A

A
EXTRA PART TIGA


__ADS_3

EXTRA PART TIGA


Dianjurkan mendoakan keberkahan untuk anak sebagaimana yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian juga dianjurkan mendoakan perlindungan buatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendoakan perlindungan untuk al-Hasan dan al-Husein dengan mengucapkan,


“Aku meminta perlindungan dengan kalimat Allah yang sempurna untukmu, dari setiap setan dan burung hantu serta dari pengaruh mata yang jahat.”


(HR. Bukhari)


_________________________________________


3 tahun 4 bulan kemudian


"Ummi, kenapa sih Ummi terus-terusan pake kain wajah kalo keluar rumah?" Tanya gadis kecil yang asyik memainkan rubik meski belum bisa menyusunnya.


"Kain wajah ini namanya cadar, sayang. Ummi pake karena ini sunnah (dianjurkan), kalo dikerjakam dapat pahala dari Allah dan bisa jadi wajib karena Abi yang nyuruh." Jawab Shanum yang baru saja mematikan televisi di kamarnya.


"Terus, kenapa Illa nggak pake cadar juga? Kok Abi nggak nyuruh Illa peke kain gitu?" Tanya Khalilla lagi pada Umminya.


"Karena Illa masih kecil. Tunggu Illa udah aqhil baligh dulu baru Illa boleh milih mau pake atau enggak. Karena agama Islam tidak menyusahkan kita, sayang." Shanum pun mengambil rubik yang diserahkan Khalilla padanya pertanda si kecil memintanya untuk menyatukan warna disetiap sisi.


"Aqil baligh itu apa sih, Mi?" Khalilla yang tengah memandangi gerakan lincah jari tangan Umminya kembali bersuara.


"Aqil baligh itu adalah tingkat pertumbuhan Illa dari anak-anak menjadi remaja yang dilihat dengan perubahan keadaan tubuh Illa." Shanum  berhasil menyatukan kesemua warna dan menyerahkan rubik tersebut pada putrinya.


"Ih, ribet banget sih itu. Jadi, masih lama dong Mi?" Khalilla kembali mengacak benda 3x3 ditangan mungilnya.


"Iya sayang, masih lama banget. Illa jangan mikir jauh dulu dong, jalani aja masa anak-anak Illa ini dengan hal bermanfaat dan bersenang-senang lah. Untuk sekarang, cukup Illa membiasakan diri pake kerudung dulu dan jangan biasakan lepas lagi. Oke!" Shanum mencubit gemas pipi putrinya. Semua tingkah Khalilla selalu membuatnya takjub dan kadang sulit untuk berkata-kata. Dia terlalu peka, mudah mengerti, banyak tanya dan juga bisa aneh sendiri.


"Oke, Ummi sayang. Illa pake kerudung agar Illa terjaga dan membantu Abi biar nggak masuk api neraka. Gitu kan Mi?" Kerlingan mata bening Khalilla membuat Ibu satu anak ini terkekeh senang.


"Pintar anak Ummi."


"Mi, Illa mau tanya nih. Tadikan Illa udah nonton kisah Nabi Adam. Di sana ada makhluk yang seram namanya setan jin dan suka ganggu Nabi Adam. Jadi kenapa sesama ciptaan Allah, jin bisa musuhan sama Nabi Adam? Terus, mana lebih dulu Allah bikin api daripada cahaya. Kata Ummi, malaikat terbuat dari cahaya dan jin dari api. Nah, jadi antara mereka siapa yang jadi kakak dan siapa yang adeknya?"


Shanum menghirup napas dalam-dalam, pertanyaan Khalilla banyak sekali? Batinnya. Lalu ia pun tersenyum, mengumpulkan kosa kata yang tepat untuk menjawab rasa penasaran dari putri tercintanya.


"Jin/iblis/setan memusuhi manusia karena mereka merasa diri lebih tinggi, lebih baik dari manusia hingga mereka menjadi sombong. Saat Allah memerintahkan semua makhluk untuk bersujud kepada Nabi Adam as, cuma jin aja yang ngga mau, dia nolak."


"Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”


(QS. Shad : 76)


"Lalu, jin diciptakan sebelum Nabi Adam. Sedangkan Allah tidak menyebutkan waktu Dia menciptakan malaikat tapi malaikat telah ada sebelum Allah menciptakan langit dan bumi."


"(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya."


