A

A
EMPAT PULUH EMPAT


__ADS_3

PART 44 - RINDU DAN OBATNYA


Surat Al-Muntahannah: 7


“Mudah-mudahan (Allah) menimbulkan rasa kasih sayang di antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maka Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”


_________________________________________


"Di mana pria itu?"


Deg


Sebuah suara menghentikan kunyahan kecil Shanum. Tubuhnya bergetar namun tak berani melihat ke sumber suara itu.


"Azhar! Keluar loe!" Tanpa sadar Riqhad berteriak hingga mengejutkan pelanggan cafe lainnya. Untung saja hanya beberapa meja yang terisi hingga Riqhad tak akan terlalu malu menjadi pusat perhatian begini.


"Assalamu'alaikum, Bro. Beginikah sapaan rindumu?" Jawab Azhar dari belakang Riqhad.


Azhar pun menangkup kedua tangan di depan dada seolah meminta maaf kepada penghuni cafe lain atas ketidaknyamanan ini dan atas sedikit aksi dramatis Riqhad.


Riqhad memutar tubuhnya menghadap Azhar, ia tak menjawab salam dari pria itu. Namun, Riqhad memandanginya tajam seolah Azhar telah melakukan sebuah kesalahan besar tak termaafkan.


Azhar kembali melangkah hingga melewati Riqhad dan kembali duduk di posisi semula. Ia tersenyum kecil melihat ketegangan dari Shanum. Wanita di sampingnya ini masih saja betah menunduk dengan risih.


Riqhad menyaksikan pemandangan di depannya menjadi semakin panas saja. Setelah Roni melaporkan kegiatan Shanum padanya, kemudian Roni menyampaikan lagi bahwa Shanum sedang berada di cafe bersama seorang pria yang bernama Azhar, Riqhad menjadi emosi hingga langsung menuju ke mari tanpa pikir panjang. Baru dua hari mereka berjarak tapi Shanum sudah bisa berduaan dengan pria lain?


Apa-apaan Azhar, bukankah telah menikahi sepupunya dan mereka tinggal di Singapora sampai pekerjaan Azhar di sana selesai. Lalu, mengapa sekarang Azhar bisa berada di Indonesia? Terlebih lagi menemui istrinya di cafe dan hanya berdua saja. Riqhad sangat marah. Apalagi semenjak mengetahui kenyataan bahwa Shanum pernah dilamar oleh sahabatnya ini.


Kemudian perhatian Riqhad mengarah pada dua piring menu lainnya tak jauh dari Shanum yang telah habis tak bersisa. Selahap inikah Shanum makan selama tak bersamanya? Sedangkan Riqhad sangat susah mengisi perutnya sendiri, susah tidur karena memikirkan istri dan calon buah hatinya terlebih lagi menyelesaikan masalah kantor beserta kasus foto kecil Shanum itu.


Tanpa mengindahkan ucapan Azhar sebelumnya, Riqhad kembali bersuara garang. "Sedang apa kalian berdua di sini?"


"Tentu saja seperti yang terlihat. Makan." Jawab Azhar santai sambil melanjutkan makannya seolah tak menghiraukan keberadaan Riqhad.


Riqhad semakin mendekati meja Azhar dan Shanum. "Ck, di mana istri loe? Mengapa hanya kalian berdua?"


"Gue nggak lagi bersamanya. Gue sekarang sendiri dan dia telah berdua." Jawab Azhar serius.


Riqhad semakin marah mendengar jawaban Azhar. Ia mengepalkan tangannya. "Ho, lalu kenapa loe bersama Shanum... dia istri gue! Loe ngga lupa kan?"


Shanum kesusahan meski hanya untuk bernafas. Aura di depannya sangat panas dan ia menjadi sangat tegang. Ia sungguh merindui Riqhad tapi ia tak berani meski untuk memandanginya.


Azhar berusaha menahan denyutan di sudut bibirnya. Ternyata seru sekali memancing amarah seorang Riqhad. Oke, Azhar harus berusaha menahan tawanya. Sebentar lagi.


"Karena, dia cantik. Apalagi gue dengar kalian sebentar lagi berpisah? Kasihan melihatnya sendirian." Jawab Azhar dengan wajah sedatar mungkin.


