
PART 33 - PELENGKAP IMANKU
“Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh imannya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi."
-Anas bin Malik-
_________________________________________
Riqhad side On
Ketika Mama menanyakan apakah aku bersedia menjaga Shanum kedepannya sebagai istriku, jujur saja aku bingung. Lalu, membayangkan Mama akan memilihkan pria lain untuk gadis itu aku benar-benar sangat keberatan. Bukannya aku egois dan bukan pula aku sudah mencintainya. Sebab cinta yang aku gadang-gadangkan selama ini bertumpu pada Fhariza saja mampu memudar, berarti yang aku sebut cinta selama ini hanyalah semu.
Benar kata sahabatku, rasaku pada Fhariza hanya sebatas ungkapan balas budi dan terbiasa bersama. Buktinya tak ada penyesalan pada diriku.
Hingga, aku meyakinkan diri untuk menerima permintaan Mama.
Aku tak pernah main-main dengan ucapanku dan putusanku. Ketika aku menyatakan siap dan bersedia menikahi Shanum, itu berarti memang dari hatiku meski dorongan Mama menjadi pemicu. Bukan atas paksaan dan hal itu takkan tergoyahkan. Aku ikhlas, sangat.
Saat ia menyatakan bahwa dirinya adalah beban bagi keluargaku, aku begitu marah dan tanpa sadar membentaknya. Aku tak terima dengan perkataannya itu. Hingga tanpa terkontrol mulutku mengeluarkan kata-kata yang bahkan tak pernah aku utarakan kepada Fhariza selama kami menjalin hubungan.
Bukannya aku sekedar mengusili dan menggoda Shanum, tapi apa yang aku utarakan memang spontan dari qolbuku. Hatiku tergerak ingin merengkuh dirinya dan menjadikan diriku sebagai sandaran terkokoh untuknya.
Cinta memang belum aku rasakan, namun membayangkan gadis sholehah itu menjalani hidup jauh dariku apalagi bersama dengan pria lain, benar-benar tak pernah ada dipikiranku. Aku tak akan bisa melihatnya.
Sejak dia datang ke dalam kehidupanku, ia mampu memporak-porandakan perasaanku. Aku dengan tega menjadikannya objek kekesalanku ketika di kelas dan bahkan sering mempermalukannya serta memberi tugas yang aneh-aneh padanya. Jika aku bayangkan kembali, itu semua adalah bentuk rasa kepedulianku padanya. Tanpa sadar, ia mengisi hatiku entah di posisi apa. Ia perlahan masuk ke pikiranku dengan seenaknya.
Tak terasa, aku telah melafalkan cinta untuknya. Untuk Shanum, mahasiswiku, istri mungilku, pelengkap agamaku. Ah, menyebutnya begitu membuat gelanjar lain didadaku. Hatiku bergemuruh merasakan riakan aneh di sana. Tak pernah kujumpai perasaan seperti ini sebelumnya.
Menurutku, ijab qobul merupakan lafal cinta yang sebenarnya dari sebuah hubungan. Bukan sekedar memberi harapan, tebar janji sayang ataupun gombalan tak berpegangan. Namun, itu bentuk ibadah dan pengabdian. Kesanggupanku menerima dirinya menjadi separuh jiwaku, menjadikannya satu-satunya wanita dihatiku selain Mama dan Zoeya.
Shanum, maafkan aku jika pernikahan kita harus disembunyikan. Beri aku waktu menyelesaikan dan menuntaskan hubunganku dengan Fhariza. Sebab, terlalu pelik menjelaskannya padamu. Setelah semuanya selesai akan aku tunjukkan pada dunia bahwa kamu lah satu-satunya wanitaku. Aku memilihmu melalui Mama, jadi jangan ragu akan diriku.
Pertahanan sikap datarku padamu telah lama tergoyahkan. Pertemuan pertama yang terkesan menyebalkan mengantarkanmu padaku. Changi Airport menjadi saksi, untuk pertama kalinya mata ini memandangi sosokmu. Shanum.
Kita memang tak bisa mengubah bagaimana awal cara kita bertemu, tapi kita bisa menentukan akan bagaimana kehidupan kita setelah ini. Dan harapku sama, ingin bahagia bersamamu. Kuharap kau juga.
