
PART 48 - CINTA? APA SIH ITU?
Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim.
- Hadis -
_________________________________________
Setelah mengitari rumah dua lantai yang terkesan asri ini, Riqhad dan Shanum berdampingan kembali ke ruang tamu berharap orang yang mereka tunggu telah datang. Di sana Bu Deva masih setia bersandar di sofa dengan beberapa map ditangannya, saat ketiganya terlibat perbincangan ringan, deru mobil terdengar dari luar sana, dua orang pria dan satu orang wanita pun muncul. Bu Deva tersenyum menyambut mereka dan mempersilakan tamunya duduk.
"Maaf kami terlambat." Ucap Andes dengan sedikit membungkuk.
"Nggak apa-apa, kami juga baru sampai." Jawab Riqhad setelah menyalami Pak Andes dan atasannya.
"Ehem, langsung saja perkenalkan ini adalah adik saya namanya Radea Shareen. Dialah yang akan tinggal di sini untuk waktu satu tahun." Ucap pria di samping Andes dengan tenang.
Riqhad dan Shanum mencermati wanita tersebut. Saat Radea juga menatap ke arah Riqhad, Riqhad langsung mengalihkan pandangannya sambil beristighfar. Hal yang dilakukan Riqhad membuat perempuan bernama Radea menunduk malu dan merasa terhina. Sejelek itukah dia. Pikirnya.
"Perkenalkan saya Shanum dan di samping saya Riqhad, suami saya." Ucap Shanum dengan ramah.
Setelah menyalami Shanum, Radea ingin menyalami pria di samping Shanum yang bernama Riqhad itu, tapi hal yang dilakukan pria itu melukai harga dirinya untuk kedua kalinya.
"Riqhad. Suami Shanum." Ucap Riqhad menolak uluran tangan Radea, Riqhad menangkupkan kedua tangannya di depan dada yang mau tak mau harus Radea ikuti dengan kaku dan berusaha tersenyum ramah.
"Maaf jika tak sopan. Bukan mahram." Ucap Riqhad seraya menurunkan tangannya. Radea hanya mengangguk seolah paham.
"Baiklah, sesuai kesepakatan kemarin jadi............"
Pembicaraan pun berlangsung hingga beberapa saat. Setelah mendapatkan kata setuju, Bu Deva menyerahkan sebuah map pada Radea.
Sebelum meninggalkan rumah peninggalan Omanya yang sekarang telah disewa oleh wanita bernama Radea. Suara cempreng Zoeya terdengar dari pintu samping. Shanum dan Riqhad hampir saja melupakan keberadaan Adiknya itu.
"Shan, pemandangan di samping bagus banget! Pasti betah berlama-lama di sana, Oya jadi pengen tinggal di sini deh." Celetuknya yang belum menyadari kehadiran yang lainnya.
Saat semakin mendekat, Zoeya kembali cemberut melihat salah satu pria yang ada di sana. Dengan santai, Zoeya menduduki sofa samping Shanum dan berhadapan langsung dengan pria itu.
"Indah ya Oya. Di sana adalah spot favorit Shanum ketika pulang sekolah dulu." Jawab Shanum dengan senyuman dibalik cadarnya itu.
Zoeya mengangguk menyetujui ucapan Shanum seraya memperhatikan sosok wanita yang belum diketahuinya. Mengerti akan tatapan Zoeya, Shanum pun berkata. "Oya, kenalin ini Radea. Dia yang akan tinggal di sini."
Radea yang disebut namanya oleh Shanum itupun mengulur tangannya dan menyalami Oya. "Radea." Ucapnya singkat.
"Zoeya, adik Iparnya Shanum." Balas Zoeya dengan wajah cerah.
***
Setelah menyelesaikan urusan mengenai penyewaan rumah Omanya, hari-hari di Singapura dilewati oleh Shanum, Riqhad dan Zoeya dengan mengunjungi tempat wisata unik seperti: Esplanade, Gardens by the Bay, Art Science Museum, Singapore Botanic Garden, Jurong Bird Park, Vivo City, Chinese and Japanese Gardens, Arab Street, Masjid Sultan, SAM, dan terakhir ke Sentosa Island.
