A

A
EMPAT


__ADS_3

PART 4 – KELUARGA BARU UNTUK SHANUM


"Berbincang-bincanglah dengan anak perempuanmu, bermainlah dengan anak laki-lakimu. Kamu harus bisa menjadi teman yang lebih baik bagi mereka daripada orang lain. Pergaulan di masyarakat saat ini banyak menawarkan teman yang buruk. Sebelum mereka berteman dengan yang buruk seperti itu, mereka perlu menemukan teman terbaik mereka di dalam dirimu."


- Nouman Ali Khan


Shanum dituntun oleh Ummi Hasna mendekati mobil yang terparkir tidak jauh dari posisi mereka berdiri, mengikuti langkah orang yang baru saja ia temui ini dengan perasaan canggung dan serba salah.


Dikali pertama berjumpa dengan Ummi Hasna dia sudah merepotkan, sebab koper yang berisi semua keperluannya itu telah tertukar dengan koper yang entah milik siapa, yang dia tahu orang itu adalah orang yang beberapa kali bertemu dengannya meskipun dalam suasana buruk.


Sesampainya kedua perempuan berpakaian syari dengan perbedaan usia yang jauh itu di depan mobil. Ummi Hasna mengetuk kaca yang tertutup rapat di depannya, kemudian tanpa aba-aba kaca mobil berwarna gelap itu pun diturunkan dan tampaklah sosok tampan lengkap dengan jas serta dasi senada ditubuhnya.


Pria itu tersenyum pada Ummi Hasna, lalu ia melihat sosok gadis cantik yang berdiri di belakang Ibunya. Dia memandangi Shanum dari ujung kaki hingga ujung kepala, kemudian dari ujung kepala hingga ujung kaki yang tertutup pakaian longgar. Begitupun seterusnya secara berulang-ulang.


Ulahnya itu tertangkap oleh Ummi Hasna, Wanita paruh baya itu pun menepuk pelan pundak pria yang masih berada di kursi kemudinya.


"Jaga matanya, Bang! Tidak baik menilai orang seperti itu." Ucap Ummi Hasna menasihati sebab sangat terlihat dimatanya bahwa tatapan menilailah yang diperlihatkan oleh putra sulungnya.


Pria itu pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menghilangkan rasa malu dan canggung. Setelah dinasehati oleh Ibunya, pria itu pun keluar dari kursi kemudi dan berdiri gagah di depan dua wanita muslimah ini. Satunya adalah Sang Ibu dan lainnya adalah sosok gadis muda yang belum diketahui namanya. Tapi, Ibunya telah mengatakan kepadanya bahwa mereka kedatangan tamu sekaligus akan menjadi anggota keluarga baru mereka.


Ya, pria ini tahu bahwa Ibunya mendapat amanah dari kenalannya untuk menjaga cucu perempuan kenalannya itu, tetapi dia tidak menyangka bahwa cucu kenalan Ibunya sudah besar ini, karena pria ini mengira cucu kenalan ibunya itu masih anak-anak, nyatanya bukan.


Meskipun bertubuh lebih pendek, gadis di belakang ibunya itu terlihat sudah berusia sekitar 18 tahun atau 19 tahun dan terlihat dewasa serta cantik sekali.


Masih terus memperhatikan sosok gadis muda itu, pria ini pun berinisiatif untuk membantu memasukkan koper yang berada di tangan sang gadis.


"Ayo masuk Dek! Sini saya bantu memasukkan kopermu." Ucapnya pada Shanum.


Ummi Hasna hanya tersenyum melihat tingkah anak sulungnya ini, dia pun mengenggam tangan Shanum sehingga tubuh Shanum berada tepat bersisian dengannya.


"Abang, kenalan dulu dong. Langsung nawarin aja." Ucap Ummi Hasna kepada putranya.


Sedangkan Shanum yang semula menunduk kini menatap Ummi Hasna di sebelahnya setelah mendengar suara keibuan itu. Ummi Hasna pun sama, memandangi Shanum seraya tersenyum ramah.


