
PART 35 - BERSAMAMU
Ketika aku bersamamu, kita terjaga sepanjang malam. Ketika kau tidak ada di sini, aku tidak bisa tidur. Aku bersyukur pada Tuhan untuk insomnia semacam itu dan perbedaan di antara keduanya.
-Jalaluddin Rumi-
_________________________________________
Setelah absen selama seminggu, Shanum kembali beraktifitas seperti biasanya. Riqhad menyetujui permintaannya untuk cuti seminggu karena ingin menjaga mama mertuanya selama masa perawatan, sedangkan Zoeya sedang mengerjakan tugas beratnya.
Waktu seminggu itu Shanum lewati sambil menyelesaikan tugas pembuatan maketnya. Banyak hal berbeda yang terjadi, ketika sebelumnya di pagi hari dia hanya mengurus dirinya sendiri maka sekarang ia juga bertanggungjawab akan sosok lainnya.
Lihatlah, Riqhad ternyata susah untuk dibangunkan. Bahkan ia melupakan jam mengajarnya di pagi ini. Dosen yang biasanya selalu on time kini malah molor time. Alasannya adalah ia sulit tertidur setelah sholat tahujud dan kembali bisa memejamkan mata setelah subuh.
Seminggu bersama Shanum, pria ini mulai terbiasa mengerjakan hal-hal yang sunnah. Tidak seperti sebelumnya, yang wajib saja ia lupakan. Ia terlanjur berjanji pada istrinya untuk mengejar surga bersama, sebagai pria Riqhad selalu memegang kata-katanya dan pantang menjilat ludah sendiri.
Shanum yang telah selesai bersih-bersih serta membantu menyiapkan sarapan di dapur kini mulai berjalan menuju kamarnya. Ia menyusuri rumah mewah mertuanya dan sepanjang jalan ia temui dinding-dinding yang sangatlah polos, tidak ada potret anggota keluarga yang terpasang, bahkan lukisan pun hanya ada satu ditambah tiga kaligrafi berukuran sedang.
Sudah berbulan-bulan Shanum tinggal di sini, ia tak pernah tahu wajah ayah dari Riqhad, suami mama mertuanya. Iya, Shanum tak pernah menemukan potret papa mertuanya itu. Ia hanya tahu sebatas nama. Pernah ia bertanya pada Riqhad sehari setelah pernikahan mereka, namun tanggapan Riqhad tidak memuaskan rasa penasarannya. Suaminya itu selalu mengalihkan pembicaraan jika Shanum mengungkit tentang papanya. Terakhir kali, Shanum mengajak Riqhad untuk mengunjungi makam papanya. Namun, Shanum kembali diabaikan. Hingga kini Shanum berjanji tidak akan mengungkit mengenai papa mertuanya lagi pada Riqhad.
Ceklek (pintu dibuka)
Shanum telah sampai di lantai atas dan membuka pintu kamarnya, di dalam sana tidak terlihat batang hidung Riqhad. Namun suara gemercik air bisa ia dengar, pertanda suaminya itu sedang mandi.
Shanum memilih merapikan ranjangnya dan menyiapkan pakaian untuk Riqhad. Inilah rutinitas Shanum setelah Pak Dosennya itu menikahinya.
Sungguh Shanum masih tidak percaya dengan apa yang ia alami ini. Perjalanan hidupnya sungguh berliku-liku. Ditinggal Ibu ketika bayi, kehilangan ayah ketika menginjak remaja, hidup bersama wanita baik hati yang menyelamatkannya hingga menitipkannya pada keluarga Okhtara bahkan orang yang awalnya tidak menyukainya kini menjadi suaminya.
Namun, Shanum masih memiliki potongan ingatan masa lalu yang takut untuk ia ingat kembali. Meski beberapa kali, potongan kejadian itu menghampirinya. Setelahnya dengan cepat pula ia lupa kembali. Ia takut jika masa lalunya itu akan mejadi bomerang di kehidupannya sekarang atau bahkan nanti.
Shanum masih bisa mengingat wajah-wajah yang terlibat dalam kenangan buruknya. Wajah pria yang ia tolong ketika nyawa orang tersebut di ujung tanduk, pria sepantaran ayahnya yang terjebak permusuhan dengan orang yang mencelakainya. Hingga Shanum ikut terseret dalam masalah mereka, gadis kecil yang bahkan belum mendapat datang bulan pertamanya itu dijebak dan dipaksa menikah dengan orang yang ia selamatkan.
