A

A
DELAPAN BELAS


__ADS_3

PART 18 - SISI LAIN


"Cintailah kekasihmu (secara) sedang-sedang saja, siapa tahu di suatu hari dia akan menjadi musuhmu; dan bencilah orang yang engkau benci (secara) biasa-biasa saja, siapa tahu di suatu hari dia akan menjadi kecintaanmu."


(HR. At Tirmizi)


_________________________________________


Setelah makan malam, Riqhad pun pamit pulang ke rumahnya. Meskipun masih merindukan Mamanya, Riqhad tidak bisa lama-lama berada di sini. Dosen muda ini berjanji akan sering mengunjungi Mamanya.


Sebelum Riqhad pergi, ia celingak-celinguk seakan mencari sesuatu yang tidak ditemui inderanya. Malas untuk menanyai pada Mama atau pun diknya, ia pun mendesah sebab setelah acara makan malam tadi, ia tidak lagi menangkap sosok Shanum. Dia kira Shanum akan mengikuti mereka ke ruang keluarga ternyata tidak.


Melihat tingkah putranya, Mama Hasna pun berkata, “nyari Shanum ya, Nak? Dia sekarang pasti sedang membantu Bi Ipah di dapur untuk beres-beres.”


Riqhad yang medengar itu mengernyitkan keningnya heran.


“Shanum itu rajin banget Bang, sering bantuin Bi Ipah, bantuin Mama rawat taman, terus ya Bang... Oya sekarang jadi ikut-ikutan Shanum, lebih rajin sholat loh. Iya kan Ma?” Kata Zoeya menggambarkan Shanum.


“Iya, Mama senang Oya sekarang sudah rajin sholat. Pas kemaren-kemaren ada saja alasannya. Nak Shanum ternyata membawa pengaruh positif ya untuk kita. Mama tidak rela jika Shanum meninggalkan keluarga kita nantinya.” Ucap Ummi Hasna dengan sedikit maksud lain diujung kalimatnya.


Riqhad yang mendengar itu ikut menyetujui perkataan Mama dan Adiknya, Shanum memang orang yang baik. Terbukti ketika di kampus ia tidak pernah mengeluh jika Riqhad memberatkan tugasnya. Riqhad terkekeh kecil membayangkan keberanian gadis itu tadi, ketika mereka berada di teras. Tidak menyangka dia akan melihat ekspresi lain dari mahasiswinya itu.


“Nah, ini orangnya datang. Sini Shan gabung sama kita. Wah, sampai dibuatkan minuman segala.” Ucap Oya mempersilakan Shanum bergabung dengan mereka.


Shanum menenteng nampan yang berisi tiga teh hangat menghampiri Ibu dan anak-anaknya itu. Berjalan menunduk menghindari satu-satunya pria di ruangan ini, Shanum pun menempatkan satu per satu teh yang ia siapkan untuk mereka.


“Diminum Mi, Oya teh hangatnya.” Pinta Shanum.


Riqhad yang tidak disebutkan namanya memilih diam dan tidak menyentuh gelas itu. Sedangkan Zoeya dan Mamanya hampir mengosongkan gelas mereka masing-masing. Shanum duduk di sampinng Zoeya dan berhadapan langsung dengan Riqhad.


“Enak banget, untuk kamu mana?” Tanya Ummi Hasna yang tidak peka dengan orang di sampingnya. Riqhad yang belum juga menyentuh tehnya.


“Shanum nggak suka teh Mi, maaf ya.” Balas Shanum tanpa menghiraukan pria di depannya yang menatapnya tajam.


Zoeya yang mengetahui pikiran Abangnya memilih diam dan berlanjut menandaskan tehnya hingga tak bersisa. Ia ingin tertawa keras melihat ekspresi Abangnya dan kepolosan Shanum. Entah Shanum sengaja atau tidak, namun ini benar-benar lucu menurut Zoeya.


"Ehem ... kalau begitu aku pamit ya Ma, Oya." Ucap Riqhad yang sudah berdiri dari posisinya. Dia sengaja tidak menyebutkan nama Shanum. Siapa suruh tidak mempersilakan aku meminum teh buatannya.” Batin Riqhad.


“Kok pulang sih Nak, tidur lah di sini? Kamarmu masih seperti yang dulu loh.” Cegah Mama Hasna.