Memang sifatnya manusia yang tak pernah puas akan sesuatu, begitu pun Zoeya. Meski telah diajak mengunjungi banyak tempat bagus, ia masih saja ingin mengunjungi yang lainnya. Karena terbatas waktu dan urusan mereka di Singapura juga telah rampung, hingga terpaksa Zoeya menelan hasrat jalan-jalannya itu.
Setelah lelah dari jalan-jalan hari ini, mereka pun menjajakan beragam jenis makanan di Katong: Surganya Makanan Khas Melayu dan Seafood untuk memanjakan perut masing-masing.
Saat berada dalam mobil setelah selesai berbelanja keperluan besok, tiba-tiba Zoeya menyeletuk. "Bang, emang apa hubungannya Radea sama cowok ngeselin itu?" Tanyanya.
Riqhad yang sedang fokus mengemudi, memperhatikan adiknya dari spion depan sebelum menjawab. "Pertama, cowok ngeselin itu punya nama dan namanya adalah Mero. Kedua, hubungan mereka adalah kakak-adik sesuai yang diucapkan Mero hari itu. Ketiga, kamu jangan benci orang lama-lama, ntar kamu jadi suka, kan kasihan bakal calon adik ipar Abang yang di Indonesia." Jawab Riqhad setengah bercanda.
Shanum yang mendengar jawaban suaminya itu tertawa lucu. Riqhad memandangi Shanum yang ia tahu sekarang sedang terkekeh dibalik cadarnya. Kemudian ia megelus pipi Shanum menggunakan tangan kirinya. Gemas.
"Ish, abang mah. Pertama, Oya nggak mau tahu siapa nama dia. Kedua, Oya nggak akan suka sama tuh orang. Ketiga, meskipun Oya belum siap nikah sekarang, Abang tenang aja! Kak Aufar tetap menjadi kandidat pertama dan terkuat untuk Oya." Jawab Zoeya dengan keyakinan.
"Oya, kedepannya kan siapa yang tahu. Urusan rejeki, maut dan jodoh adalah rahasia Allah sang Maha membolak-balikkan hati hambaNya. Kita takkan tahu bagaimana akhirnya nanti, jadi jika Oya menginginkan sesuatu maka seringlah meminta pada Allah dan sematkan dia selalu dalam doa Oya." Ucap Shanum yang diangguki Riqhad.
Zoeya berusaha tersenyum dan mencerna perkataan kakak iparnya itu. Benar, ia harus sering meminta pada Allah.
Saat mengalihkan pandangannya ke luar, Zoeya melihat seseorang yang dikenalnya. Apakah benar yang ia lihat? Tapi bukankah mereka kakak beradik? Kenapa interaksinya bisa terlihat aneh dimata Zoeya? Pikir Zoeya.
Tak ingin mencampuri urusan orang lain, Zoeya memilih mengacuhkannya saja karena menurutnya itu tidak penting.
"Tapi, Abang kayaknya meragukan cerita Pak Andes deh." Tiba-tiba Riqhad berkata.
"Cerita apa Bang?" Tanya Oya saat sosok yang ia lihat semakin menjauh.
"Katanya, Radea sedang hamil dan suaminya sekarang di negara lain untuk urusan bisnis. Tapi, mengapa Mero memilih meninggalkan adiknya di Singapura sedangkan mereka asli Indonesia dan menetap di sana? Kan aneh." Ucap Riqhad sambil terus menjalankan mobilnya.
Mobil yang dikemudi Riqhad pun hampir mencapai tempat tujuannya. "Jangan-jangan mereka bohong, Bang." Tebak Oya.
Berdasarkan perkataan Abangnya dan apa yang ia lihat tadi, bisa jadi Mero dan Radea hanya mengaku-ngaku sebagai saudara.
"Terus untuk apa mereka bohong?" Tanya Riqhad saat telah menonaktifkan kontak mobilnya.