Ah, aku seperti remaja yang kasmaran saja. Setelah kata sah di kumandangkan, pertanda label halal akan dirinya telah aku dapatkan. Aku memantapkan diri akan bersamanya selamanya hingga maut menyapa. Semoga cinta secepatnya menghampiri kita atau mungkin telah ada namun kita belum menamainya.
Setelah dua hari yang lalu kami melangsungkan prosesi akad nikah serba dadakan tanpa banyak persiapan, aku memboyongnya dan keluargaku kembali ke Jakarta. Mama akan dirawat di rumah saja, kami memiliki Dokter keluarga dan akan bertanggungjawab untuk kesembuhan Mama tentunya atas seizin Yang Maha Kuasa.
Entah mengapa aku seperti menjadi sosok yang lain, apa-apa selalu membawa dan melibatkan Tuhan. Aku tersenyum, bersyukur telah menemukan kembali cahayaku kembali. Menuntunku ke arah yang seharusnya aku lalui. Meski sedikit terlambat, aku ingin menjadi sosok imam yang terbaik untuk istriku. Membimbingnya dan menjaganya.
“Assalamu’alaikum Pak. Maaf mengganggu, di bawah Dokter Rahman telah datang.”
Suara merdu itu menyentak lamunanku, aku menatap jam di dinding kamar bernuansa manis ini. Terlihat jarum-jarumnya menunjukkan pukul dua lewat tiga puluh lima menit.
Setelah lelah dari perjalanan pulang aku memang langsung mengistirahatkan tubuhku di ranjang ini, sementara Shanum memilih menemani Mama. Aku tersenyum kecil ke arahnya dan memintanya mendekat kepadaku.
Kami sekarang berada di rumah Mama, selama masa perawatan Mama kami akan tinggal di sini. Aku mengabaikan keenggananku berada di rumah yang telah lama aku tinggalkan.
Shanum melangkah masuk dan bergerak kaku ke arahku, memasuki kamarnya yang sekarang akan menjadi kamar kami. Ah, terasa menggelikan. Biarpun begitu, aku suka hal baru ini.
“Mendekat lagi.” Titahku ketika ia berdiri beberapa meter dari ranjang berseprei ungu ini.
“Eh, anu Pak. Nanti Pak Dokternya lama nunggu.” Ucapnya dengan masih menunduk.
Aku berdecak, berdiri dan dengan tak sabaran menariknya ke arahku. Hingga ia terduduk di pangkuanku.
Deg
Aku saja sampai heran, dari mana aku dapatkan keberanian menariknya begini. Ah, terlanjur basah ya menyelam saja lah. Apa salahnya memangku gadis halalku, mahasiswiku yang aku nikahi dua hari yang lalu.
“Aaaaaaaa...."
Duk.. duk...
Teriaknya sambil memukul-mukul dadaku dengan tangan kanannya.
“Lepasin Pak, lepas! Jangan gini Pak Shanum mohon.” Pintanya dengan masih memukuliku.
Aku tersenyum usil, memikirkan bahwa ini adalah KDRT pertama kami dibalik kedekatan. Aku menetralkan mimik wajahku ketika berhasil menggodanya dan melepas cekalan tanganku dari tangan kirinya.
Aku memutar tubuhnya hingga punggungnya menyentuh dadaku, tanganku berpindah memeluk pinggangnya, merapatkannya ke tubuhku. Wangi lavender tercium dari balik kerudungnya. Dan sepertinya aku mulai menyukai wangi ini.
“B-bapak! L-lepas-in!” Pintanya dengan suara tersekat, aku merasakan jantungnya berdentum dengan keras sama sepertiku.
“Biarkan begini sebentar.” Pintaku dengan menyandarkan wajahku ke pundaknya yang tertutup kerudung lebarnya.
Meski agak kesusahan untuk memeluknya dalam balutan pakaian syarinya ini tapi aku bangga pada istri mungilku. Ia sangat menjaga maruahnya, ia sanggup menjaga pandangannya, menjaga auratnya serta tidak tersentuh. Aku bangga memilikinya.