Riqhad menggebrakkan meja tersebut hingga membuat pandangan Shanum terangkat ke arahnya.


Deg


Pandangan keduanya bertemu namun secepat kilat Shanum memutuskannya.


Riqhad menghela nafas, sesak dadanya melihat Shanum tak ingin memandanginya seperti ini.


"Kau telah bercerai dengan Sarah! Kurang hajar kau Azhar!  Keturuanan Timur Tengah brengsek!" Teriak Riqhad dengan menyumpah.


Cafe tiba-tiba menjadi sunyi.


Tukk


"Enak aja nyumpahin suami aku! Nyinggung masalah keturunan, lihat aja nanti hasilnya gimana! Ngatain kita mau cerai lagi!" Sosok lainnya pun muncul di belakang Riqhad.


Riqhad meringis akibat pukulan dari wanita itu. Dengan masih mengelus pundaknya, Riqhad memutar tubuh hingga berhadapan langsung dengan wanita berkerudung lainnya.


"Sarah!" Ucap Riqhad kaget.


Azhar pun berdiri menhampiri istrinya. Melewati Riqhad lagi hingga merangkul Sarah dan membawanya duduk di kursi samping Shanum. Sarah tersenyum manis atas perlakukan suaminya itu. Meski awal pernikahan mereka sangat tidak mengenakkan di hati Sarah namun seiring berjalannya waktu dapat merubah segalanya. Sarah yang awalnya benci dijodohkan dengan Azhar kini malah menggilai suaminya ini.


Kemudian, Sarah menatap Riqhad dengan kesal, tak berapa lama setelahnya ia merubah ekspresinya menjadi tersenyum ke arah Shanum yang masih duduk dengan kaku.


"Apa maksudnya ini? Bukannya loe sekarang sendiri?" Tanya Riqhad dengan bingung.


Sarah tak menghiraukan ucapan Riqhad, ia malah tertarik menyicipi makanan di piring suaminya yang hampir habis, entah mengapa terlihat sangat menggiurkan.


Azhar tersenyum dan mengelus lembut kerudung sang istri. Sarah memang telah mantap berkerudung semenjak pindah ke Singapora dan semenjak ia menyadari bahwa Azhar adalah imam terbaik dan pria paling layak yang diberikan Allah untuknya.


"Iya. Gue sendiri dan Sarah berdua, dengan calon buah cinta kami di rahimnya, tentu saja. Loe sih, mikirnya lain. Yang jelek-jelek pula." Jawab Azhar sambil mengelus perut datar sang istri.


Kandungan Sarah sekarang berjalan 3 minggu sebab pengakraban mereka terjalin sangat lamban tak seperti Riqhad dan Shanum. Ia menahan geli ketika melihat ekspresi Riqhad atas perkataannya barusan.

__ADS_1


Riqhad melebarkan pupil matanya. Kemudian dengan kaku, ia menunjuk dua piring kosong di meja. "Ini, siapa yang makan?" Tanyanya dengan menahan rasa malu seraya mengalihkan pembicaraan.


"Asal loe tahu, Shanum ngga nafsu makan dari tadi... mana mungkin dia ngabisin dua porsi gitu. Tadi aja dimuntahin." Terang Azhar prihatin.


Belum sempat kembali bertanya, tiga orang lainnya pun berjalan ke arah mereka.


"Itu makanan kita, Pak! Kita ditraktir Dosen baru, penggantinya Bapak." Jawab Naina sambil tersenyum.


Mereka ikut bergabung, namun pria dengan setelan hitam lengkap dengan kacamata hitam yang masuk bersama kedua sahabat Shanum itu hanya diam dan menunduk takut sebab ia telah membohongi bosnya atas perintah dari Azhar.


Roni yang sedang mengikuti Shanum itu ketahuan oleh Azhar hingga berakhir dengan rencana dadakan ini. Naina dan Devia pun ikut menyetujui perintah Azhar, demi kebaikan keduanya.


"J-jadi, tadi itu bohong?" Riqhad berkata dengan sedikit gagu.