Zoeya hendak menebak tapi takut jatuhnya sebagai fitnah hingga ia hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Sudahlah, bukan urusan kita bagaimana hubungan mereka, kita juga tidak boleh mencampuri privasi orang lain, selama tidak mengganggu kita dan merugikan kita itu tak perlu kita pikirkan." Jawab Riqhad.
Zoeya hanya mengangguk membenarkan meski dibenaknya tertancap banyak sekali dugaan buruk.
"MasyaAllah, tertidur dianya." Ucap Riqhad melihat Shanum yang sudah terlelap di bangku samping. Pantasan saja sedari tadi ia hanya diam tak bersuara.
"Kamu bawain tas belanjaannya. Abang mau gendong Shanum." Titah Riqhad pada Adiknya.
"Nggak dibangunin aja, Bang? Shanum kan udah berat sekarang." Jawab Zoeya seraya mengeluarkan barang belanjaan mereka.
"Enggak, biar Abang gendong aja. Udah biasa Abang mah." Jawabnya santai seraya membawa istrinya.
Zoeya pun mengikuti keduanya setelah menenteng belanjaan. "Kapan ya, Kak Aufar gendong Zoeya kayak gitu?" Batin Zoeya yang selalu saja melihat romantisme Abang dan kakak iparnya.
Setelah dua hari menghabiskan waktu mengelilingi Singapura dan mengunjungi tempat-tempat yang biasa dikunjungi Shanum saat tinggal di sini. Hari ini adalah hari terakhir sebelum kembali ke Indonesia. Shanum dan Zoeya tengah asyik berbelanja oleh-oleh untuk keluarga dan sahabatnya. Dengan sabar, Riqhad mengikuti keduanya dan rela dijadikan tukang bawa barang.
Saat sampai di kasir, Zoeya yang menawari diri untuk mengantri tiba-tiba menangkap sosok tak asing, orang itu adalah Mero. Mero menggunakan kacamata hitam dan juga masker diwajahnya. Meski yang nampak hanya matanya, Zoeya seolah tahu siapa dibalik hoodie itu.
"Hoy, cowok ngeselin. Ngapain lo pake kaca mata hitam sama masker gitu? Kayak artis yang takut ketahuan sama fansnya aja." Celetuk Zoeya dengan pandangan sinisnya.
__ADS_1
Mero yang mendengar suara tersebut hanya memutar matanya malas seraya pergi meninggalkan Zoeya setelah mengangguk menyapa Riqhad dan Shanum yang berada tak jauh darinya.
"Lah, sok budek loe!" Teriak Zoeya yang ia yakini didengar oleh cowok ngeselin bernama Mero itu.
Saat menunggu Bang kasir menyensus satu per satu belanjaannya. Zoeya menjadi penasaran dengan majalah yang ada di rak samping kasir, di cover majalah tersebut terpampang potret seorang pria yang baru saja ia temui.
"Isrofa Meroja, memilih keluar dari bandnya kemudian beralih menjadi model dan ternyata ia adalah pemilik rumah produksi dan IM Street." Bacaan dicover itu.
"Pantasan saja dia pake kacamata hitam sama masker." Gumam Zoeya sok paham.
"Baca apa?" Tanya Riqhad pada adiknya.
Zoeya hanya menggeleng dan meletak kembali majalah tersebut.
***
Dua bulan berlalu
Shanum kembali ke kampus dan mengikuti perkuliahan di semester empatnya seperti biasa. Meski perutnya baru nampak sedikit, staff, Dosen dan mahasiswa di Unnusa telah mengetahui mengenai pernikahannya dengan Riqhad hingga pandangan mereka pada Shanum telah berbeda dari sebelumnya.
Apalagi sekarang setelah kembali dari libur semester, Shanum menggunakan cadar. Meskipun di fakultas hanya dia sendiri yang bercadar namun tak ada pandangan mengejek terhadapnya. Alhamdulillah ia tidak dicerca dengan beragam ucapan yang sering diterima oleh wanita bercadar di luar sana.
"Shan, IP loe berapa semester kemarin?" Tanya Nabil saat jam pertama mereka selesai.
"Alhamdulillah, nggak ada yang jatuh kok." Jawab Shanum.
"Berapa? Berapa? Ada C nya ngga?" Tukas Nabil lagi.