"Hehe ... iya, Ma. Lupa." Balas sang anak.


"Ehem ... kenalin nama saya Thoriq. Kamu bisa panggil Abang aja atau Mas juga boleh!" Ucap suara berat diiringi cengiran khas itu memperkenalkan dirinya.

__ADS_1


Ummi Hasna kembali tersenyum, dia sangat tahu anak sulungnya ini berbeda dengan putranya yang lain. Jika Thoriq orangnya sangat ramah, humoris dan sedikit cerewet maka lain lagi dengan adiknya yang sudah lama memilih tinggal jauh dari mereka. Putra keduanya itu sangat bertentangan dari Abangnya.


Ummi Hasna jadi ingat sekarang bahwa putranya itu juga kembali hari ini, dia sudah memintanya untuk datang ke rumah mereka sebab ada sesuatu hal yang akan wanita paruh baya ini sampaikan. Semoga saja putra keduanya itu mau kembali ke rumah kali ini, sudah lama sekali mereka tidak berkumpul seperti sebelumnya.


Kembali pada posisi mereka sekarang. Setelah menyebukan nama sendiri, Thoriq pun mengulurkan tangan kanannya di depan gadis cantik yang masih menunduk. Tapi uluran tangannya tidak kunjung disambut oleh Shanum.


Shanum kemudian mengangkat wajahnya untuk melihat pria bersuara berat di depannya itu dan kemudian dia menangkupkan kedua tangan di depan dada.


"Saya Shanum ... Salam kenal." Ucap Shanum lembut membalas kata si pria.


Thoriq pun segera menurunkan uluran tangannya yang tak kunjung dijabat oleh Shanum. 'Hmm ... dia tipe-tipe ukhti gitu ternyata!' Batin Thoriq kemudian.


"Eh, iya ... salam kenal Dek Shanum ... jadi apa panggilan buat saya?" Ucap Thoriq ramah.


Shanum hanya tersenyum membalas ucapan pria di depannya ini. Sebenarnya Shanum merasa tak enak hati ketika tidak menjabat tangan pria ini, sebab memang Shanum sedang proses berhijrah. Shanum mulai menghindari bersentuhan langsung dengan pria yang bukan mahromnya, hal itu telah dia lakukan sejak dia optimis dalam menggunakan pakaian syar'i ini.


Dia pernah mendengar hadis yang berbunyi :


لأَنْ يُطْعِنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطِ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنَْ يَمُسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ


"Seseorang ditusuk kepalanya dengan jarum besi lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya."


Setelah mendengar dan melihat sendiri pria di depannya tidak tersinggung dengan apa yang baru saja dia lakukan, Shanum pikir bahwa putra Ummi Hasna adalah orang yang baik, ramah, supel dan humoris juga. Buktinya dia tidak menampakkan wajah kesal dan wajah tak enak lainnya pada Shanum. Lain halnya dengan pria yang sudah dua kali ditemui Shanum sebelumnya, pria itu arrogan, pemarah dan juga kasar. 'Astaghfirullah' Batin Shanum yang telah membandingkan dua makhluk ciptaan Allah itu dengan lancangnya. Jelas mereka berbeda. Entah mengapa Shanum kembali mengingat pria yang telah membawa kopernya itu.


"Ehemm ... baiklah jika kamu belum menentukan panggilan yang cocok untuk saya. Tak apa, saya akan menunggu ... hehe. Kalau begitu mari masuk!" Tawar Thoriq memecah lamunan gadis cantik bernama Shanum.


"Ya sudah, ayo Shanum ... biar koper itu diangkat oleh Thoriq saja!"


Ummi Hasna dan Shanum pun memasuki mobil yang dikemudikan oleh Thoriq.


Di dalam mobil, tepatnya di kursi belakang terjadi perbincangan antara dua wanita berbeda usia itu. Yang satunya asyik bertanya dan yang lainnya dengan senang hati menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Ummi Hasna.


"Jadi, kamu kuliah semester 3 ya Nak?" tanya Ummi Hasnah.


"Iya Mi, jurusan Arsitekur." Jawab Shanum.


