
PART 14 – SI GADIS AIRPORT
Sesungguhnya pada jasad ( tubuh manusia ) ada segumpal darah, apabila ia baik maka baiklah seluruh anggota jasad, dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh anggota jasad, sesungguhnya ia adalah hati
(HR Bukhori)
_________________________________________
Terik matahari menyilaukan mataku yang kini terlapisi lensa bundar yang kadang ku gunakan ketika berada di kampus, mata ini belum memiliki masalah, hanya saja aku lebih nyaman memberi kuliah dengan menggunakan lensa anti radiasi ini.
Pagi ini aku menjalankan aktifitas seperti biasa. Sapaan-sapaan hormat dan kagum dari mahasiswa-mahasiswi mengiringi setiap langkah ini.
Setelah kemarin aku meluapkan kekesalanku kepada Bang Thoriq yang sudah membuatku berjarak dengan Fhariza, dia menyampaikan bahwa Mama memintaku kembali karena mereka akan mengadakan acara kumpul-kumpul keluarga seraya mengenalkan cucu dari kenalan Mama yang sangat berjasa pada keluarga kami.
Aku yang sebenarnya sangat merindukan Mama dan suasana seperti dulu, ingin sekali pulang dan menumpahkan keluh kesah pada Mama. Tapi egoku menahan langkah ini sehingga aku mengurungkan niat untuk kembali.
Hingga pagi tadi, Bang Thoriq kembali mengacaukan pagiku dengan mengacak-acak kamarku. Dia juga menyampailkan kekecewaan Mama ketika acara makan malam bersama itu.
Tak hanya itu, Bang Thoriq juga menjelaskan mengenai sosok yang menjadi anggota baru keluarga kami, atau mungkin sekarang ku sebut keluarga di rumah mereka itu. Aku hanya menimpalinya cuek, karena menurutku itu memang tak penting. Toh aku sekarang tak lagi bersama mereka, di rumah itu.
Namun aku juga sedikit terusik ketika Bang Thoriq mengatakan bahwa cucu kenalan Mama itu sudah dewasa, cantik dan sholehah, lalu ku tanggapi, “kalau begitu, Abang nikahi saja. Bereskan?” Kataku. Lah, memang tak salah kata-kataku demikian.
Memang mengapa Bang Thoriq harus memuji perempuan itu di hadapanku? Aku tak peduli sama sekali, entah mau dia cantik, baik, manis dan mempesona sekali pun. Umurnya sepantaran dengan Zoeya. Dia juga akan mulai kuliah di kampus yang sama dengan kampus ku mengajar, bahkan dengan jurusan yang ku ajar pula. Kebetulan macam apakah ini? Batinku.
“Ngomong-ngomong nama calon mahasiswamu itu adalah ‘SHANUM.’ Tolong diperhatikan ya!” Ucap Bang Thoriq sebelum meninggalkan kamarku pagi tadi.
Apanya yang diperhatikan? Memangnya dia masih anak-anak. Aku bersungut dengan ucapan Bang Thoriq tersebut.
‘Shanum? Masa bodohlah dengan orang itu. Semoga saja tidak bertemu! Menyusahkan saja.’ Batinku acuh.
Memangnya siapa dia, mau cantik, baik, sholehah atau apalah karena bagiku tetap ada Fhariza seorang. Wanita yang hadir menemani keterpurukanku dulu. Jika tidak ada dia maka aku akan kacau hingga sekarang, untuk itulah aku berusaha mencintai dia dan susah untuk meninggalkannya.
Aku memasuki ruanganku dan mempersiapkan bahan kuliah yang setengah jam lagi akan dimulai. Bunyi ponsel hitam menghentikan aksiku, ternyata pesan dari Zoeyalah yang mendarat indah di WhatAppsku.
__ADS_1
Zoeya merupakan jembatanku dengan Fhariza ketika kami sedang ada masalah atau hal lainnya. Sifat yang tidak begituku sukai dari Fhariza hingga sekarang adalah sifat marahnya yang sulit ditangani juga sikap keras kepalanya dan keegoisannya, segala yang dia mau harus dituruti. Namun, Zoeya telah membantuku menanganinya beberapa kali.