Azhar tersenyum sambil mengangguk. Kemudian ia mengambil sehelai tissue untuk membantu membersihkan bibir istrinya yang belepotan akibat menghabiskan makanan di piringnya.


Sarah yang telah menghabiskan porsi milik suaminya itu pun kembali berulah. "Yang, aku mau sop buah lagi dong. Tapi yang dijual di taman dekat Mall." Pintanya dengan manja.


Azhar pun mengangguk mengikuti ngidam Sarah. "Ayo kita ke sana. Shanum... maaf sudah membuat tegang begini ya. Kita pamit dulu, lain kali kita ngobrol lagi." Pamit Azhar.


Sarah pun memeluk dan menciumi Shanum seraya berkata. "Kamu yang sabar ya Kakak Ipar, apalagi punya suami kayak Bang Riqhad. Semoga masalah kalian cepat selesai, aku pamit dulu. Lain kali kita ketemu dan ngobrol lagi ya. Aku dan suami udah pindah ke sini kok."


Shanum tersenyum lembut, "iya Sarah, senang sekali bisa bertemu lagi. Selamat ya untuk kehamilanmu."


"Iya, sama-sama. Selamat juga untuk kehamilan Kakak. Setelah ini kita bisa sharing tentang kehamilan kita ya. Tapi untuk sekarang lebih baik kamu ngobrol dulu dengan suamimu ini. Enak aja jauhin istri gitu. Pake acara nyuruh orang nguntit lagi, nggak gentle tahu." Ucap Sarah seraya memandangi Riqhad dengan pandangan usil.


"Kalian! Benar-benar deh." Geram Riqhad. Kemudian pandangannya mengarah pada Roni dan kedua sahabat Shanum.


"Ron, nanti temui saya! Kamu harus dihukum!"


"Siap Bos!" Jawab Roni dengan sedikit grogi.


"Naina dan Devia! Kalian sudah berani ya! Nggak takut lagi sama saya, mentang-mentang sekarang saya bukan lagi dosen kalian." Geram Riqhad.


Mereka semua hanya menyengir dan serentak meninggalkan Riqhad dan Shanum setelah mengucapkan salam.


Tapa diduga, cafe pun telah di booking secara mendadak demi mempertemukan Riqhad dan Shanum ini. Kurang baik apa lagi mereka.


Beralih ke pasangan suami istri yang sudah dua hari tak bertemu. Shanum memandangi sisi lain yang penting bukan wajah suaminya. Sedangkan Riqhad malah sebaliknya. Memandangi dalam sosok yang begitu ia rindukan, mengetahui Shanum sedang bersama Azhar memancing kecemburuan Riqhad.


Ehem...


Riqhad berdehem menghilangkan kecanggungan diantara mereka. Shanum berusaha keras agar tak menoleh ke arah Riqhad.


Shanum bergetar mendengar suara yang ia rindukan, terlebih lagi panggilan sayang dari sang suami.


"Abang tahu, Shanum rindu sama Abang." Tambahnya.


Ucapan Riqhad entah mengapa memancing sisi cengeng pada diri Shanum. Matanya berkaca-kaca hingga perlahan dengan berani mengarahkan pandangannya ke arah Riqhad.


"Abang juga rindu sama Shanum, pake banget malah." Riqhad tersenyum sambil memandangi dalam sosok istrinya.


Shanum menelusuri lekuk wajah Riqhad sejenak. Kemudiam, tanpa menjawab pertanyaan Riqhad ia kembali menunduk. Ia teringat saat Riqhad tak mencegahnya pergi, bahkan berkata sepatah kata pun tidak. Hal itu mengiris perasaannya.


"Shanum, lihat Abang." Pinta Riqhad sambil mendekati istrinya. Ia melihat kesedihan dari wajah istrinya.


Riqhad tahu mengapa Shanum bisa bersikap begitu, tapi Riqhad sungguh bukan bermaksud begitu. Meski ia tak mencegah Shanum pergi, tapi ia selalu menjaga Shanum dari kejauhan yang dibantu oleh orang kepercayaannya, Roni.


