A

A
ENAM BELAS


__ADS_3

PART 16 – (SEPERTI) KELUARGA BAHAGIA


Waspadalah terhadap waktu luang karena ia lebih banyak membuka pintu maksiat daripada syukur.


(Umar bin Khatab)


_________________________________________


Di sebuah butik pakaian muslim, terlihat tiga orang wanita yang sedang serius melakukan pekerjaannya masing-masing. Wanita paruh baya yang mengenakkan setelan gamis warna tosca menatap lembut wanita muda yang tengah sibuk mendata stok butik mereka yang baru sampai. Wanita bercadar itu sangat serius sehingga tidak menyadari bahwa ia sedang menjadi bahan tatapan.


“Bu, ada sebagian stok yang belum sampai. Seperti khimar dan yang lainnya.” Ucap wanita itu yang telah menyelesaikan tugasnya.


Dia pun menghampiri Bu Wirda yang masih saja menatapnya.


“Ya sudah, nanti ibu cek lagi. Mungkin dikirimnya terpisah.” Jawab wanita paruh baya ini.


“Kalau begitu, saya ke ruang depan dulu ya Bu. gamis yang ini, akan di pajangkan di sana kan?” Izinnya lagi.


“Nanti saja, Nak. Ada yang ingin Ibu sampaikan padamu, ayo ke ruangan Ibu.” Ucap Bu Wirda pada Harisa, wanita yang kali ini menggunakan cadar berwarna coklat tua.


“Apa yang ingin Bu Wirda sampaikan?” Batin Harisa. Ia pun mengikuti atasannya menuju ruangan yang berada di sebelah gudang penyimpanan  ini. Setelah sampai  di ruangan yang mereka tuju, Bu Wirda mempersilakan Harisa duduk di sampingnya.


“Ada apa ya Bu?” Tanya Harisa penasaran dengan apa yang akan disampaikan wanita di sampingnya ini.


“Apakah hari-harimu baik-baik saja?”  Basa-basi Bu Wirda.


Harisa menaikkan alisnya, bingung dengan basa-basi yang di sampaikan atasannya ini. Namun, ia tetap menjawabnya dengan sopan. “Alhamdulillah Bu, seperti biasanya.”


“Mengenai yang Ibu sampaikan sebulan yang lalu, Ibu masih mantap  dengan keputusan Ibu untuk menjodohkanmu dengan putra ibu.” Ucap Bu Wirda tegas namun masih dengan nada lembut keibuan.


Harisa pun menunduk dan tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Ia masih ingin mendengar kelanjutan apa yang akan disampaikan wanita paruh baya ini. Wanita yang telah banyak membantunya dan tak terhitung jasanya. Bagaimana caranya Harisa bisa menolak apa yang diinginkan oleh wanita baik ini?


“Kamu sudah bertemu kan dengan anak Ibu? Kalau tidak salah tiga kali kalian bertemu sejak Ibu memperkenalkan kalian. Bagaimana menurutmu mengenai Ardan?” Tanya Ibu Wirda penasaran, meskipun ia berharap sekali Harisa menjadi menantunya tetapi ia juga tidak ingin dianggap memaksakan kehendak.


“Mas Armadan baik, sholeh dan sepertinya sangat menyayangi keluarga.” Ucap Harisa sekalian memandangi wanita paruh baya itu.


Mendengar jawaban dari Harisa, mau tidak mau membuat ia tersenyum dan menggenggam tangan wanita bercadar ini dengan lembut. “Iya, dia memang sangat menyayangi keluarganya. Meskipun Ibu belum sepenuhnya tahu mengenai latar belakang dan masa lalumu, namun Ibu yakin kamu lah yang terbaik untuk anak ibu. Menikahlah dengan Ardan ya Nak, sudah cukup tiga minggu ini masa pengenalan kalian dan ibu juga melihat Ardan menyukaimu.”


