
PART 39 - DIA ISTRIKU
"Ya Allah, berilah aku rezeki cinta Mu dan cinta orang yang bermanfaat buat ku cintanya di sisiMu. Ya Allah segala yang Engkau rezekikan untukku diantara yang aku cintai, jadikanlah itu sebagai kekuatanku untuk mendapatkan yang Engkau cintai. Ya Allah, apa yang Engkau singkirkan diantara sesuatu yang aku cintai, jadikan itu kebebasan untuku dalam segala hal yang Engkau cintai."
(H R. Al-Tirmidi)
_________________________________________
Seminggu sudah Riqhad berada di Surabaya, Okhtara Group mengalami banyak permasalahan terkait penyelewengan-penyelewengan yang melibatkan para karyawan dan petingginya. Riqhad meminta cuti dari kampus selama mengatasi dan menstabilkan keadaan perusahaannya.
Melalui kantor pusat di Jakarta, Riqhad menerima banyak laporan dari orang kepercayaannya bahwa siklus keuangan menurun drastis, bahkan bahan bangunan yang digunakan pun banyak yang kualitas buruk dan tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan hingga beberapa klien yang menggunakan jasa Okhtara Group meminta ganti rugi atas hal tersebut. Ada juga yang sampai mengancam ingin menuntut mereka.
Riqhad ditemani oleh Thoriq dalam menyelidiki masalah ini, untuk sementara kantor pusat mereka percayakan pada Omnya yang merupakan sekretaris dari Riqhad. Sebenarnya, Omnya menawari untuk menemani mereka memeriksa kantor cabang di Surabaya yang merupakan penyedia bahan konstruksinya tapi melihat keadaan Omnya yang akhir-akhir ini mudah lelah membuat mereka mengambil alih sendiri masalah ini.
Untuk itu, Thoriq memilih mengesampingkan dulu permasalahannya bersama Syafiqa. Ia lega telah berhasil menemui Ibuk Tanti dan menceritakan kebenaran yang ada, ia juga menyampaikan keinginannya untuk bersatu kembali dengan istrinya.
Ibuk Tanti awalnya tidak percaya bahwa kisah keduanya sangat pelik, tapi Ibuk Tanti bahagia mendengar semuanya dari Thoriq. Syafiqa pun tak menyangka bahwa kesempatannya untuk bersama sang tercinta masih ada, ia bahagia ketika tahu Thoriq belum merealisasikan permohonannya di surat yang ia tinggalkan dan mereka masih sah sebagai suami istri sekarang.
Selanjutnya Thoriq dan Syafiq akan menjelaskan dengan jujur hubungan pelik mereka pada Armadan dan Ibunya dibantu oleh Buk Tanti tentunya, menjelaskan kebenaran tanpa harus menyakitkan. Apakah bisa? Semoga saja.
Hari ini adalah hari terakhir mereka berada di Surabaya. Dan siang nanti akan dilaksanakan meeting terakhir di Kota ini. Riqhad dan Thoriq telah mengantongi beberapa nama yang terlibat penyelewengan dalam perusahaannya, ketika rapat semua akan mereka beberkan. Mereka juga membahas biaya ganti rugi untuk beberapa klien yang merasa kecewa akan kualitas perusahaan mereka.
Di lain sisi, tepatnya di rumah keluarga Gilan sedang terjadi ketegangan sebab kehadiran sosok Fhariza. Awalnya ibunda dari Gilan menolak mentah-mentah ketika tahu Gilan ingin menikahi wanita yang telah melahirkan Ratu itu.
Setelah dua hari yang lalu membongkar kuburan bohongan yang dibuat oleh Gilan untuk meyakinkan Fhariza kalau ia keguguran ketika melahirkan, Fhariza pun diboyong Gilan menuju rumahnya dan di sinilah mereka.
Sejak kemarin mereka berusaha memberi pengertian pada keluarga Gilan mengenai keinginan mereka, akhirnya nama dari Gilan pun luluh juga karena melihat kebahagian dari cucunya, Ratu. Ratu begitu senang ketika mengetahui bahwa dia memiliki keluarga lengkap, Mommy yang dikatakan telah berada di surga ternyata kembali di tengah-tengah mereka.
Keputusan akhirnya pun ditetapkan, bahwa pernikahan keduanya akan diselenggarakan beberapa minggu lagi sebab Gilan telah memantapkan diri untuk meminta Fhariza dengan baik-baik pada syahnya.
