
PART 23 - SETITIK KEINGINAN
Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal maka Allah akan menganugerahkan kepada kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung. Dia terbang pagi hari dalam keadaan lapar dan sore hari datang dalam keadaan kenyang.
(HSR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
_________________________________________
Senja yang semula mekar menjingga perlahan mengalah pada gelapnya sang malam, memunculkan bebintangan di kanvas hitam megahnya langit. Rumah yang menjadi tempat berlindugnya gadis sebatangkara itu terlihat sepi dari biasanya. Ia yang biasanya sering berdiskusi panjang dan mendengar cerita dari mulut anak sang pemilik rumah kini hanya duduk seorang diri di ruang tamu.
Shanum yang ditinggal pergi keluar oleh Zoeya sedari tadi memilih untuk melanjutkan muroja'ah di ruangan ini dan Bi Ipah yang terlihat segar sehabis menunaikan sholat isya itu ikut menemani Shanum. Ia bangga pada sosok gadis yang tegar ini, selain cantik parasnya ia juga memiliki hati yang sama cantiknya.
Selama Shanum tinggal di rumah ini tak pernah sedikit pun ia melihat hal buruk yang dilakukan Shanum.
"Bu, lebih baik ibu istirahat saja! Ibu pasti capek seharian ini." Tolak Shanum lembut ketika Bi Ipah menawarkan diri untuk membantunya dalam muroja'ah.
Namun, memang dasarnya Bi Ipah susah ditolak dan sedikit keras kepala. Akhirnya mereka berdua pun tenggelam dalam indahnya lantunan kalam Allah.
Beberapa saat kemudian, terdengar deru mobil mulai memasuki pekarangan rumah. Bi Ipah yang sangat mengenali suara mobil majikannya itu pun bergegas untuk menyambut Nyonya besarnya. Shanum melihat Bi Ipah yang terlalu semangat itu tersenyum lalu menutup Al-Qur'an berwarna violet berukuran medium di tangannya.
Setelah membantu majikan mengeluarkan barang-barangnya dari bagasi, Bi Ipah pun pergi meninggalkan wanita itu dengan Shanum yang kini beriringan memasuki ruang tamu dan menuju ruang keluarga. "Belum tidur Nak?" Suara yang beberapa hari ini sangat dirindukan menyapanya.
Shanum yang digandeng oleh Ummi Hasna itu pun menimpali berbagai pertanyaan yang dilontarkan padanya. Setibanya mereka di ruang keluarga, Ummi Hasna mencium pucuk kepala Shanum dan meninggalkannya menuju kamar sebab wanita paruh baya itu belum melaksanakan sholat isya karena tadi ia tertidur dalam perjalanan pulang.
Memang akhir-akhir ini Ibu tiga anak ini sering meninggalkan rumah dan bahkan keluar daerah, katanya ia sedang membantu sahabatnya yang sakit sehingga rumah ini menjadi sepi karena hanya ditinggali oleh dua orang gadis sebaya dan beberapa orang lagi yang salah satunya adalah Bi Ipah.
Setelah menunaikan sholat, wanita yang tak lagi muda itu terlihat begitu lelah sehingga mengistirahatkan punggungnya di sofa kamar. Baru saja ia ingin memejamkan mata, ketukan berirama menyadarkannya. kemudian ia meminta orang yang mengetuk itu masuk, Ummi Hasna meluruskan posisinya dan tersenyum lembut menyambut Shanum.
Gadis itu pun masuk dengan kedua tangannya yang menenteng segelas teh hangat dan beberapa cemilan. Ia mengarahkan Shanum untuk duduk di sampingnya.
"Maaf mengganggu istirahatnya, Shanum hanya khawatir jika Ummi belum mengisi perut dan juga kedinginan akibat perjalanan jauh." Kata Shanum menyampaikan niat tulusnya.
"Makasih Nak, Ummi memang belum sempat makan tadi, ini juga Ummi mau ke ruang makan. Kamu sudah makan?" Balasnya yang dibalas anggukan oleh Shanum.