Seketika ia berhenti memberontak dan terdiam kaku di pangkuanku. “Kalau di luar kampus, kamu jangan panggil saya Bapak. Ketuaan banget sayanya, Masa kamu panggil suami sama kayak kamu panggil Pak Udin.” Pintaku dengan tegas, khas Dosen yang otoriter.
Sebenarnya sejak awal aku tidak menyukai dia memanggilku ‘Bapak’ ‘Pak’ dan semacamnya, namun aku tak bisa melarangnya ketika itu. Tapi sekarang beda dan aku senang akan itu.
“Terus, Shanum panggilnya apa?” Tanyanya polos.
“Terserah kamu saja, yang penting ngga seperti sebelum-sebelumnya.” Pintaku datar.
__ADS_1
“Kalau Om atau Paman?” Tanyanya yang kuhadiahi cubitan di pinggangnya. Usil juga ternyata.
“Aduh, sakit Pak.” Ucapnya sambil berusaha melepaskan lenganku dari pinggangnya.
Aku memutar tubuhnya dan menempatkannya di sampingku, di atas ranjang kami. Ya, ranjang kami mulai hari ini.
Aku menggenggam tangannya dan berkata. “Sekali lagi saya dengar kamu panggil saya 'Bapak beserta saudara-saudaranya', jangan salahkan saya jika saya menghukummu.” Ancamku dengan wajah yang serius berusaha menakutinya.
Ia menunduk dan terlihat risih dengan tautan tangan kami. “Dan mulai hari ini, kamu harus terbiasa dengan sentuhan saya. Kita sudah dilabeli ‘halal’ ingat itu. Katanya mau belajar saling menerima, ini sudah mulai tahu.” Kataku yang dibalasnya dengan anggukan.
Aku tersenyum dan melepaskan tautan tangan kami beralih mengelus pucuk kepalanya yang ditutupi kerudung. Akhirnya, tangan ini bisa mencapainya. “Kamu diam dulu ya, saya ingin membacakan do’a untukmu.” Pintaku.
Kemudian tangan kiriku aku tengadahkan sedangkan tangan kananku masih menempel di ubun-ubunnya.
“Bismillahirrahmanirrahim.” Aku membacakan do’a kepadanya, do’a yang seharusnya aku lafalkan dua hari yang lalu. Karena masih canggung dan sibuk mengurusi perawatan Mama, kami pun bersikap biasa saja sebagaimana sebelumnya. Aku pelajari do'a ini sejak aku memutuskan menikahinya.
Alhamdulillah.
“Baiklah, ayo kita turun. Nanti, sholat Asharnya saya imami. Setelah pemeriksaan Mama!” Pintaku.
“Enggak di Masjid Sholatnya?” Timpalnya. Memang benar, seorang pria utamanya sholat di masjid namun untuk kali ini aku sangat ingin menjadi imamnya dan juga punggungku terasa masih pegal mungkin kelelahan. Itu saja. Aku jelaskan makud hatiku dan berusaha membuatnya setuju.
“Oke, Pak.” Jawabnya lagi dan langsung menutup mulutnya karena menyebutkan laranganku.
“E-ee maaf. Shanum belum menemukan panggilan yang pas dan sudah terbiasa panggilnya gitu.” Terangnya.
Aku pura-pura marah dan berkata, “kali ini saya maafkan, setelahnya tidak boleh diulangi lagi dan kamu harus segera merubah panggilan untuk saya.”
“Iya.” Timpalnya.
“Tapi, sesuai yang saya katakan tadi. Kamu harus dihukum.” Dengan cepat aku pun mengecup pelan pipi kirinya.
Cup
Oh Tuhan, apa-apaan sikapku ini. Serius, ini diluar nalarku. Mengapa berada di dekatnya membuatku ingin selalu menyentuhnya. Darimanakah keusilan dan keberanianku ini aku dapatkan.
Pipinya memerah, ia tersipu dan itu terlihat begitu menggemaskan.
“Itu hukumannya. Dan hukuman berlaku jika kamu melanggar, kali ini memang di pipi tapi lain kali bisa berubah posisi.” Ucapku sambil berdiri.
