A

A
DUA PULUH SATU


__ADS_3

PART 21 – SEBUAH PERTANDA


"Jangan ribet dengan penilaian orang. Asal kita benar dan bahagia. Karena inilah hidup: Allah nentuin, kita jalanin dan orang lain yang ngomentarin"


-Anonim-


_________________________________________


"Kamu jaga diri baik-baik ya." Ucap seorang pria yang sedang menenteng koper ukuran sedang, terlihat raut sedih di wajahnya.


Begitupun dengan sosok cantik di depannya, wanita itu masih menunduk dan tangannya seperti menahan kepergian prianya. Dengan kedua bahu yang bergetar dan isakan kecil pun kini terdengar.


"Apakah kita ditakdirkan untuk bertemu lalu berpisah?" Ucap wanita berambut hitam panjang itu setelah menghapus sisa-sisa tangis yang sebenarnya tak mau berhenti.


Apakah mereka harus berpisah? Sedangkan mereka baru saja dipersatukan dalam ikatan "pernikahan siri" dengan suatu alasan yang hanya merekalah yang tahu. Mereka menikah di usia yang masih muda, tepatnya di penghujung kelas 3 SMA. Namun, sekarang sang suami memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri karena permintaan dari kedua orang tuanya.


"Aku pergi untukmu, aku pun pasti kembali kepadamu. Aku akan selalu hubungin kamu, kamu jangan sedih berlarut-larut ya. Ingat? Alllah bersama kita. Selalu berdo'a dan semoga Aamiinku dan Aaminmu serentak." Ucap sang suami yang kini menenggelamkan wajah cantik yang kembali terisak itu di dadanya. Ia mengelus lembut punggung mungil sang istri dan beberapa kali mencium pucuk kepalanya, ia hirup wangi yang setelah ini akan selalu ia rindukan.


"Syafiqa!"


Teriak Thoriq yang langsung tersentak bangun dari tidurnya. Mimpi ini kembali lagi, gambar-gambar bak kaset rusak memenuhi memori otaknya. Peluh membasahi bantal yang ia gunakan, Ia pun merasakan sudut matanya kini sedikit berair, dadanya pun ikut merasa sakit, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, perasaannya tidak karuan.


Ia merasakan apa yang ditakutkan akan segera terjadi. Tapi apa? Ini tidak seperti biasanya. Tak heran jika mimpi ini kembali bermunculan, tetapi seingatnya tidak pernah ia merasa secemas ini.


Setelah menginjakkan kaki ke lantai kamarnya, dengan masih sempoyongan Thoriq pun menyibak gorden yang tidak langsung memancarkan cahaya dibaliknya. Tidak biasanya Thoriq bangun sepagi ini, ralat terbangun. Ia pun menutup kembali gorden dan kembali mendudukkan diri di ranjang. Ia memindai kamarnya dan matanya berhenti di lemari paling bawah. Setelah menemukan apa yang ia cari, ia pun menatap lama berkas ditangannya itu.


"Syafiqa! Dimana kamu sekarang?" Lirih Thoriq memandangi gambar dibalik berkas yang ia buka tadi.


Seketika matanya beradu dengan mata seorang perempuan di gambar itu. Mata indah ini mengingatkan Thoriq dengan seseorang yang baru ditemuinya, sosok tertutup yang ketika sore itu bersama dengan Shanum. Harisa. Apa mungkin? Batin Thoriq. Ia pun mengenyahkan sangkalannya tersebut.


Entah mengapa Thoriq merasakan bahwa orang yang dicari-carinya selama ini berada dekat di sekitarnya dan ia juga merasakan hal yang ia takutkan berkaitan dengan orang yang sangat dirindukannya, satu-satunya yang ia cinta. Syafiqa.


Drrrrt... drrrtt... drrrt....


Ponsel Thoriq berdering menandakan ada panggilan masuk.


"Ardan." Lafal Thoriq sebelum mengangkatnya.


***


"Oya, Oya, bangun! Sholat subuh yuk!" Shanum membangunkan Zoeya yang masih terlelap, masih terlihat jelas bekas tangis akibat kejadian semalam. Mata gadis yang masih bergelung dalam selimut itu pun terlihat membengkak.


Zoeya telah meluapkan semua yang ia rasakan kepada Shanum semalam, ia juga menceritakan apa yang ingin Shanum dengar tentangnya dan juga lelaki yang telah menyelamatkan mereka dari kejadiaan naas itu. Namun, Shanum belum menemukan kebenaran jika hanya mendengar dari satu sisi, yaitu Zoeya. Belum tentu apa yang Zoeya pikirkan selama ini mengenai Aufar itu benar.

