A

A
Qhanum The Moment


__ADS_3

Jangan dibaca  🙈


Part Gaje 😂


Kalo mau baca juga, yaudah deh 😅


Makasih ya 😊


_________________________________________


🌸بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ🌸


Happy reading


.


.


.


Seorang gadis kecil tampak sangat bersemangat karena Abi dan Umminya akan mengajaknya menaiki pesawat terbang. Ia hanya pernah melihat benda besar bersayap itu dibuku gambarnya atau buku mewarnainya. Kini ia bisa merasakan sendiri menaiki burung besi ini. Ia terkagum-kagum saat melihat penampakan aslinya.


Riqhad akhirnya berhasil memboyong anak dan istrinya untuk ikut serta bersamanya ke Singapura dalam rangka menghadiri acara seminar nasional. Shanum yang awalnya menolak ikut akhirnya menyetujui saat rengekan Khalilla menghampirinya.


Di dalam pesawat, Khalilla tak mampu menyembunyikan kekagumannya itu. Riqhad awalnya juga khawatir membawa putri kecilnya, karena ini adalah kali pertama bagi Khalillanya. Takut terjadi hal yang tidak diinginkan seperti pobia ketinggian atau hal-hal remeh lainnya namun itu semua hanya sebatas pikiran cemasnya saja, buktinya Khalilla malah menjadi yang paling berani.


Rasa ingin tahunya membuat Riqhad dan Shanum dengan sabar meladeninya. Seperti pertanyaan, “kenapa pesawat bisa terbang?”


“Siapa yang membuat pesawat?”


“Siapa yang mengemudi pesawat?”


“Apakah Abinya bisa membuat dan mengendarai pesawat?”


"Kenapa pesawat mirip burung dan punya sayap?”


"Bagaimana cara pesawat tidur?"


Letih si tubuh kecilnya membuat Khalilla terlelap diantara Abi dan Umminya. Kali ini, Shanum menyetujui permintaan Riqhad untuk memilih kursi VVIP demi kenyamanan sibuah hati.


“Mi, masih ingat nggak waktu dulu Mama nanya apa kita nggak bulan madu?” Tanya Riqhad.


Shanum yang sedang merapikan posisi tidur Khalilla itu pun menatap wajah suaminya yang mulai ditumbuhi jambul-jambul.


“Masih Bi.” Jawab Shanum singkat.


“Kalau Ummi masih ingat, kapan Mama nanya gitu ayo?” Tanya Riqhad lagi dengan memojokkan istrinya.


Shanum meletakkan jari telunjuknya dipipi kirinya yang ditutupi cadar khas seperti orang berfikir.


“Lupa, Mi?” Imbuh Riqad sambil menatap lembut Shanum.


“Ummi sok mikir. Itu loh Mi, pas pagi hari dimana kita sarapannya telat dan terpaksa dikamar aja berdua. Soalnya Ummi nggak bisa jalan karena sakit.” Jawab Riqhad sambil terkekeh.


Shanum yang memang masih mengingat kejadian itu pun tersenyum malu. Ia tak menjawab karena malu saja. “Ingat. Ummi ingat wahai Abi.” Timpal Shanum.


Riqhad mengulur tangan kanannya dan membawanya ke wajah Shanum. Ia menatap Shanum dengan pandangan sayang, ia mengelus pipi sang istri dibalik niqobnya itu.


Shanum tersenyum hingga pipi yang dielus Riqhad menjadi lebih berisi dan terasa enak jika dicubit. Riqhad semakin memperdalam tatapannya pada Ummi satu putri ini dengan gemas.


“Jawaban Abi waktu itu sepertinya terlaksana sekarang ini ya, meski lokasinya tidak begitu WOW. Namun Abi tetap senang karena sekarang kita telah bertiga.” Ucap Riqhad.


Shanum mengangguk dan balas mengelus tangan suaminya, seraya berkata, “iya Bi, terimakasih banyak ya. Ummi tidak pernah berpikir ingin kemana dan memilih-milih tempat sebab jika bersama Abi dan Khalilla itu lebih dari cukup bahkan lebih. Singapura juga merupakan tempat bersejarah untuk kita.”