"Makasih kembali Mi, kalau begitu Shanum temankan Ummi makan ya!" Tawar Shanum. Namun ditolak oleh wanita paruh baya itu dan meminta Shanum untuk beristirahat saja di kamar untuk mengerjakan tugas kampusnya jika ada.
"Baiklah, kalau begitu Shanum ke kamar dulu ya Ummi." Pamit Shanum yang dibalas anggukan kepala oleh Ummi Hasnah.
"Oh iya, Oya di mana? Kok Ummi ngga terlihat dari tadi? Biasanya heboh terus." Ia menanyakan keberadaan anak gadisnya. Beberapa hari tidak bertemu membuatnya sangat merindukan kecerewetan anak bungsunya itu meskipun sering berbincang melalui ponsel namun rasanya berbeda dengan bertatap muka langsung.
Shanum yang hampir mencapai daun pintu itu pun memutar tubuhnya dan mengatakan bahwa Zoeya sore tadi sudah izin keluar bersama Abangnya, Thoriq. Thoriq menjemput Zoeya sekitar jam 5 yang katanya mereka akan pergi untuk menghadiri acara lamaran dari sahabatnya Thoriq.
Bicara masalah lamaran, Shanum jadi ingat dengan Kak Harisa yang juga sedang menjalani ta'aruf dan dalam minggu ini juga akan di lamar, Shanum ikut senang mendengar itu. Ia berharap Harisa akan lebih bahagia setelah ini, di mana dia dan wanita bercadar itu sama-sama hidup sebatang kara tanpa kedua orang tua.
"Oh, si Armadan ternyata. Kapan ya giliran anaknya Ummi yang ngelamar mantu buat Ummi?" suara wanita paruh baya itu menyadarkan Shanum dari pikirannya. Ummi Hasna mengucapkan itu dengan nada ceria namun terdengar sendu di telinga Shanum karena terselip unsur pengharapan dibaliknya.
"Ada masanya Ummi, Ummi sabar aja. Karena rejeki, maut dan jodoh sudah ditetapkan oleh Allah SWT." Jawab Shanum.
"Kamu benar Nak, Ummi jadi tidak sabar untuk memiliki mantu sehingga Ummi punya anak perempuan lagi yang cantik dan sholehah. Kalau bisa sih yang seperti kamu Nak." Kata Ummi Hasna yang sedikit menggoda gadis di depannya itu.
Wajah Shanum pun memerah dan kemudian mereka berdua pun meninggalkan kamar beriringan.
"Ummi bisa saja. Shanum tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan wanita sholehah yang memegang teguh aqidah dan akhlak mulia di luar sana." Timpal Shanum. Ummi Hasna pun tersenyum.
__ADS_1
"Nak, kamu pernah jatuh cinta?" Tanya Ummi Hasna mendadak sebelum meninggalkan Shanum untuk menuju ruang makan tanpa menunggu jawaban dari Shanum untuk pertanyaannya itu. Aneh.
Sedangkan Shanum yang mendengar pertanyaan dari wanita paruh baya itu sepersekian detik langsung terdiam. Jika ditanya ia pernah jatuh cinta maka ia akan menjawab pernah, ia juga mengalami apa yang remaja biasa alami. Namun setelah ini ia ingin jatuh cinta dan jatuh sejatuh-jatuhnya hanya kepada seseorang yang kelak akan menjadi imamnya, seseorang yang jika bersama-sama surga yang diharapkan seakan lebih dekat dijangkau.
Sebelumnya Shanum pernah mengikat janji dengan seseorang dimasa kecil dan janji itu terus dipengangnya hingga kini. Ia berharap janji masa kecil akan terwujud ketika dewasa. Dapat dikatakan itu adalah cinta pertamanya, seseorang yang menghilang dan membawa beberapa persen cinta dari hatinya.