Meski mereka tahu Ayah Fhariza akan menolaknya, tapi apa salahnya Gilan berjuang melawan kekerasan calon mertuanya. Itu semua ia lakukan demi putrinya, demi wanita yang merubah hidupnya serta atas keinginannya untuk memohon ampunan Allah untuk kesalahan mereka beberapa tahun yang lalu.
Semoga saja rencana mereka akan terlaksana tanpa kendala dan semoga ayah Fhariza merelakan anaknya untuk dipersunting oleh Gilan. Menjadi salah satu target dari ambisi Hardean tetap tidak meruntuhkan niat baik Gilan ini.
***
Keesokan harinya
Setelah kembali ke Jakarta, Riqhad dan Thoriq langsung menuju Kantor Pusat dan melakukan meeting dadakan dengan mengundang semua kepala devisi dengan agenda penting. Mereka ingin mengadakan analisa lebih mendalam mengenai kinerja per-devisi sebab nama-nama yang akan ia jadikan tersangka adalah berasal dari berbagai devisi.
Setelah melaksanakan rapat pentingnya, Riqhad ingin langsung menuju rumah tanpa menguhubungi Shanum lebih dulu. Riqhad begitu rindu sehingga dia ingin menumpahkannya ketika bersua, tidak melalui ponsel yang kadang hanya mampu membuat setengah lega.
Jam menunjuk pukul 16:00 sore, Shanum tentunya telah kembali dari Kampus. Riqhad sudah meminta Shanum mengundurkan diri dari mengajar mengaji di MSBA Al Ikhsan sebab Riqhad tak ingin Shanum melakukan banyak aktivitas di luar, Riqhad ingin Shanum fokus kuliah dan mengurusinya saja. Shanum juga senang dengan keputusan Riqhad karena berbakti pada suami adalah yang utama.
Riqhad selesai mengerjakan sholat ashar di Masjid dekat kantornya, setelah ini akan langsung menemui seseorang yang ia rindukan itu.
Setelah mencapai kompleks rumahnya, Riqhad menerima pemandangan yang menyakitkan untuk di lihat. Istrinya sedang jalan berdampingan dengan seorang pria berpeci hitam dengan balutan baju koko putih, pria itu terlihat seumuran Bang Thoriq atau mungkin lebih.
Meski tidak terlihat sedang bercakap-cakap dan hanya jalan biasa dengan Shanum yang selalu menunduk tapi entah mengapa hati Riqhad tetap saja panas melihatnya.
Saat Shanum telah sampai di depan gerbang rumah mereka, saat itu juga Riqhad memarkirkan mobilnya tepat di depan Shanum dan pria itu. Shanum kaget melihat sosok suaminya yang berdiri menjulang beberapa langkah darinya. Suaminya menatapnya tajam hingga perasaan Shanum menjadi tak karuan.
"Jadi, ini kerjaan kamu selama Abang ke luar kota?" Ucap Riqhad datar dengan pandangan mengintimidasi.
"Iya." Jawab Shanum polos.
"Selingkuh?" Tukasnya lagi dengan nada sinis.
"Siapa? Shanum?" Balas Shanum heran sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iyalah, siapa lagi kalau bukan kamu?" Riqhad memutar matanya malas sambil menahan geraman.
"Sama siapa?" Tanya lagi yang membuat Riqhad merasa berapi-api.
Riqhad pun menunjuk ke arah pria di depannya dengan pandangan tidak suka.
Shanum melongo tak percaya seraya menimpali, "Abang, ini Ustadz Dzaki loh. Rekan Kak Risa di MSBA Al Ikhsan, tempat Shanum ngajar ngaji beberapa waktu yang lalu."
"Iya Ustadz, tipe kamu banget kan." Ucap Riqhad ketus sambil memperhatikan pria yang disebutkan Shanum dari ujung kaki hingga peci.
Ustadz Dzaki yang melihat mereka berdua hanya mengelus dada sambil **** senyum.
"Maaf Mas, Mas cemburu ya sama saya?" Ustadz Dzaki menimpali dengan lembut dan seramah mungkin.
"Iyalah. Saya capek kerja sambil nahan rindu, eh yang dirindukan malah giniin saya, lupa sama suaminya." Jawabnya denga kesal tapi entah mengapa terdengar menggelikan ditelinga Ustadz Dzaki.