Shanum berdo'a agar orang jahat, dalang dari kejadian tersebut diberi hidayah untuk bertaubat dan ia juga berdo'a semoga pria seumuran ayahnya yang pernah dipaksa menikah dengannya bisa menyelesaikan masalah-masalahnya. Terakhir kabar yang Shanum ingat, keluarga orang itu menjadi kacau saat istri dan anaknya mengetahui kabar hoax bahwa ia melecehkan gadis kecil dan menjadikan gadis itu simpanannya. Itu semua adalah ulah dari orang jahat berwajah seram yang semoga tidak akan ditemui Shanum lagi.
Shanum berusaha mengubur jauh-jauh tentang kenangan tersebut. Ia ingin hidup normal tanpa dibayang-bayangi bayangan kelam dan rasa ketakutan. Oma Syafiah telah membawanya menuju cahaya ketika ia berusaha menjatuhkan diri ke dalam kubangan penyesalan, keputusasaan dan kekosongan. Menanamkan nilai-nilai islam dan menumbuhkan tunas taqwa pada diri Shanum hingga ia masih kokoh tegak berdiri meski seorang diri.
Keluarga Okhtara sangat berjasa padanya, keluarga ini mau menampungnya dan menaunginya. Shanum belum tahu jelas apa hubungan Oma Syafiah dengan keluarga ini sehingga begitu baik menjaganya. Untuk itulah Shanum menerima permintaan yang ditulis dalam surat pemberian Omanya. Omanya menawarinya sebuah pernikahan dengan putra dari wanita kedua yang berjasa melindunginya.
Riqhad. Satu nama yang jika disebut dapat menggetarkan hatinya, meski tak cinta namun sesuai apa yang dikatakan Riqhad waktu itu. Hanya 'belum'. Iya, Shanum dan Riqhad yakin bahwa cinta akan menghampiri mereka jika mereka sama-sama mencintai-Nya.
Shanum berdo'a agar kenangan masa lalunya yang ia sembunyikan dari Riqhad tidak akan menggoyahkan pernikahan mereka, tepatnya pernikahan yang sengaja mereka sembunyikan.
Shanum menghela nafas, membayangkan akankah semua berjalan sesuai yang mereka inginkan? Shanum sedikit ragu bahwa Riqhad akan menyelesaikan masalahnya dengan wanita bernama Fhariza itu. Pasti akan sulit, sebab Riqhad dan Fhariza telah lama bersama, sedangkan Shanum hanyalah orang baru di kehidupan Riqhad.
"Hei, kok bengong."
Tangan Riqhad melambai-lambai di depan wajah istrinya. Sebenarnya hampir sepuluh menit ia menyelesaikan ritual mandinya. Ketika melihat Shanum termenung ia tergugah untuk memandanginya lamat-lamat. Menikmati wajah manis milik istrinya di pagi hari.
“Fabiayyi'aalaa'i Rabbikumaa Tukadzdzibaan”
"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan"
Saat melihat dahi istrinya sedikit berkerut seperti memikirkan hal yang berat, ia langsung menegur gadisnya itu.
Gadis? Iya, Riqhad menyebutnya begitu karena ia belum menjadikan Shanum sebagai wanita. Bahkan untuk melihat sehelai rambut istrinya saja ia belum pernah. Meskipun begitu, interaksi keduanya seminggu ini beransur-ansur mengalami kemajuan. Seperti pasutri lainnya, hanya minus hal yang disebutkan sebelumnya dan yang lebih intim lagi.
Ia tak pernah menuntut lebih ataupun memaksa meminta. Riqhad hanya ingin Shanum menyerahkannya dengan inisiatif sendiri dengan ikhlas lahir bathin. Riqhad pun tak pernah mengungkit hal tersebut. Biarlah mereka mengakrabkan diri, mengenal satu sama lain dan menjalani masa pacaran halal mereka serta mengharapkan curahan Rahmat dan cinta dari Sang Maha Cinta. Meniti ikatan halal dengan keikhlasan beribadah.
"Astagfirullah. Ngagetin aja Bapak ih." Shanum mengelus-elus dadanya. Ia sungguh kaget melihat wajah tampan Riqhad berada tepat di depannya.
Shanum memperhatikan tubuh atletis Pak Dosennya ini yang hanya mengenakkan handuk, pemandangan yang sudah biasa ia lihat selama seminggu belakangan.
"Kamu mikirin apa sih sampai dahi ini berlipat-lipat?" Ucap Riqhad sambil mengusap-usap dahi sang istrinya dengan lembut.
