A

A
DUA PULUH LIMA


__ADS_3

PART 25 - GALAU KALAU KALAU


"Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sedu sedan. Tetapi cinta menghidupkan pengharapan, menguatkan hati dalam perjuangan menempuh onak dan duri penghidupan."


~Buya Hamka~


_________________________________________


"Assalamu'alaikum."


Seorang wanita paruh baya melangkahkan kaki menuju ruangan di depannya. Sedangkan matanya mengabsen tiap jengkal sudut rumah, beberapa hari meninggalkan anak-anaknya membuatnya begitu merindukan suasana yang ada di rumah ini.


Di belakangnya seorang pria yang lebih muda darinya sedang menurunkan barang-barang dari mobil. Pria itu tampak sangat berbeda dari biasanya, ia yang selalu bisa mencairkan suasana kini hanya menampilkan raut wajah yang datar.


Selama dalam perjalanan pulang, ia berubah menjadi pria pendiam dan hanya beberapa kali menimpali ucapan dari Mamanya dengan tidak semangat. Sama seperti keadaan adiknya beberapa hari yang lalu begitulah keadaannya sekarang.


"Kok rumah sepi ya Bang. Anak-anak kemana? Bi Ipah dan yang lainnya juga enggak ada." Ucap wanita paruh baya itu pada pria tampan yang telah merapikan barang bawaannya. Thoriq yang ditanya hanya menggedikkan bahu pertanda ia tidak tahu.


Mamanya yang melihat itu hanya menghela nafas, tak ingin kembali bertanya mengenai apa yang dialami putranya sehingga lesu begini. Ketika dalam perjalanan tadi saja pertanyan Mamanya hanya dijawab, "enggak ada apa-apa." "Hanya ada sedikit masalah di kantor." Begitulah tanggapan dari anaknya.


Sebagai orangtua yang pengertian Mama Hasna hanya memberi semangat kepada anak sulungnya dan berdoa semoga bongkahan masalah yang menggulung dipikiran anaknya secepatnya melebur.


"Ya sudah lah. Mama mau bersih-bersih dulu. Kamu istirahat saja dulu, sebelum makan kamu nggak boleh pergi." Kata Mamanya yang perlahan menghilang dari pandangan Thoriq.


***


Di halaman belakang


"Ini belum mateng deh kayaknya."


"Udah, coba aja dicicip dulu."


"Bi, tolong bantu Oya iris ini. Perih banget mata Oya jadinya."


"Ok, Non. Wating!" Ucap Bi Ipah berlagak bisa berbahasa Inggris.


Hahaha


Sautan tawa mengudara di halaman belakang yang telah di sulap menjadi arena bakar-bakar. Bi Ipah yang dipanggil Zoeya tadi langsung menghampiri anak majikannya untuk membantu mengiris bawang.


Di sebelah Zoeya ada Shanum yang sedang asyik menusuk daging yang telah dipotong dadu. Di depan bara api, ada pria paruh baya yang juga sedang membolak-balikkan jagung yang sebelumnya telah dilumuri bumbu racikan.


Mereka akan membuat sate daging dan jagung bakar. Tidak banyak namun cukup untuk mereka, setelah sholat ashar tadi dan kebetulan tempat Shanum mengajar mengaji hari ini libur, jadi Shanum dan Zoeya berinisiatif untuk mengajak pembantu di rumah mereka masak-masak bersama.


Karena hari ini Bi Cici dan Bi Ratna yang pulang kampung telah kembali bekerja. Anggap saja sebagai ucapan selamat datang kepada mereka berdua sekaligus mengenalkan Shanum kepada mereka.


"Dek Shanum belajar dari mana sih, resep sate kayak gini?" Tanya Bi Cici penasaran.


"Dari Oma, Mbak. Waktu Oma masih ada dan sehat, kami sering bikin sate kayak gini." Jawab Shanum yang telah meletakkan puluhan tusuk sate ke pemanggangan. Terdengar bunyi berdecis dan semerbak bau khas yang keluar dari daging itu pun menghampiri indera penciuman mereka.


"Oalah. Harum banget ya Nduk. Jadi ndak sabar nyicipnya." Timpal Pak Udin. Pria yang sudah tidak muda itu membawa jagung yang telah ia bakar dan meletaknya di meja yang telah mereka siapkan.


"Iya Pak. Ibuk jadi penasaran rasanya, pasti enak seenak baunya. " Jawab Bi Ipah menghampiri suaminya dan menggandeng mesra. Meskipun sudah sama-sama tua namun tidak mengurangi keromantisan mereka.


"Idih, so sweeet." teriak Zoeya sambil berlagak baper.


Melihat itu pun mereka kembli tertawa.


"Ehem."


Terdengar deheman berasal dari pintu yang menghubung ke halaman belakang.

__ADS_1


"Jadi ini kerjaan kalian sehingga Nyonya besar pulang enggak ada yang menyambut." Ucap suara serak itu dengan nada menggoda namun raut wajah yang berbeda.


"Mas." Sapa Pak Udin.


"Abang kapan datang?" Tanya Zoeya menghampiri Abangnya kemudian mencium pipi pria tersebut.


"Baru aja. Abang dari jemput Mama ke Bandung." Ucap Thoriq memeluk Adiknya.


Mereka berdua pun menghampiri yang lainnya. "Apa kabar Shanum? Gimana kuliahnya?" Tanya Thoriq pada gadis berkerudung yang tengah menata jagung bakar ke dalam beberapa piring ceper.


"Alhamdulillah baik, Mas. Kuliahnya juga lancar-lancar aja kok." Jawab Shanum.


Thoriq pun mengangguk.


"Iya lancar, lancar dikerjain sama Dosen galaknya Bang." Timpal Zoeya dan berdiri di sisi Shanum.


Kening Thoriq pun berkerut seolah bingung dengan apa yang dikatakan Adiknya itu. "Ya itu, Dosen keren yang killer abis. Adiknya Abang sering banget nyuruh-nyuruh Shanum dan kasih tugas yang susah buat dia." Terang Zoeya dengan nada tak terima.


Mendengar ucapan Zoeya membuat Shanum mencubit pinggang gadis bercelana kulot itu. 'Jangan ngomongin saudara sendiri.' Bisik Shanum. Kemudian Zoeya hanya mengangkat dua jari tangannya membentuk huruf V.


Thoriq paham dengan apa yang dikatakan saudara perempuannya, ia hanya tersenyum tipis untuk menanggapi ucapan Zoeya.


"Dosen killer itu anaknya Mama ya?" suara yang dirindukan oleh Shanum dan Zoeya.


Deg...


Mama Hasna muncul namun tidak seorang diri, ia menggandeng seorang pria yang menjadi bahan perbincangan Zoeya barusan.


"Nih, Dosen galak itu ada di sini. Ayo sapa." Tambah wanita paruh baya itu dengan senyuman mengembang. Melihat ekspresi pria tersebut membuat seluruh mata menatap ke arah Zoeya dan dibalas cengiran oleh si empunya.


Sedangkan Shanum tengah memperhatikan dosennya, seharian ia tidak bertemu dengan pria ini sebab kata teman-temannya Pak Riqhad sedang mengurus jadwal keberangkatan mereka untuk mengikuti study lapangan yang belum tahu kapan. Sehingga mata kuliahnya diganti besok.


"Mama enggak nyangka kamu sering suruh-suruh Shanum dan ngerjain dia di kampus? Kok Abang gitu sih?" Mama Hasna mengintrogasi putra keduanya.


Sekarang hanya tinggal jagung bakar yang bahkan juga tersisa beberapa saja. Setelah menyapa Nyonya rumah, keempat asisten rumah tangga itu pun izin menyingkir dan melanjutkan tugasnya masing-masing, tentunya setelah membersihkan halaman belakang bekas arena bakar-bakar mereka.


Riqhad yang ditanya oleh Mamanya kini beralih memandang ke arah Shanum. Gadis itu yang kebetulan juga memperhatikan dosennya menjadi kalang kabut ketika iris gelap pria itu mengarah padanya tanpa ekspresi. Secepat mungkin ia menghindari tatapan itu. "Kok dia liatin aku gitu amat ya.” Batin Shanum.


"Hei, yang nanya sini, kok ngeliatinnya ke sana? Situ kenapa?" Timpal Zoeya pada pria di sampingnya.


Mereka duduk mengitari meja bundar yang memang disiapkan untuk halaman belakang ini. Dengan posisi Riqhad diapit oleh Mama dan Adiknya. Kemudian Shanum tepat di depannya, sedangkan Thoriq baru saja kembali dari toilet dan kini menempati kursi kosong di samping Mamanya dan hanya beberapa jarak saja dengan Shanum.


Riqhad menjadi salah tingkah.


"Siapa bilang Riqhad ngerjain Shanum, Riqhad hanya bersikap profesional aja sebagai tenaga pendidik." Jawabnya tanpa memandangi siapa-siapa malahan ia asyik sendiri dengan secangkir coffee di tangannya.


"Iya deh yang profesional banget." Kata Zoeya yang mirip mencibir.


Mereka pun kompak menertawakan ucapan dari Zoeya, bahkan mata Shanum pun menjadi segaris saking asyiknya tertawa.


"Oh iya, maksud Mama mengumpulkan anak-anak Mama di sini dan mengganggu Pak Dosen kita adalah mengenai acara pernikahan sepupu kalian, Sarah. Acaranya dimajuin sehingga menjadi tiga hari lagi. Jadi kita semua harus berangkat ke Bandung untuk menghadiri akad nikahnya sekaligus resepsi satu hari kemudian. Kalian bisa semua kan?" Terang wanita paruh baya itu mengabsen satu per satu anaknya dan terakhir kepada Shanum.


"Shanum juga harus ikut. Nggak boleh ada penolakan titik." Tambah Ummi Hasna tak terbantahkan.


Shanum hanya menghela nafas berat sebab ia takut kalau keberadaannya nanti akan membuat susah keluarga yang baik ini. Namun, melihat senyum tulus wanita paruh baya itu membuat Shanum hanya bisa mengangguk mengikuti alurnya.


"Lusa Mama ke sana duluan, kan kalian ada jadwal kuliah dua hari kedepan. Jadi, Oya dan Shanum ke Bandungnya bareng Riqhad aja ya." Ucap Ummi Hasna menjelaskan.


Riqhad yang disebut namanya hanya mengangguk enggan. Titah kanjeng Ratu tak bisa terbantahkan.


Sarah, sepupu Riqhad yang hanya sekali Shanum jumpai yaitu ketika acara makan malam waktu awal-awal kepindahan Shanum ke rumah ini bersama anggota keluarga Ummi Hasna yang lain. Mengingat itu Shanum jadi membayangkan baby Fatan, anaknya Mbak Latiffa yang begitu imut dan gembul. Tidak dipungkiri Shanum merindukan bayi mungil itu yang langsung lengket dengannya meskipun baru bertemu. Bayi yang betah berada di gendongan Shanum serta membuat iri si cantik Ratu.

__ADS_1


Shanum tersenyum mengingat itu, berbicara masalah Ratu sudah lama juga ia tidak bertemu dengan gadis mungil itu, terakhir kalinya ketika menemaninya makan ice krim yang berakibat salah sangka bagi orang yang melihat mereka dan menyangka mereka adalah keluarga bahagia. Shanum menggeleng kepalanya bermaksud mengusir memori beberapa waktu lalu.


Drrt... drtt... (Ponsel yang beberapa menit yang lalu Shanum aktifkan berdering)


Ia pun meminta izin untuk mengangkat ponselnya. Meninggalkan Ummi Hasna dengaan ketiga anaknya. Zoeya sekarang asyik berbagi cerita dan rindu dengan Mamanya, sedangkan duo A (Arriqhad dan Atthoriq) memilih menjauh dari posisi wanita mereka karena tak sanggup mendengar suara mengganggu Zoeya ketika sedang antusiasnya berceloteh pada Mama. Sedangkan sang Mama terlihat senang melihat keceriaan putrinya.


Sesaat setelah mengakhiri panggilan di ponselnya, Shanum kembali menghampiri empat orang yang masih berada di halaman belakang. Beberapa langkah mendekati pintu, suara tawa ibu dan anak menghampiri telinga Shanum, ia memperhatikan saja apa yang mereka lakukan. Ibu dan anak itu terlihat begitu bahagia, ia pun ikut senang melihat Zoeya yang bisa kembali ceria. Namun, setitik ia iri dengan interaksi tersebut. "Ibu, Shanum rindu. Mengapa Ibu meninggalkan Shanum sebelum Shanum bisa merasakan dekapan hangat darimu." Batin Shanum lirih.


Tak jauh dari Zoeya dan Ummi Hasna, dua pria dewasa itu juga tampak berbincang. Entah apa yang sedang mereka bahas, namun sangat berbeda dengan aura diantara Zoeya dan Mamanya. Jika disekitar dua wanita itu dipenuhi tawa dan bahagia, berbeda dengan aura yang ada pada dua pria itu.


Tampaklah Thoriq yang menunduk lesu sambil menghindari tatapan dari Riqhad, sedangkan Riqhad tengah serius mengoceh kepada Abangnya dengan mimik tangan yang terangkat.


Zoeya yang melihat Shanum hanya berdiri di pintu itu melambaikan tangan meminta Shanum bergabung dengan mereka. "Shan, sini gabung. Kita lagi ngomongin kamu loh!" Teriak Zoeya dengan tangan yang masih melambai. Shanum pun mendekat.


Aksi Zoeya itu juga mengalihkan Riqhad dari sosok Abang di depannya. Ia memperhatikan Shanum yang terlihat sendu mendekati Mama dan Adik perempuannya. Ia tahu bahwa Shanum sedari kecil telah ditinggalkan oleh Ibunya, tak heran jika gadis itu kerap merindukan sosok wanita yang melahirkannya. Mungkin terkadang pernah iri melihat interaksi Mama dan Zoeya.


"Ya sudahlah, Abang nggak tahu lagi harus gimana Qhad. Di satu sisi apa yang Abang bicarakan padamu itu benar dan di satu sisi jika Abang lakukan itu Abang merasa sangat jahat, Abang merasa bersalah serta itu sangatlah salah." Ucap Thoriq menyentil kefokusan Riqhad dari memandang Shanum.


"Mereka pasti mengerti. Abang harus menggagalkannya, jika tidak Abang akan menyesal seumur hidup. Dan kedua orang yang penting di hidup Abang itu akan berdosa jika tetap melanjutkan rencana awal mereka." Timpal Riqhad dengan serius.


Thoriq menghela nafas berat dan menyandarkan punggungnya di kursi, tangannya memijit pelipis yang seakan menampung begitu banyak beban.


Menunggu kalimat selanjutnya dari si sulung, namun pria itu tak kunjung bersuara membuat Riqhad memilih mengotak-atikkan benda pipih yang ia keluarkan dari saku celana jeansnya.


Riqhad memang mengenakkan setelah celana jeans dengan kemeja hitam berlengan panjang. Ia tak biasa menggunakan kaos oblong dan sejenisnya ataupun celana santai meskipun di rumahnya sendiri, beberapa tahun terakhir ini bahkan ia jarang sekali membeli pakaian jenis itu, ia hanya mengoleksi kemeja dan jas saja.


Di ponselnya yang telah ia rubah menjadi silent mode itu dipenuhi pesan masuk dari Kekasihnya. Bahkan ada puluhan panggilan yang tak terjawab dari Fhariza. Jika sebelumnya ia akan menghubungi balik Fhariza jika tak sempat mengangkan oanggilan darinya serta membalas pesan dari kekasihnya itu karena takut kekasihnya marah dan bertindak yang tidak-tidak. Namun, akhir-akhir ini ia tidak begitu. Ia tidak cemas dan takut jika wanita itu merajuk bahkan jika marah-marah padanya. Riqhad seakan telah muak dan bosan dengan tingkah kekasihnya yang terus minta dimengerti namun tak mau mengerti.


Kemudian pesan berikutnya yang masuk juga dari Fhariza.


"Yang, aku ngambek. Jangan cari-cari aku, aku nggak mau ketemu sama kamu."


"Kamu sengaja ya cuma ngeread doang. Kamu kenapa sih akhir-akhir ini seakan ngejauh, aku capek mikirin kamu terus tau nggak sih."


Riqhad pun memilih membalas pesannya.


"Maaf Riz, aku lagi ada urusan penting di rumah Mama. Nggak enak aku main hp di hadapannya."


Setelah mengirim pesan tersebut Riqhad memilih menonaktifkan handponenya.


Ia juga heran dengan Fhariza, entah mengapa ia ngotot ingin menikah dengan Riqhad akhir-akhir ini. Hal itu terjadi sejak insiden Ratu-anaknya Gilan dibawa ke Rumah Sakit, sikap Fhariza semakin aneh. Ia menjadi lebih posesif dan terus meneror hingga meminta Riqhad untuk melamarnya. Riqhad yang seharusnya senang karena sang kekasih memberinya lampu hijau untuk serius namun merasa ada yang salah dan seperti ada yang disembunyikan oleh wanita itu sehingga Riqhad belum mengindahkan keinginan Fhariza. Riqhad pun tak seyakin dulu untuk melangkah lebih jauh bersama Fhariza.


Ketika iris gelap Riqhad memperhatikan Mamanya menggandeng Shanum memasuki rumah dan meninggalkan Zoeya sendiri ia pun memilih memperhatikan Abangnya yang sekarang terus memandangi ponsel.


Riqhad tahu apa yang sedang Abangnya pikirkan dan tahu kebimbangan pria itu. Ia ingin sekali membantu namun, masalah ini terlalu pelik.


Ada pergerakan dari Thoriq, setelah menutup ponselnya ia pun memaksakan senyum pada Rhiqad dan mencoba mengalihkan pembicaraan. Mereka meninggalkan masalah masing-masing dan sekarang memilih membicarakan masalah kantor. Meskipun memilih menjadi seorang dosen, Rhiqhad juga merupakan salah satu pimpinan di Okhtara Corp. Tengah asyik berdiskusi, suara cempreng Zoeya menghampiri mereka.


"Abang-abangku. Oya kangen banget ngumpul bareng, Oya duduk di sini ya." Ucapnya setelah duduk di samping Thoriq.


"Bang Thoriq kok aneh banget setelah pulang dari acaranya Bang Ardan. Yang seharusnya sedihkan Oya. Cinta Oya nggak sampai dan Oya kecewa berat. Jadi kenapa Bang Thoriq juga sedih?" Tanya Zoeya dengan tak tahu malu.


Rhiqad hanya menghela nafas dan terlihat tersenyum canggung ke arah Thoriq. Thoriq berusaha tegar dan mengacak rambut Adiknya gemas.


"Atau? Bang Thoriq juga suka ya sama Bang Ardan? Kan selama ini Bang Thoriq ngga pernah terdengar dekat dengan perempuan mana pun, kemana-mana pasti bareng Bang Ardan. Jadi kita saingan selama ini? OMG!" teriak Zoeya dengan pelototannya.


Tuuk...


Thoriq meyentil pelipis Adiknya. "Ngaco kamu. Kebanyakaan makan micin sih. Udah ah, Abang mau pulang dulu mau ganti baju. Umm bau banget badan Abang. Mau cium ngga?" Ucap Thoriq sambil mendekatkan Zoeya ke arah ketiaknya.


"Iuhh, sana-sana Abang jorok! Oya sama Bang Riqhad aja deh, wangi." Ucap Zoeya mendekati Riqhad.

__ADS_1


Kemudian, Thoriq pun meninggalkan kedua Adik kesayangannya.


"Bang. Gimana hubungan Abang dengan Kak Fhariza? Apa Abang mau bawa dia ke Bandung untuk dikenalkan ke keluarga?" Tanya Zoeya serius.


__ADS_2