A

A
TIGA PULUH DELAPAN


__ADS_3

PART 38 - BAHAGIA MILIK KITA


"Dan sebagian dari dari tanda-tanda kebesaran-Nya adalah Dia menciptakan pasangan-pasangan bagi kalian dari jenis kalian, agar kalian merasa tenang pada pasangan kalian dan Dia menjadikan diantara kalian rasa kasih sayang dan cinta. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda - tanda bagi orang-orang yang berfikir."


(Q.S. Ar Rumm, 30 :21)


_________________________________________


Langit sudah begitu cerahnya, kicauan burung pun bersautan di dahan pepohonan sana. Tetapi sepasang manusia masih betah berlama-lama di atas ranjangnya sambil berbagi kehangatan. Riqhad memeluk tubuh Shanum dengan erat seakan tak ingin wanitanya ini berada jauh darinya. Wanitanya? Iya, Shanum sudah bisa ia sebut sebagai wanita sekarang.


Setelah mengungkapkan rasa sayang diantara keduanya dan lampu hijau telah Shanum berikan pada suaminya, Riqhad dan Shanum pun menuntaskan apa yang seharusnya mereka lakukan di awal pernikahan mereka. Bercumbu dalam naungan cinta Allah, berharap Allah melimpahkan Rahmat dan kasih sayang-Nya kepada mereka.


Temaram lampu tidur menjadi saksi keikhlasan Shanum dalam menyerahkan diri seutuhnya pada satu-satunya pria dihati. Iya, Riqhad tamu dihati Shanum. 'Tamu yang menetap' kata Riqhad.


Riqhad mengambil semua hal pertama dari diri Shanum, ia bersyukur telah memiliki Shanum dan Shanum pun sama, telah memilikinya. Semoga tak lama lagi, Qhanum junior akan hadir diantara mereka.


Tok... tok... tok....


"Bang! Bang! Udah bangun belum?" Tanya suara di luar sana.


Tapi masih tidak ditanggapi oleh sepasang manusia di dalam kamarnya.


Setelah melaksanakan sholat subuh, Riqhad mengulangi kembali kegiatannya itu. Membawa Shanum ke muara kasih pernikahan mereka. Hingga sekarang, jam menunjukkan pukul 08.00 pagi dan mereka belum menampakkan diri untuk menikmati sarapan bersama. Ritual keluarga ini.


"Bang! Bang! Shan! Kok belum turun sih? Ngga sarapan?" Teriak Zoeya lagi dengan gedoran yang semakin kencang.


"Ck, ganggu aja. Lagi tidur juga." Riqhad berdecak dengan mata yang masih tertutup. Gedoran Zoeya di pintu kamar semakin menjadi-jadi hingga dengan terpaksa Riqhad membuka kedua matanya yang sebenarnya masih butuh terlelap.


Setelah iris gelapnya menerima cahaya, yang pertama ditemuinya adalah sosok wanita cantik yang masih tertidur pulas. Riqhad tersenyum mengabaikan kericuhan Zoeya, ia mengelus lembut rambut panjang istrinya yang terlihat sedikit kusut. Memandangi lamat-lamat wajah yang membuatnya selalu terpesona.


Riqhad sangat bersyukur karena hanya dialah yang melihat pemandangan menakjubkan dari istrinya ini. Ia seakan ingin menyembunyikan Shanum, kalau bisa tidak usah ada orang yang melihatnya meski seujung kuku pun. Terlintas dipikirannya, bagaimana kalau Shanum menggunakan cadar saja? Agar wajah cantiknya hanya bisa dinikmati oleh Riqhad saja.


Riqhad mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi Shanum pelan, takut si empunya terbangun. Kemudian tangannya mengelus wajah Shanum yang terlihat sedikit sembab karena terjadi sedikit tragedi di malam dan pagi tadi hingga membuat Shanum menangis. Tragedi yang akhirnya berakhir indah, tentu saja.


