
PART 12 – RIQHAD POV (FLASHBACK)
Bukan mereka tak mempunyai masalah, hanya saja mereka mengetahui bahwa ada Allah sebagai tempat meminta sehingga mereka berusaha tak mengeluh di hadapan manusia.
_________________________________________
Rintik hujan perlahan-lahan mulai jatuh dari persembunyian ternyamannya, dengan lembut ia membasahi kebisingan jalan raya yang mulai menyepi ini. Petir pun menggelegar dengan gagah mengiringi jatuhnya sang hujan, senja kian mempercepat kemunculannya membingkai indah peristiwa air lembut yang turun.
Aku terdiam, masih dalam keadaan beberapa saat yang lalu, kembali terlintas di benakku peristiwa beberapa tahun lalu. Di saat aku mulai mengerti sesuatu yang terjadi pasti lah memiliki sebab dan akibat yang mengikutinya, namun tetap saja aku tidak terima dengan apa yang telah aku dengar sendiri. Serasa runtuh langit menimpa tubuhku, seorang yang amat sangat aku banggakan, teladanku, seseorang yang menjadi tujuanku dan pria yang begitu aku hormati dengan mudahnya mematahkan kepercayaan dan kebahagiaanku akan dirinya.
Pria yang sampai sekarang enggan aku sebut namanya, telah menghianati Mama. Mama begitu mencintainya, dan dia pun sama. Tetapi mengapa pria itu bisa mendua dan bahkan tidak memberitahu anak-anaknya terlebih dahulu. Anehnya Mama tidak mempermasalahkannya. Mengapa Mama harus sebaik itu?
Aku memandangi jingga sang senja dari balik kaca jendela ruanganku, setelah selesai memberi kuliah di sore ini aku memilih menyendiri untuk mencari ketenangan sebab terkadang batinku lelah dan masih meragu akan setiap tindakan yang ku ambil, aku membenci pria itu tetapi di satu sisi aku masih sangat menyayangi dan menghormatinya. Tak seharuanya aku begini.
Kembali bermunculan kejadian waktu itu, aku yang awalnya gembira karena hampir satu bulan Papa meninggalkan kami dengan alasan perjalanan bisnisnya kini kembali pulang.
Flashback~
Tendengar deru mobil yang memasuki rumah, aku yang memang sedari kecil telah didik Papa untuk selalu mengutamakan kewajiban terhadap Allah SWT dan aku selalu menirukan apa yang Papa laksanakan, sehingga sampai usia 16 tahun, aku selalu mengiringi ibadah wajib dengan ibadah sunnah lainnya, seperti sekarang aku baru saja menyelesaikan sholat tahajud.
Terdengar suara langkah Papa yang sudah memasuki rumah, aku pun bersemangat untuk menyambut kepulangannya. Ku akui diantara aku dan Bang Thoriq, Papa lebih memanjakanku. Mungkin karena aku anak laki-laki termudanya.
Membereskan sajadah serta sarung yang kukenakkan, tanpa menanggalkan peci di kepalaku, aku mengendap-endap guna mengejutkan Papa dan menyambutnya. Sampai di pintu kamar Papa dan Mama, aku yang hendak membuka terhenti ketika suara perbincangan keduanya memenuhi isi kepalaku.
“Bagaimana dengan istrimu itu, Pa? Apakah dia baik-baik saja sekarang?”
“Entahlah Ma, aku sedang pusing sekarang. Tidak tahu bagaimana menjelaskannya nanti kepada anak-anak jika mereka tahu.”
“Percaya lah Pa, anak-anak pasti mengerti nantinya. Thoriq dan Riqhad bukan anak-anak lagi sekarang dan Mama yakin mereka akan paham. Zoeya pun sama.”
“Aku tidak tahu bagaimana nanti jika mereka tahu Ma. Aku sudah mengecewakan mereka dan bahkan ini terjadi sangat mendadak.”
“Mama percaya dengan penjelasan Papa di telepon waktu itu?"
“Iya Pa, Mama sangat mengerti. Itu bukanlah salah Papa dan kalian dijebak. Papa harus kuat dan masalah ini jangan sampai diketahui anak-anak. Mama takut mereka salah sangka dan membenci Papa."
"Iya Ma, Mama jangan cemas begitu. Kami akan mencari dalang dari semua ini."
Aku menggertakkan gigi serta mengepalkan kedua tanganku, tak habis pikir dengan apa yang mereka katakan. Sebelum amarahku kian membesar dan pecah sekarang juga, aku meninggalkan kamar mereka dan tak sempat mencuri dengar untuk lebih jauh lagi. Aku benci Papa!
Sejak pagi itu, aku menjadi sosok yang berbeda. Aku marah, aku benci, aku dendam dan semua itu tertuju hanya pada satu orang, Papa. Kemudian hari-hari berganti, mereka bahkan tidak mengungkit dan membahas tentang apa yang aku dengar waktu itu. Mama dan Papa bahkan bersikap seperti biasanya, seperti tak ada masalah pun di keluarga kami.