Ustadz Dzaki tertawa kecil, lucu sekali interaksi pasangan ini.
__ADS_1
"Abang sembarangan aja, Shanum lebih rindu ya daripada Abang. Abang aja bisa kerja sambil nahan rindu tapi shanum kadang sampe nangis loh saking rindu sama Abang." Jawab Shanum jujur.
Riqhad kaget dan hatinya kembang kempis mendengar pengakuan indah dari istrinya. Kemudian matanya mengarah pada pria bernama Dzaki itu seakan meminta penjelasan lebih lanjut pada istrinya.
"Ustadz Dzaki udah nikah Bang, udah jadi Bapak orang lagi. Kebetulan beliau habis dari MSBA dan motornya lagi di bengkel jadi jalan kaki pulangnya. Rumah dia itu di ujung jalan sana. Kalo Shanum dari mini market beli cemilan, jadi ya kebetulan jalan barengan." Jelas shanum dengan perasaan gelinya. Lucu sekali suaminya ini.
Riqhad tersenyum canggung setelah mengucapkan maaf pada Ustadz Dzaki atas tuduhan tak beralasannya. Kalau dipikir-pikir ini bukanlah kali pertama Riqhad merasakan cemburu pada istrinya.
Pernah Riqhad menegur mahasiswanya yang duduk berdekatan dengan Shanum dalam pertemuan untuk membahas rencana kuliah lapangan mereka. Kemudian ketika di perjalanan pulang dari kampus, Shanum ingin membeli siomay di pinggir jalan, karena Riqhad ogah-ogahan turun dan membelikan langsung untuk Shanum hingga Shanum sendiri yang membelinya. Namun, menyaksikan keramahan tukang siomay pada istrinya membuat Riqhad naik pitam dan ikut turun langsung merangkul Shanum di depan tukang siomay itu.
Juga ketika Riqhad mengantarkan Shanum, Zoeya dan Mamanya ke acara kajian di salah satu Masjid hingga melihat Shanum disapa oleh seorang pria yang masih muda, hal itu juga memancing kecemburuan Riqhad dan beberapa kali lainnya.
Sebelum pamit meninggalkan pasangan suami istri ini, Ustadz Dzaki menyempatkan diri memberi sedikit penjelasan pada Riqhad mengenai rasa cemburu pada istri:
“Di dalam agama yang mulia ini, seorang suami dituntut untuk memiliki ghirah atau rasa cemburu kepada istrinya, sehingga ia tidak menghadapkan istrinya kepada perkara yang mengikis rasa malu dan mengeluarkannya dari kemuliaan.”
“Sa'ad bin 'Ubadah radhiyallahu 'anhu pernah berkata dalam mengungkapkan kecemburuan terhadap istrinya:
"Seandainya aku melihat seorang laki-laki bersama istriku niscaya aku akan memukul laki-laki itu dengan pedang (yang dimaksud bagian yang tajam, red)..."
Mendengar penuturan Sa'ad yang sedemikian itu, tidaklah membuat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam mencelanya, beliau bersabda: "Apakah kalian merasa heran dengan cemburunya Sa'ad? Sungguh aku lebih cemburu daripada Sa'ad dan Allah lebih cemburu daripadaku." (Shahih, H.R. Al-Bukhari, dalam kitab An Nikah, bab "Al-Ghairah" dan Muslim no. 1499)”
“Cemburu, asal tidak berlebihan, merupakan salah satu sifat terpuji yang harus dimiliki pasangan suami istri. Sayangnya kerusakan moral atas nama modernitas telah mengikis rasa cemburu itu. Walhasil, pintu perselingkuhan pun terbuka lebar hingga berujung pada runtuhnya bangunan rumah tangga.”
***
Sebulan kemudian, Riqhad membawa dua kelas bimbingannya ke Surabaya untuk menyaksikan langsung proyek pembangunan kampus cabang untuk Universitas mereka dan ini juga terhitung perjalanan bisnis Riqhad karena Universitas merupakan klien perusahaannya.
Kegiatan kuliah lapangan ini sendiri berfungsi untuk mengenalkan proyek secara riil dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan dan memperdalam ilmu-ilmu perancangan yang berhubungan dengan mata kuliah Studio Perancangan.