"Bang! Abang masih hidup kan di dalam sana?" Zoeya masih belum menyerah mengganggunya. Kemudian Riqhad berdiri dan menaikkan selimut pada tubuh Shanum yang sedikit terbuka itu.


Ceklek


Riqhad membuka pintu kamar sedikit dan hanya memunculkan kepalanya saja, menatap Zoeya kesal. "Apa? Ganggu aja pagi-pagi."


Mata Zoeya menyipit dan menilai gelagat Abangnya itu. "Kenapa belum turun? Mama nunggu sarapan bareng tuh! Mentang-mentang hari minggu Abang malas bangun."


"Iya, nanti kita turun! Kamu sama Mama duluan aja sarapannya. Nanti Abang nyusul." Jawab Riqhad dengan malas.


Zoeya maju dan hendak membuka lebar pintu kamar Riqhad, namun terdengar suara ringisan di dalam sana hingga tanpa pikir panjang Riqhad menutup pintu kamarnya dan menguncinya cepat.


"Kamu sama Mama duluan aja. Jangan tunggu Abang!" Ulang Riqhad dengan sedikit berteriak dari dalam kamarnya.


Riqhad cemas melihat Shanum berusaha berdiri dari ranjang dengan sedikit meringis sakit, Riqhad dengan sangat hati-hati membatu Shanum hingga menuntun istrinya menuju kamar mandi.


***


"Assalamu'alaikum Ma, Oya." Sapa Riqhad ketika menghampiri Mama dan Adiknya di halaman belakang.


Zoeya sedang serius memantengi laptopnya dan Mama Hasna sedang menyirami taman mawarnya.


Satu jam tiga puluh menit telah berlalu sejak Zoeya membuat gaduh di depan kamar Abangnya. Riqhad juga sudah menyelesaikan sarapannya namun tidak di ruang makan melainkan di kamarnya sendiri karena ia kasihan melihat tubuh istrinya yang 'ehem' sedikit kesusahan ketika berjalan. Hingga Riqhad meminta Bi Cici mengantarkan makanan mereka ke kamar.


Setelahnya, di sini lah Riqhad sekarang, menghampiri Mama dan Adiknya sedangkan Shanum tak ia izinkan turun. Riqhad terlalu berlebihan memang.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Zoeya ketus.


"Wa'alaikumsalam Bang, udah sarapannya?" Tanya mMma Hasna disela aktivitasnya itu.


Riqhad mengangguk dan ikut bergabung di kursi depan Zoeya. "Udah Ma, maaf ya nggak bisa barengan tadi. Kita telat bangun." Jawab Riqhad dengan masih serius memandangi Adiknya yang sedang menggambar suatu pola.


"Ngapain aja sampe bangunnya lama?" Zoeya menimpali Riqhad.


"Ck, mau tau aja kamu urusan orang dewasa." Jawab Riqhad sambil mengambil alih kertas di depan adiknya itu.

__ADS_1


"Oya udah dewasa tau. Ish... Abang kembaliin!" Ucap Zoeya berusaha merebut kertas di tangan Abangnya.


Mama Hasna hanya tersenyum melihat interaksi kedua anaknya, hingga ia kembali bersuara. "Bang, Thoriq ke mana sih udah lama nggak ke rumah?" Tanyanya.


Riqhad menyerahkan kertas yang ia pegang pada Zoeya yang dibalas dengusan dari Adiknya itu kemudian ia menghadap ke arah mamanya. "Bang Thoriq ke Bogor ada urusan di sana, Ma. Jadi, Riqhad yang ambil alih kantor." Terangnya sesantai mungkin.


Mama Hasna hanya menghela nafas dan ikut bergabung dengan anak-anaknya namun ia heran kenapa Riqhad hanya sendiri, kemana Shanum? Inikan weekend dan tentunya Shanum tidak ada urusan kuliah pagi ini.


Belum sempat menanyakan pada putranya, sosok yang ada dipikirannya itu muncul. Mama Hasna tersenyum memperhatikan menantunya. "Sini saying." Ajaknya.


