
PART 40 - KABAR BAIK DATANG DARI-NYA
“Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai, kamar-kamarnya di surga nanti terlihat seperti bintang yang muncul dari timur atau bintang barat yang berpijar. Lalu ada yang bertanya, “siapa mereka itu?”, “mereka itu adalah orang-orang yang mencintai karena Allah ‘Azzawajalla.”
(HR. Ahmad)
_________________________________________
Setelah mengucapkan kalimat pengakuan atas diri Shanum, Riqhad langsung membawa istrinya menuju Rumah Sakit tak jauh dari lokasi kuliah lapangan mereka. Meninggalkan keterkejutan bagi mahasiswa, para pekerja dan orang yang menyaksikan kepanikannya. Untung saja ada rekan sesama dosennya, Dicky. Dicky yang baru saja memarkirkan mobilnya di depan lokasi menatap bingung kedatangan Riqhad bersama seorang perempuan dalam gendongannya, hingga tanpa permisi Riqhad memasukkan tubuh Shanum dalam mobil tersebut.
Dicky semakin tercengang melihat aksi sahabatnya itu, hingga tanpa sadar ia mengangguk patuh mengikuti perintah Riqhad untuk memacukan mobilnya menuju Rumah Sakit terdekat.
"Cepat, Dick! Kasian bini gue!" Perintah Riqhad lagi.
Kepala Dicky bertambah pening mendengar ucapan Riqhad barusan, bagaimana bisa ia menyebutkan perempuan yang tengah pingsan itu sebagai istrinya? Setahu Dicky, wanita itu adalah salah satu mahasiswi Arsitektur sekaligus Asdosnya Riqhad.
Ia menambah kecepatan mobilnya sambil terus menatap kecemasan Riqhad dari balik kaca dalam mobilnya, kalau sekedar pingsan biasa untuk apa Riqhad sampai panik begini? Bukankah masih banyak orang lain yang bisa membawanya dan mengapa harus Riqhad? Dicky hanya bisa bungkam, tak ingin menambah kepanikan Riqhad ataupun menegur aksinya ini.
Terlihat dikaca mobil bagaimana cara Riqhad memangku wanita berkerudung itu dengan sayang, bagaimana ia memercikkan air ke wajah perempuan tersebut untuk menyadarkannya bahkan sesekali Riqhad dengan berani mengecup dahi perempuan itu sambil mengelus pipinya.
Dicky hanya bisa menelan ludah, tak bisa berkata-kata lagi. Tindakan Riqhad sungguh aneh dan Dicky hanya mampu mengikuti setiap perintah sahabatnya yang terlihat begitu kacau.
Sampai di Rumah Sakit, Dicky membukakan pintu belakang mobilnya dan mempersilakan Riqhad mengangkat seseorang yang ia sebut sebagai 'bininya' itu hingga ia menemani Riqhad sampai memperoleh ruangan untuk Shanum.
Saat mengetahui seorang Dokter pria lah yang akan menangani Shanum, Riqhad langsung minta digantikan dengan Dokter bergenre wanita saja. Dicky hanya bisa menggelengkan kepalanya, bingung dengan sikap Riqhad yang tidak terkontrol seperti ini hanya demi seorang perempuan.
"Maaf Sus, saya ingin Dokter wanita saja yang menanganinya." Ulang Riqhad lagi dengan tegas.
Beberapa saat kemudian Dokter wanita pun memasuki ruang Shanum. Dokter tersebut meminta Riqhad dan Dicky untuk menunggu di luar ruangan. Awalnya Riqhad kembali berulah sehingga dengan terpaksa Dicky menyeretnya keluar.
Dan di sinilah mereka sekarang, menunggu Dokter menangani Shanum di dalam sana dengan Riqhad yang terus bergerak gelisah di depan pintu ruangan dan Dicky yang sedang menelepon Asdosnya agar mengambil alih mahasiswa mereka yang masih melakukan observasi lapangan agar tetap melanjutkan kegiatan tersebut.
Kemudian Devia, Naina, Aufar dan Nabil muncul bersama beberapa orang lainnya. Mereka berinisiatif mengikuti Riqhad karena ikut mencemaskan keadaan Shanum, sahabat mereka.
"Gimana keadaan Shanum, Pak?" Tanya Devia dengan wajah cemas.