“Ayo kita turun.” Ucapku dan langsung diikuti olehnya.
Sampai di pintu kamar, aku melihat Zoeya yang baru menaiki tangga mungkin bermaksud ingin memanggil kami yang terlalu lama turun ke bawah.
Riqhad side Off
Jam menunjukkan pukul tiga lewat lima belas, sebentar lagi adzan akan berkumandang. Shanum memilih membersihkan diri terlebih dahulu sebelum suaminya memasuki kamar.
Sedangkan di kamar Zoeya, gadis itu memandangi dirinya yang sedang mencoba mengenakkan pakaian yang telah lama dibeli oleh Mamanya namun tak pernah ia pakai. Melihat kondisi Mamanya kemarin-kemarin, bayangan Mamanya akan meninggalkannya terlintas dipikirannya.
Kemudian, berbagai nasehat Mamanya berkeliaran pula di ingatannya. Dia tak ingin terlambat berbakti pada Mamanya, maka ia akan mencoba mengindahkan nasehat Mamanya jauh-jauh hari itu yaitu untuk menggunakan kerudung.
“Bismillahirrahmanirrahim. Semoga Oya istiqomah ya Allah. Kuatkan Oya, dan jangan biarkan Oya lalai lagi. Jangan pula Engkau ambil Mama ketika Oya belum sempat berbakti.” Lirihnya memohon.
***
Diwaktu yang sama di ruang tamu, Armadan dan Ibunya sedang berbicang dengan Thoriq. Sahabat sekaligus sekretaris Thoriq itu baru mengetahui kondisi Mama Hasna sore ini.
Zoeya turun dari kamarnya dan menyapa tamu Abangnya. Seketika mereka yang ada di ruang tamu menatap kagum gadis ini.
“Dek, cantik banget!” Kata Thoriq pada adiknya. Ia tak tahu apa yang membuat adiknya menggunakan kerudung saat ini, tapi ia bersyukur.
“Nak Zoeya kan? Masya Allah. Semoga istiqomah ya Nak.” Ungkap Ibunya Armadan.
Zoeya tersenyum menatap wanita paruh baya ini dan menyalaminya. Kemudian ia hanya melirik sekilas sahabat Abangnya dan tersenyum kecil. Bukannya Zoeya dendam dan belum move on, tapi Zoeya hanya risih dan sedikit tidak enak saja.
“Baru sampe Tan?” Tanya Zoeya ramah.
“Iya, beberapa hari yang lalu kami ziarah ke makam orang tuanya Harisa dan mendoakan serta meminta izin untuk kelancaran Acara mereka.” Jelas Bu Wirda.
Zoeya hanya mengangguk dan tidak ingin bertanya lebih jauh lagi, namun Thoriq lebih dulu menyela. “Acaranya kapan Bro?” Tanyanya pada calon manten.
“Insya’ Allah sebulan lagi Bro. Doakan saja ya, dan semoga kamu cepat nyusul.” Kata Armadan.
Thoriq mengangguk paham dan tersenyum kecut, dadanya terasa nyeri mendengar perkataan sahabatnya itu.
“Kok calonnya ngga ikut Tan?” Tanya Zoeya.
“Itu, Harisa meminta izin untuk tinggal di panti asuhan yang merupakan yayasan milik keluarganya. Katanya ingin bersilaturahmi dengan orang-orang di sana.” Terang Bu Wirda lagi.
“Non, Nyonya udah bangun.” Kata Bi Cici menghampiri anak majikannya. Bi Cici juga ikut pangling melihat Zoeya.
Kemudian mereka semua mengikuti Zoeya menuju kamar Mama Hasna, karena memang niat Armadan dan Ibunya ke sini adalah untuk menjenguk Mamanya Zoeya. Sementara Thoriq masih berdiam diri di ruang tamu, kembali memikirkan masalahnya.
“Syafiqa, bagaimana harusnya aku bertindak?” Batinnya.
Di kamar -Riqhad dan Shanum-
__ADS_1
Setelah membersihkan diri, Shanum yang biasanya mengenakkan pakaian di depan lemari bajunya kini bergerak gelisah di dalam kamar mandi. Masalahnya, sekarang kamarnya bukanlah miliknya sendiri.
