shanum dan balik menggandeng Shanum, tetapi dia masih tidak memperhatikan sekitarnya.


"Hai cewek manis. Berdua aja nih? Mau ditemanin nggak?" Pria berperawakan tinggi berjalan dengan sempoyongan ke arah mereka. Zoeya yang sudah mengerti situasi dan kondisi menatap pria itu datar.


"Apa-apaan ini. Jangan ganggu kami, sana pergi!" Teriak Zoeya. Namun dibalas tawa keras oleh pria lainnya. Karena sekarang mereka memang berada di sekitar lorong yang sepi.


Setelah menghentikan tawa seramnya, beberapa pria itu mendekati kedua gadis yang bergetar ketakutan. Dengan sekali hentakan mereka memisahkan gandengan keduanya. Shanum pun terhempas dan jatuh ke tanah dengan keras.


"Aduh, maaf Ustadzah. Kita kilap. HA HA HA." Tawa mereka menyaksikan Shanum meringis kesakitan.


"Kita cuma butuh teman Ustadzah aja. Ustadzahnya enggak, karena enggak bohai. Wahahha." Ucap yang lainnya seraya menyeret tangan Zoeya kasar.


"Lepasin... lepasin... kalian kurang ajar!" Zoeya berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari dua pria tersebut. Keduanya berusaha keras menarik Zoeya menjauh.


"Shan, tolong aku! Lepas! TOLONG!" Teriak Oya dengan suara seraknya. Sungguh, dia sangat ketakutan dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"HAHAHA teriak saja. Nggak akan ada yang dengar kok manis!" Ejek mereka dengan suara menjijikkan di telinga Zoeya.


Shanum pun berdiri dan berusaha melepaskan cengkraman mereka ditangan Zoeya. Namun salah satu dari mereka menarik Shanum menjauh.


Bruuuk....


Shanum kembali terjatuh akibat dorongan dari pria berambut kribo itu. "Jangan ikut campur Ibu Ustadzah. Kami main-main sebentar ya, nanti kami tobat kok. Hahaha." Mereka kembali mengejek.


Zoeya kembali berteriak dan memberontak, ia menyaksikan Shanum yang merintih kesakitan karena terjatuh dengan keras. "Ayo kita senang-senang cantik." Kata pria yang tercium bau alkohol dengan jarak sedekat ini.

__ADS_1


Zoeya menangis dan bergerak acak meski dicengkram oleh dua pria itu. Tak lama kemudian, pria yang di depannya semakin mendekatkan wajahnya ke arah Zoeya dan-


Buuuuk...


Pria itu jatuh tersungkur dengan bercak darah di sudut bibir kehitamannya. Tak lama setelahnya salah satu pria yang menahan pergelangan Zoeya pun ikut terkapar. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, Shanum yang masih menahan sakit dilututnya bergerak cepat menarik Zoeya dari pria yang masih mencengkramnya kuat.


Zoeya memucat, shock dan menangis di pelukan Shanum. "Aku takut! Aku takut!" Lirih Zoeya disela isakannya.


Shanum berusaha menenangkan Zoeya dengan menepuk lembut punggungnya, ia masih menahan sakit di lututnya namun harus tetap kuat untuk Zoeya. Kemudian ia memperhatikan sosok laki-laki yang membantu mereka.


Laki-laki itu dengan beringas memukul dan menendang ketiga pria kurang hajar itu. Setelah puas dan melihat lawannya terkapar tidak berdaya. Laki-laki tersebut pun meludah di samping kirinya, ternyata dia juga mendapat bagian tonjokkan pada wajah dan perutnya. Namun, dia masih bisa menjatuhkan ketiga lawannya.


"Cihh, jangan berani-beraninya sama perempuan kalian!" Teriak laki-laki itu dengan tangan mencengkram perutnya.


Memastikan ketiganya tidak akan melawan lagi, laki-laki yang masih berdiri itu berucap lantang. "Pergi sekarang, atau saya panggilkan polisi. Saya masih berbaik hati kali ini!"


Zoeya yang masih menenggelamkan wajahnya di bahu Shanum, menghapus air matanya. Meski masih terdengar isakan, ia melihat ke arah laki-laki yang menolongnya itu. Ia merasa familiar dengan suara tersebut, namun ia belum biasa melihat wajahnya karena laki-laki itu sedang membelakangi mereka.


Tanpa menunda lagi ketiga pria itu berlari sempoyongan meninggalkan mereka. Laki-laki itu pun menegakkan tubuhnya dan menahan rasa sakit di perut dan wajahnya, ia menutup rasa sakit itu dibalik wajah datar dan seriusnya. Ia berjalan mendekati kedua perempuan yang kini memandang ke arahnya. Gadis yang menjadi sumber masalah masih terlihat menghapus butiran bening di pipinya, pundaknya naik turun karena terisak. Dan gadis berkerudung di sampingnya, tak kalah pucatnya. Masih berusaha menenangkan teman di sebelahnya.


"Kamu tidak apa-apa?" Lirih Zoeya dengan suara bergetar.


"Bodoh! Apa itu kalimat yang kamu ucapkan setelah kejadian barusan? Hah!" Kata laki-laki itu ketika hampir mendekati mereka.


