A

A
TIGA PULUH DUA


__ADS_3

PART 32 - LAFAL CINTA UNTUK SHANUM


When Allah wants two hearts to meet, He will move both of them, not just one.


Bila Allah menginginkan dua hati untuk bersatu, Dia akan menggerakkan keduanya, bukan hanya satu.


________________________________________


"Riqhad bersedia.”


Setelah mendengar putusan dari putranya, Mama Hasna pun tersenyum lebar. Meski bibirnya kering dan wajahnya pucat namun rona kebahagiaan terlihat dimatanya. Ia mengucap syukur dan beralih menggenggam tangan Riqhad.


Riqhad pun lega melihat wajah sang Mama. Sementara Shanum masih tidak mengerti tentang pembicaraan barusan yang membuat mata wanita paruh baya ini berbinar.


“Baiklah, Mama ingin akad nikahnya cepat terlaksana. Mama tidak mau menunggu lama lagi, Mama takut tidak bisa menyaksikannya jika nanti-nanti.” Kata Hasna.


Riqhad tersentak dan tak tahu akan berkata apa. Di sebelahnya Shanum yang masih terheran-heran kembali bersuara.


“Maksud Ummi apa ya? Shanum ngga ngerti.”


Kemudian Ummi Hasna menjelaskan dengan suara yang masih lemah, “berdasarkan apa yang telah kamu dengar dari surat yang dituliskan oleh Omamu. Jadi, intinya salah satu putra Mama bersedia menjadi imammu Nak.”  Irisnya menyipit ke arah Riqhad.


Deggg


Shanum menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia terkejut tentu saja. Jadi, maksud perkataan Pak Riqhad barusan adalah ia bersedia menikahinya. 'Ya, Allah inikah rencana-Mu? Bantu aku untuk meyakinkan diriku.' Batinnya.


“Tapi Ummi... Shanum t-“ ucapan Shanum dipotong lebih dulu oleh suara Riqhad.


“Ma, Riqhad akan ikutin kata-kata Mama tapi sebelumnya Mama harus sembuh dulu dan mau dipindahkan ke Jakarta.”


Mama Hasna menggeleng lemah, “tidak Bang. Mama minta dilaksanakan segera, kalau bisa di sini saja. Tidak peduli di mana pun tempatnya, yang terpenting niatnya dan keikhlasan kalian.”


Riqhad menghela nafas dan menatap Shanum yang terlihat gelisah. Kemudian ia meminta izin kepada mamanya untuk membawa Shanum keluar karena ada yang ingin ia bicarakan.


Di Taman Rumah Sakit


Sudah hampir 10 menit Shanum dan Riqhad hanya duduk membisu di bangku taman, tak ada yang berani memulai pembicaraan terlebih dahulu.


Riqhad memperhatikan Shanum yang hanya menunduk dan meremas kedua tangan di pangkuan. Riqhad mengerti akan kebimbangan gadis di sampingnya ini. Tak tahan dengan kesunyian, Riqhad pun memulai pembicaraan.


“Apa kamu tidak suka dengan keputusan yang saya buat?” Tanyanya datar dengan pandangan lurus ke depan. Tidak memandangi Shanum.


Shanum menghela nafas dan bersuara, “Shanum hanya bingung dan bimbang Pak.”


“Shanum tidak akan menolak apa yang tertulis di surat Oma. Tapi, Shanum tidak yakin jika itu terlaksana sekarang.” Tambahnya.


“Apakah kamu masih mengharapkan seseorang yang kini telah menjadi suami orang? Apakah kamu merasa menyesal telah menolak niat baiknya dulu? Ataukah kamu lebih menyukai orang yang telah memiliki seorang anak?” Tanya Riqhad yang kali ini melihat ke arah Shanum sekilas.


Mendengar itu, sontak membuat Shanum menegakkan punggungnya dan mengernyit bingung.


“Apa maksud Bapak? Memang siapa yang Shanum harapkan? Dan siapa pula yang Shanum suka?”


