A

A
LIMA BELAS


__ADS_3

PART 15 – GADIS PENYUKA UNGU


Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk dan berkawan dengan yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik dari pada berdiam dan berdiam lebih baik daripada berbicara yang tidak baik.


{HR Al-Hakim}


_________________________________________


Hujan masih betah menunjukkan kuasanya, terbukti dari balik kaca bening yang melingkari tumpukan buku-buku yang masih belum berkepemilikan ini. Gadis cantik berkerudung sedari tadi asyik menyelami satu per satu buku seakan hujan lebat di luar sana tidak mempengaruhi aktifitasnya.


Hampir 20 menit sudah Shanum menyendiri di sini, berlindung dari hujan siang yang mengguyur jalan raya. Gadis yang sudah hampir sepekan ini rutin mengikuti perkuliahan, memilih pulang lebih dulu sebab Zoeya sedang ada kelas tambahan. Ia yang telah ditetapkan sebagai salah satu pengajar di MSBA Al Ikhsan akan bertugas mengajar sore ini, jadi ia berinisiatif pulang lebih dulu dan tidak menunggu Zoeya yang belum tahu jam berapa akan kembali.


Sebenarnya, Shanum tidak ada kebutuhan mendadak untuk singgah dan berdiamdiri di toko buku. Hujanlah yang menggiringnya ke sini untuk berteduh.


Masih menjelajahi satu per satu rak buku yang bertengger dengan bermacam-macam judul. Hingga mata Shanum tidak sengaja menemukan buku yang berjudul menarik "Lafazkan Kalimat Cintamu." Ia pun tersenyum melihat judul tersebut dan berusaha menjangkau novel yang kebetulan berada di rak yang paling atas. Karena keterbatasan tinggi badan, mengharuskan gadis bergamis ini untuk berjinjit, namun belum bisa mencapai tempat yang di tujunya. Kemudian ia pun berusaha meloncat dan tetap saja tidak mempan. Menghela nafas dan berniat mencari novel yang lain saja, ia pun memutar tubuh mungilnya dan-


Brukk....


Ia tertabrak benda yang sedikit keras namun terasa hangat, benda ini terlihat tinggi. Karena benda yang di tabraknya, menyebabkan kerudung Shanum sedikit acak-acakan bahkan hidung mancungnya tak ayal menjadi korban juga, hidungnya memerah dan terasa berdenyut sakit.


Masih di posisi yang sama, Shanum merasa seperti ada yang bernafas di atas pucuk kepalanya, apakah mungkin yang ditabraknya ini bisa bernafas? Lalu apa? "Astagfirulloh, bukan apa? Tapi siapa?" Rutuk Shanum.


Ia pun memundurkan badannya, dengan kepala menunduk dan jari tangan kiri menggosok-gosokkan hidungnya yang kini bertambah merah, Shanum memindah iris matanya menatap benda hangat yang mendarat di wajahnya barusan. Sepatu pantofel mengkilap, kemudian irisnya sedikit naik, celana bahan dan kemeja putih yang dua kancing di atasnya telah dilepas oleh empunya. Shanum menelan ludah, sesuatu yang dianggapnya benda yang tinggi dan hangat ternyata adalah sosok tegas, berwibawa dan arrogan. Dosennya sendiri, Pak Riqhad.


Riqhad bersedekap dada memandangi Shanum tajam, terpancar aura kekagetan diwajah mulus gadis berkerudung ini. Ia menunduk dan segera meminta maaf atas kelancangannya, di dalam hati Shanum merutuki apa yang terjadi barusan. Menahan malu dan tak tahu malunya, sekarang bukan hidung munginya saja yang merekah merah, namun wajahnya yang sangat sensitif itu pun ikut memerah. "Maaf Pak, saya tidak sengaja." Lirihnya.


Ehem, deheman Pak dosen terdengar.


Riqhad pun memajukan langkahnya yang kini semakin dekat hingga memojokkan gadis di depannya sehigga Shanum kian terhimpit, punggung Shanum menabrak rak di mana novel yang diinginkannya berada. Semakin dekat dan dada bidang Pak Dosen kembali menyentuh hidung mungil Shanum. "Astagfirulloh, jarak ini terlalu dekat. Ya Allah bantu hamba, ampuni hamba." Batinnya.


