
PART 31 - SURAT PERTAMA (PUTUSAN)
Kau mungkin kehilangan apa yang kau miliki atau orang-orang yang kau cintai. Tetapi selama kau masih punya Allah, kau memiliki segala yang kau butuhkan.
-Abdul Bary Yahya-
_________________________________________
Rumah Sakit Setya Insani
Suasana hening menyelimuti ruangan tempat Hasna-Mama Riqhad dirawat, sejak kemarin ia masih belum bangun juga. Kini hanya ada Zoeya dan Shanum yang menemaninya, Riqhad sedang membelikan makanan untuk mereka sedangkan Thoriq mengantar Latiffa dan Tante Dewi sebab hari ini bertepatan dengan acara walimah Sarah.
Keluarga besar mereka sudah mengetahui keadaan Mama Hasna. Sarah sempat memutuskan untuk menunda acara walimahnya namun Riqhad dan yang lainnya menolak, sebab undangan telah disebarkan. Hingga beginilah sekarang, mereka bergantian menjenguk dan menjaga wanita paruh baya ini.
“Assalamu’alaikum.” Gilan masuk bersama Ratu dan juga Aufar.
“Wa’alaikumussalam.” Jawab kedua gadis itu.
Ratu yang telah akrab dengan Shanum langsung berlari memeluknya. Gilan hanya tersenyum kecil dan perlahan menghampiri Zoeya yang terlihat pucat di sofa, “kamu udah makan? Jangan melamun terus. Nanti kamu juga ikut sakit loh, Dek.”
“Iya Bang Lan, Oya lagi nungguin Bang Riqhad beli makanan. Oya juga ngga mau sakit kok, kalo Oya sakit siapa yang akan rawat Mama.” Ucap Zoeya dengan memaksakan senyum.
Gilan pun mengangguk dan mengelus rambut Zoeya yang terlihat sedikit kusut.
Aufar yang masih mematung di depan pintu terlihat iba memandangi Zoeya, ia lebih senang melihat Zoeya yang cerewet dan berteriak tidak jelas dari pada sikap yang sekarang, terlihat lemah dan rapuh. Shanum pun sama, Aufar tahu gadis itu sangat menyayangi Tante Hasna. Namun, tampaknya ia berusaha terlihat kuat agar bisa menopang Zoeya yang sangat rapuh ini padahal Shanum lah yang paling rapuh sebab tak lagi memiliki keluarga, tempat bersandarnya. Aufar telah mengetahui latar belakang Shanum hingga gadis itu tinggal bersama keluarga Tante Hasna.
“Far, ngapain bengong di situ? Sini bawain buahnya dan letakkan di meja.” Titah Gilan pada Aufar yang masih menjadi patung hidup di depan pintu.
“Sambil menunggu Riqhad, kalian bisa makan buah-buahan dulu pengganjal perut.” Lanjut Gilan yang kali ini bertuju pada sepupunya dan perempuan yang sedang membelai putrinya.
"Makasih Bang." Cicit Zoeya.
“Ante jangan cedih. Ntal Oma bangun kok, iya kan Dad?” Ucap Ratu dengan bahasa khasnya. –tante jangan sedih. Ntar Oma bangun kok, iya kan Dad?-
Shanum tersenyum mendengar suara mungil Ratu.
Zoeya hanya termenung memandangi tubuh Mamanya. Ia tak menyangka mMamanya menyimpan sendiri kenyataan mengenai penyakitnya ini, pantas saja Mamanya sering pergi-pergi keluar dengan berbagai alasan. Ternyata Mamanya sedang menjalani pengobatan secara diam-diam tanpa sepengetahuan anak-anaknya. Zoeya kecewa sebab mamanya tidak mau berbagi.
“Ehem... Zoeya, nih makan buah dulu!” Ucap Aufar berdiri di depan Zoeya. Zoeya hanya mengangguk namun tidak beranjak juga.
“Ratu mau buah? Tante suapin ya?” Tawar Shanum ketika melihat Ratu yang memperhatikan sikap Zoeya.
