
PART 5 – KELUARGA OKHTARA
"Lima hal yang harus didahulukan; Sang Pencipta sebelum makhluk, Sunnah sebelum tradisi, Orang tua sebelum teman, Keluarga sebelum pekerjaan, dan shalat sebelum dishalatkan."
- Sheikh Alaa Elsayed -
_________________________________________
Shanum menatap takjub rumah mewah di depan sana, kini mobil yang dia tumpangi sudah sampai pada tempat tujuan. Lebih tepatnya rumah keluarga Okhtara. Hasna Okhtara nama lengkap wanita baik ini, wanita paruh baya yang telah menganggapnya sebagai anak di pertemuan pertama mereka, itulah yang Shanum ketahui dari perbincangan mereka tadi.
Rumah seperti istana ini ditutupi gerbang berwarna emas yang tinggi menjulang. Kedatangan mereka disambut satpam yang usianya sekitaran 55 tahun.
“Selamat datang Nya, Mas.” Sapanya setelah membuka gerbang.
“Iya Pak.Terima Kasih.” Ucap Thoriq kembali melajukan mobil memasuki rumah mewah mereka.
Shanum terkagum dengan arsitektur rumah ini, di sampingnya ada taman yang bertema klasik dengan rumah kecil di tengahnya. Jalan menuju rumah kecil itu juga dibuat lebih modern. Taman itupun dipenuhi beragam jenis tumbuhan beragam warna.
“Bagus ya, Nak! Taman ini Riqhad yang merancangnya sendiri khusus untuk Mamanya. Karena Mamanya inii memang senang merawat bunga.” Jelas Ummi Hasna mengikuti arah pandangan Shanum.
“Iya Mi, bagus sekali! Shanum ingin bisa merancang seperti ini juga. Maaf lancang sebelumnya, tapi Riqhad itu siapa?” Tanya Shanum menuntaskan rasa penasarannya akan pria bernama Riqhad yang disebut-sebut dari tadi. Mereka kini telah keluar dari mobil dan berhenti di dekat taman bertema klasik itu.
“Kamu juga bisa kok Dek Shanum, kamu kan kuliah ambil Arsitekur. Saya yakin, kamu bisa lebih hebat dari pria kecil sok dewasa itu. Aduuuh!” Ucap Thoriq memotong pertanyaan Shanum. Thoriq sedang menurunkan koper Shanum, dia mengaduh sebab lengan besarnya dicubit oleh Sang Mama.
“Kok Abang dicubit Ma?” Keluhnya.
“Kamu jangan ngomongin saudara sendiri begitu!” galak Sang Mama.
“Oke ... oke ... fine. Maafin Abang ya Ma!” Pinta Thoriq yang dibalas anggukan oleh Mamanya.
“Makasih Ma ... kalau begitu Abang ke kantor dulu ya! Sekalian mau introgasi pria kecil sok dewasa itu .” Ucap Thoriq setelah menyerahkan koper Shanum pada Bi Ipah, Asisten Rumah Tangga di sini.
“Masih saja kamu. Jangan lupa bawa adik kamu pulang ya, ada sesuatu yang mau Mama bicarakan.” Ucap Ummi Hasna.
“Beres Ma, tapi jangan terlalu berharap dia mau pulang ya.” Kata Thoriq setelah memasuki mobilnya lagi untuk menuju kantor. Thoriq memang tidak membutuhkan supir karena dia lebih suka melakukan semua hal sendiri.
“Salam dulu kali Bang.” Sanggah Sang Mama melihat putranya tidak berpamitan. Thoriq yang disapa begitu kembali keluar dari mobil untuk menyalami Mamanya.
“Maaf Ma, kebiasaan. Hehe ... Abang pamit. Asssalamu’alaikum Ma, dan-"
potong Thoriq melirik gadis cantik yang menyaksikan interaksi dia dan Mamanya dengan wajah cerah.
“... calonnya Abang, Shanum.” Ucap Thoriq seraya bergegas menuju kemudinya karena takut diamuki oleh Mamanya lagi.
Deg
Wajah Shanum kembali memerah, kali ini lebih merah dari yang tadi ketika masih di dalam mobil. Thoriq memang suka menggodanya meskipun mereka baru saja bertemu.
__ADS_1
Setelah menjawab salam dari Thoriq dan mobil itu pun sudah menjauh dari rumah mewah ini. Ummi Hasna mengajak Shanum untuk masuk ke dalam rumah.
“Thoriq memang begitu. Dia ramah, cerewet, humoris dan sedikit manja pada Mamanya. Jadi, siap-siap saja kamu akan sering digoda dengan ucapannya ya. Berbeda sekali dengan saudaranya yang sudah lama tidak tinggal di rumah ini.” Kata Ummi Hasna menjelaskan sesuatu yang tertunda tadi.
“Riqhad yang kamu tanyakan tadi itu adalah putra kedua Ummi, adiknya Thoriq. Tetapi dia sudah tidak tinggal di rumah ini lagi, dia hanya pulang ketika Mamanya sakit atau ada acara tertentu saja. Dia memilih tinggal sendiri semenjak ayahnya meninggal .” Jelas Ummi Hasna lagi diakhiri dengan nada lirih.
