
PART 11 - PERTEMUAN
Kali ini mengenai suatu kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT, tentang sebatas waktu yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, untuk itu akan ada pertanggungjawaban di setiap detiknya.
________________________________________
“Iya, ini udah nyampe kok!”
“APAAA?"
"BUKANNYA NANTI YA?”
"OMG! KOK BISA SIH?"
"AKU KE KELAS SEKARANG!”
Teriakan beruntun itu berasal dari gadis berpenampilan tomboy ini, ia menjadi bahan tontonan mahasiswa di sekitarnya. Zoeya tidak risih sama sekali ditatap oleh mereka dan bahkan dia akan merasa tersanjung jika bisa menjadi pusat perhatian.
Zoeya baru saja menerima telepon dari Molly sahabatnya, katanya kelas pertama mereka dimajukan menjadi sekarang, kelas yang seharusnya dimulai setengah jam lagi.
“Shan, maaf banget ya ... kelasku dimajuin jadi sekarang dan kata temanku dosennya udah stanby di kelas. Sorry nggak bisa nemenin kamu ke akademik.” Ucap Oya dengan wajah bersalah.
Shanum mengerti itu dan menatap Zoeya tenang seraya berkata, “tidak apa-apa kok, nanti aku bisa tanya sama mahasiswa lain. Kamu masuk aja! Nanti dosenmu marah lagi.” Balas Shanum dengan senyum ketenangannya.
Zoeya pun menaikkan sudut bibirnya dan bergerak memeluk Shanum erat, diguncang-guncangnya tubuh Shanum seakan gemas. Tingkah mereka tak luput dari banyaknya pasang mata. Aneh saja melihat dua perempuan dengan penampilan yang saling bertolak belakang itu terlihat sangat akrab. Yang satunya berhijab dengan pakaian yang serba lebar dan yang lainnya begitu urak-urakkan tetapi cantik, si Oya yang terkenal dengan ketomboy-annya. Bagaimana tidak, sekarang saja celana yang dikenakkan Zoeya hampir robek di berbagai sisi, meskipun itu selalu saja dianggapnya modis.
Yang menjadi pusat perhatian mahasiswi lainnya bukanlah si gadis tomboy sebab dia sudah sangat dikenal di kampus ini. Adik dari Dosen muda yang berwajah tampan berlebihan. Banyak mahasiswi yang mengetahui bahwa Zoeya adik dari Pak Dosen tampan, mencari muka di depannya dan sering mendekatinya untuk me-lobby Zoeya supaya bisa dekat dengan Abangnya.
Namun, kini mereka memperhatikan sosok Shanum, karena tempat mereka berpelukan adalah di depan gedung jurusan fashion design yang kesemua mahasiswinya hampir tidak ada yang berkerudung bahkan pakaian yang mereka kenakkan agak minim sedikit meski pun masih berkategori sopan.
Pelukan mereka merenggang, Zoeya pun pamit setelah menunjukkan arah ke ruang akademik kepada Shanum. Shanum hanya mengikuti arahan itu kemudian akan menanyakan kepada orang yang ditemuinya nanti untuk lebih jelasnya.
Shanum melangkah pasti, pakaian syar’i-nya pun berkibar-kibar seolah ikut bersemangat mengikuti gadis cantik ini. Hampir mencapai gedung yang bertuliskan “Akademik Univ. Nusantara Sakti."
Bruuk...
Shanum tanpa sengaja tertabrak sosok cantik yang berjalan begitu tergesa-gesa, seorang wanita yang berwibawa dengan blazer hitam ketat beserta rok pensil pendek yang membungkus tubuh rampingnya, terlihat sekali aura kecantikan dari wanita yang terduduk di lantai bersamanya ini. Astagfirulloh, batin Shanum cemas.
Gadis berkerudung ini pun berusaha berdiri kemudian mengulurkan tangannya bermaksud untuk membantu orang yang bertabrakan dengannya.
“Afwan, saya tidak sengaja.” Ucap Shanum dengan tangan yang masih menggantung di udara, tangan yang tidak juga disambut oleh wanita itu.