Ia tidak membawa pakaian ganti ke dalam kamar mandi dan ketika ia ingin membuka pintu, ia mendengar seseorang masuk ke kamarnya dan dia tahu siapa itu. Jadi, dia urungkan niatnya untuk keluar dengan hanya mengenakan handuk saja.
“Ya Allah, gimana ini? Kok Pak Riqhad cepat sekali kembalinya.” Batin Shanum. Meskipun dialah yang mengajak Riqhad untuk belajar saling menerima tapi ia masih saja malu.
Tok... tok....
“Shan, masih lama di dalam sana? Udah adzan loh? Gantian dong mandinya, gerah ini.” Suara Riqhad sampai ke telinga Shanum.
Shanum kembali gemetaran antara membuka pintu atau meminta Riqhad mengambil pakaiannya. Jika ia keluar hanya mengenakkan handuk maka ia akan merasa sangat malu, bukannya tidak menghargai Riqhad sebagai suaminya. Tapi Shanum hanya belum terbiasa. Jadi ia pun memilih opsi kedua.
“Udah selesai! Tapi Shanum boleh minta tolong ngga, ambilin baju Shanum dong! Shanum lupa bawa ke dalam.” Pinta Shanum dengan membuka sedikit pintu kamar mandi dan mengintip di baliknya.
Riqhad pun menghela nafas dan berkata, “ngapain pake baju di dalam kamar mandi? Keluar aja, lagian ngga ada orang lain juga di sini.” Jawab Riqhad. Benarkan? Riqhad bukan lagi orang lain bagi Shanum.
“Shanum minta tolong sekali ini aja. Shanum belum terbiasa, jangan marah ya.” Ucap Shanum di balik pintu. Meski merasa sedikit kecewa, Riqhad pun mengiyakan permintaan Shanum.
Ia mulai membuka lemari dan mencari pakaian untuk istrinya. Pilihannya jatuh pada set gamis simple berwarna baby pink kemudian ia beralih membuka lemari bawah dan mengambil acak benda di sana.
“Buka pintunya, ini saya bawakan pakaianmu.” Ucap Riqhad dan seketika tangan putih mulus muncul di balik pintu, ia langsung menyambar benda di tangan Riqhad.
Brakk...
Pintu ditutup cepat dan menimbulkan bunyi yang nyaring. Riqhad mengelus dadanya, menunggu Shanum keluar dan mendudukkan diri di kursi belajar Shanum sambil memperhatikan Maket buatan istrinya itu yang belum banyak kemajuan.
Beberapa saat kemudian, Shanum muncul dengan pakaian lengkap dari kamar mandi. Ia mengambil handuk lainnya dari lemari dan menyerahkannya pada Riqhad sambil menyembunyikan wajahnya. Ia sangat malu, membayangkan Riqhad menyentuh dua benda keramatnya.
Riqhad menerimanya dan langsung menuju kamar mandi. “Saya mandinya cepat. Jadi, kamu siap-siap buat sholat!” Ucapnya sebelum menutup pintu.
Shanum pun mulai memakai mukenanya, memilih membaca Al-Qur’an sambil menunggu Riqhad. Baru beberapa ayat yang Shanum bacakan, pintu kamar mandi pun berdecis pertanda orang di dalamnya telah keluar. "Benar-benar cepat." Batin Shanum.
Shanum berdiri dan membuka lemarinya bermaksud mencarikan pakaian untuk Riqhad. Tapi, ia lupa bahwa pakaian Riqhad belum dipindahkan ke sini. Hingga dia menggaruk tengkuknya dan menghadap ke arah Riqhad dengan menunduk.
“Shanum lupa, pakaian Abang belum dipindahkan ke lemari.” Ucapnya.
Ia memilih untuk memanggil suaminya dengan sebutan Abang, seperti Zoeya memanggilnya.
Tak mendengar tanggapan dari Riqhad, membuat Shanum mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Riqhad. Nampaklah di sana Riqhad telah mengenakkan pakaian santainya, baju kaos berwarna putih dan celana jeans pendek. Terlihat lebih tampan apalagi dengan rambut yang masih basah.
