A

A
EXTRA PART SATU


__ADS_3

Dan orang orang yang berkata :


“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.


(Qs.Al-Furqon : 74)


________________________________________


Dikutip dari Agustin Hanafi :


ANAK merupakan anugerah Allah Swt dan perhiasan hidup. Oleh sebab itu, secara naluri setiap manusia mendambakan kehadiran seorang anak, dan merasa belum sempurna hidupnya jika belum memiliki anak. Bagi orang tua yang memiliki anak, banyak dari mereka yang begitu bahagia akan kehadirannya. Mereka bangga akan prestasi anaknya, entah itu mendapat rangking terbaik di sekolah, juara dalam sebuah perlombaan, sukses meraih gelar akademik, menduduki sebuah jabatan, dan lain-lain.


Namun sebaliknya, tidak sedikit pula orang tua, yang harus mengalami masa sulit akibat ulah dan perilaku si anak yang tidak sesuai harapan dan keinginan orang tua. Hal tersebut tidak jarang mengakibatkan depresi dan kesehatan yang buruk, misalnya saja si anak terjebak kasus narkoba, pergaulan bebas, jauh dari nilai-nilai dan tuntunan agama serta hal lainnya yang membuat hati orang tuanya miris dan kecewa.


Untuk itu, Alquran mengingatkan bahwa anak dan harta merupakan cobaan, maka jangan sampai menyebabkan kelalaian kepada Allah Swt, sebagaimana firman-Nya,


"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi."


(QS. al-Munafiqun: 9).


Dalam ayat lain Allah berfirman,


"Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang sabar."


(QS. al-Anfal: 28).


Shanum memandang lembut sang titipan Allah dipangkuannya. Semoga mereka amanah dan tidak lalai dalam mendidik hingga membesarkan putrinya ini. Sejak kehadiran Khalilla ditengah mereka, tak dipungkiri Riqhad dan Shanum semakin bahagia dibuatnya. Khalilla hadir melengkapi keluarga kecil mereka.


Memandang wajah mungilnya membuat kelegaan tak terperi didada, menyentuh kulit halusnya menghantarkan kehangatan jiwa, mencium wangi ditubuhnya membuat kebahagiaan semakin menyusup di relung qalbu, suara tangisnya membangkitkan rasa ingin selalu melindungi dan mengasihi setulus hati. Terlebih lagi putri kecil yang diberi nama Khalillah Arresha Okhtara ini sudah bisa tertawa kecil dan berguling-guling, lucu sekali.


Tahap demi tahap pertumbuhan Khalilla sangat ditunggu-tunggu oleh kedua orang tuanya, entah kejadian menakjubkan apa lagi selanjutnya sebab menurut mereka setiap kemampuan baru yang diperlihatkan Khalilla adalah hal terindah. Mengawal tumbuh kembang si buah hati, tak ada hal lain yang lebih diinginkan oleh mereka sekarang ini selain hal tersebut.


Wanita cantik pemilik nama lengkap Elshanum Shaquena ini telah mengikuti perintah suaminya untuk bercuti dari aktivitas perkuliahan selama satu tahun atau dua semester. Meski resikonya ditinggalkan sahabat-shabatnya yang kelak akan mendahuluinya wisuda, tapi tak mengapa. Dengan senang hati mahasiswi bergelar Ummi Khalilla ini tetap mengikuti perkataan suami tercintanya.


Lihatlah, ini adalah keseharian baru Shanum semenjak kelahiran Khalilla. Sudah hampir satu bulan Shanum dan Riqhad kembali kerumah mereka karena sebelumnya mereka ditawan di rumah keluarga Riqhad.


Karena tak ingin menyusahkan Mama Hasna terlalu lama, Shanum dan Riqhad pun kembali ke rumah mereka. Hingga dengan berat hati Mama Hasna pun harus merelakan anak menantunya memboyong cucu kesayangannya ke istana mereka sendiri. Meski begitu, jarak bukanlah halangan untuk melepas rindu pada Khalilla. Hampir tiap hari rumah Riqhad dan Shanum ini selalu ramai dengan kedatangan keluarga maupun sahabat dan rekan dari keduanya.


Tak terasa sudah empat bulan Khalilla hadir ke bumi Allah, baru kemarin rasanya ia mengandung dan berjuang melahirkan putri mungilnya. Shanum tersenyum haru, dibenaknya terlintas ucapan Riqhad lengkap dengan wajah khawatir dan kecemasannya saat menemani Shanum melahirkan Khalilla waktu itu.


