
PART 17 – KEBERANIAN SHANUM
Seseorang yang tidak sabar menghadapi teguran yang tidak menyenangkan, harus belajar lebih banyak mendengar.
(Ahnaf bin Qays)
_________________________________________
Setibanya di teras rumah, Shanum terkejut menyaksikan seseorang yang dikenalnya namun tak pernah ia lihat keberadaannya di rumah ini. Orang itu bersedekap dan bersandar di samping teras, menatap tajam Shanum dengan aura seperti biasanya, arrogan.
Shanum yang bergidik ngeri, berusaha menormalkan kekagetannya dengan mengucapkan salam lebih dulu, “Assalamu’alaikum, Pak.” Kata Shanum.
Mendengar salamnya tidak juga dibalas setelah sekian waktu, membuat Shanum geram entah mengapa. Mendadak dengan keberaniannya itu, ia mengangkat pandangannya seraya berkata, “Pak, megucapkan salam adalah sunnah dan menjawabnya adalah wajib! Bapak tahukan hukum wajib itu apa? Kok Bapak nggak jawab salam sih?”
Di bentak begitu, membuat wajah datar Riqhad berubah. Ia pun menutup mulutnya bermaksud menahan tawa. Aneh saja, melihat orang yang ketika bertemu dengannya pasti menunjukkan wajah menunduk, takut, malu-malu dan lainnya. Nah, untuk malam ini gadis mungil ini telah berani membentaknya hanya perkara salam yang tidak dijawab.
Riqhad pun berdehem dan menormalkan mimik wajahnya kembali. “Wa’alaikumussalam.” Ucap Riqhad ketus.
“Kalo jawab itu yang ikhlas dong Pak!” Balas Shanum lagi.
Riqhad terperangah dan specless seketika. Dia pun menatap Shanum tajam, kebetulan Shanum masih melihat ke arahnya. Di tatap begitu membuat nyali Shanum yang beberapa detik yang lalu masih memuncak dan kini dengan tiba-tiba tergeletak jatuh.
“Astagfirulloh, aku kok kayak marah-marah sih sama Pak Riqhad. Padahal bukan urusan aku juga kalau dia tidak mau menjawab salam, karena aku sudah melaksanakan kewajibanku yaitu mengucap salam lebih dulu.” Batin Shanum.
“Kamu sudah berani ya bentak saya! Oh, mungkin karena sekarang kita tidak berada di kampus sehingga kamu tidak menghormati saya.” Ucap tajam Riqhad.
“Angkat wajah kamu, tatap saya lagi. Saya mau lihat keberanian kamu beberapa menit yang lalu itu masih ada atau tidak!” Tambah Riqhad.
“Eh, A-anu i-itu a-“
“Anu, ini itu apa? Angkat wajah kamu! Saya mau lihat wajah mahasiswi saya yang berani membentak dosennya hanya karena telat membalas salam.”
Mendengar itu, keberanian Shanum yang sudah luluh lantah itu kembali mengumpul dan meningkat drastis. Ia pun membalas tajam tatapan Riqhad. “Bapak jangan membela diri, bilang telat jawab lah. Padahal Bapak memang tidak ingin menjawabnya, kan? Dosa loh Pak nggak jawab salam.” Ucap Shanum tak mau kalah.
Shanum menatap tajam Riqhad, membuat Riqhad terkekeh dan senang karena gadis ini terpancing oleh kata-katanya. Beberapa menit mereka terus berbalas tatap tanpa ada yang mau kalah untuk memutuskan pandangan. Shanum pun seakan lupa daratan, selain dia memang kesal dengan dosennya hari ini karena gara-gara pria ini ia menjadi bahan tertawaan satu kelas di jam kuliah mereka. Tidak hanya itu, Shanum juga terus-terusan diminta maju ke depan dan menjawab semua pertanyaan dari dosen ini. Bukan hanya sekali, tapi berulang-ulang kali dalam sehari. Mahasiswa lainnya pun jengah melihat Shanum terus yang maju. Entah dengan maksud apa Riqhad melakukan itu, tetapi ia seakan bahagia telah membuat Shanum kerepotan dan malu.
“Saya tampan ya?” Ucap Riqhad yang sekaligus menyadarkan Shanum.
Segera saja gadis ini menunduk dan memukul-mukul kecil kepalanya sebagai bentuk merutuki apa yang ia lakukan barusan.
