
PART 19 - SAHABAT
Seorang teman sejati adalah dia yang memberi nasehat ketika melihat kesalahanmu dan dia yang membelamu saat kamu tidak ada.
~Ali Bin Abi Thalib~
_________________________________________
Shanum, Naina, dan Devia sedang menikmati makan siang mereka setelah kelas dengan Bu Dena berakhir. Sebelum menuju kantin, mereka terlebih dahulu mengunjungi perpustakaan untuk meminjam buku sebagai referensi tugas dengan Pak Dosen Tampan, begitulah para Mahasiswa menyebut Riqhad.
Diusianya yang masih 24 tahun, ia sudah menjadi dosen tetap di Univ. Nusantara Sakti ini setahun yang lalu. Dapat dikatakan ia menyelesaikan sekolahnya dengan waktu yang sangat singkat.
Sekarang, Naina dan Devia tengah asyik membicarakan dosen muda itu, bukan kejelekan fisik yang mereka bahas tetapi sikapnya itu. “Aku, penasaran banget Shan, kamu punya masalah apa sih dengan Pak Riqh?” tanya Naina disela mengunyah nasi gorengnya. Mahasiswa lebih sering memanggil dosen muda itu dengan sebutan Pak Riqh, lebih pendek dan mudah diucapkan katanya.
Shanum yang menyeruput jus mangga yang masih banyak itu hanya menghela nafas dan menggeleng sejenak. Ia masih membolak-balikkan buku yang dibacanya, “Aku nggak tahu deh. Perasaan aku nggak punya salah apa-apa sama dia.” Jawab Shanum tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dipinjamnya tadi.
“Lah, kalo nggak punya salah apa-apa kok dia kayak dendam gitu ya sama kamu.” Timpal Devia yang berada di samping Shanum.
Mereka duduk di kursi kantin paling pojok dengan Shanum dan Devia yang bersebelahan sedangkan Naina berada di depan mereka. Sejak hari pertama Shanum mulai kuliah, mereka sudah mengajak Shanum berkenalan dan semakin hari mereka mejadi semakin akrab.
“Iya, sebelum kamu masuk Pak Riqh jarang banget loh nyuruh kami mengerjakan soal ke depan, palingan cuma jawab di tempat, lewat email dan kadang cuma waktu kuis aja. Lah ini, hampir tiap hari kamu di suruh maju. Killer Banget tuh dosen, untung masih muda dan tampan.” Sambut Naina sambil rersenyum membayangkan Pak Riqh yang disebutnya tadi.
Shanum hanya mengangkat bahunya acuh, karena dia sendiri juga bingung dengan sikap dosennya yang satu itu, mengapa dia memperlakukan Shanum dengan kejam. Apa salahnya, dia tidak pernah membantah dan selalu mengumpulkan tugasnya tepat waktu, bahkan ketika ulangan harian dia memperoleh nilai tertinggi.
“Apa gara-gara aku jarang memperhatikan dia ketika menjelaskan di depan ya? Tapikan aku dengar? Dan aku juga paham.” Batin Shanum.
Ya, Shanum memang kurang memperhatikan ketika Pak Riqhad menjelaskan di depan, seperti yang di katakan dosen itu di depan kelas mereka tadi.
Bukannya Shanum sombong dan tidak mengacuhkan dosennya, hanya saja pernah sekali ia memperhatikan serius dosennya itu. Dan pandangan dosennya itu entah mengapa selalu tertuju padanya, itulah yang membuat Shanum risih. Anggap lah Shanum terlalu percaya diri atau kepedean, tapi perasaan dan insting Shanum jarang bohong.
Seakan hanya duduk sendiri, Shanum pun kembali mengingat perbincangannya dengan Pak Riqhad di hari pertama perkuliahannya.
Flashback
"Elshanum Shaquena. Tidak menyangka kita bertemu kembali di sini. Kamu pasti sudah tahu saya kan? Mama saya jelas sudah memberitahumu terlebih dahulu sehingga kamu bisa muncul dihadapan saya sekarang." Ucap Riqhad setelah selesai mengajar di kelas Ar3, ia meminta Shanum dan Aufar ke ruangnya guna konsultasi akademik.