Riqhad yang mendengar suara mamanya mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan di sana Shanum berjalan pelan menuju mereka. Pagi ini Shanum menggunakan gamis polos berwarna lavender dengan kerudung berwarna moca sangat meneduhkan dimata Riqhad.


Tanpa pikir panjang Riqhad meninggalkan kursinya dan menghampiri istrinya, mengamit tangan Shanum dan menuntunnya pelan. Shanum sangat malu melihat tingkah berlebihan Riqhad ini, gara-gara ia sedikit kurang nyaman ketika berjalan menuju kamar mandi tadi, Riqhad sudah menyimpulkan sendiri bahwa hari ini Shanum harus bedrest, apa-apaan itu.


"So sweet banget, Bang." Ucap Zoeya dengan wajah mendamba.


Ia memperhatikan perlakuan Riqhad pada Shanum hingga keduanya ikut bergabung bersama mereka.


Shanum hanya tersenyum sedangkan Riqhad malah menampakkan raut khawatir yang berlebihan terhadap Shanum, sungguh-sungguh si Dosen ini.


"Kalian ngga mau bulan madu gitu, Nak?" Tanya Mama Hasna tiba-tiba pada anak-menantunya itu.


Wajah Shanum memerah, ketika hendak menjawab ia didahului oleh Riqhad, "kita nggak perlu bulan madu, Ma. Karena di mana pun tempatnya asalkan bersama dengan Shanum, itu adalah lebih dari bulan madu itu sendiri. Kalau bisa sih, bulan madunya nanti-nanti aja pas anggotanya ada tiga."


Wajah Shanum tambah memerah mendengar itu.


Mama Hasna menatap senang putranya dan menantunya sedangkan Zoeya terlihat iri hingga berkata, "kok Abang bisa romantis gitu sih? Mau dong satu yang kayak Abang." Ucapnya dan dihadiahi cubitan oleh mamanya.


"Kamu mau nikah juga? Udah siap? Biar Mama carikan calonnya, nggak usah susah-susah yang deket ada." Jawab Mama Hasna sambil menggoda putrinya.


"Siapa Ma?" Tanya Riqhad.


"Tuh, Aufar. Mama kok suka ya sama anak itu." Jawab Mama Hasna yang membuat Zoeya menunduk dengan perasaan tak karuan.


Shanum tersenyum menatap ke arah Zoeya sedangkan Riqhad menggelengkan kepalanya seraya berkata, "nggak ada yang lain apa selain si kecebong itu? Perusuh dia Ma."


"Maaf, Nya, Non, Mas, Mbak, itu di luar ada cowok keren nyariin Non Oya." Katanya.


"Siapa?" Tanya Zoeya bingung sebab dia tak punya janji dengan siapapun hari ini.


"Katanya, calonnya Nona Oya. Namanya Aufar dan dia ke sini mau nemenin Nona beli bahan buat desain." Terang Bi Ipah yang dihadiahi pandangan tak percaya yang diarahkan pada Zoeya.


Zoeya pun sama kagetnya, dari mana Aufar tahu kalau hari ini dia ingin mencarikan bahan untuk penyelesaian terakhir desainnya. Tanpa menunggu lama, Zoeya pun pamit pada Mama, Abang dan kakak iparnya itu untuk menemui Aufar.


Riqhad berdecak kurang suka dan kembali merangkul Shanum hingga memandang lembut ke arahnya. "Kan Abang udah bilang, jangan turun dulu. Istirahat aja di kamar." Kata Riqhad.


Mama Hasna yang sedang menikmati teh paginya hanya memandang bahagia ke arah mereka. Shanum membalas senyum mama mertuanya dan kembali menjawab pertanyaan dari Riqhad yang bersikap berlebihan ini. "Shanum bosan di kamar, Shanum baik-baik aja kok. Cuma, tadi handphone Abang bunyi dan maaf, Shanum yang mengangkatnya."


"Siapa yang telepon?" Tanya Riqhad santai.


"Yang nelepon itu Mas Gilan, dia minta Abang sama Shanum ke Rumah Sakit katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan dengan kita berdua." Terangnya.