"Wah ... jurusan yang bagus itu."

__ADS_1


"Bang, gimana kalau Nak Shanum dimasukkin ke kampus Riqhad saja?"


Mendengar Sang Mama mengajaknya ikut dalam perbincangan yang tadi hanya dilakoni penumpang bangku belakang itu saja, pria yang dipanggil 'Abang' oleh Ummi Hasnah kini melihat dua wanita itu dari kaca mobil.


"Akhirnya, Abang diajak bicara juga Ma. Kirain cuma dianggap supir tadi, kalau enggak ya ... dianggap batu sama kalian. Dari tadi Abang hanya dikacangin. Sedih tahu." Timpal Thoriq lucu yang dibalas tawa kecil oleh Shanum.


Shanum semakin yakin pria di depan ini merupakan sosok yang sangat humoris dan begitu menyayangi Mamanya, terbukti dari caranya menyebut dirinya sendiri sebagai 'Abang.'


"Eh, kamu ada-ada aja ... dari supir hingga batu lalu kacang. Lihat nih, Shanum jadi ketawain kamu kan?" Kata Ummi Hasnah yang kembali melihat Shanum tertawa untuk yang kedua kalinya oleh kata-kata yang diucapkan oleh putranya.


"Biarin aja dia ketawa Ma ... dia cantik kalau tertawa." Jawab Thoriq yang melihat aksi tawa Shanum itu dari kaca mobilnya. 'Memang dia cantik, tidak tertawa saja sudah cantik apalagi ini!' Batin Thoriq.


Mendengar kata pria itu membuat pipi Shanum yang sebagian tertutup hijab itu memerah. Thoriq tersenyum menyaksikan aksi malu-malu gadis di bangku belakang itu.


"Bang, jangan pandangin lama-lama!" Tegur Ummi Hasnah karena putranya senyum-senyum sendiri memandangi Shanum dibalik kaca mobil.


Diharamkannya memandang dengan sengaja kepada lawan jenis, berdasarkan firman Allah Ta'ala:


{\قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ. وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا


"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka" (QS an-Nuur: 30-31).


"Iya Ma maaf ... Mama bilang apa ya tadi? Soal kuliah?"


"Iya, Mama mau masukin Shanum kuliah di kamus yang sama dengan Riqhad. Gimana menurutmu?"


"Wah, bagus itu Ma. Sekalian suruh si Adek sok dewasa itu buat jagain Shanum, Abang setuju! Biar Abang yang urus semuanya." Kata Thoriqdengan semangat.


"Terima Kasih Bang ." Ucap Ummi Hasna.


'Riqhad? Siapa dia? Apakah putra Ummi Hasna yang lainnya? Bagaimana bisa aku tinggal serumah dengan dua pria yang bukan mahromku itu? Ya Allah aku harus bagaimana?' Batin Shanum.


"Nak, kamu tenang saja urusan kuliahmu akan diurus oleh Thoriq dan kamu tidak boleh sungkan ya? Kamu sudah Ummi anggap sebagai anak sendiri!" Ucap Ummi Hasnah pada Shanum yang terlihat tengah berfikir.


"Tapi Mi, Shanum merasa tidak enak karena sudah merepotkan kalian. Shanum tidak kuliah juga tidak apa-apa, biarkan Shanum mencari kerja saja dan mencoba membalas kebaikan kalian!" Tolak Shanum kemudian.


"Kok bicaranya gitu sih Nak, tidak baik. Kamu tidak usah khawatir karena Bibi Syofi memang memiliki tabungan yang setelah ini akan dikelola olehmu! Tapi, sebelum kamu menikah, kamu harus tinggal bersama kami. Itulah yang tertulis di surat wasiat yang dititipkan Bi Syofi."

__ADS_1


"Ya Allah, Apa lagi yang sudah disembunyikan Oma? Tabungan? Surat wasiat? Menikah?" Shanum kebingungan.


"Kamu pasti bingung. Sabar ya, nanti ada waktunya surat itu sampai padamu.


__ADS_2