"Sayang, kamu itu pendampingnya Abang dan begitu pun sebaliknya, Abang adalah pendamping kamu dalam belbagai hal. Abang akan mendampingimu bernafas, memasak, terlelap, terjaga dan sekarang adalah waktunya Abang mendampingimu melahirkan. Mendampingimu berjuang menghadirkan bocah lucu ditengah kita. Humairahnya Abang, genggamlah tangan Abang jika itu bisa menguatkanmu karena Abang tidak bisa membantu mengurangi rasa sakitmu... jika belum cukup, kamu boleh banget cakar-cakar Abang ataupun gigit."


Shanum terkekeh mendengar ujung dari perkataan Riqhad kala itu. Ada-ada saja Riqhad, tak kenal tempat mampu menenangkan dan menghiburnya. Sosok suami idaman yang sangat Shanum syukuri kehadirannya.


Dipangkuannya, terdengar decakan mungil yang kadang keras dan kadang melemah. Sekarang, Shanum tengah menyusui Khalilla yang sedari tadi asyik bermain dengan Ratu, Ratu begitu gencar membuat adik kecilnya tertawa hingga menarik-narik apa yang diperlihatkan Ratu di depan matanya. Ratu memang dititipkan di rumah mereka sejak satu jam yang lalu saat pulang dari sekolah. Ratu merengek ingin bermain dengan Khalilla hingga Mommy dan Daddynya harus mengantarnya ke sini lalu pamit untuk melakukan aktivitas masing-masing. Fhariza kembali ke kampus dan Gilan ke kantor.


Shanum tak bisa melepaskan Khalilla dari pengawasannya hingga pekerjaan rumah lainnya sering terabaikan. Tapi, untung saja sejak kembali dari rumah Mama Hasna, Bi Ipah diikutsertakan bersama mereka hingga urusan rumah tangga terkontrol dengan baik sebab Shanum tak lagi seluang ketika hanya berdua dengan Riqhad.


"Nte, kok mata dedeknya masih melek sih? Kata tante dedek mau bobok tadi." Ucap Ratu yang berada di samping Shanum. Mereka bertiga berada di sofa ruang tengah dengan Ratu yang sedang menonton televisi yang menampilkan anak-anak sholeh dan sholehah yang melafalkan hafalan Al Qur'an mereka. MaasyaAllah.


"Iya, kak Ratu. Dedeknya belum mau bobok deh kayaknya."


"Lagi haus banget ya, Nak." Shanum memandangi Khalilla sambil memindahkan posisi si mungil dipangkuannya.


Setelah berubah posisi, Khalilla pun kembali melanjutkan aktivitasnya yaitu menyesap sumber kehidupannya. Ratu mengangguk paham mendengar ucapan tantenya.


Sebelum mengalihkan pandangannya ke arah televisi, putri dari pasangan Gilan dan Fhariza ini pun sempat berceloteh polos. "Ih, dedek haus terus. Dari tadi mimik aja ngga berhenti. Kan, mainnya jadi bentar doang." Shanum pun terkekeh mendengarnya dan kemudian kembali memperhatikan putri mungilnya dengan sayang.


"Umminya Lilla makan dulu ya? Dari pagi kan belum makan. Itu, udah Ibuk siapin makanannya." Bi Ipah muncul dengan piring ditangan kanannya dan botol air minum di tangan satunya lagi. Itu bukan untuk Shanum melainkan untuk Ratu sebab Shanum tidak pernah mau makan di ruangan lain selain ruang makan. 'Untuk apa diciptakan ruang makan kalau makan bisa dimana saja.' Pikirnya.


"Nanti aja, Buk. Lilla masih nyusu nih. Nanggung, biar dia tidur dulu baru Shanum makan." Jawab Shanum.


Bi Ipah mengangguk dan menyerahkan piring yang berisi sereal untuk Ratu. Ratu dengan riang menerima piring itu dan perlahan mulai menikmatinya dengan mata yang masih berfokus ke arah televisi yang kini telah berganti program.


"Jangan biasakan menunda waktu makan, Ummi. Karena Ummi juga perlu tenaga untuk mentransfernya ke putri kita." Ucap sumber suara lain yang baru saja hadir di ruangan ini. Sosok itu berdiri gagah di samping televisi yang menempel di dinding ruangan.