Namun, sekarang hanya bersisa Shanum saja, Aufar telah meninggalkan ruangan Dosen muda ini lebih dulu karena Shanum masih memiliki urusan dengan Pembimbing akademiknya.
Shanum masih duduk di depan meja si Dosen, menduga-duga akan kelanjutan ucapan dari orang di depannya.
"Ck, gara-gara kamu kuliah dijurusan yang saya ajar. Mama dan Abang saya jadi mewanti-wanti saya untuk menjaga serta membantumu di perkuliahan ini. Kamu merepotkan saja. Memangnya kamu tidak bisa berjuang sendiri apa di sini? Jangan terlalu berlebihan, kamu cuma dititipkan ke Mama saya. Kamu seharusnya bersyukur ada yang memungutmu." Tambah Riqhad.
Shanum pun bergetar mendengar apa yang di sampaikan dosennya ini, memang apa salahnya. Ia hanya mengikuti keinginan Ummi Hasna, dan tak pernah sedikit pun merasa bangga serta berlagak seperti keluarga asli.
"Kenapa kamu diam. Memang benarkan apa yang saya sampaikan? Kamu itu menyusahkan keluarga kami. Dan saya kena imbasnya, saya merasa jadi bertanggungjawab denganmu disini karena permintaan Mama saya." Kata Riqhad lagi dengan nada yang semakin meninggi.
Shanum yang tak tahan mendengar semuanya pun menjawab, "maaf sebelumnya Pak, saya memang hanya menumpang di rumah keluarga Bapak. Tapi itu semua bukan keinginan saya, saya sudah membicarakan ini dengan Mama Bapak, agar mengizinkan saya mengekos saja. Tapi apa yang Mama Bapak tunjukkan, sebuah surat dari Oma saya yang telah dititipkan dengannya menerangkan semuanya." Ucap Shanum tegas.
__ADS_1
"Saya juga tidak ingin menyusahkan keluarga Bapak. Sampai waktunya tiba, saya sendiri yang akan mendepak dari keluarga Bapak. Dan untuk permintaan Mama dan Abangnya Bapak, Bapak tidak usah khawatir. Saya tidak butuh bantuan Bapak, saya bisa mengurus urusan saya sendiri selama kuliah. Bapak tidak harus merasa terbebani dan bertanggungjawab, saya tidak akan memberatkan Bapak. Bapak hanya bersikap seolah tidak mengenal saya saja dan seperti layaknya Dosen biasa. Tak usah hiraukan permintaan Mama Bapak." Tambah Shanum lagi.
Riqhad pun terperangah mendengar jawaban panjang dari mahasiswinya ini, entah mengapa kemarahannya sangat mudah meledak. Ia memang terkenal sebgai dosen killer, tapi dia tidak pernah menerima balasan dari mahasiswanya selancang ini, “ck, tidak butuh bantuan saya katanya? Lihat saja nanti! Kamu lah yang akan mencari-cari bantuan saya." Batin Riqhad dengan masih memandang Shanum sinis.
Flashback Off
"Eh Shan, Shan ... kok kamu diem terus sih? Lagi mikir apa? Serius amat?" Kata Naina menyadarkan lamunan Shanum.
"Nggak kok, cuma lagi mikir apa yang kalian omongin aja kok." Jawab Shanum dengan senyum kecilnya.
“Oh, iya tuh. Sebenarnya apa kalian punya masalah di masa lalu?” Timpal Devia sambil mencolek Shanum.
Shanum pun menatap Devia, seraya mengernyit. “Apanya masa lalu, kenal aja baru.” Jawab Shanum.
“Udahlah, nggak usah dibahas lagi, biarkan saja dia membenciku atau bertindak semaunya karena dia Dosen di sini, kita mahasiswa pasti selalu salah di mata Dosen.” Tambah Shanum.