Shanum yang kaget dan masih menahan nafasnya dijarak sedekat ini, mengangkan kedua tangannya dan bermaksud mendorong pria di depan. Namun, sebelum sempat hal itu terjadi, Riqhad telah menjauh lebih dahulu. "Bernafaslah. Apa kamu hobby-nya meminta maaf?" Suara berat itu menimpali ucapan maaf Shanum sebelumnya.


Eh?


Suara aneh yang tidak direncanakan keluar begitu saja dari mulut Shanum. Malu dengan kata Eh?nya barusan, membuat Shanum menutup bibir mungilnya. "Saya sangat sering mendengar kamu meminta maaf. Dan untuk yang kali ini saya menerima maaf kamu." Tambah Riqhad lagi meski dengan wajah datarnya.


Shanum masih mematung dan kemudian netranya tak sengaja melihat hujan yang sudah mulai reda dari balik kaca bening di samping rak buku. Menghela nafas lega, dia pun izin pamit pada Pak Dosennya.


"K-kalau begitu, s-saya pamit duluan ya, Pak. T-terima kasih telah menerima maaf saya." Kata Shanum dengan sedikit terbata-bata.


Namun, belum sempat Shanum melenggang pergi, lengannya yang ditutupi gamis berwarna lavender itu di tahan oleh tangan kekar yang tertutup kemeja putih dengan jam hitam yang melingkari pergelangannya. Shanum menatap tangan itu dan kemudian menatap si pemiliknya. Pemilik tangan itu pun menatapnya datar namun tidak segalak kemarin-kemarin, Shanum terpana melihat sosok dosennya ini, namun kesadarannya masih diambang udara sehingga dengan keras ia menggerakkan lengannya. Tangan kekar itu pun terpaksa terlepas. Shanum menggosok-gosokkan lengannya yang sedikit perih, "ini, novel yang kamu inginkan kan?" Ucap Riqhad menyerahkan novel yang masih tersegel itu. Shanum menatap novel yang masih digenggam Pak Dosen seraya mengangguk. Dengan slow motion, Shanum menerimanya.


"Terima kasih Pak, saya permisi. Assalamu'alaikum." Pamit Shanum yang benar-benar pamit.


"Tadi maaf dan sekarang dia mengucapkan terima kasih, sudah dua kali pula." Gumam Riqhad yang kembali mencomot satu per satu buku yang diinginkannya dengan netra yang tertuju pada tempat kasir.


"Sayang, sudah ketemu bukunya? Hujan udah reda tuh, yuk kita pulang!" Ucap suara mendayu di sampingnya, Riqhad yang awalnya masih menatap kepergian mahasiswinya menuju kasir kini beralih memandangi kekasihnya.


"Sudah, yuk!" Jawab Riqhad dengan membawa beberapa buku di tangannya.

__ADS_1


Riqhad dan Fhariza telah berbaikan sejak beberapa hari yang lalu, dengan berbekalkan dinner romantis dan beberapa hadiah mahal lainnya yang dipilih Zoeya. Fhariza meruntuhkan kemarahannya dan kembali seperti sedia kala.


Setelah Shanum meninggalkan toko buku, kini giliran mereka yang melenggang pergi setelah menemukan buku yang di cari Riqhad.


***


Gelap sombong sang malam membungkus jingganya senja, menebar hitam namun terlihat indah oleh duet si bulan dan bebintangannya. Dalam sebuah ruangan di rumah ini, tepatnya di kamar yang bertema abu-abu dan putih, Riqhad mengistirahatkan tubuh kekarnya. Setelah dari pagi hingga siang ia mengabdi di kampusnya, kemudian hingga sore tadi menemani Fhariza shopping dan ia pun pulang sedikit larut karena membahas bisnis kulinernya yang baru berjalan beberapa bulan.


Setelah meregangkan otot-ototnya di kasur kingsize di kamarnya, ia kembali menatap koper silver dengan gantungan mencolok berwarna ungu yang ada di sudut terjauh dari kamar.


Meski sudah tahu siapa pemiliknya, namun Riqhad belum juga berinisiatif untuk mengembalikannya. Gadis yang membawa kopernya pun sama, setelah sepekan mereka selalu bertemu di kampus, namun tidak juga menanyakan kopernya yang ada pada Riqhad.