“Apa maksud dari tuduhan Pak Riqhad ini?” Batinnya menerka.


Riqhad berdecak dan kembali bersuara.


“Bukankah kamu pernah dilamar oleh Azhar sebelumnya? Apa kamu menyesal menolaknya sekarang? Atau kamu lebih memilih Gilan yang terlihat menyukaimu?” Riqhad memperjelas.


Shanum menggeleng cepat, “tidak Pak, semua yang Bapak tuduhkan itu tidak ada yang benar.”


“Memang Mr. Azhar pernah menyampaikan niatnya, tapi waktu itu Shanum memang belum siap dan juga Shanum tak pernah menyesal telah menolaknya. Kalau masalah Mas Gilan, Shanum menghormatinya dan kebetulan Ratu mudah akrab dengan Shanum. Tak pernah terbersit dihati Shanum untuk menggantikan posisi ibunya Ratu.”


Riqhad menghela nafas lega. “Jadi, apa yang membuatmu bimbang?” Tanya Riqhad penasaran.


Shanum mengangkat pandangannya dan berkata dengan hati-hati.

__ADS_1


“Sebelumnya maaf, Shanum ingin menanyakan. Apakah Pak Riqhad terpaksa mengabulkan permintaan Mamanya Bapak? Dan membuat keputusan seperti tadi?”


Riqhad mengangkat alisnya dan menggunakan kalimat pertanyaan Shanum untuk menanyai serta meyakinkan dirinya sendiri. Shanum pun melihat sedikit keraguan di wajah pria di sampingnya.


“Jujur Pak, jika Bapak terpaksa lebih baik kita tidak menjalankan wasiat itu. Biar Shanum meminta Mamanya Bapak untuk memilihkan orang lain saja, Shanum tak mungkin selamanya hidup membebani keluarga Bapak. Untuk itu Shanum setuju dengan siapapun yang dipilihkan Mama Bapak.” Terang Shanum lirih.


Mendengar penjelasan dari Shanum, dada Riqhad terasa sesak. Ia sangat tidak menyukai perkataan tersebut, sungguh.


Tanpa menunggu lama, Riqhad langsung menimpalinya dengan tegas. “Dengan mengucapkan Bismillahirahmanirrahim... Saya yakin dengan apa yang saya putuskan dan perkataan saya tidak main-main. Saya ikhlas. Meskipun tidak ada cinta namun bukan berarti ‘tidak akan’. Hanya belum.”


Entah mengapa mendengar keyakinan Riqhad, hati Shanum menghangat dan menurutnya tidak ada keraguan dari nada suara Pak Dosennya ini.


Ketika teringat suatu hal yang mengganjal Shanum kembali bersuara,  “apa yang membuat Bapak yakin dengan keputusan Bapak akan diri Shanum? Sedangkan Bapak tahu bahwa Shanum tidak memiliki apapun yang bisa Bapak banggakan, Shanum anak yatim piatu dan hanya sebatang kara. Shanum tak punya harta apalagi tahta, Shanum juga bukan sosok yang memiliki kelebihan untuk menjadi pendamping Bapak.”


Kali ini Riqhad memutar tubuhnya hingga benar-benar menghadap ke arah Shanum. Pandangan datarnya berubah lembut. “Saya tidak peduli semua itu. Yang saya tahu sekarang, saya tidak bisa membayangkan kamu akan hidup jauh dari saya dan keluarga saya. Saya ingin menjadi alasanmu untuk kuat menjalani kehidupan dan saya ingin menyaksikan kamu bahagia dengan posisi yang bisa saya lihat setiap saat.” Ucap Riqhad dengan lugas.


“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama”  (HR. Ibnu Majah).


“Apa masih ada yang kamu ragukan akan saya? Saya tahu saya bukanlah orang yang paham agama dengan baik, saya hanya hamba Allah yang penuh dengan kubangan dosa. Tapi jika bersamamu entah mengapa tanpa ragu sama bersedia. Saya merasa Allah semakin dekat dengan saya jika kamu bersama saya.” Tambah Riqhad dengan tulus.