“Maafkan Shanum jika pertanyaan tadi membuat Ummi bersedih.” Shanum mengelus lengan wanita paruh baya itu.
“Tidak apa-apa Nak, Ummi senang dengan adanya kamu disini, Ummi jadi punya teman. Ummi jadi rindu dengan putri bungsu Ummi, baru saja pergi sudah rindu.”
“Jadi, Ummi juga punya putri?” Tanya Shanum.
“Iya, Ummi memiliki 3 orang anak, yang pertama kamu sudah kenal, Atthoriq Okhtara. Yang kedua adalah Arrhiqad Okhtara sedangkan yang terakhir adalah Zoeya Maisya Okhtara. Dia sekarang sedang melaksanakan study tour, baru saja pagi ini berangkat. Dia seumuran denganmu. Semoga kalian bisa bersahabat ya.” Timpal Ummi Hasna lagi.
‘Ya ... semoga saja’ Batin Shanum.
“Nah, ini kamarmu! Sudah dibereskan oleh Bi Ipah, semoga kamu betah ya di sini.” Tunjuk Ummi Hasnah setelah mereka sampai di lantai dua, di depan kamar yang sudah dipersiapkan untuk Shanum.
“Ummi, apakah ini tidak terlalu mewah untuk orang yang menumpang di sini?” tanya Shanum hati-hati karena memang kamar yang ditujukan untuknya ini terlalu berlebihan menurutnya.
“Jangan bilang begitu lagi ya, Ummi tidak suka. Kamu bukan menumpang, tapi kamu juga menjadi anggota keluarga kami mulai sekarang. Ini semua tidak sebanding dengan apa yang sudah diberikan oleh Bii Syofi pada keluarga kami.” Ucap Ummi Hasna seraya menggandeng Shanum ke dalam kamar barunya.
“Nah, sekarang kamu istirahat. Di dalam lemari ini ada beberapa pakaian yang Ummi siapkan untukmu, semoga cocok. Menjelang kita menemukan kopermu itu.” Ucap Ummi Hasna mengelus kerudung Shanum.
“Baik Ummi, terima kasih ya .” Balas Shanum dan menyalami tangan wanita itu.
'Sungguh banyak hal yang mulai membuatku tidak mengerti!' Batin Shanum.
***
Kantor Pusat Okhtara Group
Thoriq memasuki kantornya diiringi tatapan kagum dari semua karyawan yang dilewatinya. Mereka menyapa ramah CEO muda ini yang sayangnya sampai detik ini belum juga memiliki pasangan.
Pria tampan ini berjalan dengan karismatik dan sangat berbeda dengan sikapnya saat berada di rumah, jika di rumah dia akan bersikap cerewet, manja dan humoris tapi di kantor dia layaknya pimpinan lain. Berkarisma, tegas dan ramah. Dia tidak segan menyapa siapa saja yang menyapanya lebih dulu, tetapi dia juga sering menyapa bawahannya lebih dulu jika moodnya sedang baik.
Sapaan-sapaan sopan dilontarkan oleh karyawan hingga dia memasuki ruang utama, yang tak lain merupakan ruang kerjanya. Dia tidak sabar ingin mendengar pria yang sering dia panggi ‘pria kecil sok dewasa’ itu meluapkan rasa kesal sebab ‘pria itu’ telah menggantikannya untuk menghadiri meeting di Singapura beberapa hari yang lalu. Dia juga siap menerima amarah dari saudaranya sebab sudah berbohong, mengatakan kantor pusat sedang bermasalah dan mengharuskan adiknya itu kembali lebih cepat.
Dia melakukan itu karena beberapa hari yang lalu Mamanya mengatakan bahwa mereka akan mendapatkan anggota keluarga baru, yang tak lain adalah Shanum. Jadi, Thoriq berinisiatif ingin mengumpulkan semua anggota keluarganya agar dapat mengadakan acara keluarga yang sudah lama tidak mereka laksanakan.
Sesampainya di ruang yang dia tuju, Thoriq membuka pintu dan mulai melangkah masuk dengan wajah sumbringan. Tampaklah sosok Riqhad yang sedang duduk dengan kaki kanannya diangkat, bertumpu pada kaki kiri sedangkan kedua tangan disilangnya di depan dada. Dia mengayunkan kaki kanannya itu sambil menatap tajam Armadan yang posisinya ada di depan.
“Eheem.” Deheman Thoriq memecahkan kesunyian di ruangan ini, CEO itu pun mendekati sofa yang diduduki oleh adiknya serta sahabatnya.
Thoriq duduk di sebelah Riqhad seraya merangkulnya.
“Apa kabar 'pria kecil'? Bagaimana meetingnya?” Sapa Thoriq yang hanya diacuhkan oleh sang adik. Pandangan Riqhad masih saja mengarah pada orang di depannya, Armadan.
__ADS_1
“Yah. Dikacangin.” Keluh Thoriq seraya mengalihkan pandangannya pada Armadan, sedangkan rangkulannya sudah dilepaskan begitu saja oleh Riqhad.