"Siapa yang sakit Shan?" Tanya Zoeya yang muncul kembali karena ingin mengambil laptopnya yang tertinggal.


"Nggak tahu, tapi Shanum sama Abang di suruh ke sana. Katanya di sana ada Fhariza dan Ratu juga." Jawab Shanum lagi dengan nada yang tidak nyaman.


Riqhad dan Zoeya saling pandang karena kaget sedangkan Mama Hasna merasa penasaran mengenai siapa itu Fhariza.


"Ma, Oya. Abang sama Shanum izin ke luar dulu ya. Dan Zoeya, tolong kamu jelaskan ke Mama semuanya tentang Fhariza agar Mama tahu yang sebenarnya dan tidak lagi bingung. Jangan khawatir Oya, karena sekarang Abang hanya milik Shanum dan sebaliknya." Ucap Riqhad sambil menggenggam tangan Shanum untuk pamit.


***


Shanum dan Riqhad telah sampai di Rumah Sakit yang disebutkan Gilan, mereka juga sudah mengetahui kamar yang dikatakan oleh Daddy Ratu itu. Mereka heran, mengapa kamar yang mereka cari harus atas Nama Ratu dan bukan Gilan atau yang lainnya, apakah Ratu sakit? Ataukah ada yang disembunyikan.


Sedari tadi Shanum merasa tidak nyaman dan meminta agar tidak usah ikut saja, tapi Riqhad menolak keras. Dengan adanya Shanum di sampingnya nantin maka urusannya dengan Fhariza akan cepat terselesaikan dan ia tak ingin menyembunyikan Shanum lebih lama lagi dari Fhariza. Hingga di sinilah mereka sekarang di depan ruang rawat inap VVIP.


Ceklek


"Assalamu'alaikum." Ucap Riqhad.

__ADS_1


Gilan tersenyum dan membalas salam dari Riqhad, Daddy Ratu ini pun mempersilakan keduanya masuk dan duduk di sofa tak jauh dari posisi Fhariza berbaring. Riqhad kaget menatap Fhariza, ia merasa iba melihat keadaannya saat ini. Jadi yang sakit adalah Fhariza? Tapi mengapa nama pasien yang dipakai adalah nama Ratu? Batin Riqhad.


"Om Ikat, Ante Canum." Sapa Ratu yang tadinya ikut berbaring di samping Fhariza. Keduanya pun kembali kaget melihat keberadaan Ratu. Kenapa ia begitu dekat dengan Fhariza.


"Hay cantik." Sapa Riqhad dan menempatkan Ratu dipangkuannya, Shanum mengelus pipi Ratu serta sesekali menciuminya. Batin mereka bertanya-tanya apa yang terjadi di sini, mengapa ada Gilan, Ratu dan Fhariza juga? Apa hubungan mereka.


"Om, Ante. Atu ceneng banget loh, telnyata Mom macih Ada dan Mommy ngga jadi ke culga kalena mau main cama Atu dan Dad juga." Ucap Ratu dengan ceria. (Om, Tante. Ratu seneng banget loh, ternyata Mom masih ada dan Mommy nggak jadi ke surga karena mau main sama Ratu dan Dad juga.)


Riqhad dan Shanum sedikit mengerti dengan apa yang diucapkan gadis kecil ini hingga keduanya pun saling pandang kemudian melihat ke arah Fhariza. Lalu meminta penjelasan pada Gilan.


Gilan menghela nafas, berdiri dan menghampiri ranjang Fhariza. Menatap lembut wanita yang masih tertidur itu.


"Fhariza adalah ibu biologis dari Ratu."


Beberapa saat setelah mendengar serius kebenaran mengenai Ratu dari mulut Gilan, Riqhad dan Shanum tak bisa menyembunyikan kekagetannya. Riqhad tak menyangka ternyata Ratu adalah anak dari kekasihnya, Fhariza.