Di pesan barusan, Zoeya menyampaikan bahwa besok mereka akan kembali karena telah selesai melaksanakan study tour mereka. Zoeya mengatakan bahwa untuk kali ini sangat sulit membujuk Fhariza untuk yang kedua kalinya. Baru saja beberapa hari yang lalu ia luluh sehingga menerima ide dari Zoeya agar kami bisa menghabiskan satu hari liburan bersama di sana. Dan malah gagal lagi, gara-gara ulah si Abang Edan, Thoriq.
Memang begitulah Fhariza, jika marah dia tidak akan mengubris panggilan masuk atau pun hal lainnya yang berhubungan dengan sumber yang membuatnya marah. Yang sekarang sumbernya adalah aku.
Aku menghela nafas kemudian menon-aktifkan ponselku karena akan mengajar beberapa menit lagi.
***
Keesokan harinya
Rutinitasku yang monoton kian berlanjut, hingga pagi ini pun tidak ada yang berbeda. Setelah bersiap-siap aku mengendarai mobilku menuju kampus. Aku diminta oleh Pak Wira selaku Kabid Kemahasiswaan untuk ke ruangannya sebelum mengajar. Dia mengatakan bahwa akan ada dua orang tambahan mahasiswa di kelas nanti, di tambah lagi aku lah yang dipercaya menjadi Pembimbing Akademik mereka.
Aku juga tidak sabaran ingin menatap wajah cantik kekasihku yang telah kembali dari mendampingi study tour kemarin. Bukan dia yang memberitahuku karena itu sangat mustahil, karena dia sedang dalam mode marah, tetapi si cerewet Zoeya lah yang menjadi sumber informasiku. Zoeya juga menceritakan mengenai penghuni baru di rumah. Tumben sekali Zoeya begitu antusias membahas seseorang yang baru dikenalnya.
Tidak sampai di situ saja, Zoeya juga memuji sosok ‘SHANUM’ yang akan menjadi mahasiswi di jurusanku. Katanya, dia baik, cantik, manis, kalem, sholehah dan juga dewasa. Sosok idaman, tambah Zoeya lagi. Tidak berbeda jauh dengan apa yang dijelaskan Bang Thoriq beberapa hari yang lalu. Apakah salah satu Mahasiswaku nanti adalah dia? Batinku menebak.
Setelah memparkirkan mobil di parkiran khusus untuk Dosen dan staf kampus yang masih sepi karena memang aku datang lebih awal dari biasanya. Aku menuju gedung akademik untuk menemui Pak Wira. Pria gemuk itu menyebutkan bahwa nanti akan ada dua mahasiswa di kelasku, satunya perempuan dan satunya laki-laki. Aufar dan Shanum namanya.
Namun, mahasiswi yang satunya lagi bernama ‘Shanum’. Dan tak salah lagi, dia lah yang di ceritakan Zoeya. Perempuan yang sekarang menjadi tanggungjawabnya Mama. Aku mengangguk paham setelah dijelaskan oleh Pak Wira. Aku mempercepat langkahku menuju ruangan Fhariza sebelum memulai kelas.
Namun apa yang ku dapatkan, amukan Fhariza yang menjadi-jadi. Masih dengan penyebab yang sama dan menurutku tidak perlu dipermasalahkan selarut ini. Sangat berlebihan. Dia meluapkan uneg-unegnya yang sudah beberapa hari ia tahan. Aku hanya menerima dan terus membujuknya agar luluh. Ku genggam tangannya tetapi dia menghempaskannya seraya pergi meninggalkan ruangannya lebih dulu.
“Nanti saja lah, membujukknya.” Batinku seraya meninggalkan ruangan ini dengan santai.
Ku masuki ruang kelas yang sudah dipenuhi mahasiswa yang haus akan ilmu. Di kelas, aku memang selalu melepaskan jas sehingga hanya menyisakan kemeja saja. Dengan kacamata bundarku aku mengabsen satu per satu mahasiswaku. Setelah selesai, aku pun memulai materi yang telah ku persiapkan.
Beberapa saat setelah kelas berlangsung-
Tok... tok... tok....
Ketukan menghentikan laju pembahasanku. Aku menginstruksikan seseorang yang mengetuk itu untuk segera memasuki kelas, karena aku sangat tidak suka jika keseriusanku memberi kuliah diganggu.
__ADS_1
Setelah pintu di buka, muncullah sosok urakan yang ku sebutkan tadi, Aufar. Aku mempersilakan dia mendekat. Setelah mencermati KRS yang diserahkannya, ku lihat matanya terus tertuju ke ujung pintu. Aku berdehem seraya berkata, “kata Pak Wira, selain kamu masih ada satu mahasiswi baru lagi di kelas ini. Di mana dia?”