Shanum menggeleng sebagai jawaban.
"Kalo B ada nggak?" Tanyanya lagi. Kembali Shanum menggeleng.
"Woow, fantastic 4 ya berarti!" Tebak Nabil dengan yakin dan tanpa sadar menggebrak meja.
Shanum hanya diam sebagai jawaban. Naina dan Devia hanya menggeleng melihat kelakuan absurt Nabil.
"Shan, ada yang nyariin tuh!" Ucap teman sekelasnya.
Shanum pun memutar tubuhnya dan melihat siapa gerangan yang mencarinya. Zoeya yang ditemani seorang wanita berkerudung dengan kacamata besar memandang risih ke dalam kelas Shanum.
Aufar diam-diam mencuri lihat ke arah Zoeya, merasa tertarik menebak alasan Zoeya mencari Shanum hingga langsung menghampiri ke kelas. Yang ia tahu, Zoeya sangat anti menginjakkan kakinya di gedung fakultas lain, katanya jika ia mengunjungi fakultas lain maka ia akan merasa sedikit menyesal dengan jurusan yang ia pilih. Ada-ada saja.
"Wah, ada adik Ipar Shanum nih. Ada yang bisa dibantu nggak cantik?" Nabil menghampiri Zoeya dan gadis berkaca mata di samping Zoeya.
Zoeya menunduk malu dan berkata, "Oya mau ketemu Shanum."
Shanum pun berdiri dan menghampiri Zoeya diikuti oleh Naina dan Devia. Setelah Shanum berada di dekatnya, Zoeya langsung memeluk Shanum dengan erat. Hal itu membuat keberadaan Nabil tak berarti dan terpaksa menyingkir hingga menghampiri Aufar yang masih tidak mengalihkan padangannya dari Zoeya.
"Dia kenapa ya, Far?" Tanya Nabil.
Tak mendapat tanggapan dari Aufar membuat Nabil memandang ke arah sahabatnya itu, yang ia temui adalah pandangan teduh Aufar. "Secinta inikah Aufar ke Zoeya?" Pikir Nabil.
"Kayaknya gue tahu penyebabnya." Gumam Aufar dengan terus menatap kepergian Shanum dan Zoeya yang kian menjauh.
***
Riqhad tengah serius memantau progress pembangunan gedung sekolah yang ingin dibangun oleh Shanum sesuai cita-cita Oma Syafiah. Setelah menutup laptopnya, pintu kamarnya terbuka dan memunculkan sosok Shanum. Shanum baru kembali dari dapur, katanya ingin memakan sesuatu dan tidak ingin mengganggu konsentrasi suaminya.
Riqhad jadi teringat kejadian siang tadi, saat dia menjemput Shanum di kampus, ia melihat Shanum berubah menjadi ibu hamil yang super sekali. Bagaimana tidak? Ia melihat istrinya yang berisi itu dengan gagah berani membela Zoeya dari beberapa wanita lainnya yang Riqhad tahu adalah teman dari Adiknya dulu. Ya, dulu sebab sudah lama ia tak melihat Zoeya akrab lagi dengan mereka.
Saat ingin menghampiri mereka, Aufar mencegatnya. "Jangan Bang! Percayakan pada istri loe itu, awalnya gue yang ingin melabrak Molly dan kawan-kawannya karena telah menfitnah Zoeya yang tidak-tidak. Tapi, saat gue ingin beraksi istri loe melarang dan katanya biar diselesaikan dengan sistem perempuan. Gue penasaran sistem yang bagaimana itu. Hehe."
Mereka berdua pun melihat Shanum yang melancarkan kata-katanya hingga membuat Molly tak berkutik dan malah menampilkan raut menyesalnya. Sampai akhirnya Molly mengulur tangannya dan memeluk Zoeya dengan erat.
Hal itu membuat senyum di wajah Riqhad kian merekah. "Molly fitnah Zoeya yang gimana emangnya?" Tanya Riqhad tanpa melihat ke arah Aufar.
