
PART 27 - DEGUPAN RASA
"Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan, atau mempersilakan. Yang pertama adalah keberanian, yang kedua adalah pengorbanan."
~Salim A. Fillah~
_________________________________________
“Pakaian udah, sepatu udah, topi udah, gitar udah, apa lagi ya?” Zoeya tengah mengabsen barang bawaannya yang telah dimasukkan ke bagasi mobil, namun ia merasa ada saja yang kurang.
Beberapa saat kemudian, seorang pria terlihat sedang berdebat dengan perempuan sebayanya di depan pintu rumah. Si pria telah berhasil merebut koper silver di tangan perempuan tersebut.
Terlihat si pria tertawa senang karena berhasil membuat perempuan berhijab itu kesal. ‘Ada-ada aja kelakuan mereka. Lagian si Abang ngapain sih suka banget ngisengin Shanum, nggak tahu apa Oya sering berpikiran yang aneh-aneh tentang mereka, nantinya kan Oya bisa salah sangka.' Batinnya.
Kemudian, dua objek yang diperhatikan Zoeya itu memasuki rumah kembali entah dengan alasan apa. Insting Zoeya mengatakan akan terjadi sesuatu yang langka di dalam sana. Dia pun meninggalkan barang bawaannya di bagasi dan berlari memasuki rumah untuk mengintip.
“Di mana mereka ya? Wah, enggak beres nih Abang. Jangan-jangan Abang mau berbuat tidak senonoh.” Gumam Zoeya dengan mata yang membulat, takut-takut apa yang dipikirkannya memang benar-benar terjadi.
Ketika asyik mengintip dan bersembunyi, kepala Zoeya di ketok dari belakang
Tuk...
"Aduh setan!" Teriak Zoeya mengusap kepalanya.
Ia yang masih jongkok di samping tembok ruang tamu itu pun memutar kedua matanya. Wajah Zoeya pun berubah, tangannya mengepal.
Sedangkan objek yang menjadi sumber kekesalan Zoeya malah tersenyum manis berharap Zoeya terpesona, tapi sorry gengsi Zoeya terlalu tinggi.
Sedang asyik berperang tatapan, sebuah suara mengagetkan mereka.
“Kalian ngapain?”
Deg
Tatapan keduanya beralih pada sumber suara tersebut, mereka mengangkat pandangan dan menatap dua sosok yang dikenal.
Ehem...
“Kalian ngapain duduk di lantai berdua?” Tanya Riqhad lagi yang kali ini dengan nada introgasi.
Zoeya yang tertangkap basah dengan niatnya untuk mengintip itu pun hanya menyengir kuda memperhatikan raut wajah Abangnya yang terlihat serius, kemudian ia beralih menatap Shanum yang berada di samping Abangnya.
Mata Zoeya membulat ketika melihat Shanum mendorong trolly kopernya namun tangan Abangnya juga berada beberapa senti dari tangan Shanum di trolly itu. Zoeya pun tersenyum usil melihatnya.
“Lah, kenapa senyam-senyum nih bocah?” Ucap pria di belakang Zoeya, bahkan keduanya masih dalam posisi jongkok.
“Oya lagi... mm... lagi nangkep kecoa Bang. Tadi ada di sini kok.” Ucap Zoeya asal.
“Terus, si kecebong belakang ngapain? Ngikutin kamu nangkep kecoa juga?” Tanya Riqhad kesal kepada pria yang masih berjongkok bersama Adiknya.
“Ehem, kalo aku mah. Mau nangkep cicak yang jatoh ke pundaknya Zoeya!”
“Uwaaaaaa! Mana? Mana cicaknya. Ambilin, hikks... ambilin.” Teriak Zoeya histeris namun tidak mengetahui posisinya sekarang.
"Kak Aufar, ambilin cicaknya!” Ucap Zoeya semakin histeris. Ia pun memukul-mukul punggung Aufar dari posisi depan pria itu.