Gadis kecil itu pun mengangguk riang, Shanum berdiri dari sofa dan mengambil buah apel yang telah diletakkan Aufar di atas meja. Ia mengupas dengan hati-hati.
Ceklek
“Mama masih belum bangun?” Tanya Riqhad setelah membuka pintu.
Ia pun menghela nafas setelah melihat sendiri keadaan Mamanya. Tidak memerlukan jawaban dari orang di dalam sana ia pun tahu jawabannya.
“Belum Bang. Mama kok jahat ya! nyembunyiin sakitnya dari kita?” Zoeya kembali terisak setelah melihat Abangnya.
“Udah-udah jangan nangis, nanti Mama bangun kok. Nih makan dulu!” Ucap Riqhad sambil menyerahkan makanan yang dibelinya. Zoeya hanya mengangguk dan mulai membuka kresek tersebut.
“Baru sampai?” Tanyanya pada Gilan yang sedang memandangi Shanum menyuapi potongan buah pada keponakannya.
“E-eh iya, bareng Aufar juga.” Jawab Gilan sedikit kaku sebab ia ketahuan sedang memandangi Shanum dan putrinya.
Mata Riqhad pun memincing dan terlihat tidak suka, kemudian mendengar nama Aufar dia mengalihkan pandangannya dan menemukan mahasiswanya itu juga termenung menyaksikan Adiknya menikmati makanan dengan tidak semangat.
“Apa-apaan mereka ini! Yang satunya natap adik gue, yang satunya natap mahasiswi gue. Kompak amat.” Batin Riqhad.
“Eh, cebong! Jangan terlalu deket ama Adek saya, sana minggir sedikit!” Ucap Riqhad ketus dan dibalasi Aufar dengan decakan.
“ck, galak amat Bang.” Ucapnya sambil menjauh dari samping Zoeya.
“Om Ikat galak. Cuka malah-malah, iya kan Ante?” Ucap polos Ratu dan meminta pembenaran dari Shanum yang masih menyuapinya buah apel. -Om Riqhad galak. Suka marah-marah, iya kan Tante?-
“Mmm... Iya.” Jawab Shanum spontan dengan masih mengupasi apel untuk Ratu.
“Ante jangan mau ama olang yang cuka malah-malah ya. Ante baiknya cuka ama Dad aja, Dad ngga cuka malah kok. Iya kan Dad?” Ucap si kecil itu lagi yang kali ini meminta pembenaran dari Daddy-nya. -Tante jangan mau sama orang yang suka marah-marah ya. Tante sebaiknya suka sama Dad saja, Dad ngga suka marah. Iya kan Dad?-
Aufar berusaha menahan tawanya mendengar ucapan keponakannya itu, sedangkan Riqhad menjadi kesal namun berhasil mengontrol mimik wajahnya. Tiga orang ini memperparah moodnya saja.
“Ratu jangan ngomong sembarangan, Dad ngga suka Ratu ngatain Om kayak gitu ya!” Nasehat Gilan sambil mengambil alih Ratu yang telah menghabiskan separuh buah apel yang dikupas Shanum.
“Maaf Om Ikat, Atu kidding aja kok. Hihi” Ucapnya lagi sambil menghampiri Riqhad dan memeluk kaki Om nya itu. -Maaf Om Riqhad, Ratu kidding saja kok.-
Riqhad luluh dan menggendong Ratu. “Iya cantik.”
“Shanum makan dulu, nanti sakit! Sejak pagi tadi belum ada yang masuk ke perut.” Ucap Riqhad menyerahkan kresek yang sama kepada Shanum dengan tangan kirinya sebab tangan kanannya memopong Ratu.
“Maaf tangan kiri.”
“Iya Pak, ngga apa-apa. Makasih ya... eh tapi, Bapak udah makan belum? Ntar Bapak juga bisa sakit.” Balas Shanum lembut.