(Al Mu’min 7)


Firman Allah tersebut menunjukkan bahwa malaikat sudah diciptakan oleh Allah SWT sebelum Dia menciptakan langit dan bumi, karena ‘Arsy-Nya sudah ada sebelum langit dan bumi diciptakan-Nya, seperti sunnah Rasulullah ini:


Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW pernah bersabda: 


“Allah telah me­nentukan suratan takdir semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi atau ketika ‘Arsy–Nya masih di atas air.”


(HR Muslim)


"Oh, gitu Mi. Terus Mi, kenapa sih Jin atau setan nggak minta maaf aja sama Nabi Adam? Kan nggak baik jahat terus." Tukas Khalilla lagi dengan serius.


Shanum terkekeh kecil, namun sebelum ia sempat menjawab pertanyaan kesekian kali dari putri kecilnya ini, sosok pria tampan pun datang dan menghampiri mereka.


"Lagi ngomongin apa sih? Asyik banget, sampai salam dari Abi aja ngga dijawab itu." Ucapnya.

__ADS_1


"Maaf Bi, Ummi nggak dengar karena lagi serius memenuhi rasa keingintahuan putri kita. Dia aktif banget nanya-nanya dan selalu ingin ditanggapi sampai tuntas." Jawab Shanum setelah menjawab salam dari Riqhad dan menyalami suaminya.


Khalilla pun juga memgikuti apa yang dilakukan Umminya, menjawab salam dari Abi dan kemudian menyalaminya dengan riang. Ummi adalah panutan untuk Khalilla di usia kecilnya, madrasah pertama dan juga sahabat pertamanya.


Anak biasanya akan mengikuti semua prilaku orang tua, maka seharusnya sebagai orang tua kita harus memiliki akhlak yang mulia, jangan sampai kita menampakkan akhlak yang buruk karena anak akan menirunya.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


“Barang siapa yang mencontohkan perbuatan baik dalam Islam, maka dia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang ikut melakukannya setelahnya tanpa dikurangi sedikit pun pahala mereka. Dan barang siapa yang mencontohkan perbuatan yang buruk dalam Islam, maka dia akan memikul dosanya dan dosa orang-orang yang ikut mengerjakannya setelahnya tanpa dikurangi sedikit pun dari dosa mereka.”


(HR. Muslim)


"Bener gitu, sayang? Kamu nanya apa aja ke Ummi?" Tanya Riqhad sambil memindahkan tubuh Khalilla ke pangkuannya.


"Iya, Bi. Illa udah tanya banyak-banyak dan Ummi pintar ya Bi bisa jawab semua. Illa seneng deh." Jawabnya sambil memainkan jam tangan di pergelangan sang Abi.


"Bukan hanya Ummi, Nak. Kamu aja kecil-kecil gini udah pintar banget, pertanyaan kamu pun sudah seperti pertanyaan anak sekolah. Jadi pengen masukin kamu ke sekolah secepatnya." Batin Riqhad. Ia pun mengelus kerudung pink putrinya sambil menatapnya lembut.


"Iya, Ummi dan Illa sama-sama pintar. Abi bangga. Nanti Abi kasih hadiah deh buat kalian." Jawab Riqhad sambil mencium pipi tembem gadis kecilnya yang sering menyebut dirinya sendiri dengan kata 'Illa'.


"Beneran, Bi? Hadiah? Asyik. Illa tunggu deh." Ucapnya riang sambil memeluk tubuh kekar Abinya.


Riqhad tersenyum mendekap Illa di dadanya, mengecup pucuk kepala putrinya dengan perasaan bahagia tak terkira.


"Abi, Illa masih mau tanya ini." Ucap Khalilla sambil memandangi wajah Abinya.


Shanum menghela nafas, sambil menyander ke kepala ranjang ia pun berkata dalam hati.


"Aduh, ini anak nggak ada habis-habisnya. Masa masih ingat sama pertanyaan yang belum aku jawab tadi sih? Apa aku harus membedah asal mula penciptaan jin dan manusia sekarang juga?"


Riqhad tersenyum melihat wajah istrinya yang tampak lelah menghadapi kecerewetan putri mereka. Riqhad sampai penasaran bagaimanakah keseharian keduanya jika dia sedang di kantor, bagaimana cara Shanum menanggapi semua tingkah Khalilla.


Hal itu membuat Shanum **** senyum dan memberikan Riqhad acungan jempol. Terbaik.


"Kenapa Abi ngga pake cadar juga kayak Ummi?" Tanyanya polos.