“Ngga apa-apa, kebetulan saya tadi sempat ambil pakaian di koper. Sini, kita mulai sholat.”
Mereka pun khusu’ dalam sholatnya, sholat pertama mereka sebagai suami dan istri. Setelah mengucap salam Riqhad pun memberikan tangan kanannya dan langsung di kecup oleh Shanum kemudian Riqhad mencium dahi istrinya. Kebiasaan mereka mulai hari ini.
“Shan, tadi kamu pangil saya dengan sebutan ‘Abang’ kan?” Tanya Riqhad setelah mereka menyelesaikan pembacaan do’a, Shanum mengangguk membenarkan.
“Iya, bolehkan?” Shanum memastikan.
“Angkat wajahmu, jika berbicara dengan saya kamu harus menatap ke arah saya.” Ucap Riqhad mengangkat dagu istrinya.
Mata mereka pun bertemu dan saling memandang dengan dalam, jika sebelumnya Shanum lagsung mengalihkan pandangan dan menyembunyikan wajah memerahnya. Namun kali ini, ia merona dengan tetap menatap wajah suaminya.
“Tapi, saya tidak suka kamu memanggil saya dengan panggilan yang sama seperti Adik saya. Saya maunya beda.”
“Kalau, Mas?”
“Itu sama dengan kamu manggil Bang Thoriq dan Gilan. Saya tidak mau.”
“Terus apa dong?”
“Kalau sayang, habibi, honey, babby dan sejenisnya boleh lah.”
Astaga. Riqhad mengutuk dirinya sendiri, kenapa dia berlagak seperti remaja labil saja. Baru dua hari menikahi Shanum dan baru hari ini menempati ruangan yang sama tapi sifat usilnya sudah berani muncul saja dan itu hanya baru diperlihatkan kepada Shanum. Sebahagia inikah rasanya memiliki istri? Batinnya.
Pipi Shanum semakin memerah, ia hendak memalingkan wajahnya namun ditahan oleh Riqhad. Riqhad mengelus lembut wajah merah tomat milik istrinya.
Kemudian pandangan Riqhad mengarah ke bibir merekah milik istrinya, dengan perlahan ia bergerak maju dan semakin dekat pada Shanum. Shanum terpaku dan bisa ia rasakan nafas dengan wangi mint menerpa wajahnya, ketika mereka sama-sama memejamkan mata dengan gemuruh di dada masing-masing. Pintu kamar mereka tiba-tiba terbuka dan Zoeya muncul dibaliknya. Mata mereka pun serentak terbuka.
Deg
Deg
Mereka sangat malu dan gegalapan, Shanum langsung menjauhkan diri dari Riqhad.
"E-ee a-nu. Ada apa Zoeya? Ngga bisa ketuk pintu dulu ya?" Tanya Riqhad dengan gagap. Dia pun menatap kesal adiknya. Zoeya mencebik dan menatap tajam ke arah Abangnya.
“Cih, mentang-mentang udah halal. Baru beberapa jam ditinggal berdua, kerjaannya udah nyosor mulu. Kemarin-kemarin aja suka jahatin Shanum. Jangan-jangan dari awal Abang udah naksir Shanum ya?” Ucap Zoeya dengan sewot. Ia melirik Shanum yang telah membereskan alat sholatnya.
Riqhad berdecak dan memutar matanya malas, ia kesal pada Adiknya ini.
“Shan, kamu ngga diapa-apain kan sama dosenmu ini?” Tanya Zoeya.
Seketika wajah Shanum merona. Shanum menunduk dan menggeleng kecil.
“Tuh Bang, lihat wajah Shanum memerah. Ini pasti kerjaan Abang.” Tambah Zoeya lagi.
Riqhad mendengus dan keluar dari kamar, meninggalkan dua orang di dalam sana. Ia bisa mendengar suara Zoeya yang menggema. Nampaknya ia harus mengunci pintu kamarnya lain kali. Zoeya bisa saja menjadi biang kerok setelah ini.
__ADS_1