
PART 26 - KEBENARAN YANG SALAH
"Dunia ini ibarat bayangan. Kalau kau berusaha menangkapnya, ia akan lari. Tapi kalau kau membelakanginya, ia tak punya pilihan selain mengikutimu."
~Ibnu Qayyim Al Jauziyyah~
_________________________________________
Flashback On
"Atu mau ikut Dad."
"Main sama Oma dulu ya sayang, Daddy bentar doang kok."
"Gak mau, kalo gitu antelin Atu main cama Ante Canum ama Ante Oya."
"Ante kan lagi kuliah sayang. Nanti Dad beliin ice cream deh. Mau ya."
Tidak mendapat apa yang diinginkannya dari pria itu membuat gadis kecil ini menangis sambil meraung.
Omanya pun dibuat kerepotan menahan cucunya itu. Ia sudah mewanti-wanti agar putranya mau mencarikan ibu pengganti untuk Ratu dan juga tak selamanya Gilan akan hidup sendiri tanpa pendamping. Namun, keinginan sang ibu diacuhkannya.
"Ya sudah kamu bawa saja cucuku, kalau tidak suruh asistenmu menggantikan meeting." Putus sang Mama yang kasihan melihat cucunya itu.
Karena arlojinya menunjukkan jam 10:00 WIB dan setengah jam lagi kliennya akan tiba di tempat pertemuan membuat Gilan menerima usul ibunya, untung saja meeting kali ini berlokasi di restoran tak jauh dari Universitas Nusantara Sakti. Gilan berinisiatif akan menitipkan Ratu pada sepupunya, Aufar. Jika ia membawa Ratu di pertemuan tersebut tidak akan menjamin kelancaran meeting tersebut.
Sampai di depan Universitas, Aufar yang telah di telepon oleh Masnya menunggu di samping gerbang dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana, ia tampak begitu rapi.
"Lama banget sih datengnya Mas, aku dijadiin pajangan di sini. Risih tau nggak dipandingin anak-anak." Kesal Aufar. Meski kesal ia tetap berjongkok mengelus pipi gembul keponakannya.
"Udah ah, Mas buru-buru. Titip Ratu ya." Ucap Gilan setelah memberi pengertian pada putrinya.
Aufar dengan gaya coolnya menggandeng tangan mungil Ratu memasuki gerbang kampus. Banyak pasang mata yang memperhatikannya, ia risih namun tetap melangkah tanpa mengubris berbagai jenis pandangan dari orang di sekitarnya.
"Aufar beda banget ya sekarang."
"Mau dong, digandeng."
"Udah cocok jadi Papa muda nih kayaknya."
"Anak siapa sih itu, kok sama Bang Aufar? Bukan anak dia kan?"
"Calon suami gue tu, jangan lirik-lirik."
Itulah bunyi grasak-grusuk yang terdengan oleh indera Aufar, ia menggenggam lembut tangan mungil Ratu sedangkan gadis mungil itu malah celangak-celinguk memperhatikan sekitarnya. Ia menjadi antusias berada di tempat asing ini, apalagi dipenuhi banyak orang dewasa dengan berbagai masalah dipikirannya.
"Om, Ini di mana? Dan Atu mau Om bawa kemana?" Tanya Ratu sambil menarik-narik celana Aufar.
Karena merasa kesusahan megimbangi langkah keponakannya, membuat pria tampan ini melepas genggaman Ratu dan menggendongnya. "Ini tempat Om sekolah. Kita mau ke kantin, Om lapel." Jawab Aufar dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh si kecil.
Ratu yang mendengar itu kembali bersuara. "Om ngga belajal?" tanya Ratu.
"Iya, tapi nanti. Atu sayang, diem dulu ya. Tuh liat banyak orang liatin kita, kan malu." Bisik Aufar di telinga si kecil. Atu pun penutup mulutnya sambil mengangguk patuh dan hal itu membuat Aufar tersenyum dan mencium pipi keponakannya.
Sampai di samping gedung fakultas Fashions Design yang terlihat tidak terlalu ramai, Aufar melihat seseorang yang ia kenal tengah berdebat.
"Siapa lo hah, mau nyampurin urusan kami!" Teriak seseorang yang paling cantik antara ketiga temannya.
"Iya, jangan berlagak sok ngenasehatin ya lo. Ini urusan kita." Tambah yang lainnya.
Aufar semakin mendekat ke arah kelima mahasiswi itu, ia pun mengode Ratu agar diam tak bersuara. Mereka pun bersembunyi di dekat tembok, terlihat seorang dari mereka hendak mendorong gadis berkerudung itu. Mata Aufar menjadi panas, ketika ia hendak menghampiri mereka dan menggagalkan niat keempat perempuan tersebut, gadis lainnya pun muncul setelah menatap lurus Aufar sebentar.