Tak ayal wajah Shanum langsung memerah. Sering mendapatkan moment intens begini tak urung membuat Shanum terbiasa, ia masih saja merona jika Riqhad menyentuhnya dan melontarkan kata-kata yang bisa membuatnya merasa mulas.
Pak Dosen yang dulu ia takuti dan sedikit kurang ia sukai kini berubah menjadi orang yang membuatnya merasakan beragam hal baru. Memacu detak jantungnya dan bahkan menghadirkan riakan di dadanya.
Dosen yang sering ia sebut 'galak', 'menyebalkan' serta terkadang bersikap datar dan semena-mena. Seminggu ini menjelma menjadi orang yang berbeda, kadang manja, kadang usil, kadang cerewet dan kadang pula mampu membuatnya terheran-heran. Mungkin ini yang namanya belajar menerima dan memupuk rasa. Hingga Shanum juga harus menerima berbagai sifat dan keusialan dari suaminya itu.
"Shanum lagi mikir. Kok bisa ya dapat suami kayak Bapak? Ngga ada di list Shanum loh sebenarnya." Ucap Shanum. Berkat sering mendapatkan gombalan dan kata-kata usil dari Riqhad, Shanum pun menjadi ikut-ikutan usil dan tak begitu canggung lagi dengan suaminya ini.
Riqhad mendengus dan menyentil dahi istrinya. "Ngga ada dilist kamu tapi ada di list Allah Sang Maha Cinta. Kamu mau apa kalau udah gitu?"
Deg
Kan... apa yang Shanum bilang, Riqhad pandai sekali berkata-kata. Kali ini Shanum memutar tubuhnya sambil menyembunyikan wajahnya yang selalu tak tahu malu, hobby memerah.
"Uluh... uluh.... merona lagi kan wajahnya. Sini, sini, Humairahnya saya." Ucap Riqhad merangkul tubuh istrinya.
Cup
__ADS_1
Cup
Sepasang pipi milik Shanum dikecup pelan oleh Riqhad. "Itu tuh hukuman karena kamu masih panggil saya 'Bapak'." Bisik Riqhad dengan suara coolnya.
"Kan sudah saya ingatkan sebelum-sebelumnya. Panggil saya dengan panggilan yang indah." Tambahnya lagi.
"Is... lepas. Sana pakai baju, ntar terlambat lagi. Shanum juga ngampus pagi ini." Shanum menggeser lengan terbuka suaminya yang masih saja bertengger dipundaknya.
"Lagian, Shanum ingat kok ancaman itu, tapi Shanum kan mau praktekin panggil 'Bapak' takutnya nanti di kampus lupa dan keceplosan panggilnya lain." Terang Shanum sambil memberikan teh hangat pada suaminya.
"Bisa aja kamu ngelesnya. Terima kasih." Timpal Riqhad sambil menyeruput teh buatan sang istri.
"Iya lah. Kan ceritanya kita lagi secret marriage. Takut kekasih Pak Dosen dan yang lainnya tahu." Shanum sedikit menyindir suaminya.
"Jangan ngomong gitu, saya janji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Kamu yang sabar ya." Ucap Riqhad dengan lemas.
Shanum tersenyum dan mengangguk, ia membantu Riqhad mengenakkan pakaian khasnya sebagai Dosen. Hari ini mereka mulai beraksi sebagai Dosen-Mahasiswi jika di luar dan pasutri jika di rumah. Well, semoga selalu dalam lindungan-Nya.
"Shan, kamu ngga mau gimana-gimana gitu ke saya?" Tanya Riqhad disela aktivitasnya memasang jam tangan.
Shanum heran, kenapa tiba-tiba suaminya menanyakan hal ini. "Gimana-gimana yang gimana maksudnya?" Shanum memastikan pertanyaan rancu dari Riqhad.
Riqhad berdecak dan beralih pada sosok Shanum, ia memegang kedua pundak istrinya seraya menatap netra Shanum yang meneduhkan. "Ya, masa kamu ngga ngerasain perasaan apa misalnya ke saya? Seperti pengen peluk saya atau cium saya gitu? Ngga mau belajar yang gituan?"
Shanum melebarkan pupil matanya, ini sungguh aneh. 'Pak Riqhad, si dosen galak dan sering marah-marah sekarang menanyakan pertanyaan begini? Astaga, ini beneran dosennya kan, bukan orang lain? Kok jadi berubah menjadi sedikit mesum gitu.' Pikir Shanum.
Setelah mengerjap, Shanum menempelkan tangannya ke pipi kanan dan kiri suaminya kemudian berhenti di pelipis. "Ngga panas, dingin juga engga. Biasa aja." Gumam Shanum sambil berpikir.