Shanum tidak menimpali, namun gemuruh di dadanya kian menjadi.


“Shanum, diluar keburukan yang sering saya tujukan padamu. Meskipun tidak seperti yang kamu harapkan, saya ingin menyatakan. ‘Maukah kamu menjadi pendamping hidup saya? Mengejar surga bersama saya dan memupuk cinta atas lantunan nama-Nya?’”


Deg


“Pak, bisakah Shanum melaksanakan sholat istikharah terlebih dahulu?” Tanya Shanum dengan jantung yang berdetak kencang dan perasaan campur aduk.


Riqhad pun mengangguk dan tersenyum kecil, “iya silakan. Mari kita libatkan Allah dalam keputusan kita.”


Shanum tersenyum, tak terelakkan rona merah terbit di wajah cantiknya. Meneduhkan.


Kemudian, mereka pun meninggalkan bangku taman yang menjadi saksi gemuruh didada masing-masing. Di sela langkahnya Shanum kembali bersuara, “lantas bagaimanakah dengan kekasih Bapak? Semudah itukah perasaan Bapak berubah?”


Langkah Riqhad pun terhenti dan pandangannya datar seketika.


***


Ya Allah jika ini adalah rencana-Mu hamba ikhlas ya Allah. Meskipun bayangan masa lalu terus menakuti hamba.


***


Keesokaan harinya, tepat pukul 10 pagi. Musholla di Rumah Sakit Setya Insani terlihat sedikit lebih ramai. Bukan karena sedang melaksanakan ibadah namun di dalam sana akan dilaksanakan prosesi ijab qabul yang dapat dikatakan dadakan.


Setelah sholat subuh, Shanum menyampaikan jawabannya terhadap keyakinan Riqhad untuk meminangnya. Alhamdulillah putusan mereka sama-sama indah.


"Shanum, sebenarnya saya ingin memaksa kamu menerima saya. Setelah saya pikir-pikir, entah mengapa saya memang tidak bisa melihatmu dengan orang lain. Tapi, saya juga menghargai keputusanmu. Semoga jawaban yang kamu utarakan adalah jawaban terindah dan jawaban yang ingin saya dengar."


"Pak, sebelumnya Shanum mengucapkan banyak terimakasih untuk keluarga Bapak, yang telah menerima Shanum dengan baik. Bapak pun sama, terimakasih telah mau meminta Shanumbelajar menerima, mengajak Shanum untuk mengejar cinta Sang Maha Cinta Bersama dan memupuk cinta atas lantunan Asma-Nya."


"Jadi, bagaimana dengan istikharahmu? Akankah berlambuh seindah Asma-Nya? Adakah sepercik bayangan saya pada putusanmu itu?"


"Bapak, bagaimana bisa Shanum mengacuhkan jika ada sosok pria yang menawarkan tiket meraih surga bersama? Apakah Shanum bisa membantah jika ada yang mengajak Shanum untuk memupuk rasa cinta atas lantunan nama-Nya?"


"Jadi, jawabanmu untuk saya apa?"


"Untuk itu, dengan mengucapkan bismillah... Shanum menerima lamaran Bapak. Setelah Isthikarah, entah mengapa terlintas wajah Bapak. Mari sama-sama belajar menerima, Pak."


Kini, Mama Hasna terlihat lebih segar meski harus berbaring di atas tempat tidur yang ditempatkan dalam Musholla. Terlihat Thoriq sedang menyambut kedatangan penghulu dalam pernikahan Adiknya.


Riqhad dengan setelan jas putih dan peci senada terlihat gagah mendudukan diri di depan Pak penghulu. Latiffa, sepupunya itu ternyata bergerak cepat untuk menyiapkan pakaian mereka beserta  perlengkapan lainnya.