"Dia ngaku bahwa gue adalah pacarnya dan nuduh Zoeya ngerebut gue darinya. Tak sampai di situ, dia fitnah Zoeya udah ngejebak gue dan ehem... tidur berdua." Jawab Aufar.
Riqhad pun langsung memindah arah matanya hingga menatap Aufar tajam.
"Ya jelaslah itu bohong, Bang. Mana berani gue pacaran sama cewek lain sedangkan aroma lampu hijau udah mau menghampiri gue. Dan, meski pun ingin Zoeya... Gue juga nggak mungkin bertindak jauh dengan merendahkan derajat mulia seorang wanita." Jawab Aufar.
Flashback Off
"Gimana, udah makannya?" Tanya Riqhad menyambut kedatangan Shanum.
Shanum menggeleng dan menjatuhkan kepalanya di bahu Riqhad. "Kenapa? Katanya mau makan sesuatu?" Tanya Riqhad sambil mengelus kepala istrinya.
"Nggak jadi, Shanum mau tidur sambil di peluk Abang sampai pagi aja." Pintanya dengan polos dan nada suara manja.
Tanpa ia tahu, suara lembut Shanum memancing hal liar dari tubuh Riqhad. Dengan sekuat tenaga Riqhad menahan keinginan terpendamnya itu, meski diperbolehkan oleh Dokter tapi tak mungkin ia meminta lagi pada istrinya padahal kemarin sudah dilunasi oleh Shanum.
"Bang. Abang masih banyak kerjaan ya?" Lirih Shanum yang melihat Riqhad yang terdiam.
Mendengar nada sedih tersebut membuat Riqhad menggeleng cepat dan langsung memindahkan kepala istrinya ke dalam dekapannya. Menenggelamkan wajah Shanum ke dadanya agar Shanum tak melihat cahaya matanya, karena Shanum pasti bisa menebak keinginannya meski lewat tatapan mata.
"Nggak kok. Udah beres kerjaan Abang. Yaudah kita tidur." Jawab Riqhad dengan suara yang sedikit serak yang kemudian diangguki Shanum.
Saat mengatur posisinya, tanpa sengaja Shanum tersentuh sesuatu yang membuat kedua pipinya merekah seketika. Riqhad pun sama, ia sedikit menjauh dari Shanum sambil berpaling muka. Malu.
"Eeh, itu. Abang ke kamar mandi bentar ya! Kamu baring aja duluan, ntar Abang nyusul." Ucap Riqhad.
Namun, saat Riqhad ingin beranjak, Shanum menahan lengannya seraya menatap suaminya dalam.
Deg
Meski Shanum tak pernah berinisiatif lebih dulu semenjak kali pertama dulu, maka malam ini berbeda. Ia merasa bersalah melihat Riqhad tersiksa begitu. Dengan tersenyum manis, ia pun mengangguk.
"Shanum juga mau, Bang. Jadi, nggak usah ke kamar mandi ya." Ucap Shanum yang mengalun indah di indera pendengar Riqhad.
Setelah beberapa kali berkedip, Riqhad pun memutar kembali tubuhnya dan menyambut tangan Shanum dengan lembut, menuntun istri tercinta melantunkan do'a sebelum membuat malaikat cemburu pada mereka.
__ADS_1
***
Beberapa hari terakhir ini, Zoeya terlihat menjauhi Aufar. Contohnya saja saat pria itu menghampirinya dijam kosong kelas mereka, Zoeya pura-pura sedang asyik mengobrol dengan Molly dan mengabaikan Aufar. Molly memandang bersalah pada Aufar dan dengan terpaksa Aufar membatalkan niatnya untuk mengajak Zoeya nanti.
Kemudian, saat ia tahu Zoeya tak dijemput pak Udin karena Pak Udin sedang sakit, Aufar pun berinisiatif untuk mengantar Zoeya pulang tapi dengan mendadak Zoeya meninggalkannya di parkiran dan lebih memilih mengikuti mobil Molly.
Aufar menjadi kesal sendiri, mentang-mentang mereka telah berbaikan bukan berarti keberadaan Aufar tak diperlukan lagi kan? Zoeya juga tahu bahwa Aufar dan Molly tidak memiliki hubungan apa-apa, jadi apa penyebab Zoeya menghindarinya begini?
