
PART 34 - AFTER (SECRET) MARRIAGE
Cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna, tapi menerima pasangan kita dengan sempurna.
-Asma Nadia-
_________________________________________
Setelah Riqhad meninggalkan kamarnya dengan suasana hati yang tidak baik. Zoeya juga baru saja menghentikan tawanya. Ia kembali memperhatikan Shanum yang sedang menatapnya takjub. Zoeya tersenyum canggung dan berkata, "maaf ganggu momen kalian. Oya cuma mau curhat, ngga nyangka aja Bang Riqhad betah banget di kamar mana lengket terus lagi sama kamu."
Shanum tersenyum malu-malu. Sebenarnya ia sedikit bersyukur karena Zoeya datang tiba-tiba. Sebab, Shanum masih canggung berada satu ruangan dengan Riqhad, apalagi hanya mereka berdua dengan pintu tertutup. Shanum juga heran kenapa dia bisa terbawa suasana hingga ikut memejamkan mata tanpa berpikir apa yang akan Pak Dosen itu lakukan padanya.
Untuk kedepannya Shanum akan lebih waspada jika berada di dekat Riqhad. Keberadaan Riqhad sangat tidak baik untuk jantung dan wajahnya. Tindakannya pun membuat kepala Shanum pusing, susah ditebak. Shanum tak menyangka Dosennya itu bisa begitu usil dan juga suka dekat-dekat dengannya hingga membuat perasaan Shanum tak menentu. Mendapatkan label halal kiranya membuat Riqhad semakin semena-mena terhadap Shanum.
Shanum mengepalkan tangannya seraya meyakinkan diri bahwa ia harus membiasakan diri berada di dekat Riqhad. Biarlah mereka awali pernikahan dadakan ini dengan sama-sama mendekatkan diri dan memamahi karakter satu sama lain. Hari ini ada beberapa sifat Riqhad yang baru Shanum ketahui, besok-besok entah sifat yang bagaimana lagi.
Kemudian, Shanum tersadar dan memperhatikan sesuatu yang berbeda dari penampilan Zoeya. Ia tersenyum dan mendekat ke arah adik iparnya itu.
"MasyaAllah. Oya cantik banget pakai kerudung." Pujinya.
Zoeya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya menimpali, "inilah yang akan jadi bahan curhat Oya. Tapi, Shan... Oya kelihatan aneh ngga sih kalo kayak gini terus?"
Shanum melebarkan pupil matanya, takjub dengan apa yang dikatakan gadis berkerudung abu muda ini.
"Ngga aneh, malah tambah cantik dan manis. Shanum aja sampai pangling liatnya. Oya ada niatan buat merubah penampilan?" Tanya Shanum hati-hati.
Zoeya termenung sebentar kemudian mengangguk dengan sedikit ragu. "Makasih Shan, Oya mau coba hijrah. Shanum mau kan ajarin Oya jadi muslimah sejati?" Tanyanya.
Shanum pun mengucap syukur dan mengangguk mantap. "Pasti, ayo kita hijrah bareng-bareng." Jawabnya.
Keduanya pun mengatur posisi di atas ranjang Shanum sembari mendengar curhatan Zoeya. Mulai dari perasaan anehnya terhadap Aufar yang entah apa namanya, lalu tentang keadaan Mamanya yang membuatnya berpikiran jika mamanya akan diambil Allah dekat-dekat ini. Hal itu membuat kilasan balik nasihat Mamanya yang selalu ia bantah bermunculan dipikirannya. Ketiga masalah sahabatnya yang selama ini membencinya dan memanfaatkannya. Sampai pertemuannya barusan dengan seorang yang dikaguminya dulu, Armadan.
Shanum dengan antusias mendengar curhatan Zoeya dan sekali-kali menimpalinya. Setelahnya, pembahasan keduanya beralih kepada Shanum.
Awalnya Shanum enggan bercerita namun karena didesak Zoeya ia pun bersuara. Menjelaskan keputusannya menerima lamaran Riqhad hingga kesepakatan untuk menyembunyikan pernikahan mereka sampai masalah Riqhad dan Fhariza selesai. Tak ada yang Shanum tutupi pada Zoeya.