Riqhad bingung dengan apa yang digumamkan Shanum hingga ia pun kembali bersuara, "jadi, kamu pengennya nyentuh-nyentuh wajah saya gitu?"
Seketika Shanum ingin menurunkan tangannya, tapi terlebih dahulu ditahan oleh Riqhad.
Cup
Riqhad mengecup punggung tangan kanan istrinya seraya menggenggamnya lembut, "kamu kenapa?" Tanya Riqhad melihat Shanum membuka tutup matanya entah dengan maksud apa.
"Bapak aneh. Kok nggak galak lagi sih, malah makin parah aja... jadi mesum!" Ucap shanum sambil melepas genggaman Riqhad di tangannya. Ia pun berlari kecil meninggalkan suaminya yang sudah terkontaminasi sifat kemesuman. Apa-apa maunya nempel terus.
Riqhad terkekeh dan bersiap-siap untuk turun. "Tungguin dong, Mirahnya saya."
***
"Suamimu mana, Nak?" Tanya Mama Hasna. Mama mertuanya terlihat lebih segar dan baik, ia menjalani perawatan seminggu ini dan hasilnya alhamdulillah meski masih belum sembuh total.
Mama Hasna mengangguk, "kamu duduk aja, biarkan Bi Ipah yang beresin dapur." Cegah Mama Hasna ketika Shanum ingin membantu.
Shanum menurut dan kembali ke posisi semula.
"Oya mana Ma?" Tanya Riqhad yang telah terlihat batang hidungnya.
"Oya udah berangkat pagi-pagi sekali. Katanya ia akan pulang telat hari ini, deadline untuk desainnya bentar lagi." Jawab wanita paruh baya itu.
"Oh, kalau Bang Thoriq kapan pindah ke sini? Jangan bilang dia mau nunggu Riqhad keluar dulu baru mau pulang." Kata Riqhad yang telah berada di samping Shanum.
Ia tersenyum ketika Shanum mengambil sarapan untuknya, "makasih Mairahnya saya." ucap Riqhad dengan gaya usilnya.
Shanum menunduk sambil menjawab lirih, ia malu karena ada mama mertuanya di depan. Dasar Pak Dosennya ini tak tahu tempat untuk menggodanya.
"Ehem.... Mama kok kayak jadi obat nyamuk ya. Tapi, liat kalian gini Mama seneng banget tahu. Sebenarnya sejak awal Mama memang ingin Shanum jadinya sama kamu Bang. Entah mengapa keyakinan Mama kuat sekali waktu itu dan buktinya Alhamdulillah, Allah mengabulkan do'a Mama dan Bi Syafiah juga." Ucap Mama Hasna.
Riqhad mengangguk. "Terima kasih Ma, telah membawa Shanum ke kehidupan Riqhad. Jika bukan karenanya, Riqhad pasti masih betah di luar sana dan ngga akan nginjak rumah ini lagi." Ucap Riqhad spontan.
Mama Hasna tersenyum lirih dan kemudian memperhatikan Shanum yang terlihat sedikit risih mendengar perkataan suaminya.
"Sudah-sudah kita sarapan dulu. Nanti kalian terlambat lagi dan untuk kamu Riqhad ubahlah gaya bahasamu pada istrimu. Masa kaku gitu, kayak ngomong sama klien saja. Pake kata 'saya' sekalian aja tambahin dengan kata 'anda'." Mama Hasna mengingatkan.
"Kalau masalah Thoriq, katanya belum bisa pindah ke sini dalam waktu dekat. Masih banyak kerjaan dianya." Tambah Mama Hasna.
Kemudian mereka pun mulai menyantap sarapan mereka masing-masing.
***
..................
"Wa'alaikumussalam. Iya Nai?"
..................
"Ini Shanum lagi di jalan kok."
..................
__ADS_1
"Iya, Shanum ke kampus hari ini."
................
"Alhamdulillah udah baikan. Makanya Shanum bisa ngampus hari ini."
..................
"Makasih ukhty-ukhtyku. Ngga kok, Shanum ngga nyembunyiin apapun."
................
"Eee... ngga boleh bawa sumpah-sumpah loh Dev."
......
"Iya, nanti Shanum ceritain deh."
.......
"Shanum kangen juga. Sampai ketemu di kelas. Wassalamu'alaikum.
Tut
"Siapa?" Tanya Riqhad.