__ADS_1
Mendengar ada yang ribut-ribut di pintu depan, membuat seseorang yang sudah lama berada di balik pintu itu menghentikan acara mengupingnya dan bermaksud mempersilakan mereka masuk sebab hari sudah begitu malam dan mereka ribut seakan tak kenal waktu.
Wanita paruh baya di balik pintu itu, yang sebenarnya sedang menunggu Shanum pulang karena tadi dia izin untuk menemani Ratu, Gilan lah yang memberitahunya lebih awal. Tak beberapa lama ia berada di ruang tamu, dia mendengar deru mobil Riqhad yang sudah terparkir, ia sangat bahagia dan tidak menyangka anaknya yang selalu saja menolak pulang tiba-tiba saja muncul di teras entah dengan alasan apa.
Ia yang ingin langsung memeluk dan mencium putranya memilih tidak menemui anaknya lebih dahulu sebelum anaknya masuk. Beberapa lama ditunggu anaknya juga belum berinisiatif untuk masuk, kemudian ia mengintip di balik jendela dan melihat Shanum yang diantar oleh Gilan sudah mendekati teras.
Dan siapa menyangka dia akan mendengarkan perdebatan kecil mereka yang sayang untuk di lewatkan. Ia tersenyum sendiri mendengar Shanum yang membalas ucapan Riqhad. Namun, nampaknya ia harus menghentikan keributan kecil itu, tak sabar ingin memeluk putra tampannya.
“Kenapa kamu pulangnya lama ha?” Tanya Riqhad pada sosok di depannya.
“Terserah saya lah Pak. Bukan urusan bapak juga kan?” Balas Shanum tak kalah berani. Kok Pak Riqhad tahu ya kalau aku ke luar? Batin Shanum.
“Wah, wah, kamu memang sudah berani ya dengan saya? Apa ini bentuk balasan kekesalan kamu karena saya sering menyusahkanmu di kampus?” Ucap Riqhad sambil tersenyum sinis.
“Untuk apa takut dengan Bapak? Dan satu lagi ya Pak, Bapak kok seakan menyiksa saya ya di kampus? Bapakkan Pembimbing Akademik saya, ibaratkan sekolah Bapak adalah wali kelas saya, sebagai orangtua saya. Kok Bapak malah menyusahkan anaknya sih?” Shanum berucap lagi.
Ummi Hasna yang hampir memutar knop pintu memilih menunggu sebentar karena penasaran dengan perdebatan menarik anaknya di luar sana.
“Heh, gadis kecil. Nampaknya kamu ketularan cerewetnya Oya ya. Saya tidak menyangka loh, orang seperti kamu secerewet ini. Saya kira kamu kalem dan pendiem loh.” Kata Riqhad sambil bersedekap dan bersandar di tembok.
“Bapak pernah dengar, 'jangan pernah menganggap remeh marahnya orang pendiam'.” Ucap Shanum bangga, meskipun berdebat hebat. Shanum malah menatap angin di samping dosennya. Tidak ingin kecolongan memandangi makhluk arrogan itu.
“Satu lagi, saya bukan Bapak kamu! Jangan panggil saya bapak-bapak di luar kampus. Meskipun saya Pembimbing Akademik kamu, bukan berarti saya memperlakukan mahasiswa-mahasiswa bimbingan saya lebih spesial dari yang lain. Apa lagi kamu! Kamu kan enggak butuh kebaikan saya.” Sanggah Riqhad dengan ekspresi mengejek ke arah Shanum.
“Iya, tapi yang lain enggak kayak gini juga kali. Nggak salah apa-apa dihukum lah, di suruh ngerjain ini lah, disuruh ini itu lah. Bapak marah-marahnya nggak jelas.” Gumam Shanum tak terima.
“Ya, ya, ya, sekarang kamu bebas memaki saya dan mengeluarkan uneg-unegmu kepada saya. Saya beri izin lima detik lagi. Tumpahkan semua kekesalan kamu pada saya. Saya tunggu!”
1
2
3
Shanum pun menelan ludah saking gemetarnya, ia sangat berani pada dosennya malam ini. Namun, Shanum tak ingin memperkeruh suasana. “Maafkan saya Pak, saya sudah lancang pada Bapak. Saya hanya sedikit kesal saja dengan Bapak. Nggak banyak kok. Sekali lagi maaf ya Pak.” Pinta Shanum memohon.