Meski Shanum menawarinya untuk mendengar penjelasan dari kejadian di masa lalunya saat Zoeya menekan Shanum sebelum mengusirnya. Riqhad bukannya enggan dan tak mau percaya pada istrinya. Riqhad malah tak menyalahkan istrinya sedikit pun, ia hanya ingin memastikan kebenaran tanpa mendengar dari pihak mana pun. Dan hasilnya sesuai yang ia harapkan, Shanum dan papanya hanya dijebak hingga kebenaran sudah terungkap.


"Abang, bolehkah Shanum minta sesuatu?" Lirih Shanum dengan masih menunduk kaku.


Riqhad mengerutkan alisnya berusaha menebak apa yang diinginkan oleh istrinya ini. Mengenyahkan pikiran buruk dari otaknya, Riqhad kembali bersuara.


"Kamu mau apa dari Abang? Insya'Allah kalu baik akan Abang turutin." Jawab Riqhad penasaran.


Dengan mengangkat pandangannya ke arah Riqhad, Shanum berkata.


"Shanum mau minta Abang untuk ...."


***


"Bang Aufar mau ngomongin apa lagi? Mau nyalahin Oya juga kayak Mama dan Abangnya Oya?" Ucap Zoeya pada Aufar.


Setelah selesai urusan kuliah hari ini, Aufar terus saja mengikuti Zoeya hingga berhasil memboikot Zoeya di cafe ini. Tepatnya cafe milik Aufar sendiri. Meski terlihat badung, ternyata Aufar diam-diam telah memulai bisnis sendiri dari nol dengan modal awalnya ia dapatkan dari Gilan. Makanya, jika berurusan dengan Gilan ia tidak memiliki hak untuk membantah. Seperti ketika ia tak ingin melanjutkan lagi perkuliahannya.


Ketika Gilan telah menunjukkan taringnya, Aufar pun menciut dan mengangguk mengikuti perintah sepupunya itu. Ia tak ingin dicap sebagai seseorang yang tidak tahu terimakasih. Sebenarnya kuliah bukanlah kemauan Aufar, tetapi paksaan kedua orang tuanya. Ia ingin langsung terjun bekerja, terserah bekerja apa yang penting tidak menghabiskan waktu untuk belajar di kampus. Hingga ia membangkang pada orang tuanya dan memilih tinggal bersama Gilan sang malaikat penyelamat yang sangat memahami Aufar.


"Nggak gitu Ya. Aku cuma nggak mau melihat kamu sedih terus kayak gini. Kalau memang merasa bersalah, kenapa nggak minta maaf aja langsung sama Shanum." Aufar menasehati Zoeya yang memang sangat keras kepala.

__ADS_1


"Oya nggak berani Bang. Buat ketemu Bang Riqhad aja Oya malu. Oya udah keterlaluan ngusir Shanum dihadapan Bang Riqhad, pasti Bang Riqhad benci banget sama Oya, buktinya dia nggak pernah ke rumah lagi sejak Shanum pergi." Jawab Zoeya.


Zoeya pun menyanderkan wajahnya di meja, ia sedang dilema masalah Riqhad dan Shanum. Setelah mendengar kebenaran dari Mama dan Bang Thoriq rasa bersalah Zoeya kian mencuak hingga di kepalanya tidak ada pikiran lain selain rasa bersalah pada pasangan itu. Terlebih mengetahui Shanum yang sedang mengandung, betapa teganya Zoeya mengusir Shanum tanpa belas kasihan. Untung saja Mamanya menempatkan Bi Cici bersama Shanum.


Zoeya semakin benci pada orang yang jahat pada keluarganya, ia tak menyangka ayah dari mantan pacar abangnya itu ternyata picik sekali. Ingin rasanya Zoeya menemui orang itu dan memakinya habis-habisan, namun kata Thoriq mereka hanya perlu menunggu klarifikasi dan permintaan maaf secara resmi dari orang itu.


Arrrg, apa-apaan itu... orang aja bisa jahatin keluarga Oya, masa Oya ngga boleh. Batin Zoeya kesal.