Aku tak terima, mengapa Mama harus berhati bidadari begini, mengapa Mama tidak marah dan kecewa karena Papa menduakannya, Mama seolah mendukung Papa dan Papa pun seolah menjadi korban dan tidak bersalah dalam hal ini.
Aku benci, mengapa harus aku yang mengetahui ini, mengapa harus aku yang mendengar semuanya. Abang dan Adikku tidak tahu sehingga masih bisa bersikap seperti sebelumnya. Lainnya denganku yang mulai menghindar, menjauh, mengukir jarak dan bahkan aku telah berniat untuk pergi dari rumah.
Selanjutnya, aku memantapkan diri untuk meninggalkan kediaman keluargaku. Memilih tinggal di apartement yang diberikan Opa untukku dulu, sebagai hadiah ulang tahunku ke 17 tahun. Aku memang selalu diutamakan di keluarga kami sehingga tak heran aku menerima kemewahan yang berlebih dari saudaraku yang lain.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, aku mendapat kabar mengejutkan dari Zoeya, Adikku. Dia mengatakan bahwa pria itu sedang sekarat dan sekarang di rawat di rumah sakit.
Aku berusaha meneguhkan hatiku untuk tidak tergerak dan melangkah ke sana. Dengan sekuat tenaga aku menahan dan akhirnya berhasil. Namun, sampailah ketika Bang Thoriq menjemputku dan mengatakan bahwa pria itu telah menghembuskan nafas terakhirnya beberapa saat yang lalu.
Aku riang dalam hati karena pria brengsek itu akhirnya mendapatkan balasan atas perbuatannya, dengan terpaksa aku melangkahkan kakiku kembali ke rumah yang sangat enggan aku injak. Kalau bukan karena wajah pilu Mama aku takkan sudi kembali lagi meskipun hanya sekedar menatap bangkai yang terbujur kaku itu.
Suara isak tangis dan cucuran air mata memenuhi sudut ruangan, dalam hati aku menangis tetapi keegoisanku menahan semua itu. Aku hanya menatap datar seraya perlahan mundur dari keramaian dan meninggalkan rumah ini lebih cepat bahkan belum sempat aku melihat pria itu di kebumikan.
“Kau pantas mati! Brengsek!”Batinku seraya menjauh.
Drrrt ... drrtt ... drrt ...
Lamunanku terhenti tatkala deringan posel menggetarkan kantong celanaku. Aku memejamkan mata sejenak, menetralkan perasaan antah berantah ini. Aku mengerjap, pandanganku menjadi sedikit buram. Sepertinya aku terlalu larut dalam kenangan sehingga tanpa sadar netraku dipenuhi kabut kesedihan.
Aku meraih ponselku yang suaranya sungguh mengganggu.
(Bang Thoriq) nama yang tertera pada panggilan masuk.
“Kenapa Bang?” tanyaku langsung pada intinya.
“Kamu di mana? Kok nggak ada di rumah?” tanyaku dibalas tanya lagi oleh lawan bicaraku di seberang sana.
“Masih di kampus, sebentar lagi pulang. Ada apa?” Balasku.
“Ada hal penting yang ingin Abang sampaikan, Abang tunggu di rumahmu. Cepat pulang!” Ucapnya.
“Yang, mau pulang sekarang ya?” Tanya suara yang sangat aku kenal ini.
Aku menatapnya lembut seraya menurunkan tangannya yang bertengger di lengan kiriku. Dia merengut namun, dengan cepat aku menggenggamnya hangat. Dia tersenyum dan balas menggenggam tanganku.
“Iya, Bang Thoriq sudah menungguku di rumah, katanya ada hal yang penting ingin dibicarakan.” Jawabku seraya mengeratkan genggaman kami.
“Huh, tadinya aku mau ngajakin kamu dinner. Tapi nggak apa-apa lah, kita masih punya banyak ‘lain kali’” Balasnya yang membuat aku melebarkan senyum.
Hanya dengan Fhariza, kekasihku lah aku mampu tersenyum bebas sekarang. Selain kekasihku, Fhariza juga merupakan penyelamatku dan orang yang menemaniku di saat aku terhimpit masalah keluarga dulu.
Dia yang awalnya hanya sebatas teman kuliah, tempat aku berkeluh kesah tentang masalah keluargaku dan kepada dia lah aku menceritakan kebencian ku terhadap pria yang di cintai Mama itu yang kini telah di telan bumi. Berlanjut menjadi penyelamatku yang dengan baik hati mau bersamaku dikala aku ragu akan diriku. Hingga sekarang, ia masih bersamaku sebagai kekasihku.
“Kamu benar, kita masih punya banyak ‘lain kali.’ Kamu masih ada kelas?” Kataku menatap wajah cantiknya.
“Iya, kayaknya aku pulang agak malaman lah.” Jawabnya. Aku dan dia sama-sama berprofesi sebagai Dosen di kampus ini dengan jurusan yang berbeda, aku menyandang dosen Arsitektur sedangkan dia dengan kecantikan dan style-nya berada di bidang Fashion Design.