Hingga sampai di cafenya yang baru launching beberapa hari yang lalu ini, Aufar masih saja murung. Padahal niatnya ia ingin membawa Zoeya kemari dan menjadi orang pertama yang mencicipi menu baru mereka.
Saat masih terdiam dalam lamunannya, ia melihat seseorang yang tak asing dimatanya memasuki cafenya ini. Sekarang Aufar memang berada di salah satu kursi pelanggan dengan menu baru mereka yang membentang di atas meja.
Sosok yang baru muncul itu pun sama kagetnya dengan Aufar. Hingga dengan tergesa pria yang pernah menjadi objek bullyan Aufar di bangku sekolah dulu itu pun meninggalkan cafe dengan segera serta mengabaikan panggilan dari karyawan Aufar. Sosok itu terlihat sangat berbeda dengan apa yang diingatkan oleh Aufar.
Ya, Aufar akui ia sangatlah nakal dulu. Setidaknya sebelum kedatangan Zoeya dihidupnya. Zoeya menggantikan semua yang ia butuhkan termasuk menjadi peran pengganti pria tadi sebagai objek bullyan Aufar dulu. Ya, dulu sekali. Sebelum keduanya menyadari mengenai perasaan masing-masing.
"Isrof. Gue yakin itu Isrof, beda banget. Gue harus nemuin dia dan minta maaf atas kelakuan gue dulu." Batin Aufar.
Dengan wajah yang tidak tenang Aufar mulai mencicipi menu baru di cafenya ini. Beberapa pelanggan lainnya hanya menatap Aufar penuh minat tapi tak berani mendekat karena melihat Aufar yang sepertinya pikirannya tak berada di tempat. Sesekali Aufar memilih memainkan ponselnya dan menstalker akun Zoeya, sumber pikirannya.
"Tiada yang lebih indah dari dua raga yang saling menjaga, tidak bertemu namun saling menunggu, tidak berpapasan namun saling mendoakan #kutipanpena."
Aufar terhenti ketika melihat postingan dari ig Zoeya.
"Saling mendoakan. Doa, ya? Kenapa dia posting kata-kata ini ya?" Gumam Aufar penasaran.
Kemudian di bawah postingan Zoeya, Aufar melihat postingan dari seorang Ustadz yang membuatnya tertarik untuk menyimak lebih lanjut lagi.
"Saudaraku! bila anda terlanjur terbelenggu cinta kepada seseorang, padahal ia bukan suami atau istri anda, ada baiknya bila anda menguji kadar cinta anda. Kenalilah sejauh mana kesucian dan ketulusan cinta anda kepadanya. Coba anda duduk sejenak, membayangkan kekasih anda dalam keadaan ompong peyot, pakaiannya compang-camping sedang duduk di rumah gubuk yang reot. Akankah rasa cinta anda masih menggemuruh sedahsyat yang anda rasakan saat ini?
Para ulama' sejarah mengisahkan, pada suatu hari Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu 'anhu bepergian ke Syam untuk berniaga. Di tengah jalan, ia melihat seorang wanita berbadan semampai, cantik nan rupawan bernama Laila bintu Al Judi. Tanpa diduga dan dikira, panah asmara Laila melesat dan menghujam hati Abdurrahman bin Abi Bakarradhiallahu 'anhu. Maka sejak hari itu, Abdurrahman radhiallahu 'anhu mabuk kepayang karenanya, tak kuasa menahan badai asmara kepada Laila bintu Al Judi. Sehingga Abdurrahman radhiallahu 'anhu sering kali merangkaikan bair-bait syair, untuk mengungkapkan jeritan hatinya. Berikut di antara bait-bait syair yang pernah ia rangkai:
Aku senantiasa teringat Laila yang berada di seberang negeri Samawah
Duhai, apa urusan Laila bintu Al Judi dengan diriku?
Hatiku senantiasa diselimuti oleh bayang-bayang sang wanita
Paras wajahnya slalu membayangi mataku dan menghuni batinku.