Di ruang keluarga, setelah menyelesaikan makan malamnya, Ummi Hasna memilih duduk santai sambil melanjutkan menikmati teh dan cemilan yang dibawa Shanum ke kamarnya tadi. Ia akan menghabiskan teh ini sebelum beristirahat.
Ding... dong... ding... (bunyi bel)
"Bi, tolong bukakan pintu, mungkin itu Oya yang pulang!" Titahnya pada Bi Ipah yang telah selesai membereskan meja makan mereka. Bi Ipah pun begegas membukakan pintu tersebut.
"Assalamu'alaikum. Eh, Mas Riqhad toh. Silakan masuk Mas!" Sapa Bi Ipah kepada sang pemencet bel beberapa saat yang lalu.
"Mama mana Bi?" Ucapnya seraya memasuki rumah.
"Nyonya ada, baru selesai makan malam dan sekarang ada di ruang keluarga Mas." Jawab Bi Ipah yang berada di belakang Riqhad.
"Bang, kalau salam orang itu dijawab dong." Sungut seseorang yang baru saja muncul di hadapan putranya. Ia melangkah dan menyambut sang anak ke dalam dekapannya.
Setelah berdehem, Riqhad pun menjawab salam dari Bi Ipah. 'Walaupun terlambat harus dijawab.' Batinnya. Mengenai menjawab salam ia jadi teringat dengan mahasiswinya yang terang-terangan memarahinya ketika dia tidak menjawab salam waktu itu. Tanpa sengaja ia tersenyum mengingat kejadian tersebut.
"Kamu kenapa senyum begitu? Ada yang lucu?" Tanya Mamanya yang heran melihat anaknya tersenyum tak jelas, tanpa alasan.
"Eh, bukan apa-apa kok Ma. Cuma senang aja ketemu Mama." Timpalnya.
Ya, meskipun bukan itu alasan utamanya namun ia tidak sepenuhnya berbohong, sebab ia begitu senang melihat wajah Mamanya yang selalu ia rindukan ini.
Ia tahu hati anaknya sudah mulai melembut, buktinya ia sudah sering datang ke rumah ini. Tidak seperti dulu, meskipun kebenaran belum dipercaya oleh sang anak, wanita paruh baya ini percaya lambat laun Riqhad akan mennerima semua yang telah terjadi di masa lalu. Tidak ada orangtua yang ingin anaknya terus hidup dalam perasaan kebencian, untuk itulah tak hentinya ia berdoa agar Allah membuka hati anaknya yang telah lama tertutup oleh kebencian itu.
Riqhad yang enggan menanggapi perkataan Mamanya itu pun langsung mengalihkan pembicaraan. "Oya mana Ma? Kok ngga kedengeran suara cemprengnya?"
Sambil mencomot satu per satu kue kering yang selalu tersedia di ruang keluarga ini, Riqhad menunggu jawaban dari Mamanya. "Kata Shanum, Oya keluar bareng Thoriq." Jawab Sang Mama yang ikut mencomot kue kering tersebut.
"Tumben pergi berdua aja. Kemana Ma?" Tanya Riqhad lagi.
"Katanya ke acara lamarannya Armadan. Bener ngga sih Bang? Masa Abangmu kalah sama si Ardan." Kata Mama Hasna yang seakan tidak rela Armadan laku terlebih dahulu dibanding putra tampannya.
Riqhad hanya mengangkan bahu acuh dan kembali menikmati kue di depannya.
"Aduh, kapan ya giliran anak Mama yang ngelamar anak orang? Kalau anak pertama belum nemu, anak kedua boleh lah duluan." Tambah Ummi Hasna lagi dengan semangat untuk menggoda anaknya.
"Kapan-kapan lah Ma, tanya dulu sama anak sulungmu itu. Boleh ngga Riqhad duluan. Nanti kalau Riqhad duluan dia malah ngga bisa laku-laku lagi." Ucap Riqhad yang berakhir dengan tawa lebarnya.