“Bro, kenapa pria kecil jadi seperti ini setelah kembali dari Singapura? Apakah kau tidak mengajaknya jalan-jalan?”Tanya Thoriq pada sahabatnya itu.
“Bukan begitu Bos! Dia hanya sedang sensi sejak kepulangannya dipercepat. Seperti yang saya jelaskan di ponsel itu.” Jawab Armadan.
“Sudah aku katakan, jangan panggil Bos! Kita sudah lama bersahabat, serasa seperti orang lain saja. Cukup ‘pria kecil’ ini saja yang kamu panggil Bos." terang Thoriq kesal.
Armadan selalu saja begitu, memanggilnya dengan kata yang tidak disukainya ‘Bos’ jika berada di kantor. Tetapi Thoriq selalu memarahinya jika menggunakan panggilan itu.
“Oke, oke, gue bercanda Bro. Ngomong-ngomong, tolong tenangin adik loe ini ya, gue takut liatinnya sedari tadi. Dia menyeramkan.” Ucap sekretaris CEO mengguraui Riqhad.
Mereka memang sudah akrab sedari masih menjadi siswa SMA, dengan Riqhad pun Armadan sudah kenal dekat sehingga tidak terjadi kecanggungan diantara mereka kecuali di saat bekerja.
“Sudah cukup basa-basinya! Sekarang saya izin undur diri!” Kata Riqhad masih memakainada formalnya untuk memecah kesunyian dirinya. Dia kesal mendengar dua sahabat itu tengah asik berbincang sedangkan tidak ada diantara keduanya yang mau menjelaskan kebohongan mengenai masalah kantor.
“Mau kemana kamu?” Tanya Thoriq seraya berdiri mengikuti aksi adiknya yang ingin meninggalkan ruangan ini.
“Saya sibuk, tidak ada waktu mengikuti kebohongan kalian itu!” Riqhad menghentikan langkah kakinya tanpa membalik badan.
“Masalah itu Abang minta maaf Qhad! Abang cuma mau kamu pulang lebih cepat sebab kita kedatangan anggota keluarga baru yang sudah dijelasin Mama beberapa hari yang lalu. Jadi Abang ingin mengadakan kumpul-kumpul keluarga yang sudah lama tidak kita adakan sekalian memperkenalkan anggota baru itu.” Terang Thoriq.
“Ehem. Bro, gue permisi dulu ya! mau menyelesaikan laporan.” Pamit Armadan yang tidak ingin mengganggu dua pria tampan bersaudara itu yang sedang membahas masalah keluarga.
Setelah menyaksikan anggukan dari Thoriq, Armadan pun meninggalkan ruangan atasannya.
“Lantas, mengapa harus berbohong dan mengatakan kantor sedang mendapat masalah? Aku tidak suka dibohongi dan juga Abang mengacaukan rencana yang sudah aku siapkan.” Jawab Riqhad dengan nada kesal yang kali ini berbalik menatap Abangnya.
“Hehe. Masalah itu Abang minta maaf ya? Soalnya kata Ardan pekerjaan kalian sudah selesai dari kemarin, jadi ya ... Abang kira kamu akan senang kembali lebih cepat dari jadwal . Bukannya kamu ogah-ogahan waktu Abang memintamu menggantikan Abang? Terus mengapa kamu jadi kesal setelah Abang memintamu pulang lebih cepat?” Terang Si Abang panjang lebar pada adiknya itu.
“Sudahlah Bang. Planning Riqhad gagal gara-gara Abang! Dan sekarang dia marah!” Kesal Riqhad.
HAHAHAHA
“Jadi itu yang membuatmu begitu marah? Gara-gara si kekasih toh?” Ejek Thoriq.
“Abang kan tahu mereka melakukan study tour ke sana, ‘si cerewet’ kan juga ikut Bang. Masa Abang tidak paham sih?” Tambah Riqhad lagi.
Kekasihnya memang mendampingi study tour ke Singapura yang diikuti beberapa mahasiswa Fashion Design yang terpilih dan salah satunya adalah adiknya sendiri yang sering mereka panggil ‘Si cerewet’ yaitu Zoeya.
“Iya sih, tapi Abang mana tahu kekasihmu juga ke sana? Oya tidak bilang siapa yang mendampingi mereka.” Thoriq membela.
“Arggh ... ya sudah Bang. Riqhad ke kampus dulu. Riqhad ada jam mengajar siang ini, Riqhad tidak mau membuang-buang waktu membahas kebohongan Abang dan sahabat Abang itu. Permisi!” Ucap Riqhad mulai mendekati pintu.
“Tunggu Qhad! Nanti malam jangan lupa ke rumah ya ... permintaan Mama. Mama rindu katanya dan ada yang ingin dia sampaikan.” Kata Thoriq sebelum Riqhad mencapai ganggang pintu.
Riqhad tidak berbalik dan juga tidak menanggapi ucapan Abangnya, hanya dia saja yang tahu apakah dia akan pulang malam ini ataukah tidak, tetapi Thoriq berharap Riqhad akan kembali.
__ADS_1