Pandangan wanita paruh baya di samping Riqhad berpindah pada teh yang belum tersentu sama sekali oleh putranya itu. Dia hendak menyapa namun, kedahuluan oleh suara tawa Zoeya.


HAHAHA....


Semua memandang ke arah Zoeya. “Tehnya nggak diminum, Bang? Terus kok izin pulangnya sama Oya dan Mama aja. Kenapa ke Shanum enggak?” Ucap Oya setelah menghentikan tawa gelinya.


“Buat apa diminum? Yang bikin aja nggak nyuruh tuh!” kata Riqhad tanpa memandangi Shanum.


Shanum yang merasa kalau Pak Dosennya ini menyinggung dirinya, memilih memandangi Ummi Hasna yang melihatnya dan kemudian menatap Riqhad yang menghindar.


“Perasaan, Shanum udah memperilakan deh tadi.” Gumam Shanum.


Riqhad yang mendengar itu beralih menatap Shanum yang juga melihat polos ke arahnya. “Kayaknya kamu punya penyakit lupa deh, masih muda tapi pelupa.” Ucap Riqhad.


Namun Shanum masih saja memandanginya seperti mengingat-ingat apakah dia tadi sudah mempersilakan Riqhad atau belum. Riqhad pun berdecak melihat itu.


“Terus, kamu pikir saya tuli atau salah dengar gitu!” Kata Riqhad jengkel. Dengan respek Shanum menggelengkan kepalanya. Mama Hasna dan Oya hanya menyaksikan saja.

__ADS_1


“Maaf Pak, enggak sengaja. Silakan diminum teh buatan Shanum, maaf jika tidak enak.” Ucap Shanum seraya menunduk malu.


Masih dengan egonya, Riqhad pun berkata, “ucapanmu telat! Saya permisi.”


“Bang, jangan kayak anak kecil deh, kasian Shanum. Dia udah buatin teh tapi enggak diminum, mubazir Bang, nggak baik.” Sela Zoeya yang merasa sebagai orang yang paling benar.


Mama Hasna pun melihat itu hanya tersenyum lembut dan menarik tangan anaknya supaya duduk kembali. “Habisin dulu, baru pergi. Jangan bilang pulang, karena ini juga rumah kamu.”


Dengan ekspresi datar Riqhad pun mendekatkan mulutnya pada cangkir teh yang hampir kehilangan hangatnya, ia menghabiskan tehnya dengan terus memandangi wajah Shanum yang memerah dibalik kerudung.


Menunggu putranya menghabiskan secangkir teh tersebut, wanita paruh baya itu berkata. “Shanum, kalau di luar kampus panggilnya janggan Bapak dong. Ketuaan banget anaknya Ummi, panggilnya seperti Oya aja, kalau tidak seperti kamu memanggil Thoriq ya.” Shanum hanya mengangguk mengiyakan ucapan wanita ini.


Setelah menghabiskan tehnya, Riqhad melanjutkan rencananya untuk pulang. Sampai di pintu, ia menatap ketiga wanita yang mengantarnya ke teras itu. Sampai di depan mobil, ia ingat akan tuajuan utamanya. Kemudian dia memanggil Shanum yang berada diantara Mama dan Adiknya. “SHANUM! Ke sini bentar.” Teriak Riqhad dari mobilnya.


Karena dipanggil, Shanum pun mendekat.


Sampai di depan Riqhad, ia pun menunduk menunggu apa yang ingin disampaikan oleh Dosennya ini. “Apa Pak?” Tanya Shanum karena Riqhad belum juga mengeluarkan suara.


“Ck, besok saya akan mengembalikan koper kamu yang terbawa oleh saya. Kamu masih menyimpan koper saya kan?” Ucap Riqhad datar


“Terbawa atau salah ambil Pak? Iya, masih di Shanum kok.” Kata Shanum sambil memandang samping.


“Jangan banyak jawab kamu. Jangan apa-apakan koper saya, ya? Mahal itu!” Timpal Riqhad seraya menduduki kursi kemudinya.


Riqhad menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan klakson untuk dua orang di depan pintu sana yang melambaikan tangan padanya.


“Sana masuk! Saya pergi!” Titah Riqhad seraya meninggalkan rumah mewah ini, ia langsung menuju restorannya yang sempat tertunda tadi.


***


Di ruang kelas, mahasiswa sedang serius mendengar materi dari dosen tampan di depan. Kali ini, mereka membahas tentang Amdal. Mendengar suara merdu Pak Dosen tampan membuat mahasiswi di kelas betah-betah saja, tak bosannya mereka menyimak serius apa yang dijelaskan oleh Dosen muda itu, lebih tepatnya memandangi wajah tampan si dosen.