Memang dia sebelumnya memiliki niat untuk melamar kekasihnya Fhariza namun entah mengapa ia belum mantap sepenuhnya untuk mewujudkan hal tersebut karena dia sering mendengar hal-hal buruk mengenai Fhariza dari teman-temannya. Ia tidak ingin mengambil resiko untuk hidup selamanya dengan seseorang yang tidak baik. Jadi, dia akan berusaha meyakinkan dirinya dengan Fhariza sebelum melangkah terlalu jauh.
'Loe hanya terpaku sama Fhariza sehingga ngga bisa melihat keburukannya selama ini. Mana tahu jodoh loe adalah orang yang loe tutup mata akan kehadirannya karena terlalu fokos pada satu titik yang loe anggap satu-satunya yang terbaik.' Itulah ucapan yang disampaikan oleh sahabatnya yang sangat bijak.
'Kayaknya loe cuma merasa balas budi sama Fhariza sehingga loe berat untuk niggalin dia. Sebab ketika loe terpuruk dia dan keluarganya lah yang ada untuk loe.' Suara temannya kembali terngiang dipelupuk mata.
Malas untuk memikirkan sesuatu yang berat, Riqhad pun menggeledahkan pandangannya seolah mencari-cari sosok yang memang dicarinya dan menjadi alasan ia berada di sini selain merindukan Mamanya. Mama Hasnah yang menyadari itu pun tersenyum dan berkata, "nyari siapa Bang? Bi Ipah ya?"
Riqhad pun tertawa, tawa yang menyejukkan hati sosok yang telah melahirkannya ini. 'Apa dia udah tidur ya?' Batin Riqhada. Dan kembali menghempaskan punggungnya ke daging sofa di belakangnya.
__ADS_1
"Shanum belum tidur kok Nak, kalau yang kamu cari itu dia. Katanya mau mengerjakan tugas kampus, mungkin juga tugas dari Pak Dosen anaknya Mama ini." Jawab wanita paruh baya ini seakan bisa menerka pikiran dari putranya itu.
"Apaan sih Ma, siapa juga yang nyariin dia." Elak Riqhad kaku.
Beberapa saat kemudian Riqhad pun merasa kehausan dan berkata pada Mamanya untuk mengambil air di kulkas yang dibalas anggukan dari Sang Mama.
Pria gagah ini pun melangkah menuju kulkas dan matanya masih saja mencari-cari sosok mungil berhijab itu. Sampai di ruang makan, "aduh!" Ringis Riqhad karena kakinya terbentur kaki meja makan.
Bukannya ceroboh, hanya saja Riqhad sangat terkejut menjumpai sosok berdaster dengan kerudung simpel yang sedang berjongkok di samping kulkas.
Tak kalah terkejut dengan Pak Dosennya, Shanum pun langsung berdiri dengan menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggung. Ia perlahan-lahan memundurkan langkahnya. Riqhad yang menyaksikan itu ingin sekali tertawa karena ekspresi lucu keterkejutan dan kegugupaan dari sosok di depannya, lucu dan menggemaskan menurutnya.
Gadis itu pun kembali memundurkan langkahnya hingga punggungnya membentur tembok. Tak mampu lagi menahannya, kedutan dibibir Riqhad pun akhirnya membuahkan tawa yang amat kencang. Shanum yang mendengar tawa itu pun kesal dan menatap tajam anak pemilik rumah ini.
"Kamu ngapain malam-malam jongkok di samping kulkas? Emang kamu kucing, nyari tikus sampai ke sudut-sudut." Tuduh Riqhad dengan masih tertawa.
Shanum memutar matanya malas. "Ternyata dia bisa tertawa gitu? Mana kencang lagi. Nggak nyangka aku, kan biasanya di depanku dia cuma bisa ngeselian doang." Batin Shanum sambil melongo.
"Terus, apa yang kamu sembunyikan sehingga gugup begitu." Tuduh Riqhad lagi dengan ekspresi serius.