Devia dan Naina pun mengangguk setuju dan kembali ke kesibukan masing-masing, yaitu menghabiskan makanan di depannya. “Kamu nggak makan siang, Shan? Yakin cuma jus aja?” Tanya Devia yang sebenarnya sudah terlambat dia lontarkan.
“Nggak, nanti aja. Setelah ini aku mau sholat Zuhur dulu, kalian juga kan? Ntar keburu waktunya habis.” Kata Shanum yang sudah mulai memasukkan bukunya ke dalam tas.
“Eh, gimana ya?” ucap Devia cengengesan. Ia juga sudah menghabiskan makan siangnya.
Naina hanya diam dan membuka sedikit kancing celana levisnya. Devia dan Shanum hanya menatapnya tanpa berkedip. “Eh, ngapain kamu buka-buka gitu. Ntar ada yang liat gimana? Malu tau!” Tegur Devia.
“Perut aku begah, kayaknya kekenyangan banget. Terus, sesak kalo nggak dibuka kayak gini.” Jawab Naina sambil berbisik.
Mendengar itu, mereka pun menunduk dan seperti menghayati apa yang disampaikan Shanum. Naina memandangi kaki jenjangnya yang begitu indah, memang dia sering dijahili laki-laki karena kakinya ini, meskipun telah menggunakan hijab, itu pun masih menampakkan lekukan tubuhnya. Devia pun sama, merasa apa yang disampaikan Shanum itu benar.
“Maaf kalo aku nyinggung atau membuat kalian tidak enak, aku hanya ingin kita nggak ketemu di dunia aja tapi di akhirat kelak juga, karena sebaik-baiknya sahabat adalah sahabat yang saling menasehati dan mengingat akan akhirat. Aku ingin kita begitu. Saling mengingatkan dan menegur ketika salah.” Ucap Shanum dengan nada lirih, dia merasa terlalu banyak bicara sehingga kedua sahabatnya ini terdiam.
“Mm, yuk kita sholat!” Ajak Shanum seraya berdiri dan menunggu kedua sahabatnya, namun mereka tak bergeming di tempat, masih dengan lamunan masing-masing.
Shanum sangat memikirkan ucapannya sendiri tadi, dia takut sahabatnya tidak bisa menerima dan akan menjauhinya setelah ini, namun tidak ingin menunda waktu zuhur lagi Shanum pun izin pamit duluan kepada teman-temannya.
***
Shanum mengeluarkan mukena dari tas ranselnya, mukena yang selalu ia bawa kemana-mana. Mukena yang dibelikan oleh Oma Syafiah. Untung saja, mukena ini berada di handbagnya, kalau sampai mukena ini berada di kopernya. Pastilah Shanum tidak akan menggunakannya sekarang. Membayangkan koper, Shanum teringat bahwa nanti si pemilik asli koper yang ada padanya akan mengembaikan koper mereka yang tertukar itu.
Setelah menggunakan mukenanya, Shanum mengangkat kedua tangannya dan hendak takbir. Namun, tiba-tiba di kanan dan kirinya diapit oleh perempuan yang baru saja masuk ke dalam mushola kampus mereka. Shanum pun menunda takbirnya dan menatap siapa mereka.
Senyuman Shanum pun merekah dan matanya berkaca-kaca, Naina dan Devia lah yang mengapitnya. Mereka pun berbalas senyum kemudian mulai melaksanakan sholat zuhur. Semoga khusyuk.
Assalamu’alaikum warahmatullah
Assalamu’alaikum warahmatullah
Shanum mengusakan wajahnya setelah mengucap salam diakhir sholatnya. Ia menengadah kedua tangannya seraya berdoa di dalam hati. “Aamiin.” lirihnya kembali mengusap wajahnya.
__ADS_1
Dia membuka perlahan mukenanya dan melirik samping kanan dan kirinya, sahabatnya kini juga telah menyelesaikan 4 rakaat mereka. Tanpa aba-aba dan entah siapa yang memulainya lebih dulu, mereka pun saling merengkuh, berpelukan hangat.