"Ini lagi satu. Ratu kalau makan fokus ke makanannya dong, jangan sambil liatin televisi. Nanti, makanannya nangis loh karena dicuekin Ratu." Tambahnya lagi.


Ratu tertawa riang ketika mendengar makanannya bisa nangis, untuk itu ia pun mengangguk paham dan melanjutkan acara makannya tanpa memandang ke arah televisi.


Riqhad tersenyum lembut dan beralih mendekat ke arah Shanum lalu menyapanya lembut, "assalamu'alaikum, Jannah."

__ADS_1


Shanum tidak bisa menyembunyikan senyuman diwajahnya. Riqhad sering menggonta-ganti panggilan sayang untuknya, kesemua panggilan tersebut bisa membuat kadar kebahagiaannya meningkat.


Cup


Cup


Dua kecupan sayang melayang ke arah dua surganya, Bi Ipah tersenyum menyaksikan keharmonisan pasangan muda ini. Semoga mereka bisa selalu sabar dalam mengarungi biduk rumah tangga yang tak selalu berjalan mulus, kadang bisa terjal ataupun berkerikil.


Tapi, Bi Ipah yakin jika keduanya mampu melewati apapun rintangan yang mungkin akan mencoba melintang ke arah mereka sebab ia sangat mengenal anak majikannya yang satu ini, kesetiaannya jangan ditanya lagi, sekali Shanum ya selamanya akan Shanum.


Begitupun Shanum, pengantar cahaya yang menuntun Riqhad kembali ke rute kehidupan yang seharusnya ini insya'Allah mampu meredam ataupun menyejukkan kehidupan rumah tangga mereka yang berlandaskan cinta kepada Sang Maha Cinta. Tanpa pacaran ataupun hal semacam, cinta pun hadir ketika kata halal tersematkan untuk hubungan keduanya. Maha Besar Allah Sang pemilik Asmaul Husna.


Perlahan, Bi Ipah pun pamit menuju dapur bergegas untuk menyiapkan tambahan makanan untuk Riqhad. Mungkin Riqhad pulang lebih awal karena ingin makan siang bersama istrinya, hal yang sudah beberapa bulan ini dilihatnya.


"Wa'alaikumussalam, Abi. Kok jam segini udah pulang aja sih? Waktu makan siang aja masih satu jam lagi. Abi bolos ya?" Ucap Shanum setelah menyalami Riqhad.


Riqhad terkekah sambil merapatkan tubuhnya disamping Shanum sambil mengganggu Lilla yang belum mau berhenti menyusu itu. "Kangen kalian," jawab Riqhad kemudian ingin mengambil alih Lilla saat putrinya itu menghentikan aktivitasnya sesaat dan beralih memandangi wajahnya.


"Mimiknya udahan ya, Nak. Giliran Ummi lagi yang isi bahan bakar, Lillanya main sama Abi dulu. Oke!" Ucap Riqhad dengan wajah cerah. Meski tak paham ucapan sang Abi, si kecil yang akrab dipanggil Lilla itu hanya menurut sambil bergumam seolah mengikuti ucapan Riqhad.


Shanum pun tersenyum dan merapikan pakaiannya sebelum mengecup pipi Riqhad dengan cepat kemudian menyingkir mengikuti Bi Ipah ke arah dapur.


"Titip Lilla bentar ya, Bi. Ummi makan dulu." Teriaknya yang terdengar sayup-sayup dari arah pintu dapur sana.


Riqhad terkekeh menyaksikan tingkah mahasiswi bergelar Ummi Lilla itu. Masih saja menggemaskan seperti awal-awal pendekatan mereka, malahan sekarang Shanum yang gantian lebih usil.


"Lihat tuh Umminya Lilla, genitin Abi mulu. Kan Abi jadi pengen di rumah terus sama kalian." Gumam Riqhad sambil mengecup sisi wajah putrinya dengan gemas. Hal yang begitu ia sukai akhir-akhir ini.


Pria yang masih mengenakkan setelan kerja tanpa jas itu pun menimang-nimang Lilla yang kali ini tidak rewel, mungkin karena timur tengahnya telah aman dan damai alias kenyang sehabis menyusu tadi.


"Ih, Om. Gantian dong, Ratu kan juga mau cium dedek." Ucap Ratu seolah merajuk, ia telah menghabiskan serealnya dan program televisi yang ia favoritkan telah habis tayang.