"Oya, lebih baik kita meminta maaf terlebih dahulu. Entah dimaafkan atau tidak. Aku yakin, Shanum juga sama kayak Oya. Dia juga merasa bersalah, jadi ngga apa-apa Oya yang ngomong duluan. Aku pernah baca sebuah hadis dari dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajarkan umatnya untuk saling memaafkan kepada sesama. Sementara Allah subhanahu wa ta’ala dalam firmanNya,


“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah : 263).


"Baik orang yang mau meminta maaf ataupun yang memberi maaf mereka adalah gambaran dari orang-orang yang bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala jika perbuatan tersebut semata-mata untuk mencari Ridho Allah." Ucap Aufar bijak berusaha membujuk dan menghibur perempuan di depannya ini.


Zoeya menghela nafas, menghabiskan salad buah yang dipesankan oleh Aufar untuknya. Setelah mengunyah cepat, ia pun menimpali ucapan Aufar sebelumnya, "iya Bang, tapi Oya udah jahat banget kan sama kakak ipar Oya sendiri. Setelah Bang Thoriq jelasin ke Oya, Oya jadi ngerti gimana sedihnya jadi Shanum."


"Untuk itulah, ayok aku temenin kamu ngomong ke Shanum. Dia orangnya pemaaf kok." Aufar tersenyum dan kembali menyeruput single origin coffee berasal dari kopi Kerinci terbaik.


"Beneran Bang? Abang yakin Shanum bakal maafin Oya dan mau balik lagi ke rumah setelah Oya usir?" Zoeya memastikan dengan antusias. Akhir-akhir ini hubungannya dengan Aufar kian membaik dan semakin akrab, hingga ia mulai bisa melupakan teman-teman fakenya itu.


"Iya, insya'Allah. Lagian, kasihan tahu calon keponakannya kita kalau dia jauh dari bapaknya." Timpal Aufar dengan santainya.


"Keponakan kita?" Oya kaget dan tak percaya dengan pernyataan Aufar itu, ia pun memutar matanya malas.


"Kan Abang calonnya Oya. Jadi, keponakan Oya jadi keponakan Abang juga. Kan, aku dan kamu akan segera menjadi kita."


***


"Qhad, kamu ngapain di rumah Abang? Pulang sana!" Usir Thoriq yang terganggu dengan ulah Riqhad. Thoriq yang hanya pulang sebentar berniat mengantarkan makanan untuk Shanum dan Bi Cici terlihat kaget melihat keberadaan Adiknya di rumahnya ini.


"Bang, ngertiin Riqhad dikit lah. Bantuin aku bujuk Shanum dong, masa nggak mau lihat aku lama-lama. Aku kan rindu." Ucap Riqhad memelas.


Riqhad kesal, sebab setelah mengikuti permintaan Shanum saat di cafe. Shanum berubah mengacuhkannya, menghindarinya dan memintanya menjaga jarak. Saat di mobil pun Shanum merengek ingin duduk di bangku belakang. Dengan terpaksa dan kesal Riqhad mengikuti keinginan istrinya ini.


Kata Shanum, berdekatan dengan Riqhad membuatnya eneg dan rasanya sangat mual karena tidak menyukai wangi farfum dari Riqhad, padahal farfum yang digunakan Riqhad ini adalah pilihan dari Shanum sendiri.


Flashback


"Abang, bolehkah Shanum minta sesuatu?" Lirih Shanum dengan masih menunduk kaku. Riqhad mengerutkan alisnya berusaha menebak apa yang diinginkan oleh istrinya ini.


Mengenyahkan pikiran buruk dari otaknya, Riqhad kembali bersuara. "Kamu mau apa dari Abang? Insya'Allah kalau baik akan Abang turutin." Jawab Riqhad.


Dengan mengangkat pandangannya ke arah Riqhad, Shanum berkata.


"Shanum mau minta Abang untuk peluk Shanum yang lama dikit. Boleh?" Pinta Shanum dengan malu-malu, terlihat rona kemerahan diwajahnya. Pemandangan yang sangat disukai oleh Riqhad.


Riqhad pun semakin mendekat ke arah istrinya dengan perasaan senang, ditawari pelukan dari orang yang dirindukan siapa yang bisa menolak coba. Melihat gerakan Riqhad dengan spontan Shanum berdiri dan memindahkan tubuhnya dari kungkungan meja cafe.