“Kita mau jadi sahabat fiil jannah. Kita saling memberbaiki diri dan saling mengingatkan yuk dari sekarang.” Lirih Naina di sela bahu sahabatnya.
“Iya, bantu kita ya Shan. Kita hijrah bareng yuk, meskipun akan berat nantinya. Kita akan berusaha istiqomah.” Tambah Devia.
“Alhamduliilah, Aamiin. Semoga kita menjadi sahabat fiil jannah dan mari kita sama-sama memperbaiki diri. Tak perlu mendengarkan perkataan orang-orang mengenai kita, karena mereka hanya bisa berkata dan berkomentar semaunya. Karena hidup kita tidak bergantung dari apa yang mereka katakan.” Balas Shanum. Mereka pun larut dalam keharuan yang indah.
Setelah kembali dari musholla, mereka tidak sengaja melewati gedung fashion disign. Karena letak mushola di kampus mereka harus melalui gedung ini. Sayup-sayup mereka mendengar perbincangan.
“Kamu ngerasa nggak kalau si Oya tuh udah beda sekarang?”
“Iya, ya. Kayak dia udah jarang keluar malam lagi, kalo pun keluar palingan pengen cepat-cepat pulang. Dulu kan enggak gitu ya?”
“Iya, aku sebenarnya benci sama dia. Karena dia itu sok kepolosan, padahal mah ngejar-ngejar sahabat Abangnya sendiri, murahan banget kan. Kayak nggak ada cowok lain aja.”
“Iya, aku juga kurang suka sama dia. Meskipun gayanya tomboy tapi kok anak cowok banyak yang ngejar-ngejar dia sih? Apa bagusnya dia, bagusan aku.”
“Haha, kamu iri gitu sama dia?”
“Ya nggak gitu juga.”
“Kok, kita kayak munafik ya. Kita udah lama berteman tapi di belakang dia kita ngomongin dia. Hahaha.”
“Dia emang pantes digituin, gaya tomboy, tapi di deket cowok alah lebay banget.”
“Kalo enggak keluarganya kaya dan abangnya dosen kita mah Ogah main sama dia.”
Shanum dan kedua sahabatnya menggeleng hebat. Saling menatap satu-sama lain berharap memastikan bahwa apa yang mereka pikirkan itu sama. “Astaghfirullah, Oya.” Lirih Shanum.
Mereka yang tersadar telah menguping pembicaraan orang tanpa izin, memilih melangkah cepat menuju gedung Arsitektur. Takut jika nanti mereka akan ketahuan mencuri dengar.
Sampai di gedung tersebut, mereka menormalkan langkah. Mahasiswa masih banyak yang lalu lalang, sebab kelas selajutnya belum dimulai setidaknya seperempat jam lagi.
Ketika akan memasuki kelasnya, langkah Shanum terhenti sebab ada yang menyebut namanya dari belakang. “ELSHANUM SHAQUENA!”
Deg!
Bukan hanya Shanum yang menegang mendengar suara itu, Devia dan Nania pun ikut menegang. Mereka pun seirama menengok ke arah belakang dan terpampan lah wajah mulus bak porselen namun tidak ada ekspresinya. Pria tinggi berkemeja krem itu bersedekap dan menatap datar mereka.
“Saya ada panggil nama lain selain dia!” tunjuk Riqhad di depan wajah Shanum.
Sontak membuat Devia dan Naina menegang dan menggeleng kepalanya. Seakan paham dengan apa yang diucapkan dosennya itu, mereka pun berjalan meninggalkan Shanum di depan pintu kelas.
Shanum menghela nafas dan memutar total tubuhnya sehingga berdiri tegap di hadapan dosen yang selalu menyiksanya ini.
“Sebelum pulang nanti. Temui saya di ruangan saya. Jangan lama!” Ucap tegas Riqhad seraya pergi meninggalkan Shanum begitu saja.
__ADS_1
"Apa lagi ini. Ya Allah lindungilah hamba dari orang itu." Batin Shanum.