"Cuci tangan dan mulut dulu, baru Om kasih." Tolak Riqhad dengan nada memberi pengertian. Ia memperhatikan tangan dan wajah Ratu yang belepotan.


"Huh, mentang-mentang udah ada dedek Ratu sering dicuekin, tapi nggak apa-apa deh. Dedeknya lucu, jadi Ratu nggak marah. Tunggu kakak cuci tangan dulu ya Dek. Dan Om Ikat jangan bawa dedek kabur, tungguin Ratu." Ucap Ratu seraya membawa piring dan botol minumnya menuju dapur.


Kini tinggal Riqhad dan Lilla kecil saja berdua di sofa. "Kamu tahu, Nak. Sejak ada kamu, Abi jadi nggak betah berada di luar sana... pengennya cepat-cepat pulang terus. Sebelum ada kamu aja Abi udah kayak gitu, pengen cepat pulang buat ketemu Ummi. Eh, sekarang dosisnya makin nambah." Ucap Riqhad sambil memperhatikan mata bening Lilla yang kadang menutup lalu terbuka lagi. Mungkin mengantuk dia.


Beberapa waktu berselang, Shanum dan Ratu muncul dari dapur dengan Ratu yang telah berganti pakaian sebab si cantik yang ingin dipanggil kakak itu telah mengacaukan dapur hingga ketumpahan susu cokelat hingga harus berganti pakaian setelah bersih-bersih. Untung saja, Fhariza tadi sempat menitipkan pakaian ganti untuk Ratu.


Saat hanya ada suara televisi yang menyapa di ruang tengah ini, Shanum mencari-cari sosok kesayangannya. Ia tersenyum lembut melihat pemandangan di depannya. Lilla sedang terlelap di atas tubuh Abinya dengan berselimutkan pelukan dari Riqhad. Hal ini bukan hanya sekali dua kali ia dapatkan, sudah beberapa kali pemandangan menyejukkan ini menghampiri netranya.


Lihatlah, jam baru saja menunjukkan pukul 11:33 WIB. Riqhad sudah sedari tadi muncul di rumah mereka, berarti Abi Lilla ini berada di kantor hanya selama 3 jam saja. Bagaimana Shanum tak semakin cinta pada pria yang telah melafalkan cinta untuknya ini. Selalu membuatnya merasa disayangi dan dilimpahi cinta kasih.


"Om sama dedek Lilla bobok, Nte. Lucu banget ya mereka, Nte... mirip." Ucap Ratu sambil tekekeh. Memang dibandingkan dengannya, Lilla lebih menyerupai Riqhad. Kata orang zaman dulu memang begitu, jika anak berjenis kelamin perempuam maka dominannya akan mirip dengan ayahnya begitupun sebaliknya jika laki-laki maka lebih menyamai ibunya. Hal itu, bisa Shanum benarkan untuk kasus putrinya ini.


"Ratu bangunin Om ya, Nte." Tawar Ratu.


Namun, dicegah oleh Shanum. "Jangan sayang, Om kamu kayaknya capek banget. Kasian kan. Lebih baik Ratu ngerjain tugas rumah yang dikasih ibu guru aja, mewarnai gambar yang tadi kan belum kelar." Shanum berusaha mengalihkan perhatian putri dari sepupunya itu.


"Tapi, Ratu masih mau main sama dedek loh Tante." Tolak Ratu.


"Kan dedeknya juga lagi bobok. Nanti lagi ya mainnya tunggu dedek bangun." Balas Shanum.


Ratu cemberut, dengan sedikit terpaksa ia pun mengangguk menuju meja yang disiapkan Shanum di samping lemari buku mini di ruangan tengah ini.


Setelah Ratu duduk anteng bersama beragam warna crayonnya, Shanum mendekat ke arah pasangan Abi dan anak itu. Dengan sangat pelan, ia memindahkan tangan Riqhad dari tubuh mungil Lilla dan berusaha mengambil alih tubuh putrinya tanpa mengganggu tidur keduanya. Namun, kemudian belum sempat Lilla berpindah kepelukannya, tubuh Shanum lebih dulu ditarik oleh Riqhad menggunakan satu tangannya yang lain. Sehingga posisi Lilla masih nyaman di dadanya.


"Abang ngga tidur beneran? Boongan ya." Ucap Shanum kaget namun masih bisa mengontrol nada suaranya agar tidak membangunkan Lilla.


Riqhad tersenyum jahil dan merengkuh Shanum sengan lengan kanannya.