Setelah menimpali, Shanum pun menurunkan tangan Riqhad dipipinya lalu mengecupnya lembut.


“Ummi benar. Jadi, ayo! Kita ukir sejarah baru lagi di sana.” Jawab Riqhad sambil menggenggam tangan Shanum.


Shanum bingung, “maksudnya, Bi?” Tanyanya heran.


“Ayo program tambah anggota lagi di sana. Sehingga tak lama lagi jumlah kita bertambah dan bulan madu berikutnya bisa coming soon dengan anggota empat orang.”


***


Keesokan harinya, Riqhad membawa istri dan putrinya ke kampus yang menjadi lokasi seminarnya. Mereka dijemput oleh mobil khusus universitas. Sesampainya di sana, Riqhad disambut baik oleh penyelenggara dan kemudian mantan Dosen ini pun mengenalkan Shanum serta Khalilla pada mereka.


Menit-menit awal memang terlihat santai namun beberapa menit kemudian, Shanum kualahan melihat Khalilla yang tidak bisa duduk diam di tengah acara hingga Shanum pun meminta izin pada suaminya untuk sekedar jalan-jalan di sekitar kampus. Terlihat Khalilla sudah mau berbuat kekacauan dengan mengganggu microphone yang ada di depannya. Kemudian Riqhad pun menyetujuinya.


Wanita cantik ini menggandeng putrinya sambil menimpali celotehannya hingga saat Shanum ingin izin ke toilet ia pun memilih meninggalkan Khalilla pada seorang mahasiswi yang sedang membaca buku di samping ruangan yang tak jauh dari toilet.


Shanum memberi arahan pada Khalilla agar putrinya tidak kemana-mana dan bisa menunggu Shanum kembali. Khalilla mengangguk hingga membuat Shanum yakin untuk meninggalkan sebentar putrinya itu.


Beberapa saat berlalu, urusan Shanum di toilet pun telah tuntas. Ia bergegas menuju tempat terakhir menitipkan Khalilla namun putri mungilnya itu tidak terlihat olehnya, mahasiswi yang tadi pun tidak ada.


Shanum menjadi sangat cemas hingga kemudian ia menyusuri tiap ruangan di bangunan ini bahkan dibantu oleh beberapa mahasiswa lainnya. Setelah beberapa puluh menit mencari tak menemukan hasil. Shanum terasa ingin menangis dan bermaksud menghubungi suaminya namun ia takut mengganggu konsentrasi suaminya itu. Hingga diurungkannya saja.


Satu jam pun baru berlalu tapi ia telah kehilangan Khalilla, “ya Allah, dimana anak itu?” Lirih Shanum.


Shanum meninggalkan gedung bertingkat ini hingga langkahnya membawa tubuhnya untuk menyusuri lapangan basket universitas. Samar-samar ia melihat sosok kecil berkerudung hijau.


Deg


Shanum menhela nafas lega. Benar, itu Khalillanya. Ummi Khalilla ini pun bergegas menghampiri putri kecilnya. Semakin dekat dengan posisi Khalilla ia semakin mendengar celotehan khas Khalilla.


“Kenapa bolanya dibanting-banting keras sih, Kak? Ntar bolanya sakit terus pecah gimana? Kan kasihan.” Ucap Khalilla.


Shanum meringis mendengarnya, “mana ngerti dia bahasa Indonesia. Lilla, lilla.” Batin Shanum sambil asyik memperhatikan.


“Mana ada bola sakit. Yang sakit itu kamu, kecil-kecil udah banyak omong.”


Shanum membelalakkan matanya. “Oh, orang Indonesia juga ya.” Gumam Shanum yang kembali memperhatikan.


“Ih, dibilangin yang baik malah marahin Illa.” Ucap Khalilla tak mau kalah.


“Udah siniin bola aku. Sana kamu pergi! minum susu sana, biar cepat gede terus nggak sakit lagi kayak gini.”


“Nggak mau, Illa nggak tega sama bolanya. Nih, lihat bolanya jadi kotor dan terluka.”