Meski terkejut dengan apa yang diutarakan Shanum, Zoeya tetap saja setia mendengar kata demi kata yang keluar dari bibir sang kakak ipar. Ia pun takjub dengan apa yang diceritakan Shanum, ia tak menyangka Abangnya bisa seromantis itu.
Meskipun Zoeya terbilang sangat dekat dengan kedua Abangnya itu tapi dia tidak pernah mendengar Riqhad memperlakukan Fhariza seromantis yang dikatakan Shanum. Dari mana Abangnya belajar mengutarakan kata-kata puitis yang bisa melelehkan hati wanita seperti yang ia katakan pada Shanum? Entahlah mungkin karena itu Shanum dan Riqhad suaminya.
Zoeya tidak masalah siapapun yang akan menjadi kakak iparnya, entah Fhariza atau Shanum. Selama Abangnya bahagia dan mamanya merestui itu saja cukup.
Zoeya akui Shanum lebih baik dari Fhariza, sepanjang Zoeya mengenal Fhariza tak pernah sedikit pun mereka membahas tentang urusan akhirat. Pembahasannya tak jauh-jauh dari barang branded dan tren terbaru hingga konser penyanyi luar negeri favorite mereka.
Berbeda dengan Shanum, ia nyaman berada dan kenal dengan sosok Shanum yang ramah, baik, Sholehah, penyabar dan pintar. Beruntung Abangnya mendapatkan Shanum.
Terkadang Zoeya sering iri dengan Shanum yang sangat dewasa dalam bersikap, berpikir dan memegang prinsipnya dalam menjalani kehidupan. Meski tak didampingi orang tua atau keluarganya, kakak iparnya ini tetap tegar dan optimis untuk menjalani hari-harinya. Tak pernah ia mengeluh atau pun marah atas apa yang Allah tuliskan untuk jalan hidupnya.
Shanum selalu ikhtiar dan tawakkal. Zoeya salut dengan Shanum, semoga Abangnya bisa menjaga dan membahagiakan Shanum. Zoeya sayang Shanum, tak ingin Shanum merasa kesepian lagi karena sekarang telah memiliki keluarganya dan memiliki Abangnya sebagai pendamping hidup sekaligus sandaran terkokoh untuknya.
Zoeya percaya telah ada cinta diantara keduanya setelah Abangnya melafalkan cinta untuk Shanum melalui ijab qabul. Tapi, mungkin keduanya belum menyadari rasa itu. Inilah tugas Zoeya untuk membantu Abang dan kakak iparnya ini agar bisa menyadari benih-benih cinta yang bermunculan entah bermula sejak kapan.
Seketika Zoeya teringat beberapa saat yang lalu ia pernah menjadi penghubung antara Riqhad dan Fhariza jika keduanya sedang bertengkar. Sampai sekarang Zoeya sering heran dengan sikap Fhariza yang terlihat egois dan terlihat matrealistis. Wanita itu sering merajuk pada Abangnya namun jika dihadiahi barang-barang mahal maka ia akan langsung luluh. Hal tersebut membuat Zoeya merasa kasihan dengan Abangnya karena terus mengikuti keinginan Fhariza.
Fhariza terus mencari masalah terhadap Abangnya, untuk itulah Zoeya berusaha menjadi penghubung antar keduanya, sebab Zoeya tidak ingin melihat Abangnya sedih dan terpuruk akan sikap Fhariza. Namun, setelah mendengar keputusan Abangnya yang mantap memilih Shanum. Tak dapat Zoeya pungkiri ia begitu bahagia. Ia senang bila Shanum sah menjadi anggota keluarga mereka. Selama ini Zoeya perhatikan, Shanum bersikap seperti orang asing dan risih dengan perlakuan akrab anggota keluarga.
"Ya sudah Shan, Oya do'ain semoga Abang dan kakak ipar Oya ini bahagia selalu hingga akhir hayat, terus cepat kasih Oya Qhanum junior. Oya pengen gendong ponakan lucu, untuk itu namanya harus Qhanum (Riqhad dan Shanum) titik." Ucap Oya dengan mata berbinar-binar.
