A

A
DUA PULUH DUA


__ADS_3

PART 22 - PERUBAHAN ITU BAIK


"Tetap melangkah walau jalan itu berliku. Tetap berlari walau jalan itu sepi. Tetap semangat dalam hijrahmu, walau banyak rintangan yang harus dihadapi."


-ukh.ym-


_________________________________________


Di ruangan yang biasa digunakan dalam proses perkuliahan bagi mahasiswa yang haus pengetahuan ini sekarang diselimuti aura ketegangan, sebab si dosen muda namun tegas itu tengah meneliti satu per satu mahasiswanya.


Merasa perlu memastikan apa yang ada di pikirannya, sedangkan ia tidak ingin membuang-buang waktu dengan melafalkan nama demi nama dalam absensi yang terkapar di mejanya. Ia pun berinisiatif untuk mempersingkat waktu sebab materi yang akan ia berikan hari ini cukup banyak. Dosen ini akan menggabungkan jatah 2 kali pertemuan menjadi satu pertemuan.


“Kosma, siapa yang tidak hadir hari ini?” Tanya Pak Dosen pada seseorang yang dipanggil Kosma itu, alias Komisaris Mahasiswa yaitu orang yang paling tinggi jabatannya diantara mahasiswa lainnya di kelas ini. Ketika si Kosma hendak menjawab, ternyata didahului oleh suara lain. Suara yang berasal dari pintu masuk kelas.


“Selamat pagi Pak, maaf saya terlambat.” Ucapnya sopan dengan sedikit aura kegugupan di wajahnya entah karena minder atau takut dimarahi akan keterlambatannya.


Mata si Dosen ini pun menyambut sosok yang baru saja meminta maaf karena terlambat itu, meskipun sedikit terkejut dengan apa yang dilihatnya, ia tetap berusaha terlihat biasa saja. Malahan, mahasiswanya yang menyaksikan keterlambatan teman sekelasnya itu seolah menahan nafas dan memelototkan sepasang mata mereka masing-masing. Melihat penampakan yang luar biasa ini. Antara kagum, heran, aneh dan berbagai perasaan lainnya.


Bagaimana tidak dikatakan luar biasa, mana pernah mereka menyaksikan sosok yang paling urakan di kelas mereka menjadi serapi ini. Tidak ada lagi rambut gondrongnya, tidak ada lagi celana robek-robeknya itu, tidak ada lagi baju kaos yang menampilkan gambar-gambar yang menakutkan seperti sebelumnya. Yang mereka lihat kali ini sungguh berbeda dari biasanya, sosok gagah Aufar kini sangatlah rapi dengan tatanan ramput pendek dan klimis, kemeja bermotif garis-garis halus di lipat sedikit hingga siku, dipadukan dengan celana jeans yang sangat serasi dengan warna kemejanya. Sepatunya pun terlihat bersih dan baru. Aufar yang jarang membawa tas ke kampus kini nampak mengenakkan ransel kulit berwarna gelap dipunggungnya.


“Ehem, boleh saya masuk Pak?” Ucapnya yang merasa aneh ditatap begitu intens oleh teman-temannya. 'Apa yang aneh dengan seseorang yang merubah penampilannya menjadi lebih baik dan rapi begini.' Pikir Aufar.


“Silakan masuk! Untuk kali ini saya maafkan keterlambatanmu sebab waktu yang tadinya terbuang kini digantikan dengan perubahan positivemu. Ternyata kamu tidak se-trouble yang saya pikirkan karena masih bisa dinasehati dan mau berubah. Saya salut dan silakan duduk!” Ucap Dosen itu tegas. Dan tanpa disuruh untuk kedua kalinya, Aufar melangkah menuju kursi pilihannya yang berada di belakang Nabil.


PROOK...PROOK...PROOK....


Tepukan tangan mengiringi Aufar hingga berhasil mendudukkan diri di kursinya. Tepukan bangga dari teman-temannya secara spontan. 


Sampai di kursi, Aufar yang merasa aneh menerima tepuk tangan itu pun menenggelamkan wajahnya di meja. 'Kok gue jadi malu gini ya.' Batinnya.


Ia pun menegakkan tubuhnya menghadap ke depan dan tanpa sengaja iris matanya menemukan sosok Shanum yang tersenyum kecil kearahnya. 'Sungguh indah ciptaanMu ya Allah.' Batin Aufar dengan tatapan yang enggan beranjak dari gadis cantik itu.