"BERHENTI! Jangan sakitin Shanum!" Teriaknya.
__ADS_1
Mereka terkejut dengan kedatangan Zoeya, begitupun Shanum yang masih membelakangi Zoeya. Ia yang hampir ingin didorong itu bergerak ke samping bermaksud agar Zoeya dapat leluasa berhadapan dengan perempuan cantik di depannya.
"Oh, ternyata si tomboy ini udah punya teman baru ya? Pantesan udah jarang gabung sama kita-kita lagi." Ucap Molly sinis.
"Aku udah tahu semuanya. Aku nggak nyangka kalian bisa ngelakuin itu sama aku, selama ini aku anggap kalian benar-benar tulus berteman denganku ternyata kebaikan kalian cuma berkedok doang." Tambah Zoeya dengan berani. Ia pun menarik lembut lengan Shanum ke arahnya.
"Bukan dia yang menghasut aku untuk jauh dengan kalian, tapi aku. Aku sendiri yang muak melakoni persahabatan ecek-ecek ini. Dan aku tidak mempermasalahkan kalian yang sering memanfaatkanku selama ini. Tapi dengan kalian melibatkan Shanum, aku tidak akan tinggal diam. Silakan kalian hina aku tapi jangan pernah menyangka persahabatanku dengan Shanum sama seperti kalian. Aku tidak perlu maaf kalian dan aku juga tidak akan meminta maaf seperti yang kalian minta. Untuk sekarang lebih baik kita jaga jarak, aku terlanjur lelah dengan kepura-puraan kalian. Terima kasih telah bersamaku selama ini, meskipun hanya fake. Bye." Ucap Zoeya dengan berani.
Zoeya pun tersenyum kepada Shanum dan Shanum balas menggenggam tangan Zoeya hingga membawanya meninggalkan tempat itu.
Mereka berdua berjalan beriringan, hingga sampai di samping koridor kampus terlihat Aufar yang sepertinya menunggu mereka. Ia menatap Zoeya dan Shanum bergantian, Shanum mengangguk bermaksud menyapa sedangkan Zoeya malah memilih menghindari mata Aufar dan melangkah cepat.
"Tunggu!" Panggil Aufar yang menghentikan langkah Shanum dan Zoeya.
Di lain sisi
"Kurang ajar tuh bocah, nitipin anak orang sama gue pake alasan ada kelas lagi." Gerutu pria yang berada di balik kursi kerjanya. Sedangkan seorang wanita kini mendengus menghadapi makhluk kecil yang sedari tadi tak hentinya menangis.
"Manis, jangan nangis dong ntar cantiknya ilang loh."
"Kok Atu di opel-opel cih? Atu mau Daddy. Hhiks hiks." Tangisnya semakin menjadi.
Wanita itu menjadi geram karena omongannya tidak digubris sama sekali oleh makhluk kecil ini. "Yang, ini anak siapa sih? Aku pusing tau nggak ngeliatinnya. Kok bisa sama kamu?" Ucap Fhariza kepada Riqhad dengan nada kesal.
"Ini anaknya sepupu aku. Dia lagi meeting di sekitar sini, tadi dititipin sama salah satu mahaiswa sini, sepupunya juga tapi dia ditinggalin di ruangan ini katanya ada kelas mendadak."
Riqhad juga kesal pada Aufar yang seenak jidatnya meninggalkna Ratu di ruangannya dan kemudian berlari keluar dengan tidak ada sopan santunnya.
"Ratu, bentar lagi Daddy dateng kok. Sekarang Ratu main di sini dulu ya." Ucap Riqhad dengan memeluk Ratu yang sudah berhenti menangis. Ia kurang bisa menghadapi sifat anak-anak namun ia akan mencoba, nanti lambat cepat Riqhad juga akan berhadapan dengan makhluk kecil ketika ia telah berkeluarga kelak.
Drrrt... drrt.... (Ponsel Riqhad berdering)
"..........................."
"Siap Prof. Saya ke sana sekarang!" Ucap Riqhad kemudian menutup ponselnya.
"Oke, kalau gitu kamu tolong jaga Ratu sebentar. Kalau dia nangis lagi kamu bawa aja dia ke kedai ice krim di depan ya. Aku barusan dipanggil buat bahas sesuatu." Terang Riqhad.
Dengan sedikit enggan Fhariza pun menyetujuinya dan berkata supaya Riqhad cepat kembali. Ratu yang awalnya tak ingin ditinggalkan lagi, setelah mendengar bahwa Tante di sampingnya akan membawanya untuk membeli ice krim ia pun menjadi senang.