Sadar akan kata-katanya yang mengandung sedikit perhatian membuat Shanum menunduk dan wajahnya memerah, hal itu tidak luput dari pandangn Riqhad bahkan Gilan.
“Wah, muka Ante jadi melah. Napa ya Om?” Tanya Ratu yang masih digendongan Riqhad. -Wah, muka tante jadi merah. Kenapa ya Om?-
“Om ngga tau, mungkin Tante lapar jadi wajahnya merah. Jadi kita main di luar dulu ya, sambil tungguin tante Shanum dan tante Zoeya makan." Ratu pun mengangguk.
Satu jam kemudian, Gilan telah kembali ke acara walimah Sarah sedangkan Aufar masih ingin berada di rumah sakit menemani Riqhad dan yang lainnya.
“Ya Om, maaf bukan begitu. Tapi akhir-akhir ini saya memiliki banyak kesibukan sehingga tidak pernah menemui Om.”
".................."
__ADS_1
“Iya, kami baik-baik kok.”
".................."
“E-ee itu, saya lagi di acara keluarga. Acaranya dadakan sehingga ngga sempat ngajak Fhariza dan mengundang Om juga. Maaf ya Om.”
"..................."
“Iya, selamat siang.”
Tut
Riqhad menghela nafas lega setelah menerima panggilan telepon dari Papanya Fhariza, ia bahkan tidak pernah lagi menyambangi rumah keluarga kekasihnya itu.
Kekasih? Mengapa akhir-akhir ini Riqhad terbiasa tanpa Fhariza serta terbiasa tanpa kabar darinya. Bahkan Fhariza dua hari ini tidak lagi meneror Riqhad dengan permintaan aneh. Dan hal tersebut tidak terlalu Riqhad tanggapi, yang terpenting sekarang adalah kesembuhan sang Mama.
Setelah memasukkan kembali ponselnya dalam saku, ia kembali menuju ruangan sang Mama. Terlihat beberapa orang perawat berbaju putih dan seorang dokter memasuki ruang Mamanya.
Sedangkan Shanum, Zoeya dan Aufar terlihat cemas menunggu di luar ruang. Shanum mengelus punggung Zoeya menenangkan adiknya.
“Ada apa ini?” Tanya Riqhad dengan sangat cemas.
“Abang! Elektrokardiogram (EkG) Mama bunyi-bunyi, Oya takut Bang.” Tangis Zoeya meledak dan langsung memeluk Abangnya.
“Udah-udah tenang dulu. Lebih baik kita doakan Mama supaya tidak terjadi hal yang buruk.” Ucap Riqhad kembali menenangkan.
“Nih minum dulu!” Aufar menyerahkan air mineral kepada Zoeya.
Beberapa saat kemudian dokter dan beberapa perawat telah keluar dari ruangan. “Bagaimana keadaan Mama saya, Dok?” Tanya Riqhad.
“Tadi sempat drop. Tapi sekarang sudah lebih baik. Saya minta salah satu dari kalian ke ruangan saya! Ada yang ingin saya sampaikan.” Ucap sang Dokter.
"Pasien belum bisa dijenguk, jadi jangam masuk dulu ya!" Tambah Dokter.
“Iya Dok, tapi Mama saya ngga apa-apa kan?” Tanya Zoeya.
“Itulah yang ingin saya bahas. Jadi siapa yang ikut ke ruangan saya?” Tanya Dokter lagi.
“Saya Dok, Saya anak sulungnya.” Ucap Thoriq yang datang dengan tergopoh-gopoh.
Riqhad pun mengangguk dan menepuk pelan lengan Abangnya.
***
Di Musholla Rumah Sakit
Riqhad, Thoriq, Aufar dan Shanum sedang melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah dengan diimami Riqhad. Tak heran jika Riqhad terlihat tidak caggung menjadi imam sebab Thoriq sangat mengetahui adiknya. Dulu, sebelum keluarga mereka kacau, Riqhad sangat rajin beribadah bahkan telah hafal separuh dari isi Al-Qur'an. Jadi, ia terdengar fasih melafalkan ayat-ayat Al-Qur'an.