Tanpa membuang waktu Riqhad langsung merengkuhnya dan semakin mengeratkan pelukan mereka. Gemuruh didadanya tak bisa tertahan lagi, benar kata orang kalau rindu obatnya adalah bertemu. Ini buktinya, kerinduan Riqhad perlahan terobati oleh Shanum. Shanum adalah rindu sekaligus obatnya.


"Abang rindu banget tahu." Ucap Riqhad dengan suara sedikit parau disela kerudung istrinya.


Shanum mengangguk menyetujui ucapan Riqhad, ia terharu dan semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya, menghirup lamat-lamat wangi yang paling ia sukai. Ternyata Riqhad selalu menggunakan farfum yang ia pilih sejak hari mereka membelinya. Shanum semakin sayang saja pada calon ayah anaknya ini.


Meski cafe telah dibooking oleh Azhar untuk mempertemukan pasangan ini, tetapi tak berarti cafe menjadi kosong. Beberapa pegawai cafe pun menyaksikan tingkah mereka bak drama ini dengan malu dan ikut terlarut dalam perasaan bahagia.


Beberapa saat menguapkan perasaan rindu, tiba-tiba saja Shanum mengernyit dan berusaha melepaskan dirinya dari pelukan erat Riqhad. Riqhad kaget namun perlahan merenggangkan pelukan mereka.


"Sayang, kok dilepasin? Katanya mau peluk yang lama dikit!" Ucap Riqhad tidak terima.


"Kamu kenapa, Shan?" Ucap Riqhad lagi dengan khawatir setelah mencermati ekspresi Shanum.


Shanum pun berlari menuju toilet cafe dengan tergesa-gesa. Dengan cemas Riqhad mengikuti Shanum dari belakang. Ia membantu Shanum memuntahkan cairan bening di wastafel, mengelus pelan punggung sang istri dan berusaha menenangkannya.


Setelah agak mendingan, Shanum menatap lemah ke arah Riqhad.


"Bang, Abang bau banget. Jangan dekat-dekat dengan Shanum ya, Shanum mual cium bau badan Abang." Pintanya.


Riqhad pun hanya melongo mendengar permintaan istrinya ini. Dengan gerakan pelan, ia berusaha memastikan perkataan istrinya. 'Bau? Tidak kok.' Batinnya.


Kemudian, mereka berdua pun meninggalkan cafe dengan perasaan canggung. Shanum yang menghindari Riqhad dengan perasaan tidak enak karena ia tahu perkataannya tadi sedikit banyak akan menyinggung suaminya. Riqhad pun hanya diam melopong menuju mobilnya dengan berbagai pikiran di otaknya, dikatai bau oleh sang istri bahkan setelah ia cek sendiri tak ada sedikit pun unsur bau di badannya.


Ia menuntun Shanum memasuki mobilnya tapi Shanum menolak dan meminta duduk di kursi belakang dengan alasan yang masih sama. Mual mencium aroma di badan Riqhad? Riqhad geram dan dengan terpaksa mengemudi mobil dengan bangku samping yang kosong.


Suasana di mobil menjadi hening sampai mereka memasuki pekarangan rumah Thoriq. Rencananya, Riqhad akan membahas masalah mereka setelah membersihkan badannya yang dibilang bau oleh Shanum. Hingga Riqhad  menumpang mandi di salah satu kamar di rumah abangnya ini.


Flashback Off


"Kamu kurang ilmu kesuamian dan kebapakan sih Qhad. Shanum kayak gitu bawaan dari anak kamu. Lebih baik kamu ganti farfum deh." Jawab Thoriq setelah mendengar keluhan dari Riqhad.

__ADS_1


"Abang bau yang sabar ya... haha." Tambah Thoriq lagi sambil tertawa kencang mengejek adiknya.


Syukurin, ini nih akibat pergi seenaknya dan meninggalkan pekerjaan yang menumpuk saat urusan kantor lagi sibuk-sibuknya. Ledek Thoriq sambil meninggalkan Adiknya yang terlihat kesal sendiri.


__ADS_2