Riqhad memijit pelipisnya seraya menggeleng lemah. Ia kalut menyaksikan istrinya pingsan hingga dengan tak sadar dia telah membongkar pernikahan yang mereka rahasiakan sebelum waktunya tiba. Tapi tak mengapa, Riqhad setengah lega karena semakin banyak orang yang mengetahui hubungannya dengan Shanum maka kedepannya mereka tidak usah sembunyi-sembunyi lagi.
Dicky yang tidak tahan lagi mengenai keadaan saat ini pun bertanya atas rasa penasarannya. "Riqh, perempuan itu siapanya loe sih? Kok cemas banget?"
Riqhad pun mengangkat wajahnya seraya menjawab, "Shanum istri gue, Dick. Kita nikah udah hampir masuk dua bulan."
Dicky melebarkan pupil matanya, tak percaya mendengar pengakuan Riqhad. Setahu Dicky, Riqhad memiliki kekasih yaitu Fhariza. Jadi bagaimana bisa menikahi mahasiswinya. Lantas hubungannya dengan Fhariza bagaimana.
Tak hanya Dicky, Nabil yang tidak tahu menahu mengenai Shanum yang tiba-tiba pingsan itu pun ikutan kaget. Tak heran sih, jika Pak Riqhad telah menikah karena awalnya Nabil pernah melihat Dosennya itu menggunakan cincin dijari sebelah kanannya yang seperti cincin kawin. Juga ia merasa janggal saat tak sengaja memperhatikan jari Shanum yang tersemat benda mungil serupa.
"Terus kok loe nikah nggak ngundang gue sih, Riqh? Orang-orang aja pada tahunya loe pacaran sama Fhariza." Ucap Dicky lagi masih penasaran.
Riqhad pun berpindah hingga duduk di samping Dicky, menjelaskan pada Dicky dengan bahasa yang simpel. "Kita nikahnya waktu gue izin ke Bandung. Setelah nikahan sepupu gue, gue dan Shanum ikutan nikah juga. Meski dadakan, gue sangat bahagia memiliki Shanum sebagai istri gue. Dia anugerah terindah buat gue, Dick." Jawab Riqhad sambil memikirkan moment indah pernikahannya.
Mereka yang berada di sekitar Riqhad itu pun hanya bisa tersenyum mendengar penuturan Riqhad. Tak menyangka Riqhad telah menikah dan istrinya adalah mahasiswinya sendiri, terlebih lagi Asdosnya. Mereka penasaran bagaimana romantisme antara dosen galak dengan mahasiswi alim itu jika bersama di rumah.
"Kita terpaksa merahasiakan ini sampai masalah gue sama Fhariza clear dan Alhamdulillah sekarang gue sama dia selesai, hanya ada Shanum seorang. Rencananya kami akan menggelar resepsi pas libur semester. Tenang aja, loe orang pertama yang gue undang, Dick. Makasih ya udah bantuin gue bawa Shanum ke sini." Tambah Riqhad lagi. Dicky pun mengangguk.
Pandangan Riqhad pun mengarah cemas ke arah pintu ruangan di mana Shanum masih belum sadarkan diri di dalam sana. Sedari awal keberangkatan ke Surabaya, Riqhad sudah sangat khawatir dengan keadaan Shanum yang terlihat pucat hingga beberapa kali ia mendapat laporan dari sahabat Shanum yang mengatakan istrinya sering pusing.
Puncaknya tadi, saat Riqhad sedang mengawasi kegiatan observasi sekaligus melihat progres dari proyeknya, tiba-tiba saja ia melihat ada mahasiswi yang pingsan dan saat mendekati kerumunan itu ia tahu bahwa yang pingsan adalah istrinya. Hingga saat Pak Sirhaj meminta dua mahasiswanya untuk mengangkat tubuh Shanum, dengan cepat ia pun merapat, tak ingin Shanumnya disentuh oleh laki-laki lain.
"Pak, Shanum sering banget mual sampai muntah-muntah kalo di kamar. Terus, nafsu makannya juga menurun." Terang Naina pada Pak Dosennya.
Ya Allah, istriku sakit apa? Batin Riqhad.
Kemudian, pintu ruangan Shanum terbuka. Dokter yang menangani Shanum pun muncul hingga membuat Riqhad berdiri cepat dan menghampiri si Dokter.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" Tanya Riqhad.
Dokter tak langsung bersuara, ia malah mengabsen satu per satu orang yang berada di depannya sembari tersenyum. "Maaf, suami pasien yang mana ya?" Tanyanya dengan masih menelisik.