Selama menjadi kekasih Fhariza tak sedikit pun Riqhad menyangka bahwa wanita itu tidak lagi seorang gadis. Kemudian ia menatap lembut ke arah Shanum hingga menggenggam tangan istrinya dengan sayang. Hal itu tak luput dari indera penglihatan Gilan, ia hanya tersenyum menyaksikan keduanya.


"Mommy bangun Dad!" Teriak Ratu hingga tergesa-gesa turun dari pangkuan Riqhad.


"Riqhad." Lirih Fhariza ketika melihat kehadiran Riqhad.


Kemudian matanya beralih memperhatikan sosok di samping Riqhad. Fhariza tahu perempuan ini, dia adalah mahasiswi yang pernah menabraknya dan mahasiswi yang ia bentak di kampus kemudian juga mahasiswi yang membuatnya merasa cemburu beberapa kali pada Riqhad.


Riqhad mengajak Shanum menghampiri ranjang Fhariza. Sedangkan Gilan membantu Ratu menaiki ranjang tersebut hingga putri mungilnya bisa menatap wajah ibunya dengan bahagia.


"Mommy, kenalin ini Om Ikat cama pacal eh calah istelinya. Namanya Ante canum, antenya cantik cama kayak Mommy juga cantik." Ucap Ratu senang. (Mommy, kenalin ini Om Riqhad sama pacar eh salah istrinya. Namanya Tante Shanum, Tantenya cantik sama kayak Mommy juga cantik.)


Fhariza tersenyum lembut ke arah Ratu hingga mengelus pipi gembulnya dengan menggunakan tangannya yang bebas dari selang impus.


"Iya sayang, Mommy tahu. Ini Om sama Tante kamu yang sering kamu ceritain itu." Jawab Fhariza lirih.


Kemudian pandangannya mengarah pada Gilan yang tersenyum lembut padanya. Gilan membantu menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya. Interaksi keduanya membuat Shanum dan Riqhad tersenyum lega.


"Riqhad, Shanum... meski kalian sudah tahu. Tapi izinkan aku memperjelas lagi. Ini Fhariza, ibu biologis dari Ratu dan sebentar lagi akan menjadi istriku. Meski keberadaan Ratu membuat kenyataan pahit diantara kami, tapi kami bertekat ingin membahagiakan buah hati kami kedepannya."


"Sejak dulu hal inilah yang ingin aku lakukan, karena mengetahui bahwa Fhariza tak menginginkan keberadaan Ratu dan menjalin hubungan dengan Riqhad, aku sempat pasrah tapi Allah berkata lain. Allah mempertemukan kami bertiga lagi sehingga kami berniat untuk merajut kasih sembari memohon ampunan kepada Allah atas apa yang kami lakukan dulu." Terang Gilan.


Fhariza tersenyum dan menitikkan air mata, "Riqhad, maafkan aku selama ini karena telah membohongimu dan juga menyusahkanmu. Kita tahu bahwa hubungan kita awalnya adalah saling menguntungkan sebab sama-sama menghibur diri ketika masalah hidup menghampiri kita hingga Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang yang akan menjadi teman kita untuk meraih surga-Nya."


"Aku sudah tahu semua tentang kalian berdua dan aku ikut bahagia, semoga kalian menjadi keluarga sakinah mawaddah dan warrohmah. Sekali lagi maafkan aku dan doakan aku agar sama-sama bahagia seperti kalian, tentunya bersama bidadariku dan Daddynya." Terang Fhariza sambil melirik ke arah Gilan.


Riqhad tersenyum dan mengangguk, ia sedikit maju sambil menggenggam tangan Shanum. "Aku juga minta maaf padamu atas semuanya dan terimakasih untuk kebaikan kamu beserta ayahmu yang telah bersamaku disaat kebencianku pada papaku mempengaruhi kehidupanku." Jawab Riqhad.


Kemudian ia membawa tangan Shanum ke arah tangan Fhariza, "maaf, biarkan tangan istriku menggantikan tanganku untuk memberimu semangat. Semoga kita masih menjadi teman ya setelah ini dan juga Semoga kamu bahagia bersama bidadarimu dan Rajanya." Ucap Riqhad pada Fhariza sambil sesekali memandangi Gilan.