“Baiklah kita mulai perkuliahan kali ini dan setelah jam saya habis nanti, saya minta tugas yang saya berikan segera dikumpulkan ke Kosma dalam bentuk softcopy kemudian Kosma silakan serahkan kepada saya ketika jam kedua kalian berakhir. Mengerti!”


“Mengerti, Pak!”


Setelah mendapat jawaban yang diinginkan, Riqhad pun memulai pembahasan kuliahnya. Tanpa sengaja matanya menangkap interaksi Aufar dengan gadis berkerudung-Shanum.


Ia melihat mahasiswinya tersebut mengulas senyum kepada Aufar dan kembali membuka buku di mejanya. Yang sedikit mengganjal dimata Riqhad adalah tatapan Aufar yang masih tertuju pada Shanum tanpa berkedip sedikitpun. 'Kok jadi kesal begini ya.' Gumam Riqhad tanpa ia sadari.


***


Kantin


“Bro, ada angin apa nih lo jadi berubah gini? Aneh aja kok hari ini banyak yang ngerubah penampilan ya? Si Naina dan Devia juga gitu. Si cewek jeans udah berganti jadi cewek rok, si cewek Dora udah pakai gamis aja. Nah sekarang elu lagi! Kalian kesambet apa sih dari kemaren?” Nabil akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang sedari tadi disimpannya sejaki kelas masih berlangsung.


Ia sungguh heran dengan Aufar yang dalam sehari bisa berubah banyak. 'Apa karena putus cinta atau cinta tak sampai?' Batinnya.


Namun, sepertinya itu tidak mungkin, sebab Aufar tampaknya tidak sedang terikat hubungan dengan gadis manapun. Yang ia tahu sahabatnya menyukai seseorang dan juga dia sering mengusili Shanum.


“Kenapa loe nanya gitu? Seharusnya loe mengapresiasi perubahan gue ini, bukannya curiga nggak jelas kayak gitu.” Balas Aufar dengan nada malasnya.


Ia pun kembali menikmati pecel ayamnya, beberapa detik setelah ia memindahkan isi piringnya ke arah mulutnya, Nabil kembali berulah, “iya iya, gue seneng kok dengan perubahan loe Bro. Tapi, apa sekarang lo lagi berusaha deketin cewek?”


Uhukk...


Aufar terbatuk dan tanpa sengaja menyemburkan isi mulutnya ke arah lawan bicaranya sehingga mengenai wajah Nabil yang saat itu berada sangat dekat dengannya beserta ekspresi ke-kepoan-nya. Nabil pun mendengus, “Ish, jorok lo Bro! Lihat nih, muka ganteng gue lecek gara-gara lo.”

__ADS_1


Setelah menyeruput air mineralnya Aufar pun menjawab enteng, “siapa suruh lo pasang wajah kepo lo di depan gue, kan gue jadi kaget!”


Kemudian, Nabil pun membersihkan wajahnya menggunakan tissue basah yang ia minta pada orang di belakangnya. Ia pun kembali menampilkan wajah kepo-nya di depan Aufar, “jadi, siapa cewek itu?” Tanyanya lagi dengan mantap.


“Bukan urusan loe.” Balas Aufar sekenanya dan kembali menekuni makanannya yang sempat tertunda tadi.


Di sisi lain dalam ruang kantin yang sama, Zoeya dan teman-temannya juga sedang menikmati makan siang mereka. Dalam diam-diam mereka menyaksikan interaksi dua mahasiswa jurusan Arsitektur itu. Tak henti-hentinya Molly mengucapkan kata-kata kekagumannya dengan sosok Aufar.


Ia tak menyangka kegantengan Aufar bisa meningkat berkali-kali lipat setelah mengganti style-nya. Dan teman Zoeya yang paling heboh itu pun bertekat untuk menjadikan Aufar kekasihnya dan disetujui oleh teman-temannya yang lain kecuali Zoeya yang kini tengah asyik menunduk tanpa peduli.


Drrt....


Ponsel Zoeya berdering pertanda ada yang mengiriminya pesan di  WhatsApp. Setelah membuka aplikasi tersebut Zoeya membaca sederet kalimat yang ditulis oleh Abangnya, Thoriq. Raut wajahnya perlahan mulai berubah sedih dan nampaklah aura kekecewaan di sana.