Mendengar itu, seakan detak jantung Harisa berhenti berdegup. Air matanya ingin meleleh rasanya, ia tidak ingin mengecewakan wanita yang telah membantunya selama ini. Tidak. Bukan ini yang dia mau. Tetapi bagaimana menyampaikannya? Harisa merasa tidak pantas berdampingan dengan putranya Ibu Wirda, Armadan. Dia tak pantas.


“T-tapi Bu-”


“Kamu tidak usah gugup begitu. Ibu sudah cukup mengenalmu beberapa tahun ini. Itulah yang membuat Ibu memilihmu. Kuliahmu juga sebentar  lagi selesai, kamu tunggu apa lagi? Menikahlah. In syaa Allah besok atau lusa kami akan menkhitbahmu.”


***


“Assalamu’alaikum.”


Kegiatan Shanum terhenti karena mendengar salam dari arah pintu masuk. Suara maskulin itu seperti suara yang pernah Shanum dengar.


"Wa’alaikumussalam. Mas Gilan!” Ucap Shanum kaget.


Anak didiknya pun menghentikan bacaan Al-Qur’an mereka dan menatap orang yang baru saja masuk ke ruangan mereka belajar. Menatap sosok gagah, berwibawa dan rapi itu.

__ADS_1


Gilan yang masih mengenakkan setelan jas lengkap, terlihat bahwa dia baru saja kembali dari kantornya. Dan untuk apa Mas Gilan ke sini? Dari mana dia tahu kalau aku ada di sini? Batin Shanum. “Tidak, tidak. Belum tentu dia mau menemuiku, mungkin saja dia memiliki keperluan di MSBA ini.” Pikir gadis berkerudung krem ini yang telah berdiri dari posisinya semula.


Ia pun melangkah mendekati Gilan yang masih berada di ujung pintu. Tak lama kemudian, dari balik tubuh tegap Gilan, muncullah sosok malaikat kecil yang begitu menggemaskan. “Ante Cantik.” Sapa lembut Ratu yang kini sudah memeluk tubuh Shanum. 


Shanum yang melihat kelakuan Ratu begitu menjadi salah tingkah dan mengontrolnya dengan mengelus lembut rambut Ratu.


“Maaf telah mengganggu waktumu mengajar Shanum.” ucap Gilan bersalah sambil memandangi kelakuan anaknya.


“Tidak apa Mas, kami juga hampir selesai sebetar lagi. Mas ada perlu apa kalau boleh tahu?” Kata Shanum dengan tidak menatap lawan bicaranya.


“Eh, itu. Anu, si Ratu dari tadi pagi nangis-nangis ingin ketemu kamu katanya. Saya sudah membujuknya, mengatakan bahwa kamu kuliah hari ini dan pulangnya mungkin sore. Dan sore ini dia kembali menagih ucapan saya.” Kata Gilan menyampaikan maksud kedatangannya.


“Benarkah? Lalu, bagaimana Mas Gilan tahu kalau Shanum ada di sini?” Tanya Shanum heran.


“Tadi, kami ke rumah Tante Hasna. Dan Tante Hasna sedang ada acara di luar. Ketika kami hendak meninggalkan rumah dengan Ratu yang masih berulah, Oya baru pulang dari kampus. Oya lah yang memberitahunya.” Jawab Gilan.


Shanum mengangguk paham dengan apa yang di sampaikan Gilan. “Kak, kita nggak lanjutin lagi nih ngajinya?” Ucap salah satu  anak didik Shanum.


Seakan telah menelantarkan anak didiknya itu, Shanum pun melangkah masuk dan melanjutkan kegiatan mereka. Ratu dan Daddy-nya sudah di persilakan Shanum untuk masuk dan sekarang mereka duduk di bangku paling belakang.


Gilan terus saja menatap Shanum dengan telaten mengajari anak-anak SD sampai SMP itu mempelajari Al-Qur’an. Pria tampan ini takjub dengan perempuan muda itu, cantik, baik, ramah, sholehah dan juga lembut. Tanpa sadar, Ratu menyaksikan tatapan Daddy-nya untuk tante cantik. Ratu pun menyapa dengan celotehan khas anak-anak, “Dad suka ante cantik ya?”