"Saya suaminya, Dok. Bagaimana keadaan istri saya?" Ucap Riqhad dengan raut masih cemas.
Dokter bername tag Susi tersenyum ke arah Riqhad hingga berkata kembali, "selamat Mas, istri Mas nggak sakit apa-apa. Pingsan seperti itu adalah hal biasa. Jadi, usahakan dia jangan terlalu sering berada di tempat yang panas, pola makannya juga harus dijaga sebab pada tri semester pertama nafsu makannya memang kadang berkurang hingga membuatnya sering pusing, mual-mual bahkan muntah."
__ADS_1
Riqhad merasa tidak puas dan malah menjadi pusing sendiri mendengar penjelasan dari Dokter Susi. Apa maksudnya dengan mengatakan pingsannya Shanum adalah hal biasa? Tak tahu apa, bagaimana cemasnya Riqhad tadi?
"Maksud Dokter apa? Mengapa pingsannya istri saya adalah hal biasa? Kalau tidak sakit terus apa?" Riqhad memberondongi Dokter tersebut dengan beberapa pertanyaan.
Dokter Susi kembali tersenyum dan mengangkat tangannya bermaksud menyalami Riqhad.
"Selamat, Mas. Sebentar lagi Mas akan jadi Ayah. Istri Mas hamil dengan usia kandungan lima minggu. Untuk memastikan lebih lanjut, Mas bisa membawa istri Mas ke Doktet spesialis kandungan."
Deg
"Benarkah? Ini serius? Aku akan jadi Ayah? Secepat ini? Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah percayakan titipan-Mu pada kami dengan waktu sesingkat ini." Batin Riqhad terlonjak bahagia hingga tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi.
Tangan Dokter itu pun tak kunjung ia sambut. Hingga membuat Dokter Susi menjadi kikuk dan perlahan menurunkan tangannya.
Riqhad menelungkupkan kedua tangannya di depan dada seraya berkata, "maaf Dok, saya enggak sopan. Kita bukan mahrom."
Dokter Susi pun tersenyum maklum dan mengikuti Riqhad menelungkupkan kedua tangannya di depan dada. Teman-teman Shanum melongo melihat Dosennya itu, mengapa Dosen galak mereka tiba-tiba memiliki sifat dan tingkah yang sama dengan Shanum? Beginikah yang namanya jodoh?
"Alhamdulillah. Terimakasih, Dok. Bolehkah saya menemui istri saya?" Kata Riqhad dengan tak sabar.
Dokter Susi mengangguk, kemudian meninggalkan ruangan Shanum. Devia dan Naina yang berada tak jauh dari Riqhad tanpa sadar berkaca-kaca, mereka sangat bahagia mendengar sahabatnya sedang mengandung. Mereka bersyukur Shanum telah memiliki keluarga sendiri sekarang.
"Selamat, Bro. Bentar lagi loe bisa dipanggil Papa sama bocah kecil yang suka ngompol." Ucap Dicky sambil memeluk Riqhad. Riqhad tersenyum membalas pelukan sahabatnya.
"Thanks, Bro. Semoga status loe cepat nyusul gue, jangan bangga jadi jomblo milenial. Banggalah kalo jadi Suami dan Calon Ayah Milenial." Balas Riqhad dengan wajah berseri.
Dicky hanya mendengus mendengar itu. Riqhad memang keterlaluan, menghinanya dengan tampang bahagia seperti ini, tadi saja paniknya na'udzubillah.
"Selamat, Bang. Bentar lagi punya junior."
"Selamat, Pak."
"Selamat, Pak."
"Selamat, Pak."
"Selamat, Pak Riqhad."
Beragam ucapan selamat diterima Riqhad dari mahasiswanya dan bawahannya itu. Hingga ia memasuki ruangan Shanum dan berjalan perlahan menuju tubuh istrinya yang sedang berbaring lemah.
Shanum pun mengalihkan pandangannya pada sosok yang baru muncul. Shanum tersenyum lembut memperhatikan suaminya. "Wa'alaikumussalam, Abang."
Riqhad langsung merengkuh tubuh Shanum dan memberi kecupan bertubi-tubi pada wajah istrinya. Shanum mengerutkan keningnya, heran melihat kelakuan Riqhad ini. Ia berusaha mendorong tubuh Riqhad karena sesak.