Dosen muda yang hanya menggunakan celana santai tanpa atasan ini alias bertelanjang dada, berdiri dari posisi telentangnya dan bergerak menuju koper itu berada, memposisikan koper tersebut tepat di atas ranjangnya. Tangan kanannya tergerak menggenggam gantungan ungu itu, ia mengelus lembut dan menatap lekat gantungan itu, entah mengapa ia seakan familiar dengan gantungan ini, tapi mengapa ia tak mengingat alasannya sama sekali.


Masih denga mengusap gantungan lembut itu, ia mengangkat sudut bibirnya sedikit tanpa sengaja. "Apakah gadis itu sangat menyukai warna ungu? Ketika di Airport dia juga mengenakkan kerudung ungu, di hari pertama perkuliahan dia juga mengenakkan warna itu dan tadi siang Shanum kembali menggunakan baju terusan kebesaran dengan warna yang sama pula." Batin Riqhad.


Masih berkelana memikirkan Shanum yang entah mengapa tanpa seizinnya melintas di pikirannya saat ini, Riqhad kembali menaikkan sudut bibirnya. Ia terkekeh kecil melihat ekspresi gadis itu tadi, ketika berhadapan dengannya Shanum selalu menunjukkan ekspresi yang sama. Jika tidak ekspresi wajah kaget, menunduk bersalah, merona malu dan kadang wajah kesal tertahan. Apakah gadis itu tidak memiliki ekspresi lain untuk digunakan? Ekspresi yang sedikit manis misalnya. Pikirnya.


Masih menggenggam benda ungu itu, Riqhad kembali bergumam, "Si gadis penyuka warna ungu, warna yang identik dengan janda. Tidak, tidak. Gadis penyuka warna ungu dengan aura anggun dan unik." Ia kembali terkekeh.


Seakan tersadar dari lamunan ungu-nya si gadis itu, Riqhad pun menggelengkan kepalanya membuyarkan pikiran kacaunya tersebut, bagaimana bisa dia memikirkan perempuan lain sekarang? Bahkan ia tidak pernah mengizinkan otak pintarnya ini untuk memikirkan perempuan lain selain Mama, Zoeya dan Fhariza. Tapi kini, perempuan yang menjadi tanggungjawab Mamanya telah menambahkan list tersebut.


Menghela nafas dan meletakkan koper tersebut di samping ranjang, Riqhad bertekad untuk mengembalikan koper ini secepat mungkin. Sebab, ada beberapa barang yang sangat ia butuhkan di dalam sana dan mana tahu Shanum juga sangat membutuhkan barang-barangnya karena ketika kembali dari Singapura, yang Riqhad tahu si gadis itu hanya membawa satu koper dan satu handbag saja.


"Apa aku harus mengembalikannya di kampus atau ke rumah? Tapi aku tak ingin kembali." Batin Riqhad.


***


Dilain sisi


"......"


"Apa? Kok kamu nggak cerita sih Dan?"


"......"


"Iya, tapi kan seharusnya kamu kasih tahu aku. Kita kan sudah bersahabat lama, masa hal yang membahagiakan ini tidak kau beritahu sih, aku kan bisa bantu."


"......"


"Jangan ungkit itu lagi! Aku masih yakin, dia bisa ku temukan kembali. Kapan acaranya?"


"......"


"Namanya siapa sih?”


"......"


"Ya elah, pelit banget sih Dan. Cuma sebutin aja kali."

__ADS_1


"......"


"Iya deh, iya. Asal kau bahagia saja. Pilihan Ibumu itu pasti yang terbaik."


"......"


"Pasti. Aku akan datang dan menemani sahabatku ini."


"......"


"Untuk hal itu, kamu harus tanggungjawab ya, kalau si Oya depresi setelah ini. Kamu kan tahu dia sangat menggilaimu, kamu lah yang menjadi alasan mengapa ia menjadi setomboy itu."


"......"


"Aku marah, titik nggak pakai koma."


"......"


"Siip. Malam."


Thoriq pun menutup ponselnya. Yang baru saja menghubunginya adalah sekretaris merangkap sahabatnya itu, Armadan. Katanya, pria yang akrab dipanggil ‘Ardan’ itu akan melepas masa lajangnya dalam waktu dekat. Sebab, dia telah menjalani ta'aruf selam tiga minggu lebih dengan calon yang dipilih oleh Ibunya. Calonnya tak lain adalah wanita yang bekerja di butik pakaian muslim milik ibunya.