Beberapa saat kemudian di kedai ice cream.
Ratu yang awalnya senang menikmati ice creamnya dengan wajah yang berseri-seri kini entah mengapa terlihat aneh di mata Fhariza. Ratu memesan ice cream rasa cokelat kacang dengan toping warna warni sedangkan Fhariza memilih ice cream rasa vanilla.
Ratu terbatuk-batuk, kemudian ia memegangi perut, nafasnya terlihat berat dan wajahnya memerah. "Ratu, kamu kenapa?" Tanya Fhariza panik.
Ia menggeser ice cream itu dari hadapan Ratu dan kemudian ketika hendak memeriksa dahi gadis tersebut, Ratu memuntahkan isi perutnya dan wajahnya semakin padam hingga terlihat kesulitan bernafas.
"Ratu, kenapa ini? Telpon Riqhad... telpon Riqhad." Ucap Fhariza dengan bergetar. Pengunjung yang lainnya pun menghampiri meja mereka.
Beberapa saat kemudian, Riqhad pun datang dan membopong Ratu ke dalam mobilnya. Mereka melaju menuju rumah sakit terdekat.
Saat Ratu diperiksa di dalam, Riqhad menemani gadis tersebut, sedangkan Fhariza izin ke toilet sebentat untuk menenangkan kecemasannya. "Aku yakin, itu reaksi alergi. Aku juga pertama kali makan sesuatu yang berbahan cokelat juga mengalami hal tersebut. Apa Ratu juga alergi cokelat ya? Kok bisa samaan denganku?" Batin Fhariza sambil menatap cermin wastafel.
Ia meraba wajahnya dan seakan ada sekeping memori melintas di pikirannya. "Apa mungkin? Tidak! Tidak!" Gumamnya prustasi.
Setelah memperoleh ketenangan, ia pun menghampiri Riqhad di depan ruangan spesialis anak. Riqhad menjelaskan bahwa Ratu alergi terhadap cokelat dan ia akan mendapatkan reaksi seperti itu, jika lambat mendapat penanganan maka akan berakibat fatal. Mendengar itu wajah Fhariza berubah pucat, syok.
"Kamu nggak usah takut. Ini bukan salah kamu kok, aku juga nggak tahu dia alergi cokelat. Barusan Daddynya datang dan menjelaskan semuanya dan diterangkan oleh Dokter." Riqhad berusaha menenangkan kekasihnya dari rasa bersalah karena memesan ice cream coklat tersebut.
"Ratu dimana?" Tanya Fhariza.
Beberapa saat kemudian seorang pria keluar dari ruangan dengan tangan menutupi wajahnya, terlihat seperti menahan beban. Riqhad pun menunjuk ke arah Gilan dengan dagunya.
__ADS_1
"Gimana Ratu?" Tanya Riqhad.
Mendengar suara tersebut Gilan pun mengangkan wajahnya memandangi sumber suara.
Deg
Deg
Seperti kehabisan pasokan oksigen, tatapan mata Fhariza membulat sempurna dan detak jantungnya seperti marathon, tangannya berubah dingin dan keringan membasahi pelipisnya. Begitu pun dengn Gilan, rahangnya mengeras dan terlihat seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Apakah ini kebetulan?" Batinnya.
Berusaha bersikap normal, Gilan pun menjawab seperti apa yang dijelaskan Dokter barusan. Untuk malam ini, Ratu nampaknya akan menginap karena kondisinya yang belum membaik sempurna.
"Aku udah telepon Aufar, katanya dia sedang dalam perjalanan ke mari. Kamu bisa melanjutkan urusanmu. Terima kasih telah menjaga Anakku dan maaf telah merepotkan kamu, ini salahku yang meninggalkan Anakku dengan terburu-buru tadi." Jelas Gilan.
"Kami juga minta maaf tidak bisa menjaga Ratu dengan baik. Oh iya, Riza kenalin ini Daddynya Ratu. Namanya Sahid Gilan, sepupu aku dari pihak Ayah." Ucap Riqhad sekaligus mengenalkan keduanya.
Riqhad memang belum pernah mengenalkan Fhariza kepada anggota keluarganya selain Abang dan Adiknya. Kemudian keluarganya juga tidak mengetahui bahwa ia memiliki kekasih.
Dengan kaku Fhariza pun ikut berdiri berhadapan dengan Daddy Ratu. "H-ha-hai. Ke-kenalin A-aku Fhariza." Ucap Fhariza mengangkat tangan kanannya untuk bersalaman.
Gilan tidak mengindahkan tangan tersebut dan malah menatap tajam wanita di depannya. Sedikit kaku ia pun menyambut uluran tangan tersebut dan memperkenalkan dirinya dengan datar.