"Abang, sesak tahu. Minggir dikit dong." Ucapnya. Riqhad pun merenggangkan pelukannya seraya terkekeh kecil.
Shanum kembali memperhatikan ruangan serba putih ini, perasaannya tadi ia masih berada di lokasi observasi. Tapi mengapa ketika membuka mata, yang ia lihat adalah seorang Dokter wanita yang memeriksa perutnya. Ada apa ini?
"Abang, kok Shanum ada di Rumah Sakit? Bukannya tadi kita lagi observasi ya?" Tanya Shanum pada suaminya.
Riqhad tersenyum sambil membelai wajah istrinya. Kemudian tangan Riqhad perlahan turun ke arah perut rata Shanum. Shanum hanya memperhatikan gerakan suaminya itu dengan bingung. Kemudian, Riqhad mengelus lembut perut Shanum dan diakhiri sebuah kecupan sayang di sana.
"Shanum sayang, di dalam ini ada nyawa yang harus kita jaga. Allah sayang kita hingga mempercayakan titipan-Nya pada kita berdua." Terang Riqhad dengan tangan yang masih berada di permukaan perut istrinya.
Shanum semakin mengerutkan dahinya seraya mencerna perkataan dari Riqhad, Riqhad yang menyaksikan itu menjadi gemas hingga ia mendekatkan wajahnya pada istrinya.
Cup
Cup
Cup
Ia memberikan tiga kecupan beruntun pada bibir Shanum yang masih terlihat sedikit pucat. Terakhir, jempolnya meraba bibir Shanum seraya berkata, "Shanum, mahasiswiku yang katanya cerdas. Sebentar lagi kita akan jadi Ibu dan Ayah. Kamu hamil sayang, Qhanum junior udah ada di dalam sana dengan usia 5 mingguan." Terang Riqhad.
Shanum melebarkan matanya, tidak percaya dengan apa yang didengarnya ini. Hingga Riqhad mengangguk yakin.
Iris Shanum pun berkaca-kaca hingga tanpa sadar mengeluarkan lelehan bening pertanda bahagia.
"Alhamdulillah, Abang. Shanum senang sekali dengarnya." Ucap Shanum sambil meraba perut ratanya.
Tangan mereka pun bertautan sambil mengusap perut Shanum. Mereka tenggelam dalam rasa syukur dan lautan bahagia, mengetahui kehamilan Shanum ini. Ternyata pingsan Shanum membawa berkah.
__ADS_1
Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan“. (QS. Yunus[10]: 58)
Saat Riqhad ingin kembali mendekati wajah Shanum, tiba-tiba pintu ruangan pun terbuka.
"Pak, kita mau lihat Shanum juga dong!"
***
Hari ketiga di Surabaya
Setelah dibawa ke Rumah Sakit kemarin. Paginya Shanum kembali ke penginapan untuk mengikuti acara terakhir dalam kuliah lapangan mereka. Semalam ia ditemani oleh Naina dan Devia serta Riqhad yang terpaksa bolak balik antara penginapan dan Rumah Sakit.
Sebenarnya, Shanum sudah dibolehkan pulang sejak kemarin sore, tetapi Riqhad dengan sejuta kekhawatirannya itu malah meminta Shanum agar bisa tetap berada di rumah sakit hingga esok.
Sekarang, Mahasiswa peserta KLA sedang memenuhi aula pertemuan untuk memaparkan hasil observasi mereka yang diwakili oleh salah satu anggota kelompok masing-masing.
Shanum yang tidak mengikuti sampai selesai tanya jawab dengan perwakilan Manajemen Konstruksi itu hanya bisa menyaksikan perjuangan teman-temannya dalam presentasi ini.
Beberapa jam kemudian, pertemuan ini tidak langsung dibubarkan dan tiba-tiba saja salah satu dosen pembimbing mereka menaiki podium entah dengan maksud apa, padahal penutupan Kuliah Lapangan Arsitektur baru saja dilaksanakan oleh Direktorat Pembangunan.
"Assalamu'alaikum mahasiswaku sekalian, selamat siang." Sapa Dicky yang dibalas serentak oleh mereka yang hadir di sini.
Kemudian, Dicky menyeret Riqhad hingga ikut berada di tengah podium. "Sebelum kita berkemas dan meninggalkan Kota ini, saya ingin memperlihatkan suatu kabar baik untuk dapat kalian ketahui semuanya."