“Ck, gila. Siniin!”

__ADS_1


“Enggak!”


“Siniin!”


“Enggak”


Shanum pun menghentikan acara tarik menarik itu.


“Lilla, Ummi cariin dari tadi ternyata kamu disini rupanya.” Shanum memeluk Khalilla.


Namun, Khalilla bergegas melepaskan pelukan Umminya karena takut laki-laki itu mengambil kembali bolanya dan membanting-bantingnya lagi ke tanah.


“Jangan diambil, jangan dibanting lagi.” Rengek Illa dengan mata yang berkaca-kaca.


"Hikks... jangan dibanting."


Laki-laki itu pun menatap iba adik kecil berkedung hijau ini. Seraya melepaskan bolanya, ia pun menepuk-nepuk pucuk kepala Khalilla. “Jangan nangis cantik, kakak nggak akan banting-banting lagi kok bolanya, tenang aja.” Ucapnya.


“Beneran?” Tanya Khalilla dengan wajah menangis yang lucu.


Laki-laki itu mengangguk dan menyeka air mata Khalilla dengan jari-jemarinya.


Shanum ingin mencegahnya namun ia urungkan saja. Malah sekarang ia tengah menatap geli keduanya. Ada-ada saja putrinya ini, salah Shanum juga sih yang tidak pernah mengenalkan Khalilla dengan bola basket. Khalilla hanya tahu namanya saja dan bentuknya bulat namun tidak tahu jika cara kerja bola itu adalah untuk dibanting-banting.


“Asyik, gitu dong, makasih ya kakak.” Khalilla tersenyum manis dan memeluk laki-laki berumur 12 tahun itu.


Shanum membelalakkan matanya menyaksikan dua sejoli kecil yang tadinya ribut-ribut tak jelas dan sekarang malah harmonis sekali.


“Ups, Ummi. Illa dosa nggak sih peluk kakak tampan ini?” Tanyanya polos.


Shanum tersenyum dan menggeleng kecil, “Illa masih kecil jadi nggak apa-apa tapi kalau udah gede nggak boleh sembarangan peluk ya. Kalau udah mahrom baru boleh.” Jawab Shanum mengacuhkan paham tak paham dari Khalilla yang masih memperhatikan laki-laki yang berjongkok di depannya.


“Nama kamu siapa, Nak?” Tanya Shanum pada laki-laki yang sekarang malah mengelus pipi gembul putrinya.


“Eja.” Jawabnya singkat.


“Ja, ayo!” Sebuah suara memanggilnya hingga dengan terpaksa ia pun melepas si mungil Khalilla.


“Kakak, ini bolanya!” Teriak Khalilla.


“Untuk kamu saja.” Eja pun berlalu.


“Mi, mata kakaknya cantik ya. Kayak langit, biru.” Khalilla pun menengadah menatap ke angkasa.


“Iya sayang. Kakaknya keturunan bule. Hehe.” Jawab Shanum sambil membimbing Khalilla meninggalkan lapangan basket ini dengan membawa sebuah bola milik anak bernama Eja.


“Mi, bule itu apa? Bisa dikunyah?” Tanya Khalilla disela langkahnya.


Shanum pun menghela nafas, “Lilla, kamu hebat banget ya Nak.” Batin Shanum.


***


Setelah selesai urusan seminar, Riqhad mengajak Shanum dan Khalilla ke area permainan. Khalilla sangat senang dan antusias sekali hingga membuat Shanum malas untuk menyinggung masalah Khalilla yang sempat hilang pada suaminya. Biarlah ini menjadi rahasia kecilnya, takut membuat suaminya semakin khawatir.


Khalilla telah terlelap setelah selesai mengulang bacaan iqra’nya yang sudah memasuki iqra’ 5.


Riqhad yang sedang mengotak-atik ponselnya kini beralih memperhatikan istrinya seraya menjawab, “iya, Mi. Jadi, paginya kita bisa ajak Lilla main.”


Shanum mengangguk paham hingga memperhatikan Riqhad yang meninggalkan ponselnya seraya menghampirinya. Shanum masih duduk di depan cermis rias.