"Assalamu'alaikum Warrahmatullah."
"Assalamu'alaikum Warrahmatullah."
Setelah selesai membaca Al-Qur'an, Shanum mengemasi Mukena dan menaruhnya di lemari sudut musholla kemudian ia merapikan kerudungnya sebelum memakai kembali kaos kakinya. Shanum mencapai pintu Musholla bertepatan dengan Riqhad yang ternyata belum juga meninggalkan musholla setelah sholat tadi.
Mereka pun secara refleks memenuhi pintu yang tidak terlalu luas ini hingga suara Riqhad mengizinkan Shanum keluar terlebih dahulu. Keduanya pun berjalan bersisian.
"Bapak!" Ucap Shanum.
Riqhad menoleh dan mengangkan alisnya seakan mengatakan 'Apa?'
"Shanum cuma mau menyampaikan jika nanti Shanum memberatkan keluarga bapak, izinkan Shanum pergi dan bekerja saja. Kebetulan Shanum mendapat tawaran dari Kak Harisa untuk menggantikannya bekerja di butik." Pinta Shanum dengan hati-hati.
Mendengar permintaan Shanum entah mengapa terasa begitu menyakitkan di telinga Riqhad. Riqhad akui ia awalnya memang membenci kehadiran Shanum sehingga bertindak seakan menyiksa Shanum di perkuliahannya. Namun, semakin ke sini kehadiran Shanum terasa berarti. Dan Shanum bukanlah beban.
"Kamu, kenapa ngomong gitu? Kamu pikir Mama saya sakit parah dan akan meninggal. Begitu?" Tanyanya datar.
Degg
Shanum menggeleng secepatnya.
"Ngga gitu. Shanum ngga maksud kok t-"
"Jadi maksudmu apa hah?" Bentak Riqhad.
Shanum terkejut, ia tidak pernah dibentak Riqhad meskipun sering memarahinya Riqhad tidak pernah semarah ini.
"Pak, Shanum merasa bahwa kehadiran Shanum hanya akan menjadi beban. Sebelumnya juga begitu, Oma Syafiah pergi meninggakan Shanum ketika Shanum sangat menyayanginya. Jauh sebelum itu, Ibu dan Ayah Shanum terlebih dahulu pergi,"
"Shanum ngga ingin hal tersebut terjadi pada Mamanya Bapak. Shanum sayang Sama Mamanya Bapak. Hikks...." Aku Shanum yang begitu mengiris hati Riqhad.
Ingin rasanya Riqhad memeluk tubuh perempuan ini, tubuh yang begitu rapuh namun bisa sekuat ini hingga sekarang. Riqhad mengepalkan kedua tangannya dan mentap Shanum lurus.
"Kamu tahu, dengan melihatmu menangis begitu ingin rasanya saya memelukmu dan memberi kekuatan padamu. Ingin saya katakan bahwa kamu harus kuat, kamu harus bertahan dan terus menjemput bahagiamu. Tapi sayangnya tangan ini tak sampai, saya paham bahwa saya tak punya hak untuk itu." Ucap Riqhad dengan mata memerah.
Shanum semakin terisak mendengar ungkapan Riqhad, meskipun Pak dosennya hanya berkata untuk menenangkan tapi kata-kata tersebut begitu menyentuh di hati Shanum. Perasaan hangat memenuhi rongga dadanya.
"Jangan nangis lagi, saya sakit melihatnya." Lirih Riqhad tanpa didengar Shanum.
“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah selalu bersama kita”. (At-Taubah: 40)
"Kamu jangan lemah, saya ngga bisa melihatmu begitu karena saya tak punya hak untuk menguatkanmu. Dan ingat! Kamu bukan beban, kamu sumber kebahagiaan."
***
“Bagaimana kondisi Mamamu?” Tanya Tante Sri-Adik Mama Riqhad yang baru saja sampai. Setelah Sholat Dzuhur, acara walimah Sarah juga selesai diselenggarakan hingga sekarang di sini lah mereka.