"Shan, Shan." Bisik sesorang dari belakang, membuat Shanum menoleh sekilas memandangi Aufar.


"Kenapa?" Balas Shanum seperti bisikan.


"Pinjem catatan kamu dong, aku nggak nyatet kemaren!" Pinta Aufar memelas.


"Eh, Ganggu aja. Nanti aja deh minjemnya, sekarang aku yang minjem catatan Shanum duluan." Jawab mahasiswi dengan rambut oval di samping Shanum, dia lah salah satu dari dua sahabat Shanum. Namanya Devia dan di sebelahnya lagi adalah Naina, yang juga merupakan sahabat Shanum. Naina juga menggunakan kerudung namun bukan kerudung syar’i seperti Shanum, melainkan pasmina dengan style kekinian dengan celana levis ketat.


"Nanti aja." Jawab Shanum pelan.


"Iya, nanti aja kalian nyalinnya. Sekarang Pak Riqhad lagi ngasih materi. Entar dia marah." Bisik Naina seraya mengalihkan pandangannya kembali ke depan. Takut ketahuan berbincang di belakang dosennya.


Devia pun asyik saja menyalin catatan Shanum, ia mengabaikan penjelasan dari dosennya itu. Sedangkan Aufar masih merengut tak suka. Kembali mencolek Shanum menggunakan bollpiontnya.


"Shan... Shan... kamu pulang sama siapa nanti?" Tanya Aufar yang masih tidak menyerah untuk mengganggu konsentrasi Shanum.


Shanum yang merasa terganggu kembali menimpali Aufar, ia menoleh sedikit dan berkata. "Bareng Oya, seperti biasa. Kalo dia ada acara bareng temennya, ya aku pulang sendiri."


"Oke siip. Aku anter ya sekalian mau pinjem catatan kamu." Timpal Aufar.


Bosan mendengar suara bisik-bisik di sampingnya, membuat Nabil yang berada di sebelah Aufar menyikutnya. Sedangkan Aufar yang belum mendengar jawaban Shanum, kembali mencolek Shanum menggunakan bollpointnya dan mengabaikan sikutan dari temannya itu.


"Shan... Shan... gimana nanti? Aku anter ya?" Ulang Aufar.


Nabil pun semakin gencar menyikutnya.

__ADS_1


"Apaan si Bil!" Kesal Aufar.


Namun, setelah menatap sampingnya, Wajah pak dosenlah yang ia temukan. Ternyata, sedari tadi Riqhad sudah berada di samping mereka. "Kamu sih, nggak ngerti kode!" Bisik Nabil.


"Kalian asyik sekali ya ngomongnya. Silakan berbicara di depan, biar kami semua bisa mendengar pembicaraan menarik kalian." Ucap Riqhad tajam.


Mereka pun menunduk takut, bahkan kini pandangan Riqhad mengarah ke perempuan di depan Aufar yang juga menghadap belakang. Ia menatap ngeri Dosennya itu, Shanum takut jika Dosennya tahu bahwa Shanum juga ikut ngobrol dengan mereka tadu, meskipun hanya sedikit menimpali ucapan Aufar.


Mahasiswa Ar3 sangat mengenal kedisiplinan dari Dosen mereka, dosen ini sangat tidak menyukai ada suara lain ketika ia memberikan materi. "Kasihan sekali yang sudah membuat marah Pak Riqhad.” Batin mereka.


Aufar hanya menatap datar dosennya, tidak takut sama sekali. Ia pun meminta maaf dan berjanji tidak akan berbisik lagi ketika dosennya berbicara. "Maaf Pak, kami tidak akan mengulanginya lagi."


Masih dengan pandangan tajam, Riqhad pun meninggalkan meja mereka tanpa membalas ucapan dari Aufar. Sampai di mejanya ia pun mengeluarkan suara "Saudari Shanum, silakan kerjakan soal ini ke depan!"


Degg


"Aduh, aku lagi!" Batin Shanum, ia kesal karena kembali di suruh mengerjakan soal.


Apakah ini bentuk hukuman karena berbisik tadi? Tapi kan bukan hanya dia yang menjadi sumbernya. Dia hanya menimpali sedikit ucapan dari Aufar. Mengapa Dosennya ini mengetahui hal itu, mereka kan berada di kursi paling belakang. Mustahil saja perhatian Pak Riqhad sampai ke belakang. Pikirnya.