“Ya sudah, jangan kemalaman ya pulangnya. Dan juga nyetirnya jangan kebut-kebutan, hati-hati, oke!” Ucapku memberikan perhatian.
“Iya Yang. Kamu juga ya!”
***
__ADS_1
Di sinilah aku sekarang, aku sungguh menyesal mendengar dan menerima permintaan dari Bang Thoriq. Ku kira hal penting apa sehingga dia mau menungguku kembali dari kampus, ternyata dia ingin memanfaatkan aku seperti biasanya, yaitu menggantikan dirinya untuk meeting serta perjalanan bisnis ini.
Ini bukanlah kali pertama, tetapi kali inilah yang terasa begitu berat untukku. Bagaimana tidak, setelah memintaku pulang dan menjelaskan semua masalahnya, keesokan paginya aku sudah di berangkatkan ke Singapura ditemani sahabat se-edan-nya yang juga merupakan sekretarisnya.
Aku bahkan tidak sempat untuk menemui Fhariza dan menjelaskan keberangkatanku ini, aku yakin dia pasti marah seperti biasanya. Aku harus tahan beberapa saat, karena jika aku menghubunginya sekarang, maka pekerjaan ini akan menjadi lama dari yang seharusnya. Untuk itu aku akan memfokuskan perhatianku demi pekerjaan ini.
“Bos, meeting-nya akan di mulai setengah jam lagi. Untuk itu kita harus siap-siap dan menemui devisi perencanaan terlebih dahulu.” Terang Armadan di belakangku.
Aku sekarang masih berdiri di sudut jendela hotel, memandangi apa-apa saja yang patut di pandangi asalkan jangan memandangi wajah pria di belakangku ini, karena jika aku melihat wajahnya, maka akan mengingatkanku dengan wajah Bang Thoriq, sumber masalah yang membawaku ke sini.
Armadan dan Bang Thoriq sudah berteman semenjak mereka SMA hingga sekarang ini, meskipun dengan kedudukan yang berbeda di kantor, pertemanan mereka tidak pernah berubah, mengenai hal yang satu ini aku salut dengan mereka.
“Hmm.” Timpalku dengan tak ikhlas.
Tanpa menunggu instruksi yang kedua kali darinya, aku pun menyiapkan diri untuk meeting kedua kami, semoga saja berjalan lancar dan aku bisa kembali lebih cepat.
***
Setelah menyelesaikan meeting dan acara lainnya, aku mengistirahatkan diriku di kamar hotel. Aku membuka ponselku dan benar saja, banyak sekali panggilan masuk dan pesan dari kekasihku. Aku tergerak untuk menekan tombol 'panggil' di kontak Fhariza, namun panggilan masuk di ponselku sekarang menampilkan nama “Zoeya."
Aku yakin, panggilan dari si cerewet kali ini pasti ada hubungannya dengan Fhariza, dengan segera aku menerima panggilan masuk tersebut.
“Abaaaang!” Teriaknya heboh.
Sudah ku duga, si cerewet ini tidak akan pernah berubah. Masih seperti dulu dengan hobby teriaknya. Aku sedikit menjauhkan ponselku dari indera pendengar, mencari aman lebih baik.
“Jangan teriak, Zoo!” Balasku.
“Ini Oya, bukan kebun binatang.” Sungutnya keras.
“Iya Oya sayang, ada apa?” Tanyaku lembut.
“Oya dan teman-teman lusa akan study tour ke Singapura.” Terangnya dari seberang sana.
“Lalu?”
“Kak Fhariza yang akan menjadi pendamping kami.” Jawab Oya yang berhasil membuatku terbatuk dan terduduk di ranjang.
“Are you serious?” Tanyaku dengan ekspresi terkejut yang tidak bisa dilihat oleh Zoeya di sana.
“Ofcourse Bro. Oya yang sangat mengerti kegelisahan Abang karena belum sempat menjelaskan keberangkatan Abang yang tiba-tiba ke Singapura, jadi Oya akan bantu Abang menjelaskannya dengan Kak Fhariza. Sekarang, Abang usahakan menyelesaikan pekerjaan Abang lebih cepat. Sehingga lusanya Abang bisa liburan dengan dosen cantik itu. Bagaimana My Abang?” Terang Zoeya yang berhasil merekahkan senyumanku.
“Oya memang yang terbaik. Thanks ya Zoo, Abang akan usahakan. Sebagai imbalannya Abang akan turutin keinginan kamu setelah pulang nanti. Oke!”
“Yeeeeey! Oke BangKu!” Teriakan Zoeya sebelum ia memutuskan sambungan ponsel kami.
Nampaknya, malam ini aku akan tidur dengan nyenyak karena keesokan harinya semua pekerjaan yang ku emban dari Abang sialan itu harus diselesaikan dengan cepat tanpa masalah.
__ADS_1