“Belum lima detik kamu sudah nyerah dan tidak mau melanjutkan lagi acara lancangmu?”
“Tidak pak, saya tahu saya yang salah. Saya tidak akan ngeluh lagi kalau di suruh ini itu di kelas.” Balas Shanum
__ADS_1
“Bagus, me-...."
S T O P ! S T O P !
“Apaan ini ribut-ribut udah malam!” Aksi Shanum dan Rhiqad dihentikan oleh suara cempreng milik si cerewet, yaitu Zoeya.
Zoeya yang baru kembali dari luar dan melihat dua orang yang dikenalnya ini bersitegang di depan pintu merasa harus menghentikannya segera. Ia tidak rela Shanum dibantai oleh ucapan tajam Abangnya yang satu ini, Zoeya melihat wajah lelah Shanum yang merah padam, tak tega rasanya.
“Shanum baru pulang ya, ini udah mau masuk isya lagi loh, ayo kita masuk!” Ajak Zoeya mengabaikan kekesalan Abangnya.
Seakan tersadar Shanum pun permisi dan masuk ke dalam rumah, sampai di pintu ia kaget melihat Ummi Hasna yang berdiri di sampingnya. Ia menyalami Ummi Hasna dan diikuti oleh Zoeya.
“Ummi, Shanum izin ke atas dulu ya.” Ummi Hasna pun mengangguk lembut.
Zoeya yang kini berdiri di samping mamanya, menatap Abangnya yang tidak juga berniat masuk dan malah berdiri kaku di pintu. Hingga suara keibuan menyapanya, “Riqhad nggak rindu Mama? Nggak mau peluk Mama atau nggak mau lihat Mama?”
Mata indah sang Mama pun berkaca-kaca menyambut Anaknya. Tak sanggup lagi melihat Mamanya sedih pria tampan itu pun maju dan memeluk erat Mamanya. “Aku sangat merindukan Mama, melebihi Mama. Aku ingin selalu melihat mama dan berada dipelukan mama seperti ini” kata Riqhad dengan suara seraknya.
“Abang lebay!” Ucap Oya yang kini ikut memeluk Mama dan Abangnya.
“Oya ikut berpelukan juga ya. Hehe.” tambahnya.
Rumah ini menabur aura bahagia malam ini karena kedatangan anggota yang telah lama menghilang, lebih tepatnya menghindar. Setelah acara peluk-peluk berlangsung lama, perut Riqhad pun menghasilkan bunyi unik.
Krruk... kruukk....
“Pemilik restoran yang baru launching sekarang sedang memerlukan asupan makanan toh?” Ucap Oya girang.
Pelukan mereka pun terlepas dan Riqhad hanya mendatarkan wajahnya tanpa merasa malu atau apapun. Memang apa salahnya kalau perutnya berbunyi, karena memang ia belum makan malam.
Rencananya Riqhad ingin mengunjungi restorannya tadi, tanpa sengaja melewati kedai es krim dan ia melihat mahasiswinya sedang bersama seseorang yang dia kenal. Melihat mereka yang sudah sangat akrab, entah mengapa membuat Riqhad tidak terlalu menyukainya. Sehingga Riqhad tanpa sadar mengikuti mereka, karena tahu bahwa Gilan akan mengantarkan Shanum ke rumah sebentar lagi. Riqhad pun memilih kembali lebih dahulu dan menunggu Shanum pulang ke rumah, dosen muda ini juga ingin menyampaikan sesuatu kepada mahasiswinya yang sering ia bully dijamnya mengajar, yaitu mengenai koper mereka yang belum juga mereka tukar kembali.
Jika dibicarakan di kampus, takutnya akan menimbulkan beragam asumsi oleh yang lainnya, sehingga Riqhad menunggu Shanum di teras, mengesampingkan niat awalnya ke restoran.
“Oke, Bi Ipah sepertinya telah selesai menyiapkan makan malam. Dan Riqhad harus makan malam disini tanpa bantahan.” Pinta wanita paruh baya yang sangat Riqhad sayangi ini.
Riqhad pun mengangguk saja ketika Mamanya membimbing dia ke ruang makan. “Oya nggak ganti baju?” Tanya Mamanya.
“Nanti saja lah Ma, Oya tidak bisa meremehkan pesona makanan!” Balas Zoeya santai di samping Abangnya.
__ADS_1