Shanum dan Zoeya pun terperanjat akibat bentakan dari laki-laki itu.


"Jangan tanya aku. Tapi tanya pada dirimu sendiri, apa kamu baik-baik saja? Pikir, apa penyebab kejadian ini bisa terjadi. Gara-gara kamu, temanmu juga kena imbasnya. Kamu nggak punya otak apa hah!" Teriaknya lagi dengan wajah memerah.


Setelah sedekat ini, mereka pun bisa melihat wajah penolongnya.


Deg


"Kak Aufar!"


Aufar tidak menanggapi keterkejutan mereka. Ia menatap wajah pucat Shanum dengan iba, kemudian berpindah ke arah gadis sumber masalah. Dengan ekspresi yang berbeda.


"Kamu! Ngapain malam-malam lewat di jalan sepi ini! Dan juga, kamu tidak malu berpakaian seperti itu? Gara-gara pakaianmu yang terbuka, membuat pria mengganggumu seperti tadi. Bagaimana jadinya jika aku tidak ada. Apa yang akan terjadi hah!" Aufar terus meluap amarahnya kepada Zoeya. Zoeya pun menunduk dan kembali menangis.


"Kak Aufar, terima kasih sudah membantu kami. Jangan marahi Oya begitu, dia shock atas kejadian barusan, jadi jangan diungkit untuk sementara!" Ucap Shanum seraya memeluk Zoeya, meredamkan tangisnya.


"Orang seperti dia memang harus dikeraskan Shanum, dia sudah dewasa. Seharusnya bisa menjaga diri, berfikir mana yang baik dan mana yang buruk. Aku kasihan melihat kamu Zoeya, semua yang ada padamu adalah fake. Bersikap seolah kamu kuat, berpenampilan seolah seperti laki-laki berharap dapat dianggap perempuan yang bisa menjaga diri. Tapi nyatanya apa? Semuanya palsu, bohong! Bahkan persahabatanmu dengan-teman-temanmu itu juga fake. Camkan itu."


Zoeya pun menengadahkan wajahnya dan memandang orang di depannya. Dengan suara bergetar dia pun berkata, " Kak Aufar nggak usah sok nasehatin aku. Mengatakan persahabatan kami itu palsu, Kak Aufar nggak tahu apa-apa! Aku memang bodoh, lemah, cengeng dan buruk tetapi apa harus Kak Aufar mengatakannya seperti ini seolah aku adalah makhluk paling hina dimata Kakak! Kakak tak lebih seperti mereka. Aku semakin membenci Kakak!"


Aufar pun terhenyuh mendengar itu, namun entah mengapa ia begitu marah melihat kejadian yang menimpa Zoeya barusan sehingga ia tak bisa menfilter apa yang ia ucapkan meskipun itu akan menyakiti Zoeya dan membuatnya semakin membenci Aufar sendiri setelah ini.


"Bagus, kamu sadar akan dirimu!"


"Cih, memang tidak salah dulu kamu selalu di-bully itu karena kamu bodoh, lemah dan cengeng. Angkat wajahamu, bencilah aku kalau itu bisa membuatmu semakin kuat dan tidak akan ditindas lagi, bencilah aku jika itu membuatmu bisa menampilkan apa adanya dirimu. Bencilah aku ketika kamu bisa menjaga dirimu sendiri. Jangan mau bertahan dengan semua kepalsuan ini, karena yang membelamu tidak akan selalu membelamu, dan yang membencimu tersus bersembunyi di sekitarmu."


Entah mengapa, Shanum mengira ada sesuatu diantara Zoeya dan Aufar. Seperti mereka menyimpan masa lalu yang tidak menyenangkan. Karena tidak biasanya teman sekelasnya ini bersikap seperti sekarang, biasanya ia dikenal sosok yang lembut, baik, ramah dan friendly. Tapi malam ini, dia sungguh berbeda.


"Kak Aufar nggak usah sok baik. Tenang saja, aku tidak akan lemah lagi seperti apa yang disampaikan oleh Kakak. Apa yang Kakak lakukan malam ini untuk aku, tidak mengubah keburukan apa yang Kakak berikan padaku di waktu dulu. Tidak! Dimataku, Kakak tetap orang yang paling aku benci!" Maki Oya seraya membalikkan tubuhnya.


"Meskipun begitu, aku berterima kasih atas batuan Kakak kali ini." Lirih Zoeya.


Zoeya berusaha menyeret Shanum untuk pergi, namun suara Aufar menghentikan langkah mereka. "Kejadian ini, seharusnya membuatmu berfikir agar bisa menutup apa yang seharusnya kamu tutup untuk menghindari hal buruk yang menimpamu. Sesungguhya perempuan tidak seharusnya memperlihatkan apa yang menjadi perhiasan ditubuhnya, mereka wajib menutup aurat sehingga pria pun bisa menundukkan pandangan, saling menjaga. Kamu harus belajar banyak dari Shanum. Permisi!" Ucap Aufar seraya meninggalkan mereka lebih dulu.


Shanum dan Zoeya memandangi punggung itu, dari belakang terlihat Aufar memegangi perutnya seperti menahan sakit.

__ADS_1


"Maafkan aku, Zoeya." Batin Aufar.


__ADS_2