Ia pun melangkah mendekati Shanum setelah mengambil sesuatu yang diperlukannya dari dalam kulkas. Di bawah lampu ruang makan ini, Shanum terlihat seperti biasanya. Cantik.
Entah mengapa sejak mengenal Shanum ia menjadi suka memperhatikan sosok berhijab lebar itu. Bahkan setiap perempuan yang menutup aurat begitu cantik dan bermartabat menurutnya. Sepertinya otaknya terkontaminasi dengan gadis ini, gadis yang diawal pertemuan begitu dibencinya dan membuatnya kesal.
Belum sempat menjawab, sosok kecil yang disembunyikan Shanum dibalik pungungnya itu pun terlepas dan mengeong lemah.
Riqhad pun tercengang, sedangkan Shanum kembali berjongkok mengambil anak kucing yang dikiranya sangat kesakitan karena jatuh terlepas ke lantai dingin ini. kemudian ia mengarahkan mangkok kecil berisi susu yang tadi ditinggalkannya di samping kulkas ke arah kucing mungil ini.
'Oh My God! Kirain apaan.' Batin Riqhad memperhatikan kegiatan Shanum.
"Maaf Pak, tadi Shanum dengar anak kucing nangis di pinggir jalan tak jauh dari kampus. Ternyata Ibunya tertabrak mobil, kemudian setelah Shanum menguburkan jasad Ibunya. Anaknya Shanum bawa pulang, kan kasihan Pak." Terang Shanum yang pasrah jika Riqhad akan memarahinya karena membawa hewan ke rumah ini.
Sebab Shanum belum meminta izin pada Ummi Hasna jika ia memungut anak kucing di pinggir jalan. Rencananya ia akan membicarakan ini dengan Ummi Hasna esok hari, jika tidak diizinkan maka ia akan menitipkan anak kucing ini ke tempat penitipan hewan.
Maka, terjawablah rasa penasaran Pak Dosen sedari tadi. Kemudian, keduanya kini dipenuhi keheningan. Shanum masih mengawasi anak kucing yang menikmati susu kotak yang diberinya tersebut, sedangkan Riqhad malah memandangi Shanum entah dengan pikiran apa. Mereka berdua duduk berhadapan dengan jarak yang tidak terlalu jauh di kursi ruang makan tanpa terlibat perbincangan lagi.
"Bapak udah makan?" Tanya Shanum basa-basi tanpa mengalihkan tatapannya dari lantai.
Riqhad yang mendengar itu pun menimpali, "kamu ngomong sama saya atau sama si kucing?"
Entah mengapa mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Pak Dosen membuat telinga Shanum berdengung seakan terganggu. 'Kenapa dia selalu mengesalkan ya.' Batinnya.
Kemudian ia pun mengalihkan tatapannya pada pria di depannya. "Ya sama Bapak lah. Masa anak kucing yang imut ini Shanum panggilnya ‘Bapak.’" Sanggah Shanum diiringi tawa kecilnya namun ditelinga Riqhad malah terdengar begitu merdu.
Riqhad pun ikut tertawa kemudian berkata, "mana tau aja kan. Biasanya orang ngajak bicara itu pandangannya ke lawan bicara. Lah kamu tadi kan ngga lihat ke arah saya, malah ngeliatin si berbulu itu. Wajar dong saya memastikan."
'Bapak selalu menyebalkan. Tapi tumbenan auranya tenang gini.' Gumam Shanum yang masih bisa didengar Riqhad.
Tak.. tak.. (Bunyi langkah)
"Kirain apa si Abang lama banget ngambil air minumnya, eh ternyata ada alasan lain toh hingga betah lama-lama gitu." Mama Hasna muncul dan bersedekap dada sambil tertawa ringan melihat pemandangan di depannya.
"Apaan sih Ma. Nih, aku juga mau keluar kok." Hindar Riqhad cepat kemudian meninggalkan Ibu dan mahasiswinya plus si kucing yang tengah menyusu dalam mangkok.
__ADS_1