Shanum malu mendengar keinginan Zoeya, ia hanya mengangguk dan tersenyum menimpali. "Aamiin, makasih do'anya Oya. Terima kasih juga sudah mau menerima Shanum menjadi anggota keluarga ini. Shanum do'ain Oya istiqhomah untuk menggunakan kerudung, semoga Oya dilapangkan dadanya menghadapi sahabat Oya itu dan semoga Oya bisa bertemu sahabat sejati Oya. Terakhir, semoga perasaan aneh Oya ke Kak Aufar bisa diperjelas. Jika berjodoh semoga cepat dipersatukan. Aamiin."
Zoeya pun melongo mendengar do'a Shanum. Apalagi untuk kalimat terakhirnya itu. Namun, tanpa ia sadari dalam hatinya ia juga ikut mengamininya.
***
Panti Asuhan Al Haris
Seorang wanita tengah bermenung di bangku taman, di samping bangunan yang memiliki banyak pintu ini. Sejak beberapa hari yang lalu kembali ke tengah orang-orang yang ia rindukan untuk melepas rindu tapi hasilnya separuh rindunya tak terbebaskan.
Separuh rindunya masih bermuara pada sosok jauh di sana, sosok yang takkan bisa lagi ia gapai, tak bisa lagi ia raih ke sisinya, tak bisa lagi ia pandangi sepuas hati dan seseorang yang dulunya menjadi separuh jiwanya namun sekarang telah menjadi orang lain baginya.
Ia lelah memikul rindu ini, ingin rasanya ia hempaskan perasaan yang telah lama ia bawa-bawa. Tapi, bagaimana caranya? Ia tak mampu. Tak seharusnya ia begini, menyimpan rasa pada sosok yang tak lagi halal baginya. Sosok yang ingin ia lupakan dan mungkin saja sosok itu telah lama melupakannya bahkan mungkin sekarang membencinya. Iya, ini semua salahnya. Meninggalkan surat pemutus hubungan yang ia tulis ketika pria itu sedang berjuang menggapai gelar mapan di luar sana. Mungkin, setelah menerima surat itu talak langsung dijatuhkan padanya.
Ia sedih, tanpa diduga lelehan bening mengenai kain hitam diwajahnya. Iris coklatnya menutup, meresapi terpaan lembut dari sang angin. Melambai-lambai hingga membelai sisi terapuhnya.
__ADS_1
Wanita ini memeluk tubuhnya, menyesap sesak dan pilu dihatinya. Tak seharusnya ia masih mengharapkan seseorang yang ia tinggalkan dan seseorang yang ia beri pukulan telak melalui surat permintaan terpahit. Bahkan sekarang ia telah menemukan sosok lainnya yang siap menjadi penggenap jiwanya. Pria baik yang lahir dari wanita baik yang selama ini membantunya.
Tahap demi tahap telah ia lalui, semenjak dikenalkan oleh ibu si pria yang tak lain merupakan wanita pemilik butik tempat ia bekerja, hingga ia menerima ta'aruf dari pria itu. Beberapa bulan kemudian ia pun resmi dilamar. Yang membuatnya semakin pilu adalah di saat acara lamaran, pria pemilik rindu juga ikut hadir menyaksikan.
Ia melihat luka di wajah pria pemilik rindu itu saat nama lengkapnya di sebut oleh Armadan. Calon suaminya. Iya, sebulan lagi akan menjadi suami sahnya. Sanggupkah ia menyakiti hati pria pemilik rindu itu untuk yang kedua kalinya?
Ia menghela nafas panjang, membuka iris coklatnya saat tepukan lembut menghampiri pundaknya.
"Syafiqa, anakku! Apa yang menjadi beban dipikiranmu?" Tanya suara keibuan itu.
Ibuk Tanti namanya, wanita setengah abad lebih yang merupakan ketua pengasuh di panti asuhan milik keluarganya. Wanita yang dipanggil 'Syafiqa' ini memeluk erat wanita paruh baya itu.
"Ibuk, Syafiqa sedih."
"Masih memikirkan pria pemilik rindumu?" Tanya Ibuk Tanti lagi dengan tangan mengelus khimarnya. Dalam pelukan ia mengangguk.
"Syafiqa rindu pria pemilik rindu, Buk. Ia enggan pergi dari hati ini." Ucapnya sendu.