Duhai, kapankah aku dapat berjumpa dengannya,
Semoga bersama kafilah haji, ia datang dan akupun bertemu.
Karena begitu sering ia menyebut nama Laila, sampai-sampai Khalifah Umar bin Al Khattab radhiallahu 'anhu merasa iba kepadanya. Sehingga tatkala beliau mengutus pasukan perang untuk menundukkan negeri Syam, ia berpesan kepada panglima perangnya: Bila Laila bintu Al Judi termasuk salah satu tawanan perangmu (sehingga menjadi budak), maka berikanlah kepada Abdurrahman radhiallahu 'anhu. Dan subhanallah, takdir Allah setelah kaum muslimin berhasil menguasai negeri Syam, didapatkan Laila termasuk salah satu tawanan perang. Maka impian Abdurrahmanpun segera terwujud. Mematuhi pesan Khalifah Umar radhiallahu 'anhu, maka Laila yang telah menjadi tawanan perangpun segera diberikan kepada Abdurrahman radhiallahu 'anhu.
Anda bisa bayangkan, betapa girangnya Abdurrahman, pucuk cinta ulam tiba, impiannya benar-benar kesampaian. Begitu cintanya Abdurrahman radhiallahu 'anhu kepada Laila, sampai-sampai ia melupakan istri-istrinya yang lain. Merasa tidak mendapatkan perlakuan yang sewajarnya, maka istri-istrinya yang lainpun mengadukan perilaku Abdurrahman kepada 'Aisyah istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang merupakan saudari kandungnya.
Menyikapi teguran saudarinya, Abdurrahman berkata: "Tidakkah engkau saksikan betapa indah giginya, yang bagaikan biji delima?"
Akan tetapi tidak begitu lama Laila mengobati asmara Abdurrahman, ia ditimpa penyakit yang menyebabkan bibirnya "memble" (jatuh, sehingga giginya selalu nampak). Sejak itulah, cinta Abdurrahman luntur dan bahkan sirna. Bila dahulu ia sampai melupakan istri-istrinya yang lain, maka sekarang iapun bersikap ekstrim. Abdurrahman tidak lagi sudi memandang Laila dan selalu bersikap kasar kepadanya. Tak kuasa menerima perlakuan ini, Lailapun mengadukan sikap suaminya ini kepada 'Aisyah radhiallahu 'anha. Mendapat pengaduan Laila ini, maka 'Aisyahpun segera menegur saudaranya dengan berkata:
"Wahai Abdurrahman, dahulu engkau mencintai Laila dan berlebihan dalam mencintainya. Sekarang engkau membencinya dan berlebihan dalam membencinya. Sekarang, hendaknya engkau pilih: Engkau berlaku adil kepadanya atau engkau mengembalikannya kepada keluarganya. Karena didesak oleh saudarinya demikian, maka akhirnya Abdurrahmanpun memulangkan Laila kepada keluarganya. (Tarikh Damaskus oleh Ibnu 'Asakir 35/34 & Tahzibul Kamal oleh Al Mizzi 16/559)
Bagaimana saudaraku! Anda ingin merasakan betapa pahitnya nasib yang dialami oleh Laila bintu Al Judi? Ataukah anda mengimpikan nasib serupa dengan yang dialami oleh Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu 'anhu?
Tidak heran bila nenek moyang anda telah mewanti-wanti anda agar senantiasa waspada dari kenyataan ini. Mereka mengungkapkan fakta ini dalam ungkapan yang cukup unik:Rumput tetangga terlihat lebih hijau dibanding rumput sendiri.
Anda penasaran ingin tahu, mengapa kenyataan ini bisa terjadi?
Temukan rahasianya pada sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berikut ini:
"Wanita itu adalah aurat (harus ditutupi), bila ia ia keluar dari rumahnya, maka setan akan mengesankannya begitu cantik (di mata lelaki yang bukan mahramnya)." (Riwayat At Tirmizy dan lainnya)
Orang-orang Arab mengungkapkan fenomena ini dengan berkata:
Setiap yang terlarang itu menarik (memikat).