Riqhad mulai mencium aroma tidak beres dengan rekannya ini hingga tiba-tiba layar monitor putih di depan mereka memunculkan slide demi slide yang menunjukkan beragam potret dengan menampilkan Riqhad sebagai pemeran utama prianya.
"Waaaaa!"
"Woooow!"
"MasyaAllah"
"Beneran ini?"
"Mereka nikah?"
"Seriusan! Kok jadi iri gini ya!"
"Kok aku jadi pengen nikah juga ya!"
"Cocok banget!
"Serasi! Ganteng sama cantik!"
Ruang yang semula hening kini berubah gaduh akibat tampilan di layar putih tersebut. Ada yang melihatnya dengan pandangan kagum, iri dan ada juga yang histeris tak karuan.
Aufar dan Nabil yang berada di belakang layar pun tertawa ria mendengar keributan itu. Rencana mereka berhasil, mereka bekerja sama dengan Dicky untuk membuat hubungan Riqhad dan Shanum go public.
***
Dalam perjalanan kembali dari Surabaya, Shanum dan Riqhad tak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka. Allah menyayangi mereka dan memberikan mereka tanggungjawab untuk menjaga titipan-Nya secepat ini. Akhirnya Qhanum junior coming soon di tengah mereka.
Riqhad begitu bahagia membayangkan akan segera menjadi seorang Ayah dan tidak sabar untuk memberitahukan kabar baik ini pada keluarganya. Nampaknya, resepsi mereka harus segera digelar sebelum Shanum menerima pandangan buruk sebab kehamilannya.
Riqhad mengeratkan pelukannya pada tubuh Shanum, mengelus lembut perut Shanum yang masih sangat rata itu. Sesekali Riqhad menenggelamkan wajahnya di sana sambil melafalkan do'a dan bacaan Al-Qur'annya. Shanum tersenyum dan membelai rambut suaminya.
Sekarang mereka masih berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh Dicky. Dicky awalnya tidak percaya dengan semua ini, ternyata sahabatnya telah beristri dan istrinya adalah mahasiswinya sendiri. Pengakuan Riqhad pada mereka semua sungguh sangat mengejutkan sekali.
Hingga di saat penutupan KLA, Dicky bekerjasama dengan Aufar dan Nabil untuk menampilkan foto pernikahan Shanum dan Riqhad, Aufarlah yang memiliki ide keren seperti ini sebab dia merupakan Secret Photographer waktu itu.
Sebelum menaiki bus masing-masing, banyak mahasiswa yang menyempatkan diri mengucap selamat pada Dosen Galak mereka yang sekarang tak begitu lagi galak. Shanum pun tak ketinggalan menerima ucapan serupa hingga membuatnya menjadi populer dalam sekejap.
Karena sifat baiknya, Dicky tak tega melihat Riqhad dan istrinya yang tengah mengandung itu pulang dengan bus kampus. Dicky tahu Shanum akan merasa kurang nyaman sebab pernikahannya baru terkuak. Ia pun menawari diri untuk mengangkut pasangan ini karena hanya dia yang menggunakan mobil pribadi ke Surabaya.
Dicky seakan jadi penonton yang terhina melihat adegan sayang-sayangan dari sahabatnya itu. Riqhad memang tak tahu malu, tidak sadar apa di depannya ada jomblo yang hampir karatan. Tanpa sengaja Dicky melihat ke arah kaca mobil dan menampilkan wajah menyeramkan Riqhad yang menghujam ke arahnya, kemudian juga wajah memerah dan malu-malu dari Shanum yang melihat tingkah suaminya itu.
Dicky hanya mengelus dada, sabar dan pasrah menjadi supir pasangan bahagia ini, terlebih lagi menjadi supir menggunakan mobilnya sendiri. Begini nian nasib seorang jomblo milenial sepertinya.
***
Sampai di depan pintu rumah mewahnya, koper Riqhad dan Shanum di bawa oleh Pak Udin. Mereka masuk beriringan setelah mengucap salam. Namun, ketika sampai di ruang keluarga mereka melihat Zoeya yang sedang sesegukan dan Mama Hasna yang hanya bermenung sedih. Pak Udin langsung mengundurkan diri setelah meletakkan koper majikannya.
__ADS_1
Ketika mengetahui kedatangan Riqhad dan Shanum, Zoeya pun langsung berdiri dan menghampiri Shanum dengan langkah lebar.
"Oya benci sama Shanum!"