Dep


Riqhad mendekap Shanum dari belakang, dihirupnya aroma shampo yang sudah menjadi salah satu candunya ini. Lalu, ia beralih mengecup pipi Shanum dari samping kanan.


“Abi menyadari bahwa segala sesuatu datangnya dari Allah, termasuk perasaan. Banyak yang heran mengetahui bahwa Abi jadinya sama Ummi bukan dengan Fhariza. Mereka mengatakan dan meragukan apakah benar Abi bisa melupakan Fhariza secepat itu? Apakah mungkin perasaan Abi bisa berubah dan berpindah sebegitu cepatnya pada Ummi? Apakah perasaan Abi ketika bersama Fhariza hanya kepura-puraan? Apakah dengan Ummi Abi berpura-pura? Abi katakan bahwa Abi tak perlu menjelaskan panjang lebar karena itu percuma.”


Shanum mengelus lengan Riqhad, “maksudnya, Bi? Percuma gimana?”


“Ummi, cukup Lafal Cinta dari Abi Untuk Ummi menjadi buktinya bahwa Allah berkuasa, Sang Maha Membolak Balikkan Hati hambanya. Hanya Dialah Perencana Terbaik hingga ijab Kabul kita menjadi bukti perasaan Abi. Khalilla bukti nyata akan mahligai cinta kita. Abi bersyukur bahwa kehadiran Ummi tak tergantikan.”


Shanum tersenyum haru, “Abi, terimakasih. Lafal cinta dari Abi membuat Ummi merasa menjadi wanita yang paling beruntung di Bumi Allah ini. Jangan ada lafal cinta untuk yang lainnya ya setelah ini.” Ucap Shanum sambil menggoda suaminya.


Riqhad terkekeh, dagunya diletakkan di pundak Shanum. “Insya’Allah, takkan ada lafal cinta kedua lagi. Hanya Lafal Cinta Untuk Shanum saja. Tapi-”


“Tapi apa Bi?”


“Kemungkinan akan ada banyak bukti cinta setelah ini.” Shanum memerah saat Riqhad mengendus pundaknya.


“Ummi, ayo kita nyicil programnya. Khalilla sepertinya siap menyandang gelar ‘kakak.’” Bisik Riqhad.


Shanum menoleh, hingga bertepatan dengan tatapan Riqhad yang menyelaminya. Shanum tersenyum sambil mengangguk hingga Riqhad menuntun istrinya berdiri.


Dengan khusyuk, keduanya menengadahkan tangan memohon pada Sang Maha Kasih untuk menuntun muara kasih mereka agar segera dipermudah dalam membuahkan bukti kasih sayang mereka. Shanum mendekap suaminya, Riqhad mendekap Shanum dan keduanya pun didekap kesyahduan irama cinta.


Hari Ketiga di Singapura


“Riqhad apa kabar?”


“Alhamdulillah,baik. Kamu apa kabar?” Tanya Riqhad.


“Alhamdulillah baik juga. Shanum di mana?”


“Lagi temenin Lilla ke toilet.” Adzkia mengangguk paham.


“Ah, hampir lupa ini kenalkan Diandra adik ipar aku.” Kenal Adzkia menunjuk wanita cantik di sampingnya.


Riqhad pun menangkupkan kedua tangannya, “saya Riqhad.” Balasnya.


Beberapa saat terdiam, tiba-tiba saja ponsel Adzkia berdering.


“Di, kamu tunggu disini bentar ya. Mbak angkat telepon dulu. Nggak apa-apa kan?” Ucap Adzkia pada adik iparnya.


Diandra pun mengangguk, “iya Mbak. Nggak apa-apa.”


Hingga keheningan menghampiri kesunyian mereka. Riqhad dan Diandra hanya berdiri berdua tanpa terlibat perbincangan hingga kemudian suara Diandra menyela, “Mas Riqhad yang kemaren jadi pembicara di acara seminar kampus kan ya?”


Riqhad mengangguk sekilas lalu diam.