Shanum dan Riqhad tertawa mendengar pertanyaan itu. Riqhad mengelus kepala putrinya seraya menjawab,


"Abi nggak pake cadar itu karena Abi tampan, sayang. Masa orang tampan pakai cadar sih?"


"Terus?" Tukas Illa lagi sebab belum puas dengan jawaban dari Abinya.


"Jadi, yang pake cadar itu adalah orang cantik ya kayak Ummi kamu ini nih." Jawab Riqhad sambil melirik Shanum dan mendekap Khalilla gemas. Shanum tersenyum lembut memandangi dua orang yang paling dicintainya.


"Oh, gitu ya Bi. Karena Umi cantik dan Abi tampan."


"He'em, betul betul betul." Riqhad meniru ungkapan khas dari salah satu program favorit putrinya. Khalilla tertawa dengan menutup mulutnya.


"Gemukan ya putri Abi sekarang ini." Gumam Riqhad kemudian.


"Iya dong, Bi. Kan Illa makannya diawali dengan bismillah dan doa makan, terus selesainya ditutup pake doa lagi deh. Jadi, makanannya nggak dicuri. Iya kan Mi?" Jawab Illa sambil meminta pembenaran dari guru pertamanya itu.


Shanum mengangguk sambil mengacungkan jempolnya ke arah Khalilla.


Riqhad hanya bisa menggeleng melihat interaksi kompak dari dua bidadarinya. "Pintar banget Umminya Khalilla." Puji Riqhad setengah menggoda mantan mahasiswinya itu.


Ketiganya pun larut dalam percakapan ringan mengenai keseharian mereka. Dominannya adalah mendengar celotehan Khalilla yang berbagi banyak hal. Meski baru memasuki usia empat tahun tapi ia telah banyak belajar dan mudah mengerti maupun memahami sesuatu.


"Abi mandi dulu ya. Bentar lagi mau masuk waktu isya nih, kita juga mau ngajarin Lilla ngaji ntar dia ngantuk." Ucap Shanum mengambil alih Khalilla dari Abinya. Riqhad memang lembur hari ini hingga pulang dari kantor setelah maghrib.


“Abi sholatnya dirumah aja ya, Mi nggak keburu kayaknya ke Masjid.” Ucap Riqhad bergegas menuju kamar mandi sambil menenteng handuknya. Meninggalkan Shanum yang juga bergegas menyiapkan perlengkapan sholat mereka sambil menggeleng. Tak terkecuali mukena dan sajadah mini milik Khalilla.

__ADS_1


Si kecil sudah mereka biasakan untuk mengenal sholat dan Islam, hingga Khalilla ikut berdiri tegak disamping Umminya berada satu syaf dibelakang Riqhad.


Khalilla memperhatikan setiap gerakan yang diperagakan oleh Abinya dan sesekali ia menghadap ke arah Umminya hingga perlahan menirunya. Jika sedang tidak mood, Khalilla hanya memainkan mukenanya dan memutar-mutar mukena bermotif strowberry miliknya hingga bergelombang-gelombang di udara. Tapi, dia juga tidak meninggalkan sajadahnya sebelum Abi dan Umminya mengucapkan salam. Menyelesaikan sholat mereka.


Setelah melaksanakan sholat isya' ketiganya pun serentak memandangi Al -Qur'an. Membaca beberapa ayat dari kalam Allah ini. Tak banyak namun tak pernah putus, insya'Allah. Tiap menyelesaikan sholat wajib mereka akan menyicil membaca kalamullah.


Khalilla kecil hanya duduk enteng di pangkuan Umminya mendengar sautan merdu dari mulut Ummi dan kemudian bergantian Abinya begitupun seterusnya.


Setelah menutup Al-Qur'an mereka, Ummi dan Abi ini pun beralih pada buku bertuliskan 'IQRA'. Buku legend yang di sampul cover belakangnya ada gambar seorang pria berpeci hitam dengan tongkatnya. Sosok yang sangat berjasa dalam memberi kemudahan untuk muslim-muslimah Indonesia mulai mengenal huruf yang ada dalam Al-Qur'an dan memulai melafalkan satu persatu hingga lancar menyatukan huruf.


Meski sekarang beredar media belajar iqra' yang lebih modern, Riqhad dan Shanum tak juga meninggalkan hal yang pernah mereka alami ketika kanak-kanak dulu. Ya ini, belajar menggunakan buku Iqra' karya KH. AS'AD HUMAM, sebab jika dua media disatukan maka akan lebik efektif lagi.