"Iya, tentu saja. Terimakasih Riqhad dan Shanum. Sekali lagi maaf jika ada salah." Fhariza mengeratkan genggamannya pada tangan Shanum.


Shanum tersenyum lembut ke arah Fhariza, "Kak, Shanum juga minta maaf ya jika selama ini membuat Kakak risih dengan keberadaan Shanum. Sungguh, Shanum juga tidak menyangka akan berakhir bersama Pak Riqhad." Ucap Shanum dengan raut wajah yang merasa bersalah.


Fhariza melepaskan genggaman Shanum ditangannya dan meminta Riqhad mengambil alih tangan Shanum. Setelah Riqhad menggenggam tangan istrinya, Fhariza berkata. "Kamu ngga salah Shanum. Ini adalah rencana Allah dan aku bahagia melihat sahabatku, Riqhad bahagia bersamamu. Seperti kata Kak Gilan, rencana Allah adalah yang terbaik."


Shanum mengangguk membenarkan. Kemudian Riqhad kembali bersuara, "ngomong-ngomong kenapa kamu bisa di rawat di sini?" Wajah Fhariza berubah pucat kemudian irisnya menatap sedih ke arah Gilan.


Gilan maju dan mengelus wajah Fhariza, "ini semua akan menjadi perjuangan yang panjang, karena papa Fhariza ingin mencelakaiku dan itu sudah terjadi beberapa kali. Kali ini Fharizalah yang mendapat imbas karena membantuku. Aku menyembunyikan Fhariza di sini dengan menggunakan nama Ratu, susah sekali membawanya tanpa diketahui papanya." Terang Gilan sendu.


Riqhad sungguh kaget mengenai apa yang diucapkan Gilan ini. Benarkan Ayah dari Fhariza adalah pria sepicik itu? Lantas untuk apa ia berbuat begitu?


Pernah beberapa kali Riqhad merasakan kejanggalan pada pria itu. Sebab, sedari awal Riqhad meninggalkan rumahnya, pria itu mengaku mengetahui semua kebusukan ayahnya hingga ia berkata bersedia membantu Riqhad membalaskan kebencian pada Papanya dengan menggunakan perusahaan, tapi sayangnya Riqhad muda tak sebodoh itu hingga ia menyerahkan pucuk kepemimpinan pada Abangnya.


"Papaku adalah orang yang berkeras memintaku mendekatimu dan menjalankan rencananya. Terakhir ia memintaku menjebakmu agar mau menikahiku sebelum kamu mengetahui kebenaran antara aku dan Kak Gilan. Tapi, setiap langkahku yang ingin menjalankan rencana papa, aku selalu terbayang wajah putriku hingga aku berputar arah melawan keinginannya. Aku memantapkan diri untuk menerima lamaran Kak Gilan dan ikut bersamanya." Terang Fhariza sedih.


"Apa? Jadi, selama ini papamu adalah dalang yang memainkan kita seperti boneka? Aku juga diincar olehnya?" Tanya Riqhad.


Fhariza hanya membalas dengan anggukan diiringi deraian air mata.


"Maafkan Papaku ya. Aku akan berusaha membantu kalian jika papaku berniat jahat lagi, sebab kehilangan Mama dan beberapa kali dikhianati rekannya membuat papaku mengalami depresi karena ambisi dan terkadang bersikap sadis." Terang Fhariza.


Genggaman Riqhad di tangan Shanum kian mengerat, di dalam hati Riqhad melafalkan do'a agar keluarganya terhindar dari sesuatu yang berniat buruk terhadapnya. Ya, semoga mahligai barunya bersama Shanum tetap kokoh jika diterpa badai kedepannya. Riqhad berjanji akan berhati-hati dengan Ayah Fhariza yang merupakan salah satu rekan bisnisnya, Riqhad harus menyelidiki lebih lanjut mengenai semua ini.

__ADS_1


__ADS_2