“Mm, sebenarnya saya juga ikut acara itu tapi nggak bisa hadir karena harus jemput Mbak Kia.” Tambah Diandra lagi.

__ADS_1


Riqhad tersenyum menimpali, “iya. Alhamdulillah saya dipercaya menjadi pembicara. Mungkin lain kali ada kesempatan kamu bisa ikut.” Jawab Riqhad.


Diandra mngangguk.


Saat hampir bosan menunggu anak dan istrinya. Seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang mengendarai sepeda melintas disekitarnya hingga tanpa sengaja menyenggol Diandra dan-


Duk..


Diandra tanpa sengaja menyenggol Riqhad karena kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh. Riqhad pun dengan spontan menahan lengan Diandra.


“Abi! Ngapain berdua-duaan sama perempuan? Pegang-pegangan lagi.” Ucap Shanum yang baru muncul.


Kembali Ke Indonesia


Shanum masih saja mendiami suaminya gara-gara kejadian dua hari yang lalu itu. Jika tidak memikirkan keceriaan Khalilla maka Ummi Khalilla ini tak sudi berada di sekitar suaminya. Ia pun hanya menimpali Riqhad seadanya saja.


Berulang kali Riqhad berusaha menjelaskan kesalahpahaman itu, bahwa ia tidak sengaja dan Riqhad tidak hanya berdua dengan Diandra namun juga ada Adzkia bersama mereka. Namun kemarahan Shanum kian menjadi karena mengetahui Diandra ternyata ditinggal permisi oleh Adzkia dengan mendadak hingga Adzkia meminta Riqhad mengantar Adik iparnya kembali ke penginapannya.


Dengan terpaksa, Shanum mengizinkan Diandra ikut ke mobil mereka. Saat dalam perjalanan, Shanum mencuri lihat dikaca depan. Ternyata Diandra sering melirik suaminya dan hal itu membuat Shanum bertambah kesal hingga memilih membuang muka dari hadapan Riqhad. Sedangkan Riqhad yang tidak peka waktu itu hanya mengemudi santai sambil berbincang kecil bersama Khalilla. Bagaimana Shanum tak kesal kalau begini keadaannya.


“Mi, Ummi nggak merasa bersalah gitu karena proyek kedua kita nggak maksimal padahal udah nambah liburannya tiga hari.” Ucap Riqhad memperhatikan Shanum yang sedang  menyisir rambut panjangnya Khalilla.


Khalilla akan mereka masukkan ke sekolah PAUD Islami mulai hari ini sesuai anjuran mama mertuanya.


“Mi, Illa nanti boboknya di rumah Oma ya. Kemaren Oma ngajakin.” Pinta Khalilla yang sudah dipakaikan kerudung biru langit sesuai seragam PAUDnya.


Shanum yang pura-pura tidak mendengar ucapan suaminya sebelumnya kini memilih menimpali Khalilla, “oke sayang. Gimana kalau Ummi juga bobok di sana? Kan kita bisa bobok bertiga sama Oma.” Jawab Shanum.


“Beneran, Mi? Asyik.” Khalilla mloncat-meloncat dengan riang.


Tiin... tin....


Mobil Mama Hasna telah sampai di depan karena hari ini mama Hasna lah yang akan mendampingi cucu pertamanya itu ke sekolah baru.


Setelah melepas Khalilla bersama Omanya, Shanum beralih menyiapkan perlengkapan kantor suaminya. Meski masih dalam mode ngambek atau setia dengan diam-diamnya, Shanum tidak juga meninggalkan kewajibannya.


“Sini, Shanum pakein dasinya.” Tawar Shanum tanpa memandangi Riqhad sambil mengambil alih dasi ditangan suaminya.


Jika sudah menyebut dirinya sendiri dengan kata ‘Shanum’ dan bukan ‘Ummi’ itu tandanya Shanum sedang kesal, marah, ngambek ataupun masih dalam mood buruk lainnya.


Riqhad semakin mendekatkan dirinya pada tubuh Shanum yang tengah serius memasangkan dasi untuknya namun tanpa mau melihat ke arahnya. Riqhad tersenyum memandangi wajah istrinya yang tidak cocok menampilkan raut cemberut itu hingga-


Cup


Rhiqad mengecup puncak hidung istrinya namun Shanum masih saja diam menerima perlakuan itu.