Di sisi lain, kegiatan ini memiliki sisi yang sangat positif, bagaimana mahasiswa turun dan bertemu langsung dengan Arsitek Proyek tersebut yang kedepannya diharapkan dapat mengembangkan keinginan menjadi seorang Arsitek.
Kuliah lapangan ini terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama adalah penjelasan dari dosen pembimbing pada mata kuliah Studio Perancangan.
Pada sesi kedua, mahasiswa diajak untuk melihat langsung pekerjaan konstruksi di lapangan. Observasi di lapangan dilakukan secara berkelompok, dipandu oleh perwakilan dari MK (Manajemen Konstruksi) dari proyek pembangunan Universitas Nusantara Sakti Surabaya.
Di sesi ini, selain mendapat penjelasan dan melakukan tanya jawab dengan MK, mahasiswa juga diminta untuk merekam dengan foto atau video beberapa elemen konstruksi di lapangan sebagai resume kuliah lapangan ini.
Perjalanan ini sekaligus merupakan kegiatan terakhirnya Riqhad sebagai Dosen sebab ia telah memantapkan diri untuk membantu Thoriq di kantor. Thoriq mengatakan ingin menyerahkan pucuk kepemimpinan pada Riqhad karena sudah saatnya Riqhad mengemban tanggungjawab dan amanah dari papanya.
Sedangkan Thoriq beberapa hari yang lalu hanya kembali ke Jakarta sebentar namun berangkat lagi ke Bogor, ia hanya mengambil beberapa berkas terkait hubungannya dengan Syafiqa.
Pernikahan antara Syafiqa dan Armadan kalau dihitung-hitung tinggal menghitung hari lagi. Kemarin, Shanum sempat mengunjungi Ibu Armadan bukan bermaksud menjelaskan masalah antara Syafiqa, Thoriq dan Armadan namun hanya menyampaikan sebuah pesan dari Panti Asuhan Al Haris.
Armadan juga telah menuju Bogor terlebih dahulu karena di sana ada Thoriq yang ingin menjelaskan suatu hal dan Riqhad beberapa hari yang lalu kebagian tugas meyakinkan Armadan agar bersedia menemui Thoriq di sana.
Armadan di sini adalah orang yang serba tidak tahu, jadi Riqhad tak ingin mengucapkan secara gamblang pokok permasalahannya namun Riqhad cuma menyampaikan pesan Thoriq agar menemuinya di Panti Asuhan Al Haris karena di sana ada Ibuk Tanti yang akan bantu meluruskan.
Sekarang, Riqhad dan Dicky sedang mengabsen satu per satu mahasiswanya yang telah bersiap dengan barang bawaan masing-masing. Dua minggu lagi mereka akan melaksanakan ujian semester sehingga laporan di Kuliah Lapangan Arsitektur (KLA) ini akan menjadi tugas terakhir di mata kuliahnya dan tugas terakhirnya sebagai Dosen.
Masalah Fhariza telah selesai dan itu membuatnya lega, tinggal menunggu Shanum selesai melaksanakan Ujian Semester dan ketika libur tiba maka acara resepsi mereka akan digelar. Begitulah planning Riqhad.
"Elshanum Shaquena." Sebut Riqhad setelah sampai diabsen dengan nama istrinya.
Shanum tak menampakkan wujudnya, hingga Riqhad mengerutkan alisnya. Kemanakah istrinya ini? Bukankah ia telah sampai bersamanya tadi? Riqhad menjadi cemas sendiri.
"Ada yang tahu di mana Shanum?" Tanya Riqhad.
Kompak mahasiswanya menggeleng tak tahu.
Ketika hendak mengambil ponsel disakunya bermaksud ingin menelepon Shanum, sosok cantik itu muncul dari toilet kampus yang berada di samping pos satpam.
"Maaf, Pak. Saya memiliki sedikit urusan di toilet." Ucap Shanum.
Shanum tampak sedikit pucat dan hal itu membuat Riqhad tambah khawatir saja.
"Baiklah. Kamu sakit atau bagaimana?" Tanyanya dengan berusaha menjaga mimik wajahnya agar tak terlau terlihat cemas.
Shanum menggeleng, "saya baik-baik saja, Pak."