***


Mobil yang ditumpangi Shanum, kini telah berhenti di depan pintu gerbang rumah Ummi Hasna. Senja kian menjingga, pertanda si malam sebenar lagi menyapa.


Setelah menyelesaikan tugas mengajarnya hari ini, yang sebenarnya adalah jadwalnnya Harisa. Karena Shanum menerima telepon dari Harisa dan dia mengatakan sedang tak bisa mengajar hari ini sehingga meminta bantuan Shanum untuk menggantikannya. Mungkin Kak Harisa sibuk mempersiapkan acara lamaran untuknya. Batin Shanum. Harisa memberitahunya bahwa besok atau lusa dia akan dilamar, Shanum ikut bahagia medengar kabar itu.


“Maaf sudah merepotkanmu, sehingga membawamu pergi dan pulang kemalaman. Terima kasih telah menemani Ratu.” Ucap Gilan di balik kursi kemudinya.


Ia menatap Shanum yang berada di kursi belakang dengan Ratu yang telah terlelap di pangkuannya. “Iya, Mas tidak apa-apa kok. Shanum juga senang bisa ketemu Ratu lagi." Balas Shanum.


Gilan turun lebih dulu dan memindahkan putri bandelnya ini ke kursi depan, di sebelahnya. Dengan lembut dan hati-hati takut membangunkan Ratu, Gilan mengangkat tubuh mungil Ratu yang terlihat masih betah di pangkuan Shanum.


“Eh, maaf.” Ucap Gilan spontan karena menyentuh lengan Shanum.


“Tidak apa-apa Mas. Mas tidak sengaja.” Balas Shanum seraya melangkah keluar dari mobil Gilan. 


Setelah memindahkan putrinya, Gilan pun berkata, “omongan orang-orang tadi, jangan terlalu di dengar ya.”


Wajah Shanum pun memerah akibat ucapan Gilan. Shanum menunduk dan mengangguk paham.


“Ya sudah sana masuk. Sekai lagi terima kasih.” Ucap Daddy-nya Ratu yang kini telah kembali ke kursi kemudinya.


“Iya, terima kasih kembali. Hati-hati nyetirnya. Assalamu’alaikum.” Imbuh Shanum sebelum melangkah ke dalam.


Shanum menutupi wajahnya yang masih sedikit memerah, ingatannya kembali ketika mereka berada di restoran tadi. "Ya Allah hindarilah aku dari hal yang buruk, sungguh aku malu." Batin Shanum.


Flashback On


Setelah anak didiknya menyalim tangannya satu per satu, Ratu kembali memeluk Shanum dan menengadah menatapnya. "Ante, kita main yuk!" Ajak Ratu.


Gilan yang berada di sebelahnya menasehati putrinya itu, "hari udah sore banget ini, tante juga lelah mau istirahat. Iya kan tante?" Kata Gilan seraya meminta pembenaran dari gadis yang di peluk putrinya itu.

__ADS_1


"Iya, hari udah sore Ratu. Mainnya lain kali aja ya, Ratu kan mau bobok." Kata Shanum lembut.


Mendengar itu, wajah Ratu pun ditekuk. "Ratu kan udah ketemu nih sama tante Shanum. Jadi, ayo kita pulang. Nanti Oma dan Opa nyariin loh." Gilan membujuk anaknya.


"Gak mau, kalo nggak bisa main. Atu mau makai ice krim aja, tapi ditemenin sama Ante juga." Ucap Ratu merengek.


Tak tega melihat wajah cemberut Ratu, Shanum pun mengangguk menyambut keinginan si kecil ini.