"Tunggu! Dari posisi depan, punggung Kak Aufar. Jangan-jangan?” Batin Zoeya. Setelah mendapatkan kesadarannya, gadis itu pun menghentikan aksi pukul-memukulnya dan melepaskan diri secepatnya dari Aufar.
Niat awal untuk memergoki kelakuan Abangnya yang tidak senonoh terhadap Shanum namun hasilnya, ia lah yang dipergoki oleh keduanya dengan aksi memalukan. “Kenapa gini sih?” Pikir Zoeya.
“Ehem. M-maaf Zoeya aku ngga bermaksud untuk ngusilin kamu kok, tadi kamu yang reflek meluk aku, tapi ya sudahlah.” Ucap Aufar dengan entengnya setelah memperhatikan wajah memerah Zoeya yang tengah menunduk itu.
Cih. Decisnya tanpa menimpali ucapan Aufar.
Zoeya pun mengangkat wajahnya lalu menatap datar Aufar. Ia menarik tangan Shanum dan menyeretnya keluar, koper di tangan Shanum pun terlepas dan terpental di lantai.
"Mereka kenapa, Bang?” Tanya Aufar sok akrab dengan Pak Dosen.
Riqhad pun mengutip koper Shanum dan berdiri kembali.
__ADS_1
“Bang, Abang! Kapan saya nikahan ama Kakak kamu hah!” Balas Riqhad dengan kesal.
“Gitu amat sih calon kakak ipar! Jadi selama ini Shanum tinggal di rumah ini ya? Kok aku nggak tahu sih?” ucap Aufar lagi seolah tidak tahu mengenai Shanum.
“Siapa yang mau jadi kakak ipar kamu? Untuk apa juga kamu harus tahu di mana Shanum tinggal?” Riqhad menanggapi.
“Aha, gue kerjain juga nih dosen galak.” Pikir Aufar.
“Ya harus tahu dong Bang, kan aku mau jadi adik ipar. Masa nggak tahu di mana calonnya tinggal sih. Eh, ngomong-ngomong Shanum Adik angkatnya Abang kan.” Terang Aufar sambil menganggukkan kepalanya.
“Ck, Sok akrab sekali kamu. Nyesal saya terima kamu numpang di mobil saya. Kenapa ngga pergi bareng si Gilan sih? Kan saya eneg liat wajah kamu mulu.” Tukas Riqhad kesal dan berusaha menyembunyikan sesuatu yang hendak meledak.
“Kok gitu, Bang? Mas Gilan kan masih ada urusan lain. Kalo Abang bisa eneg ngeliat wajah aku, kok abang ngga eneg juga sih lihat Shanum. Malahan abang lebih sering ketemu dia deh ketimbang aku.” Tukas Aufar dengan nada usil.
“Abang! Cepetan elah. Mama telpon nih suruh cepat!” Teriak Zoeya dari luar dan menyadarkan kedua pria yang masih adu mulut.
Sesuai instruksi Zoeya, Riqhad pun menyeret koper Shanum dan keluar dari rumah diikuti Aufar. "Ingat! Saya masih marah dengan kelakuan tidak senonoh kamu ke Adik saya tadi. Kamu tunggu hukuman dari saya." Ancam Riqhad disela langkahnya.
Sedangkan di depan pintu ketiga Bibi dan Pak Udin melepas kepergian mereka. Sebelum memasuki pintu kemudi, Riqhad membisikkan sesuatu ke telingan Aufar.
"Karena dia cantik dan kamu enggak."
Aufar hanya mendengus mendengarnya.
Aksi Riqhad dan Aufar tersebut disaksikan kedua perempuan yang telah mengambil tempat di bangku penumpang. ”Shan, kira-kira apa yang dibisikin Bang Riqhad ya?” Bisik Zoeya ke Shanum. “Enggak tahu, bukan urusan kita itu.” Jawab Shanum.
“Tapi aku kan kepo.” Gumamnya.