“Tadi keadaan Mama sempat drop tapi sekarang udah tenang, kata Dokter sebentar lagi mama sadar kok.” Ucap Thoriq yang termenung di luar ruangan.
__ADS_1
Sedangkan Zoeya baru saja kembali dari toilet setelah bersih-bersih dan menyembunyikan sakit akibat datang bulannya. Sebelum mencapai keluarganya, Aufar menyerahkan sebotol cairan yang biasa digunakan untuk menghilang rasa sakit untuk wanita ketika datang bulan.
Zoeya tersentak dan menerima pemberian Aufar. "Makasih." Ucapnya dengan malu.
"Makasih kembali. Zoeya, meskipun aku tidak bisa bantu apa-apa untuk mengurangi kesedihanmu. Tapi percayalah aku akan selalu mendukungmu dan menarikmu ketika kamu jatuh." Ungkap Aufar.
Zoeya hanya tersenyum dan mengangguk. "Iya, Oya percaya."
Ketika mereka sampai di lorong samping, Zoeya melihat Shanum dan Abangnya baru kembali dari Musholla. Shanum berjalan di belakang Abangnya dengan kepala menunduk, ia mengernyit ketika melihat wajah Abangnya yang terlihat sedikit kacau.
Setelah sampai di pintu ruangan, terlihat Thoriq tengah berbincang dengan dokter dan beberapa keluarga mereka pun terlihat disana.
"Pasien telah sadar, karena kondisinya masih lemah jadi hanya bisa ditemui oleh dua orang saja agar tidak ribut dan mengganggu pasien. " Kata dokter.
Mereka pun serentak mengucap syukur dan untuk pertama kalinya Thoriq meminta Riqhad dan Zoeya menemui Mamanya. Sebab Thoriq melihat kedua adiknya begitu terpukul melihat kondisi mamanya.
Beberapa saat setelah Riqhad dan Zoeya masuk, keluarga yang lainnya pun pamit pulang serta berjanji akan datang lagi.
"Heh, anak numpang. Kamu sadar ngga selama kamu tinggal di rumah adik saya, kondisinya jadi begini? Mungkin saja kamu menambah bebannya hingga sakitnya menjadi parah." Ucap Oma Ratu yang memang tidak menyukai Shanum sejak pertemuan pertama mereka.
Semua yang mendengar perkataan itu tersentak dan menatap iba Shanum. Gilan menyela dan menasehati Mamanya, "apa-apaan sih Ma. Kok Mama kasar begitu? Ini tidak ada hubungannya dengan Shanum Ma."
"Diam kamu. Untuk apa kamu bela dia hah! Jangan bilang kamu suka sama gadis pungut ini. Iya?" Ucap Mamanya lagi dengan marah.
"Suka atau tidak memangnya kenapa, Ma?"
"Eh, ada apa ini? Kok tegang gitu." Tanya Zoeya. Kemudian ia melihat Shanum yang sedikit terisak, "Shanum kenapa nangis?" Ucapnya menggenggam tangan Shanum.
Shanum menggeleng, ia menghapus air matanya dan tersenyum menatap Zoeya. "Ngga apa-apa kok. Gimana keadaan Mamamu?" Ucap Shanum.
Sedangkan Gilan membawa Mamanya keluar bermaksud menenangkan amarahnya. Untung Ratu ikut yang lainnya pulang bersama Aufar, jika tidak ia akan menyaksikan tante kesayangannya dimarahi habis-habisan oleh Omanya.
"Mama udah baikan. Ya sudah, hapus air matanya, Mama ingin melihatmu. Sana masuk, Abang juga masih ada di dalam." Pinta Zoeya yang kini terlihat lebih berseri dari sebelumnya.
Shanum mengangguk dan masuk ke ruangan.
"Assalamu'alaikum." Ucap Shanum.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Riqhad dan Mama Hasna.