"Naina sama Devia, Bang." Shanum akhirnya mendapat acc untuk memanggil Riqhad dengan kata 'Abang'. Dari pada ia dipanggil dengan panggilan yang sama dengan Gilan dan Thoriq, ia tak mau. Panggilan itu hanya ketika mereka berada di dekat keluarga dan orang yang tahu mengenai pernikahan mereka. Sedangkan di sekitar kampus panggilannya seperti biasa. Shanum menghela nafas memikirkan dua panggilan berbeda hanya untuk memanggil satu orang yang sama. Semoga panggilannya tidak tertukar nantinya.
"Turunin jauhan dikit dari gerbang ya, Bang. Shanum takut ada yang lihat."
"Ngga mau." Tolak Riqhad datar.
"Jangan gitu, katanya ngga mau Shanum disebut sebagai orang ketiga. Nanti kalau ada yang lihatkan kan susah." Shanum memohon.
Riqhad pun menghela nafas pasrah dan mengangguk, kemudian ia meminggirkan mobilnya. "Nanti pulangnya bareng ya." Titah Riqhad.
Shanum pun menggeleng, "Shanum izin ya, Bang. Nanti habis kuliah mau barengan sama Naina dan Devia, Shanum diajak ikut acara sosial." Pinta Shanum.
Riqhad tahu bahwa Shanum merindukan sahabatnya karena sudah seminggu lebih tak bertatap muka.
"Ya sudah, kamu hati-hati dan selalu kabari Abang ya. Pulangnya jangan kesoren, kalau mau dijemput telepon aja." Riqhad merasa geli sendiri menyebut diri dengan kata 'Abang' di depan istrinya.
Karena merasa ingin merubah kecanggungan diantara mereka, Riqhad berusaha mengganti gaya bicaranya pada Shanum seperti nasihat Mamanya waktu sarapan tadi. Meski terkadang gaya bahasa kekakuan masih saja ia terapkan, maklum belum terbiasa.
"Siap Pak Dosen. Shanum turun ya. Assalamu'alaikum." Pamit Shanum dengan semangat.
Tangan Shanum ditahan ketika hendak keluar dari mobil. Ia mengangkat alisnya, bingung.
"Masa gitu pamitnya." Kata Riqhad sambil menatap Shanum dalam.
"Terus gimana?" Tanyanya polos.
Riqhad tersenyum kecil dan-
Cup
Ia mencium bibir mungil Shanum, meski hanya menempeli saja namun ia betah belama-lama di sana. Manis
Deg
Shanum mematung tanpa ekspresi.
Beberapa saat kemudian ia tersadar dan wajahnya berkali-kali lipat menghangat. Matanya mengerjap, tangan kirinya terangkat menyentuh bibirnya yang dihinggapi benda lembut milik suaminya. Ciuman pertama Shanum diambil oleh Pak Dosennya, Shanum sangat malu dan rasanya ia ingin menyembunyikan dirinya agar tak terlihat.
"A-abang... cium Shanum?" Tanyanya refleks dengan suara gugup.
Riqhad tertawa dan tangan kanan istrinya yang masih berada digenggamannya ia angkat dan mengecupnya kilat.
"Iya Mairahnya Abang. Dari kemaren-kemaren Abang pengen cium bibir kamu. Tapi bisa Abang tahan, tapi hari ini Abang kelepasan." Ucapnya santai.
Shanum menunduk dan tersenyum sambil memegang bibirnya. Ia juga senang dengan nada keakraban yang diucapkan Riqhad, suaminya ini berusaha merubah gaya bahasanya dan Shanum suka ketika Riqhad menyebut dirinya sendiri dengan kata 'Abang' di depannya.
"Kamu harus terbiasa, sebab sewaktu-waktu Abang bisa minta lebih dan kamu tidak boleh menolak." Ucapnya lagi.
Shanum hanya mengangguk sambil menyembunyikan wajahnya yang merekah diiringi senyuman.
"Ya sudah sana. Katanya mau keluar. Ini, salim dulu sama suami!" Ucap Riqhad lagi yang kali ini dengan sedikit ketus. Dasar Pak Dosen galak.
Shanum pun menyalami suaminya dan Riqhad balas mengecup dahi Shanum. "Ingat, setiap pamit harus seperti tadi. Paham!" Ucap Riqhad yang refleks dibalas anggukan oleh Shanum.
"Iya Pak Dosen, yang sukanya ambil kesempatan dalam kesulitan." Gumam Shanum.
__ADS_1
Shanum pun menutup pintu mobil setelah mengucap salam dan mendapat balasan salam dari suaminya. Ia berjalan pelan menuju ke kampus.