Drrt... drrt... (Ponsel Riqhad kembali berdering)
"Aku angkat telepon bentar ya. Riz, tunggu di sini." Ucap Riqhad sebelum menjauh.
Dan sekarang hanya tersisa Fhariza dan Gilan dengan aura dingin mencekam. Entah ada apa di antara keduanya namun tidak ada diantara mereka yang mau berinisiatif untuk memulai obrolan lebih dulu. Fhariza terlihat cemas dan panik, tergambar dengan posisi duduknya yang bergerak tidak nyaman.
Setelah mengumpulkan keberaniannya, untuk memastikan sesuatu berjalan sesuai dengan keinginannya Fhariza pun bersuara. "Siapa Ibunya?"
Flasback Off
***
Seorang pria berperawakan tegas tengah menggenggam beberapa lembar gambar di tangannya, semakin lama kertas ditangannya tersebut teremas hancur hingga tak berbentuk. Matanya nyalang dan menatap seseorang di depannya yang terlihat begitu cemas, matanya sembab akibat menangis prustasi.
"Papa nggak mau tau, kamu harus bisa membuat putra Farhan itu menikahimu bagaimana pun caranya!" Teriak pria itu.
Sedangkan yang diteriaki masih diam termenung dengan sekelebat pemikiran di otaknya. Bagaimana caranya ia membuat seseorang harus menikahinya dalam waktu dekat ini? Mengapa ia tidak memikirkan dampak buruk yang akan terjadi di masa mendatang?
"Gimana caranya, Pa?” Timpal si anak.
"Bodoh! Kamu bodoh! Kalau kamu hanya main-main begini dan tidak dapat membujuk kekasihmu itu untuk mengambil alih seluruh perusahaan Ayahnya lebih baik dari dulu kamu dekati anak sulung Farhan saja. Sia-sia saja kita selama ini membuat anak bodoh itu membenci Ayahnya tetapi tidak berkeinginan untuk menerima wasiat dari Ayahnya, malahan dia menyerahkan pucuk kepemimpinan kepada Kakaknya. Sia-sia aku menyuruhmu mendekatinya dan membuat kamu menjadi kekasihnya." Terang Hardean Sanjaya pada putrinya.
"Pa, bagaimana ini? Bagaimana kalau dia tau bahwa aku tidak gadis lagi bahkan ketika kami telah menikah nanti? Aku yakin ia akan mencampakkanku segera." Ucap wanita muda itu menyampaikan kegelisahannya. Ia seakan lupa akan siapa dirinya, ia tenggelam dalam kebahagiaan dan kemewahan selama ini.
"Bahkan pria yang telah merenggut segalanya adalah sepupu dari kekasihku sendiri, Pa." Tambahnya.
Kemudian pria paruh baya itu pun mengerutkan keningnya seolah sedang berfikir dengan keras.
"Tidak ada cara lain, kepalang tanggung kamu telah menjadi kekasihnya, akan sulit jika kamu beralih pada Kakaknya. Jadi, kamu harus menjalankan rencana ini." Ucanya sambil berbisik.
Si anak pun mendekati ayahnya dan menyimak patuh apa yang disampaikan Sang Ayah.
Setelah memahami apa yang di sampaikan Ayahnya, ia pun memejamkan matanya menahan sesuatu yang serasa ingin meledak.
"Kamu mengerti kan?" Tanya Hardean.
Wanita yang masih termenung itu pun menggigit kecil bibir bawahnya, kedua tangannya saling meremas di pangkuannya, jantungnya berdetak tak karuan.
Ini sangat berat untuk dilaksanakan, dia memang tidak memiliki rasa apapun pada kekasihnya, tapi ia telah nyaman bersama pria tersebut terlebih lagi ketika pria itu memberikan semua apa yang ia mau dan selalu mengutamakannya. "Ya, meskipun akhir-akhir ini aku seperti bukan lagi prioritasnya. Tapi aku yakin akulah satu-satunya wanita yang harus dia cintai." Batinnya.
"Riza, kamu mengertikan maksud Papa? Sebelum Gilan membuka kebenarannya kamu harus menjalankan rencana tadi." Titah sang Papa mengakhiri kegelisahan putrinya.
__ADS_1
Wanita cantik ini pun mengangguk dan meyanggupi rencana dari Ayahnya. Namun, setitik kegundahan lainnya menghantui dirinya. Mata bening itu, pipi mungil dan gembul kemerahan serta genggaman kecil penuh kerinduan menyentil hatinya.
"Sanggupkah aku menyakiti lebih banyak orang lagi?" Pikirnya dengan mata berkaca-kaca.