"Abang, Lilla jadi kepencet ini. Jangan dempet-dempet dong." Bisik Shanum.


Riqhad menyengir malu lalu melepaskan Shanum. "Kok Abang sih, Mi. Abi dong." Ucap Riqhad pura-pura merajuk.


Shanum menggeleng kecil mendengarnya, ia mengambil alih Lilla pelan kemudian mencubit lengan Riqhad karena geram sekaligus gemas. Shanum berdiri lalu menimang Lilla karena takut ia akan terbangun. Riqhad ikut berdiri sambil melepas dua kancing teratas dari kemejanya.


"Lilla terus yang ditimang. Abinya kapan dong." Bisik Riqhad sambil memeluk Shanum dari belakang.


Shanum membulatkan matanya seraya memandangi horor Riqhad dari samping, kemudian mengodenya untuk melihat ke arah Ratu yang sedang kebingungan menyaksikan keintiman mereka.

__ADS_1


Karena Riqhad berekspresi tak paham dengan kode dari Shanum, Shanum pun berkata lembut. "Abinya Lilla sayang, jangan manja gini deh. Malu dong sama anak dan keponakan."


Riqhad terkekeh sebelum memutar tubuh Shanum ke arahnya. Ia mengecup pelan pipi kiri dan pipi kanan Lilla dengan lembut.


"Udah-udah, Ummi antar Lilla ke kamar dulu ya? Terus Ummi temanin Abi makan siang. Abi mau balik ke kantor lagi kan setelah ini?" Tanya Shanum menelusuri netra gelap Riqhad yang menentramkan.


Riqhad balas menyelami iris Shanum lamat-lamat. Cantik.


Cup


Cup


"Oke, Mi. Tapi Abi nggak balik lagi ke kantor ya. Males." Jawab Riqhad sambil berlalu lebih dulu ke kamar mereka setelah menitipkan kecupan kepada Shanum dan Lilla kecil. Akibat kecupan dadakan dari Riqhad, Lilla pun terbangun dan menangis.


"Yee... dedek Lilla udah bangun!" Sambut Ratu senang.


Shanum menepuk jidatnya, pasrah. Antara kesal, geram, gemas, dan geli melihat tingkah Pak Dosen bergelar Abi dari putrinya itu. Tapi tetap suka.


***


"Kamu dapat lokasi magangnya di mana, Oya?" Tanya Molly.


Memasuki awal semester 6 mereka diwajibkan mengontrak salah satu mata kuliah yaitu magang selama semester genap ini. Setelah menerima surat tugas untuk magangnya, Zoeya masih setia memasang wajah cemberut karena tidak suka dengan lokasi penempatannya. Lokasi magangnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.


"Di 'IM fashion street' aku ngga mau banget di situ. Tadi aja aku abis dari prodi buat ngelobby mana tau bisa ganti lokasi. Eh, malah dinyinyirin tu dosen. Katanya nggak boleh request, kan jadinya kesal aku." Jawab Zoeya menumpahkan keluh kesahnya.


Molly terkekeh mendengar nada suara Zoeya yang seolah mengucapkannya tanpa hambatan. "Syukuri aja kali. Kan perusahaan itu lagi booming banget sekarang. Apalagi pemiliknya masih muda dan ganteng banget, sekaligus model lagi. Mana tahu kamu kepincut sama dia dan dia juga tertarik sama kamu. Ntar jodoh deh. Kan seru kalo sekali dayung dua pulau terlampaui, eh terlewati." Ucap Molly sambil menyuapi salad buahnya.


Zoeya ikut melanjutkan aktivitas makan siangnya, tak seperti Molly yang sering diet Zoeya malah mengikuti saja nafsu makannya yang sekarang sedang naik daun.


Sambil mengunyah pelan, ia mencerna perkataan Molly dan tanpa diminta wajah pria berlabel menyebalkan yang pernah ia temui di Singapura itu pun menghampiri benaknya. Dari majalah yang pernah ia baca sekilas di super market waktu itu, ia jadi mengetahui siapa sebenarnya pria yang menyewa rumah peninggalan Oma Shanum di negara tetangga sana.


Saat membayangkan wajah sombong pria itu, Zoeya menjadi hilang mood. Apalagi sikap pria itu yang seenaknya meninggalkan adiknya yang sedang hamil muda di Singapore entah dengan alasan apa. Nggak berperasaan, batin Zoeya.