Riqhad menghela nafas dan sedikit tak percaya dengan perkataan istrinya itu. "Karena semuanya sudah sampai, silakan duduk sesuai dengan nomor absen kalian!" Perintah Riqhad.
Dan Kosma masing-masing kelas pun mengkoordinir anggotanya menuju bus masing-masing. Devia dan Naina terlihat sibuk membawa koper besar mereka dan diikuti Nabil beserta Aufar yang hanya membawa sedikit barang, kedua pria ini tak memiliki inisiatif sedikitpun untuk membantu teman perempuannya itu.
Sedangkan Shanum terlihat bingung karena barang bawaannya masih tertinggal di mobil suaminya. Hingga Shanum memberanikan diri menemui Riqhad yang sedang melihat mahasiswanya mengatur posisi di dalam bus milik Kampusnya ini.
"Pak, Shanum mau bicara." Cicit Shanum sambil menarik-narik jaket yang digunakan suaminya. Kali ini Riqhad tidak menggunakan pakaian formal hingga membuatnya semakin tampan saja.
__ADS_1
Riqhad mengalihkan pandangannya pada istrinya, kemudian memberi masukan pada Kosma dan supir bus tersebut. Lalu, dia pun mengajak Shanum sedikit menjauh dari keramaian. Shanum masih terlihat pucat, hingga membuat Riqhad sangat ingin merengkuhnya tapi tak mungkin ia lakukan di tempat ini.
"Kamu kok pucat, Shan? Sakit?" Tanya Riqhad pelan.
Shanum menggeleng lemah dan melihat sekitarnya, di sana banyak pasang mata yang melihat ke arahnya. Hal itu juga disadari oleh Riqhad hingga pria ini sedikit memundurkan tubuhnya.
"Enggak Bang, Shanum baik. Shanum mau ambil koper yang masih di mobil." Jawab Shanum.
Riqhad pun mengangguk dan memperhatikan dua bus yang telah terisi penuh tak jauh dari posisinya sekarang dan bus tersebut siap untuk meluncur.
"Kopermu biar Abang yang bawa, Abang pakai mobil. Atau kamu naik mobil aja sama Abang?" Tawar Riqhad.
Jelas saja Shanum menolak tawaran suaminya ini, mana mungkin dia berani berangkat satu mobil bersama Riqhad. Nanti bagaimana pandangan mahasiswa lain terhadapnya.
"Enggak, Bang. Nanti pandangan orang lain lagi ke kita." Tolaknya.
Riqhad pun mengangguk seraya berkata, "sabar ya sayang, bentar lagi semester 3 kamu akan selesai dan sesuai ucapan Abang ke Mama kita akan melaksanakan resepsi kita. Sehingga kita ngga usah sembunyi-sembunyi lagi kayak gini." Jelas Riqhad lembut.
Shanum pun mengangguk, "iya, Bang. terus, koper Shanum gimana?" Tanyanya lagi.
Riqhad memperhatikan wajah istrinya, ia sangat khawatir melihat wajah Shanum hingga sesuatu hal terlintas dipikirannya. "Gini aja, Abang nggak usah pake mobil deh. Abang ikut naik di bus kelas kamu aja, Abang khawatir lihat kamu pucat gini."
"Tapi Bang... nan-"
Perkataan Shanum dipotong oleh Riqhad, "jangan ngebantah ya. Sana kamu masuk dulu ke dalam bus! Abang ambil koper dulu nanti nyusul."
Shanum hanya mengangguk dan berjalan menuju bus kelas mereka, di dekat jendela Naina dan Devia melambaikan tangannya.
***
Hari pertama mereka lewati dengan berbenah dan pembagian kamar menginap disalah satu penginapan milik keluarga Okhtara yang dikelola oleh Riqhad, Shanum pun tak menyangka suaminya memiliki usaha penginapan yang berada di Kota ini. Setelah pembagian kamar, Shanum dan kedua sahabatnya alhamdulillah berada di kamar yang sama.
Setelah berberes mereka pun berkumpul di aula pertemuan untuk mendengarkan penjelasan dan pemaparan dari dosen pembimbing yaitu Riqhad dan setelahnya dilanjutkan oleh Dicky. Untuk selanjutnya ditambah lagi penjelasan dari Direktorat Pengembangan Unnusa (Universitas Nusantara Sakti).