Entah apa yang disampaikan Thoriq sehingga Zoeya menghentikan kegiatan menikmati batagor kesukaannya itu. Ia pun secara spontan meletakkan sendok dan garpunya yang menimbulkan bunyi yang cukup keras. Hal itu pun tak luput dari indera pendengar Aufar yang berada tidak jauh dari mereka.


Aufar menatap bingung gadis yang telah ia selamatkan semalam, sakit akibat aksi kepahlawanannya semalam pun masih sedikit terasa di perutnya.


“Apaan sih Oya, tuh semua orang jadi ngeliatin kita tau. Pelan-pelan kan bisa!” Molly memarahi Zoeya dengan suara yang ditekan agar tak terlalu didengar oleh yang lain.


Setelah mengucapkan kata maaf, Zoeya pun meninggalkan teman-temannya berjalan cepat meningglkan kantin. “Saraf tu anak!” Cerca Molly.


Mata Aufar terus mengikuti langkah gadis tomboy yang kini kian menjauh dan perlahan menghilang dari pandangannya.


“Lo ngeliatin apa sih Bro?” tanya Nabil heran.


“Bukan apa-apa Bro!”


***


“Katanya Pak Riqhad diberi tanggungjawab buat bawa kita meninjau langsung proses perencanaan pembangunan ke lapangan ya? Semua dari kita diikutsertakan atau dipilih sih?” Salah satu mahasiswa menanyakan kepada Kosma tentang kabar angin yang didengarnya.


Shanum, dan kedua sahabatnya yang baru selesai melaksanakan sholat Dzuhur itu hanya mencuri dengar tentang apa yang terdengar oleh mereka. Shanum sibuk dengan novel yang dibelinya beberapa yang lalu sedangkan kedua sahabatnya entah sedang apa.


“Iya, tapi aku belum tahu pasti apakah semua dari kita diikutsertakan atau hanya perwakilan saja. Semoga saja semua dari kita bisa ikut dan menyaksikan langsung proyek tersebut.” Jawab Kosma.


Beberapa saat kemudian, si Kosma teringat untuk memastikan rasa penasarannya sedari tadi. Ia pun memutar matanya hingga tepat menuju seseorang yang sangat serius menekuni buku tebal di tangannya. “Shan, kata Pak Riqhad kamu dikasih tugas khusus buat bikin Maket ya?”


Seseorang yang ditanyai itu pun segera menutup novelnya setelah menandai halaman yang ia baca dan mengangguk dengan ragu. Memang benar Dosen itu menyiksanya dengan berbagai cara, salah satunya dengan membebaninya membuat Maket yang bahkan belum pernah mereka bahas di perkuliahan sebelumnya. Shanum ditantang oleh Dosen yang ingin ia hindari itu ketika dia dipanggil ke ruangannya kemarin.


*Flashback On


Shanum POV On


Setelah aku diminta untuk menemui Pak Riqhad di ruangannya. Aku pun menyegerakan langkahku ke sana, aku tak ingin dosen itu mencari kesalahanku yang lain kemudian akan mengakibatkan hal buruk terjadi padaku.


Setelah meyakinkan bahwa aku tidak akan menyusahkan Pak Riqhad di kampus dan tidak akan menerima bantuan apapun dari putranya Ummi Hasna itu, aku seolah menjadi musuh terberat dari dosenku sendiri karena di berbagai kesempatan dia selalu mencari kekuranganku dan menekanku habis-habisan.


Memang apa salahku sehingga dosen itu bertindak kejam, aku hanya membela diri dan tidak memerlukan bantuan Pak Riqhad di perkuliahanku biarlah aku berusaha sendiri toh selama ini aku juga berusaha sendiri dalam sekolah dan kuliahku.


“Masuk!” Terdengar suara memerintah dibalik ruangan yang kutuju, dengan mengucapkan 'Bismillahirohmanirrahim.' Aku mengikuti instruksi suara tersebut.


Tanpa menutup pintu, aku duduk di kursi kosong dan berhadapan langsung dengan Pak Dosen yang kini tengah sibuk menatap layar monitor di depannya seolah mengacuhkan kedatangan mahasiswinya ini.