***
Di dalam mobil
Setelah mobil melaju membelah jalan raya, Shanum memilih membuka novel yang belum rampung dibacanya. Sedari tadi ia berusaha mencari kesibukan agar terhindar dari kecanggungan ini, di mana sekarang Zoeya sedang terkapar cantik di sampingnya dan di depan sana Aufar juga menikmati alunan musik melalui earphone ditelinganya dengan mata tertutup juga, entah memang tidur atau sekedar memajamkan mata.
Hanya dia dan Rhiqad lah yang terjaga. Memang mereka berencana untuk berangkat ke Bandung setelah sholat Dzhuhur, namun karena Rhiqad memiliki jam tambahan keberangkatan mereka pun diundur hingga sore. Mereka juga tidak menyangka bahwa Aufar akan ikut bersama mereka di mobil ini. Tapi tak mengapa, lebih banyak orang lebih baik. Pikir Shanum.
Tanpa ia sadari Riqhad sesekali memperhatikanya melalui kaca depan. Pria itu juga sama canggungnya dengan Shanum, tak tahu ingin memulai suatu percakapan yang dapat menghilangkan kebisuan di mobil ini.
Kemudian Shanum menutup bukunya karena hari mulai gelap, ia mengangkat wajahnya dan melihat ke depan bertepatan dengan Riqhad yang juga memperhatikannya. Langsung saja Shanum membuang pandangan ke samping.
“Apakah dia masih kesal dengan kejadian tadi ataukah malu?” Batin Riqhad bertanya.
Flashback On
Setelah selesai memberikan kuliah siang, Rhiqad langsung pulang ke apartmentnya. Ia mengemasi pakaian dan barang keperluannya untuk dua hari ke depan bahkan untuk mengetahui kabar dari Fhariza pun ia tak sempat atau sengaja melupa. Ia tak tahu apakah kekasihnya itu masih marah ataukah tidak. Untuk dua hari ke depan Riqhad akan menenangkan diri dari Fhariza, terutama meyakinkan dirinya untuk menerima rengekan Fhariza untuk menikahinya dalam waktu dekat atau tidak.
Mobil yang dikemudinya pun telah sampai di rumah mewah keluarganya, di pintu depan telah tergeletak dua koper besar yang Rhiqad duga adalah milik Zoeya sedangkan si pemilik koper sedang menenteng gitar dan satu tas jinjing besar.
Tiin... tin....
Setelah menutup pintu mobilnya, Rhiqad pun menyambangi Zoeya yang terlihat mengabsen satu per satu bawaannya. Setelah menyadari kedatangan orang yang ditunggunya, ia pun tersenyum menyambut Rhiqad. “Baru pulang ngajar, Bang?” Tanya Zoeya.
“Iya, balik ke apartment langsung ke sini.” Jawab Rhiqad.
“Ini kenapa bawa barangnya banyak banget? Kan kita cuma dua hari ke sana, lagian pakaian buat acara juga sudah disiapkan. Untuk apa semua barang ini?” Tambahnya.
Setelah mendengar jawaban tidak berbobot dari Zoeya, Rhiqad pun meminta Zoeya untuk memasukkan kembali barang bawaannya yang tidak perlu. Kemudian ia meminta Zoeya agar membawa satu koper kecil saja dan menaruh yang lainnya termasuk gitar kesayangan Zoeya itu.
Zoeya yang awalnya menolak akhirnya mengikuti kata Riqhad dengan patuh. Dan terlihat sekarang gadis itu tengah membawa sendiri barangnya dan satu gitar serta memasukkannya ke dalam bagasi.
Karena mengetahui Shanum belum juga muncul dari kamarnya, Rhiqad berinisiatif untuk menelepon gadis itu. Namun, sebelum ia memencet icon Call ponselnya lebih dahulu berdering dan nampaknya dari seseorang yang ingin ia telepon.
Shanum Saku Calling...
Itulah nama Shanum yang bertenteng di handphone Riqhad, entah mengapa ketika mengesave nomor ponsel gadis itu, ketika sampai ke kata kedua dari namanya. Ia lebih memilih membuat sedikit perubahan Shaquena-Shaqu-Saku. Terdengar lucu.