Dihari kedua mereka di Surabaya keadaan Shanum tak kunjung membaik, ia sering merasa pusing dan mual sekaligus, terkadang ia juga memuntahkan cairan bening. Nafsu makan Shanum juga menurun hingga membuat kedua sahabatnya kelimpungan sebab jadwal mereka sangat padat.
Siang ini, mereka berkumpul di sekitar proyek pembangunan kampus cabang untuk melakukan observasi di lapangan yang dilakukan secara berkelompok. Ketika sedang asyik bertanyajawab dengan perwakilan Manajemen Konstruksi yang merupakan bawahan dari Riqhad, tiba-tiba saja rasa pusing di kepala Shanum kian menjadi sehingga tanpa diduga ia luruh ke tanah.
Brukk
"Shan!"
"Shan!"
"Shanum!"
Teman kelompoknya yang masih serius mendengar penjelasan dari narasumber mereka kaget melihat Shanum yang tergeletak di tanah. Sayangnya Naina dan Devia beserta Aufar dan Nabil tidak sekelompok dengannya, mereka berada di bagian lain dari proyek ini.
Vera yang merupakan satu-satunya anggota perempuan bersama Shanum dikelompoknya langsung berjongkok dan mengguncang tubuh Shanum, tapi tidak ada tanggapan sama sekali.
"Shanum pingsan." Ucap Vera pada anggota kelompok mereka yang lain.
Pak Sirhaj yang merupakan narasumber mereka meminta dua orang laki-laki anggota kelompok Shanum untuk membantu Vera mengangkat tubuh Shanum. Tapi, kedua mahasiswa tersebut sedikit tidak enak untuk mengikuti arahan Pak Sirhaj sebab mereka tahu Shanum tidak mau disentuh oleh yang bukan mahromnya.
"Angkat dia! Jangan biarkan dia berada di bawah terik matahari lama-lama." Ulang Pak Shiraj.
Kemudian mereka pun berjongkok dan hendak mengambil alih tubuh Shanum dari pangkuan Vera. Belum sempat menyentuh Shanum yang pingsan, tiba-tiba saja Riqhad muncul dengan wajah yang teramat cemas. Tanpa sengaja ia mendorong kedua mahasiswanya itu dan meraih tubuh Shanum kedekapannya.
"Shan, Shanum! Bangun!" Riqhad menepuk-nepuk pelan pipi Shanum dengan lembut.
Aksi Riqhad itu mengundang banyak pasang mata untuk menyaksikannya. Aneh saja melihat seorang pimpinan perusahaan Konstruksi ini yang merangkap menjadi dosen berlarian ketika mengetahui ada salah satu mahasiswi bimbingannya yang tiba-tiba pingsan.
Pak Sirhaj mengerut keningnya karena bingung dengan tingkah bosnya, hingga berkata. "Pak, dia pingsan. Biarkan teman-temannya yang bantu mengangkat dia."
Rhiqad mengacuhkan ucapan Pak Shiraj, ia kembali mengguncang lembut tubuh Shanum yang dibaluti pakaian syar'i ini. Untung saja istrinya menggunakan helm safety, jika tidak kepalanya akan terasa sangat sakit ketika terjatuh ke tanah.
"Shanum sayang, ini Abang. Bangun dong." Ucap Riqhad lagi dengan wajah yang sangat khawatir. Hal itu membuat orang yang mendengarnya tambah penasaran mengenai hubungan antara Riqhad dan mahasiswinya. Sayang? Abang?
Tiba-tiba Vera yang masih berada di samping tubuh Shanum bertanya, "maaf, Pak. Bapak siapanya Shanum ya? Kok bisa langsung nyentuh Shanum gitu?"
Pertanyaan Vera tak membuat Riqhad mengalihkan pandangannya dari Shanum. Sedangkan yang lainnya serius menunggu jawaban yang akan terlontar dari mulut dosennya, begitupun Pak Sirhaj yang juga sangat penasaran dengan wanita ini.
"Saya suaminya Shanum!" Jawab Riqhad dengan masih berfokus pada Shanum.
"Dia istriku!" Tambah Riqhad lagi seraya menyelipkan tangannya di belakang tubuh Shanum.
Kemudian tanpa pikir panjang ia pun mengangkat tubuh Shanum ala bridal style dan membawanya menjauh dari lokasi proyek. Meninggalkan ketercengangan dari mahasiswa dan para pekerjanya.
__ADS_1