Namun yang mengejutkan adalah wanita yang ingin dibantu itu menepis kasar tangan Shanum, dia terlihat marah seraya berusaha berdiri sendiri tanpa mengindahkan uluran tangan yang masih menggantung di udara itu.
Shanum menyimpan kembali tangannya yang sedikit memerah seraya berniat membantu memungut handbag dan beberapa buku yang berceceran di lantai, namun untuk yang kedua kalinya lagi wanita anggun itu menepis tangan Shanum. “Tidak perlu, saya tidak butuh bantuan kamu!” Ketusnya seraya memungut sendiri barang-barangnya yang berserakan.
Shanum merasa bersalah dan kemudian mengulangi kata maafnya lagi yang tadi sama sekali tidak di tanggapi, “sekali lagi, saya minta maaf ya. Saya tidak sengaja.”
__ADS_1
Setelah berhasil mengumpulkan barang-barangnya, wanita itu tidak juga membalas ucapan Shanum. Sebelum dia melangkah pergi dengan arah yang berlawanan dari Shanum. Dia berkata, “kamu! Mahasiswi di sini?” Tanyanya.
“Na’am, Mahasiswi pindahan.” Ucap Shanum mantap.
“Kalau begitu, jaga sopan santunmu dengan Dosen. Tidak seharusnya kamu menabrak saya. Dan jika melangkah itu perhatikan jalan, jangan asal-asalan kamu!” Ketusnya. Untung saja koridor kampus ini terlihat sepi sehingga tidak ada yang menyaksikan kejadian barusan.
Kemudian netra wanita yang menyebut dirinya dosen itu menatap Shanum. Tergambar senyum sinis di wajah cantiknya. “Jangan sok ke Arab-Araban kamu! Kalau mau ikut pengajian jangan di sini!” Tambahnya sebelum melenggang pergi, kembali menjauh dari posisi Shanum sekarang.
Shanum heran, “ada apa dengan dosen itu? Mengapa dia harus marah-marah karena hal sepele? Dan bahkan membentakku! Ah, mungkin dia punya masalah sehingga berimbas kepada orang lain.” Batin Shanum seraya mengangguk mengiyakan apa yang ada dipikirannya.
Sesampainya di ruang akademik, Shanum mengucapkan salam dan tanpa sengaja dia menjumpai sosok yang dia kenal. “Shanum? Mulai kuliah hari ini ya?” Tanya pria tampan ber-setelan jas lengkap itu.
“Iya, Mas Gilan. Shanum mulai kuliah hari ini.” Jawab Shanum menimpali pertanyaan dari pria yang sedang duduk di ruang yang sama dengannya.
Shanum sedikit memincingkan matanya melihat kehadiran Gilan di kampus ini, karena yang Shanum tahu pria ini bukan merupakan Dosen atau pun staf di sini. Gilan tidak sendiri, di sebelahnya ada laki-laki yang sedikit lebih muda darinya. Terlihat urak-urakan namun tidak menghilangkan kesan tampan dari dirinya. Dia menatap lurus ke depan dengan cuek dan bahkan cara dia duduk saja begitu tidak sopan.
Kemudian pria paruh baya berkepala botak muncul dari ruang sebelah, menghampiri Shanum, Gilan dan laki-laki satunya lagi yang belum Shanum ketahui namanya. Pria berkepala licin itu mempersilahkan Shanum duduk di kursi samping Gilan. Pria itu yang sedikit mengerti Shanum, berpindah ke sebelah lelaki yang lebih muda darinya sehingga menyisakan jarak satu kursi antara Shanum dengan lelaki urak-urakkan tadi.
“Aufar, Bapak tidak terima alasan lagi jika di kelas barumu ini kamu berbuat ulah lagi. Cukup kemarin-kemarin saja kamu bermasalah, jika kamu ulangi lagi tanpa dispensasi untuk yang kesekian kalinya kamu akan di DO dari kampus ini!” Ucap pria berkepala licin itu seraya menyerahkan beberapa lembar kertas.