“Assalamu’alaikum!” Ucap lembut sosok yang muncul dari balik pintu. Seluruh pasang mata melirik pada perempuan yang baru masuk itu.
Dia melangkah maju mendekati ke meja dosen dengan tidak mengangkat wajahnya, menunduk. Aufar menggeser sedikit tubuhnya sehingga perempuan itu dapat terlihat oleh indera ku.
Aku merasa pernah melihat sosok mahasiswi baru ini, tetapi aku seakan lupa kapan dan di mana. Aku belum bisa memastikan dengan jelas sebab perempuan di hadapanku ini tidak kunjung melihat ke arahku. “Kamu mahasiswi baru di ke kelas ini? Mana KRS?” Tanyaku dengan tegas.
“Iya Pak, Saya mahasiswi baru. Ini Pak!” Jawabnya seraya menyerahkan apa yang aku minta. Ia mengulurkan kertas itu dengan mengangkat pandangan memperhatikan lawan bicaranya dan-
Deg
Benar saja, apa yang ada dipikiranku beberapa detik yang lalu. Aku memang pernah melihat gadis berkerudung ini, dia lah gadis yang membuatku kesal ketika di Airport, dia juga gadis yang menempati kursi penumpang di sampingku dan yang terakhir gadis ini lah yang sudah beberapa hari ku cari-cari keberadaannya, mencari koperku yang tertukar dengan kopernya.
Aku kaget dan sangat tidak menyangka, bahwa orang yang aku cari ternyata berada di sekitarku, dan bahkan sangat dekat. Arggh ... Andai saja malam itu, aku pulang ke rumah di saat acara makan malam keluarga. Batinku.
Aku terus menatap wajahnya, terpancar kekagetan yang sama di sana. Aku tahu dia pasti tidak pernah menyangka akan bertemu denganku di sini dengan statusku sebagai dosen sekaligus Pembimbing Akademiknya. Ku akui pertemuan pertama kami di Airport itu tidaklah menyenangkan, di mana aku berkata keras dan bahkan membentaknya.
Yang ku tatap kembali menunduk, namun aku terus saja menatap wajahnya seakan menyelami berbagai pertanyaan yang belum kudapatkan dan mengabaikan KRS yang baru saja ia serahkan, apa yang diucapkan Bang Thoriq dan Zoeya ternyata benar. Dia mahasiswi yang manis, bahkan kini wajahnya memerah karena ketahuan ditatap olehku, aku tersenyum simpul dan melirik pakaian yang ia gunakan. Persis seperti terakhir kali kulihat.
Meskipun rapi dan tidak menyalahi aturan, namun tidak ada di kelasku mahasiswi yang berpakaian sama dengannya. Memang ada beberapa orang yang mengenakkan kerudung, tetapi tidak memakai pakaian terusan yang kebesaran sepertinya, mahasiswi yang lain terlihat modis dengan style hijab kekinian.
Namun, tidak bisa ku pungkiri, perempuan berkerudung yang masih berdiri di hadapanku ini terlihat anggun dengan pakaiannya, meskipun pakaian yang ia gunakan layaknya digunakan oleh ibu-ibu seperti Mama. Entah mengapa melihat dia yang mengenakkannya terlihat berbeda, tidak menutupi keindahannya dan kecantikannya.
Aku mengerjap dan mengenyahkan sesuatu yang tak seharusnya kupikirkan dan kunilai. Tersadar setelah beberapa saat menelusuri dia, "ehemm" berdehem aku pun mulai mencermati KRS yang belum sempat kulirik sebelumnya.
Elshanum Shaquena, itulah namanya. Si gadis Airport yang sekarang tinggal di rumah keluargaku, dan mulai detik ini akan menjadi mahasiswiku. Entah bagaimana lagi setelah ini, takdir seakan terus saja mempermainkan hidupku.
“Baiklah, kalian berdua. Selamat bergabung di kelas kita dan please introduce yours self!” Ucapku datar setelah menanda tangani KRS mereka.
RHIQAD POV END~
***
__ADS_1
Ya Allah, tak ada yang mampu mendatangkan segala kebaikan melainkan dengan kekuasaan-Mu, tidak ada yang mampu menolak segala keburukan melainkan dengan kekuasaan-Mu, tidak ada daya kekuatan hanya kepada-Mu.
( HR. Abu Daud )