Ia menegakkan tubuhnya sambil membenarkan letak cadarnya. Memandang pada iris lembut si ibu panti yang sangat mengerti tentang perasaannya.
"Kamu yang telah membuat keputusan itu, jadi kamu harus menanggung resikonya. Meski kalian sekarang dipertemukan lagi dengan keadaan yang tak sama seperti saat itu, tapi kamu harus sadar bahwa sekarang kalian tak punya ikatan lagi. Melalui suratmu itu dia pasti telah mengabulkannya."
"Syafiqa, lupakan Thoriq. Fokus pada calon imammu yang sekarang. Sebulan lagi kalian akan menjadi suami-istri, jangan sampai kau masih menyimpan rindu untuk pria pemilik rindumu itu. Meski pria pemilik rindu berada dekat denganmu, tapi sekarang kalian telah berbeda haluan. Kalian tak lagi jalan berdampingan dan saling bertautan tangan. Sekarang kau harus belajar melepaskan dan menerima dengan sekaligus." Nasehat Buk Tanti.
Ia mulai terisak, sesak didadanya kian menjadi. Mengapa ia harus dipertemukan kembali dengan pria pemilik rindu di saat ia telah mulai mengukir cerita baru bersama orang yang baru.
"Iya Buk. untuk itu jangan panggil aku dengan namaku lagi. Karena nama panggilan itu mengingatkanku padanya. Sekarang biasakan memanggilku 'Harisa' seperti orang-orang yang mengenalku sebagai calon istrinya Mas Armadan, sahabat dari pria pemilik rinduku."
***
Gelap pekat milik malam mulai memunculkan sepi, ruangan luas bernuansa manis yang seharusnya masih diterangi temaramnya lampu tidur kini telah berubah menjadi terang benderang. Dua sosok anak manusia berbeda genre tengah khusu' mengerjakan sholat malam mereka, bermunajat memohon pada sang pencipta.
Ini kali pertama Shanum bangun dipertigaan malam dengan tidak seorang diri, berbeda dengan beberapa hari yang lalu ketika statusnya masih melajang.
Tepat pukul 2.15 Shanum terbangun dari tidur gelisahnya. Iya, ia gelisah sebab baru kali ini ia berbagi tempat tidur dengan sosok bertubuh kekar, Pak Dosennya. Sedikit mengerikan jika membayangkan bahwa ia tidur bersebelahan dengan pria 'Maket'. Pria yang memberi tugas pembuatan maket untuknya. Memikirkan itu membuat ia tersenyum kecil.
Ia masih ingat kejadian beberapa jam yang lalu sebelum terbangun dipertigaan malam ini,
Shanum hendak tidur setelah membantu mama mertuanya memakan obat dari resep Dokter Rahman. Namun, sebelum tidur ia sempat melanjutkan pengerjaan Maketnya. Saking serius mengerjakan si 'Maket' Shanum bahkan tak menyadari bahwa Riqhad telah berada di kamarnya.
"Kasihan 'Si Maket' udah beberapa hari ngga dikasih perhatian, malah ditinggalin lagi. Huff, mana sekarang udah ada 'Pria Maket' di kamar ini. Makin penuh aja kamar Shanum dengan dua Maket." Ucapnya diakhiri kekehan.
Riqhad yang mendengar itu pun hanya diam memperhatikan, ia ingin mendengar umpatan apa lagi yang akan istrinya tujukan padanya.
"Yah, malam ini Shanum tidurnya ditemani 'Maket' dong? Eh salah, 'pria Maket' maksudnya." Tambahnya setelah menempelkan bahan tetakhir pada maketnya.
Saat memutar tubuhnya, Shanum masih tak menyadari ada sosok lain di belakangnya.
Dukk
Kepala Shanum terantuk benda hangat tapi sedikit keras. Ia menengadah hingga irisnya menemukan iris gelap milik 'Pria Maket'. Ia terkejut, dengan cepat ia pun menjauh dari dada bidang milik Riqhad.
Ia tersenyum canggung lalu menunduk. Kedua tangannya meremas ujung daster tidurnya. Ia masih mengenakkan kerudung saat ini.