“Assalamu’alaikum, Pak.” Salam di seberang telepon.
“Memangnya gadis itu belum tahu bahwa ia telah tiba di rumah? Aneh?” Batin Rhiqad.
__ADS_1
"Wa’alaikumsalam. Ada apa?” Jawab Rhiqad dengan nada yang dibuat-buat kesal.
“Bapak udah nyempe belum? Shanum mau tanya, Maketnya dibawa atau enggak? Kan kita di sana dua hari paling tidak ada kemajuan untuk Maket ini.”
Mendengar pertanyaan tersebut mau tidak mau membuat Rhiqad menggelengkan kepalanya, ada apa dengan gadis ini. Mengapa disaat acara pernikahan sanak saudaranya masih sempatnya memikirkan tugas kuliah. Aneh bin ajaib.
Karena ingin mengusili sedikit, Rhiqad pun menyetujui usul Shanum untuk membawa maket buatannya. ‘gimana bawanya coba? Lagian dimana mau narohnya.’ Batin Rhiqad.
Beberapa saat kemudian, ketika Zoeya sedang sibuk sendiri di mobil sana. Shanum pun muncul menuruni tangga, ditangan kanannya ia memeluk maket yang disandarnya di dada sedangkan tangan kirinya menuntun koper yang memiliki beberapa roda kecil dibuntutnya.
Riqhad yang melihat pemandangan itu menganga, bukan hanya terpesona saja, tetapi lebih kearah ngeri. Dimana seorang yang memakai pakaian yang seakan menyapu lantai dengan kerudung panjang pula kini menuruni tangga dengan dua beban ditangannya. Terlihat gadis itu menuruni tangga dengan ragu-ragu.
Takut hal buruk dapat terjadi tiba-tiba, pria ini pun menghampiri Shanum yang belum sampai menapaki setengah dari anak tangga.
Shanum yang kaget dan belum siap dengan kedatangan Riqhad tiba-tiba hampir memijaki anak tangga yang salah, kakinya hanya menggapai udara dan jantungnya telah berdetak dengan cepat, ia pasrah jika harus terjatuh dan maket buatannya akan rusak. Ia memejamkan mata menahan rasa sakit akibat jatuh ini.
Namun, beberapa saat ia tunggu badannya tak jua menyentuh lantai. Sedangkan dipinggangnya ia merasakan sesuatu yang kekar bersarang di sana.
Deg
Deg
Wangi khas pria mengeruak di indera penciumannya, wangi yang menenangkan dan entah mengapa enak untuk dihirup lama-lama. Aura panas seketika menghampiri wajahnya hingga telinganya yang tertutup kerudung.
Perlahan ia membuaka matanya, kaki yang awalnya hanya menyentuh udara itu pun kini mendapat tempat pijakan. Seolah telah menghilang dari peradaban, jantung Shanum juga ingin copot rasanya.
Ia segera menjauh dari pria itu, hingga lengan kekar Riqhad yang beberapa saat lalu berada dipinggangnya kini terlepas. “Astagfirullah, dia menyentuh aku. Aku dipeluk tanpa sengaja. Oma, Shanum malu. Malu sama Allah dan malu sama Pak Riqhad juga.” Teriak Batin Shanum.
Shanum menghirup nafas perlahan berusaha menenangkan detak jantungnya, ia meremas gamisnya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya alhamdulillah masih memegangi Maket yang ia kira akan hancur beberapa detik yang lalu.
Lalu ia tersadar bahwa tangan kirinya tak lagi memegangi koper, ketika iris matanya menemukan koper silverya berada di tangan dosennya. Ia pun kembali menunduk, perasaannya campur aduk dan ia ingin sekali menangis menyadari kejadian tak terduga itu. Rasa hangatnya pun masih membekas.
“Ee-e i-itu saya ngga sengaja. Saya lihat kamu kesulitan jadi ya saya cuma mau bantu.” Terang Rhiqad dengan degupan yang sama.