"Mi, kenapa setelah alif harus huruf baa baru taa sama tsaa? Kenapa nggak taa sama tsaa aja yang duluan?" Tanya Khalilla ketika bacaannya baru mencapai pertengahan.


"Coba Lilla lihat bentuk hurufnya dan hitung jumlah titiknya. Baa punya satu titik, taa dua titik dan tsaa ada tiga titik. Seperti angka-angka. Nggak mungkin angka tiga dulu baru angka dua atau satu." Jawab Shanum dengan sabar.


Abu Amr berkata : “Alasan kenapa setelah huruf alif adalah huruf baa, taa, tsaa adalah karena huruf tersebut adalah huruf yang paling banyak menyerupai huruf yang lain, di mana jika huruf yaa dan nuun terletak pada awal kalimat atau di tengah kalimat maka akan menyerupainya sehingga kalau di jumlah ada 5 huruf yang berkarakter sama. Oleh karena itu untuk mengantisipasi dan mencari jalan keluamya adalah dengan mendahulukan urutannya. Kemudian urutan setelah baa, taa, tsaa adalah jiim, haa, khaa."


"Oh, gitu. Lilla ngerti." Gumamnya sambil mengangguk paham.


"Iya, sayang. Sini Ummi lepasin mukenanya dulu terus kita turun buat makan malam. Nenek Ipah pasti udah nungguin kita." Ucap Shanum sambil melepaskan mukena Khalilla.


***


Riqhad menyimpan sajadah dan sarung beserta pecinya. Beralih membuka tas kerjanya dan mengorek isi di dalamnya.


"Mi, lusa Abi diminta buat jadi pembicara untuk kegiatan seminar di Singapura. Di kampus Ummi dulu, sebenarnya Abi mau nolak sih tapi yang mintanya senior Abi pas kuliah." Ucap Riqhad sambil memperlihatkan undangan yang kemarin diberikan kepadanya.


Riqhad dan Shanum sama-sama terbangun dipertigaan malam untuk melaksanakan sholat tahajud. Shanum bangun lebih dulu hingga sekarang ia telah duduk manis di depan laptopnya sehabis melaksanakan sholat malam itu.


Shanum yang sedang mengecek email dari kliennya menatap Riqhad seraya menimpali, "yaudah, Bi. Berangkat aja. Berapa hari memangnya?"


"Dua atau tiga hari deh kayaknya. Seminarnya ada tiga sesi dan satu sesi dalam sehari. Urusan kantor bisa dihandle sama Abahnya Hajri kok."


"Yaudah, Abi terima aja kali. Itung-itung berbagi ilmu kan termasuk ibadah." Jawab Shanum.


"Lilla gimana? Nggak apa-apa memang kalau kita ajak ke sana? Ini kali pertama loh dia naik pesawat."


Shanum menutup laptopnya dan menghampiri Riqhad di kursi kerja yang berada di sudut kamar mereka.


"Ummi sama Lilla diajak, Bi?" Tanya Shanum heran.


Riqhad merengkuh tubuh Shanum dan menempelkan wajahnya di ceruk leher istrinya itu. "Yaiyalah, Mi. Masa Abi kesananya sendirian sih? Nanti dikira jomblo lagi, kan nggak elit Mi untuk Ayah satu anak ini." Jawab Riqhad seraya mengendus leher Shanum.


Shanum geli melihat tingkah Riqhad dan perkataannya juga. Apalagi sekarang wajah Riqhad mulai ditumbuhi jambul-jambul kecil yang membuatnya merasa geli sendiri.


"Ih, Bi geli lepasin dulu nih!"


"Enggak mau!"


"Oke... oke kita ikut! Tapi ini lepas dulu, geli banget." Ucap Shanum dengan wajah memerah menahan geli.


"Gitu dong, Mi. “


Yaudah, Mi yuk kita ibadah lagi ntar keburu subuh." Tawar Riqhad dengan kedipan usilnya.


Tanpa menunggu jawaban dari Shanum, Riqhad pun mengganti lampu kamar mereka menjadi lampu tidur yang sedikit temaram. Untung saja sejak satu bulan yang lalu Khalilla telah memiliki kamar sendiri yang tetap berada di kamar mereka tapi dipisahkan dengan satu sekat pintu untuk memudahkan mereka menghampiri putri kecil tercinta.


Keduanya pun saling bertukar pandang hingga sama-sama mendekap rasa yang tak pernah padam sejak kali pertama. Lillahi ta’ala.


SELESAI

__ADS_1


__ADS_2