Thoriq meneguk soda dingin dari lemari es di apartementnya. Ta'aruf? Ia tahu ta'aruf itu apa, karena meski tidak agamis dan religius. Pria ini memiliki beberapa kenalan yang agamis.


Ta’aruf dari bahasa arab  لِتَعَارَفُوا "Taarafu" \= Saling Mengenal, Menurut rujukan Al Quran sebagai sumber hukum tertinggi, Kata Taaruf ada di Surah Al Hujurat ayat 13.


يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ  عَلِيمٌ


خَبِيرٌ


“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”


Namun, jika ta’aruf yang dimaksud adalah untuk mencari jodoh, belum ada hukum yang mewajibkan ataupun melarang hal tersebut. Tetapi, jika ta’aruf dibandingkan dengan pacaran, maka secara agama, ta’aruf lebih dianjurkan karena beberapa alasan.


Karena sudah menjalani ta'aruf tiga minggu ini, keluarga Ardan ingin melangkah ke jenjang berikutnya yaitu khitbah atau melamar.


Armadan hanya mengikuti keinginan orang tuanya itu dan yang membuat Thoriq marah adalah mengapa sahabatnya itu tidak memberitahunya lebih dahulu mengenai rencana seriusnya ini. Bahkan Thoriq yang selalu beradanya di kantor, tidak pernah disinggungkan dengan rencana sahabatnya. Baru malam ini, Ardan memberitahunya dan meminta Thoriq ikut menemaninya untuk mengkhitbah calon istrinya lusa.


Dari yang pernah diceritakan Ardan, calon pilihan ibunya itu adalah gadis yatim piatu yang kini hidup mandiri dan bekerja di butuk ibunya, selain itu dia juga mengajar mengaji serta menempuh pendidikan S2nya dengan beasiswa. Sungguh idaman sekali. Tidak hanya itu saja, yang mengejutkan Thoriq adalah saat Ardan menyatakan sendiri bahwa wanita itu bercadar. Sehingga mau tidak mau membawa Thoriq pada sosok yang akrab dengan Shanum, Harisa namanya.


Wantia yang di kali pertama bertemu dengannya, entah mengapa terlihat menatapnya sendu. Thoriq pun seakan mengenali Harisa tapi itu tidak mungkin. Thoriq tidak pernah mengenal wanita bercadar, perempuan berkerudung yang ia kenal saja hanya beberapa orang selain beberapa karyawan, rekan bisnisnya, Mamanya, Ibu Armadan dan Shanum. Eh, tunggu pernah beberapa kali ia bersinggungan dengan wanita seperti itu. Pertama, saat ia membantu seorang wanita bercadar yang kerudungnya tersangut di parkiran Restoran waktu itu, lalu saat di acara resepsi sahabatnya dan rasanya Thoriq sangat sering bersisian dengan wanita bercadar akhir-akhir ini.


Thoriq teringan dengan satu orang lagi wanita yang menutup wajahnya. Siapa Harisa? Apakah mungkin dia calonnya Armadan? Batin Thoriq. Memikirkan itu entah mengapa membuat dada Thoriq sesak tanpa alasan.


Satu lagi yang membuat Thoriq pusing. Yaitu mengenai adik bungsunya Zoeya. Zoeya sangat menyukai Ardan, Thoriq sudah lama mengetahuinya. Awalnya Thoriq hanya mengira Zoeya sedang masa pubertas, naksir laki-laki adalah hal yang biasa. Namun, bertahun-tahun Zoeya mengagumi Armadan. Bagaimanakah perasaan adik kecilnya itu jika tahu orang yang disukainya akan menikah? Oh tidak, Oya pasti sedih. Batin Thoriq.


Thoriq pun melabuhkan dirinya di ranjang seraya menatap foto lama, menampil seseorang yang menjadi alasan mengapa Thoriq betah dengan status lajangnya hingga sekarang tanpa mau memikirkan ikatan pernikahan yang selalu digadang-gadang oleh Mamanya.


"Syafiqa." Lirihnya.

__ADS_1


__ADS_2