Tidak ada tanggapan sehingga membuat Gilan yang berada di sebelahnya lah yang mengambil alih kertas itu. “Baik pak Wira, saya pastikan Aufar akan berkelakuan baik dan tidak berulah lagi.” Timpal Gilan ramah.
Lelaki yang diketahui bernama Aufar itu hanya mendengus dan memutar matanya malas, namun iris hitamnya bertemu dengan perempuan yang berada di sebelahnya. Dia menatap perempuan itu lama sehingga tepukan dipundak menyadarkannya kembali.
“Kamu dengar Aufar! Ini terakhir kalinya. Sudah dua kali semester kamu bermasalah dan kali ini kamu tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan lagi!” Tegas Pak Wira.
Pak Wira memindahkan pandangannya pada Shanum dan menjelaskan semua sistem perkuliahan di kampus ini kepadanya. Setelah paham, Shanum dipersilahkan untuk langsung mengikuti perkuliahan jam pertamanya.
“Kalau begitu, Mas kembali ke kantor dulu. Mas harap kamu bisa berubah Aufar. Jangan malas lagi dan jangan bermasalah lagi. Kamu dengar? Ini terakhir kalinya Mas mendatangi kampusmu hanya untuk menerima keluhan dari dosenmu. Kamu dengar, tidak?” Ucap Gilan pada lelaki beransel kulit itu.
“Iya Mas, nggak usah nyolot juga kali. Sana pergi! Aku akan berubah kok, tenang aja.” Jawabnya enteng.
Setelah itu, Gilan berpamitan pada Shanum, “saya pamit dulu, semoga kamu betah kuliah di sini dan semoga sukses.” Kata Gilan pada sosok mungil di depannya.
Sepeninggalannya Gilan, Shanum dan Aufar dituntun mahasiswa berkacamata yang entah siapa namanya. Mahasiswa ini diperintahkan oleh Pak Wira untuk mengantarkan Shanum dan Aufar ke kelas baru mereka.
“Kamu jurusan Arsitektur juga ya?” Suara berat itu memecahkan keheningan diantara keduanya.
Mereka berjalan sedikit berdampingan dengan mahasiswa berkacamata yang menuntunnya di depan.
“Iya, kamu juga ya?” Balas Shanum dengan masih menunduk.
Terdengar sedikit helaan nafas dari laki-laki di sebelahnya itu, “iya, seharusnya sekarang aku sudah semester lima. Tetapi ada sedikit masalah yang membuatku mengulang lagi dan lagi.” Jawabnya dengan sedikit kekehan.
“Kamu kenal Masku di mana?” Tanyanya lagi dengan masih memperhatikan Shanum dari samping. Cantik banget.
“Aku pernah ketemu waktu makan malam di rumah Ummi Hasna, rumahnya Zoeya. Kebetulan aku tinggal di sana sekarang.” Jawab Shanum melirik sampingnya sekilas namun dengan secepat kilat kembali menunduk karena ketika melihat lawannya bicara tanpa sengaja Aufar juga sedang memperhatikannya lekat.
__ADS_1
Aufar tersenyum dan mengangguk paham. Mereka pun berhenti di depan pintu yang dapat di ketahui sedang berlangsung kelas di dalamnya. Setelah berterima kasih kepada mahasiswa pemandu tadi, mereka pun mendekat ke arah pintu.
Tok ... tok ... tok ....
Aufar mengetuk pintu di depannya sedangkan Shanum memilih posisi sedikit di belakang. Kemudian suara berwibawa yang sedang memberikan kuliah itu terhenti dan mengintruksi agar mereka langsung masuk ke kelas.
Pintu pun dibuka oleh Aufar, terlihat pria tampan yang mengenakkan kemeja berwarna biru laut dengan jas yang tertata rapi pada bagian kursinya. Ia menatap Aufar dari posisinya berdiri.
Aufar tidak panik dan bahkan terlihat santai menyaksikan siapa dosen yang mengajar di kelasnya. Pria yang masih berdiri di depan kelas itu menginstruksikan agar Aufar mendekat dengan bollpoint ditangannya sebagai alat bantu tunjuk. “Silahkan masuk! ” Ucapnya tegas.