Setelah selesai memasangkan dasi suaminya, Shanum bergerak hendak menjauh namun tiba-tiba saja Riqhad memeluknya dan semakin merapatkan tubuh mereka. Shanum pun hanya diam sambil menunduk.


“Ngeri ya kalau wanita yang cemburu, diamnya itu loh bikin cenat-cenut.” Ucap Rhiqad berusaha menahan senyumnya.


Riqhad mengangkat dagu Shanum dengan perlahan, “apa sih? Cemburu apanya?” Kesal Shanum sambil berusaha melepaskan tangan Riqhad dari dagunya.


"Umminya Lilla yang cemburu. Jarang cemburuin Abi tapi pas sekali cemburu parahnya na’udzubillah, berlarut-larut malah padahal alasannya remeh banget. Nih contohin Abi, kalau pria yang cemburu langsung jujur ya bilang aja ‘cemburu’ gitu.” Ucap Riqhad melebarkan senyuman diwajahnya.


“Ummi nggak cemburu ya. Kesal aja lihat tangan Abi pegang-pegang wanita lain, terus wanita itu pegang bahu Abi dan juga dia natap-natap Abi. Kan Ummi jadi badmood.” Terang Shanum yang sudah luluh hingga menggantikan panggilannya.


Riqhad terkekeh.


“Ummi sayang, tetap aja itu namanya cemburu dan cemburu itu tanda cinta. Abi suka lihatnya, tapi jangan sering-sering gitu lah kan Abi yang tersiksa jadinya. Masa gara-gara hal itu proyek besar kita batal sih?”


“Proyek apa sih? Ngayal.”


“Proyek Qhanum season dua lah.”


Shanum mencubit lengan Riqhad, “sembarangan! Ummi masih ngambek ini Bi.”


“Ngambeknya tunda aja, cemburunya sampai disini aja, kesalnya simpan dulu, lain waktu lagi lah. Hari ini kita pacaran aja dan Khalilla biar di rumah mama dua hari atau seminggu juga nggak apa-apa.”


Riqhad pun memajukan wajahnya.


“Stop Bi! Stop.”


“Kenapa?”


“Itu, Khalilla lihatin kita.”


“Mana? Khalilla udah pergi.” Riqhad kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Shanum lalu-


“Itu, Khalilla di pintu mungkin botol air minumnya tinggal.”


Riqhad pun percaya dan melepas tubuh istrinya dengan tidak rela.


“Abi ketipu.” Shanum berlari.


Riqhad menganga kemudian terkekeh dan dengan semangat memilih  mengejar Shanum yang kembali usil ini.


“Awas dapat, Mi. Abi gabungin proyek Qhanum jadi season dua dan tiga sekaligus.” Balas Riqhad.


“Abi mesumnya parah. Subhanallah.” Ucap Shanum dengan terengah-engah karena berlarian menaiki tangga hingga kemudian tubuh lelahnya berhasil ditangkap oleh Riqhad.


“Ampun, Bi. Ampun. Lepasin Ummi.” Pinta Shanum sambil menahan tawanya.


“Ngaku dulu, Ummi cemburukan waktu itu?” Tanya Riqhad memastikan sambil menggelitiki pinggang istrinya.


Shanum pun mengangguk hingga Riqhad menghentikan gelitikannya, “tapi nggak lagi sih, Ummi cuma mau coba cuekin Abi aja tapi susah juga ternyata.”


“Ya iyalah susah. Abi kan ngangenin.” Jawab Riqhad sambil membopong Shanum. Shanum hanya memutar mata malas.


“Bi, nggak ke kantor?” Tanya Shanum disela langkah Riqhad membawanya.


“Abi cutinya sepuluh hari, jadi masih sisa dua hari lagi. Pas banget kan untuk proyek kita. Startnya pagi ini aja!”


“Apa?”


_________________________________________


FIN~


Kerinci, 23/09/2019

__ADS_1


__ADS_2