"Akhirnya, Om kita nikah juga. Dapat jodoh yang cantik dan baik lagi. Seneng banget liatnya." Kata Latiffa ketika mengetahui kabar ini.


Mahar seperangkat alat sholat yang diminta Shanum telah diletakkan di meja pembatas Riqhad dengan penghulu. Dan dengan mengucapkan Bismillah Riqhad mulai melantunkan surah Ar-Rahman yang juga sebagai mahar pernikahan mereka.

__ADS_1


Shanum duduk di samping Ummi Hasna yang berbaring, wanita baik yang sebentar lagi akan berubah status menjadi mertuanya, memikirkan itu wajah Shanum menjadi merona.


Zoeya menggenggam tangan Shanum yang menggunakan gaun syari senada berwarna putih. Zoeya berusaha menenangkan perasaan sahabatnya yang sebentar lagi akan ia panggil dengan sebutan ‘kakak ipar’. Tak pernah terbayangkan sebelumnya akan semua ini.


(فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ)


Ketika sampai pada ayat yang diulang sebanyak tiga puluh satu kali itu, hati Shanum bergemuruh dan perlahan ia menitikkan air mata. Betapa merdunya lantunan ayat suci Al -Qur'an dari pria yang berada di depan penghulu itu. Shanum terus berdoa dalam hati agar keputusannya ini tidak salah dan semoga keluarga mereka ke depannya diliputi Rahmat Allah.


“Shadaqallohul’adzim.” tutup Riqhad tengan takzim. Tanpa ia sadari, ia pun juga menitik air mata dalam melantunkan ayat Allah.


Kemudian, Riqhad pun menyambut tangan dari penghulu dan memulai melafalkan cinta untuk Shanum.


“Saya terima nikah dan kawinnya Elshanum Shaquena binti Abdullah Zoelkifli dengan maharnya hafalan Surat Ar-Rahman dan seperangkat alat sholat dibayar tunai.”


SAH


SAH


SAH


Alhamdulillahirabbil’alamin.


Shanum terisak dan mengucap syukur, ia pun seakan tidak mengingat lagi kenangan buruk di masa lalunya. Hari ini ia bahagia dan semoga selalu begitu.


Setelah menghapus jejak air mata bahagianya, Zoeya menuntun Shanum agar duduk di samping Abangnya. Kemudian, setelah menandatangani surat-surat yang ada di meja. Shanum pun diminta menghadap ke arah suaminya.


Shanum begitu cantik hari ini, Riqhad terpesona untuk kesekian kalinya. Wajah teduhnya membuat hati Riqhad ketar-ketir saat memandangi Shanum dengan posisi sedekat ini. Mahasiswinya yang kini merangkap sebagai istrinya.


Riqhad menengadahkan tangan kanannya bermaksud ingin memasangkan cincin kepada istrinya, meskipun bukan sebagai mahar pernikahan mereka namun sebagai tanda bahwa Shanum adalah kekasih halalnya.


Shanum yang tidak terbiasa bersentuhan dengan pria merasa ragu menyambut tangan Pak Dosen yang kini berstatus sebagai suaminya itu.


Riqhad tertawa kecil melihat tingkah Shanum yang menarik ulur tangan mungilnya. Keluarga yang melihat itu pun ikut tersenyum, begitu indah tingkah pasangan baru ini. Gilan yang awalnya terkejut mendengar Riqhad akan menikahi Shanum kini hanya menatap kecut. Ia bahagia melihat saudaranya bahagia, tetapi ada sisi hatinya yang tidak rela.


“Siniin tangannya!” Bisik Riqhad pada Shanum yang masih saja menyembunyikan tangannya di belakang tubuh mungilnya.


Dengan sedikit malu dan gemetaran Shanum menarik maju tangannya. Riqhad yang menyaksikan hal itu tidak ingin membuang waktu dan langsung menyambar lembut tangan istrinya. Begitu indah dan lembutnya sentuhan pertama mereka.