Zoeya menggeleng menolak pujian dari sahabatnya barusan. "Enak aja kamu ngomong gitu. Siapa bilang dia ganteng pake banget heh, gantengan juga Kak Aufar kemana-mana. Dan cuma Kak Aufar yang enak buat dipandang tahu." Jawab Zoeya yakin lalu melanjutkan kembali membabat makanannya.


Molly tersenyum mendengar spontanitas dari Zoeya. Tepatnya melihat ekspresi pria yang berada di belakang Zoeya. Pria itu terlihat salah tingkah karena mendengar pujian secara tidak langsung dari wanita yang ia sukai.


"Terus, kalau Bang Aufar ganteng kemana-mana. Kenapa kamu milih ngejauhin dia sekarang? Kan katanya dia enak dipandang." Jiwa jahilnya Molly muncul dan meminta Molly untuk menanyakan hal ini.


Tak elak membuat wajah pria yang masih berada di belakang kursi Zoeya semakin penasaran dan menunggu-nunggu hembusan jawaban dari pertanyaan yang sedari beberapa bulan yang lalu ingin sekali ia ketahui.


"Eh, m... itu... itu sih karena Oya-"


Jawaban Zoeya terhenti saat belum mencapai titik akhir kalimatnya, ia menjadi ragu dan salah tingkah untuk menjawab pertanyaan Molly yang ia sendiri saja malu untuk mendengarnya. Hingga suara dari arah dibelakangnya mengalihkan perhatian Oya dengan cepat.


"Woy Aufar!"


"Loe ikut kita nggak ke rumah Pak Riqhad? Shanum whatapps nih katanya mau minta bantuan tapi ngga bisa keluar rumah."


Deg


Jantung Zoeya seakan meloncat dari gantungan kokohnya, mendengar kata Aufar yang keluar dari mulut orang lain saja bisa berefek fatal untuk keadaan jantungnya. Ini tidak baik, sekeras apapun ia menghindari pria bernama Aufar dan menjaga hatinya agar tidak lari dari koridor yang seharusnya ternyata kesemuanya itu bisa runtuh hanya dengan mendengar satu kata yang terdiri dari lima huruh -A u f a r- terlebih lagi pemilik nama itu berada di sekitarnya sekarang ini.


'Kak Aufar ada di belakang? Apa dia dengar Oya muji dia ya tadi?' Batin Zoeya.


Molly mendengus menghujami Nabil dengan tatapan mautnya, pengganggu dan perusak suasana. Kan Zoeya tidak sempat menjawab rasa penasaran Aufar. Pikir Molly.


Nabil terlihat bingung menerima pandangan tak bersahabat dari Molly yang kini telah istiqomah dengan kerudung lilitnya. Aufar berdehem kemudian menyeret Nabil yang masih terheran-heran, menjauh dari kursi kantin yang diduduki oleh Zoeya dan sahabatnya.


Setelah merasakan aura kehadiran Aufar telah menjauh dari radius rawannya, Zoeya pun menghela nafas lega lalu menggenggam tangan Molly seraya berbisik dengan wajah semerah tomat, "Molly, sejak kapan Kak Aufar ada dibelakang kursi Oya?"


"Sejak tadi." Jawab Molly dengan senyum jahil.


Zoeya berusaha mencerna jawaban Molly dan mengumpulkan kepingan-kepingan kemungkinan yang bisa disimpulnya.


"Em... menurut kamu, Kak Aufar dengar nggak sih omongan kita dari tadi? Tepatnya omongan Oya yang bilang dia ganteng kemana-mana dan hanya dia yang enak dipandang?" Tanya Zoeya dengan malu-malu.


"Menurut kamu? Dia berdiri kurang dari satu meter di belakang kamu dan dia diam di situ sejak kita bahas soal magang. Kamu simpulin aja deh sendiri." Jawab Molly sambil menahan tawa yang hendak meledak melihat kegelisahan sahabatnya yang terlihat sedikit kekanak-kanakan.


Setelah beberapa detik berpikir Zoeya pun berhasil menyimpulkan sendiri jawaban dari pertanyaannya, "AAA... Oya malu... Oya malu banget ya Allah! Sia-sia dong Oya belagak nggak peduli sama dia!" Teriak Zoeya yang membuat Molly menepuk jidat karena malu. Zoeya kembali menjadi pusat perhatian seisi kantin akibat suara membahananya.

__ADS_1


__ADS_2