Ia menatap Shanum yang hanya menunduk, ia mengaku salah telah memeluk Shanum dengan satu tangannya dari belakang. Tapi itu ia lakukan karena melihat Shanum salah memilih tempat berpijak.
Shanum hanya mengangguk kaku. “E-ee iya Pak. Untung ngga jatuh, makasih ya.” Ucapnya.
Mereka pun melangkah menuruni tangga beriringan, Shanum mengeratkan Maket dipelukannya memperhatikan sosok Riqhad dari arah belakang. Punggung kekarnya, lengan kokohnya, kehangatan dirinya dan wangi tubuhnya membuat Shanum ingin merasakannya lagi. Berulang kali Shanum beristighfar berusaha mengenyahkan pikiran tidak baik yang melintas di otaknya itu.
Hampir mencapai daun pintu, Shanum pun tersadar bahwa sedari tadi kopernya digandeng oleh Pria tersebut. Ia merasa tidak enak dengan Zoeya dan orang yang melihatnya nanti, kemudian Shanum pun merebut paksa koper yang berada ditangan Riqhad hingga aksi tarik-menarik pun tak terelakkan diantara mereka hingga kedua makhluk itu telah berada di teras depan.
Bahkan keduanya tak menghiraukan beberapa pasang mata yang memperhatikan kelakuan mereka.
Riqhad pun tertawa melihat aksi mereka, tepatnya tingkahnya sendiri. Mana ada dosen yang memilih berebutan koper dengan mahasiswinya dan mengingat koper ini jua lah yang membuatnya berulang kali bertemu dengan Shanum.
Terlihat wajah yang kian kesal dan memerah bak kepiting goreng saos tomat pedas. Terlihat lucu dimatanya dan menggemaskan.
“Pak, siniin kopernya. Saya bisa bawa sendiri.” Pinta Shanum.
Kemudian Riqhad memperhatikan Shanum yang kesusahan mempertahankan Maket di pelukannya. Kemudian tersenyum meremeh, “kamu itu bodoh ya! Mana ada orang ke acara nikahan bawa-bawa tugas kuliah.”
"Kan Bapak yang ngebolehin tadi.” Sanggah Shanum dengan nada tidak terima karena dikatai bodoh oleh orang yang tidak bodoh.
“Kan kamu bodoh! Masa nanya saya dengan pertanyaan itu. Ngga sempat kali kamu ngerjainnya di sana.” Tukas Riqhad yang terdengar sangat menjengkelkan.
Tanpa pikir panjang Shanum pun memasuki rumah dan berjalan cepat menuju kamarnya untuk menaruh benda dipelukannya ini sedangkan Riqhad masih saja mengikutinya hingga depan kamar. “Itu orang ngapain coba ngikutin aku.” Gumam Shanum yang terdengar oleh pria di depan pintu itu.
“Saya dengar kamu ngupat. Saya cuma memastikah bahwa kebodohanmu tidak terulang lagi.” Kata Riqhad acuh kemudian dengan gerakan memutar kembali menuruni tangga. Shanum hanya melongo melihat tingkah aneh Riqhad yang kian hari kian menjadi. Tak habis pikir dengan apa yang ada di otak pria itu.
Hingga sebelum mencapai ruang tamu, Shanum kembali merebut kopernya dan berhasil mengambil alih namun beberapa saat kemudian tanpa ia sadari dosennya juga menggenggam trolly tersebut.
Shanum hampir tertawa melihat pemandangan di depannya yang lebih tepat dikatakan dibawahnya. Dua orang anak manusia tengah berjongkok dan tak kalah terkejut memperhatikan mereka.
Flashback Off
Allahuakbar... Allahuakbar!!!
Suara adzan menyadarkan Shanum dari memandangi pemandangan di luar kaca mobil, sedangkan Riqhad masih serius mengemudi.
__ADS_1
"Pak, berhenti di Masjid depan sana ya! Kita sholat dulu." Ucap Shanum yang dibalas anggukan dari Riqhad.