Meskipun wanita paruh baya itu menjawabnya dengan lirih.
"Shanum, ke sini! Ada yang ingin Mama sampaikan." Pinta Mama Hasna sambil menggerakkan tangan kanannya yang tidak dihubungkan selang infus.
Shanum mendekat dan duduk di kursi samping Riqhad. "Mama ingin menyerahkan surat wasiat Mbak Syafiah yang pernah Mama singgung sebelumnya. Shanum masih ingat kan?" Ucap wanita yang masih berbaring itu.
Shanum reflek menggangguk, Ummi Hasna tersenyum dan menatap Shanum dan putranya bergantian. "Bang, ambilkan surat yang ada di tas." Pintanya.
Riqhad pun mengikuti perintah Mamanya dan menemukan kotak tipis berukuran 20 sentimeter. Mamanya pun meminta Riqhad menyerahkannya pada Shanum. Dengan gemetaran dan perasaan campur aduk Shanum menerimanya.
"Silakan dibuka dan dibaca." Pinta Mama Hasna.
Namun, melihat keadaan Shanum dan tubuhnya yang terlihat gemetaran Riqhad meminta izin pada Mamanya agar ia yang akan membacakan surat itu dan mamanya setuju.
_________________________________________
Assalamu'alaikum
Shanum, ini tulisan terakhir Oma yang tertuju padamu.
Saat kamu berhasil membacakan surat ini berarti Oma sudah tidak ada disampingmu lagi, sebenarnya banyak yang ingin Oma sampaikan, jadi Oma bagi apa yang akan Oma sampaikan ke dalam tiga lembar surat.
Dan Ini adalah bagian pertamanya.
Saat ini kamu pasti sudah tinggal bersama Hasna. Oma memintanya menjagamu sampai engkau menikah nanti, jika kau tidak keberatan Oma dan Hasna jauh-jauh hari sudah merencanakan akan menikahkanmu dengan salah satu putranya.
Jika hal tersebut tidak bisa terlaksana atau putra-putra Hasna telah berumah tangga, Oma meminta Hasna mencarikanmu imam yang terbaik. Seseorang yang menerimamu apa adanya, baik masa lalumu maupun keadaanmu saat ini.
Jika Hasna menjatuhkan putusannya akan memilih calon untukmu, Oma harap kamu menerimanya dan mengikuti keinginannya dengan ikhlas karena Oma yakin Hasna akan memilihkan yang terbaik untukmu. Jangan kau ragukan keputusannya.
Jika kau akhirnya tidak bersama salah satu putra Hasna, kamu jangan pernah memutuskan silaturrahmi dengan keluarganya.
Oma menyayangimu dan Hasna pun sama.
Untuk surat pertama hanya itu saja yang ingin Oma sampaikan. Setelah kamu menikah, kamu bisa meminta dan membacakan surat kedua.
Dari Oma yang menyayangimu.
Akhir kata, teruslah bahagia dan menebar cahaya. Teguhkan hatimu dalam istiqomah berhijrah.
"Wassalamu'alaikum."
_________________________________________
Riqhad menutup surat tersebut dan menyerahkannya kepada Shanum. Shanum menitikkan air mata sambil memeluk surat itu. Riqhad menyaksikan hal tersebut dengan refleks tangannya terangkat hendak mengelus kerudung Shanum namun seketika ia urungkan.
"Oma...." lirih Shanum.
"Shanum... Shanum sayang sama Mama Hasna?" Tanya Hasna.
Shanum mengangguk, "iya, Shanum sayang. Sayang banget."
Shanum menggenggam tangan wanita paruh baya itu. Mama Hasna pun tersenyum dan beralih memandangi putranya.
"Abang udah buat putusan mengenai apa yang Mama sampaikan sebelumnya?" Tanya Hasna pada putranya.
Shanum bingung namun hanya diam mendengarkan percakapan ibu dan anak itu.
__ADS_1
Riqhad mengangguk dan berkata mantap-
"Riqhad bersedia."