Dahulu, tatkala hubungan antara anda dengannya terlarang dalam agama, maka setan berusaha sekuat tenaga untuk mengaburkan pandangan dan akal sehat anda, sehingga anda hanyut oleh badai asmara. Karena anda hanyut dalam badai asmara haram, maka mata anda menjadi buta dan telinga anda menjadi tuli, sehingga andapun bersemboyan: Cinta itu buta. Dalam pepatah arab dinyatakan:
Cintamu kepada sesuatu, menjadikanmu buta dan tuli.
Akan tetapi setelah hubungan antara anda berdua telah halal, maka spontan setan menyibak tabirnya, dan berbalik arah. Setan tidak lagi membentangkan tabir di mata anda, setan malah berusaha membendung badai asmara yang telah menggelora dalam jiwa anda. Saat itulah, anda mulai menemukan jati diri pasangan anda seperti apa adanya. Saat itu anda mulai menyadari bahwa hubungan dengan pasangan anda tidak hanya sebatas urusan paras wajah, kedudukan sosial, harta benda. Anda mulai menyadari bahwa hubungan suami-istri ternyata lebih luas dari sekedar paras wajah atau kedudukan dan harta kekayaan. Terlebih lagi, setan telah berbalik arah, dan berusaha sekuat tenaga untuk memisahkan antara anda berdua dengan perceraian:
"Maka mereka mempelajari dari Harut dan Marut (nama dua setan) itu apa yang dengannya mereka dapat menceraikan (memisahkan) antara seorang (suami) dari istrinya." (Qs. Al Baqarah: 102)
Mungkin anda bertanya, lalu bagaimana saya harus bersikap?
Bersikaplah sewajarnya dan senantiasa gunakan nalar sehat dan hati nurani anda. Dengan demikian, tabir asmara tidak menjadikan pandangan anda kabur dan anda tidak mudah hanyut oleh bualan dusta dan janji-janji palsu.
Mungkin anda kembali bertanya: Bila demikian adanya, siapakah yang sebenarnya layak untuk mendapatkan cinta suci saya? Kepada siapakah saya harus menambatkan tali cinta saya?
Simaklah jawabannya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Biasanya, seorang wanita itu dinikahi karena empat alasan: karena harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya dan karena agamanya. Hendaknya engkau menikahi wanita yang taat beragama, niscaya engkau akan bahagia dan beruntung." (Muttafaqun 'alaih)
Dan pada hadits lain beliau bersabda:
"Bila ada seorang yang agama dan akhlaqnya telah engkau sukai, datang kepadamu melamar, maka terimalah lamarannya. Bila tidak, niscaya akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di muka bumi." (Riwayat At Tirmizy dan lainnya)
Cinta yang tumbuh karena iman, amal sholeh, dan akhlaq yang mulia, akan senantiasa bersemi. Tidak akan lekang karena sinar matahari, dan tidak pula luntur karena hujan, dan tidak akan putus walaupun ajal telah menjemput.
"Orang-orang yang (semasa di dunia) saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa." (Qs. Az Zukhruf: 67)
Saudaraku! Cintailah kekasihmu karena iman, amal sholeh serta akhlaqnya, agar cintamu abadi. Tidakkah anda mendambakan cinta yang senantiasa menghiasi dirimu walaupun anda telah masuk ke dalam alam kubur dan kelak dibangkitkan di hari kiamat? Tidakkah anda mengharapkan agar kekasihmu senantiasa setia dan mencintaimu walaupun engkau telah tua renta dan bahkan telah menghuni liang lahat?
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tiga hal, bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain dari keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan ke dalam kobaran api." (Muttafaqun 'alaih)
Saudaraku! hanya cinta yang bersemi karena iman dan akhlaq yang mulialah yang suci dan sejati. Cinta ini akan abadi, tak lekang diterpa angin atau sinar matahari, dan tidak pula luntur karena guyuran air hujan.
__ADS_1
Sumber: https://muslimah.or.id/553\-cinta\-sejati\-dalam\-islam.html
Setelah membaca deretan kalimat panjang tersebut, Aufar pun beristighfar beberapa kali kemudian meresapi kalimat demi kalimat tersebut yang sangat menyentuh hatinya.