Masih menekan-nekat mouse di genggaman tangan kanannya, Pak Riqhad pun belum menoleh pada sosok di depannya-yaitu aku. Aku yang mulai jengah pun bersuara, “Assalamu’alaikum Pak Dosen, ada urusan apa memanggil saya keruangan Anda?” Tanyaku datar.


Dia pun secepat kilat menjawab salam dari ku namun tidak menjawab rasa penasaran dari pertanyaanku tadi.

__ADS_1


“Pak, kalau tidak ada yang penting saya pamit undur diri ya?” Kataku lemah. Karena aku memang sedikit lelah hari ini.


Mendengar itu, Dosen di depanku ini pun memutar laptopnya ke arah ku. Aku yang sedikit heran hanya mampu mengikuti perintahnya. Mataku kini melihat berbagai model bangunan di sana, dimulai dari yang paling sederhana sampai ke yang paling rumit dengan kemegahan yang mengagumkan. Sedikit heran dengan apa maksud sebenarnya dari beliau ini, membuat keningku berkerut berusaha menebak jalan pikirannya.


Hal itu tak lepas dari perhatiannya. Ia pun tersenyum sinis dan hal itu membuatku merinding.


“Saya tantang kamu untuk membuat Maket seperti yang tertera di monitor laptop saya. Kamu bisa pilih ingin membuat model yang mana.” Katanya dengan seringai diujung bibirnya.


“Tapi Pak, materi kita kan belum sampai ke sana?” Balasku dengan tenang. Memang benar, kami belum mebahas tentang pembuatan Maket ini, enak saja dosenku memintaku memikirkan sendiri tanpa diberi bekal terlebih dahulu untuk mengerjakannya.


“So, kamu menyerah? Saya tahu di kampus kamu sebelumnya kamu pernah mengerjakan hal seperti ini dan malahan saya mendapat bocoran dari teman saya yang juga dosen di kampus kamu sebelumnya bahwa kamu lah satu-satunya yang mampu mengerjakannya dalam jangka waktu yang paling cepat serta mendapat nilai tertinggi. Saya ingin kamu sedikit mengeluarkan bakat kamu sehingga dapat memotivasi temanmu yang lain sehingga kampus kita tidak jauh tertinggal dengan kampus luar negeri sana.” Jelas Pak Riqhad panjang lebar menjelaskan maksud dari permintaannya.


Aku pun menghela nafas dan menautkan kedua jariku, aku ragu dan takut di cap sok pintar oleh teman-temanku yang lain. Memang di kampusku sebelumnya materi ini telah selesai kami pelajari, tapi di sini aku harus mengikuti kurikulum yang ada, tetapi mengapa dosen galak ini harus menyelidiki kampusku sebelumnya dan mengapa ia harus mengenal salah satu dosenku di sana?


”Ehem, bagaimana Shanum? Kamu terima tantangan saya? Bukannya ingin menyiksa kamu dengan beban tugas tambahan yang berat, meskipun itu merupakan salah satu niat awal saya. Namun, setelah mendengar cerita dari teman saya itu, saya menjadi penasaran dengan kemampuan kamu. Dan saya ingin kamu memacu semangat teman-temanmu setelahnya.” Jelas Pak Riqhad kembali berusaha meyakinkanku. Sedangkan aku sudah terlalu kesal dengan beberapa kata yang ia ucapkan itu.


“Tapi Pak, itu tugas yang berat. Saya tidak yakin dapat menyelesaikannya dengan cepat, sebab minggu ini tugas begitu menumpuk. Lagian saya tidak ingin dicap sok pintar oleh teman-teman di kelas karena mengerjakan sesuatu yang belum kita pelajari di sini.” Ucapku setengah memohon.


“Untuk itu kamu tidak usah khawatir, biar saya yang menjelaskan kepada temanmu yang lain. Sekarang kamu terima dulu tantangan saya baru setelah itu saya akan memberikan kamu imbalan jika tantangan ini bisa kamu lewati. Bagaimana?” Katanya berusaha meyakinkanku lagi.


Dengan berat hati, aku pun menerima tantangan dari Pak Riqhad. “Baiklah Pak, saya terima tantangan Bapak. Dan maaf jika pengerjaannya tidak secepat yang Bapak harapkan namun saya akan berusaha sebisa saya.”