"Cepat ke depan!" Ulang Riqhad tegas.


Shanum pun berjalan gontai menuju kursi dosennya, pandangan mahasiswa seakan mengatakan "Sabar Shanum." Karena hari ini, ini kali ketiga ia di suruh ke depan dengan alasan yang berbeda. Menghela nafas, Shanum pun menatap kesal dosennya seraya mengambil spidol dan menerangkan apa yang tertera di m-fokus di samping meja Riqhad.


Aufar menatap kasihan Shanum. Dia lah yang menjadi penyebab Shanum menyelesaikan soal lagi. Anehnya, mengapa hanya Shanum yang di hulum. Jelas-jelas Aufar lah yang memulai bisik-bisik tadi. Dan Pak Riqhad pun tahu itu. Kok aneh ya? Batin Aufar.


"Pak, kenapa hanya Shanum saja sih yang selalu disuruh maju. Yang lain nggak pernah tuh." Sanggah kosma mereka. Wulandari.


"Iya Pak, tadi kan yang jelas-jelas ribut di belakang adalah Bang Aufar, kenapa yang di suruh maju cuma Shanum?" Tambah Alula, di kelas ini hampir kesemuanya memanggil Aufar Bang atau Kak, sebab usia Aufar lebih tua diantara mereka. Cuma Nabil saja yang menyebut namanya langsung.


Mendengar sanggahan itu membuat Aufar berdiri. "Iya Pak, kok saya nggak dihukum juga sih?" Katanya.


Shanum yang belum menyelesaikan jawabannya, dihentikan oleh suara berat di sampingnya. "Stop Shanum! Kembali ke kursimu!" Ucap Riqhad.


Dengan dengusan halus, Shanum berjalan menuju kursinya. Aufar mentap intens Shanum yang sudah kembali ke posisinya semula.


"Untuk pertanyaan kalian sebelumnya, mengapa hanya Shanum yang sering saya suruh mengerjakan soal, itu karena saya melihat dia seperti tidak serius mendengar penjelasan dari saya. Di saat kalian memperhatikan ke depan, dia hanya menatap buku catatannya entah apa yang ada di sana. Sehingga saya ingin menguji dia apakah dia faham atau tidak dengan apa yang saya sampaikan. Namun, sejauh ini dia bisa menjawab semua pertanyaan saya. Apa kalian sudah mengerti alasannya?" Jelas Riqhad panjang lebar, memenuhi rasa penasaran dari mahasiswanya.


Kembali pandangan Riqhad menuju mahasiswa yang masih berdiri di tempatnya itu, "baiklah, karena kamu juga ingin dihukum. Silakan kamu ulang penjelasan dari saya. Dan satu lagi, saya ingin setelah ini style pakaian kamu diubah, rambut panjang kamu juga mengganggu. Rapikan setelah ini!"


Aufar pun menelan ludah, bukan karena dia diminta untuk mengubah cara berpakaiannya dan memotong rambut, tapi lebih tepatnya adalah perkataan diawal tadi, disuruh mengulang materi dari Riqhad. "Mampus gue, mana ngerti. Dengar aja kagak!" Batin Aufar.


"Silakan saudara Aufar, maju ke depan dan ulang materi dari saya!" Ulang Riqhad tajam.


Hampir saja jantung Aufar jatuh, ketukan di pintulah memindah perhatian seisi kelas darinya. "Permisi Pak, kelas Bapak telah selesai dan sekarang jam saya lagi." Ucap wanita paruh baya dengan dandanan menornya.


Riqhad pun berdehem dan meminta Aufar untuk duduk kembali. "Wah, maaf Bu Dena. Saya lupa waktu, silakan memulai kelas. Dan maaf sudah mencuri sedikit jam Ibu." Ucap dosen muda itu sopan seraya membereskan mejanya.


Aufar pun menghela nafas lega dan tepukan Nabil di punggungnya seakan mengucap selamat untuknya.


"Hampir aja." Lirih Aufar.


"Itu, makanya kalau dosen menjelaskan itu diperharikan Kak." Naina menasehati.


Mengabaikan ucapan Naina, Aufar pun kembali mengganggu Shanum.


"Gimana Shan, tawaran aku tadi?"

__ADS_1


__ADS_2