__ADS_1


"Udah pagi ya, Shan? Cepat amat sih. Nggak bisa di tunda apa paginya?" Tanya Zoeya dengan suara yang serak. Ia masih belum membuka kedua matanya, namun mulutnya sudah berkomat-kamit tak jelas.


"Ada-ada aja kamu. Mana bisa nunda pagi, apalagi ini kamu nunda sholat. Seperti hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ahmad dengan sanad Hasan. Bunyinya begini:


"Wahai Ali, ada tiga perkara yang tidak boleh engkau tunda, yakni sholat jika telah tiba waktunya, jenazah apabila telah hadir, dan wanita apabila telah ada calon suami yang sekufu." walaupun dalam hadist ini Rasulullah SAW bersabda kepada Ali bin Abu Thalib radhiyallahu'anhu, para ulama menjelaskan bahwa hadist ini berlaku umum untuk seluruh umatnya.


Mendengar ocehan panjang Shanum, membuat telinga Zoeya pedih dan ia pun segera meninggalkan kasur Shanum beserta seperangkat alat tidurnya.


"Shan, Mama udah pulang?" Tanya Oya setelah benar-benar terjaga dan dibalas gelengan dari gadis berkerudung lebar itu.


***


Setelah membangunkan Zoeya dan membantu Bi Ipah menyiapkan sarapan, Shanum meminta maaf karena harus meninggalkan Zoeya menuju kampus terlebih dahulu.


"Shan, tugasnya Pak Riqh dikumpulin hari ini atau gimana? Terus kirim ke surel beliau atau hardcopy sih?" Tanya Naina disela langkah kecil mereka.


Shanum, Naina dan Devia datang ke kampus lebih awal hari ini atas permintaan gadis yang menyukai kerudung pasmina itu, katanya dia lupa tentang tugas yang diberikan oleh dosen tampan mereka. Pagi-pagi mereka sudah bertemu di perempatan jalan menuju kampus mereka.


"Subhanallah, jangan bilang kamu belum mengerjakannya Nai?" Shanum memutar bola matanya menghadap sahabat cantiknya yang kini mulai meninggalkan celana jeans ketatnya.


Memang, sebelumnya Naina suka sekali mengoleksi celana jeans dengan berbagai model. Cukup sekian dia merasa sesak menggunakan celana itu ketika melahap makanan-makanan favorite-nya sebab celana kesayangannya itu yang super ketat.


Setelah sering mendapat semburan rohani dari sahabat sholehahnya-Shanum si penyuka warna ungu, Naina pun mulai meninggalkan celana jeans-nya. "Kutinggalkan kau-celana jeans- dengan Bismillah." Ucap Naina kepada celana-celananya. Yang kala ia mengucapkan kalimat itu, dihadiahi tawa oleh kedua sahabatnya.


"Tau ah kalian ribut terus dari tadi. Makanya Nai, kalau Pak Dos sedang menjelaskan itu didengar pakai telinga bukan pakai mata!" Timpal Devia yang sedari tadi juga sibuk membetulkan letak kerudungnya.


Gadis yang biasa tampil dengan rambut pendeknya itu kini telah menutupi mahkotanya dengan kerudung segi empat simple berwarna mocca selaras dengan gamis berbahan katun lembut bercorak bunga sakura kecil-kecil..


Inilah alasan utama mengapa Naina dan Devia mengajak Shanum datang lebih awal ke kampus. Sebab mereka merasa aneh dengan perubahan penampilan mereka masing-masing. "Lebih baik bangun pagi terus ke kampus di saat masih sepi begini daripada datang nanti dan menjadi pusat perhatian karena tampilan yang berbeda ini!" pikir Naina dan Devia.


Naina dan Devia telah mantap untuk menggunakan kerudung dan mulai memakai pakaian yang longgar-longgar meskipun belum sepenuhnya seperti gaya berbusana Shanum. Mereka ingin berhijrah bersama sebab mereka tak hanya bersahabat di dunia saja, menjadi sahabat fiil jannah lah tujuan mereka. Begitulah kata Shanum waktu itu.


"Shan, gimana tampilan aku? Ngga aneh kan? Nggak lucu kan? Atau gimana menurutmu?” Tanya Devia dengan memutar-mutar tubuhnya dan menyebabkan gamisnya berkibar-kibar indah.


"Iya Shan, kalau aku gimana? Rok ini masih bisa nutupin aurat aku kan? Soalnya aku belum percaya diri alias nggak PeDe pakai pakaian kayak gini, celana jeans aku pun belum aku rela buat kasih ke orang yang membutuhkan." Ucap Naina yang tidak mau kalah dengan gadis yang memakai gamis bercorak itu.