Seperti tersengat listrik, tangan Shanum tiba-tiba sedikit berkeringat. Apakah tangan Pak Dosennya dapat menyalurkan aliran listrik? Kok bisa? Bagaimana kehidupannya nanti? Bersentuhan tangan saja bisa membuatnya tersentrum. Pikir polos Shanum.


Setelah memasangkan cincin dijari masing-masing, Shanum diminta mencium tangan suaminya sebagai ungkapan rasa hormat. Ia pun menunduk dan mengecup lembut tangan kekar yang akan menjadi kekuatannya setelah ini. Kemudian beralih giliran Riqhad lah yang mengecup lama dahi sang istri.


Cup


Begitu syahdu dan lembut, membuat orang yang menyaksikan akan merasa iri pada mereka. Riqhad memejamkan matanya, begitu pun Shanum. Menikmati gelanjar aneh yang menyusup didada mereka. Gelanjar yang membahagiakan.


Ehem...


Thoriq berdehem, jika tak begitu bibir Riqhad tidak akan turun-turun dari kening Shanum. Si Abang perusak kehidmatan rasa.


Riqhad tersadar dan membuka iris gelapnya. Tersenyum canggung menghadap orang-orang yang menyaksikan. Kemudian, ia memandangi wajah perempuan di depannya. Ia belum melepaskan sepasang tangannya dari wajah sang istri, tangan kanannya bahkan mengelus lembut pipi Shanum sebelum menurunkannya. Halus dan bikin nagih.


Shanum terlihat kaku mendapat perlakuan begitu intim dari Pak Dosen bergelar suami. Tanpa diduga, dalam hatinya ia menghitung kontak fisik mereka. Pertama, tangan. Kedua pipi kanan dan kiri kemudian yang ketiga dahi. Setelah ini apalagi? Kok Shanum menjadi merinding.


Setelah menetralkan perasaan membuncah masing-masing, kemudian dilanjutkan dengan penyerahan mahar dari mempelai pria kepada mempelai wanita.


Karena sepakat pernikahan mereka akan disembunyikan untuk sementara, maka sesi foto mereka pun hanya melalui kamera mahal milik Aufar. Tentu saja, pria itu bertindak sebagai fotographernya. Karena akan terjaga kerahasiaannya.


Kepada Mamanya dan beberapa orang keluarganya yang tahu mengenai acara syakral mereka hari ini, Riqhad hanya menyampaikan bahwa alasan untuk menyembunyikan pernikahan ini adalah untuk menunggu kesembuhan Mamanya dan juga menunggu Shanum memasuki semester 4. Anehnya alasan itu diterima oleh sang Mama, tanpa perlu diintrogasi lebih lanjut.


Mama Hasna sangat bahagia, menyaksikan keinginannya tercapai. Ia sangat bersyukur putra keduanya menerima permintaannya dan juga ia bahagia karena bisa membalas budi pada Shanum dan Omanya. Meski keduanya meminta pernikahan ini disembunyikan untuk sementara, itu tak mengurangi rasa syukurnya.


Semoga pernikahan ini adalah awal kebahagiaan untuk keduanya. Sejak kedatangan Shanum, tanpa disadari Riqhad sudah bersedia menginjakkan kakinya lagi ke rumah mereka. Riqhad sudah mau bergabung di acara-acara keluarga, putranya itu bisa kembali dalam pelukannya dan juga ia lihat putranya itu terlihat lebih bahagia.


Semoga kedatangan Shanum merupakan awal yang indah untuk menyatukan keluarga mereka, semoga setelah ini secara perlahan Riqhad bisa menerima kebenaran yang sesunggunnya. Iya, semoga saja.

__ADS_1


Kedua pasangan baru itu pun berdiri menghampiri Mama Hasna dan bergantian memeluk wanita paruh baya yang sama-sama mereka cintai ini.


“Alhamdulillah. Barakallah anak-anak Mama, terimakasih telah mau dipersatukan. Semoga selalu bahagia. Mama sayang kalian.” Ucapnya.


__ADS_2