Hingga sekarang mereka sudah sampai di restoran dan memesan ice cream. Gilan hanya memesan Coffe karena ia memang sudah makan tadi sebelum mengantarkan Ratu. Sedangkan Shanum memesan ice cream yang sama dengan Ratu walaupun berbeda rasa. Shanum merupakan salah satu penggila coklat sehingga ia memesan ice cream dengan rasa itu. Sedangkan Ratu sedang asyik menikmati ice cream rasa strawberry. Dari yang di ceritakan Gilan, anaknya ini ternyata memiliki alergi yang unik. Yaitu alergi terhadap coklat, diusia 2 tahun Ratu pernah masuk rumah sakit karena memakan kue yang terbuat dari coklat.


"Wah, beruntung sekali adik berdua ini. Menikah muda dan punya anak yang lucu." Ucap pengunjung restoran lainnya yang berada di samping meja mereka.


"Iya, ya Mbak. Lebih baik nikah muda daripada hamil di luar nikah." Tambah teman si pengunjung tadi.


"Permisi Mas, Mbak boleh gabung nggak?" Tanya ibu-ibu yang sebelumnya terus memperhatikan kebahagiaan mereka.


"Silakan Bu." Jawab Gilan seraya menggeserkan kursinya dan tanpa sengaja bersenggolan dengan tubuh Shanum. Mereka pun saling berpandangan.


Ibu-ibu itu pun duduk di kursi kosong di meja Gilan. "Boleh tanya nggak Mas, Mbak?" Ucap Ibu itu.


Gilan yang baru mengangkat kopinya terpaksa menunda untuk meminumnya seraya mempersilakan Ibu itu untuk bertanya.


"Kalian nikahnya umur berapa ya? Kok terlihat masih muda begini? Lagian anak kalian udah gede juga." Kata si Ibu dengan membelai pipi tembem Ratu.


"E, i-itu kami a-" ucap Shanum terpotong dengan suara si Ibu lagi.


"Kalian terlihat bahagia sekali, dari tadi saya melihat kalian saya jadi kepo sendiri. Hehe. Maaf ya udah ganggu acara keluarga bahagia kalian." Jawab si Ibu berbinar kagum.


"Hehe, iya." jawab Gilan kikuk.


"Pertahankan ya, biasanya rumah tangga yang dijalani oleh pasangan muda banyak kerikilnya. Saya doakan kalian hidup bahagia dan keluarga kalian bisa nambah lagi." Kata ibu itu lagi.


Lah, tadi nanya. Mau dijawab eh di potong. Terserahlah. Kok jadi gini ya? Batin Gilan.


Gilan pun menatap wajah Shanum yang mulai memerah, dia juga ingin menyanggah ucapan ibu-ibu di sebelahnya ini. Namun, susah sekali untuk menyela.


"Iya Bu, makasih nasehatnya." Timpal Gilan.


"Dad, aku udah abis nih." Ucap Ratu.


Melihat mulut Ratu yang belepotan, Shanum pun mengambil tissue dari tasnya dan membersihkan mulut Ratu dengan lembut.


"Kamu belepotan sekali makannya." Kata Shanum.


"Hehe. Enak." Cengir Ratu.


"Aduh, kalian pasangan yang bahagia banget ya. Si Cantik mau punya Adek nggak?" Tanya Ibu itu pada Ratu. Ratu pun mengangguk antusias seraya menatap Daddy-nya.


Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum kaku, "nampaknya kalian sudah selesai. Saya akan kembali ke meja saya. Ini id card saya, jika ingin konsultasi masalah program kehamilan bisa hubungi saya ya. Hehe, semoga dalam waktu dekat saya menerima kabar dari kalian." Kata si Ibu seraya pindah ke meja sebelah setelah memberikan selembar id cardnya.


Dengan mengabaikan komentar orang-orang di restoran kepada mereka, mereka pun meninggalkan restoran ini dengan wajah kebingungan dan salah tingkah. Sedangkan Ratu tengah asyik memikirkan akan memiliki adek setelah ini, ia meloncat riang menuju mobil Daddy-nya.


Flashback Off

__ADS_1


__ADS_2