Shanum pun mulai memperhatikan kedua sahabatnya, di sekitar mereka kini mulai berdatangan mahasiswa dari berbagai fakultas.


"Maasya Allah, sahabat-sahabat aku hari ini cantik banget. Mulai sekarang kita sama-sama memperbaiki diri ya, jangan dengerin kata orang lain jika mengatakan hal yang tidak mengenakkan tentang kita yang menyebabkan kita tidak percaya diri."


"Aku pernah baca sebuah quote di Instagram, tulisannya gini: "Jangan ribet dengan penilaian orang. Asal kita benar dan bahagia. Karena inilah hidup: Allah nentuin, kita jalanin dan orang lain yang ngomentarin."


Kedua sahabatnya pun mengangguk semangat membenarkannya.

__ADS_1


"Dan dalam QS Al Imran : 139 yang artinya: Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman." Jadi, kita harus kuat memegang teguh sesuatu yang benar, jangan bersedih jika orang lain mengatakan sesuatu yang membuat kita merasa tidak berharga."


_________________________________________


"Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan."


(HR.Bukhari : 52)


_________________________________________


"Oke, solehah-solehahku." Ucap Shanum dengan senyum yang selalu manis dimata mereka. Mereka pun membalas senyum dari gadis berkerudung lebar itu dan mulai merapatkan diri seraya berpelukan bak cartoon teletubies.


Kemudian, ketiganya pun kembali melangkahkan kaki melewati gedung fakultas lain. Seakan teringat tentang sesuatu yang gawat darurat, Naina kembali bersuara ketika mereka telah menapakkan kaki di gedung fakultas mereka, " jadi, tugas Pak Riqh gimana? Aku belum ngeprint kalau yang kita kumpulin itu hardcopy!"


Devia kembali menggelengkan kepalanya dan tidak mau ambil pusing untuk menanggapi kegelisahan Naina. "Kamu tenang saja, tugas itu kita kumpulin softcopynya ke Kosma kok. Dan tugas punya kamu juga udah aku kirim ke Kosma, jadi ngga usah cemas oke!" Jawab Shanum yang dihadihi syukur oleh si penanya tadi.


"Yes, sayang banget aku sama sahabatku ini. Thanks ya Shan." Balas Naina dengan memeluk Shanum dan mengecupi pipi mulus sahabatnya itu. Devia yang risih melihat tingkah ajaib Naina, kemudian melerai pelukan sepihak dari gadis pasmina itu.


"Malu diliatin orang dan juga kalau bersyukur itu biasakan untuk mengucapkan 'Alhamdulillah' sebab segala sesuatu itu datangnya dari Allah." Balas Devia meskipun agak ketus.


Mendengar itu, Shanum pun tersenyum membenarkannya. "Alhamdulillah. Cie, kamu udah mirip Shanum sekarang Dev, cup!" kata Naina dan kemudian mengecup kilat pipi Devia.


Dengan kesal, Devia pun mengusap pipinya yang dinodai Naina seraya mengeram. "Naina! Awas kamu ya!" Teriak Devia tertahan dan berusaha mengimbangi langkah cepat Naina yang meninggalkan Shanum di belakangnya.


Shanum hanya memperhatikan tingkah sahabatnya dan ia merasa bahagia memiliki mereka berdua.


"Hai cewek! Sendirian aja nih!" Sapaan usil di samping kiri Shanum. Shanum pun menoleh sekilas dan menemukan wajah teman sekelasnya. Di sana Nabil dengan dua orang temannya.


Shanum pun menunduk dan melanjutkan langkahnya, namun sebelum melangkah ia sempatkan menyapa Nabil, "Assalamu'alaikum."


Nabil yang mendengar salam itu pun menyengir seakan bersalah sebab seharusnya dia yang mengucapkan salam terlebih dahulu dan bukan gadis yang sering diganggu oleh sahabatnya ini.


"Wa'alaikumussalam, Shanum"


"Assalamu'alaikum juga cewek"


"Assalamu'alaikum juga cewek"


Balas ketiganya dengan berbarengan.


Nabil yang mendengar jawaban lain dari kedua temannya itu pun melongo dan keduanya hanya tersenyum manis memandangi punggung Shanum serta mengabaikan tatapan dari Nabil.


Sedangkan Shanum mengulas senyum mendengar jawaban mereka. "Bismillah, semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin." Lirih Shanum mulai memasuki kelas mereka.

__ADS_1


__ADS_2