“Ini KRS saya, Pak.” Ucap Aufar seraya menyerahkan lembaran kertas yang diberikan oleh Pak Wira tadi.
Sementara ia mencermati dokumen dari mahasiswanya itu, para mahasiswi di kelas menatap kagum dan sedikit histeris namun tidak berani bersuara. Bukan hanya menatap sang Dosen muda saja, karena mereka sudah sering melihat ketampanan makhluk Allah yang satu ini, tetapi sekarang mereka tengah mengagumi sosok tampan yang baru saja memasuki kelas mereka. Aufar. Si mahasiswa yang harus mengulang kembali di semester tiga.
Aufar mengacuhkan tatapan memuja dari kaum hawa di ruangan ini yang membuatnya jengah, ia malah melirik pintu kelas dan terheran karena melihat mahasiswi baru tadi belum juga memasuki kelas.
“Apakah dia malu atau apa?” Pikir Aufar. Tidak seperti Aufar yang bisa dikatakan sebagai senior di kampus karena semua dosen hampir mengenalnya, tetapi ini Shanum ... gadis berkerudung yang sedari tadi selalu saja menunduk sepanjang jalan menuju kelas ini. Tidak heran jika dia memiliki sifat malu yang begitu berlebihan.
Setelah mencermati kertas di tangannya, Dosen muda itu memperhatikan Aufar yang serius memandangi pintu kelas. “Kata Pak Wira, selain kamu masih ada Mahasiswi baru lagi di kelas ini. Di mana dia?” Tanya Pak Dosen yang membuat Aufar kembali menatap dosennya itu.
Belum sempat Aufar menjawab, Shanum pun muncul dari balik pintu. “Assalamu’alaikum.” Salamnya.
Seluruh pasang mata di ruangan berpindah melirik sosok yang baru muncul. Ada yang menjawab salam dari Shanum dan ada juga yang hanya diam saja.
Shanum melangkah mendekati meja dosen dengan tidak mengangkat wajahnya. Merasa menutupi tubuh mungil Shanum, Aufar menggeser sedikit badan kekarnya sehingga sosok Shanum dapat terlihat oleh Dosen yang bersangkutan.
Deg
Dosen itu merasa pernah melihat mahasiswi baru ini, tapi ia lupa kapan dan di mana. Ia belum bisa memastikan sebab perempuan di depannya tidak kunjung melihat ke arahnya.
“Kamu mahasiswi baru di ke kelas ini? Mana KRS mu?” Tanya Riqhad datar.
Ya ... Riqhad lah sosok dosen muda nan tampan itu. Dia lah yang mengajar di kelas ini untuk jam pertama. Ia sudah dikabari oleh orang akademik bahwa di kelas nanti akan ada dua tambahan anggota. Satunya merupakan mahasiswa yang belum bisa mengontrak ke atas dan yang lainnya memang mahasiswa pindahan.
Dimintai untuk menyerahkan dokumen bukti terdaftarnya pada perkuliahan semester tiga ini, membuat Shanum merogoh ranselnya dan menyerahkan lembaran kertas dari akademik.
“Iya Pak, Saya mahasiswi baru. Ini Pak!” Ucap Shanum sopan seraya menyerahkan apa yang diminta oleh dosen di depan.
Ia mengulurkan kertas itu seraya memperhatikan lawannya berbicara, mengangkat wajahnya yang semula menunduk dan-
Deg
Degupan jantung gadis berkerudung ini seakan berhenti tatkala menyaksikan siapa dosennya. Mana mungkin dia?
Ternyata, sosok berwibawa di depannya ini merupakan orang yang sama dengan yang di temuinya ketika di Changi Airport, kemudian orang yang juga duduk bersebelahan dengannya ketika di dalam pesawat dan terakhir adalah orang yang membawa kopernya atau tertukar koper dengannya.
Sungguh dunia begitu sempit, mengapa Shanum harus berjumpa dengan sosok arrogan ini lagi. Sosok yang memarahinya dan berkata kasar beberapa kali di saat pertemuan tak sengajanya kala itu. Pria arrogan pembawa koper yang sekarang merangkap menjadi Dosen (galak?)
__ADS_1