“Oke. Bagus itulah yang ingin saya dengar. Karena memang sebagai mahasiswa kamu jangan banyak membantah jika disuruh oleh dosenmu karena itu semua juga untuk kebaikanmu.” Tambahnya.


“Baik Pak, karena memang saya orangnya menyukai tantangan.” Balasku dengan berusaha tersenyum meski susah. Aku tidak boleh menunjukkan keenggananku kepada dosen satu ini, sebab aku telah bertekat untuk tidak merepotkan siapa pun dan tidak akan mengeluh tentang apapun.


“Jangan tersenyum begitu, saya ngeri melihatnya.” Katanya disela kekehannya yang terlihat menyebalkan.


Aku hanya menunduk dan memutar mataku malas. “Dan satu lagi, maaf kemarin saya tidak bisa menepati janji untuk menjemput koper saya soalnya saya punya kesibukan lain dan malam nanti saja saya ke sana.” Ucapnya yang kubalas dengan anggukan paham.


“Baik pak. Jangan apa-apakan koper saya ya. Soalnya banyak harta karun di dalamnya.” Ucapku dengan nada bercanda namun tanpa ekspresi. Berusaha bersikap biasa saja.


“Tentu saja, saya tidak tertarik dengan koper yang memiliki gantungan berwarna ungu itu. Mengganggu penglihatan saja.” Ucap Pak Riqhad yang entah mengapa menyakitkan. Siapa yang tidak sakit jika warna favorite-mu di katakan begitu.


“Walaupun bagi Bapak itu mengganggu tapi bagi saya gantungan itu begitu berarti.” Ucapku yang terbawa sendu sebab gantungan itu adalah pemberian dari seseorang yang tidak pernah kutemui lagi hingga kini.


*Riqhad yang melihat perubahan wajah Shanum itu pun ikut merasa tak enak, sebab ketika ia melihat gantungan itu ia pun merasa familiar dengannya tapi ia tidak mengingat apa itu. Bermaksud hanya ingin bergurau namun ekspresi Shanum tidak mendukung seperti ini.*


“Ehem, baiklah nanti saya kembalikan kopermu it-“


Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, sosok cantik memasuki ruangan ini begitu saja tanpa permisi.


“Yang, kok lama sih? Aku capek tau nungguin kamu dari tadi!” Ucapnya seraya mendekat ke meja Pak Riqhad. Dapat kutebak jika wanita ini adalah kekasih si Dosen Galak.


“Aku memiliki beberapa urusan penting Riza, kamu kebiasaan kalau masuk itu permisi dulu.” Balas Pak Riqhad dengan kesal.


“Urusan apa sih? Lagian pintu juga enggak ditutup jadi ya aku masuk aja langsung.” Balas kekasih Pak Riqhad yang kini menatap tajam ke arahku.


“Eh, kamu kan yang waktu itu nabrak aku. Ada urusan apa kamu sama pacar aku hah!” Ucapnya ketus.


“Maaf Buk, saya mahasiswinya Pak Riqhad dan sekarang urusan saya nampaknya telah selesai. Jadi saya permisi. Assalamau’alaikum, mari Pak, Buk.” Ucapku dengan sedikit melirik Pak Dosen yang ketika itu juga melihat kearahku. Dengan menunduk menghindari tatapan tajam wanita yang pernah bertabrakan dengaanku itu, aku meninggalkan ruangan Pak Riqhad.


*Flashback Off


"Woi Shan, ditanyain tuh!" Ucap Devia menyentak lamunan panjangku. Setelah mengingat kembali, aku pun tersadar akan tantangan yang dijadikan tugas spesial oleh Pak Riqhad padaku. Aku pun menjawab pertanyaan dari Kosma kami, "eh, iya."


"Wah kamu hebat banget Shan. Semangat ya! Aku jadi ngga sabar pengen lihat Maket dari kamu. Kata Pak Riqh kamu dapat nilai tertinggi di kampusmu sebelumnya. Good luck!" Timpal si Kosma dengan wajah sumbringan dan tangan terkepal tanda memberi semangat padaku. Aku pun membalasnya dengan tersenyum yang entah mengapa terasa begitu sulit karena teringat wajah si pemberi perintah itu.

__ADS_1


'Semangat Shanum! Allah bersamamu!' Batinku membuncah berusaha menyemangati diri.


Shanum POV Off


__ADS_2