"Jadi, kamu mau tidur dengan 'Pria Maket' ya?" Riqhad memandangi kegugupan istrinya.
Ia melangkah mendekati Shanum, Shanum yang melihat langkah maju dari Riqhad kembali memperluas jarak mereka hingga tubuh Shanum bersandar pada meja belajarnya.
Shanum cemas saat tubuh menjulang Riqhad berada sangat dekat dengannya. Saat Riqhad kembali mengikis jarak, dengan reflek Shanum menutup kedua matanya sambil melafalkan kalimat yang entah apa maksudnya.
Melihat itu dengan usil Riqhad merengkuh tubuh Shanum, mengangkatnya pelan hingga berhasil mendudukkan Shanum di samping maket buatannya yang terletak pada meja belajar yang lumayan tinggi ini.
Deg
Wajah Shanum memucat, tangannya pun berubah dingin. Pak Dosennya masih saja melingkarkan tangan kekarnya pada tubuh Shanum.
"Bernafaslah... nanti kamu bisa pingsan." Bisik Riqhad.
Tanpa diduga Shanum menahan nafas saat ini. Hingga titah keluar dari mulut Riqhad barulah Shanum berani bernafas. Ia menghirup nafas dengan rakus, hingga iris gelap Riqhad memandanginya dalam.
Ia tersadar bahwa sekarang berada dalam posisi yang tidak senonoh. Ia ingin berteriak, tapi ia paham bahwa ini sudah jam malam dan nanti akan membuat heboh seisi rumah.
"Apa?" Ucap Riqhad dengan wajah tepat berada di depan wajah Shanum.
__ADS_1
Shanum menggeleng lalu bersuara lirih, "Pak, Shanum ngantuk. Bisa lepasin nggak tangannya?" Ucap Shanum sambil berusaha menjauhkan Riqhad darinya.
Riqhad menggeleng dan masih memperhatikan Shanum dengan intens. Shanum mulai kesal karena dadanya begitu sesak, jantungnya pun seperti sedang marathon di dalam sana. Gejala-gejala yang selalu terjadi jika ia berada di dekat Riqhad.
"Pak, posisi kita saat ini sangat tidak sopan. Turunin Shanum ya! Shanum mau bobok." Pintanya lembut.
Riqhad mengangkat alisnya dan sedikit melonggarkan pelukannya. Lalu memperhatikan posisi mereka yang dibilang tidak sopan oleh Shanum. Tiba-tiba ide usil muncul di kepalanya.
"Shanum, mahasiswi yang katanya cerdas. Asal kamu tahu, untuk ukuran suami dan istri posisi kita saat ini sudah sangat-sangat sopan kok. Kalau ngga percaya kamu bisa tanya Mama atau Bi Ipah." Jawab Riqhad.
Saat melihat wajah Shanum memerah dan kedua matanya mulai berkaca-kaca, Riqhad menghela nafas pasrah lalu merubah rencananya. Hingga dengan pelan ia menurunkan Shanum dari meja belajar, kedua tangannya masih berada disisi kanan dan kiri pinggang Shanum.
Ia tak menyangka Shanum bisa secengeng ini jika dijahili seperti barusan. Bagaimana Riqhad bisa meminta haknya, kalau diperlakukan seperti ini saja Shanum terlihat ingin menangis. Lucu memang.
Saat Shanum berhasil menumpahkan lelehan bening dari kedua matanya, Riqhad pun menarik lembut tangan Shanum dan membawanya duduk di sisi ranjang mereka.
"Kamu kenapa? Takut sama saya ya?" Tanya Riqhad lembut sambil menyeka tetesan bening di wajah cantik istrinya.
Shanum menggeleng, dengan masih dilelehi air mata ia menatap Riqhad dengan wajah bersalah.
"Maaf, Shanum ngga takut sama Bapak kok. Tapi Shanum udah buat salah sama Bapak, tadi Shanum ngatain Bapak. Bapak denger nggak? Kalau denger, maafin Shanum ya Pak? Shanum janji ngga akan ulangi lagi panggil Bapak 'Pria Maket'."
Riqhad melongo, ia kira ia telah membuat Shanum takut dengan perlakuannya tadi. Tapi apa yang di dengarnya? Shanum menangis hanya gara-gara mengupatinya dengan sebutan 'Maket?' Sungguh ajaib istrinya ini. Begitu menggemaskan, hingga jika hanya ada mereka berdua Riqhad seakan betah menempeli Shanum, mengusilinya dan menggodanya.
"Jadi, itu yang membuatmu sedih dan mengeluarkan air laut ini?" Goda Riqhad.
Shanum mengangguk. "Kok air laut sih? Ini air mata bersalah, Pak... Bapak mau maafin Shanum kan?" Tanyanya.
Riqhad pun memikirkan ide usil lainnya, rasa bersalah beberapa saat yang lalu kini telah hilang.
"Oke, saya mau maafin kamu. Tapi kamu harus panggil saya 'Hubby' bagaimana?" Tawar Riqhad dengan alis yang naik turun.
Shanum pun tersenyum kecil dan mengangguk, "siap hubby. Tapi saat berdua aja ya Pak. Kalau ada yang dengar Shanum kan malu, nanti dikatain genit lagi sama Bapak."
Riqhad mengangguk kecil dan tangan kanannya menarik maju wajah istrinya.
Cup
Cup
Ia mengecup kilat sepasang pipi istrinya yang hobi memerah ini. "Hukuman karena kamu panggil saya 'Bapak.' Kalau kamu sering lupa gini makin menang banyak sayanya. Lagian saya senang kok kalo kamu mau genitin saya." Ucap Riqhad usil.
Shanum pun memutar mata malas hingga netranya menatap sinis Riqhad. Tingkat keusilan Riqhad sudah meningkat pesat nampaknya. Kemudian Riqhad hanya tersenyum menang dan membaringkan tubuhnya di sisi ranjang, ia menepuk-nepuk bagian sampingnya meminta Shanum mengikutinya.
"Katanya mau bobok. Ini udah malam banget loh. Sini-sini bobok sama 'Maket.'" Ajak Riqhad.
Flashback Off
Tangan kekar melambai-lambai di depan wajah Shanum, ia masih membayangkan kejadian beberapa jam yang lalu. Hingga setelah mengerjakan Sholah Tahajud ia masih setia bermenung di atas sajadahnya.
Tiik
Riqhad menyentil dahi Shanum. Shanum meringis dan mengusap dahinya yang sedikit memerah ulah Riqhad.
"Ngelamunin apa?" Tanya Riqhad.
"Kepo." Jawab Shanum kemudian ia membereskan sajadah dan mukenanya.
Riqhad ikut berdiri dan menghampiri Shanum. "Kamu jadi mau cuti seminggu?" Tanya Riqhad memastikan.
Shanum mengangguk. "Iya, Shanum mau di rumah aja. Zoeya lagi fokus sama desainnya jadi ngga mungkin ninggalin kampus untuk jagain Mama. Jadi, Shanum aja yang di rumah. Biar sekalian ngerjain maket biar cepat kelar."
Riqhad pun setuju, "baiklah, biar saya urus surat izinnya."
Kemudian mereka kembali ke ranjang karena subuhnya masih lama, jadi keduanya akan melanjutkan tidur lagi.
Saat Shanum mulai memejamkan mata setelah melafalkan do'a, tangan kekar tiba-tiba melingkupi pinggangnya. Tangan itu memeluknya dengan erat hingga punggungnya menyentuh dada bidang si empunya.
Shanum menjadi ketar-ketir, Pak Dosennya memeluknya saat ini. Sedangkan dalam hati Riqhad tersenyum sebab Shanum tidak tahu saja, ketika Shanum terlelap Riqhad sudah ambil bagian dengan memeluknya bak bantal guling ternyaman.
Shanum sedikit risih dengan posisi tidak senonoh mereka yang kesekian kalinya ini, tapi entah mengapa ia merasa sangat nyaman berada dalam pelukan pria halalnya, ia merasa dilindungi dan disayangi. Tak mungkin Shanum menolak perlakuan ini, jadi dia berusaha memejamkan mata seirama dengan degupan di dadanya.
"Biarkan seperti ini dan